Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Kamis, 03 Mei 2012

Ah, Apa Kata Dunia


Dalam hamparan kasih
Sayang Tuhan
Kita hidup bersama
Meraih bahagia

Saat rembulan undur diri
Mentari mulai menampakkan jati
Eit lupa…
Ternyata embun muncul
Tersenyum manis

Sang makhluk itu bersabda:
‘Indah nian pagi ini..
Ah, apa kata dunia
Kalau ternyata
Aku suka embun nan indah itu’

Ciputat, Mei 2007

Apapun Kata Dunia


Makhluk itu bersabda
Dalam hati
Apapun kata dunia
Aku tetap rindu pada
Embun nan indah
Walau entah dimana
Datang tanpa diduga
Rasa tetap ada
Untuk bersama mendapat cinta
Sebab kita bercinta karena cinta
Kita bercinta agar dapat cinta

Ciputat, 19 Juni 2007

Mencari di Setiap Kaki


Embun yang kunanti
Aku mencari di setiap kaki
Yang kulangkahkan
Di atas bumi
Karena..
Ada hati yang
Merindukan pelukanmu

Ciputat, 19 Juni 2007

Sebuah Siaran


Sebuah siaran di suatu radio
Berujar mengapa manusia jatuh cinta?
Pertanyaan yang menarik, tetapi
Dibalas dengan seorang penyiar
Kalau rasa sudah ada
Lantas mau bilang apa

Ciputat, 8 Nopember 2006

Dalam Diskusi


Dalam diskusi dua teman
Sang teman berkata
Aku tak pernah mendapatkan cinta
Saat kucari ia menjauh
Kala tak berharap
Ia datang tersenyum menyapa
Sang teman lainnya menjawab
Setiap waktu aku sering
Mendapatkannya, namun
Yang sejati tak pernah kunjung datang

Ciputat, 14 September 2006

Senin, 30 April 2012

Kereta Kehidupan


Saya selalu menghindari naik kereta tujuan Rangkasbitung di sabtu sore. Penuhnya bukan main. Tak ada ruang untuk bergerak. Jika pun luang dipastikan jika naik kereta itu bukan dari Jakarta Kota atau Tanah Abang tidak akan dapat tempat duduk hingga sejam atau bahkan dua jam di perjalanan itu.

Yang membuat tambah tidak nyaman adalah ruangan kereta atau gerbong itu pekat dengan asap rokok. Orang dengan bebas menghisap rokok dimana saja di dalam gerbong, meski larangan merokok sudah tertempel di dinding gerbong. Tidak digubris. Akhirnya banyak juga yang menggunakan masker di dalam kereta dan umumnya adalah wanita.

Hampir setiap sore kereta api seperti ini terlebih di sabtu sore.
Photo: lurvely.com
Saya tidak paham. Mengapa para perokok itu dengan seenaknya menyalakan rokok dan menghisap tanpa merasa bersalah di tempat publik. Saya mungkin tak akan berkomentar jika para perokok itu tidak mengganggu yang lainnya yang sedang melakukan perjalanan itu.

Kereta yang kami tumpangi memang kereta ekonomi jurusan Jakarta Kota-Rangkasbitung. Mayoritas para penumpang itu adalah orang-orang yang bekerja di Jakarta dan pulang ke kampung halaman setiap akhir pekan atau sabtu sore. Beberapa stasiun yang banyak menurunkan penumpangnya adalah Parung panjang, Tigaraksa dan Rangkasbitung.

Kereta langsam itu memang kereta rakyat. Jakarta-Rangkasbitung tiketnya sebesar Rp. 2.000 atau Kereta Rangkas Jaya dengan tujuan yang sama tiketnya sebesar Rp.4.000. Murah sekali. Dan hampir segalanya ada di dalam kereta. Para pedagang pun meraih keuntungan dagangannya di akhir pekan. Boring (20thn) misalnya. Ia mengaku di akhir pekan sudah dipastikan tahu gorang yang dijajakannya habis.

Seperti sore itu, Boring duduk di samping saya setelah dagangannya habis dan bercerita ketertarikannya untuk berdagang sejak ia mengenyam sekolah kelas 3 SMA. Sambil memegang hape di tangan kirinya dan sebatang rokok di tangan kanannya ia mengatakan bahwa ia sangat menikmati pekerjaannya menjual tahu goreng. “Sudah tiga tahun saya berjualan tahu dan saya senang,” ujarnya kepada saya.

Dalam sehari, menurut Boring, jika beruntung ia bisa mengantongi sebesar 180 ribu rupiah. “Modalnya sekitar 80 ribu,” tambahnya. Dalam satu rangkaian kereta penjual tahu saja bisa mencapai 20 orang lebih. Ia mengambil tahu dari bosnya yang tinggal di Muara Ciujung sekitar satu kilometer dari stasiun Rangkasbitung.

Bukan hanya Boring dan para penjual tahu yang mengeruk keuntungan dengan adanya kereta langsam itu. Pedagang asongan lainnya pun begitu, seperti pedagang minuman (ada yang dingin dan yang panas), pedagang donat, pedagang nasi uduk, pedagang gorangan, pedagang sendal, pedagang ikat pinggang, pedagang kaos, pedagang jaket, dan masih banyak lagi yang penting layak dijual di dalam gerbong.

Presiden Soekarno di Stasiun Rangkasbitung. Photo: rosodaras.wordpress.com

Kereta langsam memang seperti sebuah kehidupan. Ada pertemuan dengan rekan segerbong yang setiap harinya menggunakan jasa transportasi termurah itu. Ada yang sebelum naik kereta sudah janjian akan naik di gerbong ketiga dari belakang, misalnya. Seperti sore itu, sekelompok orang yang sudah saling mengenal bermain kartu di dalam gerbong. Mereka tertawa riang.

Kereta bagi saya adalah transportasi yang bisa diandalkan. Sebab selain murah ia tidak akan kena macet. Kecuali jika jadwal kereta berubah secara tiba-tiba karena adanya gangguan salah satu kereta di tengah jalan. Saya masih berharap kereta api itu bisa lebih bersahabat lagi dengan para penumpangnya, dengan tidak ada lagi yang merokok. Misalnya dengan armada yang diganti dengan kereta api yang ber-ac dan tentunya dengan adanya ketegasan pengurus kereta api. Semoga!

