Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Rabu, 01 Februari 2012

Mencari Mentari


Seperti mentari
Selalu dinanti
Kala musim dingin
Menari-nari

Pun dengan cinta
Semua butuh padanya
Langkah pencarian
Tak terhentikan

ku mencari mentari
Yang sejukan hati
Yang datang tiap hari
Meski hanya di mimpi

Alam butuh mentari
Biar terus lestari
Aku pun butuh bidadari
Agar hidup berseri

Kita lahir dan hadir di bumi
Pun berakhir dengan sendiri
Namun Tuhan berkati hati
Untuk kita nikmati

Semua tak ada arti
Jika tak ada cinta di hati
Untuk berbagi
Dengan engkau bidadari

Ankara, 31 Januari 2012 pkl 02.01 (GMT+2)

Senin, 30 Januari 2012

Sajak Merindu

Tahukah engkau
Aku memupuk rindu 
Di tiap malam 
Berteman kelam


Kadang salju 
Ikut merindu
Rasakan dingin
Berikut angin


Kurasa getaran cinta
Tak akan terbatas 
Oleh lautan samudera
Pun jarak nan luas


Kalau kau tak rasakan
Rindu yang terkungkung
Kuingin kau tengadahkan
Muka ke langit tak berujung


Pandangi bintang
Bersama bulan
Yang datang
Selalu bersamaan


Saat ragu menderu hatimu
Akankan kau takluk olehnya
Atau kau taklukan rasamu
Agar rindu tetap menyala


Inginku kau jua merindu
Agar tak ada yang palsu
Hingga semua terkuak
Dan tak ada suara yang soak


Sebab, harapan adalah keberanian
Kesabaran adalah jawaban
Penantian adalah kesetiaan
Dan, pertemuan adalah kemenangan


Ankara, Jumat Bersalju, 27 Jan 2012

Rabu, 25 Januari 2012

Mari Berhimpun!


Pagi-pagi jalan masih putih tertutup salju. Mobil pembersih belum menyapu salju yang baru turun semalam sebelumnya. Kami turun dari bus dan sekelompok pelajar yang baru datang dari Istanbul juga turun dari bus di belakang kami. Karena wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) berada di dataran tinggi, beberapa teman kami ingin menggunakan taksi.

Saat  taksi datang dan kami duduk di dalamnya, si pengemudi taksi bertanya, mau kemana kalian, kami menjawab mau ke gedung di atas sana yang ada bendera merah putihnya. Oh, ungkap sopir taksi, mobil saya tidak bisa meluncur ke sana, silakan kalian turun dan jalan kaki saja ke atas sana. Kami pun terpaksa berjalan di atas salju tebal dengan jalan yang menanjak.

Ahad, 22 Januari 2012, kemarin, sekitar 50 perwakilan pelajar Indonesia di berbagai wilayah di Turki berdatangan ke Ankara untuk menghadiri musyawarah tahunan atau kemarin dinobatkan menjadi musyawarah luar biasa Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Turki. Para pelajar dari luar kota itu ada yang menggunakan bus, kereta api hingga pesawat terbang untuk menuju Ankara. Mereka datang dengan biaya sendiri. Sungguh luar biasa semangatnya.

Meski musim dingin dan hujan salju di Ankara tak ada hentinya, namun kedatangan saudara seperjuangan dari berbagai daerah mampu menghangatkan keadaan kami. Canda, tawa, serius, hangat, sapaan, ketukan, pelukan, sindiran, sanggahan menyatu dalam satu waktu bersama hidangan khas Indonesia yang disajikan dalam sehari yang tak pernah berhenti, mulai sop buntut, bakso, mie goreng hingga bubur kacang ijo dan kacang hitam.

Sebenarnya acara itu direncakan selesai pukul 17 sore di saat adzan maghrib berkumandang waktu Ankara. Tetapi, ada beberapa hal yang masih alot untuk disepakati bersama dan akhirnya musyawarah itu berakhir pukul 23.00 (GMT + 2). Meski begitu, tampak dari wajah semua pelajar senang dengan acara yang telah dilaksanakan. Sebagian dari pelajar langsung kembali ke kotanya masing-masing, ada juga yang masih menetap beberapa hari di Ankara.


Acara seperti ini tidak asing bagi saya. Sejak dari KMI atau SMA dulu, saya suka berhimpun atau berorganisasi. Bahkan, pas di Ciputat semakin menjadi. Berbagai organisasi saya ikuti. Ini sebenarnya hanya soal pilihan. Saya memilih untuk menyibukkan diri di beberapa organisasi saat di Ciputat. Bukan tanpa sebab. Kita mungkin masih ingat kata-kata Sayyidina Ali RA, kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir. Jadi, mari kita berhimpun!


Sabtu, 21 Januari 2012

Jembatan untuk Bersekolah di Lebak

Sedikit emosional catatan kali ini. Betapa tidak, jembatan yang rusak namun tetap dipakai menyeberang oleh anak-anak sekolah itu kemudian diphoto dan diberitakan oleh media Inggris Daily Mail. Bukan cuma soal pemberitaan itu, namun jembatan itu memang sudah lama ada dengan kondisi yang tidak baik. Rupanya jembatan itu tidak berubah sejak dulu hingga bertambah rusak saat ini. Entah mengapa.

