Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Selasa, 20 November 2012

Guru-guru yang Menginspirasi (5)

“Kalau kamu tidak lebih baik daripada saya, lebih baik kamu tidak usah lahir dan saya tidak usah mati, hanya nambah jatah beras saja.” Begitulah salah satu isi ceramah KH Hasan Abdullah Sahal.
Photo: putri1.gontor.ac.id
Santri dan alumni Gontor siapa yang tidak mengenal ceramah-ceramah beliau yang menggugah. Kata-katanya sederhana tapi mengena. Dalam gurauannya terselip hikmah yang dalam untuk direnungkan.

Ustadz Hasan, begitu kami memanggilnya, adalah guru yang tawadhu, rendah hati, meskipun kepada para santrinya. Hinga saat ini saya selalu kangen dengan ceramah-ceramahnya. Beliau adalah pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dulu saat saya mengabdi di Gontor, suatu pagi usai shalat subuh saya mendapatkan surat tugas untuk mengisi pelajaran Hadits kelas enam (setingkat tiga SMA) menggantikan Ustadz Hasan. Pusing juga saat itu, karena selain saya mengisi adik kelas saya satu tingkat, juga harus menggantikan Pak Kyai.

Mengisi kelas adik setingkat itu agak susah. Soalnya salah satu santri ada yang pernah satu kamar di asrama, misalnya. Atau bagaimana saya mengajarkan pelajaran itu sementara saya juga baru lulus. Beruntung waktu itu, usai saya membaca absensi, Ustadz Hasan tiba ke kelas dan saya ijin undur diri.

Pengabdian di Gontor adalah kewajiban. Santri yang lulus dari Gontor setingkat lulus SMA harus mengajar di pesantren-pesantren alumni yang ada di Indonesia selama satu tahun. Ada yang mendapat pengabdian di Sumatera, ada yang di Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan yang lainnya. Saya kebetulan ditetapkan untuk mengabdi di Gontor selama setahun.

Senin, (19/11/2011) saudara kembar saya berkunjung ke Gontor dan bertemu dengan beliau dan meminta nasihatnya. Ustadz Hasan bercerita banyak tentang kehidupan pondok. Ia juga bercerita tentang pesantren Al-Muqaddasah yaitu pesantren untuk penghafal Alquran yang ia pimpin.

Selain memimpin Gontor, Ustadz Hasan memimpin sebuah pesantren untuk penghafal Alquran. Letaknya tidak jauh dari Gontor. Hari-harinya diisi untuk mengembangkan pondok Gontor yang setiap tahun selalu ada kemajuan. Saat ini cabangnya tersebar dimana-mana, dari ujung Sumatera hingga Sulawesi.

Sejak KH Abdullah Syukri Zarkasyi sakit beberapa bulan lalu, Kyai Hasan fokus memimpin Gontor bersama KH Syamsul Hadi Abdan. Apalagi Kyai Syamsul tahun ini berangkat haji. Otomatis Kyai Hasan sendiri memimpin Gontor selama Kyai Syamsul berhaji. Pesantren Almuqaddasah yang beliau pimpin diserahkan kepada putera pertamanya.

Dalam perbincangan bersama putera pendiri Gontor, KH Ahmad Sahal, itu mengatakan, saat ini beliau sedang menyelesaikan tulisan-tulisannya, yaitu semua kumpulan khutbah, ceramah dan nasehat. “Kalau tidak begini takut ada wasiat yang terlewatkan,” katanya.

Selain itu, beliau mengungkapkan, dirinya sudah tua. Setiap hari memperbanyak berzikir, bertakbir, bertasbih dan amalan yang lainnya. “Amal shaleh apa yang akan saya bawa,” ungkapan kehawatiran seorang Kyai Hasan.

Dalam hati saya, wow, kyai yang sudah hafal Alquran, memiliki ribuan santri, memimpin dua  pesantren besar, masih saja menghawatirkan amal shalehnya. Subhanallah. Sementara saya yang waktunya kebanyakan dihabiskan dengan sia-sia jarang menghawatirkan itu. Astaghfirullah.

Rabu, 14 November 2012

Tiga Kedamaian

Kita sering mendengar pepatah kuno, Si vis pacem para bellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Artinya kedamaian akan didapat dengan peperangan. Namun tulisan ini tidak membahas perang secara militer.

Ini tentang perang terbesar dalam peradaban manusia yaitu perang dengan diri sendiri. Kedamaian terdapat dalam tiga bagian dalam diri manusia, yaitu;


Pertama, damai di hati. Kedamaian itu bermula dari hati kita. Semua gerak badan dan tingkah kita digerakan dari hati kita. Niat kita. Jika hati kita bersih dan ikhlas semuanya akan berjalan mulus.


Tapi tak jarang kita menemukan diri kita berperang melawan hati kita. Kita berusaha sekuat tenaga mengingkari hati kita. Kita juga berusaha membenarkan apa yang kita lakukan, padahal yang kita lakukan belum tentu betul.


Bila ini kita terus lakukan, maka ini akan menjadi kebiasaan. Maka kedamaian akan jauh dari diri kita. Ada sebuah cerita berkaitan dengan ini dalam sebuah novel Sepatu Dahlan. Anak kecil terpaksa maling tebu untuk bertahan hidup dari kelaparan. 


Berita tentang pencurian ini sudah tersebar di seantero kampung. Dan kakak dari anak ini bilang sama adiknya. Jangan mencuri lagi, Dik. Bukan untuk menjaga nama baik keluarga. Tapi kakak takut itu menjadi kebiasaan. Kita boleh miskin hati tapi tak boleh miskin iman.


Iman ini terpatri dari hati yang bersih. Saat melakukan pencurian, si anak yang baik itu sebenarnya dalam hatinya menolak untuk berbuat itu. Tapi dia kalah oleh nafsunya. Namun kemudian di saat kelaparan dating lagi ia sekuat hati untk tidak mencuri. Dan akhirnya datanglah rejeki yang tak terduga. 


Itulah bukti kalau kita perang dengan hati kita dan hati kita yang menang maka kedamaian akan datang dan jalan pun akan terang.


Kedua, damai di pikiran. Jika hati memang membawa kebenaran hakiki, tapi tidak dengan pikiran. Pikiran ini selalu banyak pertimbangan. Jika saya begini, maka saya akan begitu. Jika saya berbuat sesuatu kebaikan akankah dibalas dengan kebaikan lagi dan kapan itu terjadi.


Begitulah permisalan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran kita. Kita selalu ingin untung. Kita selalu ingin mudah. Kita selalu ingin jalan pintas. Pikiran kita tak ingin yang lama-lama. Tak ingin untuk bersabar. Tak ingin melalui jalan terjal.


Padahal hidup ini tak selamanya indah. Jalan pun tak selamanya halus dan lurus. Ada kerikil. Ada lubang. Ada kelokan. Ada tanjakan. Ada turunan.  Dan pikiran kita terpenjara dengan jalan yang halus dan lurus itu.


Hati mengajak untuk santai menghadapi kehidupan, namun terkadang pikiran memanipulasinya. Hingga akhirnya kita terperangkap ke dalam jebakan pikiran yang buruk. Dan semuanya berjalan dengan tidak semestinya. Berantakan.


Jika hati kita sudah damai, ajaklah pikiran kita juga untuk berdamai. Perangilah pikiran dengan tenang. Ajaklah untuk berdialog. Jika pikiran berontak, tentramkanlah dengan membaca aya-ayat Ilahi. 


Bersujudlah kepada Yang Menciptakan kita. Bahwa kita ini bukan siapa-siapa. Bahkan dalam sujud itu kepala kita (tempatnya alam pikiran) berada di bawah pantat kita (tempatnya kotoran).


Ketiga, damai dalam jiwa. Jiwa adalah roh penggerak badan kita. Jiwa ini merespons apa yang ada dalam hati dan pikiran. Jika ada pertentangan antara hati dan pikiran, jiwa kita pun akan tidak tentram. Tidak damai.


Jadi kita tidak akan damai dalam jiwa dan tingkah laku kita jika hati dan pikiran kita tidak tentram. Maka agar seluruh dalam diri kita damai maka kita harus berdamai dengan hati dan pikiran yang berimbas pada damai di jiwa.


Bahkan, masalah sebesar apa pun, bisa menjadi menjadi ringan jika kita sudah berdamai dengan diri kita. Sebab Tuhan tidak memberi kesulitan selain juga didatangkan kemudahan. Dan itu hanya diri kita yang tahu dan jika kita mau berdamai.


