Sore itu Jakarta sedang tidak ramah. Hujan baru saja berhenti, tetapi jalanan masih menyisakan genangan dan kemacetan yang seolah menjadi irama abadi ibu kota. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, sebagian masuk ke mal, sebagian lagi memenuhi kedai-kedai kopi yang tersebar di sudut kota.
Di sebuah kafe kecil di kawasan Jakarta Selatan, aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan suara dentingan cangkir dan alunan musik jazz yang mengalun pelan. Hampir semua meja terisi. Beberapa orang sibuk dengan obrolan, beberapa lainnya tenggelam dalam layar laptop.
Raka berdiri di depan pintu kafe sambil menghela napas panjang.
“Wah, penuh semua,” gumamnya.
Hari itu sebenarnya bukan hari yang istimewa. Ia hanya ingin mencari tempat untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Sejak pagi, ia berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain karena jadwal pertemuan yang padat. Kepalanya terasa penuh dan ia membutuhkan secangkir kopi serta suasana tenang.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
Tidak ada satu pun kursi kosong.
Hampir saja ia menyerah dan berbalik keluar, sampai pandangannya tertuju pada sebuah meja di pojok ruangan. Di sana, seorang perempuan berhijab krem sedang duduk sendirian. Di hadapannya terdapat secangkir cappuccino yang tinggal setengah dan sebuah laptop yang penuh dengan catatan.
Di meja itu masih ada satu kursi kosong.
Raka ragu sejenak.
Di Jakarta, kota yang dipenuhi jutaan manusia tetapi sering membuat orang merasa sendiri, memulai percakapan dengan orang asing bukanlah perkara mudah.
Namun, kebutuhan akan tempat duduk mengalahkan keraguannya.
Ia berjalan perlahan menuju meja itu.
“Maaf, Mbak…”
Perempuan itu mengangkat wajah dari layarnya.
“Iya?”
Raka tersenyum canggung.
“Boleh sharing meja, Mbak? Soalnya di sini penuh semua.”
Perempuan itu menatap sekeliling sebentar, lalu tersenyum.
“Oh, tentu. Silakan.”
“Terima kasih.”
Raka meletakkan tasnya dan duduk dengan hati-hati, berusaha tidak mengganggu.
“Maaf ya kalau saya mengganggu pekerjaan Mbak.”
“Enggak kok. Saya juga sudah hampir selesai.”
Percakapan berhenti sampai di situ. Masing-masing kembali pada dunianya.
Raka membuka laptopnya. Perempuan itu mengetik sesuatu dengan serius. Sesekali ia menyeruput kopinya sambil memperbaiki posisi kacamatanya.
Lima belas menit berlalu.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit.
Anehnya, meski tidak saling berbicara, keduanya merasakan suasana yang tidak canggung. Seolah keberadaan orang asing di depan mereka justru menghadirkan rasa nyaman.
Hingga tiba-tiba, sebuah insiden kecil terjadi.
Tangan Raka tanpa sengaja menyenggol gelas airnya.
“Duh!”
Air itu tumpah sedikit ke arah meja.
“Maaf, maaf,” katanya panik sambil segera mengambil tisu.
Perempuan itu tertawa kecil.
“Tenang, Mas. Untung bukan kopinya.”
Raka ikut tertawa.
“Iya, kalau kopinya yang tumpah mungkin saya harus ganti satu cangkir.”
“Bukan cuma satu cangkir, mungkin satu meja juga,” jawab perempuan itu bercanda.
Untuk pertama kalinya mereka tertawa bersama.
“Ngomong-ngomong, saya Raka.”
“Saya Alya.”
“Senang kenal dengan Mbak Alya.”
“Panggil Alya saja. Jangan pakai Mbak, kita kelihatannya seumuran.”
“Baiklah. Kalau begitu, saya juga bukan Mas Raka.”
“Jadi?”
“Raka saja.”
“Baik, Raka.”
Mereka kembali tertawa.
Percakapan kecil itu menjadi awal yang tidak terduga.
Awalnya hanya tentang kopi.
“Alya sering ke sini?”
“Lumayan sering. Tempatnya nyaman buat kerja.”
“Berarti kita punya selera yang sama.”
“Belum tentu. Bisa saja kamu cuma kehabisan tempat.”
