Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Senin, 26 Agustus 2024

Orang yang tidak mau apa-apa, tidak akan dapat apa-apa, maka ia tidak bisa apa-apa, dan akhirnya tidak akan jadi apa-apa.



Orang yang tidak memiliki keinginan atau ambisi dalam hidup, tidak akan mendapatkan apa-apa. Mereka yang tidak berani bermimpi atau mengambil langkah untuk mencapai sesuatu, pada akhirnya akan terjebak dalam keterbatasan diri mereka sendiri. Tanpa keinginan, seseorang tidak akan memiliki dorongan untuk bertindak atau belajar. Tanpa tindakan, mereka tidak akan pernah mengembangkan keterampilan atau kemampuan. Dan tanpa kemampuan, mereka tidak akan pernah mencapai sesuatu yang berarti dalam hidup.

Keberhasilan tidak datang dengan sendirinya; ia memerlukan usaha, tekad, dan keyakinan bahwa apa yang kita inginkan dapat dicapai. Namun, ketika seseorang memilih untuk tidak menginginkan apa pun, mereka secara otomatis menutup pintu terhadap semua kemungkinan. Hidup mereka menjadi stagnan, terhenti di satu titik tanpa perkembangan atau pencapaian. Mereka mungkin akan merasa nyaman dalam zona aman, tetapi kenyamanan ini hanya sementara dan sering kali berujung pada penyesalan.

Lebih dari itu, tanpa keinginan atau tujuan, seseorang kehilangan arah dalam hidup. Mereka tidak memiliki sesuatu untuk dikejar, tidak ada alasan untuk berkembang, dan akhirnya mereka hanya mengapung di arus kehidupan tanpa arah yang jelas. Dan ketika hari-hari berlalu tanpa perubahan atau pertumbuhan, mereka akan menyadari bahwa mereka telah kehilangan banyak peluang.

Pada akhirnya, orang yang tidak mau apa-apa tidak akan menjadi apa-apa. Mereka tidak akan dikenal karena prestasi mereka, karena tidak ada yang mereka perjuangkan. Mereka tidak akan meninggalkan warisan atau dampak yang berarti, karena mereka tidak pernah mengambil langkah untuk membuat perbedaan. Hidup mereka mungkin tenang, tetapi tidak penuh; mereka mungkin tidak menghadapi banyak kegagalan, tetapi juga tidak pernah merasakan manisnya kesuksesan.

Maka dari itu, penting bagi setiap orang untuk memiliki keinginan, untuk bermimpi, dan untuk berusaha mewujudkannya. Keinginan adalah api yang menggerakkan kita menuju tujuan, dan dengan usaha serta ketekunan, kita dapat meraih apa yang kita inginkan, mengembangkan diri menjadi lebih baik, dan pada akhirnya, menjadi seseorang yang berarti.

Ini adalah penafsiran dari apa yang disampaikan Almarhum Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA "Orang yang tidak mau apa-apa, tidak akan dapat apa-apa, maka ia tidak bisa apa-apa, dan akhirnya tidak akan jadi apa-apa."

Sabtu, 24 Agustus 2024

Kopi Pahit di Wailela

Di pinggir pantai Wailela, sebuah kafe kecil berdiri dengan tenang. Suara ombak yang bergulung-gulung menjadi latar belakang yang sempurna untuk sebuah pertemuan yang telah lama dinanti. Beta duduk di sudut kafe, menatap secangkir kopi pahit di depannya yang sudah mulai mendingin. Di luar jendela, matahari perlahan-lahan tenggelam, mewarnai langit dengan semburat jingga yang indah.

Beta telah menunggu Aprilia, perempuan yang selalu hadir di pikirannya sejak pertemuan pertama mereka. Hari ini seharusnya menjadi hari istimewa—hari di mana mereka akan bertemu kembali setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu. Namun, waktu terus berjalan, dan Aprilia belum juga datang.

Secangkir kopi yang semula hangat kini telah dingin. Beta menatap cangkir itu dengan perasaan campur aduk. Kopi pahit ini menjadi lambang dari harapan yang perlahan-lahan mulai memudar, seiring detik yang terus berdetak. Di setiap suara gesekan pintu kafe yang terbuka, Beta selalu berharap melihat Aprilia masuk dengan senyuman hangatnya, namun harapan itu pupus setiap kali melihat bahwa itu hanya pengunjung lain.

"Apakah dia akan datang?" pikir Beta. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, seperti ombak yang tak pernah berhenti menerpa pantai. Semua kenangan bersama Aprilia kembali membanjiri pikirannya—senyumnya, tawa ringannya, cara bicaranya yang selalu tenang namun penuh makna. Beta merindukan semua itu, dan hari ini seharusnya menjadi momen di mana semua kenangan itu bisa kembali hidup.

Namun, hari semakin gelap, dan kafe mulai sepi. Satu per satu pengunjung pergi, meninggalkan Beta sendiri dengan secangkir kopi yang semakin dingin. Beta menghela napas, lalu menyesap kopi itu. Rasanya pahit, tidak lagi menyisakan kehangatan yang bisa menghibur hati. Sama seperti hatinya yang mulai merasa kosong.

Mungkin Aprilia memang tidak akan datang. Mungkin ada sesuatu yang menghalanginya, atau mungkin dia telah melupakan janji mereka. Beta menatap laut yang tenang, mencari ketenangan di balik ketidakpastian ini. 

Waktu terus berlalu, dan akhirnya Beta memutuskan untuk berdiri. Ia meninggalkan beberapa lembar uang di meja, lalu berjalan keluar dari kafe. Langit kini berwarna biru gelap, hanya diterangi oleh bintang-bintang yang mulai bermunculan. Dengan langkah yang perlahan, Beta meninggalkan kafe pinggir pantai itu, dengan hati yang sedikit lebih berat dari sebelumnya.

Namun di dalam hati kecilnya, Beta masih menyimpan harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, di tempat yang berbeda atau waktu yang lain, mereka akan bertemu kembali. Dan mungkin saat itu, kopi yang dinikmati tidak akan lagi menjadi dingin.

Sabtu, 17 Agustus 2024

Lelaki Berbaju Hitam di Kampus Inha University



Di kampus Inha University, Incheon, ada seorang lelaki yang dikenal dengan penampilannya yang mencolok. Namanya adalah Joon-suk, dan ia selalu terlihat dengan baju hitam, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dari jauh, ia tampak seperti sosok misterius yang sulit didekati, seakan-akan ia membatasi jarak antara dirinya dan orang lain dengan aura dingin yang mengelilinginya.

