Di sebuah universitas terkemuka di Jakarta, nama Raka tidak pernah menjadi bahan pembicaraan di kantin kampus. Ia bukan mahasiswa yang gemar berdiri di atas panggung, bukan pula aktivis yang wajahnya memenuhi poster-poster demonstrasi. Nilainya biasa saja, pakaiannya sederhana, dan dalam forum-forum besar ia lebih sering duduk di barisan tengah.
Namun, ada satu orang yang selalu memperhatikan Raka.
Namanya Arman.
Arman bukan ketua organisasi. Ia bahkan tidak lagi memiliki jabatan apa pun di kampus. Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah menjadi aktivis mahasiswa yang dikenal luas. Setelah lulus, ia memilih tetap berada di sekitar kampus, membantu berbagai kegiatan, membangun jaringan dengan alumni, dosen, organisasi mahasiswa, dan orang-orang yang selama ini bekerja jauh dari sorotan.
Ia tidak suka disebut sebagai tokoh.
“Yang penting bukan siapa yang terlihat,” katanya suatu sore kepada seorang junior. “Yang penting siapa yang membuat sesuatu bisa terjadi.”
Arman melihat sesuatu pada diri Raka yang tidak dilihat orang lain.
Raka memang tidak pandai berpidato. Ketika berdiri di depan forum, suaranya sering bergetar. Ia tidak memiliki kelompok massa yang besar. Ia juga tidak berasal dari keluarga terpandang. Tetapi ia memiliki satu hal yang langka: ia mampu mendengarkan.
Ia tidak cepat menghakimi.
Ia mau duduk bersama kelompok yang berbeda pandangan. Ia bisa berbicara dengan mahasiswa baru, aktivis senior, kelompok keagamaan, komunitas seni, bahkan mahasiswa yang sama sekali tidak tertarik dengan politik kampus.
“Kenapa kamu tidak maju sebagai ketua BEM?” tanya Arman suatu malam.
Raka tertawa.
“Saya? Ketua BEM? Jangan bercanda, Bang. Saya ini siapa?”
Arman tersenyum.
“Justru karena kamu merasa bukan siapa-siapa.”
Raka terdiam.
“Pemimpin yang berbahaya,” lanjut Arman, “adalah orang yang sejak awal merasa dirinya memang ditakdirkan menjadi pemimpin. Kamu berbeda. Kamu masih punya rasa takut kehilangan kepercayaan orang.”
Sejak malam itu, Arman mulai bekerja.
Bukan dengan membuat baliho.
Bukan dengan mengumpulkan massa.
Bukan pula dengan mengumumkan bahwa Raka adalah calon pemimpin masa depan.
Ia bekerja dari belakang.
Ia mempertemukan Raka dengan orang-orang yang tepat. Ia mengajarinya membaca peta organisasi. Ia meminta Raka mendatangi kelompok-kelompok mahasiswa yang selama ini tidak pernah diperhitungkan dalam kontestasi BEM.
“Jangan datang untuk meminta suara,” pesan Arman.
“Lalu?”
“Datang untuk mendengar masalah mereka.”
Raka menurut.
Selama berbulan-bulan ia berkeliling kampus. Ia mendengar keluhan tentang biaya pendidikan, fasilitas mahasiswa, kesehatan mental, transportasi, beasiswa, organisasi yang sulit mendapatkan ruang, sampai mahasiswa yang merasa suara mereka tidak pernah didengar.
Semakin banyak ia mendengar, semakin ia menyadari bahwa menjadi ketua BEM bukan tentang berdiri paling tinggi.
Justru sebaliknya.
Menjadi ketua berarti bersedia berdiri paling depan ketika masalah datang dan paling belakang ketika penghargaan dibagikan.
Sementara itu, Arman tetap berada di balik layar.
Ia membantu merumuskan gagasan. Ia menghubungkan Raka dengan alumni. Ia berdiskusi dengan beberapa mantan aktivis. Ia bahkan beberapa kali meminta Raka membatalkan strategi yang menurutnya terlalu agresif.
“Jangan memenangkan pemilihan dengan cara yang membuatmu kehilangan kampus,” katanya.
