Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Tampilkan postingan dengan label Catatan Lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Lepas. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2025

Reuni Alumni Gontor 2002: DIMULAI DENGAN TAHLILAN, PESAN DAMAI DARI POSO, HINGGA GORDUL KHOSH DARI ARAB SAUDI

Reuni Alumni Gontor 2002:

DIMULAI DENGAN TAHLILAN, PESAN DAMAI DARI POSO, HINGGA GORDUL KHOSH DARI ARAB SAUDI

Oleh: Deden Mauli Darajat (Ketua Umum Alumni 2002)


Syahdan, sabtu pagi dini hari, sebagian rombongan dari Depok sudah tiba di lokasi Reuni di Kampus 2 Universitas Islam Bandung (Unisba). Dalam rombongan tersebut terdapat salah seorang alumnus yang terbang dari Medan dan singgah di Jakarta kemudian ikut serta dalam rombongan Depok. 


Panitia Reuni Alumni Gontor 2002 di Bandung yang sejatinya akan menjemput di Sabtu pagi, ternyata harus sudah bekerja sejak Jumat malam karena sudah sibuk menjemput dan menerima kedatangan para peserta reuni dari berbagai daerah di Indonesia.


Saya berangkat dari rumah Sabtu pagi dengan transportasi publik, Whoos, dari Jakarta ke Bandung. Sabtu siang, setelah makan siang, para peserta berangkat menuju kolam renang Sabuga ITB. Sepulangnya dari Sabuga, panitia sudah menyiapkan Cuanki spesial yang sangat lezat.


Usai shalat magrib berjamaah, kami melaksanakan tahlilan dan doa bersama untuk para guru, para kyai, dan sahabat-sahabat alumni 2002 yang sudah wafat yang tercatat sebanyak 28 orang dari 672 alumni. Tahlilan ini dipimpin oleh Mustofa Ali Syibromalisi, cucu dari Guru Mughni, ulama besar Betawi yang sangat berpengaruh.


Makan malam sudah tersedia di dapur umum, kami pun kemudian mengantre layaknya santri, ini terasa sangat nikmat sekali. Kami saling sapa dan bercerita tentang perjalanan, tentang masa lalu di Gontor, dan tentang nilai nilai perjuangan.


Bagi kami reuni adalah ajang silaturrahmi, berbagi pengalaman, berbagi ilmu pengetahuan, berbagi nilai nilai perjuangan, selama kami menjadi santri maupun selepas menjadi alumni. 


Bahkan acara resmi pun dibingkai dengan canda dan tawa yang dibawakan oleh duet maut MC kawakan Rizky Ardiansyah dan Eka Sukandar. Yang membuat kami hanyut dalam nostalgia adalah ketika kami menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne oh Pondokku. Rasa rasanya baru kemarin kami belajar bersama di Gontor. Padahal sudah lebih dari 23 tahun menjadi alumni.


Ketua Umum IKPM Gontor Cabang Bandung Raya, M. Nurcholiq, memberikan sambutan pada malam itu. Ia bercerita tentang alumni Gontor yang tersebar di wilayah Priangan. Pun bercerita tentang jumlah pesantren alumni Gontor yang terus bertumbuh dan bertambah yang tercatat sekitar 30an pesantren di wilayah Bandung Raya.


Yang menarik adalah ketika salah satu dari kami yang datang dari Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Cecep Sobar Rochmat. Cecep bercerita tentang pengalamannya menjadi wakil pengasuh pertama Gontor Cabang Poso.


Ia mulai bercerita saat dipanggil oleh Pak Kyai Syukri (Allahu Yarhamuhu). Saat itu sejatinya ia menyampaikan maksud kepada Pimpinan Gontor untuk melanjutkan Studi S2 di Malaysia. Semua rekan-rekannnya yang dipanggil itu diizinkan Pak Syukri melanjutkan S2 ke negeri Jiran, kecuali dirinya. 


"Kamu harus percaya sama saya. Kamu akan lebih dari S2 bahkan S3," kata Pak Kyai Syukri yang disampaikan Cecep. Sebagai santri, Cecep tidak punya pilihan dan menerimanya dengan takzim.


Cecep kemudian berangkat ke Poso, untuk memimpin Pesantren Cabang Gontor di sebuah daerah konflik di Sulawesi. Sebelum berangkat ia ditanya lagi sama Pak Kyai, "Cecep, apakah kamu siap mati di sana?" Ia jawab, "Siap Pak Kyai," ujar Cecep.


Ketika mengasuh pesantren Gontor di Poso, Cecep membuka komunikasi dengan para pimpinan masyarakat sekitar. Ia datang ke kediaman pemimpin-pemimpin masyarakat tersebut. Kedatangannya disambut baik oleh kedua belah pihak yang berkonflik.


Ketegangan dan konflik yang sudah lama terjadi di sana, mulai surut. Pesan-pesan kedamaian disampaikan 'Gontor' kepada pihak-pihak yang berkonflik. Kabar damai dari Poso selalu disampaikan secara reguler kepada Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla oleh Pak Kyai Syukri. 


Sebelum kembali ke Gontor dan menjadi Deputi Wakil Rektor Unida Gontor, Cecep sudah menyelesaikan studi doktoral nya di Palu, Sulawesi Tengah. Benar apa yang disampaikan Pak Syukri bahwa ia akan lebih dari sekadar S2 bahkan kembali ke Gontor sudah membawa gelar S3 Doktor.


Waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Panitia Reuni Bandung sudah menyiapkan tajamu makrunah bisarden (makan mie instan bersama). Tajamuk makrunah biasa kami lakukan dulu saat menjadi petugas piket malam di Gontor. 


Usai penutupan acara malam itu masih terlihat beberapa orang melepas rindu tentang masa lalu. Panitia Bandung juga sudah menyiapkan nonton bareng (nobar) final Liga Champions Eropa yang dimenangkan PSG dengan skor telak 5-0.


Sholat subuh berjamaah kami laksanakan di masjid kampus Unisba. Kemudian kami berolahraga ringan, dilanjutkan 'muhadatsah shabahan' di pelataran asrama kampus yang berada di dataran tinggi Bandung, dengan cuaca yang cukup dingin. Panitia menyediakan kopi dan teh panas, juga gorengan untuk menghangatkan muhadatsah.


Kehangatan sangat terasa ketika salah satu dari kami didaulat untuk bercerita bagaimana bisa ia mendapat istri dari putri seorang Kyai. Nurohman namanya, tapi biasa dipanggil dengan Japra. Saat Japra bercerita, kami selalu tertawa. 


Japra memulai kisahnya saat ia berangkat tahun 2007 ke Arab Saudi setelah selesai masa pengabdiannya di Gontor Cabang Kendari. Di Arab Saudi ia mencari rezeki selama lebih dari tiga tahun. Selain bekerja ia pun aktif dan punya beberapa akun Facebook. 


Dari Facebook itu Japra berkenalan dengan banyak teman baru. Salah satunya adalah seorang perempuan dari Tasikmalaya. Salah satu unggahan di Facebook perempuan Tasik itu adalah foto para santri yang sedang nobar Piala Dunia 2010.


"Kamu anaknya Pimpinan Pesantren ya?" tanya Nurohman di akun Facebook perempuan itu. "Lastu (bukan saya)," jawab si empunya akun. Setelah diteliti lebih lanjut perempuan ini benar sebagai putri dari seorang Kyai.


Awal 2011, Nurohman pulang dari Arab Saudi ke kampung halamannya. Selang beberapa pekan ia datang ke Pesantren Riyadhul Ulum Wadda'wah Condong Tasikmalaya. 


Ia bertemu dengan Kyai Pesantren tersebut dengan menyampaikan 'Gordul Khosh' atau pesan khusus. Pesan itu pun diterima. Kyai itu kemudian mengirim utusan untuk menyelidiki tentang calon menantunya. 


Di pertengahan tahun 2011, Nurohman menikahi putri sang Kyai dari Tasikmalaya, yang ia kenal sejak di Arab Saudi melalui media sosial Facebook. Kini ia diberi amanah sebagai Wakil Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Riyadhul Ulum, Condong, Tasikmalaya.


Usai muhadatsah kami sarapan dan bersiap untuk kembali ke rumah masing masing. Mengapa reuni dilaksanakan di Bandung? Karena amanat kesepakatan kami saat Reuni 2024 di UIN Jakarta adalah Reuni 2025 dilaksanakan di Unisba Bandung.


Sejak bulan Ramadhan tahun ini kami berkoordinasi untuk menyukseskan acara reuni di Bandung. Ketua panitianya adalah Amrullah Hayatudin, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor 3 Unisba Bandung. Amrullah, Abdullah Yazid, Ali Karta, Budi, dan teman teman panitia luar biasa telah menyiapkan perhelatan dengan sedemikian rupa.


Tahun depan insyaallah Reuni akan dilaksanakan di Gontor dalam rangka memperingati 100 tahun Gontor. Didaulat saat penutupan reuni Bandung adalah Cecep Sobar Rochmat untuk menjadi ketua panitia reuni 2026 di Gontor. Secara simbolis Amrullah memberikan tongkat estafet kepada Cecep.


Peserta pun kemudian pamit satu persatu meninggalkan kampus Unisba yang asri. Saya diajak teman akrab sejak tahun 1996 bernama Yusuf, untuk mencicipi kuliner di Lembang. Sebelumnya kami membeli susu murni dari Lembang.


