Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Selasa, 06 Desember 2011

Thariq dan Harriq


(Catatan Perjalanan Haji Bagian-7)

Ayah saya pernah bilang, mengatur manusia lebih susah ketimbang yang lainnya. Tak terbayangkan jutaan manusia berkumpul di kota suci Mekkah. Dengan tujuan yang sama yakni melaksanakan ibadah haji.

Jutaan manusia itu datang dari berbagai negara, suku, bahasa, dan budaya yang berbeda. Perbedaan ini lebih menyulitkan para petugas haji. Perlu satu komando.

Coba sejenak kita bayangkan, bagaimana jutaan orang itu melaksanakan thawaf memutari kabah dalam satu waktu.

Meski Masjidil Haram itu luas, namun dalam satu waktu musim haji, semua orang berlomba untuk meraih tempat yang terbaik yaitu dekat dengan kabah, jadi sempit juga masjid itu.

Jika waktu shalat tiba, petugas haji dari pemerintah Arab Saudi baik dari kepolisian, tentara, atau petugas dari kemeneterian yang bersangkutan memiliki kata-kata yang ampuh. Yaitu, thariq dan harriq.

Ya, anda betul, tharriq dan harriq itu bukanlah nama orang. Secara bahasa thariq artinya jalan dan harriq artinya bergeraklah.

Kata thariq digunakan saat petugas ingin membuka jalan jika jalan itu penuh sesak oleh para jemaah. Namun, kata-kata thariq juga bukan hanya digunakan oleh para petugas melainkan juga digunakan oleh jemaah yang ingin keluar dari lingkaran thawaf.

Sementara kata harriq hanya digunakan oleh para petugas, khususnya petugas lalu lintas. Kata harriq digunakan saat lautan manusia juga antrian kendaraan di jalan raya tak bergerak alias macet.

Menggunakan pengeras suara sang polisi lalu lintas dengan lantang berteriak "Harriq, harriq, ya, hajj!" atau bergeraklah wahai haji. Dan terbukalah jalan itu meski agak lama. 

Dua kata thariq dan harriq ini begitu populer di kalangan jemaah haji.
Misalnya, di suatu waktu dua orang jemaah haji sedang membawa koper tapi jalannya terhalang oleh kami yang sedang berdiri. Kami pun mempersilahkannya untuk melintas.

Eh, salah satu diantara kami ada yang mengatakan, "Tharriq ya hajj, harriq ya hajj," ujar kawan saya. Mereka tidak marah malah spontan kedua jemaah haji itu tertawa.

Ada juga cerita yang tak kalah seru. Suatu ketika seorang polisi mampir ke pemondokan haji Indonesia untuk buang air kecil di toilet yang berada di luar gedung.

Saat polisi itu berada di toilet, kawan saya yang sedang mengantre di depan toilet dengan lantang mengatakan, "Harriq, harriq." Tak lebih dari dua menit sang polisi segera keluar dari toilet dan menghilang begitu saja.

Dan semua orang yang berada di sekitar itu tak kuat menahan tawa. Maka pecahlah keheningan di sore itu dengan tertawa melihat aksi konyol kawan saya. Mungkin karma. Ah, dasar iseng.

Pertemuan dalam Mimpi


(Catatan Perjalan Haji Bagian-6)

Udara sejuk dari kipas angin di pelataran Masjidil Haram mengeringkan keringat kami usai thawaf. Di pelataran itu kami berbincang banyak hal. Maklum, jarang kami bertemu.

Terhitung sejak 2008 kami berpisah, lima kali kami bertemu di  negara-negara yang berbeda. Yaitu Turki, Mesir, Inggris, Iran dan Arab Saudi. Sekalinya bertemu sejam dua jam tak cukup kami berbincang.

Hari itu hari ke-12 Dzulhijjah, usai semua kewajiban berhaji ditunaikan. Masjidil Haram disulap menjadi lautan manusia yang beribadah hanya kepada Allah SWT.

Saya berangkat haji dari Turki dengan menggunakan travel haji Turki di Ankara. Sementara dia melaksanakan haji di sela kesibukannya melayani jemaah haji di dalam pesawat Saudi Arabian Airlines selama musim haji.

Saat kedatangan saya ke bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, ia ingin menjemputku. namun, disebabkan terminal haji yang jauh dari terminal umum, juga begitu luasnya, kami tak bisa bertemu.

Mengirim pesan pendek atau sms dan telepon tetap kami lakukan mesti tak bertatap muka. Karena ia selalu ada kesibukan di tempat kerjanya. Kami memang sama-sama kangen.

Akhirnya kami dipertemukan di padang Arafah. Ia berkemah bersama rombongan haji Indonesia yang bermukim di Arab Saudi. Sementara saya berkemah dengan rombongan Turki. Usai pertemuan itu saya hampir ketinggalan bus rombongan Turki. Ya, karena lupa waktu kalau sudah ngobrol.

Setelah pertemuan di Arafah kami jadi sering bertemu hingga tanggal 12 Dulhijjah malam, karena ia mesti kembali ke Jeddah untuk bertugas. Dan saya masih di Mekkah beberapa hari sebelum ke Madinah dan kembali ke Ankara.

Saya dan ia terlahir kembar. Ia lahir terlebih dahulu disusul kemudian saya. Hanya berselang 15 menit. Selulus sekolah tingkat pertama kami selalu berbeda sekolah. Ia misalnya, kuliah S1 di Tasikmalaya sementara saya di Jakarta. Pun sekolah S2, ia di Iran dan saya di Turki.

Kalau tidak salah, tujuh tahun lalu dalam tidur saya bermimpi sedang duduk di pelataran Masjidil Haram sembari berbincang bersama saudara kembar saya itu. Rupanya mimpi itu benar adanya. Meski kami harus menunggu.

Jumat, 02 Desember 2011

Pak Tua yang Tersesat

(Catatan Perjalanan Haji Bagian-5)
Oleh Deden Mauli Darajat
 
Angin malam waktu itu memang dingin dengan sedikit ramuan debu. Padahal cuaca di siang harinya begitu panas. Usai shalat isya, para jemaah haji berduyun-duyun berjalan kaki menuju Mina untuk mabit atau tinggal bermalam. Namun bukan tinggal di pemondokan atau hotel mewah, melainkan tinggal di tenda-tenda. Dan banyak juga yang tidur di emperan sejadah atau diatas tikar.

Setelah melihat dan mencari ke berbagai arah di jalan yang lebar di depan gerbang jumrah itu, akhirnya bertemu dengan rekan saya, mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran yang juga sedang melaksanakan ibadah haji. Kami beristirahat sejenak sebelum akhirnya beranjak untuk mencari tempat yang nyaman.

Saat mencari tempat untuk beristirahat, saya dipanggil oleh orang Sudan yang sedang duduk di pinggir jalan dan bertanya pada saya, apakah anda orang Indonesia, iya, jawab saya. Saat menghampiri orang Sudan itu saya melihat Pak Tua duduk dengan memeluk kedua kakinya yang ditekuk.

Orang Sudan itu bercerita bahwa orang yang berada di sampingnya adalah jemaah haji asal Indonesia yang ia temani sejak tadi. Usai jumrah dan tahallul, para jemaah haji sudah dihalalkan mengenakan pakaian seperti biasanya, artinya tidak mesti menggunakan kain ihram lagi. Dan Pak Tua itu masing menggunakan ihram.

