Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Minggu, 12 Februari 2012

Cerita Tentang Menulis (5)


Ada satu harapan yang menggebu dan saya tidak mendapatkannya yaitu kuliah di Mesir. Tau kan kenapa Mesir? Karena guru favorit saya itu yang memperkenalkannya kepada saya. 

Pas saya mengabdi saya meminta ijin kepada ibu saya untuk melanjutkan studi saya di Mesir dengan mengikuti ujian untuk belajar ke Mesir di Jakarta. Ibu saya tiba-tiba melarang saya untuk ikut ujian itu. Dan saya pun galau.

Photo: www.blacksmile.net
Karena permintaan saya ditolak, maka saya meminta dua permintaan kepada ibu saya, pertama saya kuliah di Jakarta, kedua saya kuliah saja tanpa embel-embel mengajar di sebuah sekolah seperti kedua kakak saya, dan ibu saya menyetujuinya. 

Sebelum kuliah di Jakarta saya mengajar di sebuah MI dan MTs di Jakarta Selatan hingga saya berhenti dan saya sibuk dalam dunia perkuliahan. Saat itu saya juga belajar menulis di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang diadakan oleh forum lingkar pena (FLP)  Jakarta selama enam bulan sebelum kuliah dimulai di tahun 2003-2004.

Saya lulus di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ini jurusan pilihan saya. Karena saya suka menulis. Menulis bagi saya adalah berbagi. Di tahun pertama, saya diajak senior saya untuk masuk ke dalam majalah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. 

Nama majalahnya adalah Jeda. Di Majalah Jeda saya berkreasi. Pertama kali saya liputan untuk Majalah Jeda bersama rekan saya Tyas adalah mewawancarai pendiri FLP yaitu Helvy Tiana Rosa di kantornya di kawasan TIM. Sampai akhirnya saya menjadi Pemimpin Redaksi di Majalah Jeda itu.

Selain aktif di Majalah Jeda saya juga aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ektra kampus. Juga saya membantu rekan saya merancang sebuah proposal untuk membuat radio komunitas di fakultas dengan nama RDK FM atau Radio Dakwah dan Komunikasi. 

Saya pun setiap seminggu sekali menjadi penyiar radio di radio komunitas itu tentunya setelah pihak dekanat menyetujui proposal yang kami buat.

Waktu saya di Ciputat pun terasa cepat berlalu, karena saya aktif dimana-mana, hingga tempat tinggal saya pun adalah tempat perkumpulan atau organisasi primordial yaitu himpunan mahasiswa banten yang saya sempat menjadi ketua asrama pertama kali saat asrama baru itu selesai dibangun. 

Usai keluar kelas saya sering mengikuti rapat dari satu organisasi ke organisasi lainnya hingga larut malam dan rupanya di asrama pun masih ada rapat yang harus saya ikuti. Sempat juga aktif dan tampil dalam sebuah sanggar teater bernama sanggar tonggak.

Di kelas saya sering diperbantukan oleh dosen untuk membantunya di pusat pengkajian komunikasi dan media atau P2KM Fidkom UIN Jakarta. Setelah lulus kuliah selama tujuh semester atau 3,5 tahun saya sempat menjadi asistes dosen atau asdos sebelum akhirnya saya bekerja menjadi jurnalis di harian umum Republika.

Pas di Republika itulah saya benar-benar digembleng dalam reportase dan menulis. Mentor saya, Nasihin Masha, di Republika saat ini menjadi Pemimpin Redaksi. Hampir setiap hari saya ke kantor untuk menyerahkan tulisan saya untuk dikoreksi oleh mentor itu selama tiga bulan pertama. Begitulah akhirnya saya bisa menulis seperti sekarang ini. Dan saya ingin menjadi penulis yang bermanfaat bagi saya dan yang lainnya.

(selesai)

Cerita Tentang Menulis (4)


Guru saya di Gontor banyak memberikan ilmu pengetahuan. Salah satu guru favorit saya waktu kelas lima dan enam adalah Ustad Suharto yang kini menjadi Pengasuh Pondok Modern Gontor Putri 1 di Mantingan Ngawi. 

Begitu luasnya ilmu beliau dan saya terpukau dengan apa yang diterangkannya. Beliau mengkaji soal tafsir setiap habis solat ashar di masjid. Tapi cerita soal tafsir tidak melulu tentang hukum. Beliau bercerita tentang sejarah Bani Israel, sejarah Mesir dan sejarah dunia lainnya.

Photo: www.fcsl.edu
Efeknya saya ingin melanjutkan sekolah ke negeri Nabi Musa itu. Ya, karena beliau itu. Saya juga banyak baca literasi tentang Kairo dan Mesir kuno. Dan (lagi) khayalan saya lebih cepat melebihi perjalanan fisik saya. Pikiran saya berpetualang jika diajar oleh Ustadz Suharto.

Beliau seakan-akan mengajak kami berpetualang dan kami tidak sadar jika lonceng berbunyi tanda berakhirnya waktu baca Quran atau kajian tafsir di Pondok kami sore itu.

Usai lulus dari Gontor pada tahun 2002, saya mengabdi di Gontor 1 dan mengajar mata pelajaran sejarah dunia dan sejarah islam dalam bahasa arab. Dan saya mengajar tentang pelajaran yang saya sukai. 

Sebab pelajaran itu adalah pelajaran bercerita. Saya memang suka sejarah. Karena dengan membaca sejarah pikiran saya berpetualang dan menerka-nerka apa yang telah terjadi di masa lampau.

Di waktu bersamaan, selain mengajar saya juga sekolah atau kuliah gratis di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor dengan jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), meski sebenarnya saya tidak suka dengan jurusan ini. 

Gratis karena saya mengabdi di Gontor 1 dan Gontor 2 yang berdekatan dengan kampus ISID pusat. Salah satu mata kuliah yang saya sukai waktu di PAI ISID adalah SPI atau sejarah peradaban Islam.

Mungkin masa-masa paling sibuk bagi saya adalah waktu SD hingga kuliah di ISID. Sibuk di sini artinya sibuk dengan kegiatan yang wajib. Saat SD misalnya, pagi sampai siang saya sekolah di SD, dan sore harinya sekolah agama. 

Di Gontor apalagi hingga 24 jam waktu begitu cepat berputar. Pagi masuk kelas, sore pun begitu sampai sholat Ashar. Sehabis ashar hingga jam 5 ada waktu senggang. Di malam hari kami wajib ke kelas untuk belajar malam hingga pukul 21.30.