Ternyata kuliner yang dijanjikan Yusuf adalah makanan pangsit yang sangat lezat buatan istri nya. Ia dan istrinya menjadi pengusaha pangsit di kedai pelataran Mall Yogya di Lembang, Bandung, Jawa Barat. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk mencicipi makanan ini.


Sore Ahad, kami kembali ke rumah. Dari reuni ini kami mendapat banyak pelajaran penting. Tidak terhitung betapa bersyukurnya kami pernah mengenyam pendidikan di Gontor, yang mengajarkan kehidupan dan persaudaraan, mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan, mengajarkan pentingnya perjuangan dan kemampuan beradaptasi, serta nilai nilai luhur untuk tetap menjadi manusia yang dapat bermanfaat untuk sesamanya. Tabik.



Minggu, 08 September 2024

Kesetiaan Allah SWT: Cahaya dalam Kegelapan Pengkhianatan


Dalam kehidupan, tak jarang kita menghadapi masa-masa sulit di mana rasanya dunia seakan menutup pintunya bagi kita. 

Teman-teman yang dulu dekat tiba-tiba menjauh, orang-orang yang kita percayai mengkhianati, dan seolah-olah kita ditinggalkan sendirian. 

Namun, dalam gelapnya kekecewaan tersebut, ada satu cahaya yang selalu menerangi jalan kita: 

Allah SWT, yang Maha Setia, yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, bahkan ketika dunia tampaknya berbalik melawan kita.

1. Pengkhianatan dalam Kehidupan

Pengkhianatan adalah salah satu rasa sakit terdalam yang bisa dirasakan oleh manusia. Perasaan bahwa seseorang yang kita percayai, kita cintai, dan kita anggap sebagai bagian dari hidup kita, ternyata memanfaatkan atau menyakiti kita, bisa menghancurkan hati dan kepercayaan diri.

Ini sering kali membuat kita mempertanyakan diri sendiri, bahkan keyakinan kita pada kebaikan orang lain.Namun, dalam keadaan seperti itu, kita harus selalu ingat bahwa manusia, betapa pun baik atau dekatnya, tetaplah makhluk yang penuh keterbatasan.
 
Mereka bisa berubah, melakukan kesalahan, atau bahkan menyakiti kita, baik dengan sengaja maupun tidak. 

Tetapi, Allah SWT tidak pernah berubah. Allah SWT adalah satu-satunya yang senantiasa setia, tidak pernah berkhianat, dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

2. Kesetiaan Allah SWT

Allah SWT adalah satu-satunya tempat berlindung yang sejati. Bahkan ketika semua orang meninggalkan kita, Allah tetap ada di sana, mengawasi dan mendengar segala keluhan dan doa kita. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. At-Taubah: 120)

Ayat ini menegaskan bahwa apapun yang terjadi, setiap usaha dan kebaikan yang kita lakukan tidak akan sia-sia di mata Allah. 

Allah selalu setia kepada hamba-Nya yang bertakwa dan berusaha keras dalam kebaikan. Bahkan ketika manusia mengecewakan kita, Allah tidak akan pernah mengecewakan.

3. Ujian dari Allah sebagai Tanda Cinta

Ketika kita merasa terpuruk, kehilangan segalanya, dan merasa dikhianati, ada satu hal yang harus selalu kita ingat: 

ini adalah bagian dari ujian kehidupan yang diberikan oleh Allah. 

Dalam Islam, ujian bukanlah tanda Allah marah kepada hamba-Nya, melainkan tanda cinta-Nya. Allah SWT menguji orang-orang yang dicintai-Nya agar mereka menjadi lebih kuat, lebih dekat kepada-Nya, dan lebih sabar.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi baik, maka Dia akan memberinya cobaan."
(HR. Bukhari)

Ujian berupa pengkhianatan atau kehilangan adalah cara Allah mengingatkan kita bahwa hanya Dia yang abadi, hanya Dia yang layak menjadi tempat kita menggantungkan segala harapan dan kepercayaan. 

Ketika kita terlalu bergantung pada manusia, Allah mungkin menguji kita dengan cara melepaskan dukungan manusia tersebut, agar kita kembali kepada-Nya dan hanya bergantung pada-Nya.

4. Membangun Kembali Kekuatan dari Ketergantungan kepada Allah

Ketika kita menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya yang setia, dan bahwa pengkhianatan dari manusia hanyalah bagian dari perjalanan hidup, kita akan menemukan kekuatan baru. 

Tidak ada yang lebih menenangkan selain mengetahui bahwa dalam keadaan apapun, Allah selalu ada untuk kita.Dalam QS. Al-Baqarah: 286, Allah berfirman:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap ujian yang kita hadapi, termasuk pengkhianatan atau kehilangan, adalah sesuatu yang telah diukur oleh Allah sesuai dengan kemampuan kita. 

Allah tahu seberapa kuat kita, dan Dia tidak akan memberikan ujian yang melampaui batas kemampuan kita. 

Maka dari itu, daripada larut dalam kesedihan dan kekecewaan, kita sebaiknya memanfaatkan ujian tersebut sebagai sarana untuk lebih dekat kepada Allah dan memperkuat keimanan kita.

5. Memaafkan dan Melanjutkan Hidup

Salah satu ajaran penting dalam Islam adalah tentang memaafkan. Meskipun rasa sakit karena dikhianati sangat besar, Islam mengajarkan kita untuk selalu berusaha memaafkan orang yang bersalah kepada kita. 

Dalam QS. An-Nur: 22, Allah SWT berfirman: "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?"

Memaafkan orang lain bukan hanya soal memberikan kesempatan kedua kepada mereka, tetapi juga tentang membebaskan diri kita dari rasa sakit dan dendam yang hanya akan membebani jiwa kita. 

Dengan memaafkan, kita membiarkan diri kita untuk melanjutkan hidup dengan tenang, dan fokus kepada hal-hal yang lebih baik.

6. Menjaga Hubungan dengan Allah

Saat segala sesuatu tampak berantakan, menjaga hubungan kita dengan Allah adalah yang terpenting. 

Berdoa, membaca Al-Qur'an, dan melakukan ibadah lainnya adalah cara untuk memperkuat ikatan kita dengan-Nya.

Saat kita merasa sendiri atau terluka, hanya kepada Allah lah kita mengadu, karena Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala apa yang kita rasakan.

Allah SWT berfirman: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku."
(QS. Al-Baqarah: 186)

Doa adalah kekuatan terbesar yang kita miliki. Tidak peduli seberapa buruk keadaan kita, tidak peduli seberapa dalam rasa sakit yang kita alami, Allah selalu dekat dan siap mendengar serta memberikan jalan keluar.

7. Penutup: Mengandalkan Allah di Atas Segalanya

Pada akhirnya, kehidupan ini adalah perjalanan yang penuh dengan cobaan dan ujian. Kita akan bertemu dengan berbagai orang, mengalami berbagai peristiwa, termasuk pengkhianatan.

Namun, dalam setiap detik perjalanan itu, Allah SWT selalu ada bersama kita. Dia adalah satu-satunya yang tidak pernah berubah, tidak pernah mengkhianati, dan selalu setia. 

Ketika kita telah kehilangan segalanya dan semua orang, Allah tetap ada, menyayangi kita, dan memberikan kekuatan kepada kita.Maka, jangan pernah merasa sendirian. 

Di saat paling gelap dalam hidup kita, ingatlah bahwa Allah SWT tidak pernah meninggalkan kita. 

Dia selalu ada, menunggu kita untuk kembali kepada-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan menyerahkan segala beban hidup kita kepada-Nya. 

Hanya dengan cara inilah kita bisa menemukan ketenangan sejati di tengah badai kehidupan.

Selasa, 27 Agustus 2024

Jaga Kata-katamu Jika Kamu Mau Selamat

Belakang ini ada sebuah tranding topic pembicaraan tentang twit twit lama yang naik lagi ke permukaan dari salah seorang kandidat kepala daerah. Pasalnya cuitan ini tidak menguntungkan bagi si kandidat, malah justru melemahkannya. Maka saya ingat pelajaran Mahfudzat dulu bahwa:

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

"Keselamatan Manusia dalam Penjagaan Lisannya"

Di era digital dan media sosial yang berkembang pesat, menjaga lisan atau kata-kata yang kita ucapkan dan tuliskan menjadi semakin penting. Lisan, dalam hal ini, tidak hanya merujuk pada apa yang kita katakan secara langsung, tetapi juga mencakup apa yang kita tulis di media sosial, pesan teks, dan platform digital lainnya. Kemampuan untuk mengendalikan lisan adalah salah satu aspek penting dari keselamatan manusia, baik secara pribadi maupun dalam hubungan sosial dan profesional.

Di dunia digital, setiap kata yang diucapkan atau dituliskan dapat memiliki dampak yang luas dan tahan lama. Pesan yang salah atau kurang bijaksana dapat dengan mudah disebarluaskan dan diterima oleh ribuan, bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. 

Apa yang kita katakan atau tulis secara online dapat memengaruhi bagaimana orang lain melihat kita. Sebuah komentar yang tidak pantas atau salah dapat merusak reputasi seseorang dan bahkan mengancam karier mereka.
  