Pak Tua itu adalah Ali Bin Jabal (63 tahun) asal Riau. Ia mengaku tak bisa kembali ke pemondokannya karena tak tahu jalan. Ia tersesat. Usia senja memang mengurangi hafalan seseorang. Apalagi tempat yang baru dikunjungi. Ditambah lagi dengan jutaan orang yang menggunakan pakaian yang hampir seragam.

Ali bercerita bahwa sesudah ia melaksanakan tahallul dan thawaf di Masjidilharam, ia beritirahat hingga ashar. Usai melaksanakan shalat ashar ia melihat banyak orang yang berjalan menuju Mina. Ia pun mengikuti mereka. Namun, sesampainya di Mina ia tidak tahu harus kemana, akhirnya ia duduk di tepi jalan itu hingga kami menemuinya. 

Jam ditangan saya menunjukkan pukul 23.30. Angin malam bertambah kencang. Pak Tua tambah kedinginan. Saya ambil sejadah dari tas saya dan melilitkannya ke lingkaran badannya. Pak Tua bercerita banyak. Meski ia sisipi bahasa Riau yang kurang saya pahami. Kata-katanya tidak begitu jernih. Kadang saya hanya mengangguk menanggapinya. 

Sebenarnya, cerita Pak Tua, ia mendaftar haji pada tahun 2008 bersama istrinya. Namun pada tahun 2010 istrinya meninggal dunia. Ia pun harus rela berangkat ke tanah suci sendirian. Ia berangkat tanpa ditemani sanak saudara. Mungkin karena sudah lelah dan banyak istirahat ia tertinggal oleh rombongan jemaah asal Riau.

Beberapa hari sebelum hari Arafah, kami mahasiswa Indonesia yang sedang melaksanakan ibadah haji berkumpul di salah satu pemondokan haji. Kami berbincang banyak hal, mulai dari soal lika-liku panitia pelaksana haji sampai masalah PPI Dunia. Saya hanya akan bercerita soal lika liku panitia pelaksana haji.

Menurut mahasiswa yang menjadi tenaga musim haji, mereka kesulitan untuk mengarahkan jemaah haji yang sudah lanjut usia (lansia). Para lansia itu harus benar-benar diarahkan. Dalam perbincangan itu pun muncul wacana bagaimana jika ada pembatasan umur untuk melaksanakan haji.

Wacana pembatasan umur ini dilandasi oleh menurunnya ingatan para lansia dan melemahnya kekuatan atau kesehatan mereka. Ada juga yang mengatakan bahwa, ibadah haji itu bisa dibadalkan atau digantikan oleh orang lain, meski yang dibadalkan itu masih hidup.

Dalam hal ini saya mengatakan bahwa semua orang berhak untuk melaksakan haji, asal mampu. Mampu dalam hal ini banyak arti, diantaranya memiliki uang yang cukup, yang lebih penting adalah memiliki keinginan yang kuat disamping mampu secara lahir dan batin.

Tidak mudah untuk membatasi umur untuk beribadah haji. Pasalnya, ada juga yang usia di atas 60 tetapi masih kuat untuk berjalan kaki berkilo-kilo meter. Tapi ada juga yang tidak. Mungkin, harus ada pengkajian lebih dalam mengenai wacana pembatasan umur bagi jamaah haji ini.

Karena angin yang kencang dan saya tidak tega melihat Pak Tua bertambah kedinginan, akhirnya saya dan rekan memutuskan untuk bergerak mencari posko panitia pelaksana haji. Di tengah jalan, Pak Tua tiba-tiba ingin melaksanakan shalat Isya, dan shalatlah ia di pinggir jalan. Usai shalat kami beristirahat di atas trotoar jalan.

Dua petugas haji yang mengenakan baju biru berjalan di hadapan kami. Kami pun memanggilnya dan bercerita tentang Pak Tua ini. Meski agak lama berbincang, akhirnya Pak Tua itu dibawa oleh petugas haji ke posko Indonesia. Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami di malam itu.
 

Minggu, 20 November 2011

Menengok Makam Nasruddin Hoja



(Dimuat di Republika, Ahad, 20 Nov 2011)

Oleh Deden Mauli Darajat*

Ia dianggap sebagai filsuf yang populis dan orang bijak yang merangkai kisah kebijakannya dengan cerita lucu dan anekdot.

Di dunia Islam, nama Nasruddin Hoja begitu populer. Ia adalah seorang sufi masyhur dari abad ke-13 M. Hingga kini, kata-kata bijak dan hikmah yang disertai humor yang pernah dilontarkan dan ditulisnya masih tetap abadi, melintas zaman dan sekat geografis.

Itulah mengapa sosok Nasruddin begitu akrab di telinga kaum Muslim hampir di seluruh negara, khususnya yang penduduknya mayoritas Muslim. Di tempat kelahirannya, Aksehir, Konya, Turki, gambar Nasruddin Hoja yang sedang mengendarai keledai dengan badan terbalik diabadikan sebagai lambang resmi Kota Aksehir.

Saya tak hanya mendengar dan membaca kata-kata hikmah penuh humor dari sang sufi. Namun, juga berkesempatan menengok alias berziarah ke makam tokoh yang legendaris itu. Ya, beberapa waktu lalu, seorang rekan mahasiswa Universitas Ankara, Selahattin Gobel, asal Konya, mengajak saya dan beberapa kawan untuk singgah ke makam Nasruddin. Dengan bantuan Selahattin, kami pun tiba di Kota Aksehir, sekitar 130 km dari pusat Kota Konya.

Kota Konya juga merupakan tempat makam dan museum sufi terkenal, yakni Maulana Jalaluddin Rumi. Makam Nasruddin terletak di pusat Kota Aksehir. Makamnya berada di tengah-tengah tempat pemakaman umum. Atap makam Nasruddin berbentuk kerucut berwarna hijau.  Di depan makamnya terdapat lingkaran berdiameter sekitar 50 cm bertuliskan "Di sinilah pusat bumi".  Nah, ada cerita tersendiri soal "pusat bumi" itu. Alkisah, tiga orang bijak datang menghadap Nasruddin Hoja.

"Hoja, di manakah pusat bumi?" tanya ketiga orang bijak itu.
"Pusat bumi terdapat di bawah telapak kaki saya," ujar Nasaruddin.
"Bagaimana Anda bisa membuktikan kalau di sini adalah pusat bumi?" ketiga orang bijak itu kembali bertanya. "Hitung saja sendiri," jawab Nasruddin. Ketiga orang bijak pun akhirnya sadar jika Nasruddin adalah orang paling bijak di antara mereka.

Di Kota Aksehir, tepatnya di sekitar makam Nasruddin, terdapat museum yang menggambarkan  kehidupan Nasruddin. Selain gambar, terdapat juga patung-patung yang menggambarkan sang sufi legendaris sedang berdiskusi bersama rekan-rekannya. Di taman Kota Aksehir juga terdapat taman yang dipenuhi dengan patung Nasruddin dalam berbagai bentuk yang diambil dari kisah-kisahnya.

Di Ibu Kota Turki, Ankara, patung Nasruddin Hoja juga terdapat di depan sebuah stasiun kereta api. Namun, patung yang berada di Ankara bukanlah patung Nasruddin yang sedang mengendarai keledai, melainkan singa yang kekar dengan ujung ekornya kepala burung unta dan di atas kepala singa terdapat kepala manusia. Nasruddin duduk membelakangi singa.

Nasruddin adalah tokoh sufi satir, yang diyakini telah hidup selama abad pertengahan atau sekitar abad ke-13 Masehi. Ia dianggap sebagai filsuf yang populis dan orang bijak yang merangkai kisah kebijakannya dengan cerita lucu dan anekdot.

