Sabtu, 29 Juni 2013
Kamis, 30 Mei 2013
Simposium PPI Eropa Amerika 2013 Hasilkan Draf Istanbul
Perhimpunan Pelajar
Indonesia (PPI) kawasan Eropa dan Amerika menghasilkan "Draft
Istanbul" pasca simposium yang berlangsung pada tanggal 17-19 Mei 2013 di
kampus Universitas Fatih, Istanbul, Turki. Acara simposium ini dihadiri oleh
Azwar Abubakar (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Republik Indonesia), Edfian Noerdin (Dirut PT.Yudhistira), Prof. Richardus Eko
Indrajit (Staf Khusus Menpora), dan Asmoro Hadiyanto (Direktur Dompet Dhuafa
Indonesia).
PPI yang hadir dalam
simposium PPI Eropa Amerika yakni, PPI United Kingdom, PPI Spanyol, PPI
Austria, PPI Swedia, PPI Serbia, PPI Portugal, PPI Perancis. Selain itu, juga
dihadiri oleh PPI lainnya yang di luar PPI Eropa Amerika, yaitu PPI Libanon dan
PPI Oman.
Ketua Pelaksana Simposium PPI Eropa Amerika Firdaus Guritno menerangkan, hari pertama pelaksanaan simposium ini membahas tentang permasalahan kebangsaan, yang dibahas khusus oleh para delegasi dari PPI Eropa Amerika. Sementara hari kedua, berupa kuliah umum kebangsaan tentang "Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan Ekonomi Indonesia Sebagai Modal Menjadi Bangsa yang Besar". Di hari ketiga, panitia dan delegasi mengadakan napak tilas sejarah Istanbul.
"Istanbul merupakan tempat bersejarah. 560 tahun lalu di bulan Mei, Sultan Fatih menaklukkan Konstantinopel dan mengubah namanya menjadi Istanbul. Banyak sejarah yang terukir pada bulan Mei," ujar Ketua Pengarah Simposium PPI Eropa Amerika Deden Mauli Darajat.
105 tahun yang lalu, papar Deden, para pelajar Indonesia mendirikan Boedi Oetomo yang tanggal lahirnya kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Reformasi 15 tahun yang lalu pun juga terjadi di bulan Mei. Begitu halnya dengan simposium kali ini yang digelar pada Mei 2013, dan ini sebuah rangkaian sejarah
Ketua Pelaksana Simposium PPI Eropa Amerika Firdaus Guritno menerangkan, hari pertama pelaksanaan simposium ini membahas tentang permasalahan kebangsaan, yang dibahas khusus oleh para delegasi dari PPI Eropa Amerika. Sementara hari kedua, berupa kuliah umum kebangsaan tentang "Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan Ekonomi Indonesia Sebagai Modal Menjadi Bangsa yang Besar". Di hari ketiga, panitia dan delegasi mengadakan napak tilas sejarah Istanbul.
"Istanbul merupakan tempat bersejarah. 560 tahun lalu di bulan Mei, Sultan Fatih menaklukkan Konstantinopel dan mengubah namanya menjadi Istanbul. Banyak sejarah yang terukir pada bulan Mei," ujar Ketua Pengarah Simposium PPI Eropa Amerika Deden Mauli Darajat.
105 tahun yang lalu, papar Deden, para pelajar Indonesia mendirikan Boedi Oetomo yang tanggal lahirnya kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Reformasi 15 tahun yang lalu pun juga terjadi di bulan Mei. Begitu halnya dengan simposium kali ini yang digelar pada Mei 2013, dan ini sebuah rangkaian sejarah
Berdasarkan rencana
awal, hari pertama Simposium ini disusun dengan skema roadmap di mana ini
merupakan rangkaian acara berupa dialog yang dibentuk berdasarkan komisi-komisi
yang terbagi menjadi tiga komisi; Komisi Demokrasi dan Kepemimpinan, Komisi
Sains dan Teknologi, serta Komisi Ekonomi dan Kewirausahaan.
Di hari kedua, Teleconference dengan pembicara Bj Habibie (Presiden RI ke-3) dibatalkan karena beberapa alasan teknis. Begitu pula dengan KMRT Roy Suryo (Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia), yang pada akhirnya mengirimkan staf khususnya untuk menjadi pembicara dan mengirimkan pesan kepada seluruh delegasi dengan pesan bangsa yaitu "youth, nation and technology".
Di akhir acara, para delegasi PPI Eropa Amerika membacakan hasil Simposium yang dirangkum dalam "Draft Istanbul". Ketua PPI Turki Yaumil Fadli Suhairi selaku tuan rumah, menjadi pembaca Draft Istanbul yang berbunyi:
Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami perwakilan PPI Kawasan Eropa dan Amerika, berkumpul di Istanbul, Turki untuk menyumbangkan pemikiran dan peranan bagi bangsa Indonesia.
1. Menerapkan praktik demokrasi dan kepemimpinan yang bertanggung jawab untuk menciptakan bangsa yang lebih maju, berintegritas, dan bermartabat.
2. Meningkatkan peran bangsa Indonesia di dalam pergaulan internasional melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sumber daya manusia yang berkualitas untuk mencerdaskan dan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.
3. Mempersiapkan Indonesia menuju kemandirian ekonomi bangsa yang bersaing dan berdayaguna secara global.
4. Dengan itikad baik, siap mendukung dan mewujudkan kemajuan bangsa Indonesia melalui roadmap PPI kawasan Eropa dan Amerika sebagaimana terlampir.
Istanbul, 18 Mei 2013. Atas nama PPI Eropa Amerika.
Di hari kedua, Teleconference dengan pembicara Bj Habibie (Presiden RI ke-3) dibatalkan karena beberapa alasan teknis. Begitu pula dengan KMRT Roy Suryo (Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia), yang pada akhirnya mengirimkan staf khususnya untuk menjadi pembicara dan mengirimkan pesan kepada seluruh delegasi dengan pesan bangsa yaitu "youth, nation and technology".
Di akhir acara, para delegasi PPI Eropa Amerika membacakan hasil Simposium yang dirangkum dalam "Draft Istanbul". Ketua PPI Turki Yaumil Fadli Suhairi selaku tuan rumah, menjadi pembaca Draft Istanbul yang berbunyi:
Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami perwakilan PPI Kawasan Eropa dan Amerika, berkumpul di Istanbul, Turki untuk menyumbangkan pemikiran dan peranan bagi bangsa Indonesia.
1. Menerapkan praktik demokrasi dan kepemimpinan yang bertanggung jawab untuk menciptakan bangsa yang lebih maju, berintegritas, dan bermartabat.
2. Meningkatkan peran bangsa Indonesia di dalam pergaulan internasional melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sumber daya manusia yang berkualitas untuk mencerdaskan dan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.
3. Mempersiapkan Indonesia menuju kemandirian ekonomi bangsa yang bersaing dan berdayaguna secara global.
4. Dengan itikad baik, siap mendukung dan mewujudkan kemajuan bangsa Indonesia melalui roadmap PPI kawasan Eropa dan Amerika sebagaimana terlampir.
Istanbul, 18 Mei 2013. Atas nama PPI Eropa Amerika.
Agus Mulyana
Redaktur : Miftahul Falah
Sambutan Ketua SC Simposium PPI Eropa Amerika 2013
Selamat datang di Istanbul, sebuah kota yang maha padat sejarah. Bulan Mei adalah juga bulan sejarah. Pada 29 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmet II) menaklukkan kota Konstantinopel
dan mengubah namanya menjadi kota Istanbul. Sultan Mehmet II dikenal sebagai
sebaik-baiknya pemimpin di masanya, dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan. Siapapun raja di dunia ini pada
waktu itu ingin menaklukkan atau merebut kota Konstantinopel ini. Bahkan
Napoleon Bonaparte pernah berujar, seandainya dunia ini adalah satu negara maka
Istanbul adalah ibukotanya dan aku tidak keberatan untuk memimpin dunia.
Di kota yang hebat inilah, kita para pelajar Indonesia
berkumpul hari ini. Sejarah pergerakan pelajar dan pemuda Indonesia dimulai
saat Boedi Oetomo berdiri pada 20 Mei 1908 di
Jakarta. Boedi Oetomo merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki
struktur pengorganisasian modern yang dibangun oleh
pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan
refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme
Jawa yang ditampilkannya.