Lisan yang tidak terjaga dapat merusak hubungan sosial, baik dengan teman, keluarga, atau rekan kerja. Misunderstanding atau komentar yang tidak sensitif dapat menimbulkan konflik yang sulit diperbaiki.

Di beberapa negara, kata-kata yang diucapkan atau dituliskan di dunia digital dapat memiliki konsekuensi hukum. Misalnya, pencemaran nama baik, ujaran kebencian, atau penyebaran informasi palsu dapat membawa pelakunya ke ranah hukum. 

Media sosial memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk mengekspresikan diri, tetapi kebebasan ini datang dengan tanggung jawab. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam menjaga lisan di media sosial antara lain:

Anonimitas di internet sering kali membuat orang merasa aman untuk mengatakan hal-hal yang tidak akan mereka ucapkan dalam kehidupan nyata. Hal ini dapat menyebabkan perilaku yang tidak bertanggung jawab seperti bullying, trolling, atau penyebaran ujaran kebencian.

Media sosial mendorong pengguna untuk bereaksi dengan cepat terhadap suatu peristiwa atau isu. Namun, reaksi yang terburu-buru sering kali menghasilkan pernyataan yang kurang dipikirkan dan dapat menimbulkan masalah.

Komunikasi digital sering kali kurang dalam konteks non-verbal seperti ekspresi wajah dan nada suara, yang dapat menyebabkan salah pengertian dan interpretasi yang salah.

Menjaga lisan di era digital membutuhkan kesadaran dan disiplin. Sebelum mengirimkan pesan atau membuat posting, pikirkan terlebih dahulu dampak dari kata-kata tersebut. Apakah kata-kata itu bisa disalahpahami? Apakah ada kemungkinan menyinggung perasaan orang lain?

Jangan menulis atau berkomentar saat marah atau emosi. Tindakan yang diambil saat emosi sering kali tidak bijaksana dan dapat berakibat buruk.

Jangan menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hoaks dan ujaran kebencian hanya akan merugikan orang lain dan diri sendiri.

Berhati-hatilah dalam membagikan informasi pribadi di media sosial. Kata-kata yang tidak sengaja atau informasi pribadi yang dibagikan bisa saja disalahgunakan.

Penjagaan lisan di era digital dan media sosial adalah aspek penting dalam menjaga keselamatan manusia. Dengan perkembangan teknologi dan kebebasan berekspresi yang semakin luas, tanggung jawab untuk mengendalikan apa yang kita katakan dan tuliskan semakin besar. Dengan berpikir sebelum berbicara, mengendalikan emosi, dan selalu mempertimbangkan dampak dari setiap kata, kita dapat menjaga keharmonisan dalam hubungan sosial, melindungi reputasi pribadi, dan menghindari konflik atau masalah hukum yang tidak perlu. Menjaga lisan adalah salah satu kunci untuk keselamatan dan kesejahteraan di dunia digital yang kompleks ini.

Selesaikan Tugasmu Sebaik-baiknya



Dulu, ketika saya merasa berat untuk menulis tesis di Universitas Ankara Turki, Ibuku bilang, "selesaikan tugasmu dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada yang kamu kejar, kecuali belajar." Kalimat ini menjadi jimat ketika semangat berkurang. Maka saya berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan tugas sebaik baiknya, karena ini juga bagian dari pelajaran Mahfudzat di Gontor, إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ. Sesungguhnya pekerjaan-pekerjaan ini dengan selesai tuntas dikerjakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan pada berbagai macam pekerjaan dan tanggung jawab. Baik dalam konteks profesional maupun pribadi, pekerjaan selalu ada untuk diselesaikan. Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada melakukan pekerjaan itu sendiri, tetapi juga bagaimana kita menyelesaikannya dengan baik. Sebuah pekerjaan tanpa penyelesaian tidak hanya berarti waktu dan tenaga yang terbuang sia-sia, tetapi juga bisa berdampak negatif pada hasil akhir yang kita harapkan.

Penyelesaian adalah bagian krusial dari setiap pekerjaan. Tanpa penyelesaian, sebuah tugas atau proyek hanya akan menjadi sekumpulan upaya yang tidak memiliki arah atau tujuan yang jelas. Menyelesaikan pekerjaan bukan hanya tentang "menyelesaikan tugas," tetapi juga memastikan bahwa setiap bagian dari pekerjaan tersebut mencapai standar kualitas yang diharapkan. Ketika sebuah pekerjaan selesai dengan baik, hasilnya dapat memberikan dampak yang signifikan, baik itu dalam bentuk kepuasan pribadi, pengakuan profesional, atau hasil konkret yang diinginkan.

Setiap pekerjaan memiliki tantangannya sendiri, dan untuk menyelesaikannya dengan sukses, diperlukan strategi yang tepat. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa membantu:

Perencanaan yang Matang: Sebelum memulai pekerjaan, sangat penting untuk merencanakan langkah-langkah yang akan diambil. Perencanaan yang baik membantu mengidentifikasi tujuan, alur kerja, sumber daya yang dibutuhkan, dan potensi hambatan yang mungkin muncul.

Prioritas dan Manajemen Waktu: Setiap pekerjaan harus diprioritaskan berdasarkan urgensi dan dampaknya. Manajemen waktu yang efektif akan memastikan bahwa pekerjaan selesai tepat waktu tanpa mengorbankan kualitas.

Pemecahan Masalah: Tidak jarang dalam proses penyelesaian pekerjaan, kita dihadapkan pada masalah atau hambatan. Kemampuan untuk memecahkan masalah secara efektif adalah kunci untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ini melibatkan kemampuan untuk berpikir kritis, mencari solusi alternatif, dan tetap tenang di bawah tekanan.

Kolaborasi dan Komunikasi: Banyak pekerjaan yang membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Komunikasi yang jelas dan kolaborasi yang baik akan memastikan bahwa semua pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama dan bekerja menuju tujuan yang sama.

Evaluasi dan Penyesuaian: Setelah pekerjaan selesai, evaluasi sangat penting untuk melihat apa yang berhasil dan apa yang tidak. Ini memungkinkan untuk melakukan penyesuaian di masa depan dan terus meningkatkan cara kita bekerja.

Menyelesaikan pekerjaan dengan baik memiliki banyak manfaat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari segi profesional, penyelesaian yang efektif dapat meningkatkan reputasi, membuka peluang karir, dan memberikan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan. Dari segi pribadi, ini memberikan rasa pencapaian dan kebanggaan diri.

Di tingkat organisasi, penyelesaian tugas dengan baik berkontribusi pada keberhasilan keseluruhan tim dan perusahaan. Pekerjaan yang diselesaikan tepat waktu dan dengan kualitas tinggi membantu mencapai tujuan organisasi, meningkatkan efisiensi, dan mendukung budaya kerja yang positif.

Konsistensi adalah kunci untuk memastikan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan tidak hanya selesai, tetapi juga diselesaikan dengan standar yang tinggi. Konsistensi dalam penyelesaian pekerjaan mencerminkan komitmen terhadap kualitas dan profesionalisme. Ini membangun kepercayaan baik dari rekan kerja, atasan, maupun klien.

Seringkali, kita dihadapkan pada hambatan yang dapat menghalangi penyelesaian pekerjaan. Ini bisa berupa kurangnya motivasi, gangguan dari luar, atau bahkan ketidakpastian dalam langkah-langkah yang harus diambil. Untuk mengatasi ini, penting untuk tetap fokus pada tujuan akhir, mencari bantuan jika diperlukan, dan tetap fleksibel dalam menghadapi perubahan atau tantangan yang muncul.

Setiap pekerjaan yang kita hadapi adalah kesempatan untuk belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi yang berarti. Namun, nilai sebenarnya dari pekerjaan terletak pada penyelesaiannya. Dengan perencanaan yang baik, prioritas yang jelas, kemampuan memecahkan masalah, dan konsistensi, setiap pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik dan membawa dampak positif yang signifikan. Penyelesaian yang efektif bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi tentang bagaimana kita memastikan bahwa hasilnya memuaskan dan sesuai dengan tujuan yang kita tetapkan sejak awal. Dengan demikian, kita tidak hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga untuk mencapai hasil yang berkualitas dan bermakna.

Senin, 26 Agustus 2024

"Mustahil bukanlah fakta. Ia adalah pendapat,"


Ungkapan "Mustahil bukanlah fakta. Ia adalah pendapat," yang diucapkan oleh Muhammad Ali, adalah sebuah pernyataan yang mendalam dan menggugah, menggambarkan keyakinannya terhadap kemampuan manusia untuk melampaui batasan yang dipersepsikan. Ali, seorang petinju legendaris yang dikenal bukan hanya karena keterampilannya di ring, tetapi juga karena kepribadian dan pandangannya yang berani, menggunakan kalimat ini untuk menantang pandangan konvensional tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin. 

Pada intinya, Ali ingin menegaskan bahwa batasan-batasan yang sering kita anggap sebagai 'mustahil' sebenarnya hanyalah konstruksi mental yang kita buat sendiri. Kita sering kali terbatas bukan oleh kenyataan yang ada di depan kita, melainkan oleh cara kita melihat kenyataan itu. Bagi Ali, "mustahil" bukanlah kenyataan objektif yang tidak bisa diubah, melainkan sebuah opini atau persepsi yang dapat kita tantang dan ubah.