Klaim tentang asal-usul yang dibuat oleh banyak kelompok etnis, di antara mereka adalah orang-orang Turki, yang mengatakan, ia tinggal di Anataolia, mungkin lahir pada 1209 Masehi di Desa Hortu di Sivrihisar, Askisehir, pada abad ke-13, dan kemudian menetap di Aksehir. Ia meninggal pada 1257 Masehi di Konya yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Seljuk.

Sebagai generasi lama, cerita yang kini kita dapatkan telah dimodifikasi. Kisah-kisah Nasruddin telah menyebar ke berbagai daerah. Tema dalam dongeng telah menjadi bagian dari cerita rakyat dari sejumlah negara dan mengekspresikan imajinasi nasional dari berbagai budaya.

Meskipun sebagian besar dari mereka menggambarkan Nasruddin dalam suasana desa kecil, awal cerita-ceritanya berurusan dengan konsep-konsep yang memiliki keabadian tertentu. Mereka menyiapkan sebuah bernas kebijaksanaan rakyat yang menang atas semua cobaan dan kesengsaraan.

Naskah tertua Nasruddin ditemukan pada 1571. Hari ini, cerita Nasruddin yang diceritakan dalam berbagai daerah, terutama di seluruh dunia Muslim, dan telah diterjemahkan ke banyak bahasa.

Beberapa daerah secara mandiri mengembangkan karakter yang mirip dengan Nasruddin dan cerita-cerita telah menjadi bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Di banyak daerah, Nasruddin adalah bagian utama dari budaya dan dikutip atau disinggung sering dalam kehidupan sehari-hari. Karena ada ribuan cerita Nasruddin berbeda, satu dapat ditemukan cocok hampir setiap kesempatan.

Kisah-kisah bijak Nasruddin Hoja sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Apa pasal? Bukan hanya karena humornya saja yang menarik, melainkan juga di balik humor yang dituliskannya itu terdapat pesan yang memuat kebijakan dan hikmah.

Di Turki sendiri, Nasruddin sangat terkenal. Hampir semua penduduk Turki mengenalnya. Ini terbukti dari patung-patung yang bukan hanya ada di Aksehir, melainkan juga ada di beberapa kota lainnya di negeri tempat Daulah Usmani pernah berkuasa. N ed: heri ruslan. *Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana pada Universitas Ankara, Turki.

Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/153/148176/Menengok_Makam_Nasruddin_Hoja

Jumat, 18 November 2011

Lantai Masjid yang Selalu Mengkilap

(Catatan Perjalanan Haji Bagian-4)


Oleh Deden Mauli Darajat

Pernahkah kita berpikir bagaimana membersihkan masjid yang selalu dipenuhi ribuan bahkan ratusan ribu jemaah setiap waktu? Tentu jawabannya adalah susah, tapi tidak untuk di Masjidil Haram. Pengelola masjid yang berdiri di kota Mekkah ini memiliki cara tersendiri untuk membersihkan masjidnya agar para jemaah nyaman dalam beribadah.

Saya masih duduk bersila di dalam masjid yang diharamkan untuk berbuat segala maksiat itu. Saat itu jam di Tower Zamzam yang paling tinggi di dunia ini menunjukkan tepat pukul 00.00 waktu setempat. Sebelumnya saya berpikir bahwa masjid itu akan sepi di tengah malam, namun rupanya jemaahnya tetap membludak. Memang ada sebagian jemaah yang kembali ke pemondokan, namun sebaliknya ada juga yang baru datang ke masjid itu.

Dan yang datang bukan hanya orang-perorang. Yang datang ke Masjidil Haram ini kebanyakannya adalah berkelompok atau rombongan. Salah satu rombongan dari Lombok, Nusa Tengara Barat, misalnya, malam itu baru tiba di Mekkah dan langsung ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf. Mereka berkumpul tepat disamping saya duduk.

Sebagian langsung melakukan shalat tahiyatulmasjid sebagian lainnya berdoa sembari menunggu giliran shalat karena terbatasnya tempat yang sudah penuh. Seorang ibu yang usai melaksanakan sholat disamping saya mengisakan air matanya. Ia tersedu sedan membaca doa. Ada air mata bahagia dan penuh harap saat ia berdoa.

Saat rombongan dari Lombok itu bergerak mendekati ka’bah untuk thawaf, segerombolan petugas pembersih masjid mendekati kami dan memerintahkan kepada kami agar kami pindah dari tempat duduk kami. Karena gerakan mereka cepat, saya pun mengangkut semua bawaan saya termasuk sejadah dan tas soren yang selalu saya bawa ketika berada di Mekkah.

Sejumlah pembersih itu dibagi tugasnya masing-masing, ada yang bertugas memegang tali merah, seukuran tali “police line” yang berwarna kuning. Tali merah itu dibentangkan seluas 10 meter kali 10 meter, dan ditengah garis itu terdapat sejumlah petugas, ada yang menyiramkan air pembersih ada juga yang memegang alat pengepel. Dengan sekejap lantai masjid itu mengkilap. Para pembersih yang bertugas saat itu sekitar 20-an orang.

Sangat mudah mengenali para petugas pembersih yang bertugas di masjidilharam. Sebab, mereka mengenakan seragam berwarna hijau atau cokelat. Di punggung seragam mereka bertuliskan Petugas Masjidil Haram dengan tulisan Arab. Seragam mereka juga dilengkapi dengan peci yang juga warna hijau atau cokelat sesuai dengan seragam yang mereka dikenakan.

Para petugas pembersih yang bertugas di Masjidil Haram bukanlah penduduk setempat, melainkan orang-orang asing yang merantau dan mencari kerja di jazirah arab, diantaranya, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, India dll.

Anwar, petugas asal Jawaw Barat, misalnya, ia sudah tinggal di Mekkah selama 3,5 tahun. Ia bertugas di tempat minum air zamzam yang berada di dalam Masjidil Haram. Usai meminum air Zamzam, saya menyapa dan berbincang dengannya. Anwar bercerita mengapa dirinya ingin bekerja di Mekkah. Keinginannya sederhana, ia ingin berhaji sekaligus ingin mencari nafkah. Dengan tinggal di Mekkah ia sudah berhaji untuk ketiga kalinya pada tahun ini.

Para petugas pembersih menurutnya sangat banyak, hingga ribuan orang. Orang Indonesia saja bisa mencapai 500 orang yang bekerja di Masjidil Haram. Ribuan petugas itu dibagi menjadi berbagai shift. Satu shift bekerja selama 12 jam. Dan diganti dengan shift selanjutnya setelah 12 jam bekerja. Karena Anwar dan kawan-kawannyalah para jemaah bisa nyaman beribadah dengan lantai yang selalu mengkilap.

(bersambung)


Kamis, 17 November 2011

Jatuh Bangun Dapatkan Visa Haji



(Catatan Perjalanan Haji Bagian-3)


Oleh Deden Mauli Darajat


Sahabat saya di Jeddah Arab Saudi bertanya di pesan facebook, "Saya lihat di daftar haji KJRI ada nama antum. Tapi pas hari H-nya gak muncul. Kenapa?". Atau mungkin juga ada yang bertanya bagaimana saya bisa berangkat haji dari Turki, sementara Turki juga memberangkatkan banyak jemaahnya ke tanah suci Mekkah?