Bagaimana dengan pengabdian? Sama saja. Paginya mengejar di kelas, sorenya kuliah di kampus. Apalagi  ketika saya mengabdi di Gontor 2 pada enam bulan kedua. 

Di Gontor 2 selain mengajar di kelas, saya juga menjadi pengurus asrama sekaligus menjadi bagian kebersihan yang mengontrol para santri saat membersihkan pondok. Nah, kesibukan ini yang membawa saya juga, menjadi sibuk kuliah di Jakarta.

(bersambung)

Cerita Tentang Menulis (3)


Saya melanjutkan sekolah di sebuah kampung di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur pada pertangahan tahun 1996. Inginnya sih langsung masuk di Pondok Modern Darussalam Gontor, tapi karena Gontor buka pendaftarannya di bulan Syawwal yang jatuh di awal tahun waktu itu, akhirnya saya masuk Pondok Modern Ar-Risalah sekitar tujuh kilometer dari Gontor. 

Tidak lama saya sekolah di Ar-Risalah, hanya sekitar enam bukan. Selanjutanya saya sekolah di Gontor, tentu dengan ujian yang super ketat itu. Untungnya saya sudah belajar agama di sekolah agama dulu dan belajar mengaji sejak sebelum masuk SD yang diajari langsung oleh ibu saya. 
Photo: www.fanpop.com

Ujian untuk masuk Gontor diantaranya adalah berhitung, bahasa Indonesia, Imla atau dikte dalam bahasa arab, dan membaca Al-Quran, dan alhamdulilllah-nya saya suka semua pelajaran yang diujikan itu. Dan ujian pun lancar. Nomor stanbuk saya di Gontor adalah 23833.

Di pondok Gontor ada kewajiban setiap seminggu sekali untuk masuk ke perpustakaan. Jadi saya pun meminjam buku untuk dibaca di waktu senggang selain baca buku pelajaran yang buanyak itu. 

Dari sana saya juga melihat dunia lebih luas lagi. Tentang negara-negara penakluk dunia, tentang tempat-tempat peninggalan sejarah dunia dan yang lainnya. Dan saya kemudian membeli buku agenda atau diary untuk saya catat tentang keseharian saya di pondok.

Di kelas tiga saya masuk club beladiri namanya perbeda alias persatuan beladiri Darussalam. Tapi hanya setahun saya bertahan di sana. Karena dalam diri saya ada jiwa seninya yang lebih condong terhadap dunia membaca dan menulis. 

Klub selanjutnya yang saya ikuti adalah teater Islam Darussalam atau Terisda. Rupanya di dalam Terisda ada juga club naungannya yaitu Himpunan Peminat Sastra Darussalam atau Hipsadus yang kemudian di kelas lima saya menjadi ketuanya.

Setiap munggu di Hipsadus kami mengadakan diskusi tentang buku-buku sastra. Selain itu kami juga setiap hari kamis malam membuat majalah dinding untuk dipublikasikan pada Jumat pagi hingga kamis depannya. 

Dalam mading itu setiap anggota Hipsadus harus mengirimkan naskahnya, apa pun itu termasuk puisi, cerpen, cerbung atau catatan sastra lainnya. Dari sinilah saya mulai menulis, kebanyakan waktu itu yang saya tulis adalah puisi atau catatan ringan lainnya.

Di Gontor saya membaca banyak novel baik novel terbitan lama maupun novel terbaru. Bahkan saat saya mengajar, di sana saya bercerita tentang novel yang saya baca hanya untuk selingan agar tak bosan murid-murid dalam belajar. 

Saat seru-serunya cerita saya berhenti dan melanjutkan pelajaran. Dan para murid pun kemudian bertanya-tanya, ayo kita lanjutkan ceritanya, dan saya bilang, saya akan lanjutkan kalau semua murid di kelas ini memperhatikan pelajaran yang kita pelajari ini.

Apalagi alumni kami di Terisda ada beberapa nama kondang yang terkenal di Indonesia sebut saja Cak Nun atau Emha Ainun Najib dan pendiri Terisda sendiri yaitu Habib Khirzin. 

Saya akhirnya bertemu dengan Pak Habib Khirzin saat beliau bertandang ke Istanbul Turki untuk sebuah seminar. Dan kami bernostalgia tentang Terisda yang didirikannya.

(bersambung)

Cerita Tentang Menulis (2)


Membaca adalah perintah pertama ajaran agama yang tertulis di dalam kitab suci. Begitu kira-kira kesimpulan yang saya dapat ketika belajar di sekolah agama tentang ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW di gua Hiro. 

Mulai SD kelas 3 itu mungkin pertama kali kegemaran saya dalam membaca. Apalagi saat SD ibu saya berlangganan Koran setiap harinya. Saya pun ikut serta dalam memeriahkan membaca koran di rumah bersama ibu saya.
Photo: www.polaine.com

Selain banyak buku pelajaran yang menumpuk di rumah saya yang dibawa oleh bapak saya yang juga guru SD tapi bukan guru di SD saya. Bapak saya guru di SD Panancangan yang termasuk SD di kampung, beda dengan saya yang sekolah di kota karena dekat dengan alun-alun kota Rangkasbitung, hahaha. 

Dari buku-buka yang ada di rumah saya itu saya kadang membacanya di waktu senggang. Oh bukan berarti kegiatan saya pas SD hanya membaca, bermain tetap nomor satu. Hehe

Di SD dulu saya cukup terkenal. Bukan hanya karena soal juara kelas tapi juga karena ibu saya guru SD di sana dan ditambah lagi bahwa saya adalah saudara kembar. Di SD waktu itu ada dua pasang kembar. Saya dan kembaran saya Dadan Deden satu lagi di kelas lain yang seangkatan saya namanya Rina-Rani. 

Karena kami berbeda kelas dan berbeda SD, jadi kami tidak begitu dekat meski dalam satu komplek yaitu SD Komlpek Multatuli. Tetapi kadang teman-teman SD saya tetap mengejeknya dengan Rina Rani Dadan Deden. Ciyeeeh, hahaha..

Dengan juara kelas dan mendapat penghargaan saat kelulusan SD, sebenarnya saya dengan mudah masuk SMP yang paling bergengsi di Rangkasbitung. Namun, kedua orang tua saya sudah melakukan survey sebelum saya lulus dari sekolah dasar. 