Selain pergerakan di dalam negeri pelajar Indonesia di luar negeri juga membentuk organisasi bernama Perhimpunan Indonesia. Salah seorang proklamator bernama Mohammad Hatta adalah salah satu motor penggeraknya. Hingga saat ini PPI Belanda merupakan PPI tertua di belahan dunia.
Selain pergerakan di dalam negeri pelajar Indonesia di luar negeri juga membentuk organisasi bernama Perhimpunan Indonesia. Salah seorang proklamator bernama Mohammad Hatta adalah salah satu motor penggeraknya. Hingga saat ini PPI Belanda merupakan PPI tertua di belahan dunia.
Kemerdekaan
Indonesia adalah hasil perjuangan para pelajar, mahasiswa, pemuda dan pejuang
yang tidak mengenal lelah dan tidak gentar dengan ancaman dari para penjajah.
Soekarno dan Hatta adalah pejuang yang merasakan berbagai macam intimidasi dari
pihak asing. Namun, mereka tetap berjuang demi kedaulatan Bangsa Indonesia.
Setelah perjuangan kemerdekaan, para pelajar dan pemuda tetap menjadi penggerak
perubahan di Indonesia.
Sejarah pergerakan mahasiswa selanjutnya
adalah terjadi pada 21 Mei 1998 yaitu reformasi. Reformasi ini menumbangkan
rezim otoriter pimpinan Soeharto. Reformasi ini menjadi titik balik perubahan
sistem politik dari otoriter menjadi demokrasi. Selain itu, efek dari reformasi
adalah adanya kebebasan pers dan
kebebasan berpendapat yang telah lama dibungkam. Hal ini menjadikan Indonesia
sebagai Negara Demokrasi terbesar setelah Amerika.
Perubahan bangsa tidak bisa
dilepaskan dari pergerakan pelajar dan pemuda baik di dalam negeri maupun di
luar negeri. Simposium PPI Eropa Amerika ini, yang mengambil tema “Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan
Ekonomi Indonesia Sebagai Modal Menjadi Bangsa yang Besar” selain sebagai
sejarah yang kita ukir pada 17-19 Mei 2013 ini, juga sebagai pergerakan pelajar dan pemuda Indonesia yang berada di
Eropa dan Amerika. PPI hadir untuk Indonesia. Impian kita adalah Indonesia maju
dan menjadi bangsa yang besar.
Minggu, 26 Mei 2013
Instrumen dan Akustik
![]() |
| Gambar dari sini: yogyakartacity.olx.co.id |
Tapi sebenarnya beberapa hari ini orang-orang di sekitar saya lagi keranjingan lagunya P!nk yang judulnya, Just Give Me a Reason. Awalnya sih saya iseng nemu lagu ini, terus saya putar di telepon seluler dan teman saya tanya lagu apa yang diputar.
Kemudian mereka mengunduh lagu itu dari internet. Dan berputarlah lagu itu di telepon seluler mereka. Ini menjadi semacam lagu kebangsaan di Gema Ilmiah Ankara, karena mereka hafal lirik lagu ini. Dan teman saya sampai mendengar lagu ini dengan berbagai macam cover-nya di Youtube.
Semalam, saya ditunjukin sesuatu dari Youtube. Rupanya Novita X Factor menyanyikan ini lagu di final. Dan kami langsung bernyanyi dengan gitar lalu direkam di laptop. Begitulah memang pengaruh musik. Cepat menyebar.
Kamis, 23 Mei 2013
Mencatat, Belajar Akurat
Pas kecil dulu saya sering disuruh ibu untuk membeli sesuatu ke warung. Apa saja yang diminta saya turuti sebisa saya. Kadang telur, kerupuk, makanan, bahan makanan dan semacamnya.
Saya tidak ingat tentang keadilan pendelegasian untuk membeli sesuatu itu kepada kakak-kakak saya juga atau tidak. Yang saya ingat saya selalu semangat untuk berbelanja meski tidak diberi upah.
Saking semangatnya, ibu saya yang waktu itu menyuruh saya membeli bihun dua bungkus, eh saya salah membelinya. Saya bilang sama pedagangnya kalah saya mau beli soun.
Dan dua bungkus soun sudah ada di tangan, kemudian saya berikan pada ibu saya. Hampir saja saya keluar rumah untuk kembali bermain bersama kawan-kawan, ibu saya memanggil saya. "Apa yang kamu beli?" tanya ibu.
"Soun," jawab saya. "Kan, ibu bilang, ibu butuhnya bihun," tandas ibu. Kemudian saya balik lagi membawa itu soun. Dan si penjaga warung senyam-senyum. Pasalnya, sebelum saya membeli dia bertanya dulu pada saya. "Bihun apa soun," tanya dia, saya jawab "Soun."
Saat itu saya tidak terlalu peduli apa itu soun dan apa itu bihun. Yang penting warna sama dan bentuknya mirip. Eh, rupanya salah. Apa perbedaan mendasar antara soun dan bihun. Soun itu lebih besar dan lebih lembek ketimbang bihun jika sudah dimatangkan.
Ah, itu hanya pelajaran keakuratan tentang sesuatu yang saya kadang tidak peduli terhadapnya.
Agar tidak terulang lagi, terpaksa ibu saya mencatat apa-apa saja yang akan dibeli. Gunanya agar saya tidak salah membeli dan tidak lupa tentunya. Sampai saat ini saya masih belajar mencatat, karena kapasitas ingatan tidak selalu akurat.
Senin, 13 Mei 2013
Jadilah Turis dan Nikmati Istanbul
Sembari mempersiapkan Simposium PPI Eropa Amerika di
Istanbul, akhir pekan lalu saya dan teman baik saya, Ahmad Faris (Mahasiswa S3
HI Universitas Ankara) menikmati kota dua benua itu. Saya dan Faris sebenarnya
berbeda tujuan berangkat ke Istanbul. Bang Faris, sebutan saya untuknya, dating
ke Istanbul untuk mengisi ceramah pada cukuran Selim, anak dari Kak Anita dan
Bang Arhami. Sementara saya, itu tadi untuk persiapan symposium.
Kami berangkat bersama dari Ankara. Dalam perjalanan itu Faris
bertanya pada saya, mau jadi turis atau backpacker di Istanbul? Saya jawab kita
bagusnya jadi turis saja. Bisa menikmati Istanbul. Memang baru kali ini saya
menjadi turis di Istanbul. Biasanya menjadi pelajar. Artinya datang ke Istanbul
menginap di rumah pelajar Indonesia di Istanbul. Atau kalau menginap di hotel,
itu berarti sedang menemani tamu dari Indonesia.
Sebelum acara cukuran Selim, kami mencari hotel di sekitar Gulhane, satu stasiun setelah Masjid Biru atau Sultan Ahmet Camii. Setelah bertanya dan mengecek beberapa hotel, kami menemukan hotel Hurriyet di ujung jalan. Kami memesan satu kamar berdua seharga 110 TL. Ini setelah nego harga yang awalnya 130 TL permalam. Harga ini termasuk kahvalti atau sarapan pagi.
Sebelum acara cukuran Selim, kami mencari hotel di sekitar Gulhane, satu stasiun setelah Masjid Biru atau Sultan Ahmet Camii. Setelah bertanya dan mengecek beberapa hotel, kami menemukan hotel Hurriyet di ujung jalan. Kami memesan satu kamar berdua seharga 110 TL. Ini setelah nego harga yang awalnya 130 TL permalam. Harga ini termasuk kahvalti atau sarapan pagi.
Usai acara cukuran Selim, saya menuju kantor KJRI untuk
rapat dengan panitia symposium, sementara Faris balik ke hotel dan tidur. Pas tengah
malam saya kembali ke hotel, di kamar tidak ada Faris. Saya baru saja merebahkan
badan dan whatsapp di hape saya berbunyi dan pesan masuk, dimana posisi? Lalu saya
telepon dan menemui Faris yang sedang asik makan tengah malam di sebuah kafe di
pojok Istanbul.
“Ini yang menarik menjadi turis, kita bisa menikmati kuliner
tengah malam,” ujar Faris. Wajar saja dia makan tengah malam, sebab tidur di
hotel hamper lebih dari 6 jam. Sementara saya makan setelah rapat di kantor
KJRI Istanbul. Saya mencicipi masakan ikan bakar dan saladnya. Kemudian kami
pindah ke kafe lain untuk menikmati teh.