Dalam kalimat ini, Ali membuat perbedaan yang tajam antara fakta dan pendapat. Fakta adalah sesuatu yang objektif dan tak terbantahkan, misalnya, matahari terbit dari timur setiap hari. Namun, "mustahil" bukanlah sebuah fakta seperti itu; ia adalah sebuah opini yang didasarkan pada pemahaman, pengetahuan, dan kepercayaan seseorang pada saat tertentu. Opini ini bisa berubah, terutama ketika seseorang memiliki tekad untuk mengubah keadaan.

Karir Muhammad Ali adalah bukti nyata dari keyakinannya ini. Banyak yang menganggap mustahil bagi seorang pria kulit hitam pada zamannya untuk mencapai kesuksesan dan pengaruh yang ia capai, terutama dalam dunia yang sarat dengan rasisme dan ketidaksetaraan. Ali menghadapi tantangan yang tampaknya mustahil, baik di dalam maupun di luar ring. Ketika ia pertama kali mengumumkan dirinya sebagai yang "terbesar," banyak orang yang meremehkannya, menganggap pernyataannya sebagai kesombongan. Namun, Ali tidak melihat batasan-batasan ini sebagai fakta yang tak terbantahkan. Ia melihatnya sebagai pendapat yang bisa dia tantang dan buktikan salah. 

Pesan ini juga relevan bagi kita semua. Ketika kita dihadapkan pada rintangan yang tampaknya tidak dapat diatasi, kita sering kali dengan cepat menganggapnya sebagai mustahil. Namun, jika kita mendekati tantangan dengan pola pikir bahwa "mustahil" hanya sebuah opini, kita membuka diri kita pada kemungkinan untuk berhasil. Misalnya, ketika seseorang berusaha mencapai tujuan yang sangat ambisius—seperti memulai bisnis dari nol, menaklukkan rintangan fisik, atau mengubah kebiasaan hidup yang buruk—ada banyak yang mungkin mengatakan bahwa itu mustahil. Namun, jika kita memandang ini sebagai pendapat, bukan fakta, kita bisa termotivasi untuk mencari jalan dan strategi baru yang pada akhirnya bisa membuat yang mustahil menjadi mungkin.

Ungkapan Muhammad Ali ini mengajarkan kita untuk tidak membiarkan batasan-batasan mental menghalangi kita. Dengan keyakinan yang kuat, tekad, dan keberanian untuk terus berusaha, kita bisa membuktikan bahwa apa yang dianggap mustahil hanyalah pendapat yang bisa diubah. Ali adalah contoh hidup dari filosofi ini, dan warisannya terus menginspirasi banyak orang untuk menantang apa yang mereka anggap tidak mungkin.

Jangan Jadi Kambing



Salah satu pesan yang masih kita ingat di Gontor adalah "Jangan jadi kambing," kata Kyai Kami, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA.

Jangan jadi kambing. Kambing mungkin memiliki kehidupan yang tampaknya nyaman: mereka memiliki kandang untuk berlindung, makanan yang cukup untuk dimakan, dan kemampuan untuk berkembang biak. Dari sudut pandang ini, hidup mereka tampak mirip dengan manusia. Mereka memenuhi kebutuhan dasar mereka, memiliki tempat tinggal, makanan, dan meneruskan keturunan. Namun, di sinilah letak perbedaannya—manusia tidak boleh menjalani hidup seperti kambing.

Sebagai manusia, kita memiliki kapasitas untuk berpikir, bermimpi, dan meraih sesuatu yang lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar. Manusia dilahirkan dengan potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar makan, tidur, dan berkembang biak. Kita memiliki akal budi yang memungkinkan kita untuk merenung, berinovasi, menciptakan, dan membangun sesuatu yang memiliki dampak jauh melampaui kehidupan kita sendiri. Kita memiliki hati nurani yang memandu kita untuk bertindak dengan moral dan etika, untuk peduli terhadap sesama, dan untuk menjalani hidup dengan tujuan yang lebih tinggi.

Menjadi manusia berarti mengambil tanggung jawab atas hidup kita, untuk tidak sekadar mengikuti naluri dasar atau rutinitas yang monoton. Kita diajak untuk hidup dengan kesadaran penuh, untuk menemukan makna dan tujuan di balik tindakan kita, dan untuk berkontribusi kepada dunia di sekitar kita. Kehidupan yang hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik tanpa memikirkan tujuan yang lebih besar adalah kehidupan yang terbuang sia-sia.

Kambing hidup dengan mengikuti naluri, tanpa visi, tanpa impian, dan tanpa ambisi. Mereka menerima hidup apa adanya, terikat pada siklus dasar kelangsungan hidup. Tetapi manusia diberi kemampuan untuk memilih jalan hidupnya, untuk menentukan takdirnya sendiri, dan untuk berusaha mencapai sesuatu yang lebih dari sekadar eksistensi. Kita dipanggil untuk hidup dengan semangat, untuk mengejar mimpi, dan untuk meninggalkan jejak yang bermakna di dunia ini.

Maka dari itu, jangan biarkan diri kita terjebak dalam kehidupan yang serba monoton dan terbatas seperti kambing. Jangan hanya puas dengan kenyamanan atau rutinitas sehari-hari. Manusia tidak boleh hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makan dan tidur. Kita harus terus mencari, belajar, dan berkembang. Kita harus menjalani hidup dengan semangat yang membara, selalu mencari cara untuk membuat dunia ini lebih baik, untuk menciptakan sesuatu yang akan dikenang, dan untuk menjalani hidup dengan penuh makna.

Menjadi manusia berarti lebih dari sekadar bertahan hidup—ini tentang mencapai potensi penuh kita, tentang menjalani hidup dengan integritas, semangat, dan tekad untuk membuat perbedaan. Jangan jadi kambing; jadilah manusia yang seutuhnya, yang hidup dengan tujuan dan makna, yang berjuang untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.

Orang yang tidak mau apa-apa, tidak akan dapat apa-apa, maka ia tidak bisa apa-apa, dan akhirnya tidak akan jadi apa-apa.



Orang yang tidak memiliki keinginan atau ambisi dalam hidup, tidak akan mendapatkan apa-apa. Mereka yang tidak berani bermimpi atau mengambil langkah untuk mencapai sesuatu, pada akhirnya akan terjebak dalam keterbatasan diri mereka sendiri. Tanpa keinginan, seseorang tidak akan memiliki dorongan untuk bertindak atau belajar. Tanpa tindakan, mereka tidak akan pernah mengembangkan keterampilan atau kemampuan. Dan tanpa kemampuan, mereka tidak akan pernah mencapai sesuatu yang berarti dalam hidup.

Keberhasilan tidak datang dengan sendirinya; ia memerlukan usaha, tekad, dan keyakinan bahwa apa yang kita inginkan dapat dicapai. Namun, ketika seseorang memilih untuk tidak menginginkan apa pun, mereka secara otomatis menutup pintu terhadap semua kemungkinan. Hidup mereka menjadi stagnan, terhenti di satu titik tanpa perkembangan atau pencapaian. Mereka mungkin akan merasa nyaman dalam zona aman, tetapi kenyamanan ini hanya sementara dan sering kali berujung pada penyesalan.

Lebih dari itu, tanpa keinginan atau tujuan, seseorang kehilangan arah dalam hidup. Mereka tidak memiliki sesuatu untuk dikejar, tidak ada alasan untuk berkembang, dan akhirnya mereka hanya mengapung di arus kehidupan tanpa arah yang jelas. Dan ketika hari-hari berlalu tanpa perubahan atau pertumbuhan, mereka akan menyadari bahwa mereka telah kehilangan banyak peluang.

Pada akhirnya, orang yang tidak mau apa-apa tidak akan menjadi apa-apa. Mereka tidak akan dikenal karena prestasi mereka, karena tidak ada yang mereka perjuangkan. Mereka tidak akan meninggalkan warisan atau dampak yang berarti, karena mereka tidak pernah mengambil langkah untuk membuat perbedaan. Hidup mereka mungkin tenang, tetapi tidak penuh; mereka mungkin tidak menghadapi banyak kegagalan, tetapi juga tidak pernah merasakan manisnya kesuksesan.

Maka dari itu, penting bagi setiap orang untuk memiliki keinginan, untuk bermimpi, dan untuk berusaha mewujudkannya. Keinginan adalah api yang menggerakkan kita menuju tujuan, dan dengan usaha serta ketekunan, kita dapat meraih apa yang kita inginkan, mengembangkan diri menjadi lebih baik, dan pada akhirnya, menjadi seseorang yang berarti.

Ini adalah penafsiran dari apa yang disampaikan Almarhum Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA "Orang yang tidak mau apa-apa, tidak akan dapat apa-apa, maka ia tidak bisa apa-apa, dan akhirnya tidak akan jadi apa-apa."

Senin, 15 Juli 2024

Selalu Istimewa Bertemu Mereka

 


Kembali saya menulis lepas setelah sekian lama tak menulis yang seperti ini. Adalah sebuah keistimewaan bertemu dengan teman teman lama, yang ini adalah alumni Ankara, ada yang Universitas Ankara, ada Universitas Hacettepe, ada juga yang Middle East Technical University, Turkiye. 