Ibu saya jauh-jauh hari sudah mencari data dan informasi tentang sekolah lanjutan mana yang bagus untuk anak-anaknya. Dan waktu itu saya sebenarnya tidak banyak berpikir kemana saya akan melanjutkan, di Rangkasbitung kah? Di Jakarta kah? Atau di kota lain? Tak banyak tahu.

Dalam hati sih sebenarnya saya ingin melanjutkan di SMP di mana gebetan saya melanjutkan sekolahnya, ciyeeh (lagi) hahaha. Tetapi karena saya tidak banyak pikir, saya hanya ikut saja dengan arahan ibu saya. Ibu saya memaparkan sekolah mana yang akan saya masuki. Dengar cerita tentang sekolah itu, tentang alumninya, tentang bagaimana sistem sekolahnya, saya tertarik juga.

Apalagi tempat saya bersekolah itu berada jauh dari rumah saya. Pikiran saya mulai berpetualang. Jadi sebelum saya berpetualang ke suatu tempat, biasanya pikiran saya jauh terlabih dahulu berpetualang dengan membayangkannya. 

Dan teringat lagi tentang sungai Barito di Kalimantan dan negara Swiss yang indah itu. Walaupun saya tidak berangkat ke dua tempat itu. Sampai saat ini. Mungkin suatu saat nanti, insyaAllah. Dan petualangan dalam pikiran saya itu dimulai dengan membaca.

(Bersambung)

Cerita Tentang Menulis (1)


Tiba-tiba saya ingin cerita masa kecil saya yang bersentuhan dengan dunia tulis menulis. Kalau dulu pas bersekolah di Sekolah Dasar atau SD ada lomba membaca menulis berhitung atau calistung, saya juaranya dulu pas kelas satu dan dua. 

Kegemaran saya dulu adalah mengikuti lomba cerdas cermat di SD komplek saya atau bertandang ke SD lainnya. Tapi lupakan itu. Mari kita bercerita dengan dunia membaca dan menulis.

Photo: www.studenthacks.org
Sebenarnya buku yang pertama kali saya baca tuntas adalah buku cerita rakyat yang menceritakan soal sungai Barito di Kalimantan saat saya duduk di kelas 3 SD. Saya meminjam buku itu dari perpustakaan sekolah agama (Madrasah Ibtidaiyah) Al-Husna di Rangkasbitung. 

Waktu itu kami para pelajar sekolah agama diwajibkan bayar iuran perpustakaan sekolah. Saya berpikir, jika saya bayar dan saya tidak membaca bukunya, maka saya termasuk orang yang merugi.


Buku pertama itu saya habiskan tak beberapa lama meskipun saya pikir waktu itu buku itu termasuk tebal. Saya sengaja menyendiri di lantai dua rumah saya yang berada di atas dapur rumah saya hanya untuk menghabiskan buku itu. Selanjutnya saya pun meminjam buku lainnya untuk dibaca. 

Mulai saat itu khayalan saya tentang dunia luar mulai berkembang. Dengan membaca saya tahu tentang Kalimantan meski tidak pergi ke sana. Saya pun membandingkan sungai Barito dengan sungai Ciujung yang setiap hari saya lewati jika pergi dan pulang dari SD.


Karena saya sekolah pagi di SD dan sekolah agama di sore hari, teman saya waktu itu bertambah banyak. Apalagi di sekolah agama yang sekelas dengan saya kebanyakan lebih tua dari saya. Karena sekolah agama tidak menyaratkan usia minimal untuk calon pelajar. 

Saya masuk sekolah agama saat saya kelas 1 SD. Sementara teman-teman saya sekelas lainnya ada yang kelas 3 SD atau 4 SD bahkan ada yang kelas 1 SMP baru masuk sekolah agama.


Banyak teman, banyak pergaulan dan banyak pula ilmu yang didapat. Rekan sekalas saya, Rizki namanya,  di sekolah agama yang berbeda sekolah SD-nya mengabari saya untuk berkoresponden dengan kedutaan besar negara-negara asing di Jakarta. 

Dan saya sangat tertarik dengan ide teman saya itu. Waktu itu saya kelas 4 SD di komplek Multatuli, Rangkasbitung.


Saat itu juga saya layangkan surat korespondensi kepada kedutaan besar Swiss di Jakarta, Jl HR Rasuna Said Blok X 3/2 Jakarta 12950. Tak disangka pihak kedutaan Swiss membalas surat saya dengan mengirimkan berkas-berkas tentang negeranya. 

Guru-guru di komplek sekolah saya gempar dan bertanya-tanya, termasuk ibu saya yang juga guru kelas 1 di SD itu. SD saya adalah SD komplek Multatuli yang di dalamnya ada lima SDN. Dan akhirnya berkas itu sampai di tangan saya saat saya keluar kelas.


Saya ingin segera pulang ke rumah untuk membuka paket yang dikirimkan kedutaan Swiss itu. Saya buka dan isinya adalah sebuah peta besar dan buku besar tentang negara Swiss. 

Dari sana saya mulai mengetahui kalau Swiss bukan hanya penghasil jam yang berkualitas, tetapi juga Swiss merupakan negara yang hijau dengan perkebunan yang luas.


Lagi-lagi pikiran dan khayalan saya menerawang ke negera di benua biru itu. Selain Swiss, negara di benua Eropa yang saya tahu waktu itu adalah Belanda. Karena nama komplek sekolah saya adalah Multatuli yang lahir dan berkewarganegaraan Belanda. 

Nama ‘Multatuli’ di kota saya menjadi nama jalan protokol juga menjadi nama sebuah komlpek SD yang berada di jalan protokol itu. Meski sampai saat ini Multatuli masih menjadi buah bibir apakah dia pahlawan atau penjahat saat berkuasa di Rangkasbitung Lebak Banten itu.


(bersambung)

Jumat, 10 Februari 2012

Sarapan Menemen dan Sucuklu Yumurta


Saat senggang saya kadang menginap di rumah teman yang sekelas dengan saya untuk belajar bersama atau berdiskusi. Zamirbek namanya. Ia berasal dari Kirgistan. Tentu makanan yang disajikan di rumahnya makanan khas Turki. Ia sudah cukup lama tinggal di sini sejak 2003 lalu. Jika berada di rumahnya, saya suka membantu dia memasak untuk makan malam atau sarapan pagi.

Ada satu makanan khas Turki yang paling saya suka untuk sarapan pagi yaitu menemen. Selain mudah memasaknya, menemen ini juga sangat digemari para penyantapnya. Bahan utama menemen adalah telur ayam yang dicampur dengan potongan tomat dan bawang merah atau bawang bombay.