Selasa, 24 April 2012

Hidup adalah Usaha

hidup bukan soal hasil
hidup soal usaha
jadikan usaha sebagai modal utama 
dan doa sebagai pelumasnya


kita tak akan merasa kurang
saat hasil bukan ajang pembuktian
sebab hasil adalah jerih payah usaha
dan hadiah dari kemahabaikan Tuhan


orang yang agung melihat
hidup dari sebuah usaha
orang kerdil selalu melihat
sesuatu dari hasil


hasil yang baik belum tentu 
dari usaha yang baik
tetapi usaha yang baik
pasti mendapatkan hasil terbaik


Jogjakarta, 8 Maret 2012

Senin, 23 April 2012

Bola dan Akhir Pekan


Setiba di rumah, keponakan saya mengatakan kalau dia ingin dibangunkan saat liga elclasico dinihari. Untungnya itu minggu dinihari. Jadi tak masalah karena esoknya libur. Fawwaz namanya. Ia baru berumur tujuh tahun lebih. Minatnya tentan bola begitu tinggi.

Dia pun tak pernah ketinggalan untuk membaca koran yang selalu hadir setiap hari di rumah saya. Bukan berita politik atau ekonomi. Tapi berita bola. Untungnya di koran itu banyak berita bolanya. Yang mengherankan adalah ia baru kelas dua SD.

Tetapi memang, buah tak jauh dari pohonnya. Keponakan saya ini suka bola karena ayahnya juga suka menonton bola meski ia seorang pimpinan pesantren. Dan tak terkecuali saya, juga suka bola.

Saya belajar dari Fawwaz. Bahwa ia menyukai tiga klub sekaligus, yaitu Madrid, Barca dan MU. Mungkin ia tak mengetahui rivalitas Madrid dan Barca sehingga setiap dua tim itu bertemu maka disebut dengan laga elclsico. Yang ia tahu adalah ketiga tim yang disukainya adalah tim hebat kelas dunia.

Jika ia bertandang ke rumah neneknya, ia menjadi pemilik remot tivi. Untungnya yang ia tonton adalah permainan bola. Atau sinetron si madun. Sinetron ini juga ada kaitannya dengan bola. Saya selalu menyindirnya jika yang ia tonton itu tak bermanfaat.

Semalam, ia kembali berkunjung. Hanya untuk menyaksikan tim kesayangannya MU yang bermain melawan Everton dengan hasil seri 4:4. Setelah itu ia meminta saya untuk mengantar ke rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter. Ia masih ketakutan jika pulang malam.

Tulisan ini tentang bola. Bagaimana bola bisa menghipnotis manusia di jagad raya ini. Masih ingatkan peristiwa beberapa waktu lalu saat pertandingan bola di Mesir yang berakhir rusuh dan mengakibatkan korban tewas sebanyak 70-an orang.

Atau kafe-kafe dipenuhi orang-orang di tengah malam hanya untuk menonton sepakbola yang digelar di benua biru, misalnya. Bagi saya bola hanyalah hiburan di akhir pekan.

Akhir pekan kemarin lebih spesial. Saya nonton tim favorit saya bersama keponakan saya itu. Ia pun menjagokan tim yang sama: Real Madrid. Dan beruntung bagi kami karena Madrid mengalahkan Barcelona di Camp Nou, kandangnya Barca.

Hadapi dengan tenang, senang pun datang


Terkadang memang sesuatu hal besar harus dilakukan dengan serius, santai dan terus menerus. Ini berlaku dalam hal apapun, termasuk melawan hati yang sepi.


Tak ada yang instant untuk hasil yang memuaskan. Sabar adalah hal utama dan terpenting untuk melakoni jalan terjal kebahagiaan abadi.


Percayalah, bahwa semua kelelahan dalam aral yang terjal akan terlupakan dan jadi kenangan indah saat kebahagian yang nyata datang.


Tak usah kuatir bahwa aral terjal itu tak pernah berhenti. Sebab, Tuhan punya cara sendiri untuk menghadirkan kejutan kepada hambaNya yang ingin dibimbing meski harus melintasi jalan yang berliku.


Dan disanalah terdapat hikmah yang hanya  dapat diraih oleh orang yang mengikuti arahan kehendakNya. Beruntunglah orang-orang yang diberi hikmah. Sungguh hanya hati yang tenang yang bisa membuat hidup ini senang.


Rangkasbitung, Ahad, 22 April 2012

Rabu, 28 Maret 2012

Molen Bandung

Seorang bule wanita berjalan di trotoar sebuah jalan di Bandung dengan mengenakan kain rok panjang berwana-warni. Ia berjalan dengan membawa tas yang disoren di bahunya ketika kami duduk di dalam angkutan kota (angkot). 

Seorang ibu yang duduk di pojok angkot berkata pada temannya, "sopan yah kalau bule pakai pakaian seperti kita." Temannya pun menimpali, "Iya, yang gak sopan itu kalau kita menggunakan pakaian seperti bule yang soper mini itu," ungkapnya.

Yah, begitulah percakapan di sebuah angkot Bandung yang biasa dipenuhi dengan 5 orang di sebelah kiri dan 7 orang di sebelah kanan. Berbeda dengan di Jakarta yang 4 orang di kiri dan 6 orang di kanan.

Sopir yang mengemudi angkot yang saya tumpangi itu cukup ramah. Ia menunjukkan tempat yang ingin saya tuju. Meski begitu, selain menjadi kota Angkot, Bandung juga kini menjadi kota motor. "Motor yang menjadikan Bandung lebih macet," ujar rekan saya.

Saat tiba di tempat tujuan, langit yang gelap itu menurunkan hujannya. Ada beberapa makanan khas yang saya cicipi di Bandung ini. Salah satunya adalah molen Kartika Sari. Molen ini berisi pisang dan keju yang dibungkus dengan roti. Maknyus.

Bandung memang menjadi kota kuliner, selain kota fashion, eh kota motor dan kota angkot juga sih. Lengkap. Tetapi entah bagaimana setelah tiga hari kemudian dimana BBM akan dinaikan pada 1 April 2012 mendatang.