Saat menjadi mahasiswa di Jakarta, kadang seminggu sekali saya pulang kampung ke Rangkasbitung, Lebak, Banten. Menggunakan kereta api langsam Kota-Rangkasbitung saya kembali ke kota kelahiran itu selama 2 jam perjalanan. Namun, saat bekerja di Jakarta saya terkadang menggunakan bus dari Jakarta ke Rangkasbitung. Tidak ada yang nyaman sebenarnya saat di perjalanan, naik kereta pasti penuh sesak, sementara naik bus juga jalannya tidak bagus alias hancur tak terurus.

Di sela liburan kuliah atau bekerja itu saya kadang menemani ibu saya ke sekolah yang saat itu menjadi kepala sekolah di SDN Sangiang Tanjung 02, Kecamatan Kalang Anyar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Untuk menuju sekolah dari rumah saya yang berjarak sekitar 5 kilo meter itu, kami menggunakan angkutan kota (angkot). Setiba di sana kami tidak bisa langsung menuju sekolah, karena kami mesti menyeberang sungai Ciberang.

Untuk menyeberang sungai itu ada beberapa cara. Ada yang menggunakan jembatan, ada juga yang menggunakan perahu kecil. Menggunakan jembatan yang sedikit dan jaraknya jauh memang bukan pilihan utama. Akhirnya kebanyakan guru dan murid yang akan menuju ke sekolah itu menggunakan perahu kecil yang digerek menggunakan tali tambang yang tersambung dari ujung seberang sungai ke seberang.

Kami memberikan ongkos untuk sekali menyeberang kepada pengemudi perahu kecil itu. Kadang jika tidak ada yang menjaga perahu kecil maka para muridlah yang menarik kendaraan bertenaga manusia itu saat para guru akan menyeberang, baik di pagi hari maupun di siang hari. Namun, penggunaan perahu kecil ini terbatas jika air di sungai itu meluap. Apalagi jika banjir datang. Kadang jam sekolah diundur dari biasanya karena harus menunggu guru yang datang terlambat karena harus putar arah menuju sekolahnya.

Kadang saudara kembar saya yang mengantar ibu kami ke sekolah dengan motor melintasi jembatan yang pas-pasan untuk dilewati sebuah kendaraan roda dua. Ada beberapa jembatan penghubung di sungai Ciberang itu. Namun, kebanyakan jembatan itu sudah tidak layak lagi digunakan, banyak di tengah-tengahnya bolong. Artinya sudah tidak nyaman dan berbahaya jika digunakan. Itu dulu pas saya mahasiswa di Jakarta sekitar tahun 2005-2007. Eh, rupanya saat saya jadi mahasiswa di Ankara, Turkey pun masih seperti itu, dan saya tahunya dari berita di Inggris itu.

Pagi tadi saat saya mengecek email kiriman dari teman saya mahasiswa di Belanda, bahwa media di Inggris menerbitkan photo bergambar siswa SD dan SMP menyeberangi jembatan yang rusak untuk bersekolah. Saat saya baca keterangan photo itu, ternyata daerah itu adalah daerah saya di Lebak Banten. Kami pun kemudian berdiskusi, apa yang bisa kami perbuat untuk menyelamatkan aset bangsa itu. Sebab, mereka masih semangat untuk belajar meski melintasi jembatan yang tak layak pakai alias rusak.
Sebenarnya, kabupaten Lebak, Banten tidaklah jauh dari kantor pusat pemerintahan Republik Indonesia di Jakarta. Jarak antara Jakarta dan Kabupaten Lebak sekitar 150 kilometer. Artinya  tidak begitu jauh. Namun kebijakan di Jakarta tidak begitu dirasakan oleh masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Ingat, yang dekat saja seperti ini bagaimana dengan bagian Indonesia lainnya yang berada di ujung sana. Atau juga bagaimana kebijakan pemerintah daerah di Kabupaten Lebak atau Provinsi Banten yang tak menyentuh akar rumput? Pertanyaan dasarnya adalah, mengapa ini semua bisa terjadi?

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kemudahan bagi para pelajar yang sedang menuntut ilmu dan memberikan kesadaran kepada para pemimpin kami untuk lebih memikirkan kebutuhan dasar masyarakatnya. Semoga!


Kamis, 05 Januari 2012

Sombong, Penyakit Hati


(Disampaikan pada kajian Ibu-ibu DWP KBRI Ankara, Rabu, 4 Januari 2012)

Oleh Deden Mauli Darajat


Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Berbeda dengan makhluk yang lainnya yang hanya memiliki jasad, ruh, dan naluri, manusia diberi hal yang paling berharga di dunia ini yaitu hati dan pikiran.

Namun pada hakikatnya Allah hanya memandang manusia dari hatinya. Jika hatinya bersih semua akan baik dan  semua orang bisa merasakannya. Pun kebalikannya, hati kotor bisa juga dirasakan oleh orang di sekitarnya. Hati yang kotor adalah hati yang sakit. Penyakit hati itu di antaranya adalah sombong. Pada kajian kali ini kita akan membahas tentang sombong.

Baiklah, kita mulai dengan sebuah kisah dalam surat Al-Qasas (28) ayat 76-82. Mungkin kita tahu asal muasal istilah harta karun atau harta qarun. Alkisah, Qarun adalah orang kaya sejagad waktu itu. Qarun termasuk kaum Nabi Musa AS. Juga dikatakan bahwa Qarun adalah anak dari pamannya Musa AS.