Ya, Turki merupakan negara yang mayoritas penduduknya muslim. Pas musim haji di Mekkah pun jemaah haji asal Turki cukup banyak sekitar 70 ribu jamaah. Seperti halnya Indonesia yang memberangkatkan haji sebanyak 220 ribu jamaah. Untuk berangkat haji dari Indonesia, misalnya, kita harus menunggu 2 atau 3 tahun bahkan bisa lebih, dengan sistem menunggu atau waiting list.


Berbeda dengan di Turki, sistem yang digunakan adalah undian. Misalnya, di salah satu kota Urfa, memiliki kuota sebanyak 2000 jemaah sementara yang mendaftar sebanyak 200 ribu jemaah, maka panitia penyelenggara haji dalam hal ini kementerian agama mengundi 2000 jemaah yang berhak berangkat ke haji tahun ini.


Bagi calon jemaah haji yang belum mendapatkan undian maka tahun depan bisa mendaftar ulang di kementerian agama setempat. Jadi pendaftaran haji di Turki diadakan setiap tahun dengan sistem undian. Namun tetap saja kebanyakan pendaftar calon jemaah haji adalah orang tua bukan yang muda.


Baiklah kita mulai ceritanya. Beberapa tahun lalu, 2004 dan 2007, mahasiswa Indonesia di Turki mendapatkan jatah untuk tenaga musim haji (temus) untuk diperbantukan melayani jemaah haji Indonesia. Namun sejak 2008 jatah untuk mahasiswa Turki dan negara yang tidak berbahasa arab di hapuskan.


Tahun 2010 lalu saya dan rekan-rekan di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki mengajukan permohonan kepada KBRI Ankara untuk mengajukan temus tahun 2010. KBRI Ankara pun kemudian mengirimkan permohonan kami kepada kementerian Agama RI di Jakarta. Jawaban dari Kemenag RI adalah tidak ada temus untuk mahasiswa Indonesia di Turki.


Rupanya bukan hanya Turki yang mengajukan hal demikian. Ingin lebih diperkuat lagi, Badan Kerjasama (BK) PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya mengajukan hal yang sama di awal tahun 2011. Isinya adalah mengajukan untuk membuka kembali temus untuk negara-negara Turki, Iran, Pakistan dll. Beberapa waktu lalu kami terima jawaban yang sama, yakni tidak ada temus untuk negara-negara tersebut.


Karena niat berhaji sudah lama tertanam di hati, saya mencoba bertanya sekaligus ingin mendaftar haji ke kementerian agama Turki di Ankara. Jawaban mereka adalah bagi orang asing di Turki tidak bisa berangkat haji namun hanya bisa berangkat ke Mekkah untuk umrah. Dan mereka menyarankan saya untuk bertanya ke kantor wilayah kemenag Ankara.


Lalu saya pun mendatangi kanwil kemenag Turki di Ankara dekat masjid Kocatepe, masjid terbesar di Ankara. Mereka ramah dan kami berbincang hangat dengan disediakannya cay atau teh. Dan saya kemukakan keinginan saya untuk berhaji melalui kementerian agama ini, maka jawabannya adalah sama dengan di kementerian agama Turki pusat.  Yaitu, tidak ada jatah asing untuk berhaji. Ini saya lakukan di bulan Maret dan April tahun ini, dimana masih ada pendaftaran haji.


Saudara saya di Iran akhirnya bisa berangkat haji dengan menjadi pelayan/pramugara di pesawat Saudi Arabian selama musim haji bersama rekan-ekannya mahasiswa Indonesia di Iran. Saya pun berpikir siapa tahu saya bisa seperti dia, dan saya kirimkan CV dan daftarkan diri. Namun, jawabannya adalah saya tidak bisa diterima karena tidak bisa berbahasa persia, meski saya ajukan bahwa saya bisa berbahasa Turki selain Inggris dan Arab.


Saya menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ingin saya berdamai dengan keadaan. Dalam kesibukan belajar saya masih berpikir bagaimana caranya agar saya bisa berhaji. Memang tidak banyak yang tahu orang-orang di sekitar saya tentang keinginan ini. Seakan-akan tidak terjadi ada apa-apa.


Usai lebaran Idul Fitri 1432 H, saya mendapatkan kabar dari KBRI Ankara bahwa Koperasi di KJRI Jeddah membuka pendaftaran untuk haji Luar Negeri. Untuk memperjelas informasi ini maka saya langsung menelepon KJRI Jeddah dan bertanya apakah saya, mahasiswa di Turki bisa mendaftar di Koperasi KJRI Jeddah untuk berhaji, jawabannya boleh.


Masalahnya adalah saya harus mendapatkan visa haji dari kedutaan Arab Saudi di negara setempat. Dengan semangat tinggi saya mendatangi kedutaan Arab Saudi di Ankara untuk mengajukan visa. Dengan mendapatkan data dari KJRI Jeddah ditambah surat keterangan dari KBRI Ankara saya yakin bisa mendapatkan visa itu.


Di luar dugaan, counsellor atau diplomat Arab Saudi yang bertanggungjawab dengan visa haji menolak pengajuan visa haji saya. Dia beralasan bahwa orang Indonesia jika ingin berhaji maka ia harus berangkat dari Jakarta atau kota lainnya di Indonesia. Saya tidak sendiri, ada juga orang Irak, Afganistan, Iran dll yang bernasib sama, visa ditolak. Saya langsung membatalkan pendaftaran haji saya di KJRI Jeddah.


Saya masih tidak percaya dengan kejadian hari itu. Saya galau. Makan susah tidur pun tak bisa. Akhirnya saya paksakan tidur agar soal visa ini tak selalu beredar di pikiran saya. Saya berusaha berdamai dengan keadaan. Berangsur-angsur saya mulai ikhlas dengan apa yang telah terjadi, mungkin memang belum rejekinya. Berkali-kali menarik napas.


Suatu hari saudara saya yang mulai bertugas di Jeddah memberikan kabar bahwa rekan kami mahasiswa di Pakistan dan di Austria sudah mendapatkan visa haji dan bersiap berangkat ke Mekkah. Dia menegaskan bahwa, haji adalah ibadah. Dan memang untuk beribadah haji banyak rintangan dan ujiannya. Cobalah sekali, dua, atau tiga kali datangi kedutaan Arab Saudi lagi, siapa tau masih bisa.


Ya, semangat saya tumbuh lagi. Saya kembali datangi kedutaan Arab Saudi, jawabannya sama: tidak bisa. Pernah dari pagi sampai sore (diselingi istirharat) sampai kantor kedutaan tutup saya masih di ruang tunggu dan tidak ada satu pun petugas visa yang menyapa. Mereka sudah hapal dengan muka saya. Saya dicuekin. Berkali-kali saya datangi pun, nasib saya sama, meski ada peningkatan yaitu disapa dan mau apa namun jawabannya sama tidak bisa.


Sampai suatu ketika saya pulang dari Istanbul dan hanya sempat tidur di bus dalam perjalanan malam menuju Ankara, pagi itu saya kembali mendatangi kedutaan Arab Saudi. Hari itu Rabu, 19 Oktober 2011. Siangnya pas istirahat kantor saya diundang untuk hadir di pengajian ibu-ibu di Ankara. Usai makan siang di pengajian itu, saya kembali ke kedutaan Arab yang memang tidak jauh dari lokasi pengajian.


Saat itu di kedutaan Arab Saudi ada diplomat Sudan di tengah-tengah kami di ruang tunggu. Sang diplomat Arab Saudi yang menolak saya dan tak pernah senyum itu kini tersenyum dan tertawa saat berbincang dengan diplomat Sudan. Saya ajukan kembali ke diplomat Arab, dan sekilas ia membaca dokumen saya dan mengatakan "ikuti dia saja," ujarnya singkat.