Seperti dalam lirik lagu Jason Mraz: I'm living in the moment, I'm living my life, Oh, easy and breezy, With peace in my mind, Peace in my heart, Peace in my soul, Wherever I'm going, I'm already home, I'm living in the moment.

Tiga Ketetapan


Dalam bayangan kita hidup ini memang misteri. Tak ada siapa pun yang tahu akan hari esok dan seterusnya. Kita sering mendengar bahwa manusia berencana Tuhan menentukan. Ya, betul, tulisan ini tentang itu. Tentang ketetapan hidup yang sudah digariskan.

Pertama, soal rejeki. Sekuat apapun usaha kita, jika belum rejeki kita, ya, akan sia-sia. Tapi tidak sia-sia bagi Tuhan. Sebab, Tuhan memerintahkan kita untuk usaha. Soal hasil itu baru soal takdir. Soal ketetapan.

Pernahkah kita merenung, bagaimana hewan-hewan masih bisa hidup, masih bisa makan, masih bisa memiliki keturunan, padahal mereka itu tidak sekolah, tidak kuliah, bahkan tidak kerja dan tidak digaji?

Pernahkah kita berpikir bagaimana pohon bisa tetap hidup, apalagi beberapa pohon yang kuat bertahan di musim dingin? Ada juga pohon yang diciptakan untuk berbuah yang bisa dinikmati oleh makhluk hidup lainnya, tanpa ia meminta imbalan kepada yang memakan buahnya?

Ya, semua makhluk hidup di dunia ini, sekecil apapun ia, Tuhan tidak pernah merelakan mereka kelaparan. Tuhan menciptakan makhluk hidup di dunia ini untuk dinikmati dan dipelajari oleh manusia yang memiliki akal pikiran dan hati nurani.

Semua sesuai dengan takaran masing-masing. Dan manusia juga memiliki takarannya sendiri-sendiri. Semua sudah diatur rejekinya. Hewan, tumbuhan dan manusia sudah ditetapkan. Apakah kita masih meragukan apa yang sudah ditentukan ini?

Orang-orang yang meragukan adalah orang-orang yang masih merasa kekurangan dengan apa yang dimilikinya. Betapa banyak rejeki yang tidak kita hitung, kesehatan, keluarga dan orang-orang yang kita cintai, misalnya.

Kedua, soal jodoh. Banyak orang-orang yang bertanya kepada sesamanya yang belum melangsungkan pernikahan, mengapa belum menikah? Kenapa terlambat? Kenapa dengan orang ini menikahnya? Dan sebagainya.

Padahal, bagi sebagian kita, sebenarnya pertanyaan dan jawaban ini tidak penting. Ada juga yang melihatnya sebagai hal yang sangat penting.

Namun, kita harus ingat bahwa jodoh itu adalah juga ketetapan. Saya teringat ungkapan Juki di sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 6, yang menyatakan;

"Pertanyaan kenapa kadang terlalu bahaya untuk dijawab. Kenapa kita berjodoh dengan seseorang, siapa beruntung dan siapa bermusibah. Sekarang gw gak mau tahu kenapa ini, kenapa itu. Dan selalu gw yang apes. Kenapa? Gak penting."

Ada benarnya pernyataan di atas ini. Sebab bukan kita yang menentukan dan yang menginginkan hidup kita seperti ini. Semua sudah digariskan. Memang, manusia memiliki pilihan hidupnya masing-masing.

Misalnya, ada yang sudah berhubungan lama tapi akhirnya tidak menikah. Ada yang baru kenalan langsung menikah. Dan seterusnya. Tidak ada rumus yang pasti. Tapi yang pasti Allah sudah menentukan siapa menikah dengan siapa. Siapa berjodoh dengan siapa.

Ketiga, hidup dan mati. Manusia sudah ditetapkan kapan ia lahir dan kapan ia meninggal. Dan itu ketetapan Tuhan untuk makhluknya.

Sebab, banyak juga yang bertanya kepada pasangan yang baru menikah, atau bertanya kepada yang sudah lama menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan; kapan punya anak?

Ini sepertinya pertanyaan sepele, pertanyaan yang dinyatakan untuk basa-basi. Tapi pernahkah berpikir, jika kita berada di pihak mereka? Tapi bukan ini yang penting.

Yang terpenting adalah bahwa anak adalah ketetapan Tuhan. Rejeki yang tak terhingga untuk pasangan suami istri, yang sudah ditulis di langit sana.

Jadi, tak perlu kita khawatir. Tak perlu kita ragu. Yang perlu bagi kita adalah kita harus yakin dan percaya kepada Tuhan. Percaya kepada ketetapan Tuhan. Dan bersyukur atas apa yang sudah Tuhan tetapkan kepada kita. Wallahu a’lam.

Jumat, 09 November 2012

Tiga Kebaikan


Saudara, Tuhan selalu menganjurkan kita untuk berbuat baik kepada siapa pun tanpa memandang kelas, pangkat, jabatan dan sebagainya. Ada tiga kebaikan yang mesti kita raih sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini.

Pertama, manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Mengapa demikian? Karena manusia diciptakan berbarengan dengan sifat yang buruk yang menempel pada dirinya. Sifat buruk itu seperti pelit, memikirkan diri sendiri, egois, ingin menang sendiri, curang, dan yang lainnya.

Syarat utama agar menjadi bermanfaat untuk orang lain adalah, orang itu harus selesai dengan dirinya sendiri. Maksud dari selesai adalah, ia tidak lagi memikirkan tentang dirinya. Atau setidaknya ia mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingannya sendiri.

Ini memang berat tapi paling tidak begini, bermanfaat bagi yang lain itu bisa diartikan jika ada seseorang meminta bantuan, maka ia lekas memberikan pertolongannya sebisa mungkin. Kalaupun tidak bisa paling tidak ia mendoakan. Dan balasan mendoakan kebaikan adalah kebaikan seperti apa yang ia doakan untuk orang lain.

Dan tidak mesti kita bermanfaat setelah kita sukses menjadi orang besar di mata manusia, seperti nanti kalau saya sudah menjadi direktur bla, bla, bla, baru saya akan bermanfaat bagi yang lain. Saya akan mengulang cerita tentang kebaikan seorang satpam di kampus STIE Ahmad Dahlan di Ciputat.

Satpam ini dikenal baik oleh orang-orang di lingkungan kampus. Dari rekan seperjuangannya hingga pihak pimpinan kampus mengenal kebaikannya. Ia selalu ramah kepada siapa pun. Dan ia  ikhlas melakukannya. Ditambah lagi ia selalu melaksanakan shalat tahajud di malam hari dimana orang-orang terlelap tidur.

Ketika bencana jebolnya Situ Gintung yang menewaskan sekitar 100 orang, satpam ini selamat. Padahal rumahnya tidak jauh dari mulut bendungan yang jebol itu. Dengan sebuah kasur tipis ia melawan arus dan menepi ke daratan yang lebih tinggi.

Ia diselamatkan oleh Allah SWT akibat kebaikan yang ia lakukan, juga kewajiban yang tak pernah ia tinggalkan. Bukan itu saja, istri dan anaknya juga selamat. Anaknya selamat karena merangkul pohon kecil yang tidak tumbang, meski pohon besar disampingnya tumbang. Sebuah keajaiban.

Kedua, akhirat lebih baik daripada dunia. Kita kadang lupa bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Kita juga terkadang terlena akan keindahan dan kemolekan dunia dan seisinya. Sampai kita melupakan apa yang abadi, yaitu kehidupan setelah kematian.

Tidak dipungkiri, semua yang enak dan menarik berseliweran di hadapan kita. Semua tawaran tentang kesenangan, dengan telepon genggam pintar di tangan kita, kita hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk memesannya. Dan datanglah semua kesenangan yang semu itu.

Kita lupa bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Kita juga lupa bahwa ada kebahagiaan yang lebih besar ketika kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Sekecil apapun itu.

Dan ketika kita dihadapkan dengan pilihan, dunia dan akhirat, kita kadang lebih memilih dunia. Misalnya, ketika panggilan untuk shalat berkumandang, sementara kita sedang asik menonton film di depan laptop, kita bilang sama diri kita sendiri, nanti aja ah kalau sudah selesai filmnya.

