Sabtu, 27 Juni 2026

Dia Pura-Pura Tidak Mengenalimu, Padahal... (Cerpen)

 


Di sebuah seminar nasional yang ramai, aku melihatnya berdiri di antara kerumunan peserta. Wajah itu masih sama. Senyum tipisnya masih menyimpan ketenangan yang dulu pernah membuatku betah berlama-lama dalam percakapan yang tidak penting.

Sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu.

Aku sempat ragu. Mungkin itu bukan dia. Mungkin hanya seseorang yang mirip.

Namun ketika pandangan kami berpapasan, aku tahu. Itu dia.

Dan aku yakin, dia juga tahu itu aku.

Aku melangkah mendekat.

"Halo."

Ia menoleh sebentar. Tatapannya datar. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada kegugupan.

"Oh, halo."

Suaranya sopan. Terlalu sopan.

"Kabar baik?" tanyaku.

"Baik. Maaf, kita pernah bertemu ya?"

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang terlihat.

Aku tersenyum kecil.

"Iya. Pernah."

"Oh, maaf. Saya agak lupa wajah orang."

Lalu ia berpamitan karena ada peserta lain yang ingin dia temui.

Sesederhana itu.

Tidak ada cerita lama yang dibuka. Tidak ada pertanyaan tentang kabar. Tidak ada kenangan yang disentuh.

Seolah aku hanyalah seseorang yang baru dikenalnya lima detik yang lalu.

Aku berdiri sendiri di sudut ruangan.

Aneh.

Karena aku masih ingat bagaimana dulu ia hafal pesanan kopi favoritku.

Masih ingat bagaimana ia pernah menungguku dua jam di sebuah stasiun hanya karena aku terlambat.

Masih ingat bagaimana ia pernah berkata, "Kalau suatu saat kita tidak bersama, aku harap kita tetap saling mengenal."

Kalimat yang kini terdengar seperti lelucon.

Seminar berlangsung sampai sore. Saat acara selesai, aku berjalan menuju area parkir.

Di sana aku melihatnya lagi.

Sendirian.

Berdiri di samping mobilnya.

Aku berniat melewatinya begitu saja.

Namun saat aku hampir lewat, ia memanggil namaku.

Lengkap.

Tanpa salah satu huruf pun.

Aku berhenti.

Ia tersenyum. Senyum yang sejak pagi tidak pernah muncul.

"Jadi, ternyata kamu masih memakai parfum yang sama."

Aku terdiam.

"Katanya kamu lupa wajah orang?" tanyaku.

Ia tertawa pelan.

"Aku tidak lupa."

"Lalu kenapa tadi?"

Ia menunduk sesaat.

"Lupa itu mudah. Mengenalimu lagi itu mudah. Yang sulit adalah berpura-pura bahwa semua kenangan itu tidak pernah ada."

Aku tidak menjawab.

Angin sore berembus pelan.

Ia menatap langit yang mulai berwarna jingga.

"Aku mengenalimu," lanjutnya. "Sejak pertama melihatmu masuk ruangan tadi pagi."

"Kalau begitu kenapa berpura-pura?"

Karena kali ini jawabannya tidak sederhana.

Karena ada cincin di jarinya.

Karena ada kehidupan yang sudah berjalan jauh setelah cerita kami berakhir.

Karena beberapa pertemuan tidak ditakdirkan untuk mengulang masa lalu, melainkan hanya untuk memastikan bahwa masa lalu itu memang pernah ada.

Ia tersenyum lagi.

"Kita tidak asing. Kita hanya tidak lagi punya tempat dalam cerita masing-masing."

Aku mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar mengerti.

Dia pura-pura tidak mengenaliku.

Padahal ia masih ingat semuanya.

Tanggal ulang tahunku.

Kedai kopi favorit kami.

Jalan yang biasa kami lewati.

Bahkan parfum yang kupakai.

Ia tidak lupa.

Ia hanya sedang menjaga jarak yang harus dijaga.

Dan terkadang, bentuk penghormatan terbesar terhadap sebuah kenangan bukanlah menghidupkannya kembali, melainkan membiarkannya tetap tinggal di masa lalu.

Kami berpisah sore itu tanpa janji untuk bertemu lagi.

Namun ketika mobilnya perlahan meninggalkan parkiran, aku tersenyum.

Karena akhirnya aku tahu satu hal:

Orang yang benar-benar melupakanmu tidak akan kesulitan mengingat namamu.

Yang sering kali berpura-pura tidak mengenalimu justru adalah mereka yang pernah mengenalmu terlalu dalam.

0 komentar:

Posting Komentar