Arabi nama diplomat Sudan itu. Arabi, saya dan 4 orang mahasiswa asing asal Irak dan Libya, keluar dari kedutaan Arab menuju kantor travel haji. Arabi mengatakan jika ingin berangkat haji dari Turki maka harus mendaftar di travel haji dari Turki. Baiklah, saya menyanggupi semua persyaratan itu. Saya serahkan paspor dan ikamet kepada Arabi untuk mengurus visa.


Ternyata hanya butuh sehari untuk mengurus visa haji. Dan visa haji di paspor saya adalah majjanan alias gratis. Semua serba dadakan. Seminggu kemudian tanggal 28 Oktober saya terbang ke Jeddah dan kemudian ke Mekkah untuk berhaji. Alhamdulillah. Hadza min fadhli Rabbi liyabluwani a asykuru am akfur. Segala puji bagi Allah. Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).


(bersambung)

Senin, 14 November 2011

Menikmati Lontong di Bin Dawood Mekkah



(Catatan Perjalanan Haji Bagian-2)


Oleh Deden Mauli Darajat




Ini bukan di Indonesia. Ini di Arab Saudi. Tapi suasana pagi di sini serasa di Jakarta atau di kota lainnya di nusantara. Para pedagang di sekitar perempatan Mall Bin Dawood ini menyediakan makanan khas Indonesia, antara lain, lontong gado-gado, bakso, dan yang lainnya.


Sewaktu kembali dari mabit di mina untuk jumrah, saya berjalan menuju hotel plaza dimana saya tinggal bersama rombongan haji Turki, saya melintasi Mall Bin Dawood. Saat itu saya mampir dan memesan satu porsi  gado-gado lontong untuk sarapan pagi, meski sebenarnya di hotel sudah disediakan sarapan, tapi sarapan khas Turki.


Bukannya tidak bisa makan makanan Turki, tapi kalau ada masakan Indonesia saya gak bisa nolak, hehe.  Alasan aja sih. Yang pasti pagi itu saya kaget sekaligus senang. Kaget karena di Ankara, Turki, tempat saya bersekolah tak ada pasar semacam ini. Senang karena masih bisa mencicipi gado-gado lontong di pagi yang sejuk itu.


Rupanya tidak cuma satu warung emperan saja yang menjual masakan Indonesia ini. Tapi masih ada sejumlah warung yang sama. Ada yang hanya menjual bakso dengan pop mie, atau bakso saja. Laiknya pasar kaget, di pasar Bin Dawood ini juga dijual berbagai barang, mulai dari tasbih, baju gamis, buah-buahan dan lain sebagainya.


Mekkah di musim haji memang padat. Kota suci ini didatangi para jemaah haji dari penjuru mata angin. Dengan satu tujuan, melaksanakan rukun Islam yang kelima, yaitu haji. Namun, masyarakat Indonesia pada musim haji bukan hanya berasal dari para jemaah haji, namun juga para mukimin atau yang menetap di Mekkah dan kota lainnya di Arab Saudi sebagai tenaga pekerja atau TKI.


Para tenaga kerja Indonesia (TKI) inilah yang menjual berbagai makanan Indonesia di Arab Saudi. Mereka mengadu nasib di negeri para nabi ini. Diantara yang saya temui ada yang mengaku baru 3 bulan, ada yg sudah 3 tahun, hingga 6 tahun. Kebanyakan yang saya temui mereka belum pernah pulang kampus selama bekerja di Jazirah Arab ini.


Saipuddin, misalnya, yang sudah 2 tahun di Mekkah, tidak ingin pulang kampung sebelum 'menghasilkan' tabungan yang memadai. "Minimal pulkam bisa beli mobil. Malu nanti, jauh-jauh ke sini gak ada hasil," ungkapnya. Saepuddin yang asal sunda itu tidak sendiri, ia bersama istrinya ke arab saudi dengan tujuan yang sama, mencari rejeki di negeri orang.


Selain dagangan masakan Indonesia yang dijual di pasar pagi, sebenarnya masih terdapat restoran atau rumah makan yang menjual masakan Indonesia. Pangsa pasarnya jelas, orang Indonesia, Malaysia dan negara-negara asia lainnya.


Jadi, bagi anda yang ingin ke Mekkah atau Madinah dan hanya bisa makan masakan Indonesia tak perlu khawatir karena hampir di tiap kota di Arab Saudi terdapat penjual masakan Indonesia yang memang tidak ada di Turki. hehe.


(bersambung)

Minggu, 13 November 2011

Titik Cinta dan Rindu

*Catatan Perjalanan Haji Bagian-1

Oleh Deden Mauli Darajat


(Sebelumnya ijinkan saya menuliskan sebuah catatan perjalanan haji, yang dimulai dengan catatan singkat, entah apa namanya, puisi atau bukan. Selamat menikmati pembaca yang budiman)


Pencarian cinta tak usah dipaksa
Saat rindu tak bertemu
Sinar mentari di bayang-bayang menara
Masjid yang diharamkan
Untuk kita berbuat segala maksiat

Aku duduk termenung
Melihat berbagai pigmen
Yang melekat pada jasad manusia
Tak ada kesamaan dalam luar
Tapi kuyakin semua sama dalam hati
Menuju ridha Ilahi

Sebab, di titik ini tak ada cinta 
Melebihi cinta-Nya
Tak juga menemukan rindu
Karena disinilah rindu ini tercipta
Saat cinta dan rindu menyatu di titik ini
Tak ada lagi cinta dan rindu yang dicari

Titik dimana semua nyata
Titik dimana berputarnya waktu
Titik di tengah-tengah titik
Titik dimana semua Muslim merindukan 
Untuk memalingkan wajah kepadanya
Titik dimana semua utusan Tuhan diturunkan
Dan semua kebaikan bersatu di titik ini

Aku terpana dan tak terasa
Mata mengalirkan airnya
Air mata cinta dan rindu ini
Pecah saat melihat titik
Titik dimana kepala lebih rendah
Daripada bujur manusia

Titik dimana Ia menciptakan
Langit dan bumi karena cintaNya
Titik dimana dienyahkannya sesembahan
Yang bukan ditujukan kepadaNya

Titik dimana Ibrahim mengikhlaskan
Ismail menjadi kurban untuk disembelih
Titik dimana semua keikhlasan kehambaan 
Ditujukan hanya kepadaNya
Titik cinta dan rindu

(Ditulis pada sebuah sore di hamparan Masjidilharam, Ahad, 10 Oktober 2011) 

Kamis, 06 Oktober 2011

Idul Adha Sarana Mendekatkan Diri pada Allah SWT dan Sesama Manusia



(Disampaikan pada Kajian Ibu-ibu Darma Wanita Persatuan KBRI Ankara, Turki, Rabu, 5 Oktober 2011)

Oleh Deden Mauli Darajat


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan berbagai nikmatNya kepada kita yang tak pernah dapat kita hitung. Shalawat serta salam kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mencerahkan manusia dari berbagai macam kejahiliyahan.

Beberapa waktu lalu saya dapat sms dari Mbak Bintari untuk mengisi pengajian atau lebih suka saya sebut kajian, karena kita sama-sama mengkaji tentang keislaman bersama ibu-ibu DWP KBRI Ankara. Dalam pesan itu pula saya diharapkan dapat menyampaikan tentang Idul Adha. Baiklah.