Begitulah. Kita selalu lupa untuk yang lebih kekal, lebih abadi. Kita lebih memilih yang sementara yang hanya fatamorgana. Sebab, panca indera kita terbatas, dan kita lebih memilih yang terlihat ketimbang yang angan-angan. Padahal janji Tuhan itu pasti! Kebaikan dibalas kebaikan, juga sebaliknya. Di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Ketiga, sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Tuhan memerintahkan makhlukNya untuk berbekal. Bekal untuk di dunia maupun di akhirat. Hampir tidak ada orang yang berhasil dengan apa yang ia inginkan jika ia tidak punya bekal. Apapun itu.

Misalnya, orang yang mau belajar, maka ia harus punya bekal seperti buku, pulpen dan pensil. Jika ia tidak punya bekal tadi, ia tidak akan bisa belajar. Bagaimana mau mencatat pelajaran jika peralatannya tidak ada. Bagaimana ia akan membaca sementara buku yang mesti dibaca tidak ada.

Atau seperti orang yang suka jalan-jalan. Ia pun harus memiliki bekal seperti tas yang berisi pakaian dan tiket perjalanan. Jika perjalanannya ke luar negeri ia harus membawa paspor dan visa. Dan perjalanan itu tidak akan terjadi jika tidak ada bekal tersebut.

Begitupun untuk kehidupan kita yang abadi nanti, kita harus punya bekal, dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Quraish Shihab dalam ceramahnya mengatakan, kehidupan ini seperti perjalanan. Agar perjalanan kita ringan, kita harus membawa sesuatu yang ringan pula.

Barang-barang yang berat sebaiknya ditinggal. Artinya bahwa barang-barang yang berat itu kita sedekahkan. Kelak kita akan mengambil barang itu setelah tiba di tempat yang abadi. Sedekah ini yang meringankan perjalanan kita.

Bekal takwa adalah yang terbaik. Takwa artinya melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan semua keburukan. Orang yang bertakwa hidupnya senang dan tenang selalu. Tidak mesti menunggu akhirat nanti, di dunia saja orang takwa ini sudah bahagia.

Janji Tuhan adalah barang siapa yang bertakwa, maka akan dibukakan dan dipermudah hidupnya serta diberikan rejeki yang tidak disangka-sangka.

Bahkan, saking pentingnya ayat-ayat tentang wasiat takwa ini, ia dijadikan rukun khutbah jumat. Setiap minggu kita diingatkan untuk selalu bertakwa, pengingat ini dilakukan karena kita adalah makhluk pelupa. Wallahu a’lam bishshawab.

Minggu, 04 November 2012

Sejarah IKPM Turki


Setelah hasil kelulusan beasiswa pemerintah Turki diumumkan pada awal Oktober 2009, saudara Christian Kuswibowo (juga Dewan Pendiri IKPM Turki) menelepon saya dan mengabari bahwa kami berdua sebagai penerima beasiswa tersebut.

www.ikpmturki.com

Kami pun kemudian merancang jadwal keberangkatan bersama menuju negeri bekas kesultanan Turki Usmani. Setelah hampir sembilan tahun tak berjumpa, kami pun berangkat bersama ke Turki pada tanggal 26 Oktober 2009.

Di pesawat terbang saat pemberangkatan ke Turki, kami berdua berbincang soal organisasi alumni Gontor. Saya katakan padanya, bahwa kita bisa mendirikan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) di Turki, jika masih sedikit, kita bergantian setiap tahunnya sebagai ketua dan sekretaris. 

Perbincangan itu memang sebuah harapan, meski kami pun sedikit ragu karena alumni Gontor hanya kami berdua.

Setibanya kami di Ankara (saya kuliah di Universitas Ankara dan Christian di Universitas Hacettepe di Ankara), bertemu dengan alumni Gontor lainnya, yaitu Gusty Ayuman Mukasyafah. 

Perjumpaan itu terjadi di kantor KBRI Ankara, saat kami mempersiapkan Indonesia Cultural Day di Tomer Ankara. Rupanya, Gusty belajar di Universitas Seljuk di Konya dan ia hanya bertandang ke Ankara. Pertemuan itu kami gunakan untuk bernostalgia.

Namun, di tahun pertama di Turki kami terlena dengan kegiatan bersama pelajar Indonesia yang kami bangun bersama yaitu Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki. Saya sebagai Dewan Penasehat PPI Turki, sementara Christian sebagai Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi PPI Turki.

Di tahun kedua rupanya kami berdua terlalu asik dengan dunia perkuliahan yang baru. Sebab di tahun pertama kami hanya belajar bahasa Turki dan di tahun kedua kami mulai studi S2.

Barulah di tahun ketiga, 2011-2012, alumni Gontor di Turki bertambah banyak mencapai 11 orang. Beberapa rekan alumni menghubungi saya tentang IKPM yang kita dambakan. Ada terbersit keinginan untuk kumpul bersama, sekadar silaturrahim dan mengobrol bersama.

Namun keinginan itu belum juga terwujud. Sampai suatu ketika saya mendapat tugas dari dosen saya untuk pulang ke Indonesia untuk melakukan riset tesis saya.

Saya pun kemudian pulang pada awal Maret 2012. Kebetulan pada tanggal 23-25 Maret 2012, di Cirebon diadakan Silaturrahim Nasional (Silatnas) IKPM. Yang menjadi panitianya adalah IKPM Cirebon.

Kesempatan pertemuan dan silaturrahim alumni Gontor ini pun tidak saya sia-siakan. Saya datang ke Cirebon bersama rekan-rekan IKPM Jakarta. Kami berangkat bersama dari Lebak Bulus menggunakan bus rombongan.

Para pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor saat itu datang dan mengisi acara silatnas yang diadakan di asrama haji dan pendopo kesultanan Cirebon. Ribuan alumni datang.

Di akhir acara kami bertasafuf alias bersalaman dengan para pimpinan kami. Dan saya banyak berbincang dengan ustadz-ustadz senior, termasuk Ketua Umum IKPM, KH Akrim Mariyat.

Saya katakan kepada Ustadz Akrim (begitu kami memanggil KH Akrim Mariyat), bahwa kami mahasiswa Indonesia yang alumni Gontor mencapai 11 orang. Namun, kami belum memiliki IKPM.

“Kalau begitu dirikan saja IKPM cabang Turki dan kirim kabar ke saya melalui e-mail atau telepon,” kata Ustadz Akrim sembari memberikan kartu namanya kepada saya. Mendapat restu dan persetujuan dari ketua umum IKPM itu menjadikan semangat untuk mendirikan IKPM Turki.

Sekembalinya saya ke Turki usai riset di Indonesia pada awal Mei 2012, saya kabari beberapa rekan di Ankara akan pertemuan saya dengan Ustadz Akrim. Responsnya sangat positif.

Kemudian saya kirim sms ke semua alumni Gontor di Turki untuk menindaklanjuti pertemuan dengan ketua umum IKPM Turki. Dan kami pun menyepakati untuk kumpul dan musyawarah perdana IKPM Turki di Ankara.

Pada hari Ahad, 17 Juni 2012, kami alumni Gontor yang tersebar di berbagai provinsi dan kota di Turki berkumpul di Ankara. Semangat itu terlihat dari wajah para alumni Gontor di Turki.

Sembari bakar ayam dan tajammu’ ala Gontor di Harikalar Parki, kami bersilaturrahim dan bermusyawarah tentang pendirian IKPM Turki sekaligus memilih ketuanya. Saat itu terpilihlah saudara Abdul Aziz sebagai ketua IKPM Turki secara musyawarah mufakat.

Usai bersilaturrahim itu kami kemudian mengikuti acara di wisma KBRI Ankara di daerah Oran. Hampir semua diplomat dan Duta Besar RI untuk Turki hadir pada acara tersebut.

Sebelum acara dimulai kami menghadap Ibu Dubes dan Pensosbud KBRI Ankara yang sudah berada di sekitar gedung pertemuan itu. Dalam perbincangan itu kami memberitahukan bahwa IKPM Turki telah berdiri dan kami memohon arahan dan bimbingan Ibu Dubes.

Ibu Dubes, Nahari Agustini, menyampaikan kepada kami bahwa ia turut senang dan memberikan selamat atas berdirinya IKPM Turki.

Meski begitu ia juga memberikan nasehatnya kepada kami agar kami tetap fokus untuk belajar meski sibuk dengan organisasi. “Jangan lupa dengan tujuan utama datang ke Turki, yaitu untuk belajar,” nasehat Ibu Dubes.

Kabar tentang silaturrahim perdana dan lahirnya IKPM Turki kami kirim kepada ketua umum IKPM di Gontor, Ponorogo. Ustadz Akrim menyambut baik akan berdirinya IKPM Turki ini. Ia mengucapkan “Selamat dan semoga bermanfaat untuk umat.”

