Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Jumat, 10 September 2010

Berlebaran di Negeri Orang

(Dimuat di Detik.com, Jumat 10/9/2010)


Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara)




Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…


Takbir menggema di dalam masjid Hasan Tanik Cankaya Ankara, Turki. Tepat pukul 07.00 Waktu Turki kami melaksanakan shalat Ied di masjid dekat rumah kami itu, Kamis (9/9/2010). Saat kami datang 15 menit sebelum dimulai shalat rupanya jamaah sudah memenuhi ruangan masjid. Sejumlah orang pun sudah menggelar tikar di halaman masjid.


Untungnya masih ada shaf kosong di bagian tengah dan saya pun duduk di sana. Sebisa mungkin saya khusuk mengalunkan takbir yang rasanya sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Berbeda karena di sekeliling saya adalah orang-orang Turki. Rasanya ingin shalat Ied berjamaah bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halaman.


Usai shalat kami bersalaman bersama imam masjid yang merupakan imam tetap di masjid itu. Pemerintah Turki sudah menetapkan satu imam dan wakilnya di setiap masjid. Dan imam shalat Ied itu adalah imam kami juga saat shalat tarawih. Selain menjadi imam, ia pun menjadi khatib pada shalat Ied. Juga menjadi imam dan khatib di setiap shalat Jumat.


Imam masjid merupakan petugas yang ditunjuk pemerintah dan digaji setiap bulannya. Hanya sesekali saja imam itu diganti oleh wakilnya. Pemerintah Turki juga sudah menetapkan Idul Fitri jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan hingga tahun 2015 mendatang pun sudah ditetapkan kapan dilaksanakan Idul Fitri dan Idul Adha. Tak ada perbedaan pendapat soal lebaran di negeri ini.


Saat keluar masjid, ada beberapa orang yang membagikan manisan di depan pintu masjid. Manisan itu dibagikan kepada jamaah yang sudah melaksanakan shalat Ied. Saya pun mencicipi manisan itu. Di luar masjid teman kami yang juga warga Indonesia sudah menunggu, sebagian besar adalah mahasiswa sebagian lainnya staf KBRI Ankara dan warga Indonesia yang menetap di Turki.


Kami saling bersalaman dan berpelukan satu sam lain. Hangat sekali. Sesekali bersenda gurau. Sebenarnya orang-oang Indonesia yang kami temui usai shalat itu adalah orang-orang yang juga sering kami temui saat buka puasa bersama pada bulan Ramadhan lalu.


Dalam perjalanan menuju rumah, suasana di sekeliling komplek kami sangat sepi. Mungkin mereka sedang bercengkrama dengan keluarganya masing-masing. Kami pun berlima yang menempati rumah tak mau kalah. Bahkan beberapa hari sebelum lebaran kami sudah menyiapkan masakan Indonesia. Ini dilakukan agar kami masih merasakan berlebaran di Indonesia. Memang tak banyak yang kami buat, hanya membuat lontong dan opor ayam. Namun, cukuplah untuk sedikit merasakan.


Ada yang menarik yang disampaikan penceramah sebelum shalat Ied dimulai. Ia mengatakan, kita harus bersyukur masih bisa melaksanakan dan merayakan lebaran Idul Fitri dibanding saudara-saudara muslim lainnya yang tidak bisa merayakannya seperti umat Muslim di Pakistan yang dilanda musibah. Rasanya saya malu saat saya harus sedih karena tidak bisa berlebaran bersama keluarga, karena ternyata masih banyak orang-orang yang belum bisa berlebaran.


Pembaca yang budiman, akhirnya, dari lubuk hati yang terdalam, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriyah, Allahummaj’alna minal ‘aidin wal faizin, Taqabbalallahu minna waminkum, Kullu ‘am wa antum bi khair. Mohon maaf lahir dan batin.


Ankara, Turki, Kamis 9 September 2010/1 Syawwal 1431 H


Dapat juga diakses di: http://ramadan.detik.com/read/2010/09/10/093654/1438709/631/berlebaran-di-negeri-orang

Senin, 23 Agustus 2010

Ramadhan Terpusat di Taman Pemuda Turki

(Dimuat di Republika, Senin, 23 Agustus 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Tausiah Ramadhan disajikan melalui layar raksasa yang juga disiarkan langsung oleh Beyaz TV.


Ibu kota Turki, Ankara, dikenal banyak memiliki taman kota yang indah dan menawan. Tidak sulit mencari taman di Ankara sebab hampir di setiap sudut kota terdapat taman. Taman itu tertata rapi dilengkapi air mancur yang menghiasi. Tak ketinggalan bunga-bunga warna-warni bertebaran di sekitar taman kota. Bahkan, ada juga alat-alat olahraga gymnastic yang bisa digunakan warga sekitar.


Salah satu taman yang sangat ramai selama bulan Ramadhan 1431 H adalah Genclik Park atau Taman Pemuda. Taman yang terletak di daerah Ulus ini, oleh pemerintah Provinsi Ankara, ditetapkan menjadi pusat kegiatan Ramadhan tahun ini.