Apakah dengan naiknya BBM jumlah motor akan berkurang, atau jumlah angkot di Bandung akan juga berkurang. Atau pemilik warung kuliner dan pemilik toko fashion menyesuaikan harganya. Ah, entahlah.. Sebelum jauh berpikir enaknya kita nikmati Molen Kartika Sari di saat hujan gerimis mengguyur Bandung.

Bandung, 28 Maret 2012   

Minggu, 18 Maret 2012

Sederhana Pintu Bahagia

Semua sudah berubah 
Kecuali cinta 
Dan aku tak kecewa

Kita kecewa karena
Kita terlalu tinggi menaruh
Harapan yang tak pasti

Meski harapan sebentuk keberanian
Namun tak baik juga jika berlebihan 
Sebab semua ada batasnya

Sederhana adalah 
Pintu kebahagiaan
Semua indah pada saatnya

Rangkasbitung, Ahad, 11 Maret 2012

Rabu, 07 Maret 2012

Ghibah, Penyakit Hati


Oleh Deden Mauli Darajat


(Disampaikan pada Pengkajian Ibu-ibu DWP KBRI Ankara, Rabu, 7 Maret 2012)


Sebenarnya saya tidak pantas membahas soal ghibah ini. Sebab, disadari atau tidak saya juga terkadang melakukan ghibah. Tetapi, karena manusia makhluk tempatnya salah dan pelupa, juga dianjurkan untuk saling mengingatkan sesama muslim, maka mari kita bersama-sama mengkaji tentang ghibah yang termasuk dalam penyakit hati ini.


Baiklah mari kita awali dengan renungan. Pernahkah kita berpikir, mengapa Allah SWT menciptakan manusia dengan dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga dan hanya satu mulut? Mungkin jawabannya adalah karena Allah ingin manusia di muka bumi ini memperbanyak melakukan sesuatu yang baik dan bukan memperbanyak perkataan yang tidak baik.


Photo:  ihaqishop.com
Suatu ketika Rasulullah SAW bertanya pada para sahabatnya, tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Kemudian beliau bersabda, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.”Kemudian ada yang bertanya, “Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata apa pada saudaraku?”


Rasullullah SAW menjawab, “Jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (HR Muslim 2589 Bab: Al-Bir Wash Shilah Wal Adab)


Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 11-12 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. 


QS. 49 ayat 12 artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahanorang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.


Dari hadist dan ayat di atas kita mengambil pelajaran bahwa ghibah adalah menyebut seseorang yang tidak disukainya. Bahkan, dalam al-Quran menyebutkan bahwa orang yang berghibah seperti orang yang makan daging yang sudah mati alias bangkai. 


Suatu ketika saat Muhammad SAW dalam perjalanan Isra Mi’raj, sempat melihat pemandangan mengerikan. ”Aku diperlihatkan orang yang mencakar-cakar mukanya sendiri dengan kuku-kuku tajam mereka.” Lantas Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril. ”Wahai Jibril siapakah mereka itu?” Malaikat Jibril menjawab, ”Mereka adalah yang menggunjing orang lain dan membuka aib kehormatan dirinya.” (HR Abu Daud).


Imam Al Ghazali dalam bukunya Mensucikan Jiwa, menyebutkan beberapa faktor yang mendorong ghibah. Pertama, melampiaskan kemarahan. Kedua, menyesuaikan diri dengan kawan-kawan, alias untuk bisa bergaul. Ketiga, ingin mendahului menjelek-jelekkan keadaan orang yang dikhawatirkan memandang jelek ihwalnya di sisi orang yang disegani.


Keempat, keinginan bercuci tangan dari perbuatan yang dinisbatkan kepada dirinya. Kelima, ingin membanggakan diri. Mengangkat dirinya sendiri dan menjatuhkan orang lain. Keenam, kedengkian. Ketujuh, bermain-main, senda gurau dan mengisi waktu kosong dengan lelucon dan akhirnya berghibah.  Kedelapan, melecehkan dan merendahkan orang lain demi untuk menghinakannya. Penyebabnya adalah sombong dan menganggap kecil orang lain.


Macam-macam ghibah ada beberapa macam, yaitu, pertama, ghibah dengan perkataan. Kedua, ghibah dengan isyarat dengan mimik muka. Ketiga, ghibah dengan menirukan kekurangan seseorang. 


Dalam prakteknya, ghibah itu menyinggung beberapa hal. Pertama, kekurangan secara fisik. Kedua, pekerjaan. Meski sebenarnya pekerjaan itu halal namun kadang dipergunjingkan. Ketiga adalah keluarga. Dan macam-macam yang lainnya.


Kita juga bisa mencegah untuk melakukan ghibah. Ada beberapa hal yang bisa mencegah untuk melakukan ghibah, antara lain: Pertama, Ghibah dapat mendatangkan kemurkaan Allah. Kedua, ghibah dapat membatalkan kebaikan-kebaikan di hari kiamat. 


Ketiga, dapat memindahkan kebaikan-kebaikan kita kepada orang yang digunjing sebagai ganti dari kehormatan yang telah dinodainya. Jika tidak memiliki kebaikan yang bisa dialihkan, maka keburukan orang yang digunjing itu akan dialihkan kepada kita. Keempat, kita harus mempelajarilah tentang ayat Quran dan Hadits tentang ghibah niscaya lidah kita tidak akan melakuk ghibah karena takut kepada hukum Allah.


Kelima, kita merenungkan cacat diri sendiri sehingga malu jika membicarakan orang lain. Keenam, bahwa orang lain merasa sakit karena ghibah yang dilakukannya, sebagaimana dia akan merasa sakit bila orang lain menggunjingnya. Ketujuh, setiap kali mendengar selentingan, cepatlah berkata kepada diri sendiri, apakah aku mendapat manfaat atau menyeritakan kembali hal ini kepada orang lain?


Kedelapan, kita mengurangi nongkrong di tempat yang nikmat untuk bergosip. Kesembilan, kita mesti rajin membaca Al Qur'an, lalu salurkan bahan gosipmu dengan membahas sesuatu yg bermanfaat atau berdiskusi.


Pertanyaanya adakah ghibah yang diperbolehkan? Nawawi rahimahullah setelah menjelaskan makna ghibah beliau berkata, “Akan tetapi ghibah itu diperbolehkan oleh syar’iat pada enam perkara:


Pertama, kedzoliman, diperbolehkan bagi orang yang terdzolimi menngadukan kedzoliman 
kepada penguasa atau hakim yang berkuasa yang memiliki kekuatan untuk mengadili perbuatan tersebut. Sehingga diperbolehkan mengatakan,”Si Fulan telah mendzalimi diriku”atau “Dia telah berbuat demikian kepadaku.”


