Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Sabtu, 31 Juli 2021

Buku: Homeschooling: Menakar Ketahanan dan Kerentanan

Klik untuk download Buku Homeschooling: Menakar Ketahanan dan Kerentanan, Penerbit: Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta

Klik untuk download Buku:

PDF

Jumat, 24 April 2020

MENGAPA HARUS TAKWA? (1)


Oleh: Deden Mauli Darajat


Membaca ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan kita akan berhenti di akhir ayat dengan kata: takwa. Lengkapnya begini, kata Allah, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, QS. Al-Baqarah (2:183). Pertanyaannya adalah mengapa harus takwa?

Beberapa ayat yang saya temui (ini mungkin bisa lebih banyak lagi), ternyata ayat-ayat tentang takwa itu hampir menjadi kata kunci dari berbagai pekerjaan dan kegiatan kita sebagai manusia.

Yang pertama, misalnya, tentang pakaian. Allah berfirman dalam QS Al-Araf (7:26). Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Ayat ini menjelaskan bahwa pakaian ini penting sebagai penutup aurat dan sebagai identitas. Pakaian terbaik adalah takwa.

Yang kedua, tentang perbekalan. Hidup yang kita alami dan yang akan kita jalani, harus memiliki perbekalan. Misalnya, di tengah wabah Covid-19 ini, yang beberapa barang sudah langka dan bahan pokok merangkak naik harganya, mau tidak mau kita harus punya bekal. Ayat yang satu ini sebenarnya tentang perbekalan haji. Untuk ibadah haji, umat Islam diminta untuk berbekal. Kata Allah dalam QS. Al-Baqarah (2:197) Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bekal yang terbaik adalah: takwa!

Yang ketiga, tentang keberagaman manusia. Firman Allah menyebutkan dalam QS. Al-Hujurat (49:13) Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Manusia terbaik adalah yang paling takwa!

Dari ketiga ayat di atas dapat disimpulkan bahwa semua hal yang terbaik adalah takwa. Pakaian, bekal, hingga manusia terbaik adalah yang paling takwa. Pakaian dan bekal adalah kebutuhan pokok manusia. Dari beragam makhluk ciptaan Allah hanya manusia yang mengenakan pakaian. Pakaian pun dapat dikatakan sebagai identitas. Semakin pakaiannya keren, maka orang biasanya akan menghormatinya.

Bekal berupa apa pun dibutuhkan oleh manusia. Misalnya, seorang pelajar, santri atau mahasiswa ia pasti membutuhkan bekal, biasanya diberi oleh orangtuanya. Dan apapun ibadahnya manusia harus berbekal, minimal bekal ilmu dan pengetahuan akan ibadah-ibadah tersebut.

Dan terakhir, kita manusia diciptakan dengan beragam bentuk, suku dan bangsa. Tujuannya adalah untuk saling mengenal. Dan Allah Yang Maha Mengenal. Karena itu Allah mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bertakwa. Sebab Allah tidak melihat fisik, baik itu pakaian, perbekalan, maupun rerupa yang dipercantik secara lahiriyah. Sebab Allah melihat yang lebih dalam yaitu takwa.

Pertanyaannya, apa itu takwa? (bersambung).


Kamis, 27 Juni 2019

Nabi Muhammad pun Bercanda


Oleh: Deden Mauli Darajat

Diriwayatkan bahwa seorang wanita tua pernah mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk meminta kepada beliau agar mendoakannya masuk surga. Beliau bersabda, “Orang tua tidak masuk surga.”

Mendengar perketaan beliau, wanita tua itu pun berpaling dan menangis. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW memanggilnya dan bersabda,

“Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah dalam surah al-Waqiah ayat 35-37, ‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.’” (HR ath-Thabrani)

Rasulullah SAW seorang manusia yang sempurna. Ia menjadi teladan bagi umat manusia di muka bumi ini. Ia pun sebagai rahmat untuk alam semesta hingga akhir zaman.

Meski menjadi manusia pilihan, ia tetaplah manusia biasa yang juga punya selera humor yang tinggi. Kisah di atas mengajarkan kepada kita bahwa jika hidup ini perlu serius tapi juga harus diimbangi dengan bercanda. Hidup terasa hambar tanpa senyum di bibir kita. Seperti makanan tanpa garam. Tapi juga jangan banyak garamnya nanti keasinan. Hehe.