Qarun orang yang diberi kekayaan oleh Allah itu ingkar untuk bersyukur. Malah ia berlaku zalim terhadap orang-orang di sekitarnya. Gambaran kekayaan Qarun adalah kunci-kunci gudang kekayaannya itu tidak sanggup dibawa oleh orang yang paling kuat sekalipun.

Dan Qarun dengan bangga mengatakan bahwa kekayaan yang dimilikinya itu disebabkan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Kemudian ia keluar dan memamerkan kekayaan terhadap kaumnya. Orang-orang yang cinta akan dunia mengatakan bahwa semoga kami dapat seperti Qarun yang memiliki kekayaan yang banyak, dan sungguh ia beruntung.

Tetapi orang yang dianugerahi ilmu mengatakan bahwa celakalah wahai kamu, karena pahala lebih baik bagi orang yang beriman dan bersabar. Karena kesombongan Qarun, Allah membenamkan Qarun dan kekayaannya ke dalam bumi. Dan tidak ada yang dapat menolongnya seorangpun.

Orang yang dulu mengatakan ingin seperti Qarun tersadar bahwa kekayaan dan rejeki itu datangnya hanya dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Begitulah cerita kesombongan di zaman lalu yang menjadi pelajaran bagi kita semua. Hingga kita membuat istilah harta karun untuk barang-barang yang kita temui di dalam bumi.

Sekarang apa itu sombong? Menurut Rasulullah SAW dalam haditsnya mengatakan bahwa sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Contoh menolak kebenaran adalah kisah Qarun di atas.

Sombong bisa dibedakan menjadi dua, yaitu sombong lahir dan sombong batin. Secara lahir sombong ini mudah dilihat dari gerak-gerik dan perkataan seseorang. Sementara sombong batin ini susah dideteksi karena syetan dan iblis masuk ke hati manusia secara halus dan diam-diam.

Sementara macam-macam sombong itu ada lima macam: (1) Sombong karena keturunan/status sosial, (2) sombong karena kekayaan, (3) sombong karena ketampanan/kecantikan (4) sombong karena ilmu pengetahuan, dan (5) sombong karena amal ibadah yang telah dilakukan.

Sombong karena status sosial ini mudah terdeteksi. Kita yang memiliki status sosial, misalnya, dengan mudah memandang orang yang lebih rendah dari status kita. Ini termasuk sombong secara lahiriyah. Begitu pun sombong karena kekayaan, kita dapat melihat dari gerak-geriknya karena mudah terlihat.

Sombong karena ketampanan/kecantikan ini yang kadang mengalihkan kita dari kebersyukuran kepada Allah. Kita dengan cepat bangga saat melihat orang yang kurang sempurna secara fisik dan dengan mudah menghinanya tanpa kita sadari bahwa orang tersebut telah kita tersakiti dengan tindakan atau perkataan kita. Ini juga termasuk sombong yang lahir.

Dua yang terakhir ini yang susah terdeteksi karena keduanya adalah sombong secara batin dan susah terdeteksinya. Misalnya, kita yang sudah menempuh pendidikan S1, memandang rendah orang yang tidak melanjutkan sekolahnya di universitas atau perguruan tinggi. Padahal itu semua sudah ditentukan oleh Allah.

Sementara yang terakhir adalah sombong karena amal perbuatan yang kita nilai sangat berharga. Padahal belum tentu di mata Allah. Kita yang mengerjakan kebaikan dan kebajikan, misalnya, memandang tidak berharga orang yang tidak melakukannya. Dan bahkan kita sering mengungkapkannya kepada orang-orang. Ini yang paling susah terdeteksi. Dan ini adanya dalam hati.

Mengapa harus ada kata hari-hati dengan hati? Karena hati itu tidak menetap, kadang naik kadang turun. Hati dalam bahasa arab adalah qalb, asal katanya adalah qallaba yuqallibu, artinya membalik-balikan. Kadang taat kadang tidak. Maka kita harus berusaha sekuat tenaga agar tetap taat dengan berdoa pada Allah di setiap waktu. Juga untuk itu kita perlu memperbanyak istighfar. Astaghfirullahaladzim.

Mengapa manusia tidak boleh sombong? karena kesombongan hanya milik Allah Al-Mutakabbir. Kita manusia tercipta hanya dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Dan kesombongan ini akan menjadi penghalang manusia untuk masuk surga, karena orang-orang yang sombong tempatnya adalah di neraka. Naudzubillah.

Demikian pemaparan singkat tentang sombong sebagai penyakit hati. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada kesalahan karena itu datangnya dari diri saya yang fakir. Dan jika terdapat kebenaran itu mutlak datangnya dari Allah SWT, Sang pemilik kebenaran. Wallahu a’lam bishshawab.