Pertemuan ini dilakukan karena undangan seorang teman yang baru pulang dari Turki untuk sebuah penelitian, yaitu Baiquni. Baiquni meneliti tentang sejarah, Ia menyelesaikan S1 di UIN Ar-Raniry Aceh, S2 di Ankara University, dan S3 di North Caroline Univerity, Amerika Serikat. Ia merupakan teman dekat saya ketika kuliah di Ankara University, teman sekamar, beda jurusan, saya di Jurnalisme, dan ia di Sejarah. Baiquni saat ini dosen di IAIN Lhoksemawe Aceh.

Kalau Baiquni ke Jakarta, kami para alumni Ankara yang menetap di Jakarta dan sekitarnya selalu menyediakan waktu untuk bertatap muka. Banyak kisah yang terlewat setelah kami lulus dari negeri dua benua tersebut. Selain Baiquni, ada Dicky Rahmat Pauji menuntaskan S3 Bahasa dan Sastra Arab di Ankara University dan kini menjadi dosen di Universitas Nasional di Jakarta, ada Christian Kuswibowo menyelesaikan di Hacettepe University dan sedang mengenyam S3 di IPB kini dosen di Politeknik APP Jakarta, ada juga M. Prabu Wibowo alumni METU Ankara dan Florida State University Amerika Serikat dan sekarang dosen Univesitas Indonesia dan tentu senior kami adalah Buya Faris BQ.

Yang paling kami tunggu-tunggu adalah nasehat dari Buya Faris BQ. Buya Faris ini sangat terkenal dengan dakwah di wilayah urban dengan ImanPath yang ia dirikan. Tentu kami antusias karena untaian kata yang ia hadirkan adalah kata-kata yang ia berikan kepada para audiens di mana ia berdakwah. Dakwahnya begitu menarik untuk warga urban yang haus akan keilmuan Islam.

Buya Faris, menyelesaikan S1 di Universitas Al-Azhar Mesir, S2 di Universitas Indonesia dan melanjutkan S3 di Ankara University, Turkiye. Kata Buya Faris, selain ridha Allah yang dituju,  jangan terlalu serius, dibawa santai saja hidup ini. 

Pembahasan lainnya adalah, menurut Buya Faris, hidup ini akan tenang jika kita sudah atau sedang menuju makrifatullah (mengenal Allah). Ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk makrifatullah, pertama, kholqullah, yaitu melihat ciptaan Allah yang sempurna, maka kita akan terkagum dengan melihatnya. Kedua, af'alullah, kerja-kerja Allah yang luar biasa, bagaimana manusia diciptakan, langit ditahan untuk tidak runtuh, lautan ditahan untuk tidak tsunami, dll. Ketiga, kalamullah yaitu Al-Qur'an, yang menjadi rujukan kita semua, yang nilainya tidak terkira.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Reuni SD Setelah 18 Tahun

 

Lebaran ini spesial bagi saya. Setelah empat kali berlebaran Idul Fitri di negeri orang, kali ini saya bisa merasakan kembali berkumpul dengan keluarga tercinta. Hari tadi ada lagi kebahagiaan, ketika kami alumni SDN Muara Ciujung Barat II Komplek Multatuli Rangkasbitung berkumpul di Ruko Zamzam Center Mandala.

Dulu kami masuk SD tahun 1990-1991 dan lulus tahun 1996. Kami benar-benar berpisah setelah acara perpisahan di Pantai Carita Labuan. Hanya beberapa teman dekat yang masih berkomunikasi dan bertemu ketika saya mendapat jatah liburan pulang kampung. Pasalnya usai lulus SD saya melanjutkan sekolah ke Gontor Jawa Timur.

Lulus Gontor saya lanjut lagi sekolah ke UIN Jakarta dan kemudian bekerja di Republika sebagai jurnalis. Baru setahun bekerja di Republika, saya mendapat beasiswa S2 di Universitas Ankara Turki. Desember tahun 2013 lalu saya pulang ke tanah air setelah menyelesaikan studi saya di sana.



Jadi hampir 18 tahun saya tinggal di luar Rangkasbitung. Selama itu pula saya jarang bertemu dengan teman-teman SD. Teman-teman SD ini menjadi cerminan sejarah masa lalu yang tidak bisa dienyahkan. Kepingan kenangan mencoba disatukan kembali ketika pertemuan dengan beberapa teman itu.

Dari pertemuan itu, ada beberapa teman yang tidak berubah dan mudah dikenali, tapi ada juga yang berubah dan susah dikenali sebelum ia menyebutkan namanya. Baru kemudian setelah disebutkan namanya itu memori masa lalu dan fisik saat ini menjadi sinkron. 

Reuni ini sebenarnya bermula ketika ada seseorang mengundang pin BB saya, namanya Nikita Mey Mey. Ini jelas bukan nama asli teman saya. Rupanya nama itu adalah nama anak teman saya. Saya pun berinteraksi dengannya di sela kesibukan saya menulis artikel. Karena interaksi itu saya akhirnya membuat Grup BBM SD.



Dari perbincangan di grup BBM itu tercetuslah ide reuni. Awalnya terpikir untuk mengadakan reuni sembari buka puasa bersama, tapi ini tidak terlaksana, selain sibuk beberapa teman juga masih di luar kota. Dua hari lalu seorang teman yang bekerja di Bandung datang ke rumah dan kami berbincang dari sore hingga malam. Satu teman lagi ikut bergabung setelah tugasnya selesai di rumah sakit.

Kami bersepakat untuk mengadakan reuni perdana pada Sabtu 2 Agustus 2014. Beberapa teman antusian dan menghubungi sejumlah teman yang lainnya. Dari sekitar 27 teman sekelas ketika kelas enam, hanya 10 orang yang datang ke acara reuni. Meski tidak sampai setengahnya tapi kami bersyukur bahwa kami bisa berkumpul kembali.

Saya mencatat dari yang hadir itu ada yang bekerja di rumah sakit di Rangkasbitung, tapi ia kemudian mendapat tugas setelah lebaran di Jakarta Pusat, ada juga yang bekerja di Bank BNI Bandung, ada yang bekerja di KAU, dan yang jauh adalah yang bekerja di Merauke Papua. Yang tidak hadir ada yang bekerja sebagi polisi, dan lain sebagainya.



Sebagian ada yang tidak hadir karena ia tidak mudik pada tahun ini dan menetap di Sumatera, ada juga yang tidak tahu akan adanya acara ini. Kami semua berharap acara ini adalah awal jalinan silaturahim. Yang nantinya bisa dilaksanakan setiap tahun dengan mengunjungi guru-guru kami.

Bereuni adalah cara terbaik untuk kita mengenal siapa sebenarnya diri kita, dari mana kita pernah belajar dan dengan siapa kita tumbuh. Ketika kita mengenal itu kita akan sadar akan kekurangan kita, kita mengenal diri kita sebagai orang yang tidak tahu kemudian tahu. Dan yang menyenangkan adalah ketika kita bercerita masa kecil kita dengan lepas, seakan kita ingin kembali ke masa lalu.

Kamis, 31 Juli 2014

Mengucapkan Selamat Idul Fitri Lebih Awal


Mengapa saya mengucapkan selamat Idul Fitri lebih awal, itu mungkin pertanyaan beberapa teman saya ketika mereka menerima pesan pendek melalui bbm, whatsapp, dan sms. Sebenarnya pengennya sih saya mengucapkan secara langsung kepada semua teman saya itu dengan bertemu secara fisik. Namun nyatanya itu mustahil, karena mereka tersebar di berbagai kota dan negara.

Akhirnya, saya berusaha untuk menyapa dan mengucapkan selamat kepada teman-teman saya yang ada dalam daftar teman, baik di bbm, wa maupun sms dengan menyebutkan namanya. Rasanya kurang etis ketika saya mengirim satu pesan untuk semua dengan menggunakan fitur BC yang ada di bbm. Saya coba menggunakan logika, jika saya yang menerima pesan selamat Idul Fitri dengan BC saya juga sedikit enggan untuk membacanya. Bahkan saya jarang membaca pesan bbm yang dikirim melalui jalur BC di ponsel saya.

Saya terinspirasi dari salah satu twit yang menyebutkan bahwa salah satu pengguna twitter menerima pesan selamat Idul Fitri dari bosnya atau atasannya dengan menuliskan nama dan menyapanya langsung. Beberapa senior saya juga begitu, menyapa dengan menyebut nama saya, dengan pesan yang simpel namun langsung to the point. Ini sebenarnya tidak mudah, karena membutuhkan waktu yang lumayan untuk menyapa ratusan orang yang ada di daftar teman.

Adanya gawai atau gadget yang memberikan kemudahan untuk berkirim ucapan bukan berarti tanpa etika. Perlu adanya kepekaan. Ketika kita tidak bisa bertemu secara langsung, setidaknya kita sudah mencoba menghubunginya secara pribadi dengan menyebutkan nama dan menyapanya, meski melalui pesan pendek.