Manusia membutuhkan humor agar hidup menjadi dinamis tidak statis. Agar senyum mengembang dimana-mana. Bukankah senyum kepada saudara kita adalah juga bagian dari sedekah? Tapi hidup harus tetap seimbang, tidak terlalu banyak bercanda, juga tidak terlampau serius. Sedang-sedang saja. Sebaik-baik perkara adalah yang berada di tengah-tengah.


#jejak #hikmah #3

Syekh dan Abu Hanifah



Oleh Deden Mauli Darajat



Diriwayatkan pada suatu hari, Abu Hanifah duduk dengan menjulurkan kakinya. Lalu datang seorang syekh yang mengenakan sorban, sehingga tampaklah ia seorang yang berilmu.

Melihat kedatangannya, Abu Hanifah langsung menarik kakinya karena menghormati syekh itu. Kemudian syekh tersebut mendekati Abu Hanifah dan bertanya, “Wahai Abu Hanifah, kapan orang berpuasa boleh berbuka?”

Abu Hanifah lalu menjawab, “Ketika matahari tenggelam.” Syekh tersebut bertanya lagi, “Bagaimana jika hingga pertengahan malam matahari tidak tenggelam?” Abu Hanifah lantas menjawab, “Kalau begitu, kini saatnya aku kembali menjulurkan kaki!”

Cerita ini menarik untuk kita bahas dan mengambil ibrah darinya. Paling tidak untuk kita berterima kasih kepada Abu Hanifah. Sedikitnya ada tiga hal yang kita dapat dari cerita Abu Hanifah dan syekh ini.

Pertama, Abu Hanifah memiliki ketawadhuan, kerendahhatian. Ia yang memiliki ilmu yang luas sehingga ia diberi gelar sebagai Imam Abu Hanifah, peletak dasar Mazhab Hanafi. Namun begitu, kepada siapa saja yang berilmu ia akan tetap menghormatinya.

Kedua, syekh yang digambarkan di atas adalah orang yang sedang berperan di panggung sandiwara kehidupan yang seakan-akan. Yaitu seakan-akan ia adalah orang yang berilmu. Padahal tidak begitu.

Kita pun sebagai manusia sering kali salah persepsi dalam menilai seseorang. Kadang yang kita anggap baik ternyata tidak. Atau yang kita anggap buruk ternyata baik. Begitulah kenyataan hidup, seperti sang syekh yang dianggap berilmu tersebut di atas. Memang hanya Allah yang mampu melihat manusia dari hatinya. 

Ketiga, Abu Hanifah memberi pelajaran bagaimana kita bersikap terhadap orang yang tidak berilmu dan ngeyel. Ia tidak memberikan jawaban atas pertanyaan syekh yang terakhir. Waktu memang terlalu mahal untuk dihabiskan dengan hal yang sia-sia. Kaidah yang satu ini tepat untuk menggambarakan sikap Abu Hanifah dalam cerita di atas yaitu: “Tidak menjawab pertanyaan bodoh adalah sebuah jawaban.”

#jejak #hikmah #2

Sapi dan Gajah


Oleh: Deden Mauli Darajat

Pada suatu subuh, seorang Arab Baduy tergopoh-gopoh mendatangi masjid untuk shalat berjamaah. Imam shalat subuh itu membaca surat Al-Baqarah, ia pun menggerutu mengapa sang imam membaca surat yang panjang. Sementara ia ada kebutuhan mendesak pada pagi itu.

Subuh berikutnya. Ia pun datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Kali ini sang imam membaca surat Al-Fiil. Ia kemudian tidak melanjutkan shalatnya dan menggerutu sembari jalan pulang ke rumah, “Al-Baqarah (sapi) saja panjang suratnya, apalagi Al-Fiil (gajah) yang lebih besar, pasti lebih panjang suratnya.”

Demikianlah cerita Arab Baduy. Ia berpikir bahwa surat Al-Fiil lebih panjang dari surat Al-Baqarah. Padahal sebaliknya. Al-Baqarah adalah surat terpanjang dalam Al-Quran dengan 286 ayat, sementara Surat Al-Fiil hanya memiliki lima ayat.