Sebenarnya ini bukan pertama kali bagi saya berkuliner dan
jalan-jalan di pusat kota Istanbul pada tengah malam. Dulu, saya menemani Mas
Alfan Alfian selama penelitian di Turki. Kami berangkat maghrib sekitar pukul
19.00 dari Ankara dan tiba di Istanbul pukul 01.00 dini hari. Sebelum mencari
hotel kami cicipi kuliner dan menyeruput kopi Turki. Maklum, Mas Alfan ini
pecinta berat kopi, meski bukan perokok.
Menikmati pusat kota Istanbul pada tengah malam berbeda
dengan Istanbul di siang hari yang padat oleh pengunjung lokal maupun
mancanegara. Saya lebih suka duduk di tengah taman yang memisahkan antara
Masjid Biru dan Aya Sofia. Aya Sofia ini dulunya gereja dan setelah penaklukan Konstantinopel
berubah fungsi menjadi masjid. Lalu di masa Republik Turki berubah lagi menjadi
museum. Konon ada kabar akhir bulan Mei ini akan dibuka lagi menjadi masjid.
Air mancur di tengah taman dan cahaya malam yang menghiasi
taman dan gedung-gedung bersejarah itu membuat syahdu malam di musim semi. Ada beberapa
turis yang menggeret koper. Mungkin mereka sedang mencari penginapan yang
murah. Atau mungkin juga mereka ingin pindah penginapan. Atau mungkin mereka
ingin berangkat menuju bandara, kembali ke negaranya masing-masing.
Usai sarapan di Hotel Hurriyet, kami berankak ke dermaga
Kabatas. Tak begitu jauh dari tempat penginapan kami. Kami tiba di dermaga
lambat 10 menit. Jadwal kapal menuju Adalar selanjutnya pukul 12 siang
sementara waktu itu pukul 11. Kami mampir dulu ke kafe di samping dermaga. Kami
pesan teh Turki dan sutlac, semacam bubur sumsum yang terbuat dari susu dan
beras putih. Hari Senin itu kami bermaksud mengunjungi Adalar atau Princes Island Istanbul.
Tiket kapal menuju Adalah seharga 3,5 TL. Ini angkutan yang
negeri. Kalau yang swasta sekitar 5 atau 6 TL. Kami duduk di lantai paling
atas, lantai 3. Angin laut menampar muka kami. Tapi Selat Bosporus, mungkin,
menjadi selat terindah yang dimiliki Turki dan dunia. Selat ini juga yang
diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan besar zaman dulu. Karena pelabuhan Bosporus
ini menjadi penghubung tiga benua sekaligus, Asia, Afrika dan Eropa.
Di samping kami duduk dua turis wanita asal Jerman, terlihat
dari buku lonely planet berbahasa Jerman. Yang satu sibuk membaca sejarah
Adalar satunya lagi sibuk mengutak-atik gawai yang dipersiapkan untuk memotret
perjalanan. Di saat perjalanan itu, Baim mengirimkan pesan tentang poster simposium
PPI Eropa Amerika agar kami periksa. Seakan-akan ia tak rela kami menyempatkan
liburan. Hehe.
Setelah kami kedinginan di lantai 3 kapal, kami turun ke
lantai dua, ruangan tertutup dari angina laut. Usai kapal yang kami tumpangi
merapat ke beberapa dermaga akhirnya ia tambatkan badannya ke dermaga Adalar. Perjalanan
dari Kabatas menuju Adalah sekitar 1 jam 45 menit. Cukup lama juga dalam
perjalanan itu.
Terik matahari siang itu membuat mata silau, beruntung saya bawa kacamata hitam. Karena panas dan lapar, kami pun mencari restoran di pinggir pantai. Meski matahari begitu panas, tapi turis anyak berkeliaran di pulau yang dipenuhi dengan gedung-gedung tua itu. Kemudian saya teringat 6 tahun yang lalu berkunjung ke Lombok, pulau seribu masjid. Pantai di Lombok sebenarnya lebih bersh ketimbang di Bali.
Pantai di Adalar juga bersih, rapi dan terawat. Saya memesan
cumi bakar dan Faris memesan ikan bakar yang dilengkapi dengan saus. Tak ada
nasi di paket makanan kali ini. Kami hanya disuguhi beberapa irisan roti. Saya lapar
dan saya habiskan roti itu. Sebelum roti habis, Faris langsung menyerobot sisa
roti. Ia berpikir kalau tidak diamankan ia tak akan kebagian roti. Sementara makan
ikan saja tidak cukup mengenyangkan.
Karena masih lapar dan ikan masih ada di piring, saya
memanggil pelayan untuk memberikan roti tambahan buat kami. Ia menyuguhkan
makanan dengan baik dan ramah. Meski sudah minum air bersoda, kami tetap
memesan teh hangat Turki. Usai makan, kami bayar makan itu. Tak dinyana, roti
tambahan yang biasanya di berbagai restoran biasanya gratis, di Adalar ini
dikenakan biaya sebanyak 5 TL. Tidak sampai di sana, servisnya pun kena biaya
sebesar 6 TL. Pantas saja si pelayan itu ramah, dibayar, bisik saya pada Faris.
Dan petualangan dimulai. Pukul 16.00 matahari sudah mulai
bersahabat dan kami pun menyewa sepeda untuk keliling Adalar. Untuk menyewa
sepeda, sejamnya 5 TL, namun jika seharian dikenakan 15 TL. Kami menawar harga,
menyewa untuk tiga jam bayar sebesar 10 TL perorang persepeda. Sepeda yang saya
kendarai sangat ringan dan saya mudah mengayuhnya.
Saya teringat pertengahan tahun 2009 lalu, ketika saya
ditugaskan redaktur saya untuk meliput di Kepulauan Seribu. Liputan itu atas
undangan Marine Buddies WWF dalam rangka membersihkan laut dari sampah semacam plastik,
sandal, dan lainnya di Pulau Pari. Ini termasuk peliputan yang paling
mengasikan. Meski liputan selama 3 hari, tapi ini bukan liputan lebih pada
hiburan.
Pantai di Pulau Pari sangat bersih hijau kebiruan. Berbeda dengan
semenanjung Jakarta Utara, hitam pekat. Setelah menjauh dari Jakarta, lambat
laun warna air laut berubah kepucatan, dari hitam menjadi abu-abu, dan lama
kelamaan menjadi biru dan bersih dari limbah. Ini berbeda dengan selat
Bosphorus, dimana air lautnya sama saja mau di dermaga maupun di tengah laut,
yaitu biru.
Di Pulau Pari itu tim Marine Buddies WWF melakukan sosialisasi
kepada masyarakat bagaimana merawat pantai. Saya juga ikut dalam menanam pohon bakau
atau mangrove. Juga mencoba menanam dan memanen budidaya rumput laut di pantai
Pulau Pari yang landai. Sayang saya tak bisa menyelam. Karena menyelam harus
memiliki pelatihan khusus sebelumnya.
Kami mengayuh sepeda mengelilingi pulau Adalar. Rumah-rumah
hunian di Adalar sudah sangat tua. Ada yang umurnya seratus tahun bahkan ada
juga yang melebihi 500 tahun. Jalan yang kami telusuri itu menanjak, hanya
sesekali saya menurun. Di tengah-tengah pulau itu terdapat bebukitan yang
dipenuhi dengan pohon. Banyak turis yang beristirahat dan bercengkrama dengan
sahabat dan pasangannya.
Tak sedikit juga yang membawa bekal makanan untuk dinikmati
di pulau yang terkenal dengan harga makanan yang mahal itu. Di pulau ini tidak
diperkenankan kendaraan bermotor. Hanya ada mobil ambulan dan mobil kebersihan.
Selain itu hanya sepeda dan sepeda. Hutan di tengah lautan itu sejuk tanpa
polusi udara.
Di tengah pulau Adalar itu ada taman makam umat kristiani. Kuburan-kuburan
itu di atasnya terdapat salib-salib. Menurut cerita cewek-cewek Yunani yang berbincang-bicang
tentang asal usul pulau Adalar. Mereka mengatakan kalau pulau itu awalnya milik
Yunani namun kemudian direbut sama Turki usai pasukan Turki Usmani menaklukkan
Istanbul. Di pulau Adalar ini selain masjid ada juga gereja tua.