Joon-suk dikenal sebagai mahasiswa yang sangat cerdas dan berbakat, tetapi juga terkenal karena sifatnya yang sulit ditaklukkan. Ia jarang berbicara, jarang tersenyum, dan sering kali mengabaikan keberadaan orang-orang di sekelilingnya. Banyak yang bertanya-tanya tentang alasan di balik sikapnya yang misterius itu, tetapi tidak ada yang berhasil menguak rahasianya.

Segalanya berubah ketika Merve, seorang mahasiswi asal Turki, tiba di kampus Inha University untuk program pertukaran pelajar. Merve adalah sosok yang ceria, penuh semangat, dan selalu tersenyum pada setiap kesempatan. Keduanya bertemu untuk pertama kalinya di ruang perpustakaan saat Merve kebingungan mencari buku referensi untuk tugasnya.

“Apakah kamu bisa membantuku mencari buku ini?” tanya Merve dengan aksen Turki yang kental, sambil menunjukkan daftar buku di tangannya.

Joon-suk yang kebetulan berada di dekat rak buku, menoleh sejenak. Ia melihat ekspresi frustasi Merve dan tanpa berkata sepatah kata pun, ia berdiri dan mengambil buku yang dicari Merve dari rak.

Merve sangat berterima kasih. “Terima kasih banyak! Aku benar-benar tidak tahu harus mencari ke mana.”

Joon-suk hanya mengangguk dan kembali ke mejanya. Namun, Merve merasa ada sesuatu yang berbeda tentang lelaki itu dan penasaran. Ia tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang lebih.

Hari demi hari, Merve terus berusaha untuk mengenal Joon-suk. Ia sering kali mencoba mengajaknya berbicara, membawakan makanan khas Turki, atau sekadar menyapa. Joon-suk awalnya tetap menjaga jarak, tetapi perlahan-lahan ia mulai merespons sapaan Merve dengan sedikit senyum.

Suatu sore, saat hujan turun deras di luar, Merve terlihat kedinginan di halte bus. Joon-suk kebetulan lewat dan melihatnya. Tanpa berpikir panjang, ia menghampiri Merve dan menawarkan payungnya.

“Kenapa kamu masih di sini? Bus bisa datang kapan saja,” ujar Joon-suk dengan nada lembut yang jarang terdengar dari mulutnya.

Merve menatapnya dengan kejutan dan rasa terima kasih. “Aku hanya menunggu bus berikutnya. Terima kasih banyak.”

Hari-hari berikutnya, Joon-suk mulai lebih terbuka. Ia mulai membantu Merve dengan tugas-tugasnya, dan perlahan-lahan, Merve melihat perubahan yang signifikan dalam diri Joon-suk. Ia tidak lagi terlihat dingin dan tertutup; sebaliknya, Joon-suk menjadi lebih hangat dan peduli.

Suatu malam, saat mereka duduk bersama di kafe kampus setelah menghadiri acara budaya Turki yang Merve selenggarakan, Joon-suk membuka percakapan dengan lebih mendalam.

“Merve, aku ingin berterima kasih. Kamu telah mengubah banyak hal dalam hidupku,” katanya sambil memandang mata Merve yang penuh rasa ingin tahu.

Merve tersenyum. “Aku hanya menjadi diriku sendiri. Aku senang bisa membantu.”

Joon-suk mengangguk. “Aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupku sebelum kamu datang. Sekarang aku merasa lebih baik. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk berubah.”

Merve hanya bisa tersenyum bahagia, melihat lelaki berbaju hitam yang dulu dingin dan sulit didekati kini telah berubah menjadi seseorang yang penuh perhatian dan peduli. Mereka terus berinteraksi dan menjalin persahabatan yang mendalam, dan Joon-suk menemukan bahwa cinta dan perhatian Merve telah membuka hatinya, menjadikannya pribadi yang lebih baik dan lebih bahagia.

Pertemuan Tak Terduga di Masjid Itaewon Seoul



Misbah menghela napas panjang ketika ia melangkah keluar dari stasiun kereta bawah tanah Itaewon. Udara musim gugur Seoul yang sejuk menyapu wajahnya, membawa aroma dedaunan yang mulai berguguran. Ia baru saja menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya dan merasa perlu menenangkan pikiran. Masjid Itaewon, tempat yang sering ia kunjungi sejak tiba di Korea untuk program pertukaran pelajar, adalah tujuan utamanya hari itu. Di sana, ia selalu merasa damai, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota yang sibuk.

Masjid Itaewon tidak pernah sepi dari pengunjung. Sebagai satu-satunya masjid besar di Seoul, tempat ini menjadi pusat bagi komunitas Muslim dari berbagai negara yang tinggal di Korea. Misbah menyukai keberagaman itu, karena selalu mengingatkannya pada rumahnya di Indonesia, di mana perbedaan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ketika Misbah memasuki area wudhu, ia tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hari-harinya ke depan. Di sudut ruangan, seorang wanita muda berkerudung sedang membasuh tangannya dengan air dingin. Matanya yang sipit dan kulitnya yang pucat menunjukkan bahwa ia adalah orang Korea, tetapi kerudung yang dikenakannya mengundang tanya di benak Misbah.

Setelah selesai berwudhu, Misbah dan wanita itu secara bersamaan menuju ruang shalat. Mereka saling bertukar senyum singkat sebelum keduanya tenggelam dalam kekhusyukan ibadah. Usai shalat, mereka saling menatap sejenak, dan Misbah memutuskan untuk menyapa lebih dulu.

“Assalamu’alaikum,” sapa Misbah dengan senyum hangat.

“Wa’alaikumsalam,” jawab wanita itu dengan sedikit ragu, tetapi tetap tersenyum. 

“Apakah kamu orang Korea?” tanya Misbah dengan nada ramah.

Wanita itu mengangguk pelan. “Ya, namaku Jiyun. Aku baru saja menjadi mualaf beberapa bulan yang lalu,” katanya dalam bahasa Inggris dengan aksen Korea yang kental.

Misbah merasa kagum sekaligus penasaran. “Namaku Misbah. Aku dari Indonesia, dan sedang belajar di sini selama satu semester. Senang bertemu denganmu, Jiyun.”

“Senang bertemu denganmu juga, Misbah,” jawab Jiyun. “Aku selalu senang bertemu dengan sesama Muslim di sini. Rasanya seperti menemukan keluarga di tempat yang jauh.”

Mereka melanjutkan percakapan sambil berjalan keluar dari masjid. Misbah merasakan ketulusan dalam setiap kata yang diucapkan Jiyun. Ketika mereka sampai di luar, perut Misbah tiba-tiba berbunyi, membuat Jiyun tertawa kecil.