Ini sebenarnya bukan hanya cerita tentang seseorang yang hidup di Arab sana. Ini adalah cerita kita bersama sebagai: manusia. Sepertinya teori tentang kebodohan sangat tepat dalam menggambarkan cerita ini. Teori ini adalah; manusia adalah musuh bagi hal-hal yang ia bodoh terhadapnya.

Kita sebagai manusia, sesekali melakukan yang demikian di atas. Kita lebih menganggap bahwa apa yang ada di benak kita adalah benar, sementara apa yang dilakukan orang lain adalah salah. Praduga yang salah membawa kita menjadi manusia bermasalah.

Adalah ilmu yang yang dapat menutup kebodohan. Layaknya cahaya yang menghilangkan kegelapan. Kita sebenarnya adalah tubuh dengan jiwa, pikiran dan hati yang gelap. Kita membutuhkan cahaya dalam hidup ini, agar jiwa, pikiran dan hati menjadi terang dan tenteram. Dan cahaya itu adalah ilmu yang harus kita cari dan kita minta kepada Sang Pemilik Ilmu, Allah SWT.

#jejak #hikmah #1



Rabu, 12 November 2014

Doa dan Kesuksesan



Suatu malam ayah saya mengatakan, “Jangan sesekali meremehkan doa, apalagi doa orang tua.” Saya kemudian berpikir apa yang telah diucapkan ayah saya itu. Bahkan hingga menjelang tidur, kata-kata itu selalu hinggap di kepala saya. Doa, ya, doa. Permintaan manusia kepada Tuhannya, Allah SWT.

Beberapa hari lalu, teman saya mengabari bahwa dirinya akan maju sidang skripsi. Ia pun meminta untuk mendoakannya untuk kelancaran dan kesuksesan ujian skripsinya. Saya pun berdoa untuknya. Ia juga memohon doanya di grup whatsapp alumni sekolah kami. Banyak yang merespon positif dan mendoakaanya. Dan ia sukses melewati sidang skripsinya. “Legaa. Alhamdulillah,” katanya.

Saya teringat setahun lalu ketika saya harus menghadapi sidang tesis di kampus Universitas Ankara, Turki. Sahabat saya, Faris BQ, meminta doa untuk saya di grup whatsapp (WA)  Gema Ilmiah Ankara (GIA). Grup ini biasanya mendiskusikan rencana diskusi dua mingguan. Tapi selebihnya grup ini banyak humornya, humor tentang anak muda perantauan yang mudah terkena virus galau.

Tapi tidak dengan permintaan doa untuk saya. Bang Faris, sapaan kami, saat itu serius dalam meminta doa ini. Ia mengatakan bahwa doa ini sangat penting untuk Kang Deden (KD), begitu ia menulis pesan di grup WA. Ia menambahkan, mungkin soal isi dan tulisan tesis, KD sudah menguasainya, tetapi grogi dan ketenangan hati belum tentu, maka doa inilah yang dibutuhkannya.

Respon positif dari teman-teman GIA begitu hebat. Yang biasanya suka jail dan iseng kali ini berhenti sesaat. Serius. Bahkan tidak hanya di grup WA yang tertutup itu. Mereka, teman-teman saya yang baik hati, itu menuliskan twitnya untuk memintakan doa untuk saya di akun  Twitternya. Saya terharu. Sungguh, sangat terharu. Beginilah kami bersahabat. Memperkuat tali persaudaraan dengan sama-sama mendoakan satu sama lain.

Dan Alhmadulillah, berkat doa banyak orang, dan tentu orang tua dan keluarga, saya masuk ruang ujian tesis yang terkenal angker itu dengan tenang. Saya juga mempresentasikan tesis dengan percaya diri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di ruang sidang dengan jawaban yang jelas. Di luar pertanyaan tesis, para penguji dan pembimbing bertanya soal masa depan saya. Sidang saat itu berjalan hangat dan tidak mencekam.

Inilah berkat kekuatan doa.

Tabik.

Rabu, 29 Oktober 2014

Satu-Satunya Media yang Konsisten, Pengamat: TVRI Harus Perbaiki Kemasannya



KBRN, Jakarta: Pengamat Media dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Deden Mauli Darajat menilai hanya ada satu media penyiaran televisi yang tetap konsisten memberikan pendidikan atau edukasi kepada generus bangsa di tanah air. Dikatakan oleh Deden, Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan saluran televisi yang masih setia membimbing dan memberi pendidikan secara luas kepada penonton. 