![]() |
| Minjem kamera untuk diphoto di Pulau Pari |
Dari sudut ekonomi pariwisata, pulau ini sangat subur dalam
bidang tourism. Hamper setiap hari ramai dikunjungi pelancong. Seakan sadar
dengan kepariwisataan ini, pemerintah setempat selalu membersihkan jalan dan
mempercantik pulau ini hari demi hari. Penjagaan ini terlihat dengan mata bahwa
jalan yang kita lalui bersih, seakan daun tidak jatuh di atas jalan itu. Padahal
pohon-pohon rindang memenuhi pulau itu.
Manusia memang pada akhirnya harus memikirkan manusia
selanjutnya. Bahwa bumi ini bukan hanya miliknya tapi juga milik anak cucunya. Kebaikan
yang ditinggalkan manusia masa lalu akan dikenang sejarah, apalagi jika sejarah
itu nyata seperti yang bisa kita lihat di Istanbul. Maka, menjadi turis dan
menikmati alam adalah salah satu lembar kebahagiaan hidup.
Sabtu, 11 Mei 2013
Saat Senggang Dengarlah Radio
Pagi tadi. Ya, pagi tadi saya diwawancara sama Radio
Repubik Indonesia (RRI) Pro3 FM. Hampir satu jam wawancara melalui telepon
seluler yang membahas tentang Simposium PPI Eropa Amerika yang akan diadakan di
Istanbul, Turki. Secara umum wawancara membahas acara yang akan berlangsung
pada 17-19 Mei 2013 di kampus Universitas Fatih itu.
Wawancara itu berlangsung mulai pukul 08.00 WIB,
yang berarti saya yang berada di Ankara pukul 04.00 pagi. Adzan subuh pun belum
berkumandang. Pekan lalu juga sama, saya diwawancara oleh Radio PPI Dunia, ini
waktunya agak bersahabat, sore pukul 17.00 waktu Turki. Dan yang mewawancarai
saya itu teman sendiri yang sedang belajar di Kayseri, Turki.
Ini tulisan tentang radio. Saya tidak begitu asing
dengan radio. Dulu pertama kali saya berhubungan dengan penyiaran radio ketika
mengabdi alias mengajar di Gontor, Ponorogo tahun 2002/2003. Nama radionya
adalah Suara Gontor FM disingkat menjadi Suargo 102,9 FM. Meski saya ditugaskan
di Photocopy Asia saya sering bertandang ke stasiun radio itu. Saat tulisan ini saya sedang mendengar siaran Suargo FM melalui internet.
Teman saya yang biasa mengudara mengajak saya untuk
duet bareng. Tentu saya senang dan langsung menerima ajakan itu. Terkadang pernah
juga saya mengudara sendiri menyapa pendengar di Ponorogo dan sekitarnya. Asiknya
siaran radio itu ada timbalbalik langsung. Semisal ada yang menelepon dan
mengirim sms untuk pesan lagu atau diskusi sebuah tema.
Sebab ketika kita siaran di sebuah stasiun, kita
hanya dihadapkan dengan sebuah layar komputer dan alat-alat pemutar musik. Artinya
kita harus membangun imajinasi menyapa orang tanpa melihat orang yang kita
sapa. Maka ketika ada pesan masuk untuk memesan lagu atau mendiskusikan tema
yang kita berikan itu sebuah hal yang sangat menyenangkan. Bahwa kita siaran
tidak sendiri dan ada pendengarnya.
Rasa grogi saat siaran pasti ada. Tapi kalau sudah
biasa groginya tinggal sedikit. Apalagi jika kita siarannya berdua. Selalu ada
yang renyah untuk disampaikan kepada pendengar. Celotehan yang tak dikira
sebelumnya membuat hangat sebuah siaran. Efek setelah siaran adalah nama kita
sebagai penyiar tidak asing di telinga pendengar radio kita. Apalagi kalau si
pendengar itu selalu menyetel radio kita.
![]() |
| Siaran di RDK FM |
Mungkin hal ini juga yang menguatkan saya memilih
jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di tahun
pertama kuliah pada tahun 2004 di Ciputat saya dan teman-teman berinisiatif
untuk mendirikan radio komunitas. Sebelum mendirikan radio kampus, kami
mengunjungi beberapa stasiun radio di Jakarta dan sekitarnya.
Dan kami pun membuat proposal pendirian radio kepada
Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Konumikasi UIN Jakarta. Dekan pun senang
dan berdirilah Radio Dakwah dan Komunikasi disingkat menjadi RDK FM. Radio ini
hanya mengudara di sekitaran Ciputat. Setelah mendirikan kami pun menjadi
penyiar di radio tersebut.
Awalnya RDK FM hanya disiarkan di kantin Fidkom UIN
Jakarta sebelum memiliki pemancar sendiri. Kami memasang speaker di sudut
kantin yang kabelnya tersambung sampai ke lantai 7, dimana stasiun RDK FM
berada. Lama kelamaan, kami punye pemancar sendiri. Dan stasiun RDK FM di setap
semesternya dijadikan tempat ujian praktikum siaran radio.
Tema yang kami angkat saat siaran bermacam-macam. Mulai
dari yang serius membahas perpolitikan nasional hingga yang ringan-ringan soal
kuliner dan jalan-jalan. Tetapi yang paling digemari pendengar adalah tentang
hubungan antarpribadi. Galau dan penanggulangannya, curhat, dsb. Kami tiba-tiba
berpura-pura sebagai psikolog atau dokter cinta. Hahaha.
Selasa, 07 Mei 2013
Simposium PPI Eropa Amerika di Istanbul
RMOL. Dalam hitungan hari Perhimpunan Pelajar Indonesia
(PPI) Eropa dan Amerika akan mengadakan simposium di Istanbul, Turki. Simposium
itu digelar selama tiga hari pada 17-19 Mei 2013 dengan tema 'Mengoptimalkan
Peran Demokrasi dan Kemajuan Ekonomi Indonesia Sebagai Modal Menjadi Bangsa
yang Besar'.
Kegiatan akbar ini merupakan bagian dari program kerja PPI Turki periode 2013-2014 yang dipimpin oleh Yaumil Fadli Suhairi. Simposium ini akan dihadiri oleh beberapa perwakilan pelajar dari Indonesia yang sedang menimba ilmu di negara-negara kawasan Eropa Amerika seperti Jerman, Prancis, Inggris, Rusia,Ceko,Swedia, Portugal, Kanada dan Amerika.
Ketua Panitia Pengarah (Steering committee) Deden Mauli Darajat menyebutkan, bahwa berdasarkan perkembangan, kegiatan yang akan digelar langsung selama tiga hari ini akan disusun dengan skema Road Map.
Road Map di hari pertama yaitu rangkaian acara berupa dialog yang dibentuk berdasarkan komisi-komisi, dan nantinya akan terbagi menjadi 3 komisi antara lain komisi Kepemimpinan dan Demokrasi, Komisi Sains dan Teknologi, serta Komisi Ekonomi dan Kewirausahaan.
"Komisi ini sendiri dibentuk berdasarkan gabungan perwakilan para pelajar Indonesia yang datang dari berbagai negara di kawasan Eropa dan Amerika. Hasil dari dialog ini akan ditutup dengan pengesahan Piagam Istanbul yang sebelumnya akan dirumuskan dalam rapat paripurna dan diserahkan sebagai rekomendasi untuk Indonesia," ujar Deden seperti dalam rilis yang diterima redaksi, (Jumat, 3/5).
Selanjutnya di hari kedua ungkap Deden, akan dilaksanakan seminar bertemakan 'Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan dengan pemeteri Menteri Pendayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia, Azwar Abubakar dan Menteri Pemuda dan Olahraga, KMRT Roy Suryo.
"Acara seminar ini terbuka untuk umum dan akan dihadiri kurang lebih 200 peserta dari berbagai elemen masyarakat Turki," ungkapnya.
Setelah beres dengan agenda di dua hari pertama, Operating Committee Firdaus Guritno akan mengajak para peserta simposium menjelajahi tempat-tempat wisata dan bersejarah di wilayah Istanbul seperti Museum Hagia Sophia, Museum Dolmabahçe, Topkapı Sarayı yang dikemas dalam kegiatanfield trip.