Rabu, 04 Januari 2012

Ungkapan Mata

Oleh @DedenMD

Aku melihat di matanya
Berbeda dengan di mulutnya
Kadang rindu itu menipu
Tak seperti yang tertutur

Itu dilakukan terpaksa
Untuk menghibur
Agar rindu yang terasa
Tak terungkap

Seperti burung yang
Terbang jauh mencari makan
Dan pasti kembali kandang
Tanpa salah arah

Lihatlah para perindu
Yang merindu di ujung sana
Mereka merawat rasa itu
Agar tak hilang

Dan tidak akan hilang
Karena rasa berasal
Dari dalam
Dari Ilahi

Bertambah dipendam
Bertambah menjadi
Bertambah ingin berjumpa
Bertambah tak terlukiskan

Disebabkan menipu
Janganlah terlena dengannya
Karena semua
Sudah ditetapkannya

Semua pertanyaan
Ada jawabannya
Setiap usaha
Dapatkan hasil

Menanam rindu
Bak menanam buah
Siramlah agar waktunya
Nanti buahnya segar

Mata itu mengatakan
Rindu yang tak berujung
Namun mulutnya
Ah, mengapa tak mau ungkap

Mungkin ia lakukan itu
Agar tak mengubah
Usaha yang telah dilakukan
Dan seakan-akan semua baik

Untuk mereka yang dilanda rindu
Kabar adalah candu
Usahlah gelisah
Semua akan terkisah


Ankara, 04 Januari 2012, 00.00 WT (+2)

Senin, 02 Januari 2012

Kampung Galau

Suatu ketika teman saya ditanya, "Kamu dari mana?" Teman saya menjawabnya singkat, "Saya dari kampung galau."

*****

Cerita di atas bukan cerita beneran. Tapi cerita buatan. Catatan kali ini soal galau yang sering melanda manusia di seantero jagad raya. Cuma sekadar catatan. Ingat, hanya catatan, gak lebih. Hehe.

Sumber photo: https://twitter.com/#!/seputargalau
Suatu ketika teman saya di twitter mengajak saya untuk memfollow akun @RadioGalauFM, dan akhirnya saya follow juga itu akun. Rupanya akun yang sering menulis tentang galau, kegalauan dan penggalauan itu mencatatkan followers atau pengikutnya lebih dari 300 ribu akun. Waw, angka yang sangat fantastis.

Sebenarnya trend kata galau itu populer di tahun 2011. Tapi, sampai saat ini kepopuleran kata galau tidak juga surut. Kata galau sudah mendunia. Di kalangan masyarakat umum, terutama para pengguna sosial media, seperti twitter dan facebook.

Eh, bukan cuma di dunia maya atau di sosial media sih ramainya galau itu, di dunia nyata juga. Contohnya, teman saya biasanya menggalau sebelum dia tidur. Bahkan, kata galau sudah dipakai oleh teman saya yang warga Turki. Kok bisa? Bisa dong. Haha.

Saya dan teman saya di asrama sering becanda dengan kata galau dan teman kami yang orang Turki sering mendengarnya. Dan orang Turki itu bertanya kepada teman saya. “Sen, galau musun?” artinya, apakah anda galau? Sontak saja kami semua tertawa. Hahaha.

Secara bahasa, galau dalam kamus bahasa Indonesia (2008) adalah kacau atau tidak keruan. Artinya suatu keadaan dalam diri seseorang yang sedang kacau dan tidak keruan atau tidak menentu. Galau bisa menghampiri setiap manusia yang memiliki hati.

Kalau boleh mendefinisikan galau dari berbagai aspek, maka mari kita definisikan. Pertama adalah tanda-tanda orang yang galau. Tanda-tandanya adalah, (1) pikiran tak menentu, (2) merasa sendiri meski di tempat ramai, (3) uring-uringan gak jelas, dan (4) tidak tahu harus berbuat apa di saat luangnya waktu.

Yang kedua adalah kapan datangnya kegalauan: (1) di saat perjalanan sendiri, (2) menonton film atau video musik romantis, (3) pesan pendek atau SMS, inbox, DM, BBM atau media pesan lainnya yang tak kunjung dibalas, (4) mendapatkan hasil yang tidak diinginkan, (5) perjuangan yang sia-sia, (6) saat hujan gerimis, (7) di saat berada di tempat yang romantis tapi sendiri, (8) kehilangan sesuatu/seseorang yang dicintai.

Yang ketiga adalah, macam-macam galau. Apa saja sih versinya, (1) galau sekolah, biasanya ini karena banyaknya tugassekolah atau kuliah dan tidak pernah dikerjakan atau dikerjakan tapi tidak selesai-selesai, (2) galau pekerjaan, pekerjaan yang menumpuk dan banyak masukan atau kritikan dari si boss atau atasan, dan yang paling banyak adalah, (3) galau cinta, #eaaa ini yang paling banyak pasiennya, hahaha.

Kalau sudah kita definisikan, maka yang keempat dan yang tidak kalah pentingnya adalah obat galau. Sebenarnya banyak obat galau, tapi bisalah kita definisikan seperti ini: (1) tidur, langsung saja tidur kalau galau melanda, (2) nonton film, sebaiknya film bernuansa humor.

(3) Jalan ke pasar tradisional, sebab di pasar itu banyak penjual kecil yang susah payah mencari rejeki untuk membeli sesuap nasi, (4) membaca buku, dan yang paling mujarab adalah (5) segera beribadah, baik wudhu, dzikir,  sholat atau membaca alquran, atau bermuhasabah atau interospeksi diri.

Karena galau adalah sifatnya di dalam diri atau di dalam perasaan, maka saya menyebutnya adalah kampung galau. Kampung artinya berwujud ada dalam diri manusia. Semua orang memiliki kampung itu. Artinya semua orang pasti pernah merasakan galau, baik terlihat atau tidak terlihat.

Galau juga berasal dari hati. Karena hati itu tidak menetap dan dia sangat dinamis. Bisa saja sekarang galau dan beberapa waktu kemudian galaunya hilang atau sebaliknya. Jadi kalau kamu galau tenang saja, kamu tidak sendiri, karena di luar sana masih banyak orang-orang yang galau. Hehehe.