Hari pemilihan akhirnya tiba.
Pesaing Raka jauh lebih populer. Ia memiliki tim besar, pengalaman organisasi lebih panjang, dan jaringan yang luas. Hampir semua orang memprediksi kemenangan itu.
Di media sosial kampus, nama Raka bahkan sempat menjadi bahan lelucon.
“Siapa dia?”
“Dari mana munculnya?”
“BEM bukan tempat belajar kepemimpinan.”
Raka hampir menyerah.
Malam sebelum pemilihan, ia menemui Arman.
“Saya rasa saya kalah.”
Arman sedang membuat kopi ketika mendengar kalimat itu.
“Kalau kalah, ya kalah.”
Raka menatapnya.
“Sesederhana itu?”
“Ya.”
“Bang Arman tidak kecewa?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Arman menyerahkan secangkir kopi.
“Karena tujuan kita sejak awal bukan menjadikanmu ketua BEM.”
Raka terkejut.
“Lalu?”
“Menjadikanmu layak dipercaya ketika suatu hari orang membutuhkanmu.”
Untuk pertama kalinya, Raka memahami apa yang sebenarnya dilakukan Arman selama ini.
Ia tidak sedang menciptakan seorang pemenang.
Ia sedang membentuk seorang pemimpin.
Keesokan harinya, hasil pemilihan diumumkan.
Raka menang.
Tidak dengan selisih suara yang fantastis. Tetapi cukup untuk membuat seluruh kampus terdiam.
Nama yang beberapa bulan sebelumnya nyaris tidak dikenal kini terpampang sebagai Ketua BEM universitas.
Di atas panggung, Raka menyampaikan pidato pertamanya.
Ia berbicara tentang kampus yang mendengar. Tentang perbedaan yang tidak harus menjadi permusuhan. Tentang organisasi mahasiswa yang tidak boleh hanya sibuk mempertahankan eksistensinya sendiri.
Di barisan paling belakang, Arman berdiri.
Tidak ada namanya di spanduk.
Tidak ada fotonya dalam unggahan kemenangan.
Tidak ada ucapan khusus dari panitia.
Ketika Raka turun dari panggung, ia segera mencari Arman.
Tetapi lelaki itu sudah tidak ada.
Raka bertanya kepada salah seorang panitia.
“Bang Arman mana?”
“Tidak tahu. Tadi sepertinya keluar.”
Raka berlari menuju halaman kampus.
Dari kejauhan ia melihat Arman berjalan sendirian menuju gerbang.
“Bang!”
Arman berhenti.
Raka menghampirinya.
“Kenapa pergi?”
Arman tersenyum.
“Karena panggungmu sudah selesai.”
“Panggung saya?”
“Bukan. Panggung kampus.”
Raka memandangnya lama.
“Bang, saya ingin orang tahu bahwa Abang yang membantu saya.”
Arman menggeleng.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena kalau suatu hari kamu benar-benar menjadi pemimpin, kamu harus belajar satu hal.”
“Apa?”
“Orang di belakang layar tidak membutuhkan tepuk tangan.”
Arman menepuk bahu Raka.
“Kalau suatu hari nanti kamu punya kesempatan mengangkat orang lain, lakukan hal yang sama.”
Raka terdiam.
Arman kemudian berjalan pergi.
Di belakangnya, matahari sore Jakarta perlahan tenggelam di antara gedung-gedung tinggi.
Hari itu Raka menjadi Ketua BEM.
Tetapi Arman tahu, kemenangan sebenarnya bukan ketika seseorang berhasil duduk di kursi kepemimpinan.
Kemenangan terjadi ketika seseorang yang semula merasa dirinya bukan siapa-siapa, akhirnya percaya bahwa ia mampu membawa orang lain berjalan bersama.
Dan seperti banyak orang yang bekerja di belakang layar, Arman memilih tidak dikenang.
Ia cukup tahu bahwa, di suatu tempat, seorang anak muda sedang belajar menjadi pemimpin.
Itulah pekerjaannya.
Mendorong seseorang ke panggung, lalu perlahan menghilang ketika lampu mulai menyala.





















