Malam itu hujan turun pelan. Aku duduk di teras rumah sambil memandangi kartu keluarga yang baru saja selesai kuurus. Entah mengapa, mataku berhenti pada satu baris nama istriku.
Alya Rahma Nabila.
Aku tersenyum tipis.
Bukan karena nama itu baru. Kami sudah menikah hampir lima tahun. Namun malam itu aku baru menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatian.
Di tengah nama istriku, ada namamu.
Rahma.
Nama yang pernah mengisi sebagian besar masa mudaku.
Aku masih ingat bagaimana dulu kita sering bercanda soal nama.
"Kalau suatu hari kamu menikah, jangan cari yang namanya Rahma juga ya," katamu sambil tertawa.
Aku ikut tertawa waktu itu. Siapa sangka, takdir justru menuliskannya dengan cara yang unik.
Aku tidak menikah denganmu.
Aku menikah dengan perempuan lain.
Tetapi namamu tetap tinggal, terselip di antara nama perempuan yang kini menjadi pendamping hidupku.
Aku menatap istriku yang sedang menidurkan putri kecil kami di ruang tengah. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja dan mengurus rumah.
Lalu aku sadar, perasaan yang hadir saat melihat namamu bukan lagi cinta yang dulu.
Bukan penyesalan.
Bukan keinginan untuk kembali.
Melainkan rasa syukur.
Karena setiap manusia memang memiliki tempatnya masing-masing dalam perjalanan hidup seseorang.
Kau adalah bagian dari masa lalu yang mengajariku tentang kehilangan.
Sedangkan Alya adalah bagian dari masa kini yang mengajariku tentang bertahan.
Dulu aku pernah mengira cinta harus berakhir di pelaminan.
Ternyata tidak.
Ada cinta yang tugasnya hanya menemani kita tumbuh.
Ada cinta yang tugasnya mengajarkan kita melepaskan.
Dan ada cinta yang akhirnya tinggal sebagai kenangan baik.
Aku kembali melihat nama istriku.
Alya Rahma Nabila.
Ada namamu di sana.
Tepat di tengah.
Seolah Tuhan ingin mengingatkanku bahwa masa lalu tidak harus dihapus untuk bisa bahagia.
Ia cukup dikenang dengan baik, lalu disimpan di tempat yang semestinya.
Di hati yang sudah berdamai.
Aku melipat kartu keluarga itu, masuk ke rumah, lalu memeluk istriku dari belakang.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya.
Aku menggeleng.
"Tidak apa-apa."
Karena ada beberapa cerita yang tidak perlu diceritakan lagi.
Cukup disyukuri.
Bahwa seseorang pernah hadir, lalu pergi.
Bahwa tak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki.
Dan bahwa kehidupan kadang meninggalkan jejak-jejak kecil yang tak pernah kita duga sebelumnya.
Seperti namamu yang kini tinggal sebagai kenangan, namun tetap tertulis rapi di tengah nama perempuan yang setiap hari kupanggil istriku.
Aku tersenyum sekali lagi.
Memandang langit yang mulai menampakkan bintang dan bulannya setelah hujan.
Memang, alam semesta sebercanda itu.




0 komentar:
Posting Komentar