Menemen. Photo: www.pressturk.com

Selain bahan pokok telur ayam, tomat dan bawang, bahan lainnya adalah paprika, lada dan garam. Untuk memasaknya, kita bisa menggunakan minyak kelapa atau mentega. Setelah minyak panas kita masukan irisan tomat dan irisan bawang merah atau bombay. Sedikit diaduk-aduk juga boleh. Jika tumisan tomat dan bawang sudah matang, baru kita masukan telur ayam. Tuangkan garam dan lada.

Saat memasak menemen, sebaiknya api untuk memasak menemen dikecilkan saat wajan sudah panas. Sebelum matang, tomat, bawang dan telur itu diaduk dengan bumbu yang sudah dituang. Jika sudah matang, angkat wajan dan tuangkan menemen ke piring. Namun, biasanya menemen yang kami makan disajikan di atas wajan itu. Dan menemen pun siap untuk disantap.

Sucuklu Yumurta
Sucuklu Yumurta

Ada yang hampir mirip dengan menemen yaitu sucuklu yumurta atau telur dengan campuran sucuk. Mirip karena sama-sama berbahan pokok telur. Sucuk adalah sebentuk sosis yang bentuknya lebih besar dua atau tiga kali lipat dari sosis. Sucuk terbuat dari daging sapi dan kambing yang digiling dengan bumbu bawang putih dan jinten.

Memasak sucuklu yumurta lebih mudah ketimbang menemen. Untuk memasak sucuklu yumurta kita hanya butuh telur, sucuk, garam dan merica. Cara memasaknya adalah dengan memanaskan wajan dan kita tuangkan minyak kelapa atau mentega. Setelah minyak kelapa panas kita tuangkan telur sesuka kita, boleh dua, tiga atau lebih, sesuai dengan kebutuhan.
Sucuk. Photo: www.acayipbilog.com
Setelah telur setengah matang tanpa diaduk kita tuangkan sucuk yang sudah diiris kecil-kecil. Banyaknya sucuk juga tergantung selera masing-masing. Setelah itu kita berikan garam di atasnya juga ditambah merica.

Jika sudah matang, biasanya telur yang dimasak untuk yumurta sucuklu setengah matang atau 80 % matang. Kita angkat dan kita tuangkan ke atas piring yang sudah disediakan. Seperti halnya menemen, bagai kami pelajar di sini, yumurta sucuklu juga biasanya dihidangkan di atas wajannya.

Roti alias Ekmek. Photo: www.iyiekmek.com
Kedua makanan ini baik menemen maupun sucuklu yumurta biasanya dihidangkan saat sarapan pagi. Meski terkadang ada juga yang memasaknya untuk makan malam. Ohya, kedua makanan ini disantap dengan roti alias ekmek. Bukan dengan nasi. Bagi saya, jika ekmek baru keluar dari pabrik dan masih hangat, sangat nikmat jika dimakan di pagi hari dengan menemen atau sucuklu yumurta.

Ridvan (baca: Ridwan-karena dalam alphabet bahasa Turki tidak ada huruf ‘w’, dan huruf ‘v’ dibaca ‘w’-) teman sekamar saya mengatakan dirinya lebih suka menemen ketimbang sucuklu yumurta. Begitu pun saya. Karena rasa menemen lebih meriah ketimbang sucuklu yumurta. Anda ingin mencoba? Silakan berkreasi di akhir pekan ini. 

Selasa, 07 Februari 2012

Puisi untuk Ayah

Ayah..
Sebagai lelaki engkau ajarkan kami tentang diam
Sebab engkau tahu diam itu bukan soal bungkam
Diam bukan soal nerima apa adanya
Diam juga bukan soal tidak berbuat apa-apa

Ayah..
Bagimu diam adalah sebentuk kesabaran
Seperti sabarnya para manusia pilihan Tuhan
Diam adalah sebentuk penenangan untuk sekitar
Diam juga adalah alasan engkau untuk pahami apa yang terjadi

Ayah..
Memang dalam diam terdapat sejuta cara dapatkan hikmah
Dalam diam kita dapatkan kekuatan
Dalam diam semua cinta terekam
Dalam diam doa pun terpanjat

Ayah..
Bagimu diam bukan tidak bicara
Diam adalah mencari waktu yang tepat
Untuk sampaikan kata-kata yg tepat di saat yang tepat
Agar tak ada yang salah paham

Ayah..
Sebagai pemimpin keluarga
Engkau ajarkan kami tentang arti tanggungjawab dan kewajiban
Engkau ajarkan kami cara berjuang
Engkau ajarkan kami pantang menyerah hadapi setiap ujian

Ayah..
Dalam untaian kata-kata yang hampa ini
Sebenarnya kurindu padamu
Dan sungguh ingin bertemu
Namun apalah daya, rindu ini hanya bisa kupendam,

Ayah..
Aku selalu berdoa pada Tuhan
Dalam setiap saat
Agar engkau selalu dalam lindunganNya
Selalu diberi kesehatan dan segala kebaikan, amin ya rabbal alamin..






Ankara, 07 Februari 2012

Senin, 06 Februari 2012

Bershalawatlah..


Oleh Deden Mauli Darajat
(Disampaikan pada pengkajian Mahasiswa di Ankara, Ahad 5 Februari 2012)

Manusia yang paling sempurna telah dilahirkan dari rahim Siti Aminah. Ayahnya Abdullah telah meninggal dunia saat masih berumur dua bulan dalam kandungan ibunya. Karena istimewa, bumi pun dalam keadaan istimewa, api abadi di kerajaan persia yang disembah umat Majusi tiba-tiba padam saat kelahiran orang mulia itu. Bukan itu saja, pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah yang akan menghancurkan ka’bah pun dihantam baru kerikil yang dilemparkan oleh burung ababil.

Ya, manusia sempurna itu adalah Muhammad shallallau alaihi wassalam (SAW). Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Kelahirannya sudah tertulis dalam kitab-kitab para Nabi sebelumnya. Kehadirannya pun sudah ditunggu umat manusia saat itu. Berbagai pertikaian antar suku di Mekkah semakin menjadi. Perbudakan merajalela. Pembunuhan bayi perempuan yang tidak diinginkan dengan menguburnya hidup-hidup sudah menjadi budaya. Ia hadir sebagai cahaya dalam kegelapan.