Lagi-lagi ini hanya sekadar catatan. Ingat, cuma catatan dari sebuah kampung yang bernama kampung galau.

Ankara, 1 Januari 2012
Catatan awal tahun

Rabu, 28 Desember 2011

Taare Zameen Par


Ini judul film India. Artinya: seperti bintang di bumi. Film bertema pendidikan ini berhasil mengobrak-abrik emosi hingga saya terharu. Saya selalu suka dengan film bertema pendidikan. Entah kenapa. Mungkin saja karena saya dibesarkan dalam lingkungan pendidikan. Ibu dan ayah saya adalah guru sekolah dasar. Mereka itulah yang memberikan pondasi yang sangat dasar dalam pendidikan pada diri saya.

Baiklah. Film ini saya dapatkan dari teman saya. Saya menonton di sela-sela tumpukan buku yang tak terbaca (baca: lagi malas belajar. #gakusahditiru). Hitung-hitung penyegaran atau hiburan. Film ini sebenarnya bukan film baru dan diproduksi pada tahun 2007. Film ini berbahasa India dan Inggris yang dicampur. Untungnya saja ada subtitle berbahasa Indonesia.


Film ini terfokus pada anak berusia delapan atau sembilan tahun yang sekolah di kelas 3 SD. Anak ini bernama Awasti Ishaan. Di awal film ini ditunjukkan bahwa Ishaan adalah anak kecil yang ceria dan berbeda dengan anak lainnya. Misalnya, saat ia pulang ke rumah, di depan rumah sudah ditunggu oleh dua anjing yang menyayanginya. Ia bermain-main dengan kedua anjing itu.

Ishaan lahir dalam keluarga yang penuh disiplin dengan sang ayah yang perfeksionis. Sang ayah setiap pagi berangkat ke kantor dan pulang di waktu sore atau petang. Laiknya orang tua yang sibuk. Semantara ibunya tinggal di rumah tanpa pembantu. Abang Ishaan adalah murid yang berprestasi di sekolahnya. Ayahnya ingin Ishaan bisa meniru abangnya.

Sudah dua tahun Ishaan mengulang di kelas 3. Namun, tak ada perubahan. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Semua nilai di mata pelajarannya adalah nol. Sekolahnya sudah tidak bisa membantu lagi. Kepala sekolah dan guru-gurunya memanggil ayah dan ibu Ishaan. Saking setresnya sang ayah menampar Ishaan dan memindahkan Ishaan ke sekolah yang berasrama. Artinya ia harus pisah dengan keluarganya.

Drama dimulai dari sini. Ia menggambar tentang sebuah perpisahan dengan keluarganya dalam satu buku gambar kecil. Sebelum pindah ke sekolah yang berasrama ia bermimpi buruk dengan bermimpi berpisah dengan ibunya dalam sebuah perjalanan. Ia menangis dan tak mau sekolah berasrama. Ayahnya ngotot agar si anak sekolah berasrama.

Saat anak ini berada di sekolah berasrama dan akan berpisah dengan keluarganya, Ishaan menangis. Adegan ini membawa ingatan saya terbang ke beberapa tahun di tahun 1996. Saat itu saya baru saja lulus SD dan harus berpisah dengan keluarga saat saya harus belajar di sekolah berasrama alias pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, ratusan kilometer dari rumah saya di Rangkasbitung, Banten. Saat itu hampir semua anak yang seumuran saya menangis karena sedih saat ditinggal kedua orangtuanya.

Di dalam mobil sang ibu tak mau melihat saat berpisah dengan Ishaan. Ibunya menangis. Sementara ayahnya biasa saja. Bukannya bertambah baik, Ishaan malah bertambah takut dengan guru-guru barunya di sekolah berasrama itu. Saking takutnya ia sering melamun dan menangis. Di dalam sekolah ia sering memandang keluar melihat burung atau yang lainnya. Ia tak bisa berkonsentrasi di kelas saat pelajaran. Semua gur mengeluh terhadap Ishaan.

Sampai akhirnya datanglah seorang guru seni yang mengajar di kelas Ishaan. Guru muda ini punya cara tersendiri dalam mengajar murid-muridnya. Ia tak seperti guru lainnya yang mengajar dengan cara kolot atau membosankan. Guru seni ini bernama Nikumbh (yang tertulis di subtitle). Ia terkaget melihat anak muridnya yang tak bergembira seperti murid-murid lainnya. Di dalam matanya terdapat ketakutan yang akut. Kata Nikumbh mengomentari mata Ishaan.

Nikumbh penasaran dan akhirnya mendapatkan dan membaca-baca buku catatan Ishaan. Semua bukunya dipenuhi dengan tinta merah. Artinya semuanya pelajaran tak ada yang bagus bagi Ishaan. Nikumbh datang ke rumah Ishaan dan menemui kedua orangtuanya. Ia bertanya kepada kedua orangtua Ishaan, mengapa ia sekolahkan anaknya di sekolah berasrama. Ayahnya menjawab dan bersikeras kalau Ishaan adalah anak idiot, bodoh. Nikumbh menerangkan kalau Ishaan itu mengidap Disleksia.

Disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Dalam buku catatan Ishaan, ia kesusahan menulis huruf-huruf dan angka-angka. Banyak yang terbalik. Imajinasi Ishaan lebih pada warna dan khayalan. Dan ini ditunjukan dengan gambar-gambar yang dilukis oleh Ishaan sangat mengagumkan.

