Sabtu, 08 Agustus 2026

Begini rasanya menjadi khatib di Masjid DPP Partai Demokrat dan Ketum AHY


Langkah kaki saya terasa berbeda ketika memasuki masjid di lingkungan Kantor DPP Partai Demokrat. Di hadapan saya hadir para pengurus, kader, dan tokoh partai. Di antara jamaah yang hadir, tampak pula Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang mengikuti rangkaian ibadah dengan khusyuk. Kehadiran beliau dan para pimpinan partai menambah kesadaran saya bahwa tugas yang akan saya emban bukan sekadar menjadi imam dan khatib, melainkan menyampaikan pesan-pesan keislaman yang relevan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Ketika berdiri di mimbar, saya merasakan perpaduan antara rasa syukur, haru, dan tanggung jawab. Syukur karena Allah memberikan kesempatan untuk menyampaikan dakwah di tempat yang menjadi pusat aktivitas politik nasional. Haru karena masjid menjadi ruang yang menyatukan berbagai latar belakang dalam satu saf yang sama. Dan tanggung jawab karena setiap kalimat yang keluar dari mimbar harus mampu menghadirkan kesejukan, bukan perpecahan.

Tema yang saya angkat adalah “Kepemimpinan Amanah dan Komunikasi yang Menyejukkan.” Saya meyakini bahwa bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas dan kuat, tetapi juga pemimpin yang amanah, yang memandang jabatan sebagai titipan Allah dan sarana pengabdian kepada masyarakat.

Dalam khutbah tersebut saya mengingatkan bahwa Rasulullah SAW memberikan teladan kepemimpinan yang berlandaskan kejujuran, integritas, dan kasih sayang. Kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang tanggung jawab. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik di hadapan rakyat maupun di hadapan Allah SWT.

Saya juga menyoroti pentingnya komunikasi yang menyejukkan dalam kehidupan politik. Di era digital yang penuh polarisasi, masyarakat sering disuguhi narasi yang keras, saling menyerang, dan memperuncing perbedaan. Padahal, Islam mengajarkan qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), dan qaulan layyina (perkataan yang lembut). Komunikasi yang baik bukan berarti menghilangkan kritik, tetapi menyampaikan kritik dengan adab, argumentasi, dan niat memperbaiki. Berbagai kajian juga menunjukkan bahwa ruang komunikasi politik yang terpolarisasi dapat memperkuat “echo chamber” dan memperlebar jarak antarkelompok. �

arXiv + 1

Saat memandang jamaah yang duduk khusyuk mendengarkan khutbah, saya teringat bahwa politik sejatinya adalah ikhtiar menghadirkan kemaslahatan. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan, tetapi persatuan bangsa adalah keharusan. Karena itu, pemimpin dan komunikator politik harus menjadi penyejuk, bukan penyulut konflik.

Usai khutbah dan salat berjamaah, saya merasakan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saya menyadari bahwa mimbar masjid memiliki kekuatan moral yang luar biasa. Dari tempat itulah nilai-nilai kejujuran, persaudaraan, dan pengabdian dapat terus ditanamkan kepada siapa pun, termasuk para pemimpin dan kader politik.

Pengalaman menjadi imam dan khatib di Masjid DPP Partai Demokrat tersebut memberikan pelajaran berharga bagi saya: bahwa di tengah hiruk-pikuk politik, selalu ada ruang untuk menghadirkan nilai-nilai spiritual; bahwa di tengah kompetisi, selalu ada kebutuhan akan persaudaraan; dan bahwa di tengah perbedaan, komunikasi yang menyejukkan adalah jembatan yang dapat merawat persatuan bangsa.

Semoga para pemimpin bangsa senantiasa diberikan kekuatan untuk menjaga amanah, dan semoga komunikasi politik di negeri ini semakin beradab, menenteramkan, serta membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Aamiin.

0 komentar:

Posting Komentar