Kehidupan Muhammad memang sangat sederhana. Ibunya meninggal saat usianya baru enam tahun. Mengapa Muhammad kemudian bisa bertahan dan menjadi orang yang mulia segajad raya? Bahkan, Michael H Hart dalam bukunya 100 orang yang paling berpengaruh menempatkan Muhammad sebagai orang pertama yang paling berpengaruh di dunia ini. Mungkin jawabannya adalah Allah SWT ingin mendidik langsung Muhammad SAW, melalui berbagai cara termasuk melalui Malaikat Jibril.

Kesempurnaan Muhammad SAW bukan terletak pada kekayaannya, sebab kekayaan adalah bayangan, namun kesempurnaannya terletak pada akhlak yang mulia, karena akhlak adalah abadi. Pendekatan kemanusiaan dengan menampilkan diri sebagai contoh teladan dengan niat ikhlas inilah yang menempel dalam benak memori umat manusia. Kita atau saya pasti kesusahan untuk menyelaraskan antara hati, pikiran dan pengejawantahan dalam perbuatan. Tapi tidak dengan Muhammmad SAW.

Saking jujurnya, Siti Khadijah, saudagar kaya yang cantik, pintar dan terpandang mau berkeluarga dengan Muhammad yang saat itu tidak memiliki kekayaan dan hanya seorang penggembala kambing. Semua manusia akan memandang tinggi kepada orang yang memiliki akhlak mulia. Dari manapun asalnya. Namun, Muhammad memiliki nasab yang jelas dan terhormat meski tidak kaya. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa sesungguhnya Muhammad Rasulullah SAW diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Dalam surat Al-Ahzab (33:56) dikatakan bahwa: Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya. Ayat ini begitu jelas bagaimana kemuliaan Muhammad SAW, dimana Allah dan para MalaikatNya saja bershalawat kepada Nabi akhir zaman itu. Dalam sebuah riwayat hadits juga dikatakan bahwa: Orang yang paling bakhil atau pelit adalah orang yang jika disebut nama Muhammad SAW tapi dia enggan bershalawat kepadanya. Maka, mari kita perbanyak bershalawat. Wallahu ‘alam bishshawab.

Sabtu, 04 Februari 2012

Teh, Tea, Cay, dan Say


Pernah suatu hari saya meminum teh lebih dari 10 gelas dalam sehari. Atau di hari itu, sesudah bangun tidur dan sebelum tidur minuman saya adalah teh. Teh atau Cay dalam bahasa Turki memang minuman yang sangat populer di semenanjung Anatolia ini. Hampir di setiap dapur milik orang Turki memiliki teko khusus untuk memasak teh.

Beberapa waktu lalu saya menginap di rumah teman saya, Selahattin, di Konya. Pas sarapan pagi dengan makanan khas Turki, seperti menemen, roti, buah zaytun, cokelat dan lain sebagainya (mungkin nanti kita bahas soal kuliner Turki lainnya yah, insya Allah) minumannya adalah teh hangat. Itu saat musim dingin. Jadi, pas lah kalau dingin-dingin kita minum teh hangat.

Çay
Tapi, pas makan siang bersama juga minumannya adalah teh panas. Hingga makan malam bersama keluarga teman saya itu tetap saja minumannya adalah teh. Meski terkadang mereka juga menyediakan minuman lainnya, jus atau minuman bersoda. Intinya, (bukan ngiklan yah) apapun makanannya minumnya cay.

Teh di Turki ini sudah menjadi budaya. Di pelosok Turki atau di masyarakat pedesaan meminum teh, begitu juga di perkotaan dan di kantor-kantor pemerintahan serta di gedung parlemen, semuanya minum teh tanpa memandang status sosial. Tua, muda, miskin, kaya, lelaki, perempuan, semuanya minum teh. Mungkin juga teh menjadi simbol keegaliteran di sini. Dalam jamuan resmi, biasanya teh disajikan di akhir jamuan makanan.

Necmettin, misalnya, ia mengaku suka minum teh karena selain menjadi kebiasaan teh juga dapat menenangkan pikirannya. "Saya sangat menikmatinya," ungkapnya. Ia mengaku dari kecil hingga kini usianya 57 tahun hampir setiap hari meminum teh. Tradisi ini sangat membudaya di Turki.

Bahkan, saat saudara saya bertugas di pesawat jemaah haji asal Turki, ia mengatakan, hampir semua penumpang pesawat itu memesan teh. Berbeda dengan jemaah haji dari Maroko yang kebanyakan memesan kopi saat perjalanan dari Maroko ke Arab Saudi atau sebaliknya.

Teh yang biasa diminum di Turki adalah jenis teh hitam. Sangat pahit menurut saya. Maka saya pasti mencampurnya dengan gula. Dosen saya yang baik selalu memesan teh untuk para mahasiswanya saat belajar di dalam kelas. Namun, dosen kami itu jarang mencampur air tehnya dengan gula. Pahit banget kali, yah, hehe.

Cara memasak teh di Turki menggunakan teko tersendiri. Teko untuk membuat minuman teh adalah dengan menggunakan dua teko yang ditumpuk. Teko yang pertama di isi air putih dan yang kedua diisi air dan jika sudah mendidik maka dimasukkanlah teh hitam. Biasanya nama teh yang digunakan adalah caykur.

Cara menuangkannya adalah yang pertama air teh dituangkan di dalam gelas gecil berbentuk bunga tulip sebanyak setengah gelas, kemudian setangah gelasnya lagi dituangkanlah air putih. Gelas berbentuk bunga tulip ini berguna agar ujung gelas itu melengkung dan tangan kita tidak kepanasan saat teh akan diseruput.
Teko khusus untuk membuat çay

Jika ingin pahit maka air tehnya lebih banyak dari air putih yang dicampur. Juga sebaliknya, jika ingin tidak terlalu pahit maka air tehnya sedikit dan air putihnya yang banyak. Meminum teh di Turki mesti panas, karena jika sudah mendingin, orang yang memberikan minuman teh akan mengambilnya dan menggantikannya dengan teh yang panas atau hangat.

Bicara soal teh, saya sebenarnya lebih suka teh tubruk yang diseduh langsung daunnya ketimbang teh celup yang dibungkus dengan kertas. Aroma teh tubruk yang wangi ini yang saya suka.

Dulu, pas saya kecil, ibu saya setiap hari pasti menyediakan teh di rumah. Setiap selesai memasak air panas, ibu saya menuangkan sebagian air panas ke termos, sebagian lainnya ke teko untuk diseduh menjadi air teh. Jadi ada dua teko di dapur, pertama teko berisi air putih dan kedua teko berisi teh.

