Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Sabtu, 27 Juni 2026

Jurus Gerakan Tanpa Bayangan (Cerpen)



Dulu aku pernah berpikir bahwa kebahagiaan harus terlihat.

Harus ada yang tahu ketika aku berhasil membeli motor impian. Harus ada yang memberi selamat ketika aku mendapat promosi pekerjaan. Harus ada foto, unggahan, dan komentar yang mengakui bahwa hidupku sedang baik-baik saja.

Sampai suatu hari aku bertemu seorang lelaki tua di sebuah warung kopi kecil di pinggir kota.

Ia datang dengan sandal sederhana, kemeja yang warnanya mulai pudar, dan senyum yang tenang.

Kami sering bertemu di sana, hingga akhirnya akrab.

Suatu sore aku bertanya, "Pak, kenapa saya merasa capek sekali mengejar kebahagiaan?"

Ia tersenyum.

"Karena kamu terlalu sering memperlihatkan langkahmu."

Aku tidak mengerti.

"Lihat pesilat yang hebat," katanya sambil menyeruput kopi. "Mereka punya jurus yang sulit ditebak lawan. Semakin terlihat gerakannya, semakin mudah dibaca. Hidup juga begitu."

Aku semakin bingung.

Lelaki tua itu lalu berkata pelan, "Ada satu jurus yang paling sulit dipelajari."

"Jurus apa?"

"Jurus Gerakan Tanpa Bayangan."

Aku tertawa.

"Itu jurus di film?"

Ia menggeleng.

"Bukan. Itu jurus kehidupan."

Sejak hari itu, aku terus memikirkan perkataannya.

Beberapa bulan kemudian aku mulai memahami maksudnya.

Ketika berhasil melunasi cicilan rumah, aku tidak mengumumkannya.

Ketika tabunganku mencapai angka yang selama ini kuimpikan, aku menyimpannya dalam diam.

Ketika usaha kecilku mulai berkembang, aku tetap menjalani hari seperti biasa.

Aneh.

Untuk pertama kalinya aku merasa lebih ringan.

Tidak ada tekanan untuk mempertahankan citra.

Tidak ada kecemasan menunggu validasi.

Tidak ada rasa kecewa karena unggahan yang sepi respons.

Aku mulai menikmati kebahagiaan yang hanya diketahui oleh diriku, keluargaku, dan Tuhan.

Ternyata kebahagiaan yang paling tenang adalah kebahagiaan yang tidak sedang dipertontonkan.

Aku melihat banyak orang sibuk membuat bayangan dirinya sendiri di hadapan publik. Mereka memoles kehidupan agar tampak sempurna, meskipun di balik layar belum tentu demikian.

Sedangkan aku mulai berjalan dengan jurus yang diajarkan lelaki tua itu.

Gerakan tanpa bayangan.

Aku tetap bekerja keras, tetapi tidak perlu semua orang tahu targetku.

Aku tetap bermimpi besar, tetapi tidak perlu semua orang mengetahui rencanaku.

Aku tetap berbahagia, tetapi tidak perlu semua orang menyaksikannya.

Suatu hari aku kembali ke warung kopi itu.

Lelaki tua tersebut sudah lama tidak datang.

Pemilik warung berkata bahwa ia pindah mengikuti anaknya ke kota lain.

Aku tidak sempat mengucapkan terima kasih.

Namun sebelum pergi, pemilik warung menyerahkan secarik kertas yang katanya pernah ditinggalkan lelaki tua itu.

Di sana hanya tertulis satu kalimat:

"Tidak semua kebahagiaan harus memiliki penonton."

Aku tersenyum lama.

Saat berjalan pulang, matahari sore memanjang di belakangku, membentuk bayangan di jalan.

Aku melihatnya sebentar, lalu melangkah lagi.

Karena akhirnya aku mengerti.

Dalam hidup ini, ada saatnya kita berhenti mengejar tepuk tangan.

Ada saatnya kita cukup menikmati hasil perjuangan dalam diam.

Sebab sering kali, kebahagiaan yang paling tulus bukanlah yang dipamerkan kepada banyak orang.

Melainkan yang tumbuh perlahan di dalam hati, tanpa perlu diketahui siapa pun.

Itulah jurus gerakan tanpa bayangan.

Jurus yang membuat seseorang tetap melangkah, tetap berkembang, tetap menang, tetapi tidak sibuk mencari penonton.

Dan anehnya, sejak mempelajari jurus itu, hidupku terasa jauh lebih damai.

Dia Pura-Pura Tidak Mengenalimu, Padahal... (Cerpen)

 


Di sebuah seminar nasional yang ramai, aku melihatnya berdiri di antara kerumunan peserta. Wajah itu masih sama. Senyum tipisnya masih menyimpan ketenangan yang dulu pernah membuatku betah berlama-lama dalam percakapan yang tidak penting.

Sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu.

Aku sempat ragu. Mungkin itu bukan dia. Mungkin hanya seseorang yang mirip.

Namun ketika pandangan kami berpapasan, aku tahu. Itu dia.

Dan aku yakin, dia juga tahu itu aku.

Aku melangkah mendekat.

"Halo."

Ia menoleh sebentar. Tatapannya datar. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada kegugupan.

"Oh, halo."

Suaranya sopan. Terlalu sopan.

"Kabar baik?" tanyaku.

"Baik. Maaf, kita pernah bertemu ya?"

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang terlihat.

Aku tersenyum kecil.

"Iya. Pernah."

"Oh, maaf. Saya agak lupa wajah orang."

Lalu ia berpamitan karena ada peserta lain yang ingin dia temui.

Sesederhana itu.

Tidak ada cerita lama yang dibuka. Tidak ada pertanyaan tentang kabar. Tidak ada kenangan yang disentuh.

Seolah aku hanyalah seseorang yang baru dikenalnya lima detik yang lalu.

Aku berdiri sendiri di sudut ruangan.

Aneh.

Karena aku masih ingat bagaimana dulu ia hafal pesanan kopi favoritku.

Masih ingat bagaimana ia pernah menungguku dua jam di sebuah stasiun hanya karena aku terlambat.

Masih ingat bagaimana ia pernah berkata, "Kalau suatu saat kita tidak bersama, aku harap kita tetap saling mengenal."

Kalimat yang kini terdengar seperti lelucon.

Seminar berlangsung sampai sore. Saat acara selesai, aku berjalan menuju area parkir.

Di sana aku melihatnya lagi.

Sendirian.

Berdiri di samping mobilnya.

Aku berniat melewatinya begitu saja.

Namun saat aku hampir lewat, ia memanggil namaku.

Lengkap.

Tanpa salah satu huruf pun.

Aku berhenti.

Ia tersenyum. Senyum yang sejak pagi tidak pernah muncul.

"Jadi, ternyata kamu masih memakai parfum yang sama."

Aku terdiam.

"Katanya kamu lupa wajah orang?" tanyaku.

Ia tertawa pelan.

"Aku tidak lupa."

"Lalu kenapa tadi?"

Ia menunduk sesaat.

"Lupa itu mudah. Mengenalimu lagi itu mudah. Yang sulit adalah berpura-pura bahwa semua kenangan itu tidak pernah ada."

Aku tidak menjawab.

Angin sore berembus pelan.

Ia menatap langit yang mulai berwarna jingga.

"Aku mengenalimu," lanjutnya. "Sejak pertama melihatmu masuk ruangan tadi pagi."

"Kalau begitu kenapa berpura-pura?"

Karena kali ini jawabannya tidak sederhana.

Karena ada cincin di jarinya.

Karena ada kehidupan yang sudah berjalan jauh setelah cerita kami berakhir.

Karena beberapa pertemuan tidak ditakdirkan untuk mengulang masa lalu, melainkan hanya untuk memastikan bahwa masa lalu itu memang pernah ada.

Ia tersenyum lagi.

"Kita tidak asing. Kita hanya tidak lagi punya tempat dalam cerita masing-masing."

Aku mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar mengerti.

Dia pura-pura tidak mengenaliku.

Padahal ia masih ingat semuanya.

Tanggal ulang tahunku.

Kedai kopi favorit kami.

Jalan yang biasa kami lewati.

Bahkan parfum yang kupakai.

Ia tidak lupa.

Ia hanya sedang menjaga jarak yang harus dijaga.

Dan terkadang, bentuk penghormatan terbesar terhadap sebuah kenangan bukanlah menghidupkannya kembali, melainkan membiarkannya tetap tinggal di masa lalu.

Kami berpisah sore itu tanpa janji untuk bertemu lagi.

Namun ketika mobilnya perlahan meninggalkan parkiran, aku tersenyum.

Karena akhirnya aku tahu satu hal:

Orang yang benar-benar melupakanmu tidak akan kesulitan mengingat namamu.

Yang sering kali berpura-pura tidak mengenalimu justru adalah mereka yang pernah mengenalmu terlalu dalam.

Jumat, 26 Juni 2026

Ada Namamu di Tengah Nama Istriku (Cerpen)


Malam itu hujan turun pelan. Aku duduk di teras rumah sambil memandangi kartu keluarga yang baru saja selesai kuurus. Entah mengapa, mataku berhenti pada satu baris nama istriku.

Alya Rahma Nabila.

Aku tersenyum tipis.

Bukan karena nama itu baru. Kami sudah menikah hampir lima tahun. Namun malam itu aku baru menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatian.

Di tengah nama istriku, ada namamu.

Rahma.

Nama yang pernah mengisi sebagian besar masa mudaku.

Aku masih ingat bagaimana dulu kita sering bercanda soal nama.

"Kalau suatu hari kamu menikah, jangan cari yang namanya Rahma juga ya," katamu sambil tertawa.

Aku ikut tertawa waktu itu. Siapa sangka, takdir justru menuliskannya dengan cara yang unik.

Aku tidak menikah denganmu.

Aku menikah dengan perempuan lain.

Tetapi namamu tetap tinggal, terselip di antara nama perempuan yang kini menjadi pendamping hidupku.

Aku menatap istriku yang sedang menidurkan putri kecil kami di ruang tengah. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja dan mengurus rumah.

Lalu aku sadar, perasaan yang hadir saat melihat namamu bukan lagi cinta yang dulu.

Bukan penyesalan.

Bukan keinginan untuk kembali.

Melainkan rasa syukur.

