Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Rabu, 21 Desember 2011

Kejutan!

Dulu pas saya kecil baik pas di sekolah dasar ataupun semasa balita, kesibukan saya adalah menghadiri undangan ulang tahun teman yang merayakannya. Kami selalu membawa kado, apa pun isinya, seperti sabun, odol, atau mainan  anak-anak. 

Tapi sayangnya, saya tak pernah merayakan dengan mengundang teman-teman saya. Tak mengerti apa alasan orangtua saya untuk hal itu. Paling banter ibu saya memasak nasi uduk kumplit dan membagikannya kepada tetangga, satu persatu, sembari mengetuk hati mereka untuk mendoakan kami yang ulang tahun.

Ulang tahun sejatinya adalah perayaan atas kehadiran kita pertama kali di dunia ini dari rahim ibu kita. Semua orang pasti hafal tanggal lahirnya. Zaman sekarang yang canggih ini, orangtua yang melahirkan anak langsung membuat akta kelahirannya. 

Zaman dulu, kebiasaan orang tua kita adalah menuliskan tanggal-tanggal bersejarah, termasuk hari ulang tahun, di telinga pintu lemari. Sialnya, kalau rumah itu pindah dan lemari ditinggalkan atau kebakaran maka data-data yang ditulis di lemari itu hilang.

Apalagi dengan adanya sosial media (sosmed) semisal facebook, twitter, google+, blog dan yang lainnya, kita dengan mudah akan mengetahui kapan seseorang memperingati ulang tahunnya. 

Bahkan, orang yang baru kita kenal di sosmed itu juga mengucapkan selamat pada kita. Atau kita dengan tiba-tiba diingatkan oleh akun e-mail kita bahwa salah satu teman kita hari itu hari ulang tahunnya.

Pada hakikatnya ulang tahun adalah peringatan dari Tuhan untuk kita agar kita bertambah bersyukur atas nikmat yang telah diberikanNya. Di hari ulang tahun juga kita disadarkan untuk mereflesikan apa yang telah kita lakukan. 

Apa yang telah kita hasilkan demi kemaslahatan, paling tidak kemaslahatan diri sendiri, syukur-syukur untuk lingkungan kita. Sebab, kata pepatah, orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat bagi yang lainnya.

Saat kita ditimpa musibah atau cobaan misalnya, kita dengan mudah mengutuk diri kita atau lingkungan kita, bahkan tak jarang mengutuk Tuhan. Tapi sebaliknya, kalau kita menerima rejeki atau kebahagiaan kita susah untuk bersyukur. 

Padahal setiap detik adalah rejeki yang diberikan Tuhan kepada kita. Tapi kita tidak sadar. Kita sadar jika itu semua sudah pergi. Semoga kita cepat tersadar dan tergerak untuk selalu bersyukur.

Dan mungkin kita tidak sadar dengan apa yang kita ucapkan itu memiliki efek. Ucapan selamat ulang tahun itu merupakan sebuah perhatian, paling tidak. Meski ini seperti sepele. Bahkan kita yang mengucapkan terkesan biasa, tapi responnya luar biasa.

Orang jadi merasa diperhatikan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya, apalagi kalau ucapan itu datang dari orang terkasih. Oh indahnya!

Hidup kita menjadi bermakna disaat kita dihargai keberadaan kita di lingkungan kita. Penghargaan akan keberadaan kita banyak rupanya, perhatian adalah salah satunya. 

Maka jangan aneh jika dalam keluarga si orangtua mendidik anaknya dengan perhatian dan kasih sayang, maka si anak itu akan tumbuh dengan penuh cinta. Pun sebaliknya, jika anak dididik dengan acuh, maka ia akan menjadi dewasa yang kurang mengerti akan kasih sayang.

Kemarin, Selasa, 20 Desember adalah hari ulang tahun saya. Hampir semua orang yang terdekat saya mengucapkan uacapan itu. Kedua orangtua dan kakak-kakak saya pun mengucapkannya. 

Ucapan mereka yang terpisah samudera dan ribuan kilometer itu terasa dekat. Seakan mereka hadir. Ya, mereka selalu hadir di hati saya. Sampai kapan pun. Begitupun, orang-orang yang berada di sekitar saya saat ini. Tanpa diminta pun mereka memberikan hadiah. Ini adalah kejutan!

Bagi saya, orang yang memberikan kejutan kepada orang lain, maka ia akan terkejut-kejut dengan kejutan lainnya yang menghampiri dirinya. Kita masih ingat pesan Tuhan dalam Al-Quran, kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan. 

Dalam tulisan ini saya khusus mengucapkan terimakasih dan memanjatkan doa kepada Tuhan, berilah kejutan yang paling indah kepada orang yang telah memberikan kejutannya kepada saya. Amin!

Selasa, 20 Desember 2011

Senyum itu..


Oleh Deden Mauli Darajat

Mentari sesaat lagi menyusut
Di ufuk barat
Aku terduduk di taman
Pada senja itu

Ia mengisyaratkan senyum
Yang membuat
Badanku hangat
Di musim dingin ini

Senyum itu pernah hilang
Dan ia datang kembali
Akan menemani
Hari-hariku

Burung-burung berkicau di atas
dahan pohon yang tak berdaun
Laiknya orang-orang
Berpetuah di twitter sana

Udara musim dingin
Terasa nikmat sekali
Karena di tanggal dan bulan ini
Kami dilahirkan di bumi

Bahkan tak terasa dinginnya
Karena ia memberikan
Senyumnya itu
untukku

Ankara, di Selasa senja 20 Desember 2011

Jumat, 16 Desember 2011

Dua Rasa Masakan Indonesia

Hampir setiap pagi menu sarapan saya adalah satu gelas susu, satu buah roti (simit/poÄŸaça)  dan sebutir telur rebus. Sebenarnya saya enggan menyebutnya sarapan karena menu itu adalah menu kahvaltı (dalam bahasa Turki). Bagi saya atau bagi kita sarapan adalah makan pagi dengan menu nasi dan lauk pauknya, baik tempe atau yang lainnya. Sementara kahvaltı adalah makan pagi khas Turki.

Suatu ketika saat menemani tamu yang datang dari Jakarta ke Ankara dan tinggal di hotel bertanya pada saya, apakah ada sarapan di hotel ini, saya jawab ada di lantai dasar. Tamu itu mengatakan bahwa menu pagi di hotel adalah breakfast bukan sarapan. Artinya yang disediakan untuk makan pagi adalah roti, keju, telur dan yang lainnya dan bukan nasi dan lauk pauknya.

Teman saya yang baru tinggal di asrama suatu pagi mengajak saya untuk makan. Dia mengajak saya ke restoran asrama yang biasa menyediakan nasi, sayuran, ayam, daging, dan lainnya. Sebab ia belum tahu kalau restoran itu hanya dibuka dari siang hingga malam. Dan untuk menu pagi hanya menyediakan roti, telur, keju, madu, buah zaytun dll. Teman saya hanya tersenyum kecut.

Bagi kita yang sekolah di luar Indonesia, hal yang harus dibiasakan adalah menerima makanan asing di lidah kita. Bagi sebagian orang ini tidak mudah, sebagian lagi ini bukan masalah besar. Bagi saya menerima makanan asing di lidah saya tidak begitu susah, karena menurut saya adalah bagaimana perut ini bisa diisi agar bertenaga untuk melaksanakan kegiatan.