Genclik Park disulap menjadi arena pameran. Di tengah taman itu, terdapat dua panggung. Panggung pertama untuk tausiah Ramadhan menjelang berbuka dan panggung kedua untuk pementasan musik pada malam hari.


Tausiah Ramadhan tiap sore itu disiarkan live oleh Beyaz TV. Bahkan, di depan pintu masuk Genclik Park, siaran langsung itu bisa dinikmati melalui layar lebar.


Banyak warga sekitar yang datang ke Genclik Park untuk berbuka puasa. Ada juga warga yang membawa sanak keluarganya sambil membawa makanan dan minuman untuk berbuka. Di belakang tenda-tenda pameran, para warga itu menggelar tikar dan menyantap santapan buka puasa.


Bagi yang tidak membawa makanan buka puasa, panitia acara menyediakan tenda besar untuk berbuka puasa gratis. Tenda besar yang dapat menampung lima ratusan orang itu disponsori oleh Gubernur Ankara, Melih Gokcek.


Tahun ini merupakan tahun pertama saya melaksanakan ibadah puasa di Turki sebagai mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara. Ramadhan tahun ini, bertepatan dengan musim panas, artinya puasa pada musim panas lebih lama dibanding musim-musim lainnya.


Kali ini, buka puasa di Turki sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Sebelum berbuka puasa, saya menghabiskan waktu mengunjungi stan di arena Genclik Park. Di sana, terdapat puluhan stan penjual aksesori, sepatu, kaus, buku, dan lain-lain. Di sekitar taman itu pun, disediakan masjid untuk shalat.


Yang menarik, di samping Genclik Park, terdapat juga Taman Luna Park. Taman ini merupakan taman wisata permainan, seperti Ancol atau Dunia Fantasi di Jakarta.


Selain perayaan Ramadhan di Genclik Park, ada pusat perbelanjaan Mal Panora. Pihak pengelola mal itu memeriahkan bulan puasa dengan menampilkan tarian Sema setiap hari Jumat dan Sabtu. Tarian Sema yang merupakan tarian sufi Maulana Jalaluddin Rumi ini ditampilkan satu jam menjelang buka puasa selama bulan Ramadhan.


Sejatinya, Maulana Jalaluddin Rumi bernama lengkap Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau sering disebut dengan Rumi. Ia adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada 6 Rabiul Awal 604 Hijriyah atau 30 September 1207 Masehi. Untuk mengenangnya, Pemerintah Turki membangun pusat kebudayaan Maulana Jalaluddin Rumi di Konya, Turki.


Selain menjalani Ramadhan, tahun ini juga kali pertama saya merayakan kemerdekaan ke-65 Republik Indonesia di Turki. Perayaan kemerdekaan RI di Wisma Kedutaan Besar Republika Indonesia (KBRI) Ankara, beberapa hari lalu, dihadiri masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Turki.


Biasanya, setelah upacara, pihak KBRI menyediakan makanan khas Indonesia yang jarang kami temui di Turki. Namun, hari itu kami menundanya hingga berbuka puasa.


Panitia dari KBRI dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki membuat acara kerohanian sebelum berbuka puasa. Sehabis Zuhur, ruang serbaguna disulap menjadi masjid. Para pelajar pun membaca Alquran sambil ngabuburit.


Menjalani Ramadhan di negeri orang kerap menimbulkan kerinduan dengan rumah dan orang tua. Namun, kebersamaan dengan orang Indonesia lainnya di Turki cukup bisa menghibur hati dan kerinduan saya kepada keluarga di Indonesia.


Kebahagiaan yang tak terkira bagi kami, warga Indonesia, karena dapat saling bersilaturahim. Terlebih lagi, kami dapat menikmati hidangan buka puasa dengan makanan khas Indonesia yang jarang kami temui. ed: andi nur aminah


Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/99/117786/Ramadhan_Terpusat_di_Taman_Pemuda_Turki

Minggu, 22 Agustus 2010

Israel Ubah Politik Turki

(Dimuat di Majalah Gontor, Edisi Juli 2010)


Oleh: Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Senin pagi di akhir Mei 2010, ratusan aktivis kemanusiaan Freedom Flotilla yang meng- gunakan kapal Mavi Marmara yang berangkat dari Turki menuju Gaza, Palestina diserang tentara khusus Israel di perairan internasional. Akibatnya aktivis dan sejumlah jurnalis yang ikut dalam pelayaran itu menjadi korban kebrutalan tentara Zionis. Sadisnya lagi, penyerangan itu dilakukan dari udara dan laut oleh pasukan katak tentara khusus Israel.


Awak kapal yang sejatinya ingin membantu orang-orang di Gaza yang tak bersenjata itu ditembak tanpa ampun. Tak ada perlawanan dari para aktivis itu. Bahkan bendera putih telah berkibar sebelum sampai di Gaza. Namun, pasukan khusus tentara Israel tetap menghabisi mereka dengan dalih mereka diserang dari kapal Mavi Marmara. Awalnya hanya granat kejut, bom asap, dan peluru karet. Namun, kemudian peluru betulan keluar juga dari senapan mereka. Puluhan orang terluka, dan sejumlah lainnya terbunuh dalam tragedi itu. Setelah penyerangan yang membabi buta itu geladak kapal bersimpah darah.