Karena setiap manusia memang memiliki tempatnya masing-masing dalam perjalanan hidup seseorang.

Kau adalah bagian dari masa lalu yang mengajariku tentang kehilangan.

Sedangkan Alya adalah bagian dari masa kini yang mengajariku tentang bertahan.

Dulu aku pernah mengira cinta harus berakhir di pelaminan.

Ternyata tidak.

Ada cinta yang tugasnya hanya menemani kita tumbuh.

Ada cinta yang tugasnya mengajarkan kita melepaskan.

Dan ada cinta yang akhirnya tinggal sebagai kenangan baik.

Aku kembali melihat nama istriku.

Alya Rahma Nabila.

Ada namamu di sana.

Tepat di tengah.

Seolah Tuhan ingin mengingatkanku bahwa masa lalu tidak harus dihapus untuk bisa bahagia.

Ia cukup dikenang dengan baik, lalu disimpan di tempat yang semestinya.

Di hati yang sudah berdamai.

Aku melipat kartu keluarga itu, masuk ke rumah, lalu memeluk istriku dari belakang.

"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya.

Aku menggeleng.

"Tidak apa-apa."

Karena ada beberapa cerita yang tidak perlu diceritakan lagi.

Cukup disyukuri.

Bahwa seseorang pernah hadir, lalu pergi.

Bahwa tak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki.

Dan bahwa kehidupan kadang meninggalkan jejak-jejak kecil yang tak pernah kita duga sebelumnya.

Seperti namamu yang kini tinggal sebagai kenangan, namun tetap tertulis rapi di tengah nama perempuan yang setiap hari kupanggil istriku.

Aku tersenyum sekali lagi.

Memandang langit yang mulai menampakkan bintang dan bulannya setelah hujan.

Memang, alam semesta sebercanda itu.

Rabu, 24 Juni 2026

Menunggu dalam Sunyi (Cerpen)



Namanya Arka. Ia bukan lelaki yang pandai merangkai kata-kata manis, bukan pula sosok yang selalu berhasil menarik perhatian dengan mudah. Namun, Arka memiliki satu hal yang jarang dimiliki banyak orang: ketulusan yang nyaris tak pernah habis.

Sudah hampir tiga tahun ia mengenal Alya.

Pertemuan mereka sederhana. Tidak dramatis seperti kisah dalam novel atau film. Mereka bertemu dalam sebuah forum diskusi kampus. Alya dikenal cerdas, tenang, dan sulit didekati. Banyak orang mengaguminya, tetapi sedikit yang benar-benar mengenalnya.

Arka adalah salah satu yang berani mendekat.

Awalnya hanya percakapan singkat tentang buku, tugas, dan hal-hal biasa. Lama-kelamaan, Arka menyadari sesuatu: ia jatuh hati. Bukan karena Alya cantik—meski memang iya. Bukan juga karena kecerdasannya—meski itu mengagumkan. Ia jatuh hati pada cara Alya memandang hidup, cara ia menghargai orang lain, dan cara ia menyembunyikan luka-lukanya di balik senyum tipis.

Pada suatu sore, Arka akhirnya memberanikan diri.

“Alya,” katanya pelan, “aku suka sama kamu.”

Alya terdiam sesaat. Lalu menjawab lembut, “Maaf, Arka. Aku belum bisa.”

Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Arka terasa sesak.

Namun, Arka tidak marah. Tidak juga menjauh.

Ia tetap hadir—bukan untuk memaksa, bukan untuk menekan. Ia memilih bertahan dalam batas yang wajar.

Hari-hari berlalu. Bulan berganti tahun.

Di sepanjang waktu itu, Arka berkali-kali mengungkapkan perasaannya. Tidak berlebihan. Tidak setiap hari. Hanya sesekali, ketika ia merasa perlu jujur.

Dan setiap kali itu pula, Alya selalu menjawab hal yang sama.

“Aku belum bisa.”

Banyak teman Arka menganggapnya bodoh.

“Ngapain nunggu orang yang jelas-jelas nolak?”

“Masih banyak perempuan lain.”

“Kamu buang waktu.”

Arka hanya tersenyum.

“Perasaan nggak selalu soal cepat atau lambat,” jawabnya suatu kali. “Kadang soal siapa yang memang layak diperjuangkan.”

Sementara itu, Alya diam-diam memperhatikan.

Ia melihat bagaimana Arka tak pernah berubah setelah penolakan. Ia tetap menghormatinya. Tetap menjaga batas. Tetap hadir ketika dibutuhkan, dan mundur saat harus memberi ruang.

Saat Alya sakit dan harus dirawat beberapa hari, Arka tidak datang membawa bunga mahal atau hadiah besar. Ia hanya mengirim makanan hangat dan pesan singkat.

Jangan lupa makan. Cepat sembuh.

Saat Alya menghadapi masalah keluarga yang berat, Arka tidak banyak bicara. Ia hanya duduk di sampingnya selama berjam-jam, membiarkan Alya menangis tanpa merasa harus memberikan solusi untuk semuanya.

“Kenapa kamu masih bertahan?” tanya Alya suatu malam.

Arka menatap langit yang gelap.

“Karena perasaanku nggak berubah.”

Alya menghela napas. “Kalau aku nggak pernah bisa membalas?”

Arka tersenyum kecil.

“Cinta yang tulus nggak selalu menuntut balasan cepat.”

Jawaban itu membuat Alya terdiam lama.

Sejujurnya, bukan Arka yang tidak cukup baik.

Alya hanya takut.

Ia pernah dikecewakan. Pernah mempercayai orang yang salah sampai hatinya hancur berkeping-keping. Sejak saat itu, ia membangun dinding tinggi agar tak ada lagi yang bisa melukainya.

Namun Arka berbeda.

Ia tidak mencoba merobohkan dinding itu dengan paksa.

Ia hanya berdiri di depan dinding tersebut, sabar, sampai Alya sendiri siap membuka pintunya.

Dan hari itu akhirnya datang.

Hujan turun pelan sore itu. Alya berdiri di depan rumah Arka dengan payung di tangan. Jantungnya berdegup kencang.

Arka membuka pintu, tampak terkejut.

“Alya?”

Perempuan itu menatapnya. Untuk pertama kalinya, matanya tidak menghindar.

“Aku capek lari terus.”

Arka terdiam.

Alya menarik napas panjang.

“Selama ini aku pikir aku sedang melindungi diri. Tapi ternyata aku cuma takut.”

Air matanya jatuh perlahan.

“Aku takut kecewa lagi. Takut percaya lagi.”

Suara Alya bergetar.

“Tapi kamu… kamu nggak pernah maksa. Nggak pernah bikin aku merasa bersalah karena menolakmu.”

Arka masih diam, mendengarkan.

Alya tersenyum di sela tangis.

“Aku baru sadar… ketulusanmu bukan sekadar ucapan.”

Ia menatap Arka lurus-lurus.

“Ketulusanmu ada di caramu menunggu.”

Napas Arka terasa tercekat.

Alya melangkah mendekat.

“Kalau… perasaanmu masih sama.”

Ia berhenti sesaat.

“Aku mau mencoba. Dengan kamu.”

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Arka kehilangan kata-kata.

Matanya memerah.

“Serius?”

Alya tertawa kecil sambil menghapus air mata.

“Iya.”

Arka menunduk, menahan haru. Lalu ia tersenyum—senyum yang begitu hangat hingga membuat Alya ikut tersenyum.

“Aku nggak janji semuanya akan mudah,” kata Alya pelan.

Arka mengangguk.

“Aku juga nggak butuh yang mudah.”

Ia menatap Alya dengan lembut.

“Aku cuma butuh kamu mau berjalan bersama.”

Hujan masih turun di luar.

Namun sore itu, setelah penantian panjang, ada sesuatu yang akhirnya tiba di hati mereka.

Bukan sekadar cinta.

Melainkan keyakinan bahwa ketulusan yang dijaga dengan sabar, pada waktunya, akan menemukan jalannya sendiri.

Karena cinta sejati kadang bukan tentang siapa yang datang paling cepat.

Melainkan siapa yang tetap tinggal dengan hati yang tulus, bahkan setelah berkali-kali ditolak.

Senin, 22 Juni 2026

Jodoh dari Kolom Komentar (Cerpen)



“Kalau belum tahu cerita lengkapnya, jangan gampang menghakimi.”

Komentar itu muncul di bawah sebuah video yang sedang ramai dibahas.

Tak lama, balasan datang.

“Masalahnya sekarang semua orang merasa paling tahu.”

Dibalas lagi.

“Setidaknya lebih baik daripada ikut-ikutan tanpa berpikir.”

Balasan berikutnya muncul hanya dalam hitungan menit.

“Oh, jadi sekarang yang beda pendapat dianggap nggak mikir?”

Thread mulai ramai.

Orang-orang lain ikut membaca.

Sebagian menunggu.

Sebagian memancing.

Sebagian menikmati.

Komentar baru muncul.

“Bukan begitu. Saya cuma bilang jangan terlalu cepat menyimpulkan.”

“Dan saya cuma bilang dunia nyata nggak sesederhana teori.”

“Minimal pakai empati.”

“Minimal pakai logika.”

Singkat.

Tajam.

Saling serang, tapi tetap rapi.

Tidak ada makian.

Tidak ada kata kasar.

Hanya dua orang asing yang sama-sama keras kepala.

Di balik layar, Raina menatap ponselnya sambil mendecak pelan.

“Nyebelin banget ini orang.”

Sudah hampir lima belas menit ia terlibat debat kecil dengan seseorang di kolom komentar.

Aneh sebenarnya.

Biasanya ia tidak pernah meladeni.

Tapi entah kenapa, kali ini berbeda.

Lawan debatnya cerdas.

Argumennya tajam.

Dan yang paling mengganggu—masuk akal.

Komentar baru muncul.

“Saya paham maksud Anda.”

Raina mengernyit.

Lanjutannya muncul beberapa detik kemudian.

“Tapi Anda terlalu banyak pakai hati.”

Raina langsung mengetik cepat.

“Dan Anda terlalu banyak pakai kepala.”

Balasan datang.

“Mungkin.”

“Tapi dunia butuh keseimbangan.”

Raina berhenti mengetik.

Untuk pertama kalinya sejak perdebatan itu dimulai, ia tidak langsung membalas.

Aneh.