Tetapi tidak bagi teman saya, Syamwil misalnya. Ia agak kesusahan untuk memakan makanan asing. Saat makan siang di restoran kampus, ia hanya makan yang hanya diterima lidahnya saja. Dan ia berikan makanan lainya ke rekannya yang berada di sampingnya. Inı terjadi saat pertama-tama ia berada di Turki.

Tulisan ini sebenarnya diilhami saat pagi tadi membaca koran berbahasa Turki sambil menyantap menu kahvalti. Ingatan saya tertuju pada masa dimana saya kuliah S1 dan ngekost di kawasan Ciputat. Setiap pagi saya membaca koran yang dikirim oleh sang loper. Sembari membaca koran itu saya menunggu pedagang nasi uduk yang keliling kost-kost mahasiswa. Nasi uduk dengan lauk gorengan tahu atau tempe menjadi makanan favorit kami setiap pagi beberapa tahun lalu.

Untuk menemukan makanan Indonesia di Turki agak susah memang. Berbeda dengan di Mesir atau Arab Saudi atau negara lainnya. Di Mesir misalnya, kita tidak akan kesusahan mencari ayam bakar, masakan Padang, bubur ayam atau sate Madura. Karena selain belajar, sebagian mahasiswa di sana juga berwirausaha dengan mendirikan restoran masakan Indonesia. Atau untuk makanan instan kita bisa beli mie instan di warung-warung yang tersebar di mana-mana.

Inilah yang berbeda dengan di Turki. Sampai saat ini belum ada satu pun restoran Indonesia, khususnya di Ankara. Yang ada hanyalah restoran China atau Thailand yang sedikit mirip dengan masakan Indonesia. Bahkan untuk mie instant saja susah mendapatkannya di mall atau pusat perbelanjaan. Bukan karena tidak ada. Tapi karena, jika ada mie instant itu langsung habis diborong sama orang Indonesia. Dan saya jarang kebagian. Mengenaskan.

Mie instant ini sebenarnya penggemarnya bukan hanya orang Indonesia. Suatu ketika saya membawa beberapa bungkus mie instant untuk temen saya orang Kirgistan dan Albania. Tujuan saya hanya untuk memperkenalkan masakan Indonesia. Tidak disangka kedua temen saya itu menyukainya. Bahkan orang Albania itu selalu menagih mie instant jika kami bertemu. Walah repotnya. Bukan karena gak mau ngasih, cuma mie instant ini susah didapat.


Lantas bagaimana jika kita kangen dengan masakan Indonesia. Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara juga untuk mendapatkannya. Salah satunya adalah membeli bahan masakan dan dimasak dengan resep masakan Indonesia. Ini agak repot memang, karena tidak semua bahan masakan itu dijual di sini. Yang paling mudah adalah menghadiri undangan dari KBRI dalam suatu acara yang menyediakan jamuan makanan. Undangan ini pun jarang adanya. Namun yang pasti hanya ada dua rasa masakan Indonesia di sini, yang pertama adalah enak dan kedua enak sekali.

Minggu, 11 Desember 2011

Jurnalistik Dasar

(Disampaikan pada kajian perdana mahasiswa Indonesia di KBRI Ankara, Sabtu, 10 Desember 2011)


Oleh: Deden Mauli Darajat


1. Sejarah singkat: 
Istilah 'jurnalistik' berasal dari kata 'journalistiek' dalam bahasa Belanda atau 'journalism' dalam bahasa Inggris. Keduanya berasal dari bahasa Latin 'diurnal' yang berarti harian atau setiap hari.
Sedangkan jurnalistik sendiri artinya kegiatan mengumpulkan bahan berita, mengolanya sampai menyebarluaskannya kepada khalayak. Bahan berita itu bisa berupa kejadian atau peristiwa dan pernyataan yang diucapkan oleh seseorang yang memiliki pengaruh dalam masyarakat. Setiap kejadian dan pernyataan yang memiliki daya tarik bagi khalayak dapat dijadikan berita untuk disebarluaskan kepada masyarakat.
Menurut Onong Uchjana Effendi, kegiatan jurnalistik sudah sangat tua, yaitu dimulai dari zaman Romawi kuno ketika Julius Caesar berkuasa. Saat itu, ia mengeluarkan peraturan agar kegiatan-kegiatan Senat setiap hari diumumkan kepada khalayak dengan ditempel pada semacam papan pengumuman yang disebut 'Acta Diurna'.
Berbeda dengan media berita saat ini yang dating ke rumah kepada para pembacanya, pada waktu itu orang-oranglah yang datang kepada media berita atau papan pengumuman itu.
Surat kabar pertama terbit di Jerman pada tahun 1609, dengan nama 'Avisa Relation Oder Zeitung'. Kemudian di London juga terbt 'Weekly News' pada 23 Mei 1622. tetapi surat kabar yang teratur terbit setiap hari adalah 'Oxford Gazette' pada tahun 1665, yang kemudian namanya diganti menjadi 'London Gazette'. Henry Muddiman sebagai editor pertama surat kabat itu adalah orang yang pertama kali memperkenalkan istilah 'newspaper' yang digunakan hingga saat ini.  
2. Konsep Berita:
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa berita adalah  jalan cerita tentang peristiwa. Ini berarti bahwa suatu berita setidaknya mengandung dua hal, yaitu peristiwa dan jalan ceritanya. Jalan cerita tanpa peristiwa atau peristiwa tanpa jalan cerita tidak dapat dikatakan berita.
Dalam kehidupan sehari-hari tentu banyak peristiwa. Tetapi peristiwa yang diberitakan tergantung pada beberapa hal, antara lain:
Aktualitas
Jarak (kedekatan) peristiwa dari khalayak (pembaca, pendengar dan penonton)
Penting tidaknya orang/figure yang diberitakan
Keluarbiasaan peristiwa
Akibat yang mungkin ditimbulkan dari berita itu
Ketegangan dalam peristiwa
Konflik dalam peristiwa
Perilaku seks
Kemajuan-kemajuan yang diberitakan 
Emosi yang ditimbulkan oleh peristiwa
Humor yang terkandung dalam peristiwa
3. Pembagian berita:
Berita dapat dibagi ke dalam beberpa macam, tergantung dari segi melihatnya, seperti:
a. Sifat kejadian
b. Cakupan isi berita
c. Bentuk penyajian berita
Sifat kejadian: Dilihat dari segi sifat kejadiannya berita dibedakan antara berita yang terduga, seperti perayaan hari nasional, dan berita yang tak terduga seperti, ledakan bom, tsunami, kebakaran, kecelakaan lalu lintas, pembunuhan dan semacamnya.
Cakupan isi berita: dilihat dari segi cakupan isi berita itu terbagi pada berita politik, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, hokum, seni, agama, kejahatan, olahraga, militer, laporan pengetahuan dan teknologi dan sebagainya.
Bentuk penyajian : berita juga dibedakan dari bentuk penyajiannya, seperti berita langsung (spotnews), berita komprehenship (comprehensive news) dan feature.
4. Cara penulisan berita:
Cara menulis berita juga berbeda-beda. Berita langsung biasanya ditulis dengan gaya piramida terbalik, di mana semua yang dianggap penting diletakkan di 'lead' atau intro.
Karena itu lead mencakup semua unsure berita yang lazim disebut 5 W + 1 H, yaitu:
a. What (apa peristiwa yang terjadi)
b. Who (siapa yang terlibat dalam peristiwa)
c. Where (di mana peritiwa terjadi)
d. When (kapan peritiwa terjadi)
e. Why (mengapa terjadi)
f. How (bagaimana peristiwanya)
Piramida terbalik diperlukan agar khalayak yang biasanya selalu sibuk tetap bisa mengetahui peristiwa yang terjadi. Gaya piramida terbalik juga memudahkan para redektur, produser atau penyunting untuk memotong bagian berita yang kurang penting yang terletak pada bagian bawah. Ini terutama bagi media cetak seperti surat kabar dan majalah.
5. Bahasa jurnalistik:
Bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan informasi. Jelas tidaknya inforasi yang disampaikan kepada khalayak sangat ditetukan oleh benar tidaknya bahasa yang digunakan. Penggunan bahasa yang baik dan benar sangat menentukan sampainya informasi itu kepada khalayak (pembaca, pendengar, penonton) secara jelas. Prinsipnya, bahasa jurnalitik itu harus jelas, padat, ringkas dan lugas.
Untuk itu dibuat ketentuan-ketentuan dalm bahasa jurnalistik, antara lain:
  • Penggunaan kata harus ekonomis supaya berita bisa lebih pendek. Contohnya: mengadakan penelitian: meneliti, disebabkan oleh fakta: karena)
  • Kalimat yang digunakan dalam menulis berita sebaiknya kalimat aktif dan bukan kalimat pasif. Contoh kalimat aktif: Pemerintah menaikkan harga minyak, contoh kalimat pasif: harga minyak dinaikkan)
  • Kalimat dalam bahasa jurnalistik sebaiknya kalimat tungal, karena lebish sederhana dan mudah dipahami. 
  • Ada baiknya lebih banyak menggunakan kata kerja dan sedikit kata benda. Karena kata kerja bersifat dinamis, sedang kata benda bersifat statis. (contoh kata kerja: stabilitas politik saat ini berkembang mantap, sedang kata benda: Perkembangan politik saat ini mantap.
  • Kalimat yang digunakan sebaiknya kalimat positif bukan negative. (contoh kalimat posotif: DPR RI Setuju dengan keputusan Presiden, negative: DPR RI tiak menentang keputusan Presiden)
  • Hendaknya tidak menggunakankalimat yang kabur atau tidak jelas.
  • Sebaiknya dihindari kata-kata yang mangandung arti ganda atau lebih dari satu arti, seperti kejahatan, kecelakan lalu lintas dan sebagainya.
  • Penggunaan kata sifat sebaiknya digunakan seperlunya.
  • Kalimat dalam berita sebaiknya tidak menggunakan istilah asing yang kurang dikenal oleh khalayak
  • Kalimat bahasa jurnalistik harus langsung kepada sasaran dan tidak berbelit-belit.
6. Macam-macam media: 
Media dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu;
a. Media Cetak, seperti, surat kabar dan majalah
b. Media Elektronik, sepetri televisi, radio dan internet