Penawaran


Ini bukan cerita soal saya. Ini cerita soal teman saya yang menjadi asisten rumah tangga di Ankara. ia bekerja sudah dua tahun. Sebelumnya dia pernah bekarja di Swedia dan China. 

Saat di Swedia dia sudah berkeliling Eropa. Padahal, ia bekerja hanya di rumah saja. Dan dia tidak menguasai bahasa asing. Tetapi keahliannya memasak dan merapikan rumah tangga sangat apik dan baik.

Dulu saya pernah membaca blog kawan saya tentang bagaimana orang bisa bepergian keliling dunia atau setidaknya bisa keluar negeri. Pertama, pelajar yang mengikuti olimpiade internasional. 

Kedua beasiswa belajar di luar negeri, ketiga, bekerja di departemen luar negeri dan dia menambahkan, kalau tidak bisa ketiganya ya menikahlah dengan orang yang kedua dan ketiga di atas. 

Ada tambahan lain dari saya, yaitu menjadi asisten rumah tangga bagi kelompok ketiga. Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi kita tidak membahas soal ini. Kita saat ini membahas soal penawaran.

Meski teman saya ini tak menguasai bahasa asing atau bahasa negara setempat, namun dia memiliki sifat yang jarang dimiliki rekan seperjuangannya yaitu keberanian. 

Kalau dia kesulitan untuk mengutarakan sesuatu kepada penjual di pasar, ia akan menelepon saya, dan saya membantunya sebisa saya. 

Selain berani dia pun baik hati. Tak jarang saya diberi makanan Indonesia atau dimasakan masakan yang saya kangeni.

Dia baik bukan hanya kepada saya. Kepada siapa pun dia akan membantu jika diminta pertolongan, semasih dia bisa melakukannya. Ia juga pintar masak. 

Bukan Cuma masakan jawa atau sunda, dia juga pintar masakan minang. Tentu dia juga bisa membuat tahu dan tempe, makanan yang paling digemari di luar Indonesia. Ini yang disukai para ibu-ibu di sini.

Karena baik itulah, saat ini sudah banyak penawaran kepadanya usai dia tidak lagi menjadi asisten rumah tangga di tempatnya bekerja saat ini. 

Bukan hanya orang Indonesia yang ingin memberinya pekerjaan, namun diplomat asing dari berbagai Negara yang beristrikan orang Indonesia ingin menggunakan jasanya.

Begitulah orang baik. Balasanya pun jelas di dunia ini, bahkan di akhirat nanti. Yaitu kebaikan pula. Bahkan, tanpa ia mencari pekerjaan, ia sudah diburu dan banyak orang yang menjajakan untuk bekerja sama. 

Orang seperti ini tidak takut akan kehilangan pekerjaannya. Karena ia yakin rejeki dan semua yang ada di langit dan bumi sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan Yang Maha Baik.

Selasa, 30 Oktober 2012

Orang Susah


Kawan, saya tidak tahu harus menulis apa kali ini. Bulan ini hampir nihil saya menulis. Ada beberapa tulisan itu pun untuk dimuat di media. Dan memang banyak kegiatan yang tak tertuliskan. Bahkan untuk menulis catatan kajian yang saya paparkan pun belum saya tulis. Terkadang, memang saya terlena dengan waktu yang ada.

Suatu ketika saya berbincang soal kehidupan dengan beberapa teman saya. Mengapa kita bisa sampai di Turki? Mengapa orang dengan mudah bepergian ke luar negeri? Mengapa orang-orang bisa senang dengan hidupnya? Dan sebagainya.

Tetapi, kami pun berbincang dengan memutar pertanyaan di atas. Misalnya, mengapa masih ada orang yang belum beruntung dengan pilihannya? Mengapa masih ada yang mendapatkan hasil biasa saja meski usahanya luar biasa? Atau mengapa masih ada orang yang tidak senang dengan hidupnya meski ia bergelimang harta?

Sebuah BBM masuk di ponsel pintar saya: “Undang juga itu orang ‘susah’ untuk makan-makan, kasihan dia.” Saya terkejut dengan BBM itu. Saya hanya terdiam membaca BBM yang sepertinya untuk bercanda. Suatu ketika saya bertanya kepada si pengirim pesan itu, apa maksud orang susah?

Dengan enteng dia menjawab, “Semua orang itu pada dasarnya susah,” ujarnya. Sebab, kata teman saya, orang kaya juga bisa susah ketika dia kehilangan mobilnya, misalnya. Atau orang yang sudah bekerja juga akan menemukan kesusahan ketika ada pekerjaan yang tidak bisa ia lakukan.

Lebih jauh lagi, anak kecil kesusahan untuk belajar berjalan. Anak SD kesusahan mengerjakan Matematika dan pelajaran lainnya. Mahasiswa kesusahan menyelesaikan studinya. Ibu-ibu kesusahan mengatur waktu kerja dan waktu untuk anak dan keluarganya. Anak muda kesusahan mencari pendamping hidup. Kakek nenek kesusahan untuk mengisi waktu kosongnya.

Tuhan dalam firmanNya menuliskan, Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Jika ditimpa kesusahan dia berkeluhkesah. Jika mendapat kebaikan dia kikir. Q.S.70:19-21

Karena Tuhan menciptakan demikian, maka wajar saja, banyak orang yang mengeluhkan masalahnya. Baik secara lisan, atau melalui media sosial yang ada. Baik disengaja maupun tidak.

Mengapa bisa demikian? Karena Tuhan menginginkan manusia menyerahkan semua tetek bengek soal kehidupan hanya kepadaNya. Dan berdoa kepadaNya. Meminta kepadaNya.

Firman Tuhan mengatakan tentang obat dari kegalauan atau kegelisahan, yaitu: Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat. Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Q.S.70:22-27.

Ya, hidup ini terkadang bisa disimpulkan tentang dua hal: susah dan mudah. Bukan tentang kaya dan miskin, tua dan muda. Susah akan berakhir kepada kesengsaraan dan mudah akan berakhir dengan kebahagiaan.

Dan konsep susah dan mudah itu ada dalam pikiran kita. Agar hidup kita mudah, maka pikiran dan hati kita harus selalu berprasangka baik kepada Tuhan bahkan juga kepada manusia.

Selasa, 25 September 2012

Universitas Istanbul

(Telah dimuat di Majalah Gontor)
Oleh Deden Mauli Darajat 
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel, Ibukota Byzantium (Romawi Timur), dan mengubah namanya menjadi Istanbul, Sultan Mehmet II dari Turki Usmani langsung membangun sebuah madrasah atau sekolah agama pada tahun 1453. 
Pintu Gerbang Universitas Istanbul.
Photo:  turkishairlines.com

Seiring perjalanan waktu, pada tahun 1863 madrasah tersebut berganti nama menjadi Darulfunun Osmani atau Rumah Ilmu Kesultanan Turki Usmani, yang merupakan cikal bakal Universitas Istanbul.

Universitas ini memiliki tujuh belas fakultas yang tersebar di lima kawasan. Kampus utama berada di Beyazit Square di Istanbul, yang dikenal sebagai Tauri Forum pada masa kekuasaan Romawi. Sebagai salah satu universitas unggulan di Turki, staf pengajarnya terdiri dari 2.000 profesor dan asosiasi, dan 4.000 asisten dan staf yang lebih muda. Lebih dari 60.000 mahasiswa tingkat sarjana dan 8.000 mahasiswa pascasarjana mengikuti perkuliahan yang ditawarkan oleh Universitas Istanbul setiap tahunnya. 

Fakultas-fakultas di Universitas Istanbul adalah: Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, Fakultas Seni, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kehutanan, Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Bisnis Administrasi, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Perikanan, Fakultas Teologi, Fakultas Pendidikan dan Fakultas Ilmu Kesehatan.


Universitas tertua di Turki ini memiliki 12 kampus yang tersebar di wilayah Istanbul, yaitu kampus Beyazit, kampus Laleli-Vezneciler, kampus Vefa, kampus Horhor, kampus Avcılar, kampus Capa, kampus Cerrahpaşa, kampus Sisli, kampus Kadikoy, kampus Bahçeköy, kampus Bakirkoy dan kampus Büyükçekmece, Namun demikian, simbolnya adalah kampus bersejarah di Beyazit.