Suatu hari di sebuah kota di Turki diadakan sebuah pesta besar dan sang tuan rumah mengundang Nasruddin Hoja. Hoja datang dengan pakaian seadanya. Kedatangannya tidak begitu ditanggapi oleh tuan rumah dan para tamu undangan lainnya, sebab ia menggunakan pakaian a la kadarnya.

Ia pun kemudian kembali ke rumahnya dan mengganti pakaiannya dengan yang mewah. Kedatangannya kembali ke pesta itu disambut hangat dan disajikan untuknya makanan yang lezat nan nikmat. Dengan halus Hoja itu mengatakan sembari menyindir yang hadir di sana, “Wahai baju yang mewah, makanlah makanan yang lezat ini,” ujarnya.

Dalam kisah ini Nasruddin ingin mengatakan pada kita bahwa, manusia pada hakikatnya hanya melihat dari apa yang dikenakan. Tapi tidak melihat siapa sesungguhnya orang itu. Hal ini senada dengan Hadits Nabi Muhammad SAW yang bersabda, Sesunguhnya Allah tidak melihat dari bentuk kalian, dari kepemilikan kalian, tetapi Allah hanya melihat kepada hati kalian.
photo: nkfu.com

Baiklah mari kita bahas tentang Idul Adha. Idul secara bahasa artinya kembali, sementara Adha adalah binatang yang dikurbankan. Atau sering juga kita menyebutnya sebagai Idul Kurban. Kurban sendiri artinya secara bahasa adalah dekat. Dengan kata lain idul Adha maupun idul kurban adalah sarana untuk manusia agar dapat mendekatkan kembali kepada Sang Khaliq.

Sejarah Idul Adha adalah sejarah yang berkaitan dengan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kisah tentang pengorbanan orang tua (Nabi Ibrahim) yang berani menyembelih anaknya (Nabi Ismail) dapat kita baca dalam surat Ash-Shaffat [37] ayat 100-111.

Singkat kisah dalam ayat-ayat di atas adalah, suatu ketika Nabi Ibrahim bermimpi bahwa ia menyembelih anaknya. Awalnya Ibrahim ragu akan mimpi itu, namun setelah beberapa kemudian ia mimpi hal yang sama, maka ia yakin bahwa mimpi itu adalah perintah langsung dari Allah SWT.

Ibrahim pun kemudian mengisahkan mimpinya kepada istrinya dan anaknya Ismail. Ismail pun menjawab dengan penuh keyakinan, “Jika itu perintah Allah maka mari kita lakukan, Ayah,” ujarnya. Keesokan harinya Ismail berangkat ke tempat yang sudah ditentukan.

Saat penyembelihan akan dilakukan dengan sangat cepat Ismail digantikan dengan binatang kurban yang bagus, sehat, putih dan bersih. Dan selamatlah Ismail dari penyembelihan. Maka pada saat itu para malaikat bertakbir kemudian Ibrahim pun meneruskannya dengan tahlil dan tahmid. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Lailahaillalah, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamdu.

Konon kabar binatang kurban yang menggantikan Nabi Ismail adalah binatang kurban yang digunakan oleh Habil puteranya Nabi Adam AS. Pada saat itu Nabi Adam meminta kedua anaknya untuk berkurban. Habil berkurban dengan hewan yang terbaik sementara Qabil dengan hewan yang seadanya. Selain itu Habil berkurban karena Allah semata sementara Qabil karena ingin mengalahkan saudaranya. Maka Allah menerima kurban yang diberikan oleh Habil.

Sejak zaman baheula sejarah berkurban sudah banyak diperaktekkan. Di Mesir kuno, misalnya, setiap tahun diadakan kontes kecantikan dan yang menjadi juaranya ditenggelamkan ke dalam sungai Nil sebagai sesaji untuk para dewa.

Di Mesotopamia (Irak) yang dijadikan sesaji adalah bayi. Di Aztek, pemuka agama yang dijadikan sesaji untuk para dewa. Jadi, digantikannya Nabi Ismail dengan hewan kurban adalah revolusi peradaban manusia pada saat itu.

Yang menarik dari kisah Nabi Ibrahim adalah ia tidak memiliki putera hingga usia 99 tahun. Suatu ketika sebelum memiliki anak, Ibrahim pernah berkurban karena Allah SWT dengan menyembelih 1000 domba, 300 sapi dan 100 ekor unta. Semua orang kaget termasuk para malaikat.

Ibrahim menjawab keheranan orang-orang itu, bahwa yang ia kurbankan dengan ribuan hewan itu tidaklah seberapa, bahkan jika memiliki anak lelaki maka ia juga akan mengurbankannya. Maka setelah 99 tahun ia tidak memiliki anak, lahirlah puteranya dan diberikan nama Ismail yang artinya, Allah telah Mendengar doa nabi Ibrahim. Maka ketika mimpi menyembelih anaknya, Ibrahim tanpa ragu melakukannya tentu dengan seizin Ismail.

Ayat yang mengisahkan tentang Ibrahim dan anaknya Ismail menggambarkan kejujuran kedua Nabi itu dalam melaksanakan ibadah kurban, indikatornya adalah: 

Pertama, Al-Istijabah alfauriyah yaitu kesigapan dalam melaksanakan perintah Allah SWT, meski ia harus menyembelih anak tercintanya. Ini juga terlihat dari perintah memalui mimpi yang langsung ia laksanakan.

Kedua, Shidqu al-Istislam, yakni kejujuran dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Dalam hal ini Ibrahim tak ragu untuk menyembelih anaknya Ismail. Inilah hakikat kehambaan yang dipancarkan oleh Ibrahim dan Ismail.

Ayat lainnya yang memerintahkan untuk berkurban adalah surat Al-Kautsar [108] ayat 1-3. Yang artinya, sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Dari ayat ini kita dapat memahami bahwa Allah sudah memberikan begitu banyak nikmat. Maka dengan banyak nikmat yang kita rasakan itu, tidak ada alasan lagi untuk kita untuk tidak beribadah sholat dan berkurban. Bahkan, jika pohon dijadikan sebagai pena dan lautan sebagai tintanya maka tidak akan cukup kita menuliskan akan nikmat Allah di dunia ini.

Secara khusus Allah berfirman dalam surat Ar-Rahman [55], yakni Allah mengingatkan hamba-Nya, dengan ayat “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan.” Dalam surat Ar-Rahman ini Allah mengulangi ayat ini sebanyak 31 kali dari 78 ayat yang ada. Pertanyaannya adalah masihkah kita mengkufuri nikmat Allah yang tak terhingga ini? Semoga tidak.

Idul Adha memiliki tiga makna, yaitu: 

1. Ketakwaan manusia atas perintah Allah SWT. Kurban merupakan simbol penyerahan diri manusia secara utuh. Sekalipun dalam bentuk pengurbanan seorang anak yang dicintai ayahnya. 
2. Makna sosial. Artinya bahwa sebagai manusia yang diberikan banyak kenikmatan maka kita harus berbagi terhadap sesama manusia. 
3. Makna ketiga adalah apa yang dikurbankan adalah symbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, menikam sesama rekan, dll dll.

Selain mendekatkan diri pada Allah SWT, berkurban juga adalah sarana kita untuk mendekatkan diri pada manusia. Hablumminallah wa hablumminannas. Dalam berkurban setidaknya orang yang tidak mampu untuk makan daging dapat memakannya di hari raya Idul Kurban.

Begitupun dengan hewan yang disembelih. Hewan memiliki nafsu tetapi tak memiliki akal. Maka yang dilakukan hewan adalah menghancurkan hewan lainnya yang lebih lemah darinya. Saling menikam. Sifat-sifat hewani inilah yang sebenarnya kita sembelih saat kita berkurban.