Kalimat itu sederhana.

Tapi terasa tulus.

Lalu notifikasi masuk lagi.

“Maaf kalau terdengar menyebalkan.”

Raina menatap layar.

Ia tidak sadar sedang tersenyum tipis.

Jempolnya mulai bergerak.

“Memang menyebalkan.”

Balasan datang cepat.

“Tapi Anda tetap membalas.”

Raina tertawa kecil.

Touché.

Percakapan yang awalnya panas berubah pelan-pelan.

Dari debat publik menjadi pesan pribadi.

Dari adu argumen menjadi obrolan panjang.

Tentang buku.

Tentang pekerjaan.

Tentang keluarga.

Tentang hidup.

Raina tahu namanya kemudian.

Faris.

Lelaki yang terlalu logis, terlalu tenang, dan entah bagaimana selalu bisa membuatnya kehabisan bantahan.

Sebaliknya, Faris selalu bilang Raina terlalu emosional.

“Tapi justru itu yang bikin kamu hidup,” katanya suatu malam.

Malam itu mereka sedang telepon untuk pertama kalinya.

Raina terdiam.

“Aku mau tanya sesuatu,” kata Faris.

“Apa?”

“Kalau waktu itu kita nggak debat di kolom komentar…”

“Iya?”

“Kira-kira kita bakal ketemu nggak?”

Raina tersenyum kecil.

“Nggak tahu.”

Faris tertawa pelan.

“Aku rasa nggak.”

“Kenapa?”

“Karena kamu tipe orang yang nggak gampang buka pintu buat orang baru.”

Raina terdiam.

Benar.

Faris mengenalnya dengan baik.

“Aku juga bukan orang yang gampang mendekat,” lanjut Faris.

“Jadi lucu juga ya.”

“Lucu gimana?”

“Kita ketemu karena sama-sama keras kepala.”

Raina tertawa.

Ia berjalan ke jendela, memandang langit malam.

“Aku masih nggak habis pikir.”

“Kenapa?”

“Dari sekian banyak cara Tuhan mempertemukan dua orang…”

Raina tersenyum.

“…kenapa harus lewat debat receh di kolom komentar?”

Faris ikut tertawa.

“Mungkin karena kalau lewat cara biasa, kita berdua bakal sama-sama cuek.”

Raina mengangguk pelan.

Mungkin benar.

Kadang jodoh tidak datang lewat pertemuan indah.

Tidak juga lewat kesan pertama yang manis.

Kadang justru lewat perdebatan kecil.

Lewat argumen.

Lewat benturan pikiran.

Sampai akhirnya dua orang sadar…

Di balik semua bantahan itu, ada rasa nyaman yang pelan-pelan tumbuh.

Faris memanggil namanya pelan.

“Raina?”

“Hm?”

“Aku suka kamu.”

Jantung Raina berdegup kencang.

Ia menahan senyum.

“Bahkan saat kamu nyebelin?”

Suara Faris terdengar hangat.

“Terutama saat itu.”

Raina tertawa kecil.

Siapa sangka.

Sebuah perdebatan kecil.

Sebuah kolom komentar.

Dan dua hati yang akhirnya saling menemukan.

Senin, 15 Juni 2026

Boleh Sharing, Mbak? (Cerpen)



Sore itu Jakarta sedang tidak ramah. Hujan baru saja berhenti, tetapi jalanan masih menyisakan genangan dan kemacetan yang seolah menjadi irama abadi ibu kota. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, sebagian masuk ke mal, sebagian lagi memenuhi kedai-kedai kopi yang tersebar di sudut kota.

Di sebuah kafe kecil di kawasan Jakarta Selatan, aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan suara dentingan cangkir dan alunan musik jazz yang mengalun pelan. Hampir semua meja terisi. Beberapa orang sibuk dengan obrolan, beberapa lainnya tenggelam dalam layar laptop.

Raka berdiri di depan pintu kafe sambil menghela napas panjang.

“Wah, penuh semua,” gumamnya.

Hari itu sebenarnya bukan hari yang istimewa. Ia hanya ingin mencari tempat untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Sejak pagi, ia berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain karena jadwal pertemuan yang padat. Kepalanya terasa penuh dan ia membutuhkan secangkir kopi serta suasana tenang.

Matanya menyapu seluruh ruangan.

Tidak ada satu pun kursi kosong.

Hampir saja ia menyerah dan berbalik keluar, sampai pandangannya tertuju pada sebuah meja di pojok ruangan. Di sana, seorang perempuan berhijab krem sedang duduk sendirian. Di hadapannya terdapat secangkir cappuccino yang tinggal setengah dan sebuah laptop yang penuh dengan catatan.

Di meja itu masih ada satu kursi kosong.

Raka ragu sejenak.

Di Jakarta, kota yang dipenuhi jutaan manusia tetapi sering membuat orang merasa sendiri, memulai percakapan dengan orang asing bukanlah perkara mudah.

Namun, kebutuhan akan tempat duduk mengalahkan keraguannya.

Ia berjalan perlahan menuju meja itu.

“Maaf, Mbak…”

Perempuan itu mengangkat wajah dari layarnya.

“Iya?”

Raka tersenyum canggung.

“Boleh sharing meja, Mbak? Soalnya di sini penuh semua.”

Perempuan itu menatap sekeliling sebentar, lalu tersenyum.

“Oh, tentu. Silakan.”

“Terima kasih.”

Raka meletakkan tasnya dan duduk dengan hati-hati, berusaha tidak mengganggu.

“Maaf ya kalau saya mengganggu pekerjaan Mbak.”

“Enggak kok. Saya juga sudah hampir selesai.”

Percakapan berhenti sampai di situ. Masing-masing kembali pada dunianya.

Raka membuka laptopnya. Perempuan itu mengetik sesuatu dengan serius. Sesekali ia menyeruput kopinya sambil memperbaiki posisi kacamatanya.

Lima belas menit berlalu.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Anehnya, meski tidak saling berbicara, keduanya merasakan suasana yang tidak canggung. Seolah keberadaan orang asing di depan mereka justru menghadirkan rasa nyaman.

Hingga tiba-tiba, sebuah insiden kecil terjadi.

Tangan Raka tanpa sengaja menyenggol gelas airnya.

“Duh!”

Air itu tumpah sedikit ke arah meja.

“Maaf, maaf,” katanya panik sambil segera mengambil tisu.

Perempuan itu tertawa kecil.

“Tenang, Mas. Untung bukan kopinya.”

Raka ikut tertawa.

“Iya, kalau kopinya yang tumpah mungkin saya harus ganti satu cangkir.”

“Bukan cuma satu cangkir, mungkin satu meja juga,” jawab perempuan itu bercanda.

Untuk pertama kalinya mereka tertawa bersama.

“Ngomong-ngomong, saya Raka.”

“Saya Alya.”

“Senang kenal dengan Mbak Alya.”

“Panggil Alya saja. Jangan pakai Mbak, kita kelihatannya seumuran.”

“Baiklah. Kalau begitu, saya juga bukan Mas Raka.”

“Jadi?”

“Raka saja.”

“Baik, Raka.”

Mereka kembali tertawa.

Percakapan kecil itu menjadi awal yang tidak terduga.

Awalnya hanya tentang kopi.

“Alya sering ke sini?”

“Lumayan sering. Tempatnya nyaman buat kerja.”

“Berarti kita punya selera yang sama.”

“Belum tentu. Bisa saja kamu cuma kehabisan tempat.”

Raka mengangguk sambil tertawa.

“Kalau yang itu benar juga.”

Lalu obrolan berlanjut tentang pekerjaan, buku yang sedang mereka baca, musik favorit, makanan yang mereka sukai, sampai cerita masa kecil.

Tanpa terasa, jam menunjukkan pukul sembilan malam.

“Wah, sudah malam,” kata Alya sambil melihat jam tangannya.

“Iya juga.”

Raka sebenarnya ingin percakapan itu belum berakhir.

Namun, ia juga tidak ingin terlihat terburu-buru.

Dengan hati-hati ia bertanya.

“Kalau suatu hari saya datang lagi ke sini dan kebetulan bertemu Alya, boleh sharing meja lagi?”

Alya tersenyum.

“Kalau kebetulan, boleh.”

“Kalau tidak kebetulan?”

Alya terdiam sebentar, lalu tersenyum lebih lebar.

“Berarti kamu harus menghubungi saya dulu.”

Malam itu, sebelum mereka berpisah, bertukarlah nomor telepon.

Hari-hari setelahnya, kafe itu tidak lagi menjadi tempat yang kebetulan.

Raka mulai mengetahui bahwa Alya menyukai kopi tanpa gula dan selalu membawa buku ke mana pun ia pergi. Ia tahu bahwa perempuan itu sangat menyukai hujan, meskipun sering mengeluhkan macetnya Jakarta setelah hujan.

Sementara Alya tahu bahwa Raka selalu memesan kopi yang sama, selalu datang lima menit lebih awal dari waktu janji, dan memiliki kebiasaan menuliskan ide-idenya di kertas kecil daripada di ponsel.

Mereka mulai bertemu bukan karena kursi kosong, tetapi karena ada ruang kosong yang ingin diisi dalam kehidupan masing-masing.

Hari berganti minggu.

Minggu berubah menjadi bulan.

Mereka bertemu hampir setiap hari—kadang di kafe yang sama, kadang berjalan menyusuri taman kota, kadang hanya makan malam sederhana sambil bercerita tentang hari yang melelahkan.

Tidak semua pertemuan berisi hal besar.

Ada hari-hari ketika mereka hanya duduk diam sambil bekerja masing-masing.

Anehnya, justru dalam keheningan itu mereka menemukan kenyamanan.

Sebab cinta tidak selalu lahir dari percakapan panjang.

Kadang cinta tumbuh dari seseorang yang tidak merasa terganggu oleh diam kita.

Setahun kemudian, di meja yang sama tempat mereka pertama kali bertemu, Raka datang lebih awal.

Ia memesan dua cangkir kopi.

Satu cappuccino untuk Alya.

Satu americano untuk dirinya.

Ketika Alya datang, ia langsung menyadari sesuatu yang berbeda.

“Kamu kelihatan tegang.”

“Kelihatan ya?”

“Banget.”

Raka tersenyum gugup.

“Alya…”

“Hmm?”