Kedua, meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat kepada kebenaran. Maka seseorang diperbolehkan mengatakan, “Fulan telah berbuat demikian maka cegahlah dia!”


Ketiga, meminta fatwa kepada mufti dengan mengatakan: “Si Fulan telah mendzolimi diriku atau bapakku telah mendzalimi diriku atau saudaraku atau suamiku, apa yang pantas ia peroleh? Dan apa yang harus saya perbuat agar terbebas darinya dan mampu mencegah perbuatan buruknya kepadaku?”


Keempat, memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan, contohnya memperingatkan kaum muslimin dari perowi-perowi cacat supaya tidak diambil hadits ataupun persaksian darinya, memperingatkan dari para penulis buku (yang penuh syubhat). Menyebutkan kejelekan mereka diperbolehkan secara ijma’ bahkan terkadang hukumnya menjadi wajib demi menjaga kemurnian syari’at.


Kelima, ghibah terhadap orang yang melakukan kefasikan atau bid’ah secara terang-terangnan seperti menggunjing orang yang suka minum minuman keras, melakukan perdagangan manusia, menarik pajak dan perbuatan maksiat lainnya. Diperbolehkan menyebutkannya dalam rangka menghindarkan masyarakat dari kejelekannya.


Keenam, menyebut identitas seseorang yaitu ketika seseorang telah kondang dengan gelar tersebut. Seperti si buta, si pincang, si buta lagi pendek, si buta sebelah, si buntung maka diperbolehkan menyebutkan nama-nama tersebut sebagai identitas diri seseorang. Hukumnya haram jika digunakan untuk mencela dan menyebut kekurangan orang lain. Namun lebih baik jika tetap menggunakan kata yang baik sebagai panggilan, Allahu A’lam. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, Hal.400).


Kemudian, bagaimana caranya kita jika sudah berghibah dan ingin bertaubat, apakah kita mesti meminta maaf kepada orang yang kita ghibahi? Ada dua fatwa tentang hal ini. Pertama, sejumlah ulama yang menyatakan bahwa kita mesti meminta maaf langsung kepada orang yang kita ghibahi. Namun ini bisa berefek pada keretakan hubungan pertemanan.


Yang kedua adalah para ulama yang menyebutkan kita hanya cukup beristighfar sebanyak-banyaknya dan bertaubat untuk tidak mengulangi untuk berghibah lagi. Meski begitu kita juga dianjurkan untuk berdoa agar orang yang kita ghibahi dimaafkan dosa-dosanya. 


Demikian pemaparan kajian kali ini. Saya meminta maaf jika terdapat kesalahan dan kekurangan pada kajian kali ini, karena hal itu datangnya dari saya pribadi. Jika ada kebenaran itu mutlak datangnya dari Allah SWT yang Maha Benar. Wallahu ‘alam bish-shawab.

Senin, 05 Maret 2012

Manusia, Tuhan dan Kamu

Karena manusia makhluk pembosan, maka Tuhan menciptakannya berbeda-beda.

Karena manusia makhluk pelupa, maka Tuhan menganjurkan untuk selalu belajar.

Karena manusia makhluk peragu, maka Tuhan melengkapinya dengan akal pikiran.

Karena manusia mahkluk pemilih, maka Tuhan memberkati hati untuk petunjuk pilihannya.

Karena manusia membutuhkan teman, maka Tuhan menganugerahkan pasangan untuknya.

Karena aku membutuhkan pendamping, maka Tuhan menciptakan kamu untukku.

Ankara, Sabtu Salju, 03.03.2012.

Jumat, 02 Maret 2012

Tidak Kah Cukup?

Tidak kah cukup
Tanda cinta yang kuungkap
Atau haruskah kujelaskan
Dengan ungkapan yang lantang


Tidak kah cukup
rasa yang terhempas dalam kalbu
Dan kau kibaskan penghalangnya
Agar semua jelas adanya


Tidak kah cukup
Suara yang selalu hinggap di telingamu
Atau pesan yang tersimpan rapi di lacimu
Dan semua hal yang menyiratkan tentangmu


Tidak kah cukup
Bila ku benar benar mencintaimu
Bila kau juga sejatinya mencintaiku
Apalagikah yang kau pinta wahai cinta


Ankara, 28 Februari 2012

Seru!

Tak usah kau ragu
Sebab hanya kita yang tahu
Bagaimana mengolah rindu
Dan hidup ini bertambah seru!


Ankara 28022012

Minggu, 26 Februari 2012

Pada Siapa Lagi Ku Bertanya

Entah mengapa suka senja
Apalagi di musim dingin
Sinar mentari kuning itu menenangkan
Bagi siapa saja yang menikmatinya


Ku bertanya padamu
Apakah kau juga suka senja
Ah pasti kau diam saja
Pada siapa lagi ku bertanya


Ankara Senja, 21 Februari 2012

Dalam Tanda

Dalam diam kubergerak
Dalam langkah kubertingkah
Dalam tanda kuberkata
Ungkapkan sebuah cinta


Ankara, Sabtu, 25 Februari 2012

Rabu, 22 Februari 2012

Fetih 1453, Sebuah Penaklukkan Konstantinopel


Fetih atau penaklukkan 1453 merupakan film yang paling banyak ditonton di Turki. Padahal film ini baru dirilis pada 16 Februari 2012 atau lima hari yang lalu pas saya tonton. Bahkan ruangan yang disediakan untuk film Fetih 1453 ini sampai tiga ruangan. Di ruangan yang saya tonton hampir 80 persen kursi dipenuhi para penonton. 


Film ini berkisah tentang penaklukkan konstantinopel oleh Sultan Mehmet II pada tahun 1453. Film diawali dengan hadist Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa, suatu ketika kerajaan Konstantinopel akan ditaklukkan, pemimpin yang dapat menaklukkan itu adalah sebaik-baiknya pemimpin dan tentara yang dapat menakukan adalah sebaik-baiknya tentara. 