“Kau lapar, Misbah?” tanya Jiyun sambil tersenyum. “Ada rumah makan Turki di dekat sini yang menyajikan kebab terbaik. Mungkin kita bisa makan bersama?”

Misbah tidak bisa menolak tawaran itu. “Kedengarannya enak. Ayo!”

Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan Itaewon yang ramai, hingga akhirnya tiba di sebuah rumah makan Turki yang sederhana namun nyaman. Aroma kebab yang menggiurkan langsung menyambut mereka ketika pintu rumah makan dibuka. Mereka duduk di meja di dekat jendela, memesan kebab, dan melanjutkan percakapan mereka yang sebelumnya tertunda.

Jiyun bercerita tentang perjalanannya menemukan Islam, tentang bagaimana ia merasa kosong meskipun memiliki segala yang ia butuhkan di dunia ini. Hingga suatu hari, ia menemukan sebuah buku tentang Islam di perpustakaan universitasnya, yang kemudian mengubah hidupnya selamanya. “Aku menemukan kedamaian yang selama ini kucari,” kata Jiyun dengan mata berbinar.

Misbah mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia merasa kagum pada keberanian Jiyun untuk mencari kebenaran dan mengikuti hatinya, meski harus menghadapi banyak tantangan di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.

Malam itu, kebab yang mereka makan terasa lebih nikmat karena disertai dengan percakapan yang mendalam dan penuh makna. Misbah merasa ada sesuatu yang istimewa dalam pertemuan tak terduga ini. Mungkin, itu adalah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—perasaan cinta yang tumbuh dari hati yang saling memahami.

Hari-hari berikutnya, Misbah dan Jiyun semakin sering bertemu. Mereka tidak hanya menjadi teman baik, tetapi juga menemukan kenyamanan satu sama lain dalam menghadapi kehidupan di negeri orang. Mereka saling mendukung dalam menjalani ibadah, belajar, dan berbagi cerita.

Hingga suatu hari, di masjid yang sama tempat mereka pertama kali bertemu, Misbah memberanikan diri mengungkapkan perasaannya kepada Jiyun. “Jiyun, pertemuan kita di sini bukanlah suatu kebetulan. Aku merasa ada sesuatu yang lebih dalam antara kita. Aku mencintaimu, dan aku ingin kita terus bersama, bukan hanya sebagai teman, tetapi lebih dari itu.”

Jiyun terdiam sejenak, namun senyum lembutnya kemudian muncul di wajahnya. “Misbah, aku juga merasakan hal yang sama. Aku bahagia kita dipertemukan di sini, dan aku berharap kita bisa bersama-sama menjalani hidup ini dalam cinta dan iman.”

Dengan restu dari keluarga dan sahabat, Misbah dan Jiyun akhirnya menikah dalam sebuah upacara sederhana di Masjid Itaewon, tempat yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka. Cinta mereka, yang dimulai dari pertemuan tak terduga di sebuah masjid di negeri asing, kini tumbuh semakin kuat, berakar dalam iman yang mereka bagikan, dan berkembang dalam kasih sayang yang tulus.

Begitulah, pertemuan tak terduga di Masjid Itaewon mengubah hidup Misbah dan Jiyun selamanya, menjadi kisah cinta yang indah antara dua hati yang dipertemukan oleh takdir, di bawah naungan cinta Ilahi.

Kisah Kasih antara Tokyo dan Ibaraki


Alya menatap keluar jendela kereta yang melaju cepat dari Tokyo menuju Ibaraki. Pemandangan kota yang padat perlahan berganti dengan hamparan sawah hijau dan perbukitan yang menenangkan. Perjalanan ini sudah menjadi rutinitas baginya, setiap akhir pekan ia selalu meluangkan waktu untuk berkunjung ke Ibaraki, bukan hanya untuk menenangkan diri dari hiruk-pikuk Tokyo, tetapi juga karena alasan yang lebih dalam—Ken.

Alya adalah seorang mahasiswi Indonesia yang sedang menempuh studi di Universitas Keio, salah satu universitas bergengsi di Tokyo. Awalnya, ia merasa canggung dan kesepian di negeri yang begitu jauh dari rumah, namun pertemuannya dengan Ken, seorang pemuda Jepang yang penuh kehangatan dan perhatian, mengubah segalanya. Mereka bertemu di sebuah seminar budaya yang diadakan oleh kampus, dan sejak itu, hubungan mereka tumbuh semakin dekat.

Ken adalah seorang arsitek muda yang tinggal di Ibaraki. Ia memiliki ketertarikan mendalam terhadap budaya dan bahasa Indonesia, yang membuatnya sering bertukar pikiran dengan Alya. Dari pertemuan yang sederhana di sebuah acara kampus, mereka mulai sering bertemu, berbicara tentang banyak hal—mulai dari seni, budaya, hingga kehidupan sehari-hari. Ketulusan Ken dalam mendengarkan dan memperhatikan membuat Alya jatuh hati. Namun, ada satu hal yang selalu menghantui pikirannya, yakni perbedaan keyakinan mereka.

Suatu hari, di tengah perjalanan mereka mengunjungi sebuah galeri seni di Tokyo, Ken mengungkapkan sesuatu yang membuat jantung Alya berdegup kencang. “Alya, aku selalu penasaran dengan keyakinanmu, dengan Islam. Aku ingin belajar lebih banyak, bukan hanya karena kamu, tapi karena aku merasa ada sesuatu yang memanggilku.”

Alya terkejut, namun juga merasa terharu. Ia tak pernah memaksa Ken untuk berubah, tetapi mendengar niat Ken yang tulus untuk memahami Islam membuatnya merasa lega. Mereka mulai berdiskusi lebih dalam tentang agama, dan Alya sering mengajak Ken ke Masjid At Taqwa di Ibaraki, satu-satunya masjid di daerah itu yang sering ia kunjungi saat merasa rindu dengan suasana keislaman.

Masjid At Taqwa di Ibaraki menjadi saksi perjalanan spiritual Ken. Setiap kali mereka berkunjung, Ken akan duduk di pojok, mendengarkan khotbah, dan sesekali bertanya pada imam masjid tentang hal-hal yang belum ia pahami. Perlahan, Ken mulai mengerti dan merasakan kedamaian dalam Islam. Alya melihat perubahan dalam diri Ken, dari seorang pemuda yang penasaran menjadi seseorang yang benar-benar ingin menemukan jalan hidup yang baru.