Kisah yang paling banyak ditulis tentang asal usul teh adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung yang hidup sekitar tahun 2737 sebelum Masehi. Cerita penemuan teh oleh sang Kaisar juga sangat tidak disengaja ketika daun teh pertama dari tanaman teh yang ada di kebun Kaisar Shen Nung jatuh kedalam air panas yang sedang dimasak oleh Sang Kaisar. (www.sosro.com)

Ketika daun teh tersebut terseduh dengan air panas, aroma sedap langsung muncul membuat Sang Kaisar sangat tergoda untuk meminumnya. Bukan hanya aromanya yang sedap, rasa sepat dan pahit yang ditimbulkan oleh daun teh juga sangat disukai oleh Sang Kaisar karena dipercaya dapat membuat tubuh lebih segar dan menurut penelitian Kaisar Shen Nung, minuman teh dapat menyembuhkan beberapa penyakit.

Teh dalam berbagai bahasa di dunia ini sangat mirip kalau memang tidak bisa dikatakan sama. Misalnya, teh dalam bahasa Inggris adalah tea, dalam bahasa Turki cay yang sangat dekat dengan bahasa Arab yaitu Say. Mari kita simak Teh dalam berbagai bahasa yang ditulis oleh Prof. Google:

Aksara hanzi untuk teh adalah 茶, tapi diucapkan berbeda-beda dalam berbagai dialek bahasa Tionghoa. Penutur bahasa Hokkien asal Xiamen menyebutnya sebagai te, sedangkan penutur bahasa Kantonis di Guangzhou dan Hong Kong menyebutnya sebagai cha. Penutur dialek Wu di Shanghai dan sekitarnya menyebutnya sebagai zoo.

Bahasa yang menyebut "teh" mengikuti sebutan te menurut bahasa Hokkien: bahasa Afrikaans (tee), bahasa Armenia, bahasa Katalan (te), bahasa Denmark (te), bahasa Belanda (thee), bahasa Inggris (tea), bahasa Esperanto (teo), bahasa Estonia (tee), bahasa Faroe (te), bahasa Finlandia (tee), bahasa Perancis (thé), bahasa Frisia (tee), bahasa Galicia (té), bahasa Jerman (Tee), bahasa Ibrani (תה, /te/ or /tei/), bahasa Hongaria (tea), bahasa Islandia (te), bahasa Irlandia (tae), bahasa Italia (tè), bahasa Latin (thea), bahasa Latvia (tēja), bahasa Melayu (teh), bahasa Norwegia (te), bahasa Polandia (herbata dari bahasa Latin herba thea), bahasa Gaelik-Skotlandia (tì, teatha), bahasa Sinhala, bahasa Spanyol (té), bahasa Swedia (te), bahasa Tamil (thè), bahasa Wales (te), and bahasa Yiddish (טיי, /tei/).

Bahasa yang menyebut "teh" mengikuti sebutan cha atau chai: bahasa Albania (çaj), bahasa Arab (شَاي), bahasa Bengali (চা), bahasa Bosnia (čaj), bahasa Bulgaria (чай), bahasa Kapampangan (cha), bahasa Cebuano (tsa), bahasa Kroasia (čaj), Bahasa Ceko (čaj), bahasa Yunani (τσάι), bahasa Hindi (चाय), bahasa Inggris Britania (char, chai)*, bahasa Jepang (茶, ちゃ, cha), bahasa Korea (차), bahasa Makedonia (čaj), bahasa Malayalam, bahasa Nepal (chai), bahasa Persia (چاى), bahasa Punjabi (ਚਾਹ), bahasa Portugis (chá), bahasa Rumania (ceai), bahasa Rusia, (чай, chai), bahasa Serbia (чај), bahasa Slowakia (čaj), bahasa Slovenia (čaj), bahasa Swahili (chai), bahasa Tagalog (tsaa), bahasa Thai (ชา), bahasa Tibet (ja), bahasa Turki (çay), Bahasa Ukraina (чай), bahasa Urdu (چاى) dan bahasa Vietnam (trà atau chè).

Pertanyaannya adalah sudahkah anda minum teh hari ini?

Rabu, 01 Februari 2012

Mencari Mentari


Seperti mentari
Selalu dinanti
Kala musim dingin
Menari-nari

Pun dengan cinta
Semua butuh padanya
Langkah pencarian
Tak terhentikan

ku mencari mentari
Yang sejukan hati
Yang datang tiap hari
Meski hanya di mimpi

Alam butuh mentari
Biar terus lestari
Aku pun butuh bidadari
Agar hidup berseri

Kita lahir dan hadir di bumi
Pun berakhir dengan sendiri
Namun Tuhan berkati hati
Untuk kita nikmati

Semua tak ada arti
Jika tak ada cinta di hati
Untuk berbagi
Dengan engkau bidadari

Ankara, 31 Januari 2012 pkl 02.01 (GMT+2)

Senin, 30 Januari 2012

Sajak Merindu

Tahukah engkau
Aku memupuk rindu 
Di tiap malam 
Berteman kelam


Kadang salju 
Ikut merindu
Rasakan dingin
Berikut angin


Kurasa getaran cinta
Tak akan terbatas 
Oleh lautan samudera
Pun jarak nan luas


Kalau kau tak rasakan
Rindu yang terkungkung
Kuingin kau tengadahkan
Muka ke langit tak berujung


Pandangi bintang
Bersama bulan
Yang datang
Selalu bersamaan


Saat ragu menderu hatimu
Akankan kau takluk olehnya
Atau kau taklukan rasamu
Agar rindu tetap menyala


Inginku kau jua merindu
Agar tak ada yang palsu
Hingga semua terkuak
Dan tak ada suara yang soak


Sebab, harapan adalah keberanian
Kesabaran adalah jawaban
Penantian adalah kesetiaan
Dan, pertemuan adalah kemenangan


Ankara, Jumat Bersalju, 27 Jan 2012

Rabu, 25 Januari 2012

Mari Berhimpun!


Pagi-pagi jalan masih putih tertutup salju. Mobil pembersih belum menyapu salju yang baru turun semalam sebelumnya. Kami turun dari bus dan sekelompok pelajar yang baru datang dari Istanbul juga turun dari bus di belakang kami. Karena wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) berada di dataran tinggi, beberapa teman kami ingin menggunakan taksi.