Kampus utama di Beyazit memiliki gerbang dengan landmark yang bersejarah. Dahulu, gerbang ini merupakan gerbang perkantoran Kementerian Perang Kesultanan Turki Usmani. Dengan segala latar belakang sejarah dan keunggulannya, universitas ini telah melahirkan banyak tokoh penting di Turki, salah satunya adalah Presiden Turki sekarang, Abdullah Gül.


Misi Universitas Istanbul adalah menyatukan Timur dan Barat, masa lalu dan masa depan. Juga sebagai universitas terkemuka dalam membesarkan individu kompeten yang menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat untuk negara dan kemanusiaan. Sementara visi Universitas Istanbul adalah menjadi salah satu universitas terkemuka di dunia.


Nilai-nilai yang dijunjung di universitas ini adalah melindungi dan memuliakan prinsip Mustafa Kemal Atatürk, menghormati lingkungan dan kemanusiaan yang selaras dengan nilai-nilai etika. Universitas yang umurnya sama dengan Kesultanan Turki Usmani ini memainkan peran penting dalam transisi dari Sekolah Teologi Darülfünun menuju sekolah modern pendidikan tinggi Turki yang sangat memiliki tempat yang penting dalam kehidupan di Turki. 


Fakultas Teologi termasuk fakultas pertama yang berdiri di Universitas Istanbul. Fakultas ini memiliki arti sejarah tersendiri dan penghubung antara madrasah pada zaman Kesultanan Turki Usmani dengan Universitas Istanbul di masa kini. Sementara fakultas lainnya, seperti Fakultas Hukum, Fakultas Sains dan lainnya, dibuka pada periode-periode berikutnya mengikuti perkembangan zaman. 


Sejarah perkembangan 


Perkembangan Darulfunun menjadi Universitas Istanbul terjadi pada tahun 1900, ditandai dengan berdirinya Fakultas Teologi, Fakultas Seni, Fakultas Matematika, Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Fakultas Filologi. Pada tahun 1924, Fakultas Ilmu Hukum dan Kedokteran diresmikan, setelah Turki menjadi Republik. Pada tahun 1933, universitas yang terletak di benua Eropa tersebut direnovasi.


Sebagai perguruan tinggi modern dengan kuliah perdana Ilmu Fisika Terapan disampaikan pada tanggal 31 Desember 1863, yang menandai awal periode baru. Pada tanggal 20 Februari 1870, perguruan tinggi ini berganti nama sebagai Darülfünûn-u Osmani (‘Ottoman House of Sciences atau Rumah Ilmu Kesultanan Turki Usmani) dan direorganisasi untuk memenuhi kebutuhan ilmu modern dan teknologi.


Sejak tahun 1874, beberapa kelas Sastra, Hukum dan Ilmu Pengetahuan Terapan diberikan di gedung Sekolah Tinggi Galatasaray, yang berlanjut secara teratur sampai tahun 1881. Pada tanggal 1 September 1900, sekolah ini berganti nama dan direorganisasi sebagai Darülfünûn-u Åžahane (Imperial House of Sciences) dengan kursus Matematika, Sastra dan Teologi. 


Pada tanggal 20 April 1912, sekolah ini berganti nama lagi menjadi Darülfünûnu İstanbul (‘Istanbul House of Sciences). Jumlah programnya pun meningkat dan kurikulum yang dimodernisasi dengan pendirian Sekolah Kedokteran, Hukum, Ilmu Pengetahuan Terapan (Fisika, Kimia, Matematika), Sastra dan Teologi.


Pada tanggal 21 April 1924, Republik Turki mengakui Darülfünûnu Istanbul sebagai Perguruan Tinggi Negeri, dan pada tanggal 7 Oktober 1925, otonomi administrasi Istanbul Darülfünûnu diakui sementara sebagai “Sekolah” (dalam sistem Medrese lama) menjadi “Fakultas”. Pada tanggal 1 Agustus 1933, Istanbul Darülfünûnu direorganisasi sebagai Universitas Istanbul (İstanbul Üniversitesi) setelah reformasi pendidikan dari Atatürk. Kelas resmi dimulai pada 1 November 1933.


Pada tahun 1846, tugas Dewan Pendidikan Sementara disusun setelah proklamasi Dekrit Tanzhimat. Namun sasarannya hanya untuk melampaui tujuan pelatihan staf profesional, di mana pertukaran mahasiswa dan dosen dimaksudkan untuk melatih orang-orang yang dapat memahami berbagai bidang keilmuan. 


Mereka yang memiliki pemahaman tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan Barat bersama kalangan Kesultanan Turki Usmani yang mendukung gaya Barat, berinovasi dengan mencoba meletakkan reformasi pendidikan baru. Hasilnya, pembentukan model universitas Barat mulai dibangun. Pada tahun 1846, nama Darülfünun atau  Rumah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, diganti menjadi Universitas.


Kampus Darulfunun, memiliki kamar, ruang kelas, perpustakaan, museum dan laboratorium yang dirancang untuk mendukung sebuah bangunan besar. Pada 1846, arsitek Italia ditunjuk untuk membangun gedung dekat Hagia Sophia. Setelah bangunan berhasil dibangun tempat itu menjadi tempat kuliah umum dari beberapa program studi. 


Darwis Pasha, pakar kimia waktu itu, memberikan kuliah pertama tentang kimia. Tentu saja beberapa minggu sebelumnya diterbitkan jurnal Makalah-i Fünun dan dipublikasikan dalam berita dan komentar. Darwis Pasha, bukan hanya pakar pertama fisika dan kimia saja, ia juga merupakan pakar dalam ilmu listrik. 


Kuliah perdana itu sangat ramai hingga dihadiri 300 orang. Para peserta di antaranya adalah para petinggi negeri dan para pegawai negeri sipil. Darwis Pasha menjelaskan pentingnya fisika dan kimia membuat eksperimen pada listrik. Tentu saja, percobaan ini menarik perhatian publik. Uji listrik adalah saksi, karena orang-orang Istanbul melihat ini untuk pertama kalinya. 


Pembangunan kampus baru selesai pada tahun 1865. Sementara bangunan Darulfunun digunakan untuk gedung perkantoran Departemen Keuangan. Kemudian gedung ini dialihfungsikan menjadi Istana Kehakiman. Namun, pada 3 Desember 1933, gedung ini hancur karena hangus terbakar.


Universitas Istanbul kini menjadi salah satu mercusuar kemajuan pendidikan di Turki. Dengan segala fasilitas dan potensi yang dimilikinya, perguruan tinggi ini dapat menjadi tonggak kembalinya kejayaan Turki Usmani dan menjadi kebanggaan dunia Islam. 

Senin, 24 September 2012

Kata-kata unik itu eksotis!

Semalam saya berbincang-bincang sama teman yang sudah melakukan perjalanan ke dataran Afrika Selatan dan Zimbabwe. Di perbincangan terceletuk kata Kasuari. Dan saya katakan kalau dulu saya pernah menggunakan kata Kasuari untuk grup SD kami. 


Gantungan kunci darı Chani
Dulu pas saya SD, saya dan teman-teman membuat grup sepakbola. Kami berembuk nama apa yang pas untuk disematkan untuk sekumpulan grup kami. Saya menyeletuk “Kasuari,” seru saya kepada teman-teman waktu itu. Dan semua yang ada di sana menyetujui. Meski mereka tidak tahu persis apa arti kata itu. 

Saya jelaskan, Kasuari itu nama burung yang ada di Irian Jaya. Burung yang indah seindah namanya. Kami pun kemudian membuat plakat nama dari kertas lalu disablon ke punggung kaos kami dengan cet murahan. Hehe.

Saya memang penyuka kata unik. Bagi saya kata-kata unik itu eksotis. Dulu pas zaman SMA saya pernah membaca novel sejarah tentang sebuah negeri di Afrika yaitu Etyopia. 

Yang unik adalah nama ibukota Negara itu namanya adalah Addis Ababa. Unik bukan. Hayalan saya melayang ke Afrika sejak itu. Masih banyak deretan kata-kata eksotis yang bisa kita temui. Sebab peradaban dunia ini berawal dari kata-kata.


Jumat, 21 September 2012

10 Teman Setan


(Disampaikan pada Kajian Islam Ibu-Ibu DWP KBRI Ankara, Rabu, 19 September 2012)

Alhamdulillah washshalatu ‘ala Rasulillah. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat iman dan Islam sehingga kita dapat melaksanakan pengajian dan kajian ini. Shalawat serta salam kita hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW, karena dengan cahayanya kita dapat mengimani dan mempelajari Islam saat ini. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang ‘10 Teman Setan’.