Sabtu, 10 Desember 2011

Salju Cokelat


Ini judul sebenarnya gak penting. Cuma pengen gaya aja. Tulisannya juga biasa aja sih. Nah, kapan mulainya? Baiklah kita mulai. Kemaren pagi di Ankara hujan salju. Taunya sih dari status BBM, Twitter dan Facebook orang, karena sibuk dengan urusan selimut. Kedinginan. Pas buka jendela, emang bener itu salju turun berbutir-butir. Indahnya.

Pikiran melayang kemana-mana. Ide sinting pun datang. Gimana kalau salju itu turun di Jakarta di siang bolong pas terik-teriknya sinar matahari saat kita kehausan di tengah-tengah macetnya lalu lintas. Jadinya orang-orang yang kepanasan, langsung maknyes dingin dan gak jadi marah kalau dia mau marah karena melihat salju.

Kalau di zaman sekarang sih yang pasti banyak yang nulis status di facebook atau twitter dan jadi trending topic, misalnya, Jakarta turun salju. Maklumlah Indonesia kan jawara nomor satu di asia sebagai pengguna twitter.

Atau seperti teman saya yang menunggu bus di halte dan kehausan. Ia menjulurkan lidahnya agar salju masuk ke mulutnya dan meminumnya. Tapi aksi ini jangan ditiru. Soalnya, orang-orang di halte itu melihatnya dengan tatapan yang aneh. “Garuk-garuk aspal,” katanya saat mengetahui kalau aksinya dilihat banyak orang.

Pas turun salju itu biasanya gak terlalu dingin. Yang dingin banget malah sebelum turun salju. Seperti semalam sebelum turun salju. Kami keluar rumah dengan jaket tebal. Awalnya sih gak terlalu dingin. Eh, udah 3 sampe 5 menit itu telinga udah beku. Kedinginan.

Apalagi malam itu temen saya pengen lihat city light atau lampu kota yang bersinar dari gedung-gedung dan apartemen-apartemen di wilayah Ankara. Untuk melihat lampu kota yang seperti titik titik yang membuat garis itu kita mesti melihatnya dari kejauhan dan dataran tinggi. Dan gimana rasa dinginnya. Hmm, lebih dingin, karena cuaca minus ditambah angin malam, sliwir..

Cerita yang paling berkesan sih pas pertama lihat salju. Waktu itu abis silat Jumat di Besevler. “Oh gini toh hujan salju” bisik saya dalam hati. Dan yang paling seru itu pas guru bahasa Turki kami mengajak kami untuk main salju bersama di halaman sekolah. Aha, ini yang kami tunggu. Sebab, pas pelajaran bahasa di kelas orang-orang sudah gak konsentrasi lagi.

Teman saya dari Bangladesh yang memulainya. Ia membawa segenggam salju di tangannya sebentuk bola kasti. Di kelas bola salju itu dibagi-bagi menjadi bola kecil seperti gundu besar atau bola bekel. Salju sebesar bola bekel itu diselipkan ke bagian dalam kaos kawannya yang berada di sampingnya. Lantas si kawan yang dikerjain itu balik melempar salju itu ke muka temannya. Rusuhlah kelas kami.

Sebenarnya jam terakhir kelas bahasa itu masih tersisa 60 menit dan kami tidak belajar karena turun ke lapangan untuk bermain-main. Persis anak TK yang mau main air. Senangnya bukan main. Semua orang saling lempar salju. Dan kami gak segan-segan untuk melempar salju ke muka guru kami. Hahaha, ini yang parah. 

Tapi si guru gak marah, malah senang dan balik menyerang kami. Ohya, guru kami ini ibu satu orang anak. Masih muda. Karena gak pernah lihat salju sebelumnya, kami bertiga asal Indonesia tiduran di atas salju dan dipoto, malamnya langsung di-upload di facebook. Itu dua tahun yang lalu.

Hujan salju yang terparah itu musim dingin tahun lalu. Hujan salju tak henti-hentinya selama beberapa hari. Akibatnya salju menumpuk dimana-mana. Jalan ditutup dengan salju. Semuanya putih. Tebalnya sampai setengah meter. Berita-berita di tv menayangkan kecelakaan yang diakibatkan derasnya hujan salju. Karena jalan-jalan di sini banyak tanjakan dan turunan.

Yang paling senang itu palajar dan mahasiswa. Sejumlah sekolah diliburkan. Tapi saya biasa aja, malah mengeluh. Karena hari itu diliburkan atau gak diliburkan sama aja, karena gak ada jadwal kuliah. Coba diliburkannya pas ada jadwal kuliah, gak akan menyesal. 