Di antara aktivis yang berada di kapal Mavi Marmara itu terdapat 12 warga negara Indonesia (WNI). Beruntung, ke-12 WNI itu selamat dari kematian. Salah satu rombongan dari Indonesia adalah jurnalis TV-One, Muhammad Yasin. Saya mengenal Yasin sejak bertugas bersama di wilayah Jakarta Timur. Saat mengetahui kabar bahwa Yasin termasuk dalam rombongan kemanusiaan itu saya mengkhawatirkan keadaannya dan keadaan WNI lainnya. Alhamdulillah, semua WNI selamat dari kebrutalan Israel itu.


Sehari sebelum pulang ke Indonesia, saya sempat melakukan pembicaraan melalui fasilitas jejaring sosial. Yasin mengatakan dirinya baik-baik saja, meski beberapa hari saat penyerangan itu, ia dan sejumlah relawan kema- nusiaan lainnya tidak bisa tidur. “Alhamdulillah saya bertambah baik,” katanya. Kedatangan Yasin pun disambut meriah di Indonesia. Rekan-rekan jurnalis lainnya yang berkumpul di Jakarta Timur menyambutnya dengan hangat.


Tragedi Mavi Marmara yang mene- waskan sembilan warga negara Turki telah mengubah peta hubungan baik antara Turki dan Israel. Turki menarik duta besarnya dan menuntut Israel minta maaf dan segera mengakhiri blokade atas Gaza. Turki marah besar atas kebrutalan tentara Israel yang menembaki para relawan kemanusiaan yang akan masuk Gaza. Turki merasa dikhianati Israel. Karenanya Turki menurunkan status hubungan dengan Israel, khususnya di bidang ekonomi dan pertahanan.Wakil Perdana Menteri Tukri Bulent Arinc mengungkapkan, semua kesepakatan dengan Israel tengah dievaluasi. ”Kami serius dalam masalah ini. Kerjasama baru tidak akan dimulai dan hubungan dengan Israel dikurangi,”katanya.


Akibat dari serangan brutal itu, ber- bagai aksi demontrasi anti Israel pun terjadi di berbagai daerah di belahan dunia, seperti halnya di Istambul dan Ankara, Turki. Di Ankara, puluhan mahasiswa turun ke jalan melakukan aksi mengutuk kekerasan dan ke- brutalan Israel. Para pendemo sore itu bergerak dari Dikimevi menuju Kizilay, pusat keramaian Ankara.
Meski hanya puluhan orang, namun teriakan ganyang Israel dan teriakan takbir dan tahlil yang dikumandangkan menarik perhatian banyak orang. Puluhan orang melihat aksi itu dari jejeran bangunan apartemen di se- panjang jalan menuju Kizilay.


Masih di pekan yang sama, ratusan mahasiswa dan warga Turki turun ke jalan yang berujung di depan kedutaan Israel di Ankara. Para demonstran itu membawa bendera Palestina dan Turki. Mereka mengecam kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel di perairan internasional itu.


Selain demontrasi yang dilakukan banyak pihak di berbagai daerah dan belahan dunia, banyak juga pihak yang mengecam kebrutalan Israel. Di antaranya disuarakan oleh Aliansi Per- himpunan Pelajar Indonesia di Luar Negeri atau PPI Dunia. Ketua Dewan Formatur PPI Dunia, M Fadlillah Fauzulhaq, menyatakan pihaknya mengecam pemblokadean Israel dan Mesir terhadap jalur Gaza sejak 2007 yang telah melanggar Hak-Hak Dasar Umum Kemanusiaan (Universal Declaration of Human Rights) yang tertera dalam United Nations Charter.


Selain itu, kata Fadlillah, pihaknya juga mengecam penyerangan Israel terhadap kapal Mavi Marmara yang telah menimbulkan korban luka dan korban jiwa pada 31 Mei 2010. Pe- nyerangan di laut bebas ini merupa- kan pelanggaran terhadap Pasal 87, 88, 89 dan 90 UNCLOS (United Nations Conventions on the Law of The Sea).


PPI Dunia, lanjut Fadlillah, me- nuntut Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk meminta pertanggung- jawaban Israel dalam kasus tersebut dan melakukan penyelidikan dan pengadilan terhadap semua pihak yang terkait berdasarkan hukum in- ternasional. Selain itu, tambahnya, pihaknya juga meminta kepada semua negara di dunia untuk menekan Israel dalam memenuhi resolusi PBB (Resolusi S-9/1 tentang Perang Gaza) demi terbentuknya perdamaian di Timur Tengah dan Dunia.