Akhirnya, pada suatu hari yang cerah, di hadapan para jamaah dan Alya yang berdiri di sampingnya, Ken mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid At Taqwa. “Ashhadu an la ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadan rasulullah,” suaranya tenang dan penuh keyakinan.

Alya tak bisa menahan air mata kebahagiaannya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa ini adalah keputusan besar yang diambil Ken bukan karena cinta padanya semata, tetapi karena cinta pada kebenaran yang ia temukan dalam Islam.

Setelah prosesi tersebut, Ken dan Alya berjalan keluar masjid bersama, angin sepoi-sepoi Ibaraki menyambut mereka. “Terima kasih, Alya, karena telah membimbingku. Bukan hanya pada jalan Islam, tetapi juga dalam hidupku,” kata Ken sambil menggenggam tangan Alya.

“Ini semua adalah kehendak-Nya, Ken. Aku hanya menjadi jalan bagi pencarianmu,” jawab Alya dengan senyum yang menenangkan.

Hubungan mereka semakin erat, kini bukan hanya diikat oleh cinta yang mendalam, tetapi juga oleh keyakinan yang sama. Setiap perjalanan mereka dari Tokyo ke Ibaraki dan sebaliknya selalu diisi dengan perbincangan hangat, bukan hanya tentang kehidupan dan cinta, tetapi juga tentang iman yang kini mereka bagikan.

Kisah kasih antara Tokyo dan Ibaraki ini bukan hanya tentang dua hati yang bertemu, tetapi juga tentang perjalanan menemukan kebenaran, tentang bagaimana cinta dan keyakinan dapat berjalan seiring, dan bagaimana seorang pemuda Jepang bernama Ken menemukan kedamaian dalam Islam di bawah bimbingan lembut seorang mahasiswi Indonesia di Universitas Keio.

Titimangsa di Kafe Ulus Ankara


Winda duduk di sudut kafe kecil di Ulus, Ankara, mengaduk kopinya yang sudah dingin. Kafe ini adalah tempat favoritnya, tempat di mana dia sering merenung, menulis, dan melarikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Namun, hari ini pikirannya tak bisa tenang. Hisam, pria yang akhir-akhir ini mendekatinya dengan perhatian tulus, terus muncul di benaknya. Namun, bersama dengan bayangannya, muncul sosok lain—Khedira.

Khedira adalah bagian dari masa lalu Winda, bagian yang belum sepenuhnya selesai. Mereka pernah berbagi cinta yang begitu dalam, namun waktu dan jarak memisahkan mereka. Hubungan mereka berakhir tanpa kata-kata, hanya menyisakan perasaan yang menggantung dan pertanyaan yang tak terjawab.

Hisam, di sisi lain, hadir dengan segala kebaikannya. Dia membawa kehangatan dan kenyamanan yang membuat Winda merasa aman. Tapi setiap kali Winda mulai membiarkan dirinya jatuh hati pada Hisam, bayangan Khedira kembali mengganggu pikirannya. Apakah dia benar-benar siap melupakan masa lalu dan membuka hati untuk seseorang yang baru?

Suatu malam, Winda bermimpi tentang Khedira. Dalam mimpinya, mereka duduk berdua di kafe yang sama, membicarakan hal-hal kecil seperti dulu. Khedira tersenyum padanya, senyum yang selalu membuat hatinya berdebar. Ketika Winda terbangun, perasaan rindu yang tak tertahankan menguasai dirinya. Dia tahu, mimpi itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah tanda bahwa kisah mereka belum benar-benar usai.

Pagi itu, Winda memutuskan untuk pergi ke kafe di Ulus. Mungkin dia hanya ingin mencari ketenangan, atau mungkin dia berharap menemukan jawaban atas kebingungannya. Ketika dia tiba di sana, suasana kafe sama seperti biasanya—tenang dan hangat. Namun, saat dia masuk, jantungnya hampir berhenti.

Di sudut kafe, di meja yang biasa dia duduki, ada Khedira. Dia terlihat seperti yang Winda ingat—tenang, dengan senyum yang membuat segala kekhawatirannya lenyap. Winda berdiri membeku, tak percaya bahwa sosok yang selama ini hanya hadir dalam mimpinya kini benar-benar ada di hadapannya.

“Khedira?” suara Winda terdengar pelan, hampir berbisik.

Khedira menoleh, dan saat mata mereka bertemu, Winda merasakan semua perasaan lama kembali. “Winda,” jawab Khedira dengan lembut, seolah waktu tak pernah memisahkan mereka.

Mereka duduk bersama, dan untuk beberapa saat, tak ada kata yang terucap. Keheningan itu tidak canggung, tapi penuh dengan makna yang hanya mereka berdua yang mengerti.

“Aku sering datang ke sini, berharap bisa melihatmu lagi,” kata Khedira akhirnya, memecah keheningan. “Tapi aku tak pernah berani menghubungimu. Aku takut kau sudah melupakanku.”

Winda menatap kopinya, mencoba menyusun kata-kata. “Aku tidak pernah melupakanmu, Khedira. Tapi hidup terus berjalan. Ada Hisam yang sekarang mengisi hariku.”

Khedira tersenyum, meski ada kesedihan di matanya. “Aku mengerti. Aku hanya ingin tahu, apakah kita masih punya kesempatan?”

Winda terdiam. Pertanyaan itu adalah yang paling ditakutinya. Dia tahu bahwa di lubuk hatinya, perasaannya pada Khedira masih ada. Namun, ada Hisam, yang juga pantas mendapatkan kesempatan. Winda harus memilih antara masa lalu yang belum selesai dan masa depan yang menunggu.

“Waktu tak bisa diulang, Khedira,” jawab Winda akhirnya. “Apa yang kita miliki adalah kenangan yang indah, tapi aku tak bisa terus hidup di masa lalu. Hisam mungkin adalah kesempatan baru yang harus aku ambil.”

Khedira mengangguk pelan, menerima kenyataan yang pahit itu. “Aku hanya ingin kau bahagia, Winda. Apa pun pilihanmu, aku akan selalu menghargainya.”

Dengan kata-kata itu, Khedira berdiri, memberikan senyum terakhir sebelum pergi meninggalkan kafe. Winda menatapnya hingga bayangannya menghilang di balik pintu. Air mata mengalir di pipinya, tapi hatinya lebih ringan. Dia tahu, pertemuan ini adalah cara semesta untuk menutup bab lama dan membiarkannya membuka yang baru.

Winda menghirup napas dalam-dalam, merasakan kesegaran pagi Ankara. Kini, dia siap untuk melangkah maju, memberikan hatinya kepada Hisam, dengan perasaan lega bahwa kisahnya dengan Khedira telah menemukan akhirnya.