Yang pasti sih, kalau turun salju pikiran saya melayang ke zaman sekolah dasar saya di Rangkasbitung. Salju itu kayak es parut yang atasnya itu disiram dengan sirup atau susu. Atau es campur yang isinya ada buah-buahan yang dipotong kecil-kecil dicampur dengan parutan es. Bagi saya sih cukup parutan es itu disiram dengan susu cokelat. Persis salju cokelat!

Hijrah Ala Ibu-Ibu Ankara


Oleh Deden Mauli Darajat

Betul kata Imam Syafii bahwa dalam perjalanan kita akan mendapatkan sanak saudara baru. Ini yang saya rasakan saat belajar di negeri orang. Mungkin saya tidak akan berangkat ke Turki kalau saja masih berpikir takut untuk berpisah dengan orang-orang tercinta. Karena perintah agama yang pertama kali turun untuk membaca atau belajar, maka kangen, rindu untuk sementara disingkirkan.

Ohya, judulnya ini soal hijrah. Hijrah asal katanya (dalam bahasa Arab) adalah hajara yang berarti pindah. Secara istilah hijrah adalah pindahnya suatu keadaan yang buruk menuju keadaan yang baik, syukur-syukur lebih baik. Momentum hijrah tidak akan lepas dari tahun baru hijriyah yang jatuh pada satu muharram.

Mungkin kita semua sudah tahu bahwa asal muasal tahun hijriah ini berasal dari kisah hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah 1433 tahun yang lalu. Dimana Nabi akhir zaman itu sudah tidak kuat lagi menahan kerasnya perlawanan kaum kafir di Mekkah. Saking cinta kepada tanah kelahirannya, sebenarnya Nabi enggan meninggalkan Mekkah, namun karena perintah Allah turun, ia harus melaksanakannya.

Strategi hijrah direncanakan dengan matang. Sebagian sahabat ada yang menjaga Nabi, ada pula yang menjadi intel atau mata-mata untuk mengetahui keadaan Mekkah saat akan dilaksanakannya hijrah. Ini dilakukan karena kaum kafir Mekkah sudah mengincar Nabi dan ingin membunuhnya. Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Nabi untuk menempati tempat tidurnya saat Nabi berangkat hijrah. Ini dilakukan untuk mengecoh para mengincar Nabi.

Singkat kata Nabi Muhammad SAW akhirnya tiba di Yatsrib (nama lain dari Madinah). Rupanya kedatangan Nabi di Madinah sudah dinanti warga Madinah yang dijuluki dengan kaum anshar. Kaum anshar berkumpul di depan rumah masing-masing untuk menerima kedatangan Rasulullah sebagai tamu agung. Maka kaum muhajir (sebutan bagi yang hijrah dari Mekkah) sangat terbantu oleh kebaikan para kaum anshar. Kaum anshar dan muhajir bersatu dalam membangun negeri yang damai di Madinah.

Begitulah singkat cerita hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah setelah Nabi berdakwah selama 13 tahun di kota kelahirannya. Lantas, apa hubungannya dengan hijrah a’la ibu-ibu di Ankara? Sederhananya, ibu-ibu asal Indonesia di Ankara saat ini sedang berhijrah dalam artian yang sederhana. Artinya para ibu-ibu di Ankara sejak Ramadhan tahun ini melaksanakan pengajian dan kajian rutin tiap hari Rabu.

Pengajian dan kajian yang dimotori oleh ibu-ibu Darma Wanita Persatuan (DWP) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara ini adalah pengejawantahan dari perintah belajar yang tertulis dalam Quran dan Hadits. Pengajian dan kajian ini adalah jalan untuk berhijrah dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Pun kewajiban belajar itu bukan hanya diperuntukkan bagi manusia yang berstatus siswa, pelajar atau mahasiswa. Kita semua wajib belajar dari sejak membuka mata (lahir) hingga menutupnya (meninggal dunia).

Banyak hal yang berkesan selama saya mengikuti pengajian ini. Yang paling berkesan adalah saat saya berangkat dan pulang dari menunaikan ibadah haji. Di Indonesia biasanya, sebelum berangkat dan kedatangan dari Mekkah untuk berhaji dirayakan dengan meriah. Perayaan ini sebentuk tasyakuran dan doa bersama untuk kelancaran bagi yang melaksanakan ibadah haji dan doa bagi yang masih menunggu panggilan.

Saat keluar bandara di Turki dari Mekkah, para keluarga yang menunggu jemaah haji menangis tersedu sedan. Tangisan haru. Bahwa utusan keluarganya yang berangkat ke haji bisa kembali dengan selamat ke tanah airnya. Saya pun merasakan haru itu, meski tak ada sanak keluarga yang menunggu di bandara. Tapi saya masih punya rekan yang senasib dengan saya.

Rasa haru ini belum usai. Saat pengajian yang waktu itu dilaksanakan di rumah Mbak Bintari adalah puncak dari haru itu. Saya tak bisa berkata apa-apa untuk mengungkapkannya. Mbak Bintari dan ibu-ibu DWP itu begitu hangat saat saya bercerita tentang ibadah haji yang telah saya lakukan. Mereka adalah keluarga besar saya di Ankara. Dari mereka pula saya belajar bahwa semangat belajar harus terus menyala tanpa mengenal usia.

Selasa, 06 Desember 2011

Purnama diatas Kabah


(Catatan Perjalanan Haji-Habis)

Oleh Deden Mauli Darajat


Bulan purnama bulat sempurna
Terangi malam Mekkah dengan meriah
Setitik bintang setia menemaninya
Bulan bintang saksi para peziarah
Yang sedang tawaf

Aku bersila di hadapan kabah seraya
Meminta kepada Allah apa yang kuinginkan
Ratusan ribu jemaah lainnya membaca quran
Melaksanakan shalat dan ibadah lainnya
Dari pagi hingga pagi kembali
Rumah Allah tak pernah sepi

Mereka berdatangan dari pelbagai penjuru angin
Hanya untuk memenuhi panggilannya
Panggilan yang mulia untuk tunaikan
Rukun Islam yang kelima, haji
Ya, haji di bulan dzulhijjah

Malam ini malam 14 dzulhijjah dimana
Bulan purnama berada tinggi diatas kepala
Aku berharap suatu saat nanti dapat
Kembali ke masjid yang mulia
Menyaksikan purnama di atas kabah

Semoga..

Hamparan kabah, 14 Dzulhijjah 1432/9 November 2011, Pukul 22.10

Thariq dan Harriq


(Catatan Perjalanan Haji Bagian-7)

Ayah saya pernah bilang, mengatur manusia lebih susah ketimbang yang lainnya. Tak terbayangkan jutaan manusia berkumpul di kota suci Mekkah. Dengan tujuan yang sama yakni melaksanakan ibadah haji.

Jutaan manusia itu datang dari berbagai negara, suku, bahasa, dan budaya yang berbeda. Perbedaan ini lebih menyulitkan para petugas haji. Perlu satu komando.

Coba sejenak kita bayangkan, bagaimana jutaan orang itu melaksanakan thawaf memutari kabah dalam satu waktu.

Meski Masjidil Haram itu luas, namun dalam satu waktu musim haji, semua orang berlomba untuk meraih tempat yang terbaik yaitu dekat dengan kabah, jadi sempit juga masjid itu.

Jika waktu shalat tiba, petugas haji dari pemerintah Arab Saudi baik dari kepolisian, tentara, atau petugas dari kemeneterian yang bersangkutan memiliki kata-kata yang ampuh. Yaitu, thariq dan harriq.