Tak Pernah ke Gaza


“Al-Quds milik kami,”dan“Gaza di hati kami.” Dua kalimat itu tertera pada sorban orang-orang Palestina yang sedang mempresentasikan tentang negaranya di gedung pusat bahasa Uni- versitas Ankara, yang dalam bahasa aslinya “Al-Quds lana, wa Gazzah fi qulubina”. Tak seperti biasanya, saat menyaksikan pemaparan tentang Palestina, para penonton yang biasanya berisik, kali ini tidak ada suara sedikit pun. Mereka terdiam. Sebagian air mata mereka berlinang, ada juga yang menangis tersedu sedan.


Betapa tidak, pasalnya para penyaji itu menampilkan video tentang perang, tentang perjuangan orang-orang Pales- tina yang tak pernah menyerah meski dijajah Israel, tentang anak-anak yang tak berdosa yang menjadi korban kebiadaban Israel. Dalam video itu tergambar sejumlah anak yang terkena senjata pasukan Israel. Ada yang matanya hilang dan darah mengucur dari matanya seperti air mata yang mengalir saat menangis, dan ada pula anak yang diimpus di salah satu tempat penanganan darurat.


Di sesi lainnya, seorang warga Pa- lestina, diseret oleh tiga tentara Israel yang dilengkapi dengan senjata. Tidak sedikit perempuan-perempuan tua me- nangis melihat kekejaman tentara Israel seraya memeluk anaknya yang sudah tak bernyawa. Di tengah pertunjukan itu, seorang kawan lelaki asal Palestina yang sedang memaparkan negaranya, Samer Mhanna, meneteskan air mata. Dia tidak tega melihat negaranya diporakporandakan Israel.


Biasanya, pemaparan suatu negara dilengkapi dengan pengenalan budaya, bahasa, makanan, maupun ragam kesenian dari negara itu. Mahasiswa asal Indonesia,misalnya, menampilkan budaya, bahasa yang ratusan jenisnya, tarian Saman dari Aceh, serta beberapa musik pop Indonesia. Namun, mahasiswa asal Palesti- na tidak menampilkan budaya, makanan, maupun tarian, apalagi nyanyian musik pop. Mereka hanya memperkenalkan sejarah. “Kami tak tahu bagaimana harus menampilkan kebudayaan atau apapun yang negara lain tampilkan, kami hanya menyaji- kan keadaan yang sesungguhnya sedang terjadi di negeri kami,” kata Muayad Qasim, salah seorang dokter asal Palestina yang melanjutkan studinya dengan beasiswa pemerintah Turki di Ankara.


Dari empat video yang ditampilkan, salah satunya adalah video pidato tentang pendirian negara Palestina yang dikumandangkan oleh Yasser Arafat. Terpancar dari mata kelima orang Palestina yeng memaparkan negaranya sebuah pengharapan akan terulangnya kedaulatan yang utuh negara Palestina. Mereka masih mendambakan negara yang utuh yang tak ada gejolak apapun di negeri para nabi itu.


Muayad mengatakan, kehidupan yang digambarkan dalam video itu merupakan gambaran kehidupan bangsa Palestina sehari-hari. Sewaktu dia mengenyam sekolah menengah di wilayah Nablus, Palestina, cerita Muayad, tank tentara Israel mengelilingi sekolahnya dan tank itu berdiam diri di depan sekolahnya. Ia dan teman-teman sekelasnya sudah biasa melihat pemandangan itu. Aktivitas belajar mengajar tetap berjalan, meski dentuman keras keluar dari tank itu.


“Kehidupan di Palestina tetap berjalan seperti biasa meski bangun- an-bangunan, baik sekolah maupun perkantoran runtuh,” kata Muayad. Saat ditanya bagaimana ia bekerja sebagai dokter gigi di Palestina, Muayad menyatakan, dirinya bekerja seperti biasa, masuk pagi dan pulang kerja di sore hari. Baginya tak ada bedanya bekerja di manapun, yang membedakan hanyalah situasi. Keadaan seperti itu masih berjalan hingga saat ini.


Ketika dimintai komentar tentang tragedi Mavi Marmara, Samer menga- takan, ia tak bisa berkomentar apa- apa. Dia hanya bisa berdoa agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada orang-orang Palestina dan orang- orang yang memberi bantuan untuk bangsanya. Di akhir perbincangan saya dengan kedua rekan asal Palestina itu, mereka mengatakan, “Selama hidup di Palestina, kami tak pernah menginjak tanah Gazza, meski kami mencintainya,” tandas Muayad yang diamini Samer.

Jumat, 20 Agustus 2010

Menengok Masjid Pertama di Afrika

(Dimuat di Republika, Jumat, 20 Agustus 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)




Masjid Amru Bin Ash adalah masjid pertama yang berdiri di benua Afrika.






Mesir merupakan negeri yang penuh dengan bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Masjid Amru Bin Ash. Inilah masjid pertama berdiri di benua Afrika. Rumah Allah itu didirikan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga penakluk negeri Mesir, Amru Bin Ash.




Masjid yang berdiri di kota Kairo itu dibangun pada tahun 641 M/21 H. Ketika saya berkunjung ke Negeri Kinanah, beberapa waktu lalu, untuk menghadiri Workshop Internasional dan Sosialisasi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Kairo, sahabat saya, Mahir Mohamad Soleh, mahasiswa Universitas Al-Azhar, mengajak mengunjungi masjid tertua di Mesir yang juga tertua di benua Afrika itu.