Saat  taksi datang dan kami duduk di dalamnya, si pengemudi taksi bertanya, mau kemana kalian, kami menjawab mau ke gedung di atas sana yang ada bendera merah putihnya. Oh, ungkap sopir taksi, mobil saya tidak bisa meluncur ke sana, silakan kalian turun dan jalan kaki saja ke atas sana. Kami pun terpaksa berjalan di atas salju tebal dengan jalan yang menanjak.

Ahad, 22 Januari 2012, kemarin, sekitar 50 perwakilan pelajar Indonesia di berbagai wilayah di Turki berdatangan ke Ankara untuk menghadiri musyawarah tahunan atau kemarin dinobatkan menjadi musyawarah luar biasa Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Turki. Para pelajar dari luar kota itu ada yang menggunakan bus, kereta api hingga pesawat terbang untuk menuju Ankara. Mereka datang dengan biaya sendiri. Sungguh luar biasa semangatnya.

Meski musim dingin dan hujan salju di Ankara tak ada hentinya, namun kedatangan saudara seperjuangan dari berbagai daerah mampu menghangatkan keadaan kami. Canda, tawa, serius, hangat, sapaan, ketukan, pelukan, sindiran, sanggahan menyatu dalam satu waktu bersama hidangan khas Indonesia yang disajikan dalam sehari yang tak pernah berhenti, mulai sop buntut, bakso, mie goreng hingga bubur kacang ijo dan kacang hitam.

Sebenarnya acara itu direncakan selesai pukul 17 sore di saat adzan maghrib berkumandang waktu Ankara. Tetapi, ada beberapa hal yang masih alot untuk disepakati bersama dan akhirnya musyawarah itu berakhir pukul 23.00 (GMT + 2). Meski begitu, tampak dari wajah semua pelajar senang dengan acara yang telah dilaksanakan. Sebagian dari pelajar langsung kembali ke kotanya masing-masing, ada juga yang masih menetap beberapa hari di Ankara.


Acara seperti ini tidak asing bagi saya. Sejak dari KMI atau SMA dulu, saya suka berhimpun atau berorganisasi. Bahkan, pas di Ciputat semakin menjadi. Berbagai organisasi saya ikuti. Ini sebenarnya hanya soal pilihan. Saya memilih untuk menyibukkan diri di beberapa organisasi saat di Ciputat. Bukan tanpa sebab. Kita mungkin masih ingat kata-kata Sayyidina Ali RA, kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir. Jadi, mari kita berhimpun!


Sabtu, 21 Januari 2012

Jembatan untuk Bersekolah di Lebak

Sedikit emosional catatan kali ini. Betapa tidak, jembatan yang rusak namun tetap dipakai menyeberang oleh anak-anak sekolah itu kemudian diphoto dan diberitakan oleh media Inggris Daily Mail. Bukan cuma soal pemberitaan itu, namun jembatan itu memang sudah lama ada dengan kondisi yang tidak baik. Rupanya jembatan itu tidak berubah sejak dulu hingga bertambah rusak saat ini. Entah mengapa.

Saat menjadi mahasiswa di Jakarta, kadang seminggu sekali saya pulang kampung ke Rangkasbitung, Lebak, Banten. Menggunakan kereta api langsam Kota-Rangkasbitung saya kembali ke kota kelahiran itu selama 2 jam perjalanan. Namun, saat bekerja di Jakarta saya terkadang menggunakan bus dari Jakarta ke Rangkasbitung. Tidak ada yang nyaman sebenarnya saat di perjalanan, naik kereta pasti penuh sesak, sementara naik bus juga jalannya tidak bagus alias hancur tak terurus.

Di sela liburan kuliah atau bekerja itu saya kadang menemani ibu saya ke sekolah yang saat itu menjadi kepala sekolah di SDN Sangiang Tanjung 02, Kecamatan Kalang Anyar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Untuk menuju sekolah dari rumah saya yang berjarak sekitar 5 kilo meter itu, kami menggunakan angkutan kota (angkot). Setiba di sana kami tidak bisa langsung menuju sekolah, karena kami mesti menyeberang sungai Ciberang.

Untuk menyeberang sungai itu ada beberapa cara. Ada yang menggunakan jembatan, ada juga yang menggunakan perahu kecil. Menggunakan jembatan yang sedikit dan jaraknya jauh memang bukan pilihan utama. Akhirnya kebanyakan guru dan murid yang akan menuju ke sekolah itu menggunakan perahu kecil yang digerek menggunakan tali tambang yang tersambung dari ujung seberang sungai ke seberang.

Kami memberikan ongkos untuk sekali menyeberang kepada pengemudi perahu kecil itu. Kadang jika tidak ada yang menjaga perahu kecil maka para muridlah yang menarik kendaraan bertenaga manusia itu saat para guru akan menyeberang, baik di pagi hari maupun di siang hari. Namun, penggunaan perahu kecil ini terbatas jika air di sungai itu meluap. Apalagi jika banjir datang. Kadang jam sekolah diundur dari biasanya karena harus menunggu guru yang datang terlambat karena harus putar arah menuju sekolahnya.

Kadang saudara kembar saya yang mengantar ibu kami ke sekolah dengan motor melintasi jembatan yang pas-pasan untuk dilewati sebuah kendaraan roda dua. Ada beberapa jembatan penghubung di sungai Ciberang itu. Namun, kebanyakan jembatan itu sudah tidak layak lagi digunakan, banyak di tengah-tengahnya bolong. Artinya sudah tidak nyaman dan berbahaya jika digunakan. Itu dulu pas saya mahasiswa di Jakarta sekitar tahun 2005-2007. Eh, rupanya saat saya jadi mahasiswa di Ankara, Turkey pun masih seperti itu, dan saya tahunya dari berita di Inggris itu.

Pagi tadi saat saya mengecek email kiriman dari teman saya mahasiswa di Belanda, bahwa media di Inggris menerbitkan photo bergambar siswa SD dan SMP menyeberangi jembatan yang rusak untuk bersekolah. Saat saya baca keterangan photo itu, ternyata daerah itu adalah daerah saya di Lebak Banten. Kami pun kemudian berdiskusi, apa yang bisa kami perbuat untuk menyelamatkan aset bangsa itu. Sebab, mereka masih semangat untuk belajar meski melintasi jembatan yang tak layak pakai alias rusak.
Sebenarnya, kabupaten Lebak, Banten tidaklah jauh dari kantor pusat pemerintahan Republik Indonesia di Jakarta. Jarak antara Jakarta dan Kabupaten Lebak sekitar 150 kilometer. Artinya  tidak begitu jauh. Namun kebijakan di Jakarta tidak begitu dirasakan oleh masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Ingat, yang dekat saja seperti ini bagaimana dengan bagian Indonesia lainnya yang berada di ujung sana. Atau juga bagaimana kebijakan pemerintah daerah di Kabupaten Lebak atau Provinsi Banten yang tak menyentuh akar rumput? Pertanyaan dasarnya adalah, mengapa ini semua bisa terjadi?