Acara akbar kali ini juga didukung oleh pihak KBRI dan KJRI Turki serta pihak konsulat kehormatan di beberapa wilayah Turki. Untuk media partner sendiri, Panitia simposium PPI Eropa Amerika ini juga bekerjasama dengan pihak Radio PPI Dunia, yaitu radio streaming online para pelajar Indonesia yang berada di luar negeri.
Yaumil Fadli Suhairi, selaku Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki mengharapkan agar Simposium yang akan berlangsung di pertengahan Mei 2013 ini bisa menjadi sebuah sumbangsih nyata para pelajar Indonesia di Turki untuk perkembangan iptek, kewirausahaan juga politik khususnya di bidang reformasi di Indonesia nantinya. [rsn]
Kegiatan akbar ini merupakan bagian dari program kerja PPI Turki periode 2013-2014 yang dipimpin oleh Yaumil Fadli Suhairi. Simposium ini akan dihadiri oleh beberapa perwakilan pelajar dari Indonesia yang sedang menimba ilmu di negara-negara kawasan Eropa Amerika seperti Jerman, Prancis, Inggris, Rusia,Ceko,Swedia, Portugal, Kanada dan Amerika.
Ketua Panitia Pengarah (Steering committee) Deden Mauli Darajat menyebutkan, bahwa berdasarkan perkembangan, kegiatan yang akan digelar langsung selama tiga hari ini akan disusun dengan skema Road Map.
Road Map di hari pertama yaitu rangkaian acara berupa dialog yang dibentuk berdasarkan komisi-komisi, dan nantinya akan terbagi menjadi 3 komisi antara lain komisi Kepemimpinan dan Demokrasi, Komisi Sains dan Teknologi, serta Komisi Ekonomi dan Kewirausahaan.
"Komisi ini sendiri dibentuk berdasarkan gabungan perwakilan para pelajar Indonesia yang datang dari berbagai negara di kawasan Eropa dan Amerika. Hasil dari dialog ini akan ditutup dengan pengesahan Piagam Istanbul yang sebelumnya akan dirumuskan dalam rapat paripurna dan diserahkan sebagai rekomendasi untuk Indonesia," ujar Deden seperti dalam rilis yang diterima redaksi, (Jumat, 3/5).
Selanjutnya di hari kedua ungkap Deden, akan dilaksanakan seminar bertemakan 'Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan dengan pemeteri Menteri Pendayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia, Azwar Abubakar dan Menteri Pemuda dan Olahraga, KMRT Roy Suryo.
"Acara seminar ini terbuka untuk umum dan akan dihadiri kurang lebih 200 peserta dari berbagai elemen masyarakat Turki," ungkapnya.
Setelah beres dengan agenda di dua hari pertama, Operating Committee Firdaus Guritno akan mengajak para peserta simposium menjelajahi tempat-tempat wisata dan bersejarah di wilayah Istanbul seperti Museum Hagia Sophia, Museum Dolmabahçe, Topkapı Sarayı yang dikemas dalam kegiatanfield trip.
Acara akbar kali ini juga didukung oleh pihak KBRI dan KJRI Turki serta pihak konsulat kehormatan di beberapa wilayah Turki. Untuk media partner sendiri, Panitia simposium PPI Eropa Amerika ini juga bekerjasama dengan pihak Radio PPI Dunia, yaitu radio streaming online para pelajar Indonesia yang berada di luar negeri.
Yaumil Fadli Suhairi, selaku Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki mengharapkan agar Simposium yang akan berlangsung di pertengahan Mei 2013 ini bisa menjadi sebuah sumbangsih nyata para pelajar Indonesia di Turki untuk perkembangan iptek, kewirausahaan juga politik khususnya di bidang reformasi di Indonesia nantinya. [rsn]
Sumber Berita: http://internasional.rmol.co/read/2013/05/03/109064/Simposium-PPI-Eropa-Amerika-Dihadiri-Azwar-Abubakar-dan-Roy-Suryo
Sumber lain: http://www.antarasumbar.com/berita/nasional/d/0/287371/ppi-eropa-amerika-gelar-simposium-di-istambul.html
Minggu, 28 April 2013
Ajar
Tuhan ajarkan manusia
Berdiri tegak setelah
Jatuhkan dengan keras
Sebab Tuhan jatuhkan
Ia sembuhkan rasa jiwa dan raga
Yang penuh luka dengan cinta
Tak perlu lagi bertanya
Mengapa semua terjadi
Di luar pikiran dan nalar manusia
Sebab pernahkah berpikir
Mengapa manusia terlahir
Di alam yang akan berakhir
Atau pernahkah manusia
Meminta untuk hidup
Dengan segala yang menyertainya
Tuhan ciptakan manusia di dunia
Bukan tanpa sebab
Ia inginkan manusia mengabdi padaNya
Sebagai abdiNya, maka manusia
Mesti menurut dengan
Apa yang ditetapkanNya
Sebab manusia ini milikNya
Dan akan kembali padaNya
Dengan semua ketetapanNya
Jatuh bangun dan berdiri
Itu adalah pilihan
Setelah jalani kehidupan
Tapi kemampuan
Untuk bangun jatuh dan berdiri
Adalah kuasa Tuhan
Kuasa Tuhan berada
Di atas kuasa manusia
Tak ada tandingnya
Jika mampu berdiri
Setelah jatuh bangun
Maka berlarilah
Mengejar asa
Dengan sekuat tenaga
Juga perbanyak doa
Ankara, 28 April 2013 Sore 17.57 WT
Jatuhkan dengan keras
Sebab Tuhan jatuhkan
Ia sembuhkan rasa jiwa dan raga
Yang penuh luka dengan cinta
Tak perlu lagi bertanya
Mengapa semua terjadi
Di luar pikiran dan nalar manusia
Sebab pernahkah berpikir
Mengapa manusia terlahir
Di alam yang akan berakhir
Atau pernahkah manusia
Meminta untuk hidup
Dengan segala yang menyertainya
Tuhan ciptakan manusia di dunia
Bukan tanpa sebab
Ia inginkan manusia mengabdi padaNya
Sebagai abdiNya, maka manusia
Mesti menurut dengan
Apa yang ditetapkanNya
Sebab manusia ini milikNya
Dan akan kembali padaNya
Dengan semua ketetapanNya
Jatuh bangun dan berdiri
Itu adalah pilihan
Setelah jalani kehidupan
Tapi kemampuan
Untuk bangun jatuh dan berdiri
Adalah kuasa Tuhan
Kuasa Tuhan berada
Di atas kuasa manusia
Tak ada tandingnya
Jika mampu berdiri
Setelah jatuh bangun
Maka berlarilah
Mengejar asa
Dengan sekuat tenaga
Juga perbanyak doa
Ankara, 28 April 2013 Sore 17.57 WT
Selasa, 23 April 2013
Seni Kaligrafi
Pekan lalu saya berkunjung ke pameran seni kaligrafi di
Ankara Congresium bersama teman saya, Jurjani. Kami memang sengaja datang ke
sana untuk melihat ukiran seni yang diukir oleh tangan-tangan penuh bakat
dengan rapih dan detail. Dari dulu saya dan saudara kembar saya memang penyuka
seni kaligrafi. Meski tulisan Arab saya tidak sebagus saudara saya itu, Dadan.
Dulu, ketika tahun pertama di Gontor tahun 1997, saya dan Dadan
ditunjuk oleh pengurus asrama untuk menghias atau mendekorasi asrama gedung
baru shighor, gedung Alighar lantai satu. Waktu mengerjakan dekorasi itu kami
berdua merasakan takhsis alias dispensasi untuk tidak berangkat ke masjid saat
shalat maghrib. Dan ada beberapa dispensasi lainnya saat kami menghias asrama.
Ketika saya berkunjung ke Kairo, Mesir pertengahan tahun
2010 lalu, saya bertemu dengan banyak teman saya yang satu almamater di Gontor.
Pertemuan itu menjadi nostalgia tentang sekolah yang berada di kampung damai
dengan pemikiran yang mendunia. Selain silaturahim dan kongkow saya juga berkunjung ke tempat-tempat bersejarah di
tanah para nabi itu.