Mengapa berkurban harus kita lakukan setiap tahun. Karena Allah Maha Mengetahui bahwa manusia adalah tempatnya lupa dan khilaf. Untuk itu Idul Fitri dengan puasa Ramadhannya juga Idul Kurban dengan semangat berkurbannya sangat penting sebagai sarana kita mendekatkan diri pada Allah SWT sekaligus mendekatkan diri pada sesama manusia.

Hikmah dari Idul Adha adalah, Allah SWT menjadi muara awal dan akhir kehidupan. Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah di dunia ini dan akan kembali kepadaNya. Maka berkurban adalah penyerahan diri manusia sebagai hamba yang bergantung pada Tuhannya.

Ibadah kurban juga dilakukan oleh Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW setiap Idul Adha membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk dan berbulu putih bersih. Setelah mengimami dan berkhutbah Nabi melasanakan sendiri prosesi penyembelihan kurban itu.

Saat hewan kurban pertama disembelih Nabi berdoa, Ya Allah terimalah ini dari Muhammad dan ummat Muhammad. Ketika hewan kurban kedua disembelih maka Nabi berdoa, Ya Allah terimalah ini dari umaku yang tidak mampu berkurban. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, At Turmudzi)

Pada hakikatnya dalam ibadah kurban ini Allah tidak menerima darah dan daging kurban melainkan ketakwaan dan kerikhlasannya dalam beribadah kepada Allah. Hal ini dapat kita baca dalam surat Al-Hajj [22] ayat 37. Jadi, yang diterima dari beribadah kurban adalah keikhlasannya.

Sebuah hadits sebagai penutup dari kajian ini adalah, Nabi SAW bersabda, segala perbuatan tergantung pada niatnya, dan manusia akan dinilai dari apa yang ia niatkan. Artinya bahwa semua ibadah yang kita lakukan harus dilandasi dengan niat yang baik dan karena Allah SWT semata. Karena Allah tidak melihat dari apa yang kita kenakan atau dari apa yang kita miliki tetapi Allah melihat dari hati kita. Wallahu ‘alam bish-shawab.

Bila ada kesahalan kata atau tulisan ini mohon dimaafkan, karena kekurangan itu datang dari diri saya pribadi, namun kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT.

Billahittaufik wal hidayah
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sabtu, 17 September 2011

“Siapa tahu ketularan.”


Ah, kali ini mau cerita aja. Gak lebih.  Siapa sih yang gak kenal sama eyang yang sangat fenomenal ini. Lahir di Pare-pare , Sulawesi Selatan, 75 tahun lalu ini masih semangat berdiskusi meski waktu menunukan 23.50 malam waktu Ankara. 

Tak lama beberapa waktu lalu ia juga berpidato di depan ratusan mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir dan di Aachen, Jerman. Meski di dua tempat itu saya tidak bisa menghadirinya. Biasa terkendala doku. Dan saya masih berharap bisa bertemu beliau kapan dan dimana saja. Siapa sih beliau ini?

Ya, betul, beliau adalah Prof. Dr-Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden Republik Indonesia yang ke-3. Saya termasuk orang yang kebetulan dan bisa dibilang beruntung bisa bertemu eyang Habibie di wisma KBRI Ankara, kemarin malam (15/9/2011).

Saat bulan puasa lalu saya sempat menghabiskan buku yang berjudul Ainun dan Habibie dalam waktu tidak lebih dari dua hari. Bagus ceritanya. Dan beliau pun bercerita tentang Ainun, istrinya, pada ramah tamah malam itu. Cintanya tak pernah habis. Ia mengungkapkan sebelum tidur ia bertahlil untuk istrinya agar bisa bertemu di alam mimpi.

12 tahun yang lalu, saat saya menempuh studi di Pondok Modern Darussalam Gontor, Eyang Habibie yang waktu itu menjabat Presiden datang dan berpidato di hadapan ribuan santri. Saya bercerita tentang itu kepadanya. Saya juga bilang kalau kami hanya bisa melihat dan mendengar saja. “Dunia ini memang sempit,” ungkapnya kepada kami. 

Karena sesi waktu itu sesi luang maka saya meminta untuk berpoto dengannya. Sebelum berpoto saya mengatakan, “Siapa tahu..” tiba-tiba saya kehabisan kata-kata dan Eyang Habibie meneruskannya, “Siapa tahu ketularan. Kalau Tuhan sudah menuliskan apapun akan terjadi,” ungkapnya yang membuatku kaget, tersipu dan bangga.

Saya bertambah kaget saat kami akan berpisah, kami bersalaman dan bercipika-cipiki. 

Ankara, Jumat, 16 September 2011.

Sabtu, 10 September 2011

Surat dari Ankara

(Dimuat/dibaca di Radio PPI Dunia pada acara Bahasa Jiwa, Sabtu 10 September 2011)


Oleh: Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki/Dewan Penasehat, Perhimpunan Pelajar Indonesia [PPI] Turki )


Tiba-tiba penyiar Radio PPI Dunia, Mas Susanto yang murah senyum itu mengirim pesan di Facebook agar saya menulis satu artikel yang akan dibaca di acara “Bahasa Jiwa” di radio online milik mahasiswa Indonesia di luar negeri ini. Tentu saja saya tidak bisa menolaknya meski tak tahu apa yang harus saya sampaikan dalam tulisan ini, karena saya juga bukanlah siapa-siapa.


Alkisah, seorang pengemis datang ke rumah Nasruddin Hoja untuk meminta sumbangan. Si pengemis mengetuk pintu rumah dan keluarlah Nasruddin lalu lama terdiam. Melihat aksi Nasruddin yang terdiam si pengemis itu lalu memperjelas kedatangannya bahwa ia meminta sumbangan untuk dirinya agar dapat bertahan hidup.


Bukannya memberikan sumbangan, malahan Nasruddin Hoja mengajak si pengemis untuk naik atap rumahnya. Setelah keduanya naik atap rumah itu, Nasruddin meminta si pengemis untuk menengadahkan tangannya laiknya orang meminta atau berdoa. Lalu Nasruddin berujar kepada si pengemis, “Kalau anda meminta sesuatu mintalah kepada Tuhan Sang Maha Pemberi,” ujarnya singkat dan kemudian turun meninggalkan si pengemis yang terheren-heran.


Nasruddin bukanlah pelit dalam memberi, meski ia pun tak kaya. Nasruddin yang dimakamkan di kota Aksehir, Konya, Turki itu mengajarkan kita agar dalam hidup dan menjalani kehidupan janganlah kita meminta-minta kepada sesama manusia yang juga banyak kekurangan. Tapi, mintalah sesuatu kepada Tuhan yang Maha Pengasih.


Ulama sufi yang kondang dengan leluconnya ini juga mengajak kita agar hidup ini tidak hanya meminta-minta tapi juga berusaha sekuat tenaga tanpa lelah. Usaha merupakan modal utama dalam meraih sesuatu yang kita impikan dan angan-angankan.


Seperti halnya anak kecil yang sedang belajar berjalan. Ia tak pernah patah semangat walaupun ia merasakan bagaimana sakitnya jatuh. Dan bukan hanya sekali jatuh namun berkali-kali jatuh hingga tak terhitung berapa kali ia jatuh. Namun, setelah berkali-kali jatuh itu ia pun tak lelah untuk bangkit dan belajar berjalan lagi hingga ia bisa berjalan dengan lancar.