“Masih ingat hari pertama kita bertemu?”

“Yang kamu kehabisan tempat duduk dan meminta izin sharing meja?”

“Iya. Hari itu saya cuma mencari kursi kosong.”

Ia menarik napas pelan.

“Tapi ternyata, saya menemukan seseorang yang membuat hidup saya tidak pernah terasa kosong lagi.”

Mata Alya mulai berkaca-kaca.

Raka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.

“Alya, bolehkah kita terus berbagi meja, berbagi cerita, berbagi tawa, dan berbagi kehidupan… bukan hanya di kafe ini, tetapi sampai kita menua?”

Alya tersenyum di antara air matanya.

“Jadi sekarang bukan sharing meja lagi?”

Raka menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Sharing hidup.”

Beberapa detik yang terasa sangat lama berlalu.

Kemudian Alya mengangguk.

“Iya, Raka.”

Tidak ada tepuk tangan meriah.

Tidak ada musik yang tiba-tiba mengeras seperti di film-film.

Hanya dua cangkir kopi yang mulai mendingin, dua manusia yang saling tersenyum, dan sebuah meja kecil di sudut kafe yang menjadi saksi bahwa sebuah pertemuan paling sederhana dapat mengubah seluruh arah hidup seseorang.

Rabu, 20 Mei 2026

"Pak, itu lagu kesukaan Ibu Saya"



Suatu siang setelah perkuliahan selesai, suasana kelas belum benar-benar sepi. Beberapa mahasiswa masih sibuk membereskan laptop, ada yang bercanda di sudut ruangan, dan sebagian lain masih mengerumuni meja dosen untuk sekadar bertanya hal-hal ringan di luar materi kuliah. Hari itu suasananya terasa santai, jauh dari ketegangan tugas dan presentasi.

Di tengah obrolan kecil itu, seorang mahasiswi tiba-tiba mendekat sambil membawa rasa penasaran. Dengan nada santai ia bertanya, “Pak, tahu lagu-lagunya Kerispatih nggak?”

Saya yang sedang merapikan buku langsung menoleh dan tersenyum. “Wah, tahu dong,” jawab saya cepat. “Itu band yang lagi booming waktu saya kuliah S1 dulu.”

Mendengar jawaban itu, mahasiswi tersebut tampak antusias. “Serius, Pak?” katanya sambil tertawa kecil. “Itu lagu kesukaan ibu saya.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, polos tanpa beban. Namun beberapa mahasiswa yang mendengar langsung saling pandang dan mulai menahan tawa. Saya sendiri sempat terdiam beberapa detik, mencoba mencerna fakta sederhana yang baru saja saya dengar. Dalam kepala saya tiba-tiba muncul perasaan aneh: waktu rupanya berjalan sangat cepat. Lagu-lagu yang dulu menemani masa muda saya, yang diputar di warnet, di radio kos-kosan, di acara kampus, bahkan menjadi soundtrack perjalanan naik bus antarkota, kini justru dikenal sebagai lagu favorit generasi orang tua mahasiswa saya.

Saya lalu menghela napas panjang sambil tersenyum dramatis. “Wah ternyata…” kata saya pelan, sengaja menggantung kalimat. Seluruh kelas mulai fokus mendengar respons saya.

“Tapi jangan langsung disamakan usia saya dengan ibumu juga dong…” lanjut saya sambil tertawa.

Seketika kelas pecah oleh gelak tawa. Ada yang menepuk meja, ada yang langsung nyeletuk, “Kena, Pak!” Mahasiswi itu pun tertawa malu sambil menutup wajahnya dengan buku catatan. “Aduh, bukan gitu maksud saya, Pak…” katanya terbata-bata.

Saya ikut tertawa. “Iya iya, saya paham. hehe, tenang saja."

Suasana kelas mendadak menjadi sangat cair. Obrolan tentang lagu kemudian melebar ke banyak hal. Mahasiswa lain mulai menyebut nama-nama band lama yang dulu populer: lagu galau era warnet, ringtone zaman HP lipat, sampai masa ketika orang rela membeli CD atau menunggu lagu favorit diputar di radio. Mereka mendengarkan dengan wajah penasaran, seperti sedang mendengar cerita dari sebuah zaman yang jauh, padahal sebenarnya belum terlalu lama berlalu.

Saya jadi bercerita bagaimana dulu lagu-lagu Kerispatih sering terdengar hampir di mana-mana. Diputar di kantin kampus, di angkot, di acara pensi sekolah, bahkan menjadi lagu wajib anak-anak muda yang sedang patah hati. Saat itu, musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga teman perjalanan hidup. Ada kenangan tentang tugas kuliah yang menumpuk, hujan sore sepulang kampus, hingga kisah cinta mahasiswa yang sering kali lebih dramatis daripada skripsinya sendiri.

Mahasiswa-mahasiswa itu mendengarkan sambil tertawa-tawa. Bagi mereka, cerita itu terdengar seperti nostalgia dari “zaman purba modern”. Sedangkan bagi saya, semua kenangan itu rasanya masih dekat, seolah baru terjadi beberapa tahun lalu.

Di situlah saya sadar, ruang kelas bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga tempat bertemunya berbagai generasi dengan pengalaman hidup yang berbeda. Kadang jarak usia memang terasa saat referensi mulai berubah: dosen mengenang lagu masa mudanya, sementara mahasiswa mengenalnya dari playlist ibu mereka. Namun justru dari momen-momen kecil seperti itulah tercipta kehangatan dan kedekatan yang tidak dibuat-buat.

Dan hari itu, sebuah pertanyaan sederhana tentang lagu lama berhasil mengubah suasana kelas menjadi penuh tawa. Saya pulang sambil tersenyum sendiri, sambil berpikir: ternyata yang membuat seseorang merasa “menua” bukan angka umur, melainkan ketika lagu favorit masa kuliahnya mulai disebut sebagai lagu favorit para ibu.

Sabtu, 18 April 2026

A bird in the hand is worth two in the bush.


Dulu pernah ada yang bertanya bagaimana kalau saya pindah pekerjaan. Saya katakan padanya bahwa, jangan dulu pindah kalau kamu belum mendapatkan pekerjaan yang baru. 

Saya kutipkan sebuah pepatah: A bird in the hand is worth two in the bush. Kurang lebih begini pemahamannya: jangan kau lepas burung di tanganmu, sementara kau masih memburu burung di tangkai pohon. Kamu akan kehilangan semuanya. 

Persis seperti apa yang saya baru saja tonton di sebuah film. Seorang pemuda mengembara ke sebuah negeri yang belum pernah ia kunjungi. Bahkan ia datang tanpa dokumen dan uang sepeser pun.

Ia terdampar di sebuah pulau. Polisi setempat mencari orang-orang yang menyelundup ke negara nya. Pemuda itu berpura pura sebagai pelayan di hotel di pulau tersebut. Sampai suatu malam ada pertunjukan sulap dan pemuda itu diminta membantu nya. 

Usai pertunjukan tersebut, ia diberi kartu nama si pesulap. Datanglah ke kotaku, temui aku, dan kau akan bekerja denganku. Kata si pesulap sebelum ia meninggalkan pulau tersebut. Si pemuda girang bukan main. 

Pemuda itu kemudian mencari cara untuk keluar dari pulau hanya untuk datang ke kota si pesulap. Ia berhasil kabur dari pulau itu. Dalam perjalanan menuju kota si pesulap, ia menumpang kendaraan dan rumah orang orang yang ia temui.

Ia pun mencari kerja agar mendapat uang dengan tujuan untuk bertemu si pesulap. Sampai kemudian ia mendapatkan uang tersebut dan tibalah di kota yang ia impikan.

Meski ia kesulitan mencari alamat si pesulap, namun akhirnya ia ditunjukkan oleh seorang kakek bahwa di sebuah teater si pesulap akan tampil. Ia pun datang dan bertemu dengan si pesulap yang ia sangat harapkan itu.

Rupanya si pesulap mengabaikan si pemuda tersebut. Begitu kecewa nya si pemuda. Film pun berakhir. 

Padahal awalnya saya pikir ending film ini adalah kesuksesan datang di akhir setelah perjuangan dan perjalanan panjang. Ternyata si sutradara lebih memilih untuk mengakhiri film dengan kehampaan.

Cerita ini seperti menggambarkan kata kata di awal tulisan. Tentang pepatah di atas. Pemuda itu sangat terobsesi dengan harapan nya. Ia melepaskan semua yang pernah ia dapatkan di tengah perjalanannya demi sesuatu yang belum tentu kejelasannya. 

Rabu, 28 Januari 2026

Jangan Takut Menjalani Hidup Ini, Nabimu Sangat Baik, dan Ia Memikirkanmu

 


Hei, kalau hari ini hidup terasa berat, duduklah sebentar. Tarik napas pelan. Kamu tidak sendirian.

Ada satu hal yang perlu kamu dengar—bukan sebagai ceramah, tapi sebagai kabar baik dari seorang Nabi yang sangat mencintaimu. Nabi Muhammad ﷺ pernah berkata:

“Syafaatku diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan dosa besar dari umatku.”

Coba resapi kalimat itu perlahan. Tidak ada ancaman di sana. Tidak ada penghakiman. Yang ada justru kasih sayang yang lembut, seperti seseorang yang berkata, “Aku tahu kamu lelah. Aku tahu kamu pernah jatuh. Tapi aku belum meninggalkanmu.”

Jangan Takut, Nabimu Tahu Kamu Tidak Sempurna

Nabi Muhammad ﷺ tahu betul siapa umatnya. Beliau tahu bahwa kita bukan malaikat. Kita bisa salah, bisa tergelincir, bisa kalah oleh diri sendiri. Dan justru karena itulah beliau berkata seperti itu.

Kalimat itu bukan untuk orang-orang yang merasa paling suci. Ia untuk kamu yang pernah kecewa pada diri sendiri. Untuk kamu yang pernah bertanya, “Masih adakah harapan setelah semua yang aku lakukan?”

Jawabannya: masih. Dan bukan sedikit.

Nabimu sangat baik. Bahkan sebelum kamu lahir, beliau sudah memikirkanmu. Ketika diberi kesempatan menyimpan doa paling mustajab, beliau tidak menggunakannya untuk kekuasaan, harta, atau kemenangan dunia. Beliau menyimpannya untuk hari ketika umatnya paling membutuhkan pertolongan: hari kiamat.