"Menurut saya hanya TVRI satu-satunya media penyiaran yang konsisten terhadap tayangan-tayangan yang diberikan. Masih ada pendidikannya, Kebudayaannya, Kesenian, Berita Nasionalnya, dan itu semua menurut saya sangat mendidik," kata Deden saat dialog "Peran Media Televisi bagi Kecerdasan Bangsa" di Radio Republik Indonesia, Selasa (26/8/2014). 

Namun, disayangkan kata Deden, tayangan di TVRI tidak banyak yang menonton, khususnya para muda mudi Indonesia. Menurut Deden kemasan TVRI yang kurang menarik menjadikan tayangan- tayangan TVRI terabaikan begitu saja. 

Deden pun menyarankan, TVRI harus merubah kemasan penyiarannya dengan mengikuti perkembangan zaman, namun tetap tidak menghilangkan konten konten positif yang telah di miliki TVRI.

"Kemasan itu nomor satu, baru setelah itu konten. Mau diisi apa tayangannya nanti. Tapi TVRI harus merubah kemasannya dulu misal dengan merubah kemasan menjadi modern. Itu saran saya," tutur Deden. (LS/AKS)

Sumber: klik

Pengamat Media: Media Massa Terbelah Jelang Pilpres, Masyarakat Diminta Semakin Cerdas



KBRN, Jakarta: Pengamat Media Deden Mauli Darajat menyayangkan keberpihakan beberapa media di tanah air tidak berimbang menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli mendatang. Deden mengamati ada media yang mendukung salah satu capres dan ada media lainnya mendukung capres yang lain dengan terang-terangan. 

Dalam wawancara bersama Radio Republik Indonesia, Selasa (3/6/2014), Deden mengatakan, mendekati pilpres, kedudukan media sebagai informasi publik yang netral, kini telah berubah menjadi keberpihakan yang tidak seimbang. 

“Dalam Pilpres ini nampaknya media massa sudah terbelah, ada kedudukan media satu ke capres satunya, itu kental sekali, terlihat sekali. Seharusnya media itu netral karena sebagai informasi publik jangan malah dijadikan ajang kampanye salah satu capres secara terus-terusan,” ujar Deden, yang baru saja memberikan pendapatnya di Turki tentang pemilihan presiden beberapa hari lalu. Deden menghimbau masyarakat semakin cerdas dalam mengikuti pesta demokrasi 9 Juli nanti. 

“Saya yakin masyarakat telah mengetahui betul, pemilik modal di media telah mendukung capres mana saja. Semoga saja masyarakat dapat cerdas dalam mengikuti pemilihan presiden nanti, dan semoga saja media di tanah air dapat menjadi milik publik, kepentingan publik, dan dapat memerdekakan kebebasan pers yang ada,” cetusnya. (LS/AKS)

Sumber berita: klik

Selasa, 07 Oktober 2014

Khutbah Idul Adha; Membudayakan Kurban



Membudayakan Kurban
Khutbah Idul Adha 1435 H/2014 M
 MASJID ALWASILAH
Oleh H. Deden Mauli Darajat


اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً،
 لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ 
اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

Ma’ashiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillâhi Rabbi al-âlamîn, segala puji marilah kita panjatkan ke hadhirat Allah Swt, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada sayyidu al-anbiyâ wa al-mursalîn, Rasulullah Muhammad Saw, beserta keluarga, para shahabatnya, dan seluruh umatnya yang senantiasa menaati risalahnya, serta berjuang tak kenal lelah untuk menerapkan dan menyebarluaskannya ke seluruh pelosok dunia hingga akhir zaman.

Jemaah Shalat Ied Rahimakumullah

4.000 tahun silam, di sebuah gurun, seorang ayah menginginkan kehadiran seorang anak yang shaleh. Maka ia berdoa kepada Allah SWT di setiap waktu. Doa itu pun kemudian dikabulkan oleh Allah. Maka lahirlah seorang anak yang sabar dan penyantun. Anak itu menjadi anak yang shaleh yang dapat membanggakan kedua orang tuanya.