Cinta di Bawah Langit Kapadokya



Amira duduk di bangku taman kampus Erciyes University, menatap pemandangan Gunung Erciyes yang megah di kejauhan. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Turki, dia selalu terpesona oleh keindahan alamnya. Namun, ada satu hal yang lebih memikat hatinya—Mehmet.

Mehmet adalah mahasiswa asal Turki yang ramah dan cerdas, selalu siap membantu Amira ketika dia mengalami kesulitan dengan bahasa Turki atau materi kuliah. Persahabatan mereka tumbuh dengan cepat, namun ada sesuatu yang lebih dalam yang Amira rasakan setiap kali berada di dekat Mehmet.

Namun, hubungan mereka berjalan tanpa status. Keduanya saling peduli, saling menjaga, namun tidak ada kata yang pernah terucap tentang apa yang mereka rasakan. Amira sering bertanya-tanya, apakah Mehmet merasakan hal yang sama? Atau apakah dia hanya seorang sahabat bagi lelaki itu?

Suatu hari, Mehmet mengajak Amira untuk mengunjungi Kapadokya, tempat yang terkenal dengan balon udaranya yang indah dan formasi batuan yang menakjubkan. Mereka pergi pada akhir pekan, menikmati perjalanan panjang melalui jalan berliku yang dihiasi pemandangan yang memesona.

Setibanya di Kapadokya, Mehmet mengajak Amira untuk naik balon udara di pagi hari. Saat matahari terbit, mereka terbang di atas lembah-lembah yang dipenuhi cerobong peri yang legendaris. Udara dingin pagi hari terasa sejuk di kulit, namun hati Amira hangat oleh kehadiran Mehmet di sampingnya.

Di tengah-tengah penerbangan, Mehmet memecah keheningan. “Amira,” katanya pelan, suaranya terdengar lembut di tengah deru angin, “aku sudah lama ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Amira menoleh, jantungnya berdebar kencang. “Apa itu, Mehmet?”

“Aku…,” Mehmet terdiam sejenak, menatap ke arah matahari yang perlahan muncul di ufuk timur. “Aku menyayangimu, lebih dari sekadar teman. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku ingin kita lebih dari sekadar sahabat.”

Amira terkejut, namun hatinya terasa ringan. Ternyata, perasaan yang selama ini ia simpan dalam hati juga dirasakan oleh Mehmet. “Mehmet,” jawab Amira lembut, “aku juga menyayangimu. Aku selalu takut mengungkapkannya karena aku tidak ingin merusak persahabatan kita.”

Mehmet tersenyum, senyum yang hangat dan penuh rasa lega. “Maka kita tidak perlu takut lagi, Amira. Kita bisa memulai sesuatu yang lebih, sesuatu yang indah.”

Di bawah langit Kapadokya yang dipenuhi warna-warna matahari terbit, Amira dan Mehmet saling memandang dengan penuh cinta. Hubungan yang tanpa status itu kini menemukan arah yang jelas, memadu kasih dalam hangatnya cinta yang tulus. Mereka menyadari bahwa takdir telah membawa mereka bersama, bukan hanya sebagai sahabat, tetapi juga sebagai pasangan yang saling melengkapi. 

Mereka kembali ke Erciyes University dengan hati yang penuh kebahagiaan, siap untuk menulis babak baru dalam kisah cinta mereka di negeri yang penuh keajaiban.

Selasa, 13 Agustus 2024

Di Bawah Bayang Bayang Mevlana

Najwa berdiri di depan makam Mevlana Jalaluddin Rumi di Konya, Turki. Kota ini selalu membawa ketenangan dalam hatinya, seolah-olah setiap sudutnya dipenuhi dengan doa dan puisi. Tapi hari ini, ia merasa hatinya tak tenang. Ada sebuah harapan yang begitu kuat mengguncang relung hatinya, harapan untuk menaklukkan hati seorang lelaki yang telah lama mengisi mimpinya—Ahmet. 

Ahmet adalah pria yang penuh dengan misteri. Ia selalu tersenyum dengan cara yang menenangkan, namun di balik senyumnya, Najwa merasa ada tembok tinggi yang sulit ditembus. Setiap kali mereka berbincang, Najwa selalu merasakan getaran di hatinya, seolah-olah setiap kata Ahmet adalah bait puisi yang indah. Namun, rasa takut akan penolakan selalu menghantuinya. 

Di tengah kesibukannya mempelajari literatur Turki, Najwa kerap memikirkan cara untuk bisa lebih dekat dengan Ahmet. Ia tahu Ahmet sering mengunjungi tempat-tempat suci di Konya, mencari kedamaian dan inspirasi. Itulah sebabnya hari ini, ia memberanikan diri untuk mengikuti jejak Ahmet, berharap bisa memahami lebih dalam apa yang membuat pria itu begitu mempesona. 

Saat Najwa melangkah masuk ke dalam kompleks makam Mevlana, ia merasa hatinya sedikit lebih tenang. Tempat ini begitu sunyi, namun penuh dengan kehidupan dalam setiap bisikan angin dan aroma dupa yang menguar. Najwa duduk di salah satu bangku, matanya tertuju pada nisan yang terukir indah, sambil berdoa dalam hati. 

Tak lama kemudian, ia melihat sosok yang dikenalnya berjalan perlahan menuju tempat yang sama. Ahmet. Dengan sikap penuh hormat, Ahmet berdiri di depan makam, menundukkan kepala, dan berdoa. Najwa memperhatikannya dari kejauhan, mengagumi keseriusan dan kelembutan hati pria itu. 

"Ahmet," panggil Najwa dengan suara pelan setelah Ahmet selesai berdoa. Ia memberanikan diri untuk mendekat, meskipun hatinya berdebar-debar. Ahmet tersenyum ketika melihat Najwa. "Najwa, apa yang membawamu ke sini?" "Keindahan tempat ini," jawab Najwa sambil tersenyum. "Dan… mungkin juga ingin mencari jawaban atas sesuatu." 

Ahmet menatapnya, seolah-olah memahami bahwa ada lebih banyak yang ingin disampaikan oleh Najwa. "Kau selalu mencari jawaban, Najwa. Itulah yang membuatmu berbeda." Najwa tertawa pelan. 
"Dan mungkin itulah yang membuatmu sulit untuk didekati." Ahmet tersenyum simpul, seakan menyadari ke mana arah percakapan ini. 

"Mungkin. Tapi setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menjaga hatinya." Najwa mengangguk pelan. "Dan aku ingin tahu, bagaimana caramu menjaga hatimu?" 