Ya, anda betul, tharriq dan harriq itu bukanlah nama orang. Secara bahasa thariq artinya jalan dan harriq artinya bergeraklah.

Kata thariq digunakan saat petugas ingin membuka jalan jika jalan itu penuh sesak oleh para jemaah. Namun, kata-kata thariq juga bukan hanya digunakan oleh para petugas melainkan juga digunakan oleh jemaah yang ingin keluar dari lingkaran thawaf.

Sementara kata harriq hanya digunakan oleh para petugas, khususnya petugas lalu lintas. Kata harriq digunakan saat lautan manusia juga antrian kendaraan di jalan raya tak bergerak alias macet.

Menggunakan pengeras suara sang polisi lalu lintas dengan lantang berteriak "Harriq, harriq, ya, hajj!" atau bergeraklah wahai haji. Dan terbukalah jalan itu meski agak lama. 

Dua kata thariq dan harriq ini begitu populer di kalangan jemaah haji.
Misalnya, di suatu waktu dua orang jemaah haji sedang membawa koper tapi jalannya terhalang oleh kami yang sedang berdiri. Kami pun mempersilahkannya untuk melintas.

Eh, salah satu diantara kami ada yang mengatakan, "Tharriq ya hajj, harriq ya hajj," ujar kawan saya. Mereka tidak marah malah spontan kedua jemaah haji itu tertawa.

Ada juga cerita yang tak kalah seru. Suatu ketika seorang polisi mampir ke pemondokan haji Indonesia untuk buang air kecil di toilet yang berada di luar gedung.

Saat polisi itu berada di toilet, kawan saya yang sedang mengantre di depan toilet dengan lantang mengatakan, "Harriq, harriq." Tak lebih dari dua menit sang polisi segera keluar dari toilet dan menghilang begitu saja.

Dan semua orang yang berada di sekitar itu tak kuat menahan tawa. Maka pecahlah keheningan di sore itu dengan tertawa melihat aksi konyol kawan saya. Mungkin karma. Ah, dasar iseng.

Pertemuan dalam Mimpi


(Catatan Perjalan Haji Bagian-6)

Udara sejuk dari kipas angin di pelataran Masjidil Haram mengeringkan keringat kami usai thawaf. Di pelataran itu kami berbincang banyak hal. Maklum, jarang kami bertemu.

Terhitung sejak 2008 kami berpisah, lima kali kami bertemu di  negara-negara yang berbeda. Yaitu Turki, Mesir, Inggris, Iran dan Arab Saudi. Sekalinya bertemu sejam dua jam tak cukup kami berbincang.

Hari itu hari ke-12 Dzulhijjah, usai semua kewajiban berhaji ditunaikan. Masjidil Haram disulap menjadi lautan manusia yang beribadah hanya kepada Allah SWT.

Saya berangkat haji dari Turki dengan menggunakan travel haji Turki di Ankara. Sementara dia melaksanakan haji di sela kesibukannya melayani jemaah haji di dalam pesawat Saudi Arabian Airlines selama musim haji.

Saat kedatangan saya ke bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, ia ingin menjemputku. namun, disebabkan terminal haji yang jauh dari terminal umum, juga begitu luasnya, kami tak bisa bertemu.

Mengirim pesan pendek atau sms dan telepon tetap kami lakukan mesti tak bertatap muka. Karena ia selalu ada kesibukan di tempat kerjanya. Kami memang sama-sama kangen.

Akhirnya kami dipertemukan di padang Arafah. Ia berkemah bersama rombongan haji Indonesia yang bermukim di Arab Saudi. Sementara saya berkemah dengan rombongan Turki. Usai pertemuan itu saya hampir ketinggalan bus rombongan Turki. Ya, karena lupa waktu kalau sudah ngobrol.

Setelah pertemuan di Arafah kami jadi sering bertemu hingga tanggal 12 Dulhijjah malam, karena ia mesti kembali ke Jeddah untuk bertugas. Dan saya masih di Mekkah beberapa hari sebelum ke Madinah dan kembali ke Ankara.

Saya dan ia terlahir kembar. Ia lahir terlebih dahulu disusul kemudian saya. Hanya berselang 15 menit. Selulus sekolah tingkat pertama kami selalu berbeda sekolah. Ia misalnya, kuliah S1 di Tasikmalaya sementara saya di Jakarta. Pun sekolah S2, ia di Iran dan saya di Turki.

Kalau tidak salah, tujuh tahun lalu dalam tidur saya bermimpi sedang duduk di pelataran Masjidil Haram sembari berbincang bersama saudara kembar saya itu. Rupanya mimpi itu benar adanya. Meski kami harus menunggu.

Jumat, 02 Desember 2011

Pak Tua yang Tersesat

(Catatan Perjalanan Haji Bagian-5)
Oleh Deden Mauli Darajat
 
Angin malam waktu itu memang dingin dengan sedikit ramuan debu. Padahal cuaca di siang harinya begitu panas. Usai shalat isya, para jemaah haji berduyun-duyun berjalan kaki menuju Mina untuk mabit atau tinggal bermalam. Namun bukan tinggal di pemondokan atau hotel mewah, melainkan tinggal di tenda-tenda. Dan banyak juga yang tidur di emperan sejadah atau diatas tikar.

Setelah melihat dan mencari ke berbagai arah di jalan yang lebar di depan gerbang jumrah itu, akhirnya bertemu dengan rekan saya, mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran yang juga sedang melaksanakan ibadah haji. Kami beristirahat sejenak sebelum akhirnya beranjak untuk mencari tempat yang nyaman.

Saat mencari tempat untuk beristirahat, saya dipanggil oleh orang Sudan yang sedang duduk di pinggir jalan dan bertanya pada saya, apakah anda orang Indonesia, iya, jawab saya. Saat menghampiri orang Sudan itu saya melihat Pak Tua duduk dengan memeluk kedua kakinya yang ditekuk.

Orang Sudan itu bercerita bahwa orang yang berada di sampingnya adalah jemaah haji asal Indonesia yang ia temani sejak tadi. Usai jumrah dan tahallul, para jemaah haji sudah dihalalkan mengenakan pakaian seperti biasanya, artinya tidak mesti menggunakan kain ihram lagi. Dan Pak Tua itu masing menggunakan ihram.

Pak Tua itu adalah Ali Bin Jabal (63 tahun) asal Riau. Ia mengaku tak bisa kembali ke pemondokannya karena tak tahu jalan. Ia tersesat. Usia senja memang mengurangi hafalan seseorang. Apalagi tempat yang baru dikunjungi. Ditambah lagi dengan jutaan orang yang menggunakan pakaian yang hampir seragam.

Ali bercerita bahwa sesudah ia melaksanakan tahallul dan thawaf di Masjidilharam, ia beritirahat hingga ashar. Usai melaksanakan shalat ashar ia melihat banyak orang yang berjalan menuju Mina. Ia pun mengikuti mereka. Namun, sesampainya di Mina ia tidak tahu harus kemana, akhirnya ia duduk di tepi jalan itu hingga kami menemuinya. 

Jam ditangan saya menunjukkan pukul 23.30. Angin malam bertambah kencang. Pak Tua tambah kedinginan. Saya ambil sejadah dari tas saya dan melilitkannya ke lingkaran badannya. Pak Tua bercerita banyak. Meski ia sisipi bahasa Riau yang kurang saya pahami. Kata-katanya tidak begitu jernih. Kadang saya hanya mengangguk menanggapinya. 