Film ini bagi saya berhasil menyuguhkan gambaran tentang penaklukkan Konstantinopel menjadi Istanbul. Meskipun terlalu singkat. Sebenarnya, jauh sebelum menonton film ini, saya sudah membaca buku tentang sejarah penaklukkan Konstantinopel. Menonton film ini hanya menyamakan persepsi bayangan bacaan dengan audio visual yang disuguhkan dalam layar lebar.


Buku 1453
Buku yang mengisahkan detik-detik penaklukkan adalah buku 1453 karya Roger Crowley. Perbedaan antara film dan buku bagi saya adalah, dalam film hanya sedikit kata-kata dan lebih banyak adegan. Sementara dalam buku banyak kata-kata dan ungkapan yang lebih luas dan menarik sehingga kita dapat lebih berinteraksi dengan imajinasi kita. 


Di film Fetih 1453 ini misalnya, ada beberapa adegan yang singkat. Seperti, saat penggalian ruang bawah tanah untuk menembus pertahanan kerajaan konstantinopel lewat bawah tanah. Atau adegan pengangkutan perahu perang ke atas bukit untuk menyeberang selat Bosporus yang ditutup oleh rantai besar. Sangat singkat. Tapi tetap keren. 


Karena film ini film sejarah, maka setiap adegan yang satu ke adegan yang lain ada keterangan tempat dan waktu. Misalnya, Konstantinopel – Istanbul 1452, Edirne 1451 atau yang lainnya. Dan yang mengagumkan adalah pengambilan gambar dalam film ini yang seakan-akan memang terjadi pada abad ke-15.


Ada adegan yang lucu yaitu adegan Sultan Mehmet II sedang galau. Hahaha, sultan juga manusia yang bisa galau. Sultan mengurung diri sampai dua hari di tenda peperangan. Kegalauan sultan disebabkan karena setelah 40 hari peperangan tidak membuahkan hasil. Untuk menghilangkan kegalauannya datanglah sang guru memberikan nasihat dan semangat padanya.


Penasaran filmnya? Tonton aja di bioskop terdekat, hehehe. Film yang berbahasa Turki ini berdurasi selama 160 menit. Budget untuk membuat film yang disutradarai oleh Faruk Aksoy ini menghabiskan dana sebanyak 17 juta USD dan menjadi biaya produksi film termahal di Turki sepanjang sejarah. 


Apa pesan yang bisa kita ambil dari film ini. Kalau Sultan Mehmet II bisa menaklukkan Konstantinopel menjadi Istanbul pada 1453, sementara kita? Ya, betul, bagi kita pesannya adalah kita juga harus bisa menaklukkan diri kita sendiri, karena perang yang paling besar adalah memerangi nafsu diri kita sendiri, setuju kan?





Selasa, 21 Februari 2012

What a Girl Wants


Film yang diproduksi tahun 2003 ini sebenarnya berkisah tentang cinta sang ayah pada putrinya. Itu yang saya tangkap. Mirip dengan film yang beralur yang tak jauh berbeda, misalnya, Chasing Liberty, First Daughter atau film lainya yang pernah saya tonton yaitu Queen Bee. 


Film ini berkisah tentang seorang putri, Daphne, yang belum pernah bertemu ayahnya hingga usianya menginjak 17 tahun. Dan pada setiap ulang tahunnya, ia hanya berharap bisa bertemu ayahnya yang sering didongengkan oleh ibunya. Ia lahir di Amerika dan sangat kental dengan budayanya. Sementara ayahnya tinggal di benua Eropa, tepatnya di London Inggris.


Photo: imdb.com
Ayahnya seorang bangsawan di Inggris. Dan ayahnya tidak menolak putrinya meski ia masuk istana sang ayah dengan memanjat pagar. Ayahnya serasa terbawa suasana saat sang putri menunjukkan photo dirinya belasan tahun lalu. 


Sang ayah tersadar bahwa kini putrinya sudah beranjak remaja. Diakhir cerita (pokoknya tonton aja deh filmnya), sang ayah memutuskan untuk mundur dari jabatannya dan hanya ingin bertemu sang putrinya. Haru dan romantis. Eaaah. 


Ini soal cinta sang ayah. Hampir sama semua karakter sang ayah di beberapa film yang saya sebutkan di atas. Sang ayah berusaha keras untuk mengikuti keinginan sang putrinya. Mirip juga seperti kata-kata Naga Bonar kepada anaknya Bonaga, bahwa ia tak paham tentang zaman anaknya, namun ia berusaha untuk memahaminya, di film naga Bonar menjadi dua itu. 


Atau cerita cinta sang ayah pada anaknya Ikal dalam film laskar pelangi. Ayah memang juara 1 di dunia. Ya, saya pikir semua ayah hampir sama. Pun begitu dengan ayah saya yang sangat sederhana. Benar-benar sederhana. Karena kesederhanaan itulah yang menjadi abadi di hati saya.


Saya tak akan melupakan adegan ini, ketika itu saya ingin membuat paspor. Saya ingin membuat paspor sendiri ke Serang, Banten. Karena semua saudara saya tau termasuk ayah ibu saya, maka sang ayah menawarkan diri untuk menemani saya membuat paspor. Ia menyemirkan kedua pasang sepatu untuknya dan untuk saya di malam hari untuk kami pakai saat mengajukan pembuatan paspor. 


Atau setiap mau lebaran, ayah saya selalu mengajak saya untuk membeli daging yang akan dibuat semur untuk masakan spesial jamuan lebaran. Karena belinya di luar kota, maka kami berangkat dari rumah kami usai sahur dan sholat subuh. Kata ayah saya sih, agar daging yang kami beli masih bagus dan segar.


Ya, ayah memang tidak banyak cakap. Ia lebih banyak diam. Dalam diamnya ia belajar memahami apa yang diinginkan anak-anaknya. Ayah sayalah yang paling depan mengiyakan dan memotivasi saya jika saya menginginkan sesuatu yang baik untuk saya. 


Dalam film what a girl wants ini pun sang ayah begitu sayang sama putri semata wayangnya. Meski saya pikir film ini benar-benar dongeng belaka. Haha. Tapi okelah untuk menghibur saya di tengah kesibukan ngetesis, hehe..

Senin, 20 Februari 2012

Istikharah dan Pencarian


Istikaharah, kata temen saya itu bukan hanya sekali saja dilakukan tetapi dengan cara seksama dan berlangsung lama. Jawaban dari istikharah itu pula tidak selalu datang dalam mimpi. Jawaban dari istikharah datang dari berbagai arah dan kadang tak terduga. 