Suatu malam sang ayah bermimpi menyembelih anak kesayangannya. Si ayah itu bertanya tentang mimpi itu kepada anaknya. Dan sang anak menjawab, wahai ayahku, lakukanlah perintah menyembelih itu, insya Allah kita adalah termasuk ke dalam orang-orang yang shaleh dan patuh.

Maka di suatu pagi sang ayah sudah siap dengan di tangan sebelah kanan sebuah golok tajam dan di tangan sebelah kiri leher anaknya yang sangat ia cintai. Ia membaca bismillah, maka disembelihlah anak itu. Namun sebelum golok itu sampai di leher anaknya, anak kesayangan itu diganti dengan sebuah kambing yang besar.

Inilah awal cerita dari perayaan kurban. Sang ayah adalah Nabi Ibrahim dan sang anak adalah Nabi Ismail. Kecintaan Ibrahim kepada Ismail, anaknya, tidak melebihi cintanya kepada Allah. Nabi Ibrahim lebih mencintai Allah ketimbang manusia, bahkan anaknya sendiri yang ia cintai yang lama ia dambakan kehadirannya.

Hadirin jamaah shalat Ied yang dirahmati Allah

Banyak pesan yang terkandung di dalam cerita yang tertulis dalam surat Ashshafaat (37) ayat 100-111 tersebut di atas. Bahwa berkurban adalah perintah Allah kepada umat Islam. Ini merupakan cobaan yang paling dahsyat. Yaitu dengan merelakan berkurban anaknya demi keutuhan keimanan kepada Allah semata. Demi hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena keimanan seseorang pasti diuji oleh Allah SWT.

Sebab Allah berfirman dalam surat Alankabut ayat 2:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَ هُمْ لا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

Allahuakbar 3x  walillahilhamd..

Sejarah berkurban sebenarnya sudah dilakukan sejak Nabi Adam yang tertulis dalam Alquran dalam surat Almaidah ayat 27:

وَ اتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبا قُرْباناً فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِما وَ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قالَ إِنَّما يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقينَ

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, lalu diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Sebab Habil memberikan kurban yang terbaik, seekor domba yang besar dan bagus, sementara Qabil berkurban dengan domba yang kurus ditambah dengan perasaan dengki. Dan Allah hanya menerima kurban yang biak-baik, yaitu dalam kisah ini adalah kurbannya Habil.

Baginda Nabi Besar Muhammad SAW memberikan tauladan dan contoh yang nyata yaitu berkurban dengan 100 ekor unta yang besar-besar dan bagus-bagus. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa;

“Sampai di tengah lembah Muhassir, dipercepatnya untanya melalui jalan tengah yang langsung menembus ke Jumratul Kubra. Sampai di Jumrah yang dekat dengan sebatang pohon, beliau melempar dengan tujuh buah batu kerikil sambil membaca takbir pada setiap lemparan. Kemudian beliau terus ke tempat penyembelihan kurban. Di sana beliau menyembelih 63 hewan kurban dengan tangannya dan sisanya diserahkannya kepada Ali untuk menyembelihnya, dan Rasulullah menyertakannya dalam kurbannya tersebut, Kemudian beliau suruh ambil dari setiap hewan kurban itu sepotong kecil, lalu disuruhnya masak dan kemudian beliau makan dagingnya serta beliau minum kuahnya.. (HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkurban badanah (unta) yang disembelih berjumlah 100 unta, beliau melakukannya (memotong) sendiri 63 dan 'Ali sisanya. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh agar untuk setiap satu badanah untuk beberapa orang lalu dimasukkan ke dalam ke periuk lalu mereka berdua meminum kuahnya. (HR. Ahmad)

Jamaah shalat ied yang dimuliakan Allah

Berkurban pada hakikatnya adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah. Sarana untuk melakukan yang terbaik untuk Allah. Karena kita diciptakan di dunia ini hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah, berkurban adalah salah satu jalan terbaik. Dan sesungguhnya Allah tidak menerima daging dan darah hewan kurban itu tetapi Allah menerima takwa dari si pekurban.

