Sabtu, 13 Desember 2025

Ternyata Aku Masih Bisa Buka Akun Medsosmu (Cerpen)

 Aku tak pernah berniat kembali ke sesuatu yang sudah kutinggalkan. Hidup, bagaimanapun, selalu mengajarkanku untuk berjalan ke depan, meski sesekali menoleh tanpa benar-benar ingin berhenti. Tapi malam itu berbeda. Hujan jatuh pelan di luar jendela, dan ingatan datang tanpa diundang—tentang caramu dulu tertawa kecil saat lupa kata sandi, tentang bagaimana kau selalu memilih hal paling sederhana untuk sesuatu yang paling penting.

Entah dorongan apa yang membuatku membuka ponsel, lalu mengetik nama akunmu di kolom pencarian. Foto profilmu masih sama: wajahmu setengah menghadap cahaya, senyum yang tak pernah sepenuhnya selesai. Aku ragu sejenak di halaman masuk. Rasanya seperti berdiri di depan rumah lama yang pintunya tak pernah benar-benar kukunci dari dalam ingatan.

Email. Lalu kolom password.

Tanganku gemetar saat menuliskan namaku sendiri. Bukan karena yakin akan berhasil, tapi karena takut jika ternyata gagal. Jika gagal, berarti benar-benar selesai. Jika berhasil, berarti ada sesuatu yang tertinggal—dan aku tak tahu apakah aku siap menemukannya.

Masuk.

Tak ada notifikasi khusus. Tak ada peringatan. Dunia digitalmu terbuka begitu saja, tenang, seperti sedang menungguku pulang. Aku menarik napas panjang. Ternyata aku masih bisa membuka akun medsosmu karena password-nya adalah namaku. Dan yang paling mengganggu pikiranku: entah mengapa tidak juga kau ganti.

Aku menelusuri berandamu perlahan. Postingan-postingan baru tetap ada, tapi jarak terasa jelas. Tak satu pun menyebutku. Tak satu pun menandai kehadiranku. Namun di sela-sela foto liburan dan kutipan pendek tentang hidup, ada kesunyian yang kukenal—sunyi yang dulu sering kita bagi berdua. Aku tersenyum getir. Kau pandai menyembunyikan rindu di balik kalimat netral.

Aku tak membuka pesan masuk. Aku tahu batasan. Ada hal-hal yang tak perlu diketahui untuk tetap dikenang dengan baik. Tapi mataku berhenti pada pengaturan keamanan. Di sana, di balik opsi-opsi rumit dan angka-angka asing, satu hal tetap sederhana: kata sandi itu belum berubah. Namaku masih kau percayakan untuk menjaga pintu hidupmu.

Aku bertanya dalam hati: apakah kau lupa? Atau justru sengaja membiarkannya? Barangkali mengganti password terasa seperti pengakuan bahwa kita benar-benar usai. Barangkali kau memilih membiarkan namaku tetap di sana, sebagai sisa paling kecil dari kebiasaan lama—kebiasaan yang terlalu melelahkan untuk dihapus.

Ingatan datang bertubi-tubi. Tentang caramu dulu berkata, “Kalau aku lupa segalanya, setidaknya aku tak akan lupa namamu.” Tentang malam-malam panjang saat kita berbagi layar, berbagi cerita, berbagi hidup yang belum sempat kita jalani sepenuhnya. Kini semua itu mengendap, tak lagi bergerak, tapi juga tak pernah benar-benar hilang.

Aku sadar sesuatu: kepercayaan adalah hal yang paling lambat pergi. Bahkan ketika cinta sudah memilih jalan lain, kepercayaan kadang masih tinggal, seperti perabot lama yang dibiarkan karena terasa sayang untuk dibuang.

Aku tak mengubah apa pun. Tak menghapus apa pun. Aku hanya memastikan satu hal: namaku masih di sana, utuh, tanpa tambahan angka, tanpa simbol pengaman. Sederhana. Rapuh. Jujur.

Sebelum keluar, aku berhenti sejenak. Jariku menggantung di atas layar, tergoda untuk mengganti password itu dengan sesuatu yang baru—sesuatu yang lebih aman, lebih dewasa, lebih masuk akal. Tapi aku mengurungkan niat. Itu bukan tugasku lagi.

Aku keluar dari akunmu perlahan, seolah menutup pintu tanpa suara. Hujan di luar masih turun, tapi hatiku terasa lebih tenang. Aku tak kembali untuk merebut apa pun. Aku hanya ingin tahu apakah aku pernah benar-


benar berarti.

Dan jawabannya ada di sana, di balik sistem keamanan dan algoritma yang dingin: pernah ada aku yang kau jadikan kata rahasia. Dan hingga kini, entah karena lupa atau sengaja, kau tak pernah merasa perlu menggantinya.

0 komentar:

Posting Komentar