Teman saya bercerita tentang bagaimana dia beristikharah untuk meminang seorang wanita namun berbeda kewarganegaraan. Cerita ini ia kemukakan saat ia bertandang ke Ankara, Turki bersama keluarga besar istrinya.


Ghafur nama teman saya itu. Ia adalah sahabat sekampung dan seperjuangan di perantauan pas di sekolah menengah atas alias KMI Gontor di Jawa Timur dulu. Ia beruntung saat kuliah di ISID Gontor di tahun ketiga mendapatkan beasiswa untuk belajar bahasa Arab di Qatar. Disinilah cerita ini berawal.


Saat ia mengikuti kursus bahasa arab di Qatar (padahal teman saya ini fasih betul bahasa arabnya), salah seorang temannya menawarkan adik perempuannya untuk menjadi calon istrinya. Tentu dengan cara yang baik-baik. 


Ia tidak langsung bisa menerima tawaran itu. Banyak step-step yang harus dilalui. Dan sebenarnya, ia mengaku belum terpikir untuk menikah. Karana ada penawaran maka ia pun mulai memikirkannya dengan serius.


Beberapa hal yang harus ia selesaikan, diantaranya adalah, bagaimana dengan kuliahnya di ISID Gontor sementara ia di Qatar hanya untuk kursus bahasa arab. Kedua, keluarganya di Rangkasbitung apakah dengan begitu saja menerima tawaran rekannya itu. Ketiga, bagaimana dengan menikah beda kewarganegaraan. Dan masih banyak lagi, sih. Tetapi cukuplah segitu saja, yah..


Berdoalah pada-Ku niscaya Kukabulkan./Photo: blog.mixterr.com
Sembari shalat istikharah setiap hari, ia juga meyakinkan keluarganya bahwa semuanya akan baik-baik saja, apalagi calon istrinya adalah muslimah yang shalihah (insya Allah). Dengan berpikir dan berusaha keras akhirnya jalan menuju pernikahan terbuka setelah dilakukan dialog yang panjang antara dirinya, keluarganya dan keluarga calon istrinya. Ia pun menikah di Qatar dan kini sudah dikaruniai satu anak perempuan yang cantik.


Ada juga teman saya yang bertemu calon istrinya lewat sosial media. Bukan di facebook atau twitter yang sekarang lagi ngetrend tapi lewat Friendster yang waktu itu sedang ngetrend-ngetrendnya. Teman saya waktu itu masih kuliah di Kairo, Mesir. Sementara calon istrinya kuliah di Bogor. 


Teman saya yang ini adalah Mahir. Setelah beristikharah dan berbincang dengan kedua keluarga akhirnya ia memutuskan untuk menikah meski masih tercatat sebagai mahasiswa di negeri para nabi itu. Kini ia sudah lulus dari al-Azhar University dan memiliki satu putri yang cantik.


Satu lagi cerita dari teman dekat saya di Ciputat dulu. Ia sebenarnya sudah dekat dengan temannya. Namun setelah ia lulus dari kampus ia ingin menikah namun temannya itu tidak mau. Akhirnya ia tetap ikhtiar atau berusaha mencari calon yang tepat. 


Tak dinyana ia mendapatkannya dari agenda kelulusan kampus. Karena disana terdapat alamat dan nomor hape. Dan dengan istikharah juga teman saya itu akhirnya yakin untuk menikah dengan calon istrinya yang baru ia kenal. Kalau teman yang ini namanya Muin. Ia juga sudah diberkahi seorang putera yang gagah.


Dari beberapa cerita teman saya di atas, baik Ghafur, Mahir maupun Muin, kita dapat melihat bahwa setiap orang memiliki alur cerita kehidupannya masih-masing. Mungkin masih banyak cerita yang lainnya yang tidak bisa saya tulis di sini satu persatu. 


Tapi yang pasti ada kesamaannya. Pertama, mereka memiliki niat yang tulus untuk memenuhi perintah agama untuk melangsungkan pernikahan. Kedua, mereka juga melaksanakan niatnya dengan ikhtiar atau usaha yang serius untuk mencari pasangan hidupnya. 


Ketiga adalah mereka juga memanjatkan doa dengan shalat istikharah atau meminta petunjuk kepada Tuhan untuk menetapkan keyakinan siapa yang akan menjadi teman hidupnya yang memang sebenarnya sudah ditetapkan olehNya di lauhul mahfudz sana. Keempat adalah mereka juga sabar menanti jawaban yang sudah mereka usahakan. 


Jadi memang pada akhirnya kita harus mengikuti arahan sutradara kehidupan kita. Dalam salah satu episode, misalnya, kita harus merasakan kegagalan dalam pencarian. Atau dalam satu adegan kita harus kehilangan sesuatau yang memang itu sebenarnya hanya fatamorgana. 


Ini mungkin agar kita tetap istiqamah dalam jalan yang diinginkan oleh sang sutradara. Agar kita tidak sombong dengan apa yang kita dapatkan atau agar kita tidak terlalu terpuruk saat terjatuh. Dan agar kita hanya bergantung pada yang punya kehidupan ini.


Kembali ke cerita teman-teman saya di atas. Jika kita memang belum menemukan yang kita cari, maka yaitu tadi, yang pertama adalah niat yang tulus, kedua ikhtiar atau usaha yang kuat, ketiga istikharah yang berlangsung lama dan yang paling akhir adalah sabar yang tak berujung. 


Tidak gampang memang ini semua, tapi kalau kita laksanakan dengan seksama insya Allah semua yang ada di langit dan di bumi merestui usaha kita. Wallahu ‘alam.