QS. Alma'un (107). Gambar:  renjaw.mywapblog.com 
Iblis diciptakan Allah memang untuk mengajak umat manusia mengikuti jalannya, yaitu jalan keburukan yang dilarang Allah. Ini seperti tertulis dalam Alquran Surat Ala’raf (7) ayat 16-17, berikut terjemahannya: Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).

Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa tugas iblis atau setan adalah menggoda manusia untuk meninggalkan kewajiban yang diperintahkan Allah dan mengajak manusia untuk melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Selain itu iblis juga ingin manusia melupakan tugas utamanya di dunia ini, yaitu hanya untuk beribadah kepada Allah.

Dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Wahab bin Munabbih, menyatakan, suatu ketika Allah memerintahkan iblis untuk menemui Rasulullah SAW. Iblis menemui Nabi setelah menyerupai manusia tua yang bertongkat. Ketika bertemu Rasulullah SAW bertanya, “Siapakah anda,” iblis menjawab, “Saya adalah iblis yang diperintahkan Allah untuk menemui Nabi Muhammad SAW, dan mejawab semua pertanyaan yang engkau tanyakan kepadaku.”

Rasulullah SAW berpikir dan dengan mantap bertanya, “Siapakah dari umatku yang menjadi temanmu wahai iblis?” Iblis menjawab, “Teman saya dari umatmu ada 10 macam.” Diam lalu berkata, “Yang pertama adalah hakim yang curang.” Jadi teman iblis atau setan yang pertama adalah Hakim yang curang alias tidak adil.

Mengapa begitu? Sebab di tangan hakimlah peraturan dan hukum berlaku di suatu Negara atau kerajaan. Di tangan hakim pula yang benar bisa disalahkan, yang salah bisa dibenarkan dan sebaliknya. Jika ini terjadi maka kacaulah suatu hukum di sebuah Negara. Dan setan senang sekali dengan hakim yang seperti ini.

Bahkan, ada riwayat yang mengatakan kaki kanan hakim itu di surga dan kaki kirinya berada di neraka. Namun ada juga riwayat yang mengatakan, jika hakim yang adil memutuskan sebuah perkara, jika ia benar maka ia mendapatkan dua pahala, jika ia salah ia mendapatkan satu pahala. Ini saking beratnya tugas hakim. Namun, sejatinya kita adalah hakim, paling tidak untuk keluarga kita.

Teman setan yang kedua adalah: Orang kaya yang sombong. Jika kita memiliki sesuatu apalagi berkelebihan, kita mudah terjerumus pada kesombongan. Orang kaya terkadang mudah meremekan seseorang, seakan semua hal di dunia dapat ditaklukan dengan uang. Padahal tidak.

Suatu ketika Nabi Sulaiman yang menjadi raja dibumi yang wilayahnya meliputi dari barat sampai timur, utara sampai selatan meminta ijin kepada Allah untuk memberi makanan kepada seluruh makhluk yang ada di bumi ini dalam satu hari saja. Allah pun mengijinkannya. Kemudian Nabi Sulaiman mengumpulkan pasukannya untuk menyiapkan makanan di lapangan yang luas.

Ketika semuanya sudah siap, Nabi Sulaiman berkata kepada Allah bahwa dirinya sudah siap memberikan makanan. Maka Allah berfirman, “kalau begitu makhluk yang pertama makan adalah ikan nun (ikan yang memakan nabi Yunus).” Ikan nun pun keluar dari laut dan memakan semua makanan yang disediakan di lapangan oleh Nabi Sulaiman. Semua makanan habis dimakan ikan nun, padahal itu disediakan untuk makanan seluruh makhluk.

Nabi Sulaiman takjub dengan apa yang terjadi dan ia sadar bahwa ia sangat kecil di hadapan Allah dan bukanlah yang kaya. Sebab Allah Maha Kaya. Nabi Sulaiman seketika sujud dan bertaubat kepada Allah. Ia berpikir, baru satu ikan saja menghabiskan sebegitu banyak makanan, dan itu hanya sekali makan. Bagaimana jika ia ingin menambah makanan, dan seterunya.

Teman setan yang ketiga adalah Pedagang yang khianat. Pedagang adalah tulang punggung ekonomi umat manusia. Jika para pedagang berkhianat alias curang, maka ekonomi akan hancur.  Orang miskin bertambah banyak. Kemelaratan dimana-mana. Dan kemiskinan amat dekat dengan kekafiran. Maka setan sangat senang dengan yang begini ini.

Ini berbeda tentunya dengan cara dagang Nabi Muhammad SAW. Saat berniaga, Rasulullah SAW selalu jujur. Misalnya, beliau mengatakan, “Saya mengambil barang ini seharga Rp. 1000. Terserah saudara pembeli mau membeli ini dengan harga berapapun, yang penting saya mendapat untung,” begitu kira-kira kejujuran Rasulullah SAW dalam berdagang, yang bisa jadi sangat jarang kita temui saat ini.

Teman setan yang keempat adalah Peminum khamr alias peminum minuman keras. Sebuah riwayat mengatakan, seseorang divonis tidak beriman jika dalam perutnya terdapat khamr. Yang dapat didefinisikan khamr ini termasuk morpin, ganja, narkotika dan yang lainnya.  Sebab jika seseorang minum khamr dan ia akan tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Dan tidak jarang hal-hal yang dilarang Allah dilakukan disaat seseorang dalam keadaan mabuk.

Teman setan yang kelima adalah Pemfitnah. Rasulullah mengatakan fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. Mengapa? Karena fitnah bisa menghancurkan hidup seseorang atau sebuah keluarga bahkan sebuah kelompok besar. Dan dengan fitnah juga itu sebenarnya pembunuhan secara lambat. Ada domba termasuk dalam hal ini. Maka ungkapan, mulutmu harimaumu adalah sangat tepat.

Kita mesti hati-hati dengan perkataan yang kita ucapkan, sebab perkataan bisa menembus yang tidak bisa ditembus oleh jarum. Peribahasa Arab mengatakan, keselamatan manusia terdapat pada penjagaan perkataannya.

Teman setan yang keenam adalah Orang yang riya. Tujuan hidupnya adalah memperlihatkan yang ia miliki. Riya, sombong, sum’ah dan yang lainnya ini termasuk penyakit hati. Imam Alghazali mengatakan, pada hakikatnya semua manusia di dunia ini mati, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pun dianggap tidur, kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya bisa tertipu kecuali orang-orang yang ikhlas melaksanakan amal ibadahnya atau amal perbuatannya.

Jadi, kebalikan dari penyakit hati adalah ikhlas. Ikhlas itu tidak mengharapkan sesuatu dari apapun yang sudah dilakukannya. Ikhlas memberikan kekuatan kepada orang yang melaksanakannya. Tanpa pamrih. Dan kalau kita menjadi mukhlis atau orang yang ikhlas maka kita menjadi musuh utama setan atau iblis.

Teman setan yang ketujuh adalah Orang yang makan harta anak yatim. Alquran Surat Alma’un (107) ayat 1-7, berikut terjemahannya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang sholat, (yaitu) Orang-orang yang lalai terhadap sholatnya, Yang berbuat ria, Dan enggan (memberikan) bantuan.

Bagaimana balasan bagi orang yang memelihara dan mengasuh anak yatim dengan baik, Rasulullah memgatakan, “Orang yang seperti ini seperti dua jari, sangat dekat dengan saya.”

Teman setan yang kedelapan adalah Orang yang meremehkan shalat. Orang yang menganggap enteng shalat ini termasuk teman setan. Misalnya, ketika menonton televisi dengan program utama sementara adzan sudah berkumandang. Saat diajak sholat ia berkata, ah, tenang saja, waktu shalat ini masih lama, sementara ini acara di TV sangat bagus. Beginilah contoh yang meremehkan shalat.

Teman setan yang kesembilan adalah Orang yang enggan membayar zakat. Padahal Rasulullah SAW bersabda, bersihkanlah harta kalian dengan membayar zakat. Artinya, zakat yang dibayarkan itu membuat rezeki dan harta kita bersih dan berkah.

Teman setan yang kesepuluh adalah Orang yang suka berandai-andai. Misalnya, seandainya saya begini dan begitu, sementara ia tidak melakukan apa-apa dan hanya melamun saja. Ini yang disukai oleh setan dan dijadikannya teman. Kita boleh bermimpi atau berharap, bahkan diperintahkan Allah untuk berharap dan meminta hanya kepadaNya dengan dibarengi dengan perbuatan yang nyata.