Di Masjid Amru bin Ash, saya sempat melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Namun, shaf (barisan-red) shalat berjamaah itu tidak dilakukan di shaf yang paling depan, melainkan di shaf belakang. Menurut Mahir, hal ini dilakukan jika jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah sedikit, namun jika membludak maka shalat berjamaah biasa dilakukan mulai dari shaf yang paling depan.




Sebelum shalat kami mengambil wudlu. Tempat wudlu di masjid itu sangat menarik, karena dibagi menjadi dua. Tempat pertama diperuntukkan bagi yang menggunakan sandal, sementara yang menggunakan sepatu bisa melepasnya dan tanpa alas kaki langsung mengambil wudlu di tempat yang disediakan.




Usai shalat, saya merebahkan diri di atas lantai masjid yang terhampar karpet merah. Angin sepoi-sepoi menyapa kami. Di antara jamaah shalat Ashar pun ada yang terlelap tidur. Meski musim panas, udara di dalam masjid itu tidak terasa panas. Bagian tengah masjid itu tidak beratap dan lantai marmernya pun tidak diberi karpet.




Di tengah-tengah bagian masjid yang terbuka itu, tersedia air siap minum. Di bagian depan masjid ada sekelompok orang yang sedang berdiskusi. Saya tak tahu apa yang mereka diskusikan. Tiang-tiang masjid yang tertata rapi membuat masjid itu jadi bernilai seni tinggi. Masjid itu sempat menjadi tempat syuting filmKetika Cinta Bertasbih yang diadopsi dari novel yang sama karya Habiburrahman El-Shirazy.




Mahir mengatakan, saat hari-hari besar umat Islam dan bulan puasa, masjid itu selalu penuh, bahkan hingga di luar masjid. Selain itu, masjid ini juga oleh mahasiswa Universitas Al-Azhar digunakan untuk belajar dan menghafal Alquran. Sayangnya, saat saya di sana tidak melihat mahasiswa yang sedang belajar, sebab mereka sedang menikmati liburan musim panas sesudah bersusah payah menghadapi ujian kenaikan tingkat.




Masjid itu pertama kali dibangun pada tahun 21 Hijriah/641 Masehi. Banyak para sahabat dan tabi`in yang ikut serta dalam membangun mesjid ini, sehingga sampai delapan puluh sahabat menentukan arah Qiblat, diantaranya; Zubair Bin Awam, al-Miqdad, Ubadah Bin Shamat, Abu Darda, dan yang lainnya. Masjid itu berbentuk memanjang, dengan panjang 28,9 meter, dan lebar sisinya 17,4 meter, dindingnya terbuat dari batu bata, atapnya terbuat dari pelepah pohon kurma, dan ting-tiangnya dari batang pohon kurma dan memiliki enam pintu.




Masjid ini telah berulang kali direnovasi dan diperluas. Di antaranya, pada tahun 53 Hijriyah ( 672 M ) Pangeran Maslamah Bin Mukhllad al-Anshori telah memperluas masjid, kemudian diperluas oleh Pangeran Abdul Aziz Bin Marwan (Gubernur Mesir ketika itu ) tahun 79 Hijriyah ( 698 M ).




Pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik Bin Marwan, masjid itu di perbesar oleh Abdul Malik Bin Thahir. Kini, panjang Mesjid Amru mencapai120 meter, dan lebarnya 100 meter. Masjid itu juga pernah diperbaiki oleh Sultan Shalahuddin al-Ayubi pada tahun 568 H/1172 M. Masjid Amru begitu banyak mendapat perhatian dari kalangan pemerintah, dari masa pemerintahan Khulafau Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ayubiyyah, Dinasti Mamalik, sampai Dinasti Usmaniyah.




Masjid Amru Bin Ash bukan hanya tempat untuk shalat, tetapi juga menjadi pusat pendidikan Islam pertama di benua Afrika. Imam Syafii juga pernah mengajar di masjid itu. Hal itu menunjukan bahwa masjid Amru bin Ash telah menelurkan sarjana-sajana Muslim yang andal.


Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki, ed; heri ruslan




Bisa juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/117630/Menengok_Masjid_Pertama_di_Afrika

Sabtu, 03 Juli 2010

Dolmabahce Istana Terakhir Kekhalifahan Turki Usmani

(Dimuat di Republika, Jumat, 2 Juli 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat*


Istana Dolmabahce dibangun dengan menghabiskan dana sekitar 35 ton emas.


Turki begitu kaya akan warisan peradaban Islam. Betapa tidak. Di negara itulah kekhalifahan Islam terakhir berdiri. Instanbul merupakan salah satu kota yang kaya akan peninggalan bersejarah. Di kota yang menjadi incaran raja-raja pada zaman dulu itu berdiri sebuah bangunan bersejarah bernama Istana Dolmabahce.