Raka mengangguk sambil tertawa.
“Kalau yang itu benar juga.”
Lalu obrolan berlanjut tentang pekerjaan, buku yang sedang mereka baca, musik favorit, makanan yang mereka sukai, sampai cerita masa kecil.
Tanpa terasa, jam menunjukkan pukul sembilan malam.
“Wah, sudah malam,” kata Alya sambil melihat jam tangannya.
“Iya juga.”
Raka sebenarnya ingin percakapan itu belum berakhir.
Namun, ia juga tidak ingin terlihat terburu-buru.
Dengan hati-hati ia bertanya.
“Kalau suatu hari saya datang lagi ke sini dan kebetulan bertemu Alya, boleh sharing meja lagi?”
Alya tersenyum.
“Kalau kebetulan, boleh.”
“Kalau tidak kebetulan?”
Alya terdiam sebentar, lalu tersenyum lebih lebar.
“Berarti kamu harus menghubungi saya dulu.”
Malam itu, sebelum mereka berpisah, bertukarlah nomor telepon.
Hari-hari setelahnya, kafe itu tidak lagi menjadi tempat yang kebetulan.
Raka mulai mengetahui bahwa Alya menyukai kopi tanpa gula dan selalu membawa buku ke mana pun ia pergi. Ia tahu bahwa perempuan itu sangat menyukai hujan, meskipun sering mengeluhkan macetnya Jakarta setelah hujan.
Sementara Alya tahu bahwa Raka selalu memesan kopi yang sama, selalu datang lima menit lebih awal dari waktu janji, dan memiliki kebiasaan menuliskan ide-idenya di kertas kecil daripada di ponsel.
Mereka mulai bertemu bukan karena kursi kosong, tetapi karena ada ruang kosong yang ingin diisi dalam kehidupan masing-masing.
Hari berganti minggu.
Minggu berubah menjadi bulan.
Mereka bertemu hampir setiap hari—kadang di kafe yang sama, kadang berjalan menyusuri taman kota, kadang hanya makan malam sederhana sambil bercerita tentang hari yang melelahkan.
Tidak semua pertemuan berisi hal besar.
Ada hari-hari ketika mereka hanya duduk diam sambil bekerja masing-masing.
Anehnya, justru dalam keheningan itu mereka menemukan kenyamanan.
Sebab cinta tidak selalu lahir dari percakapan panjang.
Kadang cinta tumbuh dari seseorang yang tidak merasa terganggu oleh diam kita.
Setahun kemudian, di meja yang sama tempat mereka pertama kali bertemu, Raka datang lebih awal.
Ia memesan dua cangkir kopi.
Satu cappuccino untuk Alya.
Satu americano untuk dirinya.
Ketika Alya datang, ia langsung menyadari sesuatu yang berbeda.
“Kamu kelihatan tegang.”
“Kelihatan ya?”
“Banget.”
Raka tersenyum gugup.
“Alya…”
“Hmm?”
“Masih ingat hari pertama kita bertemu?”
“Yang kamu kehabisan tempat duduk dan meminta izin sharing meja?”
“Iya. Hari itu saya cuma mencari kursi kosong.”
Ia menarik napas pelan.
“Tapi ternyata, saya menemukan seseorang yang membuat hidup saya tidak pernah terasa kosong lagi.”
Mata Alya mulai berkaca-kaca.
Raka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
“Alya, bolehkah kita terus berbagi meja, berbagi cerita, berbagi tawa, dan berbagi kehidupan… bukan hanya di kafe ini, tetapi sampai kita menua?”
Alya tersenyum di antara air matanya.
“Jadi sekarang bukan sharing meja lagi?”
Raka menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Sharing hidup.”
Beberapa detik yang terasa sangat lama berlalu.
Kemudian Alya mengangguk.
“Iya, Raka.”
Tidak ada tepuk tangan meriah.
Tidak ada musik yang tiba-tiba mengeras seperti di film-film.
Hanya dua cangkir kopi yang mulai mendingin, dua manusia yang saling tersenyum, dan sebuah meja kecil di sudut kafe yang menjadi saksi bahwa sebuah pertemuan paling sederhana dapat mengubah seluruh arah hidup seseorang.