Hidup Ini Berat, Tapi Kamu Tidak Ditinggalkan

Ada hari-hari ketika iman naik, dan ada hari ketika iman terasa nyaris habis. Ada masa ketika kita rajin berdoa, dan ada masa ketika doa terasa kering. Semua itu manusiawi.

Islam tidak pernah meminta kamu sempurna. Islam hanya meminta kamu jujur: jujur bahwa kamu lemah, dan jujur bahwa kamu ingin kembali.

Syafaat Nabi bukan alasan untuk berbuat dosa, tapi alasan untuk tidak menyerah. Bukan pembenaran atas kesalahan, tapi pengingat bahwa pintu pulang masih terbuka.

Kalau kamu sedang jatuh, Nabi tidak bertanya, “Mengapa kamu seburuk ini?”
Beliau seakan berkata, “Bangkit pelan-pelan. Aku menunggumu.”

Jangan Bandingkan Dirimu dengan Orang Lain

Mungkin kamu melihat orang lain tampak lebih saleh, lebih rapi ibadahnya, lebih tenang hidupnya. Jangan biarkan itu membuatmu merasa tidak pantas.

Setiap orang punya luka yang tidak dipamerkan. Setiap orang punya dosa yang disembunyikan. Yang membedakan hanyalah satu hal: siapa yang terus mencoba kembali.

Dan jangan lupa, bisa jadi orang yang paling hancur hatinya hari ini justru paling dekat dengan Allah karena air mata taubatnya.

Nabimu Tidak Mengusirmu

Ini penting kamu tahu: Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah mengusir umatnya yang berdosa. Beliau tidak berkata, “Pergilah, kamu terlalu kotor.” Justru beliau berkata bahwa syafaatnya disiapkan untuk mereka yang dosanya besar—selama iman masih hidup di dada.

Kalau kamu masih bisa merasa bersalah, itu pertanda hatimu belum mati. Kalau kamu masih ingin berubah, itu tanda Allah belum menutup pintu-Nya.

Dan kalau kamu membaca tulisan ini, barangkali ini cara Allah mengatakan: “Jangan menyerah dulu.”

Jalani Hidup Ini dengan Harapan

Jangan takut menjalani hidup ini. Jangan merasa kamu berjalan sendirian. Ada Nabi yang mendoakanmu, ada Tuhan yang Maha Pengampun, dan ada harapan yang tidak pernah benar-benar padam.

Kamu boleh lelah. Kamu boleh jatuh. Tapi jangan berhenti.

Karena nabimu sangat baik.
Dan cinta seperti itu… tidak pernah sia-sia.

Rabu, 24 Desember 2025

Menelisik Rindu



Menelisik melalui jendela pesawat,

kulihat bayangmu ikut terbang lewat.

Awan putih menyimpan pesan yang berat,

tentang rindu yang tak sempat terucap cepat.


Jarak membentang sejauh pandang,

namun namamu tetap paling terang.

Di langit tinggi aku belajar tenang,

mencintaimu tanpa harus selalu pulang.


Jika nanti roda menyentuh darat,

semoga rinduku tak lagi tersesat.

Sebab cinta, seperti penerbangan tepat,

pergi jauh hanya untuk kembali lebih erat.


Malang, 24 Desember 2025

Dalam Sebuah Perjalanan



Aku melangkah pagi, menyusuri waktu yang perlahan,

Ransel di punggung, harapan tak pernah tertinggal di belakang.

Jalan terbentang, kadang lurus kadang berkelok pelan,

Setiap jejak kaki menyimpan tanya dan kenangan.


Angin bercerita tentang tujuan yang belum bernama,

Matahari mengajariku sabar, setia pada cahayanya.

Jika lelah datang dan hati ingin berhenti sejenak saja,

Aku ingat: perjalanan ini tumbuh bersama doa.


Batu dan debu pernah melukai langkah yang rapuh,

Namun luka menjelma guru, menguatkan arah yang jatuh.

Sebab bukan cepat atau lambat yang ingin kutempuh,

Melainkan makna di tiap langkah, meski sunyi menyentuh.


Dan kelak saat senja menyambut di ujung cerita,

Aku tersenyum pada diri, pada jalan yang pernah ada.

Karena perjalanan bukan sekadar sampai atau tiba,

Ia adalah aku—yang berubah, sepanjang rasa.


Malang, 24 Desember 2025 

Sabtu, 13 Desember 2025

Dan bahkan aku masih ingat caramu tersenyum, meski kau selalu mengeluh (Cerpen)



Kau pandai melakukannya, mengeluh tanpa benar-benar ingin didengar. Tentang hujan yang datang terlalu sering, tentang kopi yang selalu terasa pahit, tentang pekerjaan yang tak pernah selesai tepat waktu. Nada suaramu datar, nyaris lelah, tapi ujung bibirmu selalu naik sedikit—senyum kecil yang seolah berkata bahwa semua keluhan itu hanya cara lain untuk bertahan.

Aku sering pura-pura kesal mendengarnya. Kataku, kau terlalu banyak mengeluh untuk seseorang yang sebenarnya baik-baik saja. Kau tertawa pelan, lalu berkata, “Kalau aku tidak mengeluh, nanti aku benar-benar capek.” Saat itu aku tak mengerti. Aku hanya menyimpan caramu tersenyum di kepalaku, tanpa tahu bahwa suatu hari ingatan itulah yang akan paling sering kembali.

Kini kita tak lagi duduk berhadapan. Tak ada lagi percakapan remeh yang dipanjangkan hanya karena kita belum ingin pulang. Tapi anehnya, yang paling jelas kuingat bukanlah kata-kata perpisahan atau pertengkaran kecil yang melelahkan. Yang tinggal justru caramu mengeluh tentang hal-hal sepele, lalu tersenyum seolah dunia tak seburuk itu.

Aku baru paham sekarang: senyummu bukan tanda kau tak apa-apa. Ia adalah jeda. Cara kecil untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan hari. Kau tak pernah meminta diselamatkan, hanya ditemani. Dan aku, saat itu, mengira kehadiranku sudah cukup.

Kadang, di tengah hari yang terasa panjang, aku mendengar kembali suaramu di kepalaku—keluhan yang sama, intonasi yang sama. Dan tanpa sadar, aku tersenyum sendiri. Bukan karena lucu, tapi karena rindu pada seseorang yang tahu caranya mengeluh tanpa menyalahkan siapa pun.

Dan bahkan sekarang, setelah semua jarak tercipta, aku masih ingat caramu tersenyum. Senyum kecil yang lahir dari lelah, yang mungkin tak pernah kau anggap penting, tapi diam-diam mengajariku satu hal: bahwa bertahan tak selalu harus keras, kadang cukup dengan mengeluh sebentar, lalu tersenyum, dan melanjutkan hidup.

Ternyata Aku Masih Bisa Buka Akun Medsosmu (Cerpen)

 Aku tak pernah berniat kembali ke sesuatu yang sudah kutinggalkan. Hidup, bagaimanapun, selalu mengajarkanku untuk berjalan ke depan, meski sesekali menoleh tanpa benar-benar ingin berhenti. Tapi malam itu berbeda. Hujan jatuh pelan di luar jendela, dan ingatan datang tanpa diundang—tentang caramu dulu tertawa kecil saat lupa kata sandi, tentang bagaimana kau selalu memilih hal paling sederhana untuk sesuatu yang paling penting.

Entah dorongan apa yang membuatku membuka ponsel, lalu mengetik nama akunmu di kolom pencarian. Foto profilmu masih sama: wajahmu setengah menghadap cahaya, senyum yang tak pernah sepenuhnya selesai. Aku ragu sejenak di halaman masuk. Rasanya seperti berdiri di depan rumah lama yang pintunya tak pernah benar-benar kukunci dari dalam ingatan.

Email. Lalu kolom password.

Tanganku gemetar saat menuliskan namaku sendiri. Bukan karena yakin akan berhasil, tapi karena takut jika ternyata gagal. Jika gagal, berarti benar-benar selesai. Jika berhasil, berarti ada sesuatu yang tertinggal—dan aku tak tahu apakah aku siap menemukannya.

Masuk.

Tak ada notifikasi khusus. Tak ada peringatan. Dunia digitalmu terbuka begitu saja, tenang, seperti sedang menungguku pulang. Aku menarik napas panjang. Ternyata aku masih bisa membuka akun medsosmu karena password-nya adalah namaku. Dan yang paling mengganggu pikiranku: entah mengapa tidak juga kau ganti.

Aku menelusuri berandamu perlahan. Postingan-postingan baru tetap ada, tapi jarak terasa jelas. Tak satu pun menyebutku. Tak satu pun menandai kehadiranku. Namun di sela-sela foto liburan dan kutipan pendek tentang hidup, ada kesunyian yang kukenal—sunyi yang dulu sering kita bagi berdua. Aku tersenyum getir. Kau pandai menyembunyikan rindu di balik kalimat netral.

Aku tak membuka pesan masuk. Aku tahu batasan. Ada hal-hal yang tak perlu diketahui untuk tetap dikenang dengan baik. Tapi mataku berhenti pada pengaturan keamanan. Di sana, di balik opsi-opsi rumit dan angka-angka asing, satu hal tetap sederhana: kata sandi itu belum berubah. Namaku masih kau percayakan untuk menjaga pintu hidupmu.

Aku bertanya dalam hati: apakah kau lupa? Atau justru sengaja membiarkannya? Barangkali mengganti password terasa seperti pengakuan bahwa kita benar-benar usai. Barangkali kau memilih membiarkan namaku tetap di sana, sebagai sisa paling kecil dari kebiasaan lama—kebiasaan yang terlalu melelahkan untuk dihapus.

Ingatan datang bertubi-tubi. Tentang caramu dulu berkata, “Kalau aku lupa segalanya, setidaknya aku tak akan lupa namamu.” Tentang malam-malam panjang saat kita berbagi layar, berbagi cerita, berbagi hidup yang belum sempat kita jalani sepenuhnya. Kini semua itu mengendap, tak lagi bergerak, tapi juga tak pernah benar-benar hilang.

Aku sadar sesuatu: kepercayaan adalah hal yang paling lambat pergi. Bahkan ketika cinta sudah memilih jalan lain, kepercayaan kadang masih tinggal, seperti perabot lama yang dibiarkan karena terasa sayang untuk dibuang.