Setelah kita ketahui 10 teman setan, saatnya kita membahas tuntunan agar kita terselamatkan jadi jerumus setan dan tidak menjadi teman setan atau iblis. Imam Alghazali mengatakan ada empat tuntunan yang bisa membebaskannya:

Pertama, zikir kepada Allah atau mengingat Allah dengan berzikir. Orang yang berzikir selalu dimusuhi dan ditakuti setan. Sebab Allah akan menolong dan melapangkan dada kepada orang-orang yang selalu berzikir dan mengingatNya.

Kedua, tidak mendekati tempat maksiat. Mendekat saja tidak boleh apalagi melakukan dan berada pada kawasan tempat-tempat maksiat. Maka agar kita tidak menjadi teman setan, maka kita harus bisa selalu menjauhi tempat-tempat maksiat.

Ketiga, mengosongkan perut atau berpuasa. Sebab dengan berpuasa kita dilatih untuk sabar dan syukur kepada Allah. Yang keempat atau terakhir adalah selalu ingat tujuan utama iblis atau setan di dunia ini adalah mengajak manusia menjauhi jalan Allah. Semoga kita tidak menjadi teman setan.

Demikian pemaparan pada kajian kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena datangnya dari saya sendiri, sementara jika banyak kebenaran datangnya mutlak dari Allah SWT.

Disarikan dari ceramahnya KH Zainuddin MZ

Kamis, 20 September 2012

Kemenangan Perubahan Jokowi


Sebagai orang yang pernah tinggal di Jakarta, saya ingin mengomentari hasil Pilkada DKI jilid kedua dari hitungan cepat berbagai media dan lembaga survey. Bagi saya, tidak penting siapa gubernurnya, yang terpenting adalah gerakan yang nyata dari pemimpin ibukota untuk memperbaiki keadaan Jakarta yang terus memburuk. Dan mungkin banyak yang sepikiran dengan saya, bahwa perubahan penting bagi kehidupan.

Photo:  dev.main.salsil.com
Jokowi yang berhasil membangun Solo ketika menjadi walikotanya adalah modal utama dalam pemenangan Pilkada DKI kali ini. Kemenangan Jokowi tidak terlalu besar, ini tidak bisa dilepaskan dari tim sukses Fauzi Bowo dan sejumlah partai politik yang menyokongnya yang giat mengampanyekan Foke bahwa ia sudah bekerja dengan sebaik mungkin selama mengabdi menjadi pegawai di DKI Jakarta.

Hingga semalam di grup BBM saya, debat antar pendukung Foke dan Jokowi tak pernah surut. Selalu ada jargon untuk jagoan yang diusungnya. Meski saya tidak tahu apakah mereka adalah warga Jakarta yang berhak memilih. Saya sendiri hanya penikmat saja. Sebab KTP saya terdaftar di Rangkasbitung, Banten. Bahkan tiga tahun ini tinggal di Ankara, Turki. Meski begitu saya selalu mengikuti perkembangan Jakarta.

Kebutuhan Perubahan

Bagi orang-orang yang pernah menetap di Jakarta, pasti merasakan berbagai hal yang belum terselesaikan, seperti macet, banjir, keamanan dan kenyamanan. Kadang sebagian dari kita acuh tentang ini. Bahkan saking macetnya, pengendara motor naik ke trotoar. Ia lupa bahwa ia telah mengambil hak para pejalan kaki.

Di sebagian kota besar di dunia yang mirip Jakarta sudah memiliki moda transportasi publik yang memadai. Istanbul di Turki misalnya, publik diberikan kebebasan memilih transportasi apa yang akan ia gunakan untuk menuju suatu tempat. Ada bus seperti busway di Jakarta yang juga berhalte. Ada dolmus sebentuk angkot. Ada pula Metro atau kereta bawah tanah, plus tramway.

Sebenarnya Jakarta hampir memiliki itu semua. Cuma, sepertinya pemerintah Jakarta tidak memfokuskan pada transportasi publik ini. Busway misalnya, banyak warga yang beralih ke busway dan menyimpan mobil pribadinya di rumahnya. Namun ketidakdisiplinan warga dan keengganan ‘turun tangan’ pemerintah menjadikan busway tidak lagi nyaman lagi.

Bahkan, ada yang lebih menarik dari busway yaitu kereta listrik yang sekarang dinamakan Commuter Line. Banyak warga yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya menggunakan alat transportasi ini. Cobalah lihat di sejumlah parkiran stasiun kereta api, banyak mobil atau motor yang dipakir dari pagi hingga sore. Para pekerja di Jakarta yang enggan bermacet-macetan memilih meninggalkan kendaraan pribadinya di stasiun dan kemudian menggunakan Commuter Line.

Menurut saya, jika semua alat transportasi publik benar-benar diperhatikan dan diperbaiki, kenyamanan bertansportasi di Jakarta menjadi nyata. Macet memang masih ada. Tetapi paling tidak pilihan alat transportasi dan kebutuhan perjalanan yang cepat dan tepat waktu akan hadir dan bisa dinikmati. Kepedulian akan alat transportasi ini sudah ditunjukan Jokowi di Solo. Dan benar, contoh nyata bisa dipercaya.

Tumbangnya Kekuatan Parpol

Sejumlah partai politik bersatu untuk mengusung Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. Bahkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang pada pilkada DKI Jakarta 2007 adalah musuh utama Fauzi Bowo, pada pilkada putaran kedua ini merapat ke kubu Foke Nara. Ungkapan, tidak ada lawan dan kawan abadi dalam politik dan yang abadi adalah kepentingan, ini bisa dilihat dari Pilkada DKI Jakarta pada tahun 2007 dan 2012.

Saya percaya bahwa semua mesin partai politik (parpol) pengusung Foke-Nara sudah bekerja dengan sangat baik. Namun, pemilih utama pilkada adalah seluruh warga Jakarta dan bukan warga parpol. Artinya, sehebat apapun kekuatan partai, namun jika calon kurang mumpuni dan yang terpenting pesan parpol tidak sampai kepada publik, maka hasilnya tidak memuaskan.

Kemenangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama atau Jokowi-Ahok tidak terlepas dari ketokohan yang dimilikinya. Bisa dikatakan, ketokohan mengungguli kekuatan parpol. Jokowi berkali-kali mendapatkan penghargaan dari berbagai lembaga. Terakhir, sehari sebelum pencoblosan (19/9/2012) Jokowi mendapatkan penghargaan Soegeng Sarjadi Awards on Good Governance ke III dari Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG) sebagai Inspirasi Pemberdayaan Masyarakat dalam jabatannya sebagai Walikota Solo.

Kekuatan Sosial Media

Memang tidak aturan yang mengikat tentang kampanye di sosial media (sosmed). Hingga beberapa jam sebelum pencoblosan masih banyak akun yang mengajak untuk memilih salah satu calon gubernur. Bahkan sehari sebelum pencoblosan perdebatan antara kedua kubu terus memanas.

Misalnya, Ulil Absar-Abdalla pada akun @ulil sebagai pendukung Foke-Nara terus menyuarakan semua kebaikan yang ada pada Foke. Sementara Zuhairi Misrawi yang memiliki akun @zuhairimisrawi yang pendukung Jokowi tidak mau kalah dan terus mengungkapkan tentang perubahan Jakarta Baru yang diusung jagoannya.

Belum lagi akun pseudonym seperti akun @TrioMacan2000 yang selalu menyerang Jokowi dengan mengungkapkan semua kekuarangan Jokowi. Namun, TrioMacan2000 bukan tanpa lawan, sebab akun @KartikaDjoemadi selalu menangkal akan tuduhan yang ditujukan kepada Jokowi tersebut. Twitwar atau perang twit selalu terjadi pada pilkada DKI Jakarta kali ini.

Dari perang twit atau perang argumen dan berita di Facebook yang bisa kita simak, kita bisa belajar akan demokrasi yang sesungguhnya. Bahkan perang itu begitu nyata di sosial media. Siapa memilih siapa tidak lagi menjadi hal yang tabu. Bahkan, meski seseorang bukan sebagai tim sukses salah satu calon, ia dengan bebas menyuarakan dan mengajak para pengguna sosmed untuk memilih jagoannya.

Dan akhirnya Jakarta akan memiliki Gubernur Baru. Semoga Jokowi yang akan memimpin Jakarta dapat mengemban amanah dengan sebaik mungkin. 