Kamis, 16 Februari 2012

Menunggu Maghrib


Kaligrafi bercorak biru hiasi dinding masjid Cebeci
Karpet merah yang sudah kusam tanda sering dipakai
Pak tua di sudut itu memegang tasbih dan berzikir dalam hati
Satu persatu jemaah datang penuhi masjid ini


Lampu gantung kristal menerangi ruangan 
Yang dipenuhi para pesujud dan penyembah Tuhan
Adakah kekuatan yang bisa menandingi Pemberi kekuatanan
Adakah kesenangan yang melebihi ketenangan 


Adzan berkumandang dari pengeras suara
Muadzin memanggil kita untuk segera melaksanakan kewajiban
Jika senggang laksakanlah kewajiban dan kesunahan
Kalau sibuk cukup laksanakan itu kewajiban


Masjid Cebeci di Malam Hari yang Bersalju

Senin, 13 Februari 2012

Kecuali Cinta


Kecuali cinta. Ia tak dapat diterka. Tapi dapat terasa dalam dada. Cinta jangan dicari. Ia akan datang di waktu yang tek pernah terpikirkan. Karena tak terlihat ia menjadi nyata. 

Kenyataannya membuat orang bertambah menjadi. Menjadi apa saja. Yang diam menjadi riang. Yang lengang menjadi riuh. Ia bergejolak. 

Tak dapat dihentikan oleh apa pun. Dan pada saatnya ia tak pernah salah. Ia hadir dimana saja sekehendaknya. 

Tak peduli apa itu berada di ujung dunia. Pun tak peduli apa yang orang katakan padanya. Ia bisa menghancurkan apa yang tidak bisa dihancurkan. 

Ia menerjang ombak. Ia menghantam badai. Ia bersahabat dalam kegelapan yang menjadikannya terang. 

Ia mengalir seperti air. Ia berbelok di tikungan tajam tanpa aling-aling. Ia bermain dengan irama yang mendebar. Ia memesona. 

Ia tak lekang dikungkung zaman. Tak habis ditelan waktu. Tak pernah ia berbohong, meski kadang orangnyalah yang pura-pura tak merasa. Ia jujur dengan kejujurannya.  

Jika kamu bertanya mengapa aku mencintaimu, aku menjawab aku mencintaimu karena cinta, kemudian kamu bertanya lagi, apa itu cinta, dan aku jawab cinta itu kamu.


Minggu, 12 Februari 2012

Cerita Tentang Menulis (5)


Ada satu harapan yang menggebu dan saya tidak mendapatkannya yaitu kuliah di Mesir. Tau kan kenapa Mesir? Karena guru favorit saya itu yang memperkenalkannya kepada saya. 

Pas saya mengabdi saya meminta ijin kepada ibu saya untuk melanjutkan studi saya di Mesir dengan mengikuti ujian untuk belajar ke Mesir di Jakarta. Ibu saya tiba-tiba melarang saya untuk ikut ujian itu. Dan saya pun galau.

Photo: www.blacksmile.net
Karena permintaan saya ditolak, maka saya meminta dua permintaan kepada ibu saya, pertama saya kuliah di Jakarta, kedua saya kuliah saja tanpa embel-embel mengajar di sebuah sekolah seperti kedua kakak saya, dan ibu saya menyetujuinya. 

Sebelum kuliah di Jakarta saya mengajar di sebuah MI dan MTs di Jakarta Selatan hingga saya berhenti dan saya sibuk dalam dunia perkuliahan. Saat itu saya juga belajar menulis di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang diadakan oleh forum lingkar pena (FLP)  Jakarta selama enam bulan sebelum kuliah dimulai di tahun 2003-2004.

Saya lulus di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ini jurusan pilihan saya. Karena saya suka menulis. Menulis bagi saya adalah berbagi. Di tahun pertama, saya diajak senior saya untuk masuk ke dalam majalah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. 

Nama majalahnya adalah Jeda. Di Majalah Jeda saya berkreasi. Pertama kali saya liputan untuk Majalah Jeda bersama rekan saya Tyas adalah mewawancarai pendiri FLP yaitu Helvy Tiana Rosa di kantornya di kawasan TIM. Sampai akhirnya saya menjadi Pemimpin Redaksi di Majalah Jeda itu.

Selain aktif di Majalah Jeda saya juga aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ektra kampus. Juga saya membantu rekan saya merancang sebuah proposal untuk membuat radio komunitas di fakultas dengan nama RDK FM atau Radio Dakwah dan Komunikasi. 

Saya pun setiap seminggu sekali menjadi penyiar radio di radio komunitas itu tentunya setelah pihak dekanat menyetujui proposal yang kami buat.

Waktu saya di Ciputat pun terasa cepat berlalu, karena saya aktif dimana-mana, hingga tempat tinggal saya pun adalah tempat perkumpulan atau organisasi primordial yaitu himpunan mahasiswa banten yang saya sempat menjadi ketua asrama pertama kali saat asrama baru itu selesai dibangun. 

Usai keluar kelas saya sering mengikuti rapat dari satu organisasi ke organisasi lainnya hingga larut malam dan rupanya di asrama pun masih ada rapat yang harus saya ikuti. Sempat juga aktif dan tampil dalam sebuah sanggar teater bernama sanggar tonggak.

Di kelas saya sering diperbantukan oleh dosen untuk membantunya di pusat pengkajian komunikasi dan media atau P2KM Fidkom UIN Jakarta. Setelah lulus kuliah selama tujuh semester atau 3,5 tahun saya sempat menjadi asistes dosen atau asdos sebelum akhirnya saya bekerja menjadi jurnalis di harian umum Republika.

Pas di Republika itulah saya benar-benar digembleng dalam reportase dan menulis. Mentor saya, Nasihin Masha, di Republika saat ini menjadi Pemimpin Redaksi. Hampir setiap hari saya ke kantor untuk menyerahkan tulisan saya untuk dikoreksi oleh mentor itu selama tiga bulan pertama. Begitulah akhirnya saya bisa menulis seperti sekarang ini. Dan saya ingin menjadi penulis yang bermanfaat bagi saya dan yang lainnya.

(selesai)

Cerita Tentang Menulis (4)


Guru saya di Gontor banyak memberikan ilmu pengetahuan. Salah satu guru favorit saya waktu kelas lima dan enam adalah Ustad Suharto yang kini menjadi Pengasuh Pondok Modern Gontor Putri 1 di Mantingan Ngawi. 

Begitu luasnya ilmu beliau dan saya terpukau dengan apa yang diterangkannya. Beliau mengkaji soal tafsir setiap habis solat ashar di masjid. Tapi cerita soal tafsir tidak melulu tentang hukum. Beliau bercerita tentang sejarah Bani Israel, sejarah Mesir dan sejarah dunia lainnya.