Maka pada akhirnya saya memilih mengucapkan selamat idul fitri lebih awal, ini bukan karena saya berlebaran terlebih dahulu melainkan saya ingin menyapa dan mengucapkan terlebih dahulu. Karena pas hari H nya saya pasti sibuk dengan berkumpul bersama keluarga dan bersilaturahim ke tetangga, berkungjung ke rumah saudara dan berziarah ke makam. Dan ponsel saya di hari Idul Fitri lebih banyak menganggurnya. Lagi pula tidak rugi juga jika sehari tanpa gawai, bahkan akan lebih terasa nikmat.

Terakhir, untuk pembaca yang baik hati, saya ucapkan terimakasih dan semoga belum terlambat untuk saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H, mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna waminkum. Kullu sanah wa antum bikhair.

Minggu, 29 Juni 2014

Puasa di Negeri Orang



Tepat setahun lalu saya berbuka bersama di hari pertama puasa Ramadhan di Masjid Haji Bayram di Ankara Turki bersama teman-teman seperjuangan. Hari ini saya berbuka puasa perdana Ramadhan di rumah di Rangkasbitung bersama keluarga tercinta. Bagi yang tidak pernah merasakan rasa berbuka bersama bukan dengan keluarga tercinta, tidak pernah merasakan bagaimana bahagianya saat berbuka bersama keluarga.

Saat itu , saat saya berada di negeri antah berantah dan merasakan berbuka puasa dengan rekan setanah air, saya sebenarnya agak sedih. Meski hal ini sudah beberapa kali saya rasakan. Pertama kali adalah saat sekolah di Gontor pas kelas lima mau naik kelas enam yang diwajibkan mukim. Kemudian saat bekerja di Republika dimana saya ditugaskan meliput lebaran.

Namun saya langsung menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah kita sendiri yang menciptakannya. Meski tanpa kebersamaan keluarga, saya masih bisa bahagia dengan kebersamaan bersama teman seperjuangan. Yang paling malang adalah ketika kita hanya sendiri tanpa keluarga dan tanpa teman. Dan inilah masa-masa perjuangan yang harus dihadapi. Tanpa itu semua kita tidak akan menghargai bagaimana sebuah kebersamaan.

Dan ada kalimat yang kita selalu ucapakan pada bulan puasa tahun lalu, yaitu “Bahagia itu bukan dengan apa kita berbuka puasa, bahagia itu adalah dengan siapa kita berbuka puasa, meski hanya dengan air putih, roti dan sop dari sebuah masjid yang memberikan hidangan berbuka puasa”.

Amin Abdullah, Rektor UIN Yogyakarta mengungkapkan kepada mahasiswa Indonesia di Istanbul, Budy Sugandi, bahwa ia tidak pernah pulang selama belajar di Turki bersama Komaruddin Hidayat. Mereka berdua merasakan bagaimana pahitnya kehidupan selama belajar di Ankara. Beberapa tahun kemudian keduanya menjadi rektor, Komaruddin memimpin UIN Jakarta selama dua periode sama halnya dengan Amin Abdullah yang memimpin UIN Yogya selama dua periode.

Kepada saya, Pak Komaruddin mengatakan, saat adanya himpitan kehidupan bersekolah di Turki, banyak orang yang tidak mengetahui tentang hal itu. Bahkan saking susahnya saat kuliah di Turki beliau sempat bertanya pada dirinya sendiri apakah sebaiknya pulang saja, namun hal itu diurungkannya. Karena menurutnya nilai kepercayaan masyarakat akan runtuh terhadapnya saat ia menyatakan mundur dan menyerah. Ia tetap berjuang hingga lulus dari METU Ankara.

Puasa pada hakikatnya adalah ujian ketaatan. Taat kepada rambu-rambu yang telah ditentukan. Tanpa ada yang mengawasi secara fisik. Ini adalah ibadah hati. Maka ini juga dapat disebut dengan ujian kesabaran dan kesyukuran. Keduanya memang tidak terlihat namun sangat terasa. Tujuan utama puasa adalah membentuk manusia takwa. Selamat berpuasa, kawan, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.

Minggu, 16 Maret 2014

Selamat Jalan Sahabat

Dari kanan, saya, Wahab (mengangkat dua jari), Andi, Mumu dan Muin, pada saat syukuran sebuah acara BEM di tahun 2007, dan yang mengabil gambarnya adalah Moko.

Saya dikejutkan dengan BBM dan BC yang masuk bertubi-tubi kemarin pagi. Kebiasaan saya mematikan hape sebelum tidur dan menghidupkannya lagi setelah bangun tidur, membuat pagi itu hati dan pikiran terlibat syok dan seakan tidak percaya.

Penyebabnya adalah kabar tentang meninggalnya sahabat saya, Ahmad Fathul Wahab, Jumat malam 14 Maret 2014. Dan kabar kematiannya setelah ia mengalami kecelekaan lalu lintas di Pondok Ranji-Ciputat yang terjadi di malam itu.

Sejak saya kembali ke Indonesia akhir tahun 2013 lalu, saya belum berjumpa dengannya. Terakhir kali berkomunikasi dengannya adalah ketika 2012 di bulan April. Saat itu saya sedang melalukan riset untuk tesis saya

Kami mantan aktivis BEM Fidkom berkumpul di rumah Andi di daerah Pondok Gede, hanya Wahab yang tak hadir. Kami menelepon Wahab mengabarkan tentang pertemuan itu. Kami ingin berkumpul bersama waktu itu, sayang Wahab sibuk dengan pekerjaannya. Sementara waktu saya singkat di Jakarta karena harus kembali ke Ankara Turki.

Ia pada 2004 memperkenalkan dirinya kepada saya dengan panggilan Wahab. Wahab satu angkatan bersama saya di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta. Cuma kami berbeda jurusan, saya di Komunikasi Penyiaran Islam dan ia di konsentrasi Jurnalistik, angkatan pertama.

Kami aktif bersama di beberapa organisasi, terlebih di HMI Komfakda. Kami terlibat berdiskusi, berdebat, hingga tertawa bersama-sama. Puncak kedekatan kami adalah ketika saya menjadi Sekjen BEM Fidkom, ia berada di Divisi Komunikasi dan Informasi.

Hampir setiap kegiatan Wahab selalu aktif. Pernah kami mengadakan acara BEM Fidkom bekerja sama dengan Masjid Banten di Serang lama. Wahab, Andi, Muin, Moko  dan saya beberapa kali bulak-balik Ciputat-Serang untuk mempersiapakan acara itu. Saya sempat diajak mampir ke rumahnya di Serang yang berdekatan dengan Tangerang, usai kami mengadakan acara di Banten itu.

Entah berapa kali kita begadang bersama untuk diskusi dan mempersiapkan acara BEM. Ia yang mahir mendisain poster selalu bekerja dengan baik. Bahkan di kepengurusan kami BEM Fidkom membuat kalender khusus 2007 yang didisain oleh Wahab.

Yang paling berkesan adalah ketika kami berbincang di suatu sore di sekretariat BEM Fidkom. Saya sedang merebahkan badan di atas karpet dan ia datang ikut rebahan. Ia bertanya pada saya apakah saya tertarik untuk menjadi ketua umum (ketum) HMI Komfakda, saya bilang tidak. Saya hanya ingin menyelesaikan studi saya dengan cepat, dan tidak lagi tertarik dengan menjabat di organisasi intra maupun ekstra kampus.

Wahab menyatakan, jika saya maju untuk menjadi ketum HMI Komfakda, ia akan mendukung sepenuhnya dan semacam menjadi semacam ketua timses. Ia merasa cukup menjadi Sekum saja jika saya jadi Ketumnya. Tapi jika saya tidak maju ia akan maju sendirian dengan meminta dukungan saya. Saya dukung waktu itu. Namun ia gagal menjadi ketum HMI Komfakda.

Usai saya lulus dari UIN Jakarta pada Maret 2008, saya sudah jarang bertemu dengan teman-teman se-almamater. Apalagi sejak menjadi wartawan di Republika yang menyita waktu. Hanya sesekali saja menyambangi kampus dan tempat kumpul teman-teman di Ciputat. Terlebih ketika saya berangkat ke Turki, hanya melalui dunia maya kami bersapa.

Semasih saya belajar di Turki ia menikah dengan teman seangkatan kami di jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) bernama Dewi Novita Sari. Mereka dikarunia oleh Allah seorang putri yang baru lahir. Dewi harus kuat, insyaAllah Allah memberi kekuatan dan ketabahan untuk Dewi dan putrinya.

Dan ini doa saya untuk Wahab, Allahumma ighfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu. Ya Allah maafkanlah dosa-dosanya, terimalah semua amal baiknya, luaskanlah kuburnya, dan masukkanlah ia ke dalam surgaMu, serta semoga istri dan anaknya diberi ketabahan olehMu ya Allah. Amin ya Rabbaalamin.

Akhirnya adalah yang paling dekat memang kematian. Sesiapa pun dari kita akan menemukan itu kematian. Selamat jalan, sahabat. Semoga engkau tenang disana.

Rabu, 12 Februari 2014

Pulpen, Sikat Gigi dan Sandal



Tiga barang ini sangat berguna bagi para pelajar yang berasrama. Dulu ketika saya belajar di Gontor, saya punya banyak pulpen. Bahkan, saya membeli satu  lusin pulpen di Rangkasbitung sebelum berangkat ke Gontor. Satu lusin pulpen itu digunakan untuk satu semester.