Kesadaran berkurban harus kita tanam sejak dini. Jika tahun ini kita mampu untuk berkurban dengan satu ekor kambing, maka sebaiknya kita berkurban, karena waktu berkuban adalah empat hari, yaitu, dimulai hari ahad ini hingga rabu lusa, dar tanggal 10 sampai dengan 13 dzulhijjah 1435 H, atau tanggal 5 sampai dengan 8 oktober 2014.

Jika kita tidak mampu berkurban pada tahun ini, setidaknya kita berniat berkurban dan berdoa kepada Allah agar di tahun-tahun selanjutnya Allah memberikan kita rejeki untuk berkurban. Dengan niat berkurban itu kita bisa menyisihkan uang kita setiap bulannya untuk berkurban pada Idul Adha mendatang. Mari kita budayakan untuk berkurban, karena berkurban selain sarana mendekatkan diri kepada Allah juga mendekatkan kita kepada persaudaraan sesama muslim.

Hasbunal-Lâh wa ni’mal wakil nikmal maula wa ni’kman nashiir, laa haula wala quuwata illa billah. Aquulu qauli hadza wa astaghfirullahal azhiim lii walakum!


الخطبة الثانية:

 اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
أَشْهَدُ ألاَّ إِلَهَ إِلاًّ الله وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَه وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا (رَبَيَانَا) صِغَارًا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ 
اَللَّهُمَّ  اجْعَلْنا واجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ
تقبل الله منّا ومنكم
كلّ عام وانتم بخير

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sabtu, 02 Agustus 2014

Reuni SD Setelah 18 Tahun

 

Lebaran ini spesial bagi saya. Setelah empat kali berlebaran Idul Fitri di negeri orang, kali ini saya bisa merasakan kembali berkumpul dengan keluarga tercinta. Hari tadi ada lagi kebahagiaan, ketika kami alumni SDN Muara Ciujung Barat II Komplek Multatuli Rangkasbitung berkumpul di Ruko Zamzam Center Mandala.

Dulu kami masuk SD tahun 1990-1991 dan lulus tahun 1996. Kami benar-benar berpisah setelah acara perpisahan di Pantai Carita Labuan. Hanya beberapa teman dekat yang masih berkomunikasi dan bertemu ketika saya mendapat jatah liburan pulang kampung. Pasalnya usai lulus SD saya melanjutkan sekolah ke Gontor Jawa Timur.

Lulus Gontor saya lanjut lagi sekolah ke UIN Jakarta dan kemudian bekerja di Republika sebagai jurnalis. Baru setahun bekerja di Republika, saya mendapat beasiswa S2 di Universitas Ankara Turki. Desember tahun 2013 lalu saya pulang ke tanah air setelah menyelesaikan studi saya di sana.



Jadi hampir 18 tahun saya tinggal di luar Rangkasbitung. Selama itu pula saya jarang bertemu dengan teman-teman SD. Teman-teman SD ini menjadi cerminan sejarah masa lalu yang tidak bisa dienyahkan. Kepingan kenangan mencoba disatukan kembali ketika pertemuan dengan beberapa teman itu.

Dari pertemuan itu, ada beberapa teman yang tidak berubah dan mudah dikenali, tapi ada juga yang berubah dan susah dikenali sebelum ia menyebutkan namanya. Baru kemudian setelah disebutkan namanya itu memori masa lalu dan fisik saat ini menjadi sinkron. 

Reuni ini sebenarnya bermula ketika ada seseorang mengundang pin BB saya, namanya Nikita Mey Mey. Ini jelas bukan nama asli teman saya. Rupanya nama itu adalah nama anak teman saya. Saya pun berinteraksi dengannya di sela kesibukan saya menulis artikel. Karena interaksi itu saya akhirnya membuat Grup BBM SD.



Dari perbincangan di grup BBM itu tercetuslah ide reuni. Awalnya terpikir untuk mengadakan reuni sembari buka puasa bersama, tapi ini tidak terlaksana, selain sibuk beberapa teman juga masih di luar kota. Dua hari lalu seorang teman yang bekerja di Bandung datang ke rumah dan kami berbincang dari sore hingga malam. Satu teman lagi ikut bergabung setelah tugasnya selesai di rumah sakit.