Masjid-masjid bersejarah juga tak luput saya tengok. Di sela
perbincangan itu, teman saya berkata ingin bertandang ke Istanbul, Turki. Mengapa,
saya tanya padanya. Ia menjawab bahwa Istanbul itu pusat seni kaligrafi atau
khat, yaitu seni tulisan Arab. Saya tercenung, mengapa harus Istanbul? Padahal
Turki bukanlah negara Arab atau negara yang berbahasa Arab.
Turki yang berada di tengah dua benua besar, Asia dan Eropa
adalah negara yang berbahasa Turki dan tulisannya berjenis alphabet latin
seperti Inggris. Walaupun ada beberapa huruf tambahan seperti huruf ‘i’ tanpa
titik, dsb, yang jumlah keseluruhannya sebanyak 29 huruf, berbeda dengan
alphabet bahasa Inggris dan Indonesia yang berjumlah 26 huruf.
Saya lupa waktu itu, kalau Istanbul adalah ibukota
Kesultanan Turki Usmani yang berjaya sekitar 500 tahun. Sejak 1453 masehi,
Konstantinopel berubah nama menjadi Istanbul setelah ditaklukkan oleh Sultan
Fatih. Dan peradaban besar dimulai dari sini. Saat itu bahasa Turki
ber-alphabet tulisan Arab. Seperti tulisan bahasa jawa dan melayu kuno. Tulisannya
Arab tapi bacaannya bahasa melayu atau jawa.
Juga kekuasaan wilayah Kesultanan Turki Usmani ini terentang
di wilayah Timur Tengah dan sebagian Eropa. Termasuk di dalamnya Arab Saudi dan
Mesir. Setelah peradaban Islam maju di Baghdad selama lima abad, kemudian
berpindah ke Istanbul dengan waktu yang nyaris sama. Begitu juga dengan pusat keilmuan
dan kesenian yang juga berpindah dari Baghdad ke Istanbul.
![]() |
| Seni kaligrafi di dinding Taj Mahal, India |
Dispensasi ini sangat spesial, karena disiplin di Gontor
sangat ketat. Jika melanggar aturan paling tidak dihukum dengan hafalan hingga
botak bahkan bisa lebih, tergantung dari aturan apa yang dilanggar. Dan karena
dispensasi ini juga kami berdua jadi lumayan dikenal orang-orang se-asrama yang
dihuni anak baru itu. Kami mendekorasi asrama dengan tulisan kata-kata mutiara
yang kami buat dari kertas karton.
Setiap semester bagian kesenian di Gontor mengadakan
perlombaan mendekorasi asrama. Dan setiap pengurus asrama mengadakan perlombaan
serupa bagi setiap kamarnya. Ini dilakukan agar asrama dan kamar yang kita huni
indah dipandang mata.
Setiap saya berkunjung ke beberapa negara, seperti Mesir,
Iran, Arab Saudi, India bahkan Inggris, saya berusaha berkunjung ke tempat
sejarahnya. Juga ke masjid-masjidnya yang memiliki dekorasi seni kaligrafi yang
bagus dan unik, hanya untuk shalat dan untuk mengambil gambarnya. Sebab Allah
itu Mahaindah dan menyukai keindahan.
Di setiap masjid di Turki juga dipenuhi dengan dekorasi seni
kaligrafi yang indah. Dan di Istanbul beberapa abad lalu sudah ada sekolah seni
kaligrafi. Ini yang menjadikan seni kaligrafi di Turki tetap terjaga
kualitasnya hingga saat ini. Meski setelah pengalihan kekuasaan dari Kesultanan
Turki Usmani ke Republik Turki yang sekuler di tahun 1923, yang mengubah tulisan
Arab menjadi Latin, seni kaligrafi rupanya masih tetap terjaga.
Dari hasil kunjungan itu saya bisa mengambil kesimpulan
bahwa bangunan tua dan bersejarah yang terawat dan masih kokoh di dunia ini adalah
bangunan yang didekorasi dengan indah, apik dan detail oleh sang arsitek dan
dekoratornya. Seni kaligrafi yang ditulis di dinding di Taj Mahal adalah salah satu
contohnya. Dan kami bermimpi suatu saat nanti punya sekolah yang gedung-gedungnya
dan masjidnya dihiasi dengan seni kaligrafi yang indah, seperti bangunan dan
masjid yang bersejarah di dunia, amiin.
Senin, 22 April 2013
Industri Musik
Saya bukan penyuka jenis musik tertentu. Dan saya bisa juga
menyukai berbagai jenis musik. Yang penting bagi saya adalah musik itu enak
didengar dan lirik lagunya bagus. Maka, dari pada saya mendengar lagu dari mp3 tapi
tidak nyaman di kuping lebih baik mendengar radio yang lagunya diputar dan
dipilih sama operator radio.
Berbeda jika ada konser musik. Karena saat konser kita dapat mendengar dan menyanyi langsung bareng si artis. Tapi itu pun dilihat dulu
siapa yang hadir di konser, selain berapa tiketnya, atau apakah itu konser gratis? Hahaha
tetep mahasiswa. Akhir pekan lalu, Maher
Zain konser di Ankara Arena, alias GOR baru yang dimiliki Ankara. konser ini
gratis karena disponsori oleh Kementerian Agama Turki.
Usai diskusi rutin dua mingguan GIA di kantor KBRI, kami
bersama-sama berkunjung ke Ankara Arena. Tapi sebelumnya kami bertandang ke
pameran pelajar internasional di Genclik Park atau taman pemuda yang tidak jauh
dari Ankara Arena. Karena waktu konser pukul 21.30 maka kami jalan-jalan lagi
ke Luna Park yang masih satu komplek dengan Genclik Park.
Luna Park ini sejenis Dunia Fantasi (Dufan) di Jakarta. Tapi
Dufan lebih besar dan lebih luas ketimbang Luna Park. Jenis mainannya pun di
Luna Park lebih sedikit. Masuk ke Luna Park ini murah, cuma 25 Kurus TL atau
sekitar, 1.250 IDR. Setiap mainan
dikenakan biaya 4 TL atau sekitar 20 ribu rupiah. Yang paling saya suka kalau
masuk ke tempat hiburan sejenis ini adalah bombomkar alias permainan mobil yang bebas
untuk ditabrakan.
Setelah itu kami juga mencoba adrenalin yang membuat badan
diputar-putar. Meski tidak sedahsyat Tornado di Dufan, tapi mirip dikitlah. Bedanya pas naik adrenalin di Luna Park itu hawa
dingin yang menghantam tubuh ini. Karena masih musim semi. Lanjut kemudian
bermain bilyard di lokasi yang sama.
Akhirnya kami pun datang ke Ankara Arena, tentunya di sana sudah
penuh dengan penonton. Mereka datang dari sore. Sementara kami datang pas konser Maher Zain sahaja. Sebab, acara sebenarnya dibuka dari pukul 20.00 dengan berbagai macam
kegiatan yang menunjangnya. Setelah mencari tempat yang kosong karena Ankara
Arena sudah dipenuhi sekitar 15 ribu penonton, akhirnya kami mendapat tempat
kosong di sebelah kanan panggung yang hampir membelakangi panggung itu.
Sebenarnya saya tidak begitu hafal lagu-lagu milik Maher
Zain ini. Hanya ada beberapa yang saya ingat, yaitu lagu Insyallah dan Barakallah. Yang membuat saya senang adalah kebersamaan menonton ini bersama teman-teman. Tidak
terbayang kalau saya harus menonton sendiri. Kecuali kalau yang mengisi konser
adalah lagu-lagu favorit saya seperti Iwan Fals. Sendiri pun saya akan datangi.
Saya teringat ketika hadir di konser GIGI di kampus saya di UIN
Jakarta. Konser itu adalah penutup prosesi propesa alias opspek tahun 2004. Dengan
antusias yang tinggi para penonton ada yang menonton di atap gedung student
center. Setelah beberapa lagu Arman Maulana menyapa penonton dari berbagai
sudut, terakhir ia menyapa sudut student center dan tiba-tiba dua orang jatuh
dari lantai tiga atap gedung itu.
Setelah diselidiki, rupanya orang-orang yang menonton dari
atap gedung student center itu bukan mahasiswa kampus UIN, melainkan warga
sekitar kampus. Dan malam itu konser yang harusnya suka menjadi duka. Akibatnya
pihak rektorat mempertimbang-ulang
tentang kebijakan konser di dalam kampus. Beberapa tahun kemudian, tetap
berlangsung beberapa konser musik di dalam kampus, seperti jazz dll.