Ahmet terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan tenang, "Dengan sabar, Najwa. Dengan memberi waktu untuk memahami perasaan, baik itu cinta maupun ketakutan." 

 Najwa merasakan harapan tumbuh di hatinya. Mungkin ini bukanlah jawaban yang pasti, tapi setidaknya ia tahu bahwa Ahmet juga memiliki perasaan yang sama. Mereka kemudian duduk bersama, berbincang tentang kehidupan, mimpi, dan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka. 

Di bawah bayang-bayang Mevlana, Najwa menemukan kekuatan untuk tetap berharap. Ia tahu, jalan untuk menaklukkan hati Ahmet mungkin panjang dan penuh dengan liku, tetapi dengan ketulusan dan kesabaran, ia yakin suatu hari Ahmet akan membuka hatinya sepenuhnya untuknya. 

Dan pada saat itu, mereka akan berjalan bersama, melangkah menuju masa depan yang penuh dengan puisi cinta yang indah.

Senin, 15 Juli 2024

Selalu Istimewa Bertemu Mereka

 


Kembali saya menulis lepas setelah sekian lama tak menulis yang seperti ini. Adalah sebuah keistimewaan bertemu dengan teman teman lama, yang ini adalah alumni Ankara, ada yang Universitas Ankara, ada Universitas Hacettepe, ada juga yang Middle East Technical University, Turkiye. 

Pertemuan ini dilakukan karena undangan seorang teman yang baru pulang dari Turki untuk sebuah penelitian, yaitu Baiquni. Baiquni meneliti tentang sejarah, Ia menyelesaikan S1 di UIN Ar-Raniry Aceh, S2 di Ankara University, dan S3 di North Caroline Univerity, Amerika Serikat. Ia merupakan teman dekat saya ketika kuliah di Ankara University, teman sekamar, beda jurusan, saya di Jurnalisme, dan ia di Sejarah. Baiquni saat ini dosen di IAIN Lhoksemawe Aceh.

Kalau Baiquni ke Jakarta, kami para alumni Ankara yang menetap di Jakarta dan sekitarnya selalu menyediakan waktu untuk bertatap muka. Banyak kisah yang terlewat setelah kami lulus dari negeri dua benua tersebut. Selain Baiquni, ada Dicky Rahmat Pauji menuntaskan S3 Bahasa dan Sastra Arab di Ankara University dan kini menjadi dosen di Universitas Nasional di Jakarta, ada Christian Kuswibowo menyelesaikan di Hacettepe University dan sedang mengenyam S3 di IPB kini dosen di Politeknik APP Jakarta, ada juga M. Prabu Wibowo alumni METU Ankara dan Florida State University Amerika Serikat dan sekarang dosen Univesitas Indonesia dan tentu senior kami adalah Buya Faris BQ.

Yang paling kami tunggu-tunggu adalah nasehat dari Buya Faris BQ. Buya Faris ini sangat terkenal dengan dakwah di wilayah urban dengan ImanPath yang ia dirikan. Tentu kami antusias karena untaian kata yang ia hadirkan adalah kata-kata yang ia berikan kepada para audiens di mana ia berdakwah. Dakwahnya begitu menarik untuk warga urban yang haus akan keilmuan Islam.

Buya Faris, menyelesaikan S1 di Universitas Al-Azhar Mesir, S2 di Universitas Indonesia dan melanjutkan S3 di Ankara University, Turkiye. Kata Buya Faris, selain ridha Allah yang dituju,  jangan terlalu serius, dibawa santai saja hidup ini. 

Pembahasan lainnya adalah, menurut Buya Faris, hidup ini akan tenang jika kita sudah atau sedang menuju makrifatullah (mengenal Allah). Ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk makrifatullah, pertama, kholqullah, yaitu melihat ciptaan Allah yang sempurna, maka kita akan terkagum dengan melihatnya. Kedua, af'alullah, kerja-kerja Allah yang luar biasa, bagaimana manusia diciptakan, langit ditahan untuk tidak runtuh, lautan ditahan untuk tidak tsunami, dll. Ketiga, kalamullah yaitu Al-Qur'an, yang menjadi rujukan kita semua, yang nilainya tidak terkira.

Selasa, 27 Februari 2024

Paras Politik Identitas dan Populisme Jepang Pemilu 2024

 Paras Politik Identitas dan Populisme Jepang Pemilu 2024

Authors
Deden Mauli Darajat, Nuraz Anami
Publication date
2024
Book
Membaca Lanskap Pemilu 2024 Perspektif Literasi Politik
Publisher
Bibliosmia Karya Indonesia
Link: Buku

Bingkai Isu Sampah di Harian Kompas dalam Prespektif Jurnalisme Data

 


Authors
Bismar Reza Araisyia, Helmi Hidayat, Musfiroh Nurlaili, Deden Mauli Darajat
Publication date
2023
Journal
Jurnal Studi Jurnalistik
Volume
5
Issue
2
Publisher
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Description
Kepedulian pada lingkungan hidup, terutama dalam mengelola sampah domestik dan industri di Indonesia, sudah mulai banyak dilakukan, tetapi pengumpulan informasi dan fakta berbasis data oleh media massa tentang isu ini sangat minim. Kompas berupaya merangkum isu ini secara komprehensif dengan berbasis data sekaligus memberikan pendidikan lingkungan hidup kepada pembacanya. Riset ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sampel berita yang menjadi sumber data utama adalah pemberitaan Harian Kompas pada 19 dan 20 Mei 2022. Terdapat tiga isu utama yang dikontruksi Kompas, yaitu besarnya angka pemborosan konsumsi makanan rumah tangga, buruknya kinerja pemerintah dalam mengelola sampah, dan pentingnya data sampah untuk tujuan mengadvokasi kebijakan pemerintah. Meskipun demikian, sebagai bagian dari industri media, Kompas berbagi akses data dan …
Scholar articles
BR Araisyi, H Hidayat, M Nurlaili, DM Darajat - Jurnal Studi Jurnalistik, 2023

Link: PDF

KEPEMIMPINAN KYAI GONTOR DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR

 KEPEMIMPINAN KYAI GONTOR DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR

Authors
Deden Mauli Darajat
Publication date
2023
Journal
Jurnal Manajemen Dakwah
Volume
11
Issue
2
Description
Kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam menjalankan sebuah organisasi. Kepemimpinan yang kuat akan menjadikan organisasi atau lembaganya menjadi lebih baik. Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan lembaga pendidikan berbasis pesantren modern pertama di Indonesia yang lahir pada 1926.
Scholar articles