Seharusnya selusin pulpen itu tidak habis digunakan untuk satu semester. Tetapi permasalahannya tidak sesimpel itu. Pulpen habis bukan hanya digunakan untuk menulis. Yang paling tragis adalah pulpen itu ketinggalan atau hilang atau dijadikan pengaduk minuman.

Menurut survey kecil-kecilan yang saya lakukan ketika menjadi ketua koperasi pelajar di Gontor, saya melihat ada beberapa hal yang paling dicari para santri. Yang pertama adalah pulpen, kedua sikat gigi dan ketiga sandal. Bahkan di koperasi satu pekan saja biasanya terjual hingga tiga karung sandal jepit.

Entah berapa sikat gigi yang saya punya ketika menjadi pelajar di Gontor. Apalagi ketika menjadi santri lama. Kebutuhan pokok untuk mandi adalah sikat gigi, odol dan sabun, sesekali sampo. Ada fungsi yang lebih dari sikat gigi yaitu berfungsi sebagai alat antre santri untuk mandi. Jadi cukup menyimpan sikat gigi yang dikaitkan ke pintu kamar mandi itu menjadi alat untuk mengantre.

Ini tidak begitu berlaku bagi santri baru. Biasanya santri baru menggunakan alat untuk mengantre dengan menyimpan gayung di depan pintu kamar mandi yang berjejeran. Menjadi santri lama adalah menjadi santri yang simpel. Jika tidak punya pasta gigi cukup membawa sikat gigi dan meminta odol ke santri lain di sekitaran kamar mandi.

Fungsi lain dari sikat gigi di pesantren adalah sebagai alat untuk menabuh gendang ketika perlombaan folksong antar asrama. Bisa juga itu sikat gigi digunakan untuk mengaduk kopi atau mie instan disebabkan ketidakadaan atau kelangkaan sendok. Penggunaan sikat gigi sebagai alat pengaduk minuman dan makanan itu tetap saja tidak berpengaruh pada kesehatan kami para santri. Bahkan semuanya terasa nikmat.

Lain lagi dengan sandal. Sandal adalah barang yang sangat berharga bagi para santri. Entah berapa banyak saya membeli sandal ketika menjadi santri di Gontor. Sebab sandal ini mudah hilang atau terpakai orang. Untuk menyiasati untuk tidak kehilangan sandal ketika kami beribadah di masjid adalah dengan menggembok sandal kami. Ajaibnya terkadang harga gembok lebih mahal dari harga sandal sendiri.

Ini sangat berbeda ketika saya menjadi pelajar pascasarjana di Ankara Turki. Selama saya kuliah di Turki saya hanya punya satu sandal. Dan sandal itu hanya digunakan selama di dalam asrama atau di apartemen. Selebihnya saya menggunakan sepatu. Pergi kemana saja menggunakan sepatu.

Karena di Turki cuacanya lebih banyak dinginnya tinimbang panas, hanya tiga bulan saya musim panas. Musim semi dan musim gugur bagi saya masih terasa dingin. Menurut teman saya orang Turki, penyakit datang dari bawah kaki yang tidak tertutup. Makanya banyak orang Turki pakai sepatu walau di musim panas.

Di atas semua itu, pulpen, sikat gigi dan sandal adalah salah satu syarat, menurut Imam Syafii, yang harus dipenuhi oleh pelajar. Syarat mendapatkan ilmu itu ada enam, kata Imam Syafii, pertama, dzaka’ (kecerdasan), hirs (kemauan keras), ijtihad (sungguh-sungguh), dirham (harta), suhbah asatid (bimbingan guru) dan tul alzaman (masa yang panjang). Ketiga barang yang disebut di atas itu termasuk dalam harta atau dirham.

sumber photo: abrussiana.wordpress.com

Senin, 06 Januari 2014

Senyum Penumpang Kereta



Di hari terakhir 2013 saya harus berjuang dengan penumpang lain agar bisa masuk ke dalam kereta api dari Jakarta menuju Rangkasbitung. Sore itu stasiun Kebayoran Lama sudah penuh oleh para penumpang. Sebab awal tahun 2014 adalah hari libur, jadi banyak orang yang ingin berlibur di kampungnya.

Seorang perempuan, yang mungkin mahasiswi, dengan gesit masuk pintu gerbong kereta mendahului saya. Ia tak lagi canggung berdempetan dan memaksa orang untuk maju agar para penumpang lain di belakangnya bisa masuk juga. Setelah tidak bisa lagi bergerak, si perempuan itu memanggil temannya. “Ayo masuk lagi, jangan deket pintu,” teriaknya pada dua temannya yang berdiri di mulut pintu.

Dua temannya menjawab, bahwa mereka sudah berusaha dan tidak lagi bisa bergerak lebih ke dalam. Kereta api kemudian bergerak lambat lalu berlari meninggalkan Jakarta. Saya berdiri dikelilingi oleh para penumpang lain. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, mahasiswa, dan anak kecil di sekeliling saya. Tak ada dialog dalam kereta itu. Hanya suara mesin kereta dan gesekan roda dengan rel kereta api yang berirama di telinga.

Kereta yang kami tumpangi ini adalah kereta ekonomi langsam, tujuan Jakarta Rangkasbitung. Kereta ini berhenti di setiap stasiun pemberhentian. Ketika sampai di stasiun Pondok Ranji, ada sedikit penumpang yang turun, tapi yang masuk lebih banyak. Dan terjadilah dialog antar penumpang.

“Bapak masuk dong, saya jauh nih turunnya di Maja,” kata seorang wanita di mulut pintu karena tak kunjung bisa masuk lebih ke dalam. Si bapak yang ditanya itu, dengan senyum, “Saya mah deket, Bu, turunnya cuma di Rangkasbitung,” ujar si bapak.

Saya tersenyum dengan jawaban si bapak, sebab Rangkasbitung adalah stasiun pemberhentian terakhir sementara Maja dua stasiun sebelum Rangkasbitung. Saya melihat sekitar dan penumpang lain pun tersenyum karena ulah percakapan itu.

Ada saja memang ulah di dalam kereta. Para penumpang sadar, mereka semua sama. Sama-sama merasakan susah. Sama-sama mudah emosi. Sama-sama gerah. Tetapi dalam budaya kita, lebih baik menertawakan kesusahan, agar ia tidak lagi terlihat susah. Agar kita dapat menertawakan kesusahan. Ketimbang sudah susah bertambah susah.

Ini berbeda dengan budaya di Turki. Suatu ketika saya naik bus di Ankara yang lumayan padat. Seorang lelaki berusia di atas 60- an, dipersilahkan untuk duduk oleh seorang pemuda. “Wahai kakek duduklah di tempat ini,” pinta pemuda. Bukannya senang, si kakek malah marah dan berkata. “Wahai anak muda, saya ini bukan kakek-kakek, saya ini masih bapak-bapak dan kuat,” ujarnya mendumel.

Tidak hanya sekali saya melihat orang Turki yang mudah tersulut emosi. Pernah juga, usai pulang dari kampus, ada ibu-ibu sedang memarahi penumpang lain. Bahkan sampai saya turun dari bus itu, ia masih juga marah dan berkata-kata kasar. Padahal saat itu saya masih pening dengan ujian di kelas. Entahlah, mengapa mereka seperti itu.

Inilah perbedaan orang Indonesia dan orang luar Indonesia. Jadi ada benarnya, tingkat kebahagiaan orang Indonesia, menurut sebuah riset, termasuk dalam warga yang paling bahagia di dunia. Kita sedih saja dibuat senang, apalagi kalau senang.

Kembali ke soal kereta. Di setiap stasiun pemberhentian para penumpang selalu ramai yang ingin naik keretas. Sementara yang turun dari kereta hanya sedikit. Bahkan hingga stasiun terakhir kereta api ini tetap penuh oleh penumpang. Ini mungkin disebabkan banyaknya penumpang tidak sebanding dengan banyaknya armada kereta yang mengangkut para penumpang.

Sebenarnya gampang saja untuk mengatasi ini. Pemerintah seharusnya menambah armada kereta api dan menambah jadwal kereta api tujuan Jakarta Rangkasbitung dan sebaliknya. Soal dana pemerintah lebih tahu. Tentang budaya penumpang, semisal menjaga kebersihan dan yang lainnya, masyarakat kita sebenarnya mau saja diarahkan jika untuk kebaikan bersama.

Memang dalam beberapa tahun terakhir ini sudah banyak perubahan mengenai perkeretaapian Indonesia. Kereta dua lajur dari Jakarta menuju Maja sudah terlaksana, tinggal dua stasiun lagi hingga Rangkasbitung. Namun, perubahan ini belum begitu terasa oleh kita yang sering menggunakan kereta dalam perjalanan.

Langit sudah gelap ketika kereta akan tiba di stasiun Rangkasbitung. Dan saya masih berdiri di dalam kereta dari Jakarta dua jam lebih. Penumpang kereta api masih banyak dan posisi saya tidak bergerak yaitu berdiri di sambungan dua gerbong dekat pintu kereta.

Seorang wanita di hadapan saya mengatakan, “Kalau setiap sore kereta api penuh kayak gini, gimana rasanya yah. Untung saya tidak pulang ke Rangkas setiap sore.” Saya mengomentarinya dengan becanda, “Kereta penuh ini karena ada mbak, coba kalau mbak gak naik kereta, pasti sepi, hehe.” Kemudian kami pun terseyum.