Yang hadir di Ankara Arena ini kebanyakan adalah perempuan
yang mayoritas berkerudung. Teman saya berujar, dengan menutup mata saja, kita dapat
memilih dan mendapat wanita cantik. Saking banyaknya wanita cantik malam itu. Hahaha.
Mereka bukan hanya datang dari Ankara
tapi ada juga yang datang dari beragai daerah di Turki dengan menyewa bus yang
diparkir di sekitar Ankara Arena.
Musik, apapun jenisnya, saat ini menjadi industri yang
menjanjikan. Asal jeli melihat pangsa pasar dan kondisi sosial. Maher Zain,
termasuk yang cerdas dalam hal ini. Mayoritas lagunya berbahasa Inggris, tapi
ada beberapa lagunya yang berbahasa Arab, Turki dan bahkan Indonesia. Ia tahu
bahwa pangsa pasarnya adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim.
Bahkan ada kabar bahwa Indonesia adalah sasaran pasar utama untuk
para pemusik dunia untuk melakukan konser di Jakarta. Karena hadir dalam konser
itu, bagi kelas menengah adalah bagian dari gaya hidup metropolitan, setelah
berjuang melawan hiruk pikuk ibukota.
Begitu juga jika Ramadhan tiba, para artis di Indonesia berbondong-bondong
membuat lagu atau menyanyikan lagu reliji. Kita memang tidak bisa menerka apa
niat para pembuat lagu reliji. Yang pasti secara bisnis ini tetap
menguntungkan. Inilah industri musik. Selain keuntungan dari penjualan CD musik dan iTunes,
yang paling menggiurkan adalah konser. Karena sekali konser si pemusik dapat
puluhan juta rupiah.
Rabu, 17 April 2013
Jumat, 29 Maret 2013
Yatim, Siapa Peduli?
![]() |
Saya berpikir, sebenarnya tidak ada manusia yang
ingin dirinya sejak awal menjadi yatim. Yatim bukanlah pilihan. Ini merupakan takdir. Bahwa dia dilahirkan tanpa orang tua, tanpa ayah dan tanpa ibu.
Mereka harus merelakan nasib bahwa hidup di dunia ini penuh
dengan perjuangan. Karena tak punya apa-apa dan siapa-siapa.
Hidup memang terbagi menjadi dua, pilihan dan bukan
pilihan. Yang bukan pilihan misalnya, kita lahir dari rahim ibu yang kita tidak
mengenalnya. Atau kita hadir di dunia ini dan nanti kembali ke alam akhirat
juga adalah bukan pilihan karena sudah ditakdirkan. Yang pilihan seperti kita
memilih siapa teman kita, dimana kita sekolah, kita makan apa dan sebagainya.
Dan yatim termasuk dalam bukan pilihan. Jika seorang
anak lahir dan memiliki ayah ibu, maka yang berkewajiban untuk
menghidupi dan memberinya makan adalah kedua orangtuanya. Namun anak
yatim, dia lahir dan kemudian ibu dan ayahnya meninggal dunia siapakah yang
menangungnya?
Kalau keluarga si anak yatim dari keluarga yang
mampu, maka kemungkinan besar ia diasuh dan ditanggung oleh keluarga besarnya, kalau bukan seperti apa? Ajaran Islam mengajarkan bahwa anak yatim merupakan tanggungan muslim dan mukmin. Sebab sejatinya setiap muslim adalah saudara. Sesama saudara harus saling menolong.
Dalam surat Al-Maun disebutkan bahwa, yang artinya, “1.
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 2. Maka itulah orang yang
menghardik anak yatim, 3. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. 4.
Maka celakalah orang yang sholat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap
sholatnya, 6. yang berbuat ria, 7. dan enggan (memberikan) bantuan.
Jika kita serap maknanya maka kita sebagai
muslim berkewajiban membantu anak yatim dan kurang mampu. Karena jika tidak atau enggan memberi bantuan maka kita disebut sebagai pendusta
agama, naudzubillah wa nastaghfirullah.
Dan lihat kebalikannya, jika kita mencintai anak
yatim dengan memberikan bantuan kepadanya, balasannya adalah surga. Seperti
sabda Nabi SAW dalam haditsnya yang berbunyi, dan artinya, “Aku dan orang yang
menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau
SAW mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah
beliau, serta agak merenggangkan keduanya.
Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan
dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan
hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim. Makna hadits ini adalah orang yang menyantuni anak
yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan
kedudukan Rasulullah SAW.
Arti “menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan
memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum),
pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.
Banyak anak jalanan yang tidak punya orang tua, tidak
punya tempat tinggal, tidak punya sekolah dan seterusnya. Kita memang tidak
bisa membantu seluruhnya. Tetapi paling tidak kita seyogianya menyisihkan rejeki
kita untuk mereka. Membantu semampu kita. Syukur-syukur bisa menyekolahkan dan
memberikan kehidupan yang layak.
Firman Allah dan sebuah ayat dalam Alquran
menyebutkan, barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu
(membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka
seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang
memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara
kehidupan manusia semuanya. QS. 5:32.
Pertanyaan adalah, sudahkah kita peduli akan amanah Tuhan dan
memberikan sebagian rejeki yang Allah berikan kepada kita untuk anak-anak yatim,
papa dan lemah itu?
Selasa, 26 Maret 2013
Bukan Orang Biasa
Saya tidak tahu mengapa harus menulis tentang ini. Tapi
mungkin alasannya adalah karena mereka para pejuang. Bukan orang biasa. Bisa dikatakan
sebagai orang besar. Dan saya pun menulisnya. Sebab, mereka tak mengejar
kekayaan harta. Mereka mengejar kekayaan batin. Hidup mereka untuk mencerdaskan
bangsa. Melalui caranya masing-masing.
Sementara Naim Ali adalah orang yang selalu cuek. Namun
dalam cueknya ia selalu membuat tulisan untuk majalah dinding kami bernama
hipsadus, Himpunan Peminat Sastra Darussalam, dimana saya pernah menjadi
ketuanya. Hipsadus berada dalam atap Terisda. Setiap kamis malam kami
berdiskusi tentang seni dan karya sastra dan memajangkan hasil karya sastra
kami di majalah dinding itu.
Muhammad Rovicky dan Naim Ali. Keduanya sahabat saya. Kami
pernah aktif bersama-sama di Teater Islam Darussalam (Terisda) Gontor. Kelompok
kami dulu memang disebut ‘gila’ karena kami di luar kebiasaan para santri pada
umumnya. Kami selalu berlatih drama, mencoba merasakan bagaimana menjadi ‘orang
lain’. Tetapi tentu saja ‘kegilaan’ kami masih berada dalam rambu-rambu
peraturan pesantren yang ketat.
Latihan fisik di Terisda hampir sama dengan latihan fisik di
Persatuan Beladiri Darussalam, yaitu kelompok tapak suci atau silat. Bahkan
juga latihan fisiknya bisa sama dengan klub olahraga basket dan sepakbola di
Gontor. Tetapi di Terisda kami juga dilatih menulis seperti FP2WS, Itqan atau Darussalam Pos, yaitu klub-klub yang fokus terhadap
pengetahuan dan kepenulisan. Dan di Terisda juga memiliki nilai seni seperti
halnya Aklam yang fokus terhadap
khat, dan Limit yang fokus terhadap
gambar dan lukisan kartun.
Lebih dari itu, di Terisda kami juga melatih jiwa kami untuk
lebih sensitif terhadap kesedihan, kesengsaraan, kekurangan dan
hambatan-hambatan yang diderita orang lain. Kami dilatih untuk mengritisi diri
kami sendiri. Kami dilatih untuk selalu berempati kepada siapa pun. Sebab motto
kami di Terisda yang kini berubah nama menjadi Armada adalah olah raga, olah
rasa dan olah jiwa.
![]() |
| Para santri di Pondok Modern Al-Makkiyah |
Usai lulus dari Gontor kami sudah jarang bertemu secara
fisik. Kecuali di laman media sosial. Akhir Maret 2012 lalu saya bertemu dengan Rovicky di acara
Silaturahim Nasional (Silatnas) Alumni Gontor di Cirebon. Ia masih seperti
dulu. Kurus. Bedanya sekarang dia lebih dewasa. Lebih matang. Terlihat dari
bagaimana ia berbincang bersama saya tentang pesantrennya bernama Pondok Modern
Almakkiyah. Sebuah pesantren baru yang ia dirikan di kampung halamannya di
Jambi.