Aku tak mengubah apa pun. Tak menghapus apa pun. Aku hanya memastikan satu hal: namaku masih di sana, utuh, tanpa tambahan angka, tanpa simbol pengaman. Sederhana. Rapuh. Jujur.

Sebelum keluar, aku berhenti sejenak. Jariku menggantung di atas layar, tergoda untuk mengganti password itu dengan sesuatu yang baru—sesuatu yang lebih aman, lebih dewasa, lebih masuk akal. Tapi aku mengurungkan niat. Itu bukan tugasku lagi.

Aku keluar dari akunmu perlahan, seolah menutup pintu tanpa suara. Hujan di luar masih turun, tapi hatiku terasa lebih tenang. Aku tak kembali untuk merebut apa pun. Aku hanya ingin tahu apakah aku pernah benar-


benar berarti.

Dan jawabannya ada di sana, di balik sistem keamanan dan algoritma yang dingin: pernah ada aku yang kau jadikan kata rahasia. Dan hingga kini, entah karena lupa atau sengaja, kau tak pernah merasa perlu menggantinya.

Jumat, 12 Desember 2025

Nama dalam Doa



Ada rasa hangat yang selalu tumbuh setiap kali telingaku menangkap untaian doa “Rabbana aatina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah…”. Doa yang sederhana namun begitu dalam maknanya: memohon kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Namun, bagiku doa ini tidak hanya tentang permohonan spiritual—ada getaran personal yang sulit dijelaskan. Di dalamnya, terselip kata yang sama dengan nama ibuku: Hasanah.

Setiap kali doa itu dibacakan, serasa ada panggilan lembut yang mengingatkanku pada ibu—sosok yang dengan cintanya membentuk sebagian besar dari siapa aku hari ini. Seolah Allah menautkan namanya dalam salah satu doa paling masyhur umat Islam, membuatku selalu teringat bahwa kebaikan seorang ibu adalah bagian dari kebaikan yang harus terus kutanam dan kuperjuangkan di hidup ini.

Tidak berhenti di sana, keintiman itu kembali hadir ketika aku membaca Surah Al-Mujādalah ayat 11. Ayat tentang Allah yang mengangkat derajat manusia berilmu dengan “darajat”—angkatannya, tingkatan-tingkatan kemuliaan. Dan sekali lagi, aku menemukan namaku sendiri tercantum di dalamnya.

Mendengar atau membacanya membuatku sering terdiam. Bukan karena merasa spesial, tetapi karena merasa dipanggil untuk merenung lebih dalam. Jika Allah menyebut “darajat” sebagai simbol kemuliaan yang diberikan kepada orang-orang beriman dan berilmu, maka tidakkah itu seakan menjadi pengingat bahwa nama bukan hanya identitas, melainkan doa dan amanah?

Aku sering merasa bahwa Allah sedang menyapa dengan cara yang sangat halus—melalui namaku, melalui nama ibuku, melalui ayat dan doa yang setiap hari bergema. Sapaan yang membuatku kembali menundukkan kepala dalam syukur, bahwa sekecil apa pun, Allah selalu menghadirkan tanda-tanda kasih sayang-Nya.

Dari doa Hasanah hingga ayat Darajat, aku belajar bahwa hidup ini adalah perjalanan untuk menjemput makna dari nama-nama itu. Menjemput kebaikan, meninggikan derajat dengan ilmu, dan tidak lupa memohon rahmat-Nya untuk ibu dan semua yang telah membentuk jalan hidupku. Amin

Selamat hari Ibu, kawan..

Rabu, 05 November 2025

Bahkan Anakmu Pun Diberi Namaku (Cerpen)

 


Hujan turun sejak pagi, membasahi halaman sekolah tempat Leyla mengajar. Langit berwarna kelabu pucat, dan aroma tanah basah menyeruak dari sela jendela yang tak tertutup rapat. Di ruang guru, ia duduk menatap lembar absensi kelas barunya. Matanya berhenti di satu nama yang membuat jantungnya berdegup aneh — Leyla Bayana.

Nama itu seolah menatap balik padanya, memanggil masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam.

Lima belas tahun telah berlalu sejak ia terakhir kali mendengar nama Bay. Waktu telah membuat segalanya tampak jauh dan kabur, tapi bukan hilang. Bay adalah cinta yang tak pernah benar-benar selesai — hanya berpindah wujud, menjadi sepotong kenangan yang diam-diam masih hangat di dada.

Kini, Leyla adalah seorang guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah swasta di pinggiran kota. Ia sudah menikah dengan Arif, seorang dosen yang lembut dan tenang. Mereka memiliki seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, Damar. Hidupnya sederhana, damai, dan nyaris tanpa drama. Tapi di sudut hatinya, ada ruang kecil yang tak pernah ditinggali siapa pun — ruang bernama masa lalu.

Hari pertama masuk sekolah, Leyla membaca nama-nama siswa dengan suara pelan. Ia sampai pada nama itu, dan sesuatu dalam dirinya berhenti berdetak.

“Leyla... Bayana.”

Seorang gadis kecil mengangkat tangan. “Saya, Bu.”

Leyla menatapnya. Wajah mungil itu memiliki tatapan mata yang anehnya sangat familiar — teduh, tapi menyimpan kedalaman.

“Nama yang indah,” ujar Leyla, tersenyum.

Gadis itu tersenyum malu. “Kata Ayah, nama ini nama orang yang dulu ia kagumi.”

Seolah waktu berhenti. Nada polos anak kecil itu seperti panah yang menembus dada.

Leyla hanya membalas dengan senyum samar, lalu melanjutkan membaca nama berikutnya. Tapi sepanjang jam pelajaran, pikirannya tak pernah benar-benar kembali.

Bayana.

Bay.

Dua suku kata yang dulu membuat hidupnya penuh warna, kini kembali mengetuk pintu hatinya dengan cara yang lembut sekaligus menyakitkan.

---

Malam itu, Leyla duduk di ruang keluarga, menunggu suaminya pulang dari kampus. Damar sudah tertidur. Hujan kembali turun, dan di luar jendela, lampu jalan memantulkan cahaya redup di atas genangan air.

Ia membuka buku puisinya yang lama — buku yang dulu selalu ia bawa saat masih kuliah, saat Bay masih menulis puisi untuknya di halaman belakang kampus. Di sana masih tertulis tinta yang mulai pudar:

Jika suatu hari aku tak bisa bersamamu, semoga namamu tetap hidup dalam setiap hal yang kucintai.

Leyla menutup buku itu cepat-cepat, takut suaminya tiba-tiba masuk dan melihat wajahnya yang kini digenangi air mata. Ia mencintai Arif — sungguh mencintai — tapi cinta, seperti waktu, punya cara sendiri untuk menggandakan diri. Ada cinta yang menjadi rumah, dan ada cinta yang menjadi langit: jauh, tapi tak pernah benar-benar hilang.

---

Beberapa minggu kemudian, sepulang sekolah, Leyla mendapati seseorang menunggunya di gerbang. Lelaki itu berdiri di bawah payung hitam, menunduk sedikit. Saat ia mendekat, matanya nyaris tak percaya.

Bay.

Rambutnya sudah sedikit beruban, tapi sorot matanya masih sama — hangat, tulus, dan menenangkan.

“Leyla,” ucapnya pelan, seolah takut jika suara itu akan membuat kenangan berjatuhan.

Leyla hanya tersenyum kecil. “Sudah lama sekali, Bay.”

“Lima belas tahun,” jawabnya lirih. “Anakku... Leyla Bayana, muridmu. Dunia kecil sekali, ya?”

Leyla tertawa, tapi suaranya getar. “Dunia atau takdir?”

Bay menunduk. “Mungkin keduanya.”

Mereka berjalan sebentar di halaman sekolah yang mulai sepi. Hujan mengguyur lagi, dan bau tanah basah menyelimuti udara. Tak ada kata-kata besar yang perlu diucapkan. Cukup tatapan — dua orang yang tahu bahwa mereka pernah saling memiliki meski sebentar.

“Kenapa kau beri namanya begitu?” tanya Leyla akhirnya, suaranya nyaris tenggelam oleh hujan.

Bay menarik napas panjang. “Karena aku ingin sesuatu darimu tetap hidup. Dulu aku terlalu muda, terlalu takut, dan terlalu patuh pada pilihan yang bukan dari hatiku. Tapi saat anakku lahir, aku ingin memperbaiki sesuatu. Aku ingin mengenangmu tanpa melanggar janji pada hidupku sekarang. Maka aku pilih nama itu. Leyla — malam yang tenang. Karena kau dulu selalu menenangkan hidupku.”

Leyla menunduk. Air matanya menetes diam-diam, bercampur dengan hujan yang membasahi wajahnya.

“Aku juga sudah menikah, Bay,” katanya pelan. “Suamiku baik, anakku lucu. Aku bahagia. Tapi entah kenapa, mendengar namamu lagi... rasanya seperti pulang sebentar.”

Bay tersenyum getir. “Aku senang mendengarnya. Aku pun bahagia dengan keluargaku. Tapi mungkin memang begini takdirnya, kita harus belajar mencintai dari jauh — tanpa merusak apa pun, tanpa merebut siapa pun.”

Mereka berdiri di bawah hujan cukup lama, tanpa kata. Dunia di sekitar terasa berhenti, hanya suara air yang jatuh di genting dan detak jantung yang tak bisa dibohongi.

Ketika akhirnya Bay berpamitan, Leyla menatap punggungnya menjauh bersama gadis kecil yang bernama sama dengannya. Ada perih yang lembut, bukan luka, tapi kenangan yang tak mau pergi.

---

Malam itu, di rumah, Leyla menatap anaknya yang tidur lelap. Ia tersenyum dan membelai rambut Damar. Dalam hatinya, ia tahu hidupnya sudah cukup. Tapi di balik cukup itu, ada satu kenyataan yang tak bisa ia tolak:

Cinta tak selalu mati meski tak dimiliki. Kadang, ia hidup dalam bentuk nama, dalam seorang anak yang tumbuh, dalam hujan yang turun, dalam hati yang diam-diam mengingat.