Jumat, 03 Januari 2014

Cerita dari Carita



Hari kedua di tahun 2014 ini saya bangun agak telat. Ini karena tidurnya pun sangat telat. Padahal hari sebelumnya sudah berjanji akan bersilaturahim ke rumah bibi alias uwa yang akan kedatangan anak-anak dan cucu-cucunya. Bangun pukul 10 saya ingatkan saudara kembar saya untuk menghubungi saudara sepupu kami. Rupanya mereka, sekeluarga besar, sudah jalan ke pantai Carita di Labuan, Banten.

Saya bergegas sarapan dan mandi. Begitupun Dadan, saudara kembar saya. Pukul 11.30 kami meluncur dengan sepeda motor menuju Pantai Carita. Kami mengecek di Google Maps jarak dan waktu tempuh antara rumah kami di Rangkasbitung dan Pantai Carita di Labuan, yang memakan waktu dua setengah jam sampai tiga jam.

Ternyata Google bisa salah juga. Kami tiba di Carita pukul 13.00. Satu setengah jam perjalanan dengan kecepatan tidak lebih dari 80 KM/jam. Aa Nana, saudara sepupu kami sudah menunggu di gerbang Pantai Carita Pasir Putih. Setelah memarkirkan motor, kami langsung ke pantai. Semua sudah berkumpul di sana.

Keponakan saya sudah banyak rupanya. Hahaha. Dan yang saya sadari bahwa, mereka, keponakan saya itu, cepat sekali pertumbuhannya. Dulu selulus dari Gontor tahun 2002 saya berkunjung ke Malang, kediaman kakak sepupu kami, Teh Lilis. Saat itu Igo, anak pertama Teh Lilis, masih kecil. Saat ini ia sudah kelas 3 SMK di Malang. Dan terlihat sangat dewasa dan sayang kepada kedua adiknya.

Kunjungan Teh Lilis ke Banten adalah untuk bersilaturahim, berkumpul bersama ibu, kakak, adik dan keponakan-keponakannya. Tentu juga untuk menghibur keponakannya setelah ayah mereka meninggal dunia pada lebaran lalu. Saat kabar duka cita itu saya masih berada di Ankara. Ikut sedih, kakak sepupu kami meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri, tiga orang putra putrid an dua cucu.

Tapi saya tidak melihat kesedihan mereka saat di Carita. Teh Neneng, kakak sepupu kami, yang ditinggalkan suami yang meninggal beberapa bulan lalu begitu tegar dan tabah. Mungkin ia belajar dari ibunya yang juga penyabar dan penyayang anak-anak dan keponakan-keponakannya, termasuk saya. Ibunya Teh Neneng juga ditinggalkan suaminya ketika anak ketiganya lahir di dunia di tahun 70-an awal.

Cerita dari Carita ini membuat saya sangat sadar bahwa keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah sumber kebahagiaan. Keluarga adalah penghangat hati di saat kelu. Keluarga semacam obat bagi penyakit apapun. Keluarga adalah kunci kesuksesan. Keluarga adalah ribuan tangan yang menarik untuk tetap berdiri di saat kaki dan nasib sedang tidak bersahabat.

Teh Lilis datang dari Malang bersama ketiga anaknya, sementara suaminya tidak ikut. Ia datang hanya beberapa hari saja. Sampai liburan sekolah usai. Esok minggu ia akan kembali ke Malang, padahal Rabu kemarin baru saja tiba di Tangerang lalu ke Rangkasbitung dan jalan-jalan ke Carita. Waktu yang singkat itu digunakan untuk pelipur lara dan penguat hati. Sebab, terkadang, bukan berapa lama kita berkumpul, tapi sedekat apa perkumpulan itu walau dalam waktu yang singkat.

Kamis, 12 Desember 2013

Perahu Kehidupan

sumber photo: klik disini



Aku ingin bercerita tentang perahu. Perahu yang membawa seseorang menuju pulau impiannya. Sebuah pulau dimana ia mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dulu seingatku aku pernah menulis tentang perahu pada akun twitterku: Sebab pada waktunya perahu mesti berlayar. Tak perlu risau dengan yang ada. Dan akulah nakhodanya.

Tapi ini bukan tentangku. Ini tentang sebuah perahu. Pengibaratan perahu memang banyak yang menggunakannya. Lihatlah judul novel Perahu Kertas, dan lihat pula cover novel Rantau 1 Muara.

Ini juga bukan tentang novel-novel itu. Perahu penting digunakan untuk menyeberangi antar pulau. Terlebih di sebuah negara yang terdiri atas puluhan ribu pulau.

Bahkan aku masih ingat bahwa 70 persen bumi ini adalau lautan dan hanya 30 persen daratan. Pun begitu Indonesia. Lebih banyak lautan tinimbang daratan.

Jika sudah waktunya seseorang akan mencari penumpang yang akan bersama-sama mengayuh perahu itu menuju tujuan yang sama. Seseorang yang bukan hanya seorang penumpang.

Seseorang yang akan menghiasi kehidupan perahu. Menemani perjalanan perahu yang penuh petualangan. Sebab di tengah samudera tidak setenang di atas sungai yang dangkal.

Bahkan seseorang itu akan menggantikan untuk sementara nakhoda jika suatu saat sakit atau kepingin istirahat. Atau kedua penghuni perahu itu secara berkala bergantian dalam kemudikan perahu.

Jika ada penumpang baru hasil dari ikhtiar kedua pasangan, mungkin saja setelah dewasa bisa mengemudikan itu perahu.

Mungkin pertanyaannya adalah bagaimana mendapatkan seorang penumpang yang ingin diajak untuk berjalan bersama-sama mengarungi samudera dengan perahu keluarga.

Tidak gampang. Juga tidak susah. Hanya butuh keberanian untuk menyeleksi dan menentukan pilihan. Juga butuh bumbu kesabaran, jika masih belum mendapatkannya.

Jalan yang paling mudah untuk mendapatkan itu adalah mendekati sang pencipta perahu, samudera dan manusia. Meminta padanya, pasti akan diberinya.

Karena hanya Ia yang bisa menenangkan kedalaman hati dan gejolak jiwa. Hanya Dia juga yang mampu menaklukan hati semua manusia. Hati seorang wanita.

Ohya aku pun ingat tentang film Lif of Pi. Tokoh utama dalam film itu adalah penakluk samudera lautan. Ia bertahan melawan harimau. Ia bertahan menaklukkan badai.

Hakikatnya si tokoh itu telah menaklukkan dirinya sendiri. Egonya sendiri. Bahwa harimau yang ada adalah ego jahat yang ada dalam dirinya. Jika ia mampu bertahan, ia akan selamat.

Atau kisah nyata tentang seorang utusan Tuhan yang selamat atau diselamatkan oleh seekor ikan paus. Dimana ia dilemparkan dari perahu, karena perahu akan oleng jika kelebihan satu orang.

Dan utusan Tuhan itu akhirnya dilemparkan dan dimakan ikan. Disana ia berdoa kepada Tuhannya, dan melakukan penyesalan dan bertaubat. Maka selamatlah ia.

Begitulah gambaran samudera, penuh dengan dunia hitam. Jika malam tiba sangat pekat gelap. Di daratan mungkin masih menjumpai lampu dengan listrik atau minyak tanah. Di lautan mana ada.

Kecuali jika bulan purnama tiba. Atau bintang-bintang bercahaya tanpa awan yang menutupinya. Maka laut seakan terang dengan sinar-sinarnya.

Perahu adalah alat untuk menuju sebuah tujuan. Sebuah keluarga juga sebagai alat menuju kebahagiaan.

Lihatlah para pemudik yang pulang kampung sebelum lebaran tiba. Puncak rindu itu dapat menghapus kelelahan di jalan selama berjam-jam. Kelelahan setibanya di kampung seakan menguap.

Orang yang mudik lupa akan letihnya perjalanan. Tidak ingat akan banyaknya biaya yang dikeluarkan. Bahkan dengan sengaja berbagi kesenangan hidup dengan memberi angpau.

Pemudik paham bahwa berbagi kebahagiaan adalah sumber kebahagiaan yang paling utama. Begitulah cinta bermuara. Dengan tujuan bahagia bersama.

Kebahagiaan akan terasa janggal jika hanya dirasakan tunggal. Bahkan kesedihan terasa ringan jika dibagikan. Sebab ia tidak merasa kesepian.

Bagi pemula, cukuplah perahu yang terbuat dari kayu. Sebab perjalanan masih di pinggir lautan. Kelak jika sudah mapan mungkin bisa membeli perahu layar, atau perahu yang tangguh.

Tangguh menerjang badai. Menerjang ombak setinggi puluhan meter. Menerjang cuaca yang tak jelas. Mampu tetap berdiri dengan kokoh meski selalu tergoyang ombak.

Jika engkau merasa sudah waktunya. Carilah dengan serius. Sertakan Tuhan di dalamnya. Jika kau sudah yakin akannya. Jangan ragu dan jangan takut.

Melajulah dengan perahu yang kau idamkan. Bacalah dengan nama Tuhanmu agar Ia selalu menjadi Penunjuk jalan kehidupan yang sering tidak terduga.



Ankara, 13 Agustus 2013