Ketika beberapa waktu lalu, Ketua Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran, Dadan Maula Daramawan datang berkunjung ke Turki, saya pun mengajaknya berkunjung ke Istana Dolmabache. Di Istanbul memang banyak bangunan bersejarah yang masih terawat.


Istana Dolmabahce merupakan istana terakhir Kesultanan Turki Usmani. Letaknya sangat stategis. Istana itu langsung berhadapan dengan laut Bosporus. Dari atas kapal laut kita dapat melihat kemegahan istana itu dari kejauhan. Istana itu banyak menyimpan barang-barang pemberian dari para raja dari berbagai kerajaan.


Dolmabahce merupakan bangunan terakhir yang dibangun oleh penguasa Turki Usmani, Sultan Abdul Majid I yang memimpin Turki Usmani dari 1839-1861. Istana yang terletak di atas lahan seluas 110 ribu meter persegi itu dibangun pada 1843-1856. Pembangunan gedung bernuansa barat itu menghabiskan dana sebesar lima juta pound emas Usmani atau setara dengan 35 ton emas.


Sebanyak14 ton emas dalam bentuk emas digunakan untuk menghiasi 45 ribu meter persegi langit-langit monoblock istana. Yang bertanggung jawab atas pekerjaan konstruksi Haci Said Aga, sementara proyek ini direalisasikan oleh arsitek Garabet Balyan.


Istana itu memilik tiga lantai termasuk lantai bawah tanah. Dolmabahce memiliki 285 kamar dan 46 ruang, 6 kamar mandi khas Turki, 1.427 jendela, 68 toilet dan karpet yang menutupi lantai. Hingga kini, banguan dan segala isinya masih terjaga keasliannya.


Di area Istana Dolmabahce itu terdapat 16 banguan yang terletak di samping bangunan utama, seperti; pabrik, toko kaca, pengecoran, apotek dan dapur. Selain itu juga terdapat dua gerbang yang monumental, yakni Gerbang Jam Gadang, serta gerbang sepanjang 600 meter di pinggir dermaga sepanjang laut.


Batu porphyry yang menghiasi istana itu didatangkan dari kota Pergamum kuno, alabaster Mesir. Sedangkan perabotannya dibawa dari Paris. Bahan-bahan dari kristal Baccarat, didatangkan dari Inggris. Selain terbuat dari 40 ton emas, istana itu juga menggunakan 40 ton perak untuk dekorasi.


Bagian dalam Istana Dolmabahce dihiasi dengan lukisan-lukisan, dan langit-langit ilustrasi dibuat oleh seniman Perancis dan Italia. Lukisan karya perupa terkenal Rusia Aiwazowsky juga memperkaya dekorasi interior istana itu. Dalam dekorasi interior, di antaranya terdapat 156 jam serta 58 lilin. Istana ini juga berisi desain eklektik elemen Baroque, Rococo dan gaya neoklasik , dicampur dengan tradisional arsitektur Turki Usmani untuk menciptakan sebuah sintesis baru.


Tata letak istana dan dekorasinya mencerminkan pengaruh peningkatan standar budaya Eropa pada akhir kesultanan Turki Usmani. Dolmabahce merupakan istana terbesar di Turki, mengingat bahwa daerah monoblock menempati bangunan 45 ribu meter persegi.


Sebelumnya, Sultan dan keluarganya tinggal di Istana Topkapi, namun karena Istana Topkapi kurang menarik saat itu, maka sultan Abdul Majid I memutuskan untuk membangun Istana Dolmabahce. Istana ini mengandung banyak emas dan kristal.


Istana itu merupakan rumah bagi enam sultan dari 1856, ketika pertama kali dihuni, sampai penghapusan kekhalifahan pada 1924. Keluarga kerajaan yang terakhir tinggal di tempat itu adalah Sultan Abdul Majid Efendi. Undang-undang yang mulai berlaku pada 3 Maret 1924 menyebutkan bahwa kepemilikan istana dipindahkan dan menjadi warisan nasional Republik Turki baru.


Mustafa Kemal Ataturk, pendiri dan Presiden pertama Republik Turki, menggunakan istana kepresidenan sebagai tempat tinggal selama musim panas. Ataturk juga menghabiskan hari-hari terakhir perawatan medis di istana itu. Ia meninggal pada 10 November 1938.


Saat ini istana yang menjadi museum itu dibuka untuk umum. Para wisatawan yang ingin berkunjung dikenakan biaya sebesar 20 Turki Lira (TL) atau setara dengan Rp 140 ribu dengan kurs 1 TL sama dengan Rp 7.000. Di museum itu, para pengunjung dipandu oleh pemandu istana. Para pemandu ini menjelaskan istana ini dengan menggunakan bahasa Inggris bagi wisatawan mancanegara dan bahasa Turki bagi wisatawan lokal.


Jika Anda berwisata ke Turki, berkunjung ke Istana Dolmabahce layak Anda jadwalkan.


* Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki. Email: deden_md@yahoo.com


Bisa juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/114316/Dolmabahce_Istana_Terakhir_Kekhalifahan_Turki_Usmani

Jumat, 04 Juni 2010

Dan Orang Palestina pun tak Pernah ke Gaza

Oleh: Deden Mauli Darajat

“Al-Quds milik kami,” dan “Gaza di hati kami.”