STRATEGI KOMUNIKASI PUBLIK BAZNAS BAZIS DKI JAKARTA PADA INSTAGRAM @BAZNASBAZISDKIJAKARTA

 STRATEGI KOMUNIKASI PUBLIK BAZNAS BAZIS DKI JAKARTA PADA INSTAGRAM @BAZNASBAZISDKIJAKARTA

Authors
Deden Mauli Darajat, Cinta Rahmi
Publication date
2023
Journal
Jurnal Kommunity Online
Volume
4
Issue
2
Publisher
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Description
This article discusses the public communication strategy carried out by the National Amil Zakat Agency (Baznas) of the DKI Jakarta Province Amil Zakat Infak Alms (Bazis) Agency which is carried out through Instagram media. This study uses a library research research method which is carried out by referring to journal articles, repositories, social media reports and all resources that can be accessed online with a qualitative descriptive design approach. The findings in this study are that the Public Communication strategy on Instagram carried out by Baznas Bazis DKI Jakarta is firstly Instagram as an effective medium, second, messages from figures, third, showing current trends, fourth, approach for singles, fifth, Friday blessing campaign., sixth, weekend entertainment, seventh, pick-up service, outlets, up to official zakat cash, and eighth, alms to refuse the plague. The communication strategy carried out by Baznas …
Scholar articles

SHIFTING DAKWAH METHODS TO MATCH MEDIA TECHNOLOGY TRANSFORMATION

 SHIFTING DAKWAH METHODS TO MATCH MEDIA TECHNOLOGY TRANSFORMATION

Authors
DM. Murodi, M., Muhtadi, M., Kamarusdiana, K., & Darajat
Publication date
2023
Journal
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman
Volume
18
Issue
1
Publisher
https://ejournal.uinsatu.ac.id/index.php/epis/artic
Description
The advancement of communication technology has sophisticated all aspects of human lives, including Islamic dakwah (preaching) activities, for Muslim communities in Indonesia. As a result, several Islamic organizations in Indonesia try hard to match this advancement by using digital media for their dakwah to reach larger audiences and youth media-savvy generation. This article, by focusing on three Islamic organizations in Indonesia (Nahdlatul Ulama known as NU, Muhammadiyah, and Al Washliyah), addresses the question of how their dakwah activities and strategies respond to advancement of communication technology on a social media platform, YouTube. This study employs digital etnography by collecting the data from YouTube accounts affiliated to the three organizations. By using content analysis for data interpretations, this article finds that each Islamic organization has its own characteristics of virtual dakwah activities and strategies. NU focuses on the teachings of ahlussunnah wal jamaah and religious tolerance, Muhammadiyah emphasizes charity and business, while Al Washliyah aims to strengthen the faith and morals of the society. In addition, their virtual dakwah activities are also in the context of countering transnational Islamic movements that utilize social media for their dakwah.
Scholar articles
M Murodi, M Muhtadi, K Kamarusdiana, DM Darajat - Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, 2023

Link: PDF

Pemaknaan Keislaman di Media Sosial pada Pilpres Republik Indonesia Tahun 2019 Perspektif Meanings and Media

 Pemaknaan Keislaman di Media Sosial pada Pilpres Republik Indonesia Tahun 2019 Perspektif Meanings and Media

Authors
Deden Mauli Darajat
Publication date
2023
Pages
300
Publisher
Penerbit PT Zamzam Global Utama

INDONESIA LAWYERS CLUB (ILC) SCENE COMMUNICATION IN PRODUCTION MEDIA PERSPECTIVE

 INDONESIA LAWYERS CLUB (ILC) SCENE COMMUNICATION IN PRODUCTION MEDIA PERSPECTIVE

Authors
Muhamad Afdoli Ramadoni, Andi M. Faisal Bakti, Deden Mauli Darajat
Publication date
2023
Journal
Jurnal Komunikasi Islam dan Kehumasan (JKPI)
Volume
7
Issue
1
Pages
41-49
Publisher
http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JKPI/article/view/15707/5981
Description
Television media had a big role in carrying out the function of providing entertainment, education and of course providing information directly from the scene of the incident with a level of reality that was more complete, lively, original, natural, and even relatively free from the effects of distortion. As shown by the show, Indonesia Lawyers Club could be said as a show that could provide knowledge and understanding to the public about Indonesian law which was discussed broadly and could be explained from various sides and points of view, which included issues of crime, corruption and also existing legal policies. in Indonesia. Based on the background above, the author drawed a major question, namely how was the Indonesian Lawyers Club's communication broadcast in the perspective of production media? This research discussed the Industry that used Media as Business theory in Gill Branston and Roy Stafford's book. Broadcasting Indonesia Lawyers Club had intrinsic strengths in the form of program quality, recognition in the form of awards and achieving high ratings. The broadcast of Indonesia Lawyers Club was able to create a mutually beneficial relationship between Television and political observers, social observers, lawyers and the general public. This broadcast emphasizes that a media production process could actually succeed in presenting ideal broadcasts with all the parties involved in working together, synergizing and Responsible for their duties during the production process
Scholar articles
MA Ramadoni, AMF Bakti, DM Darajat - Jurnal Komunikasi Islam dan Kehumasan (JKPI), 2023

Link: PDF

Culture and Economic Resilience of “Baduy Tribe” in Indonesia (Scopus)

 Culture and Economic Resilience of “Baduy Tribe” in Indonesia

(Scopus)

Authors
AMALIA, DEDEN MAULI DARAJAT, ISMAWATI HARIBOWO, RIZAL UMAMI AHMAD, ASMU’ I, ABDIL AZIZUL FURQON
Publication date
2023
Journal
WSEAS TRANSACTIONS on ENVIRONMENT and DEVELOPMENT
Publisher
WSEAS TRANSACTIONS on ENVIRONMENT and DEVELOPMENT DOI: 10.37394/232015.2023.19.40

Link: Jurnal PDF

Buku Pedoman Peningkatan Kapasitas Pesantren dalam Penguatan Moderasi Beragama

 Buku Pedoman Peningkatan Kapasitas Pesantren dalam Penguatan Moderasi Beragama

Authors
Deden Mauli Darajat, Mufti Ali, Babay Sujawandi, dkk
Publication date
2023
Publisher
KEMENTERIAN AGAMA RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan

DAKWAH DI ERA DIGITAL: Potret, Pola dan Metode Dakwah Organisasi Sosial Keagamaan di Indonesia

 DAKWAH DI ERA DIGITAL: Potret, Pola dan Metode Dakwah Organisasi Sosial Keagamaan di Indonesia