Kamis, 13 September 2012

Perjalanan Dadakan dan Rekor

Sebelum lupa, saya ingin cerita tentang akhir pekan lalu. Belum tuntas istirahat saya Ahad (9/9/2012) pagi itu, sepulang dari Kayseri untuk tugas negara pada Sabtu sore, tiba-tiba teman saya mengirim pesan di BBM, “Den, bangun, ada tamu yang ingin ditemani ke Istanbul, udah nggak ada orang lagi, nih.” Begitu kira-kira isi pesannya.

Mata saya masih tertutup satu saat membaca BBM jam delapan pagi itu. Rasa kantuk masih menguasai alam bawah sadar. Dan tidak lama kemudian hape berdering. Dan diujung telepon suara itu menanyakan kesanggupan saya. Saya jawab singkat, baiklah. Usai mandi saya langsung meluncur ke hotel tempat para tamu itu menginap.

Tiket pesawat PP Ankara-Istanbul dalam sehari.
Saya hanya menggunanakan baju kotak-kotak, celana panjang dan sepatu kets, dengan membawa dompet dan dua hape. Satu hape batereinya sudah mau habis, satunya lagi full baterei. Jaga-jaga kalau hape yang belum sempat di-charge itu mati di tengah jalan. Tidak lupa saya bawa paspor. Paspor sebenarnya jarang saya bawa karena sudah punya ikamet sebentuk KTP. Paspor jaga-jaga kalau jadi ke Istanbul menggunakan pesawat.

Setiba di hotel saya langsung menuju restoran. Sarapan pagi. Karena lapar dan takut masuk angin jika langsung jalan, apalagi ini perjalanan jauh. Perjalanan antara dua kota besar di Turki, Ankara-Istanbul yang berjarak sekitar 400 kilometer. Jika ditempuh dengan bus bisa mencapai 6 jam perjalanan. Sementara pesawat hanya 45 menitan.

Beres sarapan, empat orang menghampiri saya. Keempat orang inilah yang akan melakukan perjalanan ke Istanbul. Mereka bertanya soal perjalanan Ankara-Istanbul pulang pergi (PP) selama satu hari. Saya bilang sama mereka, bahwa saya belum pernah melakukan perjalanan sesingkat itu. Tapi saya bisa mengaturnya.

Tanpa tiket di tangan dan tanpa perencanaan yang memadai sebelumnya, akhirnya kami berlima pagi jam 9.15 kami berangkat ke bandara. Jarak tempuh hotel – bandara mencapai 40 menitan. Tiba di bandara pukul 9.55. Di papan pengumuman jadwal penerbangan ke Istanbul ada yang pukul 10.00 dan 11.00. Hampir setiap jam ada penerbangan ke Istanbul dari Ankara.

Kami datangi loket penjualan tiket. Penjual tiket bilang, kami bisa membeli tiket jam 11.00 karena tidak mungkin mengejar pesawat jam 10.00. Yang ini oke. Masalahnya adalah tiket kembali dari Istanbul ke Ankara sudah penuh semua kecuali jam 23.00. Sementara para tamu ini harus kembali ke Ankara pukul 19.00 karena ada acara penting.

Si penjual tiket bilang, kalau dari Bandata Ataturk di Istanbul semaunya sudah penuh. Dia menyarankan untuk membeli tiket pesawat yang dari Bandara Sabiha Gokcen Istanbul. Memang ini bandara lebih jauh ketimbang Bandara Ataturk. Sebab pesawat dari Sabiha Gokcek ada yang kosong penerbangan jam 17.50. Tanpa pikir panjang kami langsung membeli tiket PP Ankara-Istanbul.

Tiba di Istanbul jam 11.50. Sebelum pintu keluar banyak agen travel yang menjajakan jasanya untuk para wisatawan. Kami mendatangi salah satu agen perjalana itu. Usai kesepakatan diambil kami menuju mobil yang sudah disediakan. Saya dan si sopir travel menyamakan persepsi dan jadwal perjalanan kami selama di Istanbul.

Agak susah menyamakan jadwal ini. Karena di hari Ahad Istanbul cukup padat. Jalan-jalan pun macet. Paling tidak dengan jadwal penerbangan kami yang pukul 17.50 itu kami harus berangkat dari tempat wisata pukul 15.30. Sementara banyak tempat yang mesti kami datangi. 

Akhirnya saya dan para tamu berembuk untuk menyisihkan tempat yang tidak terlelu penting untuk didatangi. Dan kesepakatan pun dicapai. Pak sopir hanya menunggu saja di parkir sampai hapenya berdering tanda panggilan saya.

Jam 13.00 kami tiba di pusat wisata Istanbul, yaitu di kawasan Masjid Biru, Aya Sofia dan Istana Topkapi. Pertama yang kami kunjungi adalah Aya Sofia, gedung yang pada zaman Byzantium digunakan sebagai gereja. Setelah penaklukkan Konstantinopel dan diubah menjadi Istanbul oleh Sultan Mehmet II atau Sultan Fatih pada 1453 M, Aya Sofia diubah menjadi masjid dengan ditambah empat menara.

Namun pada tahun tahun 1934 di bawah naungan Presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk, Aya Sofia berubah fungsi menjadi museum, hingga saat ini. Karena akhir pekan antrean masuk ke gedung yang berumur ribuan tahun ini sangat panjang, maka kami harus bersabar menunggu masuk. Tidak lama kami menikmati suasana di gedung yang dipenuhi simbol dua agama, Kristen dan Islam.

Selanjutnya, pukul 13.40 kami menuju Istana Topkapi. Istana ini cukup luas yaitu sekitar 700 ribu meter persegi. Sama dengan Aya Sofia, untuk masuk ke Istana ini juga harus mengantre. Karena waktu kami hanya sedikit kami hanya melihat yang paling penting saja yaitu museum kejayaan Islam.

Di museum ini kita bisa melihat janggut, ubin bekas telapak kaki dan pedang Rasulullah SAW. Selain itu ada juga tongkat Nabi Musa, pedang para sabahat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat lainnya. Yang unik adalah museum ini selama 24 jam / 7 hari ada yang mengaji Alqur'an tidak pernah putus. Ya, pastinya bergantian petugasnya.

Di museum bekas tempat tinggal para Sultan Kesultanan Turki Usmani ini kami singgah lumayan lama dari sebelumnya. Saat masuk ke istana yang dipenuhi dengan pohon tua ini kami melihat sekelompok orang yang menggunakan pakaian tradisi Usmani. Mereka berjejer kemudian berjalan menuju gerbang istana. Di depan gerbang itu mereka memainkan alat musik. Kami tidak begitu lama menikmati sajian ini.

Pukul 14.50 kami keluar gerbang Istana Topkapi dan berjalan menuju Masjid Biru. Sejatinya nama Masjid Biru adalah Masjid Sultan Ahmet. Namun para wisatawan dari Eropa menyebutnya sebagai Blue Mosque alias Masjid Biru karena hiasan dalam masjid ini banyak bercorak birunya. Pukul 15.10 kami tiba di masjid dengan pinggiran selat Bosporus ini. Tidak lama juga kami di sini. Dan sama seperti sebelumnya, kami harus mengantre untuk masuk masjid yang memiliki enam menara ini.

Setelah rangkaian jalan-jalan ini saya menelepon si sopir untuk menjemput kami dan membawa kami ke bandara Sabiha Gokcen. Dan benar jalan dari kawasan Masjid Biru menuju bandara ini cukup padat dan sesekali macet. Kami tiba di bandara pukul 17.00 dan langsung check in. Tapi sebelum boarding kami menyempatkan untuk makan. Akhirnya pesawat kami take off tepat pukul 17.50 dan tiba di Ankara pukul 18.40. Alhamdulillah selamat.

Ini perjalanan dadakan dan rekor bagi saya. Dadakan karena tanpa perencanaan dan tidak ada di benak saya sedikit pun bahwa hari itu saya harus mengantar jalan-jalan. Dan rekor pertama adalah, dalam satu hari perjalanan menggunakan pesawat PP. Kalau kata senior saya, “Anda ini sudah seperti eksekutif muda saja, pakai pesawat PP dalam sehari.”

Rekor kedua adalah, baru kali ini saya menggunakan pesawat tanpa membawa barang apapun selain yang ada di saku baju atau celana saya. Biasanya, kalau naik pesawat, ya, bawa koper, atau tas gendong minimal. Ini mah, nggak bawa apa-apa. Rekor ketiga, dalam perjalanan ini saya tidak mengeluarkan uang sedikitpun, malah dapat uang, hehehe.