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kemudahan bagi para pelajar yang sedang menuntut ilmu dan memberikan kesadaran kepada para pemimpin kami untuk lebih memikirkan kebutuhan dasar masyarakatnya. Semoga!


Kamis, 05 Januari 2012

Sombong, Penyakit Hati


(Disampaikan pada kajian Ibu-ibu DWP KBRI Ankara, Rabu, 4 Januari 2012)

Oleh Deden Mauli Darajat


Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Berbeda dengan makhluk yang lainnya yang hanya memiliki jasad, ruh, dan naluri, manusia diberi hal yang paling berharga di dunia ini yaitu hati dan pikiran.

Namun pada hakikatnya Allah hanya memandang manusia dari hatinya. Jika hatinya bersih semua akan baik dan  semua orang bisa merasakannya. Pun kebalikannya, hati kotor bisa juga dirasakan oleh orang di sekitarnya. Hati yang kotor adalah hati yang sakit. Penyakit hati itu di antaranya adalah sombong. Pada kajian kali ini kita akan membahas tentang sombong.

Baiklah, kita mulai dengan sebuah kisah dalam surat Al-Qasas (28) ayat 76-82. Mungkin kita tahu asal muasal istilah harta karun atau harta qarun. Alkisah, Qarun adalah orang kaya sejagad waktu itu. Qarun termasuk kaum Nabi Musa AS. Juga dikatakan bahwa Qarun adalah anak dari pamannya Musa AS.

Qarun orang yang diberi kekayaan oleh Allah itu ingkar untuk bersyukur. Malah ia berlaku zalim terhadap orang-orang di sekitarnya. Gambaran kekayaan Qarun adalah kunci-kunci gudang kekayaannya itu tidak sanggup dibawa oleh orang yang paling kuat sekalipun.

Dan Qarun dengan bangga mengatakan bahwa kekayaan yang dimilikinya itu disebabkan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Kemudian ia keluar dan memamerkan kekayaan terhadap kaumnya. Orang-orang yang cinta akan dunia mengatakan bahwa semoga kami dapat seperti Qarun yang memiliki kekayaan yang banyak, dan sungguh ia beruntung.

Tetapi orang yang dianugerahi ilmu mengatakan bahwa celakalah wahai kamu, karena pahala lebih baik bagi orang yang beriman dan bersabar. Karena kesombongan Qarun, Allah membenamkan Qarun dan kekayaannya ke dalam bumi. Dan tidak ada yang dapat menolongnya seorangpun.

Orang yang dulu mengatakan ingin seperti Qarun tersadar bahwa kekayaan dan rejeki itu datangnya hanya dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Begitulah cerita kesombongan di zaman lalu yang menjadi pelajaran bagi kita semua. Hingga kita membuat istilah harta karun untuk barang-barang yang kita temui di dalam bumi.

Sekarang apa itu sombong? Menurut Rasulullah SAW dalam haditsnya mengatakan bahwa sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Contoh menolak kebenaran adalah kisah Qarun di atas.

Sombong bisa dibedakan menjadi dua, yaitu sombong lahir dan sombong batin. Secara lahir sombong ini mudah dilihat dari gerak-gerik dan perkataan seseorang. Sementara sombong batin ini susah dideteksi karena syetan dan iblis masuk ke hati manusia secara halus dan diam-diam.

Sementara macam-macam sombong itu ada lima macam: (1) Sombong karena keturunan/status sosial, (2) sombong karena kekayaan, (3) sombong karena ketampanan/kecantikan (4) sombong karena ilmu pengetahuan, dan (5) sombong karena amal ibadah yang telah dilakukan.

Sombong karena status sosial ini mudah terdeteksi. Kita yang memiliki status sosial, misalnya, dengan mudah memandang orang yang lebih rendah dari status kita. Ini termasuk sombong secara lahiriyah. Begitu pun sombong karena kekayaan, kita dapat melihat dari gerak-geriknya karena mudah terlihat.

Sombong karena ketampanan/kecantikan ini yang kadang mengalihkan kita dari kebersyukuran kepada Allah. Kita dengan cepat bangga saat melihat orang yang kurang sempurna secara fisik dan dengan mudah menghinanya tanpa kita sadari bahwa orang tersebut telah kita tersakiti dengan tindakan atau perkataan kita. Ini juga termasuk sombong yang lahir.

Dua yang terakhir ini yang susah terdeteksi karena keduanya adalah sombong secara batin dan susah terdeteksinya. Misalnya, kita yang sudah menempuh pendidikan S1, memandang rendah orang yang tidak melanjutkan sekolahnya di universitas atau perguruan tinggi. Padahal itu semua sudah ditentukan oleh Allah.

Sementara yang terakhir adalah sombong karena amal perbuatan yang kita nilai sangat berharga. Padahal belum tentu di mata Allah. Kita yang mengerjakan kebaikan dan kebajikan, misalnya, memandang tidak berharga orang yang tidak melakukannya. Dan bahkan kita sering mengungkapkannya kepada orang-orang. Ini yang paling susah terdeteksi. Dan ini adanya dalam hati.

Mengapa harus ada kata hari-hati dengan hati? Karena hati itu tidak menetap, kadang naik kadang turun. Hati dalam bahasa arab adalah qalb, asal katanya adalah qallaba yuqallibu, artinya membalik-balikan. Kadang taat kadang tidak. Maka kita harus berusaha sekuat tenaga agar tetap taat dengan berdoa pada Allah di setiap waktu. Juga untuk itu kita perlu memperbanyak istighfar. Astaghfirullahaladzim.

Mengapa manusia tidak boleh sombong? karena kesombongan hanya milik Allah Al-Mutakabbir. Kita manusia tercipta hanya dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Dan kesombongan ini akan menjadi penghalang manusia untuk masuk surga, karena orang-orang yang sombong tempatnya adalah di neraka. Naudzubillah.

Demikian pemaparan singkat tentang sombong sebagai penyakit hati. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada kesalahan karena itu datangnya dari diri saya yang fakir. Dan jika terdapat kebenaran itu mutlak datangnya dari Allah SWT, Sang pemilik kebenaran. Wallahu a’lam bishshawab.