“Kalau belum tahu cerita lengkapnya, jangan gampang menghakimi.”
Komentar itu muncul di bawah sebuah video yang sedang ramai dibahas.
Tak lama, balasan datang.
“Masalahnya sekarang semua orang merasa paling tahu.”
Dibalas lagi.
“Setidaknya lebih baik daripada ikut-ikutan tanpa berpikir.”
Balasan berikutnya muncul hanya dalam hitungan menit.
“Oh, jadi sekarang yang beda pendapat dianggap nggak mikir?”
Thread mulai ramai.
Orang-orang lain ikut membaca.
Sebagian menunggu.
Sebagian memancing.
Sebagian menikmati.
Komentar baru muncul.
“Bukan begitu. Saya cuma bilang jangan terlalu cepat menyimpulkan.”
“Dan saya cuma bilang dunia nyata nggak sesederhana teori.”
“Minimal pakai empati.”
“Minimal pakai logika.”
Singkat.
Tajam.
Saling serang, tapi tetap rapi.
Tidak ada makian.
Tidak ada kata kasar.
Hanya dua orang asing yang sama-sama keras kepala.
Di balik layar, Raina menatap ponselnya sambil mendecak pelan.
“Nyebelin banget ini orang.”
Sudah hampir lima belas menit ia terlibat debat kecil dengan seseorang di kolom komentar.
Aneh sebenarnya.
Biasanya ia tidak pernah meladeni.
Tapi entah kenapa, kali ini berbeda.
Lawan debatnya cerdas.
Argumennya tajam.
Dan yang paling mengganggu—masuk akal.
Komentar baru muncul.
“Saya paham maksud Anda.”
Raina mengernyit.
Lanjutannya muncul beberapa detik kemudian.
“Tapi Anda terlalu banyak pakai hati.”
Raina langsung mengetik cepat.
“Dan Anda terlalu banyak pakai kepala.”
Balasan datang.
“Mungkin.”
“Tapi dunia butuh keseimbangan.”
Raina berhenti mengetik.
Untuk pertama kalinya sejak perdebatan itu dimulai, ia tidak langsung membalas.
Aneh.
Kalimat itu sederhana.
Tapi terasa tulus.
Lalu notifikasi masuk lagi.
“Maaf kalau terdengar menyebalkan.”
Raina menatap layar.
Ia tidak sadar sedang tersenyum tipis.
Jempolnya mulai bergerak.
“Memang menyebalkan.”
Balasan datang cepat.
“Tapi Anda tetap membalas.”
Raina tertawa kecil.
Touché.
Percakapan yang awalnya panas berubah pelan-pelan.
Dari debat publik menjadi pesan pribadi.
Dari adu argumen menjadi obrolan panjang.
Tentang buku.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang hidup.
Raina tahu namanya kemudian.
Faris.
Lelaki yang terlalu logis, terlalu tenang, dan entah bagaimana selalu bisa membuatnya kehabisan bantahan.
Sebaliknya, Faris selalu bilang Raina terlalu emosional.
“Tapi justru itu yang bikin kamu hidup,” katanya suatu malam.
Malam itu mereka sedang telepon untuk pertama kalinya.
Raina terdiam.
“Aku mau tanya sesuatu,” kata Faris.
“Apa?”
“Kalau waktu itu kita nggak debat di kolom komentar…”
“Iya?”
“Kira-kira kita bakal ketemu nggak?”
Raina tersenyum kecil.
“Nggak tahu.”
Faris tertawa pelan.
“Aku rasa nggak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu tipe orang yang nggak gampang buka pintu buat orang baru.”
Raina terdiam.
Benar.
Faris mengenalnya dengan baik.
“Aku juga bukan orang yang gampang mendekat,” lanjut Faris.
“Jadi lucu juga ya.”
“Lucu gimana?”
“Kita ketemu karena sama-sama keras kepala.”
Raina tertawa.
Ia berjalan ke jendela, memandang langit malam.
“Aku masih nggak habis pikir.”
“Kenapa?”
“Dari sekian banyak cara Tuhan mempertemukan dua orang…”
Raina tersenyum.
“…kenapa harus lewat debat receh di kolom komentar?”
Faris ikut tertawa.
“Mungkin karena kalau lewat cara biasa, kita berdua bakal sama-sama cuek.”
Raina mengangguk pelan.
Mungkin benar.
Kadang jodoh tidak datang lewat pertemuan indah.
Tidak juga lewat kesan pertama yang manis.
Kadang justru lewat perdebatan kecil.
Lewat argumen.
Lewat benturan pikiran.
Sampai akhirnya dua orang sadar…
Di balik semua bantahan itu, ada rasa nyaman yang pelan-pelan tumbuh.
Faris memanggil namanya pelan.
“Raina?”
“Hm?”
“Aku suka kamu.”
Jantung Raina berdegup kencang.
Ia menahan senyum.
“Bahkan saat kamu nyebelin?”
Suara Faris terdengar hangat.
“Terutama saat itu.”
Raina tertawa kecil.
Siapa sangka.
Sebuah perdebatan kecil.
Sebuah kolom komentar.
Dan dua hati yang akhirnya saling menemukan.





0 komentar:
Posting Komentar