Dua kalimat itu tertera pada sorban orang-orang Palestina yang sedang mempresentasikan tentang negaranya di gedung pusat bahasa Universitas Ankara, yang dalam bahasa aslinya “Al-Quds lana, wa Gazzah fi qulubina”. Tak seperti biasanya, saat menyaksikan pemaparan tentang Palestina para penonton yang biasanya bisik-berbisik, kali ini tidak ada suara sedikit pun. Mereka Terdiam. Sebagian air mata mereka berlinang, ada juga yang menangis tersedu sedan.

Betapa tidak, pasalnya para penyaji itu menampilkan video tentang perang, tentang perjuangan orang-orang Palestina yang tak pernah menyerah meski dijajah Israel, tentang anak-anak yang tak berdosa yang menjadi korban peperangan antara Palestina dan Israel. Dalam video itu tergambar sejumlah anak yang terkena senjata pasukan Israel. Ada yang matanya hilang dan darah mengucur dari matanya seperti air mata yang mengalir saat menangis, dan ada pula anak yang diimpus di salah satu tempat penanganan darurat.

Di sesi lainnya, seorang korban dewasa, diseret oleh tiga orang tentara yang dilengkapi dengan senjata. Tidak sedikit perempuan-perempuan tua menangis melihat kekejaman tentara Israel seraya memeluk anaknya yang sudah tak bernyama. Di tengah pertunjukan itu, seorang kawan lelaki asal Palestina yang sedang memaparkan negaranya, Samer Mhanna, meneteskan air matanya. Dia tidak tega melihat negaranya diporak porandakan oleh kekejian dan kezaliman dari bangsa yang tak mengenal perdamaian itu.

Biasanya, penamplian sejumlah negara dilengkapi dengan pengenalan budaya, bahasa, makanan maupun kesenian. Bahkan ada juga yang memperkenalkan tarian dan nyanyian dari sekitar 25 negara yang memperkenalkan kebudayaannya, termasuk negara Indonesia. Mahasiswa asal Indonesia menampilkan budaya, bahasa yang ratusan jenisnya, dan tarian saman dari Aceh, serta beberapa musik pop Indonesia.

Namun, dalam penampilan negara Palestina, mereka tidak menampilkan budaya, makanan, maupun tarian, apalagi nyanyian musik pop. Mereka hanya memeperkenalkan sejarah. “Kami tak tahu bagaimana harus menampilkan kebudayaan atau pun yang negara lain tampilkan, kami hanya menyajikan keadaan yang sesungguhnya yang terjadi dalam negeri kami,” kata Muayad Qasim, salah seorang dokter asal Palestina yang melanjutkan studinya dengan biaya beasiswa pemerintah Turki di Ankara.

Dari empat video yang ditampilkan, salah satunya adalah video pidato tentang kemerdekaan bangsa Palestina yang dikumandangkan oleh Yasser Arafat. Terpancar dari mata kelima orang Palestina yeng memaparkan negaranya sebuah pengharapan akan terulangnya kedaulatan yang utuh negara Palestina. Mereka masih mendambakan negara yang utuh yang tak ada gejolak apapun di negeri para nabi itu.

Muayad mengatakan, kehidupan yang digambarkan dalam video itu merupakan gambaran kehidupan bangsa Palestina sehari-hari. Sewaktu dia mengenyam sekolah menengah di wilayah Nablus, Palestina, cerita Muayad, tank tentara Israel mengelilingi sekolahnya dan tank itu berdiam diri di depan sekolahnya. Ia dan teman-teman sekelasnya sudah biasa melihat pemandangan itu. Aktivitas belajar mengajar tetap berjalan, meski dentuman keras keluar dari tank itu.

“Kehidupan di Palestina tetap berjalan seperti biasa meski bangunan-bangunan, baik sekolah maupun perkantoran runtuh,” kata Muayad serasa melanjutkan, “dan kami pun sudah terbiasa dengan keadaan sepert ini,” katanya. Saat ditanya bagaimana dia bekerja sebagai dokter gigi di Palestina, Muayad menyatakan, dirinya bekerja seperti biasa, masuk pagi dan pulang kerja di sore hari. Baginya tak ada bedanya bekerja di mana pun, yang membedakan hanyalah situasinya saja. Dan keadaan seperti itu masih berjalan hingga saat ini.

Masih hangat dalam ingatan, beberapa hari lalu, kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang berangkat dari Turki yang membawa ratusan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara dan mengangkut bantuan untuk warga Gaza itu diserang oleh tentara Israel yang mengakibatkan belasan meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka. Akibatnya, aksi demontrasi anti Israel pun terjadi di berbagai belahan dunia, seperti halnya di Istanbul dan di Ankra, Turki.