Mengetahui hal ini Nikumbh mengawali belajar mengajar di kelas dengan bercerita tentang kegagalan Albert Einstein sang pencipta teori relativitas. Einstein kecil dianggap murid yang bodoh, namun setelah dewasa menjadi orang yang sangat terkenal dengan keilmuan yang dimilikinya. Cerita-cerita heroik ini berhasil menumbuhkan kembali semangat Ishaan.

Kepercayaan diri yang pernah hilang itu kini tumbuh lagi. Ishaan berhasil membuat pesawat mini yang bisa berjalan di atas air. Nikumbh juga mengajarkan Ishaan membaca, menulis dan berhitung dengan metode yang berbeda. Akhirnya Ishaan bisa mengikuti semua palajaran. Di akhir cerita Nikumbh membuat acara lomba menggambar untuk semua murid dan guru di sekolah berasrama itu.

Semua murid dan guru berkumpul di satu tempat seperti ruang teater terbuka. Seperti gedung teater kuno yang berada di Ephesus Izmir atau gedung teater di Pamukkale Turki. Semua peserta diberi satu kertas karton. Meski lomba sudah dimulai namun Ishaan belum juga muncul. Ia keluar asrama di saat orang-orang masih terlelap tidur. Ia mencari inspirasi di danau dekat sekolah. Dan akhirnya datang ke tempat perlombaan menggambar.

Ceritanya sudah bisa ditebak. Ishaan menjadi juara menggambar mengalahkan gurunya. Bahkan gambarnya itu dibuat buku kenangan oleh sekolahnya. Pesan film ini sangat jelas. Di zaman serba kompetisi ini orangtua banyak yang memaksakan kehendaknya di atas kehendak anaknya. Anak dipaksa untuk meraih apa yang diimpikan orangtuanya. Dengan dalih hal itu yang terbaik bagi anaknya. Padahal belum tentu.

Beberapa tahun lalu saat saya mengajar di Ponorogo, Jawa Timur, saya banyak mendapati hal seperti ini. Ada orangtua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah berasrama atau pesantren karena berharap anaknya berubah menjadi baik. Dengan bahasa lain pesantren adalah pencetak anak yang baik. Bagi saya, hal itu adalah salah. Karena pendidikan etika bermuara pada lingkungan keluarga. Pesantren atau sekolah manapun hanya membantu anak untuk menemukan apa yang dicita-citakan sang anak.

Kita mungkin masih ingat apa yang dikatakan Jean-Jacques Rousseau, bahwa anak itu seperti kertas putih yang siap menerima tinta apa pun untuk mengisinya. Artinya pendidik yang paling pertamalah yang menentukan akan dibawa kemana anak itu. Dan pendidik yang pertama itu adalah keluarga.

Ankara, 28 Desember 2011


Selasa, 27 Desember 2011

Akhir dan Awal


Akhir dan awal
Tak jauh beda
Hanya dibatasi
Dengan satu titik

Akhir adalah ujung
Pun awal adalah ujung
Tengahlah yang mengatur
Akan sebuah akhir

Akhir yang manis
Tak mesti berawal indah
Pun Awal yang asik
Tak berarti berakhir senyum

Diantara keduanya
Kita disadarkan
Akan arti 
Sebuah ujung

Hidup adalah pengulangan
Dan jika itu sebuah kesadaran
Maka dimana
Arti sebuah dinamika

Mungkin baik jika yang 
diulang kesuksesasan
Jika sebaliknya?
Ah, semoga saja tidak

Jika awal adalah akhir
Akhir adalah awal
Mengapa risau dengan apa 
yang terjadi di awal dan akhir

Akhir dan awal 
Ibarat empat arah angin
Barat timur
Utara selatan

Tak ada ketentuan 
Yang mutlak
Antara timur barat
Atau selatan utara

Jakarta bisa barat
Bagi orang  Surabaya
Jakarta adalah timur
Untuk orang Lampung

Kita hidup di zaman
Yang tak kenal jarak
Semua serba dekat
Meski tak berdekatan

Hanya orang kuat 
dalam emosi kemajuan
Yang dapat menaklukkan
Akhir dan awal

Ini hanya sebuah tetulis
Tentang akhir dan awal
Yang selalu berhubungan
Dalam kesadaran

Ankara, Akhir dan Awal di 2011 dan 2012

Mengapa (Sebuah Pertanyaan)


Mengapa mesti takut pada dingin?
Mengapa harus lari dari panas?
mengapa selalu mengeluh saat suasana tak bersahabat?
Mengapa selalu marah dengan sesuatu yang tak jelas?

Pernahkah melihat burung mengeluh saat ia kelaparan?
Pernahkah melihat pohon yang daunnya berguguran saat musim panas habis?
Pernahkah mendengar anjing tetap menggongong di tengah malam musim dingin?
Pernahkah melihat ayam mengorek-ngorek tanah saat ia mencari makan?

Dimana kita saat orang-orang bersedih?
Dimana kita saat orang-orang kelaparan?
Dimana kita saat orang-orang membutuhkan pertolongan?
Dimana kita saat bencana menimpa orang?

Aku bertanya pada bulan
Aku berdialog sama matahari
Aku berbincang dengan pohon pohon
Aku menggugat binatang

Kenapa bulan bersinar di malam hari?
Kenapa matahari terbit dengan cahaya yang tak pernah berhenti?
Kenapa pohon masih hidup di musim yang ekstrem?
Kenapa binatang selalu memberikan pelajaran bagi manusia?