Atau seperti halnya ulat bulu yang berubah menjadi kepompong yang sangat menjijikan dan kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah dipandang mata. Perubahan dari ulat menjadi kepompong lalu kupu-kupu tidak terjadi secara instant tapi ada usaha yang kuat di dalamnya. Sang kepompong harus kuat berpuasa secara konsisten agar dapat meraih impiannya menjadi kupu-kupu.


Hidup kita pun begitu, tak ada impian atau harapan kita yang dapat kita raih tanpa usaha yang maksimal. Tak ada juga impian yang diraih hanya dengan berpangku tangan atau bermalas-malasan. Selalu ada harga yang mesti kita bayar untuk meraih impian dan harapan kita.


Artinya bahwa, sebuah kesuksesan akan dapat diraih dengan usaha yang kuat. Dan akhirnya selalu ada jawaban dari apa yang kita usahakan. Ada kata mutiara mengatakan bahwa, dimana ada keinginan di sana ada jalan, bisa saya tambahkan, dimana ada keinginan dan usaha yang kuat di sana ada jalan yang lebih besar.


Kyai saya di Ponorogo, Jawa Timur, pernah mengatakan, kesuksesan itu milik orang yang berpikir keras, berusaha keras dan berdoa keras. Bisa dipahami bahwa dalam meraih impian dan tujuan hidup yang mulia kita harus berpikir bagaimana cara yang terbaik dan cerdas untuk melangkah dan meraih impian itu. Jadi, tidak hanya asal-asalan saja kita dalam melangkah untuk meraih impian.


Kedua, seperti yang diulas di atas, kita juga mesti bekerja keras tanpa lelah dan tanpa menyerah. Karena kegagalan itu adalah ketika kita berhenti dalam sebuah perjuangan meraih impian. Setelah berpikir keras dan berusaha keras, kita pun jangan lupa menyertakan Tuhan dalam usaha kita agar kita tidak sombong.


Maka berdoa keras adalah usaha terakhir yang mesti juga kita lakukan dengan konsisten, tidak hanya sekali dua kali saja kita berdoa. Namun, kita mesti berdoa setiap hari setiap waktu. Karena terkadang Tuhan menguji terhadap doa kita, apakah serius atau main main. Berdoa keras juga agar kita bisa bersyukur dengan apa yang kita dapatkan dan agar kita bersabar dengan apa yang luput dari kita. *wallahu ‘alam bishshawab*


Salam hangat, Ankara, 4 September 2011
Deden Mauli Darajat

Sabtu, 30 Juli 2011

Masjid Haji Bayram Pusat Ramadhan di Turki

(Dimuat di Republika, 30 Juli 2011)


Oleh Deden Mauli Darajat
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Di sekitar masjid digelar panggung musik yang bernapaskan Islami


Turki merupakan negara dengan mayoritas penduduknya Muslim. Meski demikian, tidak ada yang spesial dalam menyambut Ramadhan di Turki, seperti layaknya di Indonesia. Poster-poster di jalanan atau iklan-iklan untuk menyambut Ramadhan di televisi Turki jarang kami temui. Walaupun begitu, sebagian masyarakat Turki telah mempersiapkan diri untuk menyambut bulan yang mulia ini.


Seperti yang diungkapkan Ali Perdahci (22), mahasiswa Universitas Erciyes, Kayseri, Turki, bahwa ia mempersiapkan bulan Ramadhan dengan kesungguhan. Beberapa pekan sebelum Ramadhan, Ali menambah porsi membaca Alquran dan kitab-kitab Islam. Selain itu, ia juga mengurangi waktu tidur pada malam hari untuk beribadah mendekatkan diri pada Allah SWT. “Saya dan kawan-kawan berdiskusi tentang keislaman pada malam hari,” ungkap Ali.


Mahasiswa jurusan ekonomi ini menyatakan, sebelum Ramadhan tiba, banyak pengusaha atau dermawan yang menyiapkan paket sembako untuk orang-orang yang tidak mampu. Paket sembako Ramadhan itu dibagikan di supermarket. Caranya, warga yang kurang mampu dapat memperlihatkan kartu tanda penduduk kepada petugas di supermarket. “Paket itu juga diberikan kepada para mahasiswa,” ujarnya.


Hal senada juga disampaikan Mufid (46), seorang pengemudi taksi di Ankara. Mufid menyambut gembira datangnya bulan suci ini. Meski puasa bulan Ramadhan bertepatan dengan musim panas, ia tetap akan berpuasa. Ramadhan pada musim panas itu lebih panjang waktunya dibandingkan dengan musim dingin. Azan Subuh berkumandang pukul 04.00, sementara azan Maghrib berkumandang pada pukul 20.20 waktu setempat.


Bahkan, musim panas di Turki dapat mencapai mak si mal 45 derajat Celsius. Saat ditanya, bagaimana dengan panas yang menyengat dan waktu yang panjang, Mufid menyatakan, ia tetap kukuh akan berpuasa. “Puasa Ramadhan merupakan perintah agama yang sudah mutlak,” ungkapnya.


Pengalaman saya tahun lalu, meski mayoritas warga Turki adalah Muslim, saat Ramadhan lalu, rumah makan masih banyak yang menyediakan makanan pada siang hari. Pasalnya, tidak ada larangan secara resmi untuk menutup rumah makan selama Ramadhan di Turki. Di jalan-jalan di Ankara masih bisa ditemukan orang yang makan pada bulan Ramadhan.


Meski begitu, Wali Kota Ankara Melih Gokcek sudah menyiapkan 26 titik tenda buka puasa gratis di kota ini yang diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa. Ke-26 titik ini tersebar di penjuru Ankara, seperti Terminal Asti, Stasiun Metro, dan Genclik Park atau Taman Pemuda. Paket buka puasa itu terdiri atas empat macam makan malam. Tenda-tenda itu kini sudah mulai didirikan.


Terpusat di masjid
Tahun ini, Pemerintah Ibu Kota Ankara memusatkan kegiatan Ramadhan di Masjid Haji Bayram. Tahun lalu, Taman Pemuda atau Genclik Park dijadikan pusat kegiatan Ramadhan. Masjid Haji Bayram maupun Taman Genclik Park masih dalam satu wilayah, yaitu Ulus. Jarak antara keduanya hanya sekitar satu kilometer.


Masjid Haji Bayram yang didirikan pada 1427 M/831H diresmikan pembaruannya oleh Perdana Menteri Turki Recep Tayip Erdogan pada 14 Februari 2011, bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Halaman masjid yang luas itu sudah dibangun stan-stan yang akan menjual buku-buku dan barang lainnya.


Selain itu, di sekitar masjid juga ada didirikan panggung yang akan diisi oleh para musisi, seperti Sami Yusuf, Ahmet Ozan, serta pelantun musikmusik sufi selama 25 hari di bulan Ramadhan. Bukan hanya itu, di area pusat Ramadhan itu juga dilengkapi dengan berbagai hiburan untuk anak-anak. Sementara itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ankara juga telah menyiapkan beragam acara memeriahkan Ramadhan tahun ini untuk masyarakat Indonesia yang akan dilaksanakan di wisma KBRI. Acara seperti ini merupakan program baru di KBRI Ankara.


Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki Nahari Agustini mengatakan, setiap Sabtu, selama Ramadhan, KBRI akan mengadakan buka bersama, pengajian, dan Tarawih di wisma KBRI.
ed: khoirul azwar


Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/99/140084/Masjid_Haji_Bayram_Pusat_Ramadhan_di_Turki