Ia menatap ke luar jendela, melihat bayangan dirinya di kaca yang berkabut, lalu berbisik pelan:

“Bahkan anakmu pun diberi namaku, Bay... mungkin memang begini cara Tuhan membuat kita tetap ada — bukan bersama, tapi saling mengingat di hati yang paling dalam."

Sabtu, 25 Oktober 2025

Pada Sunset Aku Bertanya, Pada Kopi Aku Menepi



Pada sunset aku bertanya,

tentang arti yang tertinggal di balik cahaya,

mengapa senja selalu terasa sama—

indah, tapi menyimpan luka yang tak terbaca.


Pada kopi aku menepi,

menyusuri pahit yang justru menenangkan hati,

setiap teguk seolah berkata lirih,

“tak semua yang hangat harus dimiliki.”


Langit berwarna jingga,

menggantungkan rasa di tepi dada,

aku menatap, tanpa kata,

membiarkan waktu menua bersama rindu yang tak sempat tiba.


Pada sunset aku bertanya,

pada kopi aku menepi,

mungkin begitulah cara semesta berbicara—

tentang pergi, tentang berhenti,

dan tentang hati yang pelan-pelan mengerti.


Lombok senja 25 Oktober 2025

Pada Sunsetland Aku Berpuisi



Pada sunsetland aku berpuisi,

menanti yang tak pasti,

merindu yang menggebu,

pada bayang yang kian semu.


Senja menua di pelukan laut,

angin membawa namamu yang rapuh,

di antara jingga yang perlahan layu,

ada hatiku yang masih menunggu.


Kupetik sisa cahaya sore,

kutitip pada ombak yang berlari,

jika rinduku sampai padamu,

biarlah malam tahu — aku tak lagi sendiri.


Namun bila sunyi tetap menjelma,

biar puisiku menjadi doa,

tentang cinta yang tak sempat pulang,

namun abadi di langit senja.


Lombok, 25 Oktober 2025 Senja

Sabtu, 11 Oktober 2025

Hanya untuk Dikenang



Biarkan saja,

ia datang di mimpi berkali-kali.

Mungkin itu hanya cara semesta

mengajarkan: yang pergi tak selalu hilang,

tapi juga tak selalu harus dicari.


Kadang kenangan datang bukan untuk tinggal,

hanya mampir, mengetuk sebentar,

lalu pergi tanpa pamit—

seperti angin yang tak bisa kita tahan,

tapi selalu menyisakan sejuk di dada.


Aku tak lagi menafsir apa-apa.

Cukup tersenyum,

karena kini aku tahu,

beberapa hal memang ditakdirkan

hanya untuk dikenang.

Selasa, 02 September 2025

Belajar Menyalakan Cahaya (cerpen)



Namanya Rafi, seorang pemuda sederhana dari sebuah desa kecil di lereng gunung. Sejak kecil, ia terbiasa membantu orang tuanya di sawah. Hidup sederhana membuatnya memiliki banyak pengalaman (experienced-based). Saat teman-teman seusianya masih bermain, Rafi sudah belajar bagaimana mengatur air irigasi, menanam padi, hingga memperbaiki alat-alat pertanian.

Ketika diterima di sebuah perguruan tinggi di ibukota dengan sistem PJJ (Pendidikan Jarak Jauh), Rafi membawa serta karakter yang terbentuk sejak di desa. Ia terbiasa aktif (active-learner), tidak menunggu disuruh, selalu mencari tahu sendiri bahan kuliah tambahan. Beberapa bidang tertentu, terutama pertanian berkelanjutan, ia sudah menjadi seorang ahli kecil (experts) karena pengalaman hidupnya.

Di ibukota, kehidupan tidaklah mudah. Rafi harus hidup mandiri (independent). Kos kecil di pinggir kota menjadi saksi perjuangannya. Ia bekerja paruh waktu sebagai kurir online untuk membiayai kuliahnya. Di sela-sela kesibukan, ia tetap rajin mengerjakan tugas kuliah secara praktis (hands-on), mencoba mengaitkan teori dengan kenyataan sehari-hari.

Bagi Rafi, kuliah bukan sekadar mencari gelar. Ia berorientasi pada hidup (life-centered). Ia ingin ilmu yang ia pelajari membawa manfaat bagi keluarganya dan masyarakat desa. Karena itu, setiap mata kuliah ia hubungkan dengan tantangan nyata: bagaimana memberdayakan petani, bagaimana mengolah hasil bumi dengan teknologi, bagaimana mengurangi biaya produksi.

Tugas-tugas kuliah yang rumit tidak membuatnya gentar. Justru ia merasa tertantang karena orientasinya jelas: pada pekerjaan (task-centered). Rafi lebih suka menyelesaikan masalah (solution-driven) dibanding sekadar menghafal teori. Ia mencari cara agar hasil panen di desanya tidak lagi dijual murah, melainkan diolah menjadi produk siap jual.

Keterampilan baru selalu ia buru (skill-seeking). Dari kursus online, ia belajar pemasaran digital, desain kemasan, bahkan dasar-dasar keuangan. Semua itu ia lakukan dengan kemampuan mengatur diri sendiri (self-directing). Tidak ada yang mengatur jam belajarnya; motivasi datang dari dalam dirinya sendiri (self-motivation).

Suatu hari, dalam sebuah forum mahasiswa, Rafi mempresentasikan idenya tentang “Desa Digital Pertanian”. Semua terkesima, dosen pun bangga. Ia menjelaskan bagaimana desa bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk menjual hasil panen langsung ke konsumen di kota.

Rafi mungkin berasal dari desa, tetapi semangat dan karakternya telah membawanya sejajar dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Kesungguhannya bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk masyarakat yang menunggu di kampung halaman.

Dan dari ibukota, ia terus menata masa depan—membuktikan bahwa mahasiswa dengan karakter kuat, meski dari desa kecil, mampu menyalakan cahaya perubahan yang besar.

Sabtu, 23 Agustus 2025

Jodoh di Balik Perantara (Cerpen)

 


Arman tidak pernah menyangka, hidupnya akan penuh kejutan di usia tiga puluh dua tahun. Ia seorang dosen muda di sebuah kampus negeri. Sederhana, tenang, dan lebih suka menghabiskan waktu membaca buku dibanding nongkrong. Itu sebabnya, meski banyak teman sebaya sudah berumah tangga, Arman masih sendiri.

“Man, kapan kamu nyusul?” tanya ibunya setiap kali ia pulang ke rumah di kampung.

Arman hanya tersenyum. “Doakan saja, Bu.”

Di balik senyum itu, ia tahu bahwa hatinya kerap resah. Ia bukan tidak ingin menikah, hanya saja pertemuan dengan calon yang tepat selalu kandas. Entah karena ketidakcocokan, atau sekadar pertemuan basa-basi tanpa kelanjutan.

Suatu hari, seorang teman lama mengajaknya ikut pengajian di rumah sahabatnya. Di sana, Arman berkenalan dengan Laila—perempuan ramah berusia akhir dua puluhan yang dikenal pandai menjodohkan teman-temannya. Bukan perjodohan dalam arti sempit, melainkan perantara: mempertemukan mereka yang sama-sama mencari.

“Bang Arman, insyaAllah saya bantu ya. Banyak kok teman saya yang baik, shalihah, cocok buat abang,” kata Laila sambil tersenyum.

Arman hanya mengangguk. Dalam hati ia geli. Baru kali ini ia dikenalkan seseorang yang tampak begitu percaya diri mengatur urusan jodoh orang lain.

Tak lama kemudian, Laila menghubungkan Arman dengan beberapa perempuan. Ada yang bekerja sebagai perawat, ada pula yang sedang menempuh S2. Semua baik, tapi entah kenapa Arman merasa hampa. Obrolan tidak mengalir, hati tak bergetar.

Suatu sore, Arman bertemu dengan salah satu calon, Dina, seorang perawat cantik dan sopan. Mereka duduk di sebuah kafe, ditemani teh hangat.

“Bang Arman, jujur saja… saya merasa abang orang baik,” kata Dina sambil tersenyum canggung.

“Alhamdulillah. Saya juga melihat Dina perempuan yang shalihah,” balas Arman.

Namun percakapan setelah itu terasa kaku. Arman berusaha mengulik, tapi selalu berujung basa-basi. Dina pun akhirnya menatapnya dalam.

“Bang, maaf kalau saya bicara terus terang. Saya merasa abang hadir di sini karena ingin mencoba, bukan karena benar-benar ingin mengenal saya. Betul?”

Arman terdiam. Kata-kata itu menamparnya. Ia ingin membantah, tapi hatinya tahu Dina benar.

“Iya, mungkin begitu. Saya minta maaf, Dina. Saya hanya ingin berusaha, barangkali ini jalannya.”

Dina menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Tak apa, Bang. Jodoh itu bukan soal dipaksa. Saya doakan abang menemukan orang yang benar-benar membuat hati mantap.”

Kalimat itu membekas dalam hati Arman. Saat ia berjalan pulang, bayangan yang muncul justru bukan Dina, melainkan Laila. Perempuan yang mempertemukan mereka, yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya.

Sejak saat itu, Arman mulai sadar. Laila bukan sekadar comblang. Ia teman yang mengerti, pendengar yang sabar, dan diam-diam pengisi ruang kosong di hatinya.

Malam-malam mereka dipenuhi obrolan panjang. Laila curhat tentang pekerjaannya sebagai guru, tentang mimpinya melanjutkan studi, bahkan tentang kesepiannya.

“Kadang saya iri sama orang lain, Bang,” tulis Laila suatu malam. “Saya bisa bantu banyak teman ketemu jodohnya, tapi diri saya sendiri masih begini-begini saja.”

Arman tersenyum membaca pesan itu. Baru kali ini ia melihat sisi rapuh Laila. Biasanya perempuan itu selalu ceria, penuh semangat.

“Jangan gitu, La. Mungkin Allah menyiapkan yang lebih baik buat kamu,” balasnya.

Sejak saat itu, perasaan Arman tumbuh semakin kuat. Tapi ia takut mengaku. Bagaimana kalau Laila tersinggung? Bagaimana kalau ia kehilangan sahabat yang selama ini menjadi penguatnya?

Hingga suatu malam, Arman memberanikan diri mengajak Laila bertemu di sebuah kafe. Mereka duduk berhadapan, ditemani dua cangkir kopi hangat.