Authors
Deden Mauli Darajat, Murodi, Muhtadi, Kamarusdiana
Publication date
2023
Publisher
Penerbit KBM Indonesia

Link: Buku

Pesantren and madrasa-based digital literacy practices: The case of the Darunnajah Islamic Boarding School, Jakarta

 Pesantren and madrasa-based digital literacy practices: The case of the Darunnajah Islamic Boarding School, Jakarta

Authors
Deden Mauli Darajat, Iding Rosyidin, Dedi Fahrudin
Publication date
2022/12/31
Journal
Islamic Communication Journal
Volume
7
Issue
2
Pages
257-272
Publisher
Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Description
Islamic boarding schools (pesantren) and madrasas have their own tradition of implementing digital literacy. This article aims to answer how digital literacy is practiced in Darunajah Islamic boarding schools? The method used in this study is a participatory method that involves research subjects in the research process. There are three digital literacy treatments given to subjects, namely content creator training, video making training, and Islamic journalism training. The results show that the students who are the subject of the research have the ability to become content creators, can produce videos, and understand journalistic work. The students carry out these three aspects based on the moral values of the pesantren. In addition, the students have the ability to read and understand digital media. One of the emphasis in digital literacy is on hoax news. As many as 75% of digital literacy participants stated that if they get news, they will check the truth. Uniquely, the santri emphasize the values and traditions of the pesantren in showing literate behavior. Thus, this study can contribute to the development of digital literacy based on Islamic boarding schools' values.
Scholar articles
DM Darajat, I Rosyidin, D Fahrudin - Islamic Communication Journal, 2022

Link: PDF

Praktik Dakwah Digital ImanPath di Era Internet of Things

 Praktik Dakwah Digital ImanPath di Era Internet of Things

Authors
Deden Mauli Darajat, Cinta Rahmi, Fadly Maulana Baihaqy
Publication date
2022
Journal
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan
Volume
26
Issue
2
Pages
207-220
Publisher
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Description
Penelitian ini ingin menjawab pertanyaan bagaimana praktik dakwah digital yang dilakukan oleh ImanPath di Era Internet of Things? Di era Internet of Things ini, segala sesuatu dapat dilakukan dengan menggunakan media Internet, termasuk salah satunya adalah praktik dakwah. Dakwah pada hakikatnya adalah mengajak kepada kebaikan dan melarang keburukan berdasarkan ketentuan agama Islam. Dakwah dalam pandangan ImanPath adalah tentang pengembangan sumber daya manusia muslim dalam konteks kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Untuk memperoleh keabsahan data, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan narasumber yang relevan dengan substansi permasalahan penelitian. Selain itu, dokumentasi dan observasi dilakukan dengan cermat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ImanPath yang secara lengkap bernama ImanPath Human Development and Islamic Urban Partner merupakan lembaga pelatihan life skill dan sekolah urban yang dibentuk dalam upaya mengemas keimanan dan nilai-nilai keislaman bagi muslim perkotaan. ImanPath lahir dari riset panjang beberapa pakar yang masih muda, energik, dan memiliki pemahaman yang mendalam di bidang sosiologi, ilmu keislaman, dan komunikasi digital. ImanPath melakukan kegiatan dakwah dengan menggunakan hampir semua platform media digital. Sehingga kemudian dakwah ImanPath dapat dengan mudah dijangkau oleh khalayak. Dakwah digital saat ini harus menjadi salah satu media dakwah yang efektif yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Scholar articles
DM Darajat, C Rahmi, FM Baihaqy - Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan, 2022


Link: PDF

TV9 SEBAGAI MEDIA ISLAM ASWAJA PERSPEKTIF INTITUTION

 TV9 SEBAGAI MEDIA ISLAM ASWAJA PERSPEKTIF INTITUTION

Authors
Eko Yudi Prasetyo, Deden Mauli Darajat, Muhamad Afdoli Ramadoni
Publication date
2022
Journal
VIRTU: JURNAL KAJIAN KOMUNIKASI, BUDAYA DAN ISLAM
Volume
2
Issue
1
Pages
31-46
Publisher
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Description
Artikel ini ditulis untuk mencoba untuk menjawab pertanyaan, bagaimana TV9 Aswaja sebagai media Islam perspektif Institution? Seperti apa TV9? Sejauhmana TV9 menintegrasikan nilai-nilai Aswaja dalam program dakwahnya? Bagaimana respon masyarakat terhadap program dakwah TV9? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan teori Institusi Media perspektif Gill Branston dan Roy Stafford terhadap TV9 Aswaja. TV9 adalah televisi lokal Surabaya yang berkonsep religi dengan sajian program yang santun dan menyejukkan. TV9 secara umum mempunyai perbedaan dengan stasiun televisi lainnya, di antaranya TV9 tidak ada iklan dalam programnya, karena ia lebih menekankan pada konsep dakwah serta tinjauan Islam yang berdasarkan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sedangkan dengan stasiun televisi sekuler dan lokal lainnya yang lebih fokus pada lifestly kekinian dan komersialitas. TV9 lebih menekankan edifikasi perusahaan, melalui pemberian informasi secara jujur kepada publik, terpecaya serta mempromosikan kebaikan.
Scholar articles
EY Prasetyo - Virtu: Jurnal Kajian Komunikasi, Budaya dan Islam, 2022

PDF: Link

Kamis, 28 Juli 2022

Improving the literacy quality of public communication Covid-19 pandemic madrasah-based educational institutions through digital skills

 Improving the literacy quality of public communication Covid-19 pandemic madrasah-based educational institutions through digital skills

T Hermansah, DM Darajat, M Fanshoby, N Natasari, K Rizky
Jurnal Ilmu Dakwah 42 (1)

Abstract Purpose–This article aims to describe the quality of communication literacy of the Covid-19 pandemic in madrasah-based educational institutions in the City and Regency of Bogor. Method - This study uses qualitative research with a descriptive analysis approach through direct field observations and Focus Group Discussions (FGD). The subjects in the study were six (6) Covid 19 Madrasah Task Forces in the City and District of Bogor. Result - The results of this service activity show that it is necessary to increase the capacity of each Madrasa Covid-19 Task Force through training and assistance and increasing understanding and communication skills so that the public gets a clear, firm, and definite understanding. Implication – the Task Force was then assisted because it was in the context of community development, so the desired process was by the planning. Lastly is monitoring and evaluation so community empowerment activities can be improved if there are still deficiencies. Originality-This research is based on improving the communication literacy quality of the Covid-19 pandemic 19 madrasa-based educational institutions through visual products to be strategic and important.

Unduh: PDF