Sudahkah kita membalas kebaikan tanah, air, udara, api?
Sudahkah kita berbuat baik terhadap musuh?
Sudahkah kita berdoa untuk kebaikan umat manusia?
Sudahkah kita berdamai dengan diri kita sendiri?

Istanbul, 25 Desember 2011


Rabu, 21 Desember 2011

Kejutan!

Dulu pas saya kecil baik pas di sekolah dasar ataupun semasa balita, kesibukan saya adalah menghadiri undangan ulang tahun teman yang merayakannya. Kami selalu membawa kado, apa pun isinya, seperti sabun, odol, atau mainan  anak-anak. 

Tapi sayangnya, saya tak pernah merayakan dengan mengundang teman-teman saya. Tak mengerti apa alasan orangtua saya untuk hal itu. Paling banter ibu saya memasak nasi uduk kumplit dan membagikannya kepada tetangga, satu persatu, sembari mengetuk hati mereka untuk mendoakan kami yang ulang tahun.

Ulang tahun sejatinya adalah perayaan atas kehadiran kita pertama kali di dunia ini dari rahim ibu kita. Semua orang pasti hafal tanggal lahirnya. Zaman sekarang yang canggih ini, orangtua yang melahirkan anak langsung membuat akta kelahirannya. 

Zaman dulu, kebiasaan orang tua kita adalah menuliskan tanggal-tanggal bersejarah, termasuk hari ulang tahun, di telinga pintu lemari. Sialnya, kalau rumah itu pindah dan lemari ditinggalkan atau kebakaran maka data-data yang ditulis di lemari itu hilang.

Apalagi dengan adanya sosial media (sosmed) semisal facebook, twitter, google+, blog dan yang lainnya, kita dengan mudah akan mengetahui kapan seseorang memperingati ulang tahunnya. 

Bahkan, orang yang baru kita kenal di sosmed itu juga mengucapkan selamat pada kita. Atau kita dengan tiba-tiba diingatkan oleh akun e-mail kita bahwa salah satu teman kita hari itu hari ulang tahunnya.

Pada hakikatnya ulang tahun adalah peringatan dari Tuhan untuk kita agar kita bertambah bersyukur atas nikmat yang telah diberikanNya. Di hari ulang tahun juga kita disadarkan untuk mereflesikan apa yang telah kita lakukan. 

Apa yang telah kita hasilkan demi kemaslahatan, paling tidak kemaslahatan diri sendiri, syukur-syukur untuk lingkungan kita. Sebab, kata pepatah, orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat bagi yang lainnya.

Saat kita ditimpa musibah atau cobaan misalnya, kita dengan mudah mengutuk diri kita atau lingkungan kita, bahkan tak jarang mengutuk Tuhan. Tapi sebaliknya, kalau kita menerima rejeki atau kebahagiaan kita susah untuk bersyukur. 

Padahal setiap detik adalah rejeki yang diberikan Tuhan kepada kita. Tapi kita tidak sadar. Kita sadar jika itu semua sudah pergi. Semoga kita cepat tersadar dan tergerak untuk selalu bersyukur.

Dan mungkin kita tidak sadar dengan apa yang kita ucapkan itu memiliki efek. Ucapan selamat ulang tahun itu merupakan sebuah perhatian, paling tidak. Meski ini seperti sepele. Bahkan kita yang mengucapkan terkesan biasa, tapi responnya luar biasa.

Orang jadi merasa diperhatikan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya, apalagi kalau ucapan itu datang dari orang terkasih. Oh indahnya!

Hidup kita menjadi bermakna disaat kita dihargai keberadaan kita di lingkungan kita. Penghargaan akan keberadaan kita banyak rupanya, perhatian adalah salah satunya. 

Maka jangan aneh jika dalam keluarga si orangtua mendidik anaknya dengan perhatian dan kasih sayang, maka si anak itu akan tumbuh dengan penuh cinta. Pun sebaliknya, jika anak dididik dengan acuh, maka ia akan menjadi dewasa yang kurang mengerti akan kasih sayang.

Kemarin, Selasa, 20 Desember adalah hari ulang tahun saya. Hampir semua orang yang terdekat saya mengucapkan uacapan itu. Kedua orangtua dan kakak-kakak saya pun mengucapkannya. 

Ucapan mereka yang terpisah samudera dan ribuan kilometer itu terasa dekat. Seakan mereka hadir. Ya, mereka selalu hadir di hati saya. Sampai kapan pun. Begitupun, orang-orang yang berada di sekitar saya saat ini. Tanpa diminta pun mereka memberikan hadiah. Ini adalah kejutan!

Bagi saya, orang yang memberikan kejutan kepada orang lain, maka ia akan terkejut-kejut dengan kejutan lainnya yang menghampiri dirinya. Kita masih ingat pesan Tuhan dalam Al-Quran, kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan. 

Dalam tulisan ini saya khusus mengucapkan terimakasih dan memanjatkan doa kepada Tuhan, berilah kejutan yang paling indah kepada orang yang telah memberikan kejutannya kepada saya. Amin!

Selasa, 20 Desember 2011

Senyum itu..