“La, saya mau bicara serius,” kata Arman membuka percakapan.

Laila menatapnya, agak terkejut. “Tentang calon lagi?”

Arman menggeleng. “Bukan. Tentang kamu.”

Laila terdiam.

“Saya sadar, beberapa waktu ini kamu sudah banyak membantu. Tapi di balik semua itu, saya merasa nyaman sama kamu. Entah kenapa, saya justru melihatmu… sebagai orang yang saya cari.”

Laila menunduk. Wajahnya memerah. “Bang, jangan bercanda. Saya ini cuma comblang.”

“Justru itu. Saya tidak mau pura-pura. Saya serius, La.”

Suasana hening sejenak. Laila menggigit bibir, menahan gugup.

“Jujur, saya juga sering merasa dekat dengan abang. Tapi saya takut, kalau ini cuma rasa sesaat. Bagaimana kalau nanti abang menyesal?”

Arman menatapnya mantap. “Kalau saya tidak mencoba, justru saya yang menyesal.”

Perjalanan setelah itu tidak serta-merta mudah. Laila sempat bimbang. Ia khawatir teman-temannya menganggap aneh: comblang malah menikah dengan orang yang hendak ia jodohkan. Namun perlahan, ia membuka hati. Ia menyadari bahwa bersama Arman, ia menemukan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Beberapa bulan kemudian, Arman memberanikan diri datang ke rumah orang tua Laila. Dengan pakaian sederhana, ia menyampaikan niat baiknya.

“Pak, Bu, saya datang dengan niat melamar Laila,” ucapnya dengan suara bergetar namun tegas.

Kedua orang tua Laila saling pandang, lalu tersenyum haru. “Kami percaya pada pilihan Laila. Kalau dia yakin, kami pun merestui.”

Air mata Laila menetes. Ia masih tak percaya, lelaki yang dulu hanya ia bantu menemukan pasangan, kini justru menjadi jodohnya sendiri.

Hari pernikahan tiba. Aula sederhana itu dipenuhi keluarga dan sahabat. Arman duduk dengan tenang, menunggu ijab kabul. Di sampingnya, saksi dan penghulu sudah siap.

“Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Arman bin Abdullah, dengan putri saya Laila binti Rahman, dengan mas kawin berupa cincin emas dibayar tunai.”

“Saya terima nikahnya Laila binti Rahman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Suara Arman lantang, membuat hadirin bersorak takbir. Tangis bahagia pecah.

Di kursi pelaminan, setelah acara usai, Arman berbisik pada Laila, “Ternyata benar, jodoh itu misteri. Siapa sangka, saya menikah dengan comblang saya sendiri.”

Laila tertawa kecil sambil menyeka air matanya. “Berarti saya comblang paling berhasil, karena akhirnya menjodohkan diri saya dengan kamu.”

Mereka tertawa bersama, lalu saling menggenggam erat. Hari itu, Arman belajar satu hal: kadang kita terlalu sibuk mencari jauh ke luar, padahal jodoh ada tepat di hadapan. Hanya butuh keberanian untuk melihatnya dengan hati.

Pernah Membuka Hati (Cerpen)

 



Awalnya, pertemuan mereka tak lebih dari obrolan ringan di depan kelas.

Neesa, mahasiswi tingkat dua jurusan Komunikasi, duduk di bangku taman kampus sambil memegang buku catatan. Angin sore mengibaskan ujung jilbabnya, ketika tiba-tiba seorang pria dengan kemeja kotak-kotak mendekat.

“Boleh duduk?” tanya Reezal, menunjuk kursi panjang di sebelahnya.

“Silakan,” jawab Neesa, singkat tapi ramah.

Sejak itu, mereka mulai sering berpapasan—di perpustakaan, kantin, atau sekadar bertegur sapa di lorong fakultas. Entah bagaimana, obrolan mereka selalu mengalir, dari topik kuliah sampai musik indie yang keduanya sukai.

Waktu berjalan, pertemanan itu berubah menjadi ikatan yang lebih kuat. Mereka saling mengirim pesan tengah malam untuk mengeluhkan tugas kuliah, berbagi foto kucing lucu, bahkan saling mengingatkan untuk makan saat sedang sibuk.

Reezal menjadi saksi saat Neesa menangis karena nilainya turun di semester lima.

“Kalau orang lain lihat kamu cuma mahasiswi pintar, aku lihat kamu juga pejuang,” kata Reezal malam itu.

Neesa membalas dengan cengiran tipis, meski matanya sembab. “Terima kasih, Zal.”

Begitu pun sebaliknya, Neesa adalah tempat Reezal bercerita tentang keluarganya yang sering menuntut lebih. Saat Reezal merasa lelah, Neesa selalu punya kalimat sederhana yang menenangkan,

“Kadang, kita cuma butuh istirahat, bukan menyerah.”

Kedekatan itu membuat orang-orang di sekitar mulai berasumsi. Beberapa teman mereka bahkan berbisik-bisik, “Kayaknya mereka pacaran deh.” Tapi bagi Neesa, Reezal hanyalah sahabat—atau setidaknya, itu yang selalu ia katakan pada dirinya.

Hari itu, selepas sidang proposal skripsi, Reezal mengajak Neesa duduk di sudut kafe dekat kampus. Hujan rintik-rintik membasahi kaca jendela, dan aroma kopi hangat memenuhi udara.

“Neesa…” suara Reezal terdengar berbeda, sedikit berat, seakan menahan sesuatu.

Neesa menoleh, menunggu kelanjutannya.

“Aku nggak tahu cara bilangnya tanpa bikin suasana aneh… tapi aku rasa aku nggak bisa terus pura-pura jadi cuma sahabat. Aku suka sama kamu.”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam hati Neesa. Ia mengedip beberapa kali, mencoba menyusun jawaban yang tepat.

“Zal…” Neesa menarik napas panjang. “Aku hargai keberanian kamu. Tapi aku… nggak bisa. Aku nggak punya perasaan yang sama.”

Reezal terdiam. Matanya mencari-cari sesuatu di wajah Neesa—mungkin tanda bahwa ini hanya bercanda. Tapi tatapan itu tak ia temukan.

“Kenapa?” suaranya nyaris tak terdengar.

“Bukan karena kamu nggak cukup baik. Kamu salah satu orang terbaik yang pernah aku kenal. Cuma… aku takut hubungan ini berubah kalau kita coba lebih dari teman,” ucap Neesa pelan.

Reezal tersenyum hambar, mencoba menyembunyikan kecewa yang menyesak di dadanya. “Aku ngerti. Maaf udah bikin suasana nggak nyaman.”

Sejak hari itu, hubungan mereka tetap ada, tapi tak lagi sama. Obrolan yang dulu mengalir kini terasa hati-hati. Pesan singkat yang dulu datang tanpa jeda, mulai jarang masuk.

Beberapa bulan berlalu. Skripsi mereka selesai, wisuda di depan mata. Namun di antara toga dan bunga, Neesa merasa ada sesuatu yang masih mengganjal.

Ia mengingat malam-malam di mana ia tersenyum membaca pesan Reezal, sore-sore di taman kampus saat mereka berbicara tentang mimpi masing-masing, dan tatapan Reezal yang selalu penuh perhatian.

Yang tak pernah ia akui, bahkan pada dirinya sendiri, adalah bahwa ia pernah—walau sebentar—membuka hati untuknya.

Neesa ingat suatu malam, ketika Reezal membawakan sup hangat saat ia sakit. Bukan hanya supnya yang membuat hangat, tapi cara Reezal memastikan ia makan, cara ia duduk diam menemaninya menonton film, tanpa ponsel, tanpa tergesa. Malam itu, hati Neesa sempat berbisik: mungkin dia orangnya.

Tapi bisikan itu segera ia tutup rapat dengan alasan-alasan logis—takut kehilangan sahabat, takut patah hati, takut Reezal hanyalah fase singkat di hidupnya.

Setelah wisuda, mereka jarang bertemu. Pekerjaan membawa keduanya ke kota yang berbeda. Namun suatu sore, Neesa sedang berjalan di pusat perbelanjaan ketika ia melihat sosok familiar—Reezal, dengan kemeja putih, tertawa bersama dua temannya.

Mereka saling menyapa, lalu memutuskan duduk di sebuah kedai teh. Percakapan mengalir, sedikit canggung di awal, lalu perlahan kembali hangat seperti dulu.

Ketika jam menunjukkan pukul delapan malam, Reezal berkata, “Aku harus pulang. Ada kerjaan besok pagi.”

Neesa mengangguk, tapi sebelum Reezal bangkit, ia berkata, “Zal… ada sesuatu yang mau aku bilang.”

Reezal menatapnya, menunggu.

“Aku nggak tahu ini penting atau nggak buat kamu sekarang, tapi… aku pernah membuka hati untuk kamu.”

Alis Reezal terangkat, rautnya tak bisa ditebak. “Pernah?”

Neesa tersenyum samar. “Iya. Waktu itu aku cuma terlalu takut. Takut kalau kita gagal, aku kehilangan sahabat yang paling aku percaya. Jadi aku bilang ‘nggak’ waktu kamu mengungkapkan perasaan.”

Hening. Hanya suara denting sendok di meja sebelah.

Reezal akhirnya berkata, “Aku nggak nyangka kamu bakal ngomong gitu.” Ia tertawa kecil, tapi bukan tawa bahagia—lebih seperti tawa seseorang yang baru mengerti sebuah teka-teki yang terlambat.

“Aku cuma nggak mau kamu pergi tanpa tahu itu,” lanjut Neesa.

Reezal menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Neesa… terima kasih. Tapi sekarang aku udah nggak di titik yang sama lagi. Perasaanku udah berubah.”

Neesa mengangguk, berusaha tersenyum. “Aku ngerti. Nggak apa-apa.”

Malam itu mereka berpisah di depan pintu kedai. Neesa berjalan pulang dengan langkah ringan tapi hati berat. Ia tahu kesempatan itu sudah lewat, dan mungkin tak akan kembali.

Namun di tengah kesedihan yang samar, ia merasa lega. Karena akhirnya, ia tak lagi menyimpan rahasia itu sendirian.

Dan meski jalannya tak berujung bersama, Neesa akan selalu mengingat bahwa di satu waktu, di satu masa, ia pernah membuka hati—dan itu cukup.