Suatu siang setelah perkuliahan selesai, suasana kelas belum benar-benar sepi. Beberapa mahasiswa masih sibuk membereskan laptop, ada yang bercanda di sudut ruangan, dan sebagian lain masih mengerumuni meja dosen untuk sekadar bertanya hal-hal ringan di luar materi kuliah. Hari itu suasananya terasa santai, jauh dari ketegangan tugas dan presentasi.
Di tengah obrolan kecil itu, seorang mahasiswi tiba-tiba mendekat sambil membawa rasa penasaran. Dengan nada santai ia bertanya, “Pak, tahu lagu-lagunya Kerispatih nggak?”
Saya yang sedang merapikan buku langsung menoleh dan tersenyum. “Wah, tahu dong,” jawab saya cepat. “Itu band yang lagi booming waktu saya kuliah S1 dulu.”
Mendengar jawaban itu, mahasiswi tersebut tampak antusias. “Serius, Pak?” katanya sambil tertawa kecil. “Itu lagu kesukaan ibu saya.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, polos tanpa beban. Namun beberapa mahasiswa yang mendengar langsung saling pandang dan mulai menahan tawa. Saya sendiri sempat terdiam beberapa detik, mencoba mencerna fakta sederhana yang baru saja saya dengar. Dalam kepala saya tiba-tiba muncul perasaan aneh: waktu rupanya berjalan sangat cepat. Lagu-lagu yang dulu menemani masa muda saya, yang diputar di warnet, di radio kos-kosan, di acara kampus, bahkan menjadi soundtrack perjalanan naik bus antarkota, kini justru dikenal sebagai lagu favorit generasi orang tua mahasiswa saya.
Saya lalu menghela napas panjang sambil tersenyum dramatis. “Wah ternyata…” kata saya pelan, sengaja menggantung kalimat. Seluruh kelas mulai fokus mendengar respons saya.
“Tapi jangan langsung disamakan usia saya dengan ibumu juga dong…” lanjut saya sambil tertawa.
Seketika kelas pecah oleh gelak tawa. Ada yang menepuk meja, ada yang langsung nyeletuk, “Kena, Pak!” Mahasiswi itu pun tertawa malu sambil menutup wajahnya dengan buku catatan. “Aduh, bukan gitu maksud saya, Pak…” katanya terbata-bata.
Saya ikut tertawa. “Iya iya, saya paham. hehe, tenang saja."
Suasana kelas mendadak menjadi sangat cair. Obrolan tentang lagu kemudian melebar ke banyak hal. Mahasiswa lain mulai menyebut nama-nama band lama yang dulu populer: lagu galau era warnet, ringtone zaman HP lipat, sampai masa ketika orang rela membeli CD atau menunggu lagu favorit diputar di radio. Mereka mendengarkan dengan wajah penasaran, seperti sedang mendengar cerita dari sebuah zaman yang jauh, padahal sebenarnya belum terlalu lama berlalu.
Saya jadi bercerita bagaimana dulu lagu-lagu Kerispatih sering terdengar hampir di mana-mana. Diputar di kantin kampus, di angkot, di acara pensi sekolah, bahkan menjadi lagu wajib anak-anak muda yang sedang patah hati. Saat itu, musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga teman perjalanan hidup. Ada kenangan tentang tugas kuliah yang menumpuk, hujan sore sepulang kampus, hingga kisah cinta mahasiswa yang sering kali lebih dramatis daripada skripsinya sendiri.
Mahasiswa-mahasiswa itu mendengarkan sambil tertawa-tawa. Bagi mereka, cerita itu terdengar seperti nostalgia dari “zaman purba modern”. Sedangkan bagi saya, semua kenangan itu rasanya masih dekat, seolah baru terjadi beberapa tahun lalu.
Di situlah saya sadar, ruang kelas bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga tempat bertemunya berbagai generasi dengan pengalaman hidup yang berbeda. Kadang jarak usia memang terasa saat referensi mulai berubah: dosen mengenang lagu masa mudanya, sementara mahasiswa mengenalnya dari playlist ibu mereka. Namun justru dari momen-momen kecil seperti itulah tercipta kehangatan dan kedekatan yang tidak dibuat-buat.
Dan hari itu, sebuah pertanyaan sederhana tentang lagu lama berhasil mengubah suasana kelas menjadi penuh tawa. Saya pulang sambil tersenyum sendiri, sambil berpikir: ternyata yang membuat seseorang merasa “menua” bukan angka umur, melainkan ketika lagu favorit masa kuliahnya mulai disebut sebagai lagu favorit para ibu.