Photo: www.fcsl.edu
Efeknya saya ingin melanjutkan sekolah ke negeri Nabi Musa itu. Ya, karena beliau itu. Saya juga banyak baca literasi tentang Kairo dan Mesir kuno. Dan (lagi) khayalan saya lebih cepat melebihi perjalanan fisik saya. Pikiran saya berpetualang jika diajar oleh Ustadz Suharto.

Beliau seakan-akan mengajak kami berpetualang dan kami tidak sadar jika lonceng berbunyi tanda berakhirnya waktu baca Quran atau kajian tafsir di Pondok kami sore itu.

Usai lulus dari Gontor pada tahun 2002, saya mengabdi di Gontor 1 dan mengajar mata pelajaran sejarah dunia dan sejarah islam dalam bahasa arab. Dan saya mengajar tentang pelajaran yang saya sukai. 

Sebab pelajaran itu adalah pelajaran bercerita. Saya memang suka sejarah. Karena dengan membaca sejarah pikiran saya berpetualang dan menerka-nerka apa yang telah terjadi di masa lampau.

Di waktu bersamaan, selain mengajar saya juga sekolah atau kuliah gratis di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor dengan jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), meski sebenarnya saya tidak suka dengan jurusan ini. 

Gratis karena saya mengabdi di Gontor 1 dan Gontor 2 yang berdekatan dengan kampus ISID pusat. Salah satu mata kuliah yang saya sukai waktu di PAI ISID adalah SPI atau sejarah peradaban Islam.

Mungkin masa-masa paling sibuk bagi saya adalah waktu SD hingga kuliah di ISID. Sibuk di sini artinya sibuk dengan kegiatan yang wajib. Saat SD misalnya, pagi sampai siang saya sekolah di SD, dan sore harinya sekolah agama. 

Di Gontor apalagi hingga 24 jam waktu begitu cepat berputar. Pagi masuk kelas, sore pun begitu sampai sholat Ashar. Sehabis ashar hingga jam 5 ada waktu senggang. Di malam hari kami wajib ke kelas untuk belajar malam hingga pukul 21.30.

Bagaimana dengan pengabdian? Sama saja. Paginya mengejar di kelas, sorenya kuliah di kampus. Apalagi  ketika saya mengabdi di Gontor 2 pada enam bulan kedua. 

Di Gontor 2 selain mengajar di kelas, saya juga menjadi pengurus asrama sekaligus menjadi bagian kebersihan yang mengontrol para santri saat membersihkan pondok. Nah, kesibukan ini yang membawa saya juga, menjadi sibuk kuliah di Jakarta.

(bersambung)

Cerita Tentang Menulis (3)


Saya melanjutkan sekolah di sebuah kampung di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur pada pertangahan tahun 1996. Inginnya sih langsung masuk di Pondok Modern Darussalam Gontor, tapi karena Gontor buka pendaftarannya di bulan Syawwal yang jatuh di awal tahun waktu itu, akhirnya saya masuk Pondok Modern Ar-Risalah sekitar tujuh kilometer dari Gontor. 

Tidak lama saya sekolah di Ar-Risalah, hanya sekitar enam bukan. Selanjutanya saya sekolah di Gontor, tentu dengan ujian yang super ketat itu. Untungnya saya sudah belajar agama di sekolah agama dulu dan belajar mengaji sejak sebelum masuk SD yang diajari langsung oleh ibu saya. 
Photo: www.fanpop.com

Ujian untuk masuk Gontor diantaranya adalah berhitung, bahasa Indonesia, Imla atau dikte dalam bahasa arab, dan membaca Al-Quran, dan alhamdulilllah-nya saya suka semua pelajaran yang diujikan itu. Dan ujian pun lancar. Nomor stanbuk saya di Gontor adalah 23833.

Di pondok Gontor ada kewajiban setiap seminggu sekali untuk masuk ke perpustakaan. Jadi saya pun meminjam buku untuk dibaca di waktu senggang selain baca buku pelajaran yang buanyak itu. 

Dari sana saya juga melihat dunia lebih luas lagi. Tentang negara-negara penakluk dunia, tentang tempat-tempat peninggalan sejarah dunia dan yang lainnya. Dan saya kemudian membeli buku agenda atau diary untuk saya catat tentang keseharian saya di pondok.

Di kelas tiga saya masuk club beladiri namanya perbeda alias persatuan beladiri Darussalam. Tapi hanya setahun saya bertahan di sana. Karena dalam diri saya ada jiwa seninya yang lebih condong terhadap dunia membaca dan menulis. 

Klub selanjutnya yang saya ikuti adalah teater Islam Darussalam atau Terisda. Rupanya di dalam Terisda ada juga club naungannya yaitu Himpunan Peminat Sastra Darussalam atau Hipsadus yang kemudian di kelas lima saya menjadi ketuanya.

Setiap munggu di Hipsadus kami mengadakan diskusi tentang buku-buku sastra. Selain itu kami juga setiap hari kamis malam membuat majalah dinding untuk dipublikasikan pada Jumat pagi hingga kamis depannya. 

Dalam mading itu setiap anggota Hipsadus harus mengirimkan naskahnya, apa pun itu termasuk puisi, cerpen, cerbung atau catatan sastra lainnya. Dari sinilah saya mulai menulis, kebanyakan waktu itu yang saya tulis adalah puisi atau catatan ringan lainnya.

Di Gontor saya membaca banyak novel baik novel terbitan lama maupun novel terbaru. Bahkan saat saya mengajar, di sana saya bercerita tentang novel yang saya baca hanya untuk selingan agar tak bosan murid-murid dalam belajar. 

Saat seru-serunya cerita saya berhenti dan melanjutkan pelajaran. Dan para murid pun kemudian bertanya-tanya, ayo kita lanjutkan ceritanya, dan saya bilang, saya akan lanjutkan kalau semua murid di kelas ini memperhatikan pelajaran yang kita pelajari ini.

Apalagi alumni kami di Terisda ada beberapa nama kondang yang terkenal di Indonesia sebut saja Cak Nun atau Emha Ainun Najib dan pendiri Terisda sendiri yaitu Habib Khirzin. 

Saya akhirnya bertemu dengan Pak Habib Khirzin saat beliau bertandang ke Istanbul Turki untuk sebuah seminar. Dan kami bernostalgia tentang Terisda yang didirikannya.

(bersambung)