Sebenarnya, cerita Pak Tua, ia mendaftar haji pada tahun 2008 bersama istrinya. Namun pada tahun 2010 istrinya meninggal dunia. Ia pun harus rela berangkat ke tanah suci sendirian. Ia berangkat tanpa ditemani sanak saudara. Mungkin karena sudah lelah dan banyak istirahat ia tertinggal oleh rombongan jemaah asal Riau.

Beberapa hari sebelum hari Arafah, kami mahasiswa Indonesia yang sedang melaksanakan ibadah haji berkumpul di salah satu pemondokan haji. Kami berbincang banyak hal, mulai dari soal lika-liku panitia pelaksana haji sampai masalah PPI Dunia. Saya hanya akan bercerita soal lika liku panitia pelaksana haji.

Menurut mahasiswa yang menjadi tenaga musim haji, mereka kesulitan untuk mengarahkan jemaah haji yang sudah lanjut usia (lansia). Para lansia itu harus benar-benar diarahkan. Dalam perbincangan itu pun muncul wacana bagaimana jika ada pembatasan umur untuk melaksanakan haji.

Wacana pembatasan umur ini dilandasi oleh menurunnya ingatan para lansia dan melemahnya kekuatan atau kesehatan mereka. Ada juga yang mengatakan bahwa, ibadah haji itu bisa dibadalkan atau digantikan oleh orang lain, meski yang dibadalkan itu masih hidup.

Dalam hal ini saya mengatakan bahwa semua orang berhak untuk melaksakan haji, asal mampu. Mampu dalam hal ini banyak arti, diantaranya memiliki uang yang cukup, yang lebih penting adalah memiliki keinginan yang kuat disamping mampu secara lahir dan batin.

Tidak mudah untuk membatasi umur untuk beribadah haji. Pasalnya, ada juga yang usia di atas 60 tetapi masih kuat untuk berjalan kaki berkilo-kilo meter. Tapi ada juga yang tidak. Mungkin, harus ada pengkajian lebih dalam mengenai wacana pembatasan umur bagi jamaah haji ini.

Karena angin yang kencang dan saya tidak tega melihat Pak Tua bertambah kedinginan, akhirnya saya dan rekan memutuskan untuk bergerak mencari posko panitia pelaksana haji. Di tengah jalan, Pak Tua tiba-tiba ingin melaksanakan shalat Isya, dan shalatlah ia di pinggir jalan. Usai shalat kami beristirahat di atas trotoar jalan.

Dua petugas haji yang mengenakan baju biru berjalan di hadapan kami. Kami pun memanggilnya dan bercerita tentang Pak Tua ini. Meski agak lama berbincang, akhirnya Pak Tua itu dibawa oleh petugas haji ke posko Indonesia. Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami di malam itu.
 

Minggu, 20 November 2011

Menengok Makam Nasruddin Hoja



(Dimuat di Republika, Ahad, 20 Nov 2011)

Oleh Deden Mauli Darajat*

Ia dianggap sebagai filsuf yang populis dan orang bijak yang merangkai kisah kebijakannya dengan cerita lucu dan anekdot.

Di dunia Islam, nama Nasruddin Hoja begitu populer. Ia adalah seorang sufi masyhur dari abad ke-13 M. Hingga kini, kata-kata bijak dan hikmah yang disertai humor yang pernah dilontarkan dan ditulisnya masih tetap abadi, melintas zaman dan sekat geografis.

Itulah mengapa sosok Nasruddin begitu akrab di telinga kaum Muslim hampir di seluruh negara, khususnya yang penduduknya mayoritas Muslim. Di tempat kelahirannya, Aksehir, Konya, Turki, gambar Nasruddin Hoja yang sedang mengendarai keledai dengan badan terbalik diabadikan sebagai lambang resmi Kota Aksehir.

Saya tak hanya mendengar dan membaca kata-kata hikmah penuh humor dari sang sufi. Namun, juga berkesempatan menengok alias berziarah ke makam tokoh yang legendaris itu. Ya, beberapa waktu lalu, seorang rekan mahasiswa Universitas Ankara, Selahattin Gobel, asal Konya, mengajak saya dan beberapa kawan untuk singgah ke makam Nasruddin. Dengan bantuan Selahattin, kami pun tiba di Kota Aksehir, sekitar 130 km dari pusat Kota Konya.

Kota Konya juga merupakan tempat makam dan museum sufi terkenal, yakni Maulana Jalaluddin Rumi. Makam Nasruddin terletak di pusat Kota Aksehir. Makamnya berada di tengah-tengah tempat pemakaman umum. Atap makam Nasruddin berbentuk kerucut berwarna hijau.  Di depan makamnya terdapat lingkaran berdiameter sekitar 50 cm bertuliskan "Di sinilah pusat bumi".  Nah, ada cerita tersendiri soal "pusat bumi" itu. Alkisah, tiga orang bijak datang menghadap Nasruddin Hoja.

"Hoja, di manakah pusat bumi?" tanya ketiga orang bijak itu.
"Pusat bumi terdapat di bawah telapak kaki saya," ujar Nasaruddin.
"Bagaimana Anda bisa membuktikan kalau di sini adalah pusat bumi?" ketiga orang bijak itu kembali bertanya. "Hitung saja sendiri," jawab Nasruddin. Ketiga orang bijak pun akhirnya sadar jika Nasruddin adalah orang paling bijak di antara mereka.

Di Kota Aksehir, tepatnya di sekitar makam Nasruddin, terdapat museum yang menggambarkan  kehidupan Nasruddin. Selain gambar, terdapat juga patung-patung yang menggambarkan sang sufi legendaris sedang berdiskusi bersama rekan-rekannya. Di taman Kota Aksehir juga terdapat taman yang dipenuhi dengan patung Nasruddin dalam berbagai bentuk yang diambil dari kisah-kisahnya.

Di Ibu Kota Turki, Ankara, patung Nasruddin Hoja juga terdapat di depan sebuah stasiun kereta api. Namun, patung yang berada di Ankara bukanlah patung Nasruddin yang sedang mengendarai keledai, melainkan singa yang kekar dengan ujung ekornya kepala burung unta dan di atas kepala singa terdapat kepala manusia. Nasruddin duduk membelakangi singa.

Nasruddin adalah tokoh sufi satir, yang diyakini telah hidup selama abad pertengahan atau sekitar abad ke-13 Masehi. Ia dianggap sebagai filsuf yang populis dan orang bijak yang merangkai kisah kebijakannya dengan cerita lucu dan anekdot.

Klaim tentang asal-usul yang dibuat oleh banyak kelompok etnis, di antara mereka adalah orang-orang Turki, yang mengatakan, ia tinggal di Anataolia, mungkin lahir pada 1209 Masehi di Desa Hortu di Sivrihisar, Askisehir, pada abad ke-13, dan kemudian menetap di Aksehir. Ia meninggal pada 1257 Masehi di Konya yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Seljuk.

Sebagai generasi lama, cerita yang kini kita dapatkan telah dimodifikasi. Kisah-kisah Nasruddin telah menyebar ke berbagai daerah. Tema dalam dongeng telah menjadi bagian dari cerita rakyat dari sejumlah negara dan mengekspresikan imajinasi nasional dari berbagai budaya.

Meskipun sebagian besar dari mereka menggambarkan Nasruddin dalam suasana desa kecil, awal cerita-ceritanya berurusan dengan konsep-konsep yang memiliki keabadian tertentu. Mereka menyiapkan sebuah bernas kebijaksanaan rakyat yang menang atas semua cobaan dan kesengsaraan.