Rovicky bercerita bagaimana perjuangannya mendirikan sebuah
pesantren dengan modal keyakinan dan ridha Allah semata. Banyak cibiran yang
dialamatkan padanya. Namun ia tetap maju dengan keyakinannya. Ia datang ke Silatnas
di Cirebon bersama seorang paruh baya berumur sekitar 50an tahun. Rupanya orang
yang mendampinginya itu adalah asistennya yang suka rela membantu Rovicky dalam
membangun pondok.
Sebenarnya wajar ‘kegilaan’ menempel di kelompok kami. Karena
orang-orang Terisda akhirnya banyak yang menjadi Pembina gugus depan alias Bindep
dalam kepramukaan di Gontor. Para bindep ini selain ‘urakan’ ia juga mesti bisa
membawa massa dan menjadikan anggota-anggotanya kreatif. Dan bindep itu mesti
bukan orang biasa alias ‘gila’. Rovicky adalah salah satu bindep di angkatan
saya. Ia terkenal aktif di belantara kepramukaan pondok. Meski urakan ia tetap ‘lurus’.
![]() |
| Taman Baca Mahanani |
Beberapa tahun usai lulus Gontor Naim mendirikan
perpustakaan dan taman baca di kampungnya. Taman baca yang beralamat di Jl. Supiturang
Utara 13 Kediri Jawa Timur itu ia beri nama Mahanani. Ia menjadikan kandang
sapi di belakang rumahnya menjadi taman bacaan. Pada awalnya memang anak-anak
kampung sekitarnya tidak berminat untuk datang dan membaca buku meski itu
gratis. Tekadnya kuat, ia bermimpi anak-anak itu bisa membuka cakrawala dunia
melalui membaca.
![]() |
| Naim dan anak-anak di Taman Baca Mahanani |
Naim membeli becak dan membawa buku bacaan di becak itu. Ia
teriakan kepada anak-anak yang bermain tentang membaca dan meminjam buku gratis
darinya. Anak-anak itu menghampiri becak Naim. Dan mereka membaca buku-buku
yang dibawanya. Lama-kelamaan aksi becak Naim ini menjadi perhatian dan
ditunggu-tunggu oleh masyarakatnya. Bahkan aksi Naim beberapa kali menjadi
berita di koran lokal karena ulah nyentriknya itu.
Saya teringat dengan pesan guru kami KH Imam Zarkasyi, bahwa
orang besar itu bukan yang bekerja menjadi menteri di Jakarta atau menjadi
pemimpin politik di Indonesia. Orang besar baginya adalah yang mau mengajar
masyarakatnya meski di surau kecil yang tidak digaji. Yang mengajar tanpa
pamrih. Kita bangsa Indonesia ini butuh banyak orang-orang besar yang mewakafkan diri untuk orang banyak seperti Naim
dan Rovicky ini. Sebab peradaban besar dimulai dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Minggu, 24 Maret 2013
Bukan Pertanyaan
Maukah kau tanya
Pada orang yang tak
Punya kesibukan apa-apa
Apa bedanya siang malam
Pasti dijawabnya sama saja
Maukah kau tanya
Pada orang yang
tak punya cinta
Apa arti beri dan terima
Dijawabnya tak memiliki makna
Maukah kau tanya
Pada orang yang
Punya banyak hambatan
Apa rasanya buah durian
Dijawabnya tak ingin memakannya
Maukah kau tanya
Pada orang yang
Selalu dirundung sedih
Apa rasanya minum jus mangga
Jawabnya biasa saja
Maukah kau tanya
Pada orang yang
Tak pernah merasa rindu
Apa artinya jarak dan waktu
Dijawabnya itu angin lalu
Dan coba kau tanya
Pada orang yang
Tak memiliki harapan
Apa arti masa depan
Dijawabnya itu bukan pertanyaan
Ankara, 21 Maret 2013
Minggu, 17 Maret 2013
Cerita Suatu Sore
Lagu Sevgili
milik Mustafa Ceceli berdendang dari ponsel saya saat menulis ini cerita. Sore
tadi usai shalat Ashar saya melihat anak-anak kecil berlarian di dalam masjid
terbesar di Ankara.
Muhammet (5tahun) dan Ikra (1tahun) adalah dua orang kakak dan adik yang bermain diantara banyak anak-anak di pertengahan masjid. Kakek mereka, Omer, memberikan isyarat kepada mereka berdua untuk tidak berbuat gaduh.
Muhammet (5tahun) dan Ikra (1tahun) adalah dua orang kakak dan adik yang bermain diantara banyak anak-anak di pertengahan masjid. Kakek mereka, Omer, memberikan isyarat kepada mereka berdua untuk tidak berbuat gaduh.
Sabtu
sore ini memang pengunjung Masjid Kocatepe terlihat lebih ramai dari biasanya. Saya
memperhatikan mereka dari jauh. Kemudian saya berjalan ke arah mereka. Dan saya
menyapa mereka. Sebelumnya saya bertanya siapa nama anak kecil ini, ibu dari
anak itu menjawab Ikra, satunya lagi kakaknya adalah Muhammet.
Omer,
kakek sekaligus ketua rombongan keluarga besar itu mendekati saya. Kemudian kami
berbincang-bincang. Omer mengaku sudah berkeliling Turki sekitar 15 hari
bersama keluarga besarnya, ke Istanbul, Izmit dan kemudian Ankara. Omer berasal
dari Erzurum, wilayah timur Turki. Sekitar 12 jam perjalanan melalui darat antara
Ankara dan Erzurum.
Omer
yang memiliki dua putera, lima puteri dan beberapa cucu itu memang menyukai
jalan-jalan, terlebih mengunjungi situs sejarah Islam di Turki. Misalnya saat
berkunjung ke Ankara keluarga Omer mengunjungi masjid-masjid yang megah dan
bersejarah. Dalam agenda jalan-jalannya ia selalu membawa anak dan
cucu-cucunya. Ia berpikir kalau anak dan cucunya harus mengenal sejarah nenek
moyangnya.
Di tengah
pembicaraan saya dan Omer, salah satu keponakan Omer yang puteri yang sudah
menikah dengan orang Ankara menanyakan kepada saya, apakah saya masih sendiri?
Saya jawab sembari tersenyum, ya. Dalam hati saya berkata penting gitu pertanyaan gini. Hahaha. Namun kemudian ia mengatakan, siapa tahu kamu tertarik dengan wanita Turki. Ia menambahkan, bahwa kita tidak tahu akan
nasib kita, akan jodoh kita bukan? Hmm, saya mengamini yang terakhir dengan mengangguknya.
Lalu
Omer kembali bertanya pada saya, apakah dari masjid Kocatepe ini menuju masjid
Haji Bayram itu jauh? Saya menjawab, tidak begitu jauh, tetapi tidak juga
memungkinkan untuk jalan kaki karena banyak anak kecil yang ikut dalam
rombongan Omer. Sebaiknya, ujar saya, rombongan Omer menggunakan mobil saja. Masjid
Haji Bayram adalah salah satu masjid tertua di Ankara, berdiri sejak tahun 1.500-an
masehi.
Di akhir
pembicaraan itu Omer mengajak saya untuk berphoto bersama-sama keluarganya
sebelum kami berpisah. Dan, Eyub, anak Omer mencatat nomor hape saya. Eyub
mengatakan, siapa tahu anda bepergian ke Erzurum, dan keluarganya siap
menampung saya. "Cok Tesekkur Ederim," kata saya.
Usai Omer
dan keluarganya keluar dari masjid Kocatepe, anak-anak kecil lainnya masih asik
bermain di masjid yang berdiri pada abad ke-20 namun bercorak arsitek kesultanan Turki Usmani itu. Anak-anak
kecil itu meski bermain saat ini, suatu saat mereka akan mengingatnya di saat dewasa bahwa masjid itu
bagian dari diri mereka. Meski terkadang membuat gaduh, namun permainan anak
kecil di dalam masjid itu menjadi semacam hiburan.
Langganan:
Postingan (Atom)



