Kami bersepakat untuk mengadakan reuni perdana pada Sabtu 2 Agustus 2014. Beberapa teman antusian dan menghubungi sejumlah teman yang lainnya. Dari sekitar 27 teman sekelas ketika kelas enam, hanya 10 orang yang datang ke acara reuni. Meski tidak sampai setengahnya tapi kami bersyukur bahwa kami bisa berkumpul kembali.

Saya mencatat dari yang hadir itu ada yang bekerja di rumah sakit di Rangkasbitung, tapi ia kemudian mendapat tugas setelah lebaran di Jakarta Pusat, ada juga yang bekerja di Bank BNI Bandung, ada yang bekerja di KAU, dan yang jauh adalah yang bekerja di Merauke Papua. Yang tidak hadir ada yang bekerja sebagi polisi, dan lain sebagainya.



Sebagian ada yang tidak hadir karena ia tidak mudik pada tahun ini dan menetap di Sumatera, ada juga yang tidak tahu akan adanya acara ini. Kami semua berharap acara ini adalah awal jalinan silaturahim. Yang nantinya bisa dilaksanakan setiap tahun dengan mengunjungi guru-guru kami.

Bereuni adalah cara terbaik untuk kita mengenal siapa sebenarnya diri kita, dari mana kita pernah belajar dan dengan siapa kita tumbuh. Ketika kita mengenal itu kita akan sadar akan kekurangan kita, kita mengenal diri kita sebagai orang yang tidak tahu kemudian tahu. Dan yang menyenangkan adalah ketika kita bercerita masa kecil kita dengan lepas, seakan kita ingin kembali ke masa lalu.

Kamis, 31 Juli 2014

Mengucapkan Selamat Idul Fitri Lebih Awal


Mengapa saya mengucapkan selamat Idul Fitri lebih awal, itu mungkin pertanyaan beberapa teman saya ketika mereka menerima pesan pendek melalui bbm, whatsapp, dan sms. Sebenarnya pengennya sih saya mengucapkan secara langsung kepada semua teman saya itu dengan bertemu secara fisik. Namun nyatanya itu mustahil, karena mereka tersebar di berbagai kota dan negara.

Akhirnya, saya berusaha untuk menyapa dan mengucapkan selamat kepada teman-teman saya yang ada dalam daftar teman, baik di bbm, wa maupun sms dengan menyebutkan namanya. Rasanya kurang etis ketika saya mengirim satu pesan untuk semua dengan menggunakan fitur BC yang ada di bbm. Saya coba menggunakan logika, jika saya yang menerima pesan selamat Idul Fitri dengan BC saya juga sedikit enggan untuk membacanya. Bahkan saya jarang membaca pesan bbm yang dikirim melalui jalur BC di ponsel saya.

Saya terinspirasi dari salah satu twit yang menyebutkan bahwa salah satu pengguna twitter menerima pesan selamat Idul Fitri dari bosnya atau atasannya dengan menuliskan nama dan menyapanya langsung. Beberapa senior saya juga begitu, menyapa dengan menyebut nama saya, dengan pesan yang simpel namun langsung to the point. Ini sebenarnya tidak mudah, karena membutuhkan waktu yang lumayan untuk menyapa ratusan orang yang ada di daftar teman.

Adanya gawai atau gadget yang memberikan kemudahan untuk berkirim ucapan bukan berarti tanpa etika. Perlu adanya kepekaan. Ketika kita tidak bisa bertemu secara langsung, setidaknya kita sudah mencoba menghubunginya secara pribadi dengan menyebutkan nama dan menyapanya, meski melalui pesan pendek.

Maka pada akhirnya saya memilih mengucapkan selamat idul fitri lebih awal, ini bukan karena saya berlebaran terlebih dahulu melainkan saya ingin menyapa dan mengucapkan terlebih dahulu. Karena pas hari H nya saya pasti sibuk dengan berkumpul bersama keluarga dan bersilaturahim ke tetangga, berkungjung ke rumah saudara dan berziarah ke makam. Dan ponsel saya di hari Idul Fitri lebih banyak menganggurnya. Lagi pula tidak rugi juga jika sehari tanpa gawai, bahkan akan lebih terasa nikmat.

Terakhir, untuk pembaca yang baik hati, saya ucapkan terimakasih dan semoga belum terlambat untuk saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H, mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna waminkum. Kullu sanah wa antum bikhair.