Naskah tertua Nasruddin ditemukan pada 1571. Hari ini, cerita Nasruddin yang diceritakan dalam berbagai daerah, terutama di seluruh dunia Muslim, dan telah diterjemahkan ke banyak bahasa.

Beberapa daerah secara mandiri mengembangkan karakter yang mirip dengan Nasruddin dan cerita-cerita telah menjadi bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Di banyak daerah, Nasruddin adalah bagian utama dari budaya dan dikutip atau disinggung sering dalam kehidupan sehari-hari. Karena ada ribuan cerita Nasruddin berbeda, satu dapat ditemukan cocok hampir setiap kesempatan.

Kisah-kisah bijak Nasruddin Hoja sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Apa pasal? Bukan hanya karena humornya saja yang menarik, melainkan juga di balik humor yang dituliskannya itu terdapat pesan yang memuat kebijakan dan hikmah.

Di Turki sendiri, Nasruddin sangat terkenal. Hampir semua penduduk Turki mengenalnya. Ini terbukti dari patung-patung yang bukan hanya ada di Aksehir, melainkan juga ada di beberapa kota lainnya di negeri tempat Daulah Usmani pernah berkuasa. N ed: heri ruslan. *Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana pada Universitas Ankara, Turki.

Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/153/148176/Menengok_Makam_Nasruddin_Hoja

Jumat, 18 November 2011

Lantai Masjid yang Selalu Mengkilap

(Catatan Perjalanan Haji Bagian-4)


Oleh Deden Mauli Darajat

Pernahkah kita berpikir bagaimana membersihkan masjid yang selalu dipenuhi ribuan bahkan ratusan ribu jemaah setiap waktu? Tentu jawabannya adalah susah, tapi tidak untuk di Masjidil Haram. Pengelola masjid yang berdiri di kota Mekkah ini memiliki cara tersendiri untuk membersihkan masjidnya agar para jemaah nyaman dalam beribadah.

Saya masih duduk bersila di dalam masjid yang diharamkan untuk berbuat segala maksiat itu. Saat itu jam di Tower Zamzam yang paling tinggi di dunia ini menunjukkan tepat pukul 00.00 waktu setempat. Sebelumnya saya berpikir bahwa masjid itu akan sepi di tengah malam, namun rupanya jemaahnya tetap membludak. Memang ada sebagian jemaah yang kembali ke pemondokan, namun sebaliknya ada juga yang baru datang ke masjid itu.

Dan yang datang bukan hanya orang-perorang. Yang datang ke Masjidil Haram ini kebanyakannya adalah berkelompok atau rombongan. Salah satu rombongan dari Lombok, Nusa Tengara Barat, misalnya, malam itu baru tiba di Mekkah dan langsung ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf. Mereka berkumpul tepat disamping saya duduk.

Sebagian langsung melakukan shalat tahiyatulmasjid sebagian lainnya berdoa sembari menunggu giliran shalat karena terbatasnya tempat yang sudah penuh. Seorang ibu yang usai melaksanakan sholat disamping saya mengisakan air matanya. Ia tersedu sedan membaca doa. Ada air mata bahagia dan penuh harap saat ia berdoa.

Saat rombongan dari Lombok itu bergerak mendekati ka’bah untuk thawaf, segerombolan petugas pembersih masjid mendekati kami dan memerintahkan kepada kami agar kami pindah dari tempat duduk kami. Karena gerakan mereka cepat, saya pun mengangkut semua bawaan saya termasuk sejadah dan tas soren yang selalu saya bawa ketika berada di Mekkah.

Sejumlah pembersih itu dibagi tugasnya masing-masing, ada yang bertugas memegang tali merah, seukuran tali “police line” yang berwarna kuning. Tali merah itu dibentangkan seluas 10 meter kali 10 meter, dan ditengah garis itu terdapat sejumlah petugas, ada yang menyiramkan air pembersih ada juga yang memegang alat pengepel. Dengan sekejap lantai masjid itu mengkilap. Para pembersih yang bertugas saat itu sekitar 20-an orang.

Sangat mudah mengenali para petugas pembersih yang bertugas di masjidilharam. Sebab, mereka mengenakan seragam berwarna hijau atau cokelat. Di punggung seragam mereka bertuliskan Petugas Masjidil Haram dengan tulisan Arab. Seragam mereka juga dilengkapi dengan peci yang juga warna hijau atau cokelat sesuai dengan seragam yang mereka dikenakan.

Para petugas pembersih yang bertugas di Masjidil Haram bukanlah penduduk setempat, melainkan orang-orang asing yang merantau dan mencari kerja di jazirah arab, diantaranya, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, India dll.

Anwar, petugas asal Jawaw Barat, misalnya, ia sudah tinggal di Mekkah selama 3,5 tahun. Ia bertugas di tempat minum air zamzam yang berada di dalam Masjidil Haram. Usai meminum air Zamzam, saya menyapa dan berbincang dengannya. Anwar bercerita mengapa dirinya ingin bekerja di Mekkah. Keinginannya sederhana, ia ingin berhaji sekaligus ingin mencari nafkah. Dengan tinggal di Mekkah ia sudah berhaji untuk ketiga kalinya pada tahun ini.

Para petugas pembersih menurutnya sangat banyak, hingga ribuan orang. Orang Indonesia saja bisa mencapai 500 orang yang bekerja di Masjidil Haram. Ribuan petugas itu dibagi menjadi berbagai shift. Satu shift bekerja selama 12 jam. Dan diganti dengan shift selanjutnya setelah 12 jam bekerja. Karena Anwar dan kawan-kawannyalah para jemaah bisa nyaman beribadah dengan lantai yang selalu mengkilap.

(bersambung)


Kamis, 17 November 2011

Jatuh Bangun Dapatkan Visa Haji



(Catatan Perjalanan Haji Bagian-3)


Oleh Deden Mauli Darajat


Sahabat saya di Jeddah Arab Saudi bertanya di pesan facebook, "Saya lihat di daftar haji KJRI ada nama antum. Tapi pas hari H-nya gak muncul. Kenapa?". Atau mungkin juga ada yang bertanya bagaimana saya bisa berangkat haji dari Turki, sementara Turki juga memberangkatkan banyak jemaahnya ke tanah suci Mekkah?


Ya, Turki merupakan negara yang mayoritas penduduknya muslim. Pas musim haji di Mekkah pun jemaah haji asal Turki cukup banyak sekitar 70 ribu jamaah. Seperti halnya Indonesia yang memberangkatkan haji sebanyak 220 ribu jamaah. Untuk berangkat haji dari Indonesia, misalnya, kita harus menunggu 2 atau 3 tahun bahkan bisa lebih, dengan sistem menunggu atau waiting list.


Berbeda dengan di Turki, sistem yang digunakan adalah undian. Misalnya, di salah satu kota Urfa, memiliki kuota sebanyak 2000 jemaah sementara yang mendaftar sebanyak 200 ribu jemaah, maka panitia penyelenggara haji dalam hal ini kementerian agama mengundi 2000 jemaah yang berhak berangkat ke haji tahun ini.


Bagi calon jemaah haji yang belum mendapatkan undian maka tahun depan bisa mendaftar ulang di kementerian agama setempat. Jadi pendaftaran haji di Turki diadakan setiap tahun dengan sistem undian. Namun tetap saja kebanyakan pendaftar calon jemaah haji adalah orang tua bukan yang muda.