Oleh Deden Mauli Darajat

Mentari sesaat lagi menyusut
Di ufuk barat
Aku terduduk di taman
Pada senja itu

Ia mengisyaratkan senyum
Yang membuat
Badanku hangat
Di musim dingin ini

Senyum itu pernah hilang
Dan ia datang kembali
Akan menemani
Hari-hariku

Burung-burung berkicau di atas
dahan pohon yang tak berdaun
Laiknya orang-orang
Berpetuah di twitter sana

Udara musim dingin
Terasa nikmat sekali
Karena di tanggal dan bulan ini
Kami dilahirkan di bumi

Bahkan tak terasa dinginnya
Karena ia memberikan
Senyumnya itu
untukku

Ankara, di Selasa senja 20 Desember 2011

Jumat, 16 Desember 2011

Dua Rasa Masakan Indonesia

Hampir setiap pagi menu sarapan saya adalah satu gelas susu, satu buah roti (simit/poğaça)  dan sebutir telur rebus. Sebenarnya saya enggan menyebutnya sarapan karena menu itu adalah menu kahvaltı (dalam bahasa Turki). Bagi saya atau bagi kita sarapan adalah makan pagi dengan menu nasi dan lauk pauknya, baik tempe atau yang lainnya. Sementara kahvaltı adalah makan pagi khas Turki.

Suatu ketika saat menemani tamu yang datang dari Jakarta ke Ankara dan tinggal di hotel bertanya pada saya, apakah ada sarapan di hotel ini, saya jawab ada di lantai dasar. Tamu itu mengatakan bahwa menu pagi di hotel adalah breakfast bukan sarapan. Artinya yang disediakan untuk makan pagi adalah roti, keju, telur dan yang lainnya dan bukan nasi dan lauk pauknya.

Teman saya yang baru tinggal di asrama suatu pagi mengajak saya untuk makan. Dia mengajak saya ke restoran asrama yang biasa menyediakan nasi, sayuran, ayam, daging, dan lainnya. Sebab ia belum tahu kalau restoran itu hanya dibuka dari siang hingga malam. Dan untuk menu pagi hanya menyediakan roti, telur, keju, madu, buah zaytun dll. Teman saya hanya tersenyum kecut.

Bagi kita yang sekolah di luar Indonesia, hal yang harus dibiasakan adalah menerima makanan asing di lidah kita. Bagi sebagian orang ini tidak mudah, sebagian lagi ini bukan masalah besar. Bagi saya menerima makanan asing di lidah saya tidak begitu susah, karena menurut saya adalah bagaimana perut ini bisa diisi agar bertenaga untuk melaksanakan kegiatan.

Tetapi tidak bagi teman saya, Syamwil misalnya. Ia agak kesusahan untuk memakan makanan asing. Saat makan siang di restoran kampus, ia hanya makan yang hanya diterima lidahnya saja. Dan ia berikan makanan lainya ke rekannya yang berada di sampingnya. Inı terjadi saat pertama-tama ia berada di Turki.

Tulisan ini sebenarnya diilhami saat pagi tadi membaca koran berbahasa Turki sambil menyantap menu kahvalti. Ingatan saya tertuju pada masa dimana saya kuliah S1 dan ngekost di kawasan Ciputat. Setiap pagi saya membaca koran yang dikirim oleh sang loper. Sembari membaca koran itu saya menunggu pedagang nasi uduk yang keliling kost-kost mahasiswa. Nasi uduk dengan lauk gorengan tahu atau tempe menjadi makanan favorit kami setiap pagi beberapa tahun lalu.

Untuk menemukan makanan Indonesia di Turki agak susah memang. Berbeda dengan di Mesir atau Arab Saudi atau negara lainnya. Di Mesir misalnya, kita tidak akan kesusahan mencari ayam bakar, masakan Padang, bubur ayam atau sate Madura. Karena selain belajar, sebagian mahasiswa di sana juga berwirausaha dengan mendirikan restoran masakan Indonesia. Atau untuk makanan instan kita bisa beli mie instan di warung-warung yang tersebar di mana-mana.

Inilah yang berbeda dengan di Turki. Sampai saat ini belum ada satu pun restoran Indonesia, khususnya di Ankara. Yang ada hanyalah restoran China atau Thailand yang sedikit mirip dengan masakan Indonesia. Bahkan untuk mie instant saja susah mendapatkannya di mall atau pusat perbelanjaan. Bukan karena tidak ada. Tapi karena, jika ada mie instant itu langsung habis diborong sama orang Indonesia. Dan saya jarang kebagian. Mengenaskan.

Mie instant ini sebenarnya penggemarnya bukan hanya orang Indonesia. Suatu ketika saya membawa beberapa bungkus mie instant untuk temen saya orang Kirgistan dan Albania. Tujuan saya hanya untuk memperkenalkan masakan Indonesia. Tidak disangka kedua temen saya itu menyukainya. Bahkan orang Albania itu selalu menagih mie instant jika kami bertemu. Walah repotnya. Bukan karena gak mau ngasih, cuma mie instant ini susah didapat.


Lantas bagaimana jika kita kangen dengan masakan Indonesia. Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara juga untuk mendapatkannya. Salah satunya adalah membeli bahan masakan dan dimasak dengan resep masakan Indonesia. Ini agak repot memang, karena tidak semua bahan masakan itu dijual di sini. Yang paling mudah adalah menghadiri undangan dari KBRI dalam suatu acara yang menyediakan jamuan makanan. Undangan ini pun jarang adanya. Namun yang pasti hanya ada dua rasa masakan Indonesia di sini, yang pertama adalah enak dan kedua enak sekali.