Baiklah kita mulai ceritanya. Beberapa tahun lalu, 2004 dan 2007, mahasiswa Indonesia di Turki mendapatkan jatah untuk tenaga musim haji (temus) untuk diperbantukan melayani jemaah haji Indonesia. Namun sejak 2008 jatah untuk mahasiswa Turki dan negara yang tidak berbahasa arab di hapuskan.


Tahun 2010 lalu saya dan rekan-rekan di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki mengajukan permohonan kepada KBRI Ankara untuk mengajukan temus tahun 2010. KBRI Ankara pun kemudian mengirimkan permohonan kami kepada kementerian Agama RI di Jakarta. Jawaban dari Kemenag RI adalah tidak ada temus untuk mahasiswa Indonesia di Turki.


Rupanya bukan hanya Turki yang mengajukan hal demikian. Ingin lebih diperkuat lagi, Badan Kerjasama (BK) PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya mengajukan hal yang sama di awal tahun 2011. Isinya adalah mengajukan untuk membuka kembali temus untuk negara-negara Turki, Iran, Pakistan dll. Beberapa waktu lalu kami terima jawaban yang sama, yakni tidak ada temus untuk negara-negara tersebut.


Karena niat berhaji sudah lama tertanam di hati, saya mencoba bertanya sekaligus ingin mendaftar haji ke kementerian agama Turki di Ankara. Jawaban mereka adalah bagi orang asing di Turki tidak bisa berangkat haji namun hanya bisa berangkat ke Mekkah untuk umrah. Dan mereka menyarankan saya untuk bertanya ke kantor wilayah kemenag Ankara.


Lalu saya pun mendatangi kanwil kemenag Turki di Ankara dekat masjid Kocatepe, masjid terbesar di Ankara. Mereka ramah dan kami berbincang hangat dengan disediakannya cay atau teh. Dan saya kemukakan keinginan saya untuk berhaji melalui kementerian agama ini, maka jawabannya adalah sama dengan di kementerian agama Turki pusat.  Yaitu, tidak ada jatah asing untuk berhaji. Ini saya lakukan di bulan Maret dan April tahun ini, dimana masih ada pendaftaran haji.


Saudara saya di Iran akhirnya bisa berangkat haji dengan menjadi pelayan/pramugara di pesawat Saudi Arabian selama musim haji bersama rekan-ekannya mahasiswa Indonesia di Iran. Saya pun berpikir siapa tahu saya bisa seperti dia, dan saya kirimkan CV dan daftarkan diri. Namun, jawabannya adalah saya tidak bisa diterima karena tidak bisa berbahasa persia, meski saya ajukan bahwa saya bisa berbahasa Turki selain Inggris dan Arab.


Saya menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ingin saya berdamai dengan keadaan. Dalam kesibukan belajar saya masih berpikir bagaimana caranya agar saya bisa berhaji. Memang tidak banyak yang tahu orang-orang di sekitar saya tentang keinginan ini. Seakan-akan tidak terjadi ada apa-apa.


Usai lebaran Idul Fitri 1432 H, saya mendapatkan kabar dari KBRI Ankara bahwa Koperasi di KJRI Jeddah membuka pendaftaran untuk haji Luar Negeri. Untuk memperjelas informasi ini maka saya langsung menelepon KJRI Jeddah dan bertanya apakah saya, mahasiswa di Turki bisa mendaftar di Koperasi KJRI Jeddah untuk berhaji, jawabannya boleh.


Masalahnya adalah saya harus mendapatkan visa haji dari kedutaan Arab Saudi di negara setempat. Dengan semangat tinggi saya mendatangi kedutaan Arab Saudi di Ankara untuk mengajukan visa. Dengan mendapatkan data dari KJRI Jeddah ditambah surat keterangan dari KBRI Ankara saya yakin bisa mendapatkan visa itu.


Di luar dugaan, counsellor atau diplomat Arab Saudi yang bertanggungjawab dengan visa haji menolak pengajuan visa haji saya. Dia beralasan bahwa orang Indonesia jika ingin berhaji maka ia harus berangkat dari Jakarta atau kota lainnya di Indonesia. Saya tidak sendiri, ada juga orang Irak, Afganistan, Iran dll yang bernasib sama, visa ditolak. Saya langsung membatalkan pendaftaran haji saya di KJRI Jeddah.


Saya masih tidak percaya dengan kejadian hari itu. Saya galau. Makan susah tidur pun tak bisa. Akhirnya saya paksakan tidur agar soal visa ini tak selalu beredar di pikiran saya. Saya berusaha berdamai dengan keadaan. Berangsur-angsur saya mulai ikhlas dengan apa yang telah terjadi, mungkin memang belum rejekinya. Berkali-kali menarik napas.


Suatu hari saudara saya yang mulai bertugas di Jeddah memberikan kabar bahwa rekan kami mahasiswa di Pakistan dan di Austria sudah mendapatkan visa haji dan bersiap berangkat ke Mekkah. Dia menegaskan bahwa, haji adalah ibadah. Dan memang untuk beribadah haji banyak rintangan dan ujiannya. Cobalah sekali, dua, atau tiga kali datangi kedutaan Arab Saudi lagi, siapa tau masih bisa.


Ya, semangat saya tumbuh lagi. Saya kembali datangi kedutaan Arab Saudi, jawabannya sama: tidak bisa. Pernah dari pagi sampai sore (diselingi istirharat) sampai kantor kedutaan tutup saya masih di ruang tunggu dan tidak ada satu pun petugas visa yang menyapa. Mereka sudah hapal dengan muka saya. Saya dicuekin. Berkali-kali saya datangi pun, nasib saya sama, meski ada peningkatan yaitu disapa dan mau apa namun jawabannya sama tidak bisa.


Sampai suatu ketika saya pulang dari Istanbul dan hanya sempat tidur di bus dalam perjalanan malam menuju Ankara, pagi itu saya kembali mendatangi kedutaan Arab Saudi. Hari itu Rabu, 19 Oktober 2011. Siangnya pas istirahat kantor saya diundang untuk hadir di pengajian ibu-ibu di Ankara. Usai makan siang di pengajian itu, saya kembali ke kedutaan Arab yang memang tidak jauh dari lokasi pengajian.


Saat itu di kedutaan Arab Saudi ada diplomat Sudan di tengah-tengah kami di ruang tunggu. Sang diplomat Arab Saudi yang menolak saya dan tak pernah senyum itu kini tersenyum dan tertawa saat berbincang dengan diplomat Sudan. Saya ajukan kembali ke diplomat Arab, dan sekilas ia membaca dokumen saya dan mengatakan "ikuti dia saja," ujarnya singkat.


Arabi nama diplomat Sudan itu. Arabi, saya dan 4 orang mahasiswa asing asal Irak dan Libya, keluar dari kedutaan Arab menuju kantor travel haji. Arabi mengatakan jika ingin berangkat haji dari Turki maka harus mendaftar di travel haji dari Turki. Baiklah, saya menyanggupi semua persyaratan itu. Saya serahkan paspor dan ikamet kepada Arabi untuk mengurus visa.


Ternyata hanya butuh sehari untuk mengurus visa haji. Dan visa haji di paspor saya adalah majjanan alias gratis. Semua serba dadakan. Seminggu kemudian tanggal 28 Oktober saya terbang ke Jeddah dan kemudian ke Mekkah untuk berhaji. Alhamdulillah. Hadza min fadhli Rabbi liyabluwani a asykuru am akfur. Segala puji bagi Allah. Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).


(bersambung)