Ditanya bagaimana, pandangan tentang serangan itu, Samer mengatakan, dirinya tak bisa berkomentar apa-apa, dia hanya bisa berdoa agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada orang-orang Palestina dan orang-orang yang memberikan bantuan untuk bangsanya. Di akhir perbincangan saya dengan kedua rekan asal Palestina itu, mereka mengatakan, “kami pun selama hidup di Palestina tak pernah menginjak tanah Gazza, meski kami mencintainya,” tandas Muayad yang diamini Samer.deden_md@yahoo.com

Minggu, 02 Mei 2010

Ke Turki Kami Mengaji

(Dimuat di Majalah Gontor, Edisi Januari 2010/Muharram-Safar 1431)
Oleh: Deden Mauli Darajat


Menempuh Master Komunikasi dan Jurnalistik (S2) Universitas Ankara, Turki
Turki memang negara modern. Tapi mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di sana harus pintar-pintar mengelola keuangan, lantaran biaya hidup di negeri Balkan itu relatif tinggi. Kecuali, jika masih mendapat kiriman dana dari keluarga di Tanah Air. Bagaimana dengan pemikiran sekularisme?


Tak pernah terbayangkan, ketika saya harus menempuh studi master (S2) Bidang Jurnalistik di Universitas Ankara, urki. Ini berawal saat mencicipi setahun sebagai wartawan HU Republika dan menulis beasiswa Turki di harian tersebut. Ketika esoknya laporan dimuat, secara ‘diam-diam’ saya pun mengirimkan berkas dokumen yang dibutuhkan ke Kedutaan Besar Republik Turki di Jakarta, awal tahun 2009 lalu.


Turki yang wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia barat Daya hingga ke daerah Balkan di Eropa Tenggara, sepertinya tengah berjalan pasti kembali ke pelukan Islam. Seperti halnya mentari, yang pasti akan terbit menerangi bumi setiap hari. Itulah mengapa banyak dari pelajar yang memiliki latar belakang studi Islam kemudian melanjutkan sekolah di negeri kekhalifahan terakhir, Khilafah Islamiyah.


Bagi sebagian orang, Turki dianggap negara yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Ini terlihat dari warga negara lain yang mengunjung tempat-tempat bersejarah di Turki khususnya Kota Istanbul. Meski begitu, Turki juga menyimpan banyak tradisi ilmu pengetahuan yang sampai saat ini masih terjaga orisinalitasnya. Tak sedikit mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri yang pernah dipimpin Kemal Attaturk itu.


Memang proses ini begitu singkat. Baru setahun menjadi abituren Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Jakarta, alhamdulillah, saya segera mendapat beasiswa dari pemerintah Turki untuk melanjutkan studi master (S2) di Universitas Ankara, dengan konsentrasi komunikasi dan jurnalistik. Alasan memilih jurusan tersebut, tak lain untuk mengaplikasikan ilmu yang pernah didapatkan di bangku kuliah hingga kemudian bekerja sebagai wartawan di koran Republika, Jakarta.


Harapan saya, setelah menamatkan studi ini menjadi akademisi plus jurnalis. Ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi saat mengajukan aplikasi dokumen. Di antaranya, dua macam rekomendasi dari dua orang profesor, surat kesehatan, potocopy passport, dan legalisir ijazah. Semua berkas itu dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris, Prancis atau Turki.


Untuk rekomendasi diharapkan dari professor yang memiliki reputasi internasional. Saya mendapat rekomendasi dari tangan Prof Dr Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta, yang juga meraih doktor di bidang Filsafat Barat di Middle East Techical University, Ankara, Turki, 1990) dan Prof Andi Faisal Bhakti Ph.D (Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN yang pernah lama mengajar di Oxford University, Inggris).


Setelah melalui verifikasi berkas dan wawancara dari pihak kedutaan Turki, akhir September 2009 pengumuman kelulusan itu saya terima. Tiga pecan setelah pengumuman kelulusan, saya pun meninggalkan kampung halaman di Rangkasbitung, Banten. Sangat mendadak. Sebab, awal masa studi di Turki dimulai pada September 2010 ini.


Namun demikian, penerima beasiswa dari Indonesia tidak langsung bisa duduk kuliah S2. Meskipun sudah mendapat kepastian di fakultas dan jurusan mana harus kuliah. Ketentuan mahasiswa asing terlebih dahulu harus mengikuti kursus bahasa Turki 10 bulan. Hal ini disebabkan sebagian besar universitas di Turki menggunakan bahasa Turki sebagai pengantar kuliah. Hanya sebagian kecil saja yang menggunakan bahasa Inggris.


Beasiswa yang didapatkan dari pemerintah Turki antara lain, uang saku, biaya riset ilmiah, asrama dan asuransi kesehatan. Uang saku yang diberikan sebesar 220 Turki Lira (TL) untuk S2 dan sebesar 195 TL untuk beasiswa S1. Sementara biaya hidup di negeri Balkan itu tinggi, maka mahasiswa harus sebisa mungkin menghemat dana tersebut. Kecuali, jika masih diberi kiriman dana dari keluarga di Indonesia. Saat ini kurs uang 1 Lira = Rp. 7.000,-.


Visa yang diberikan oleh pemerintah Turki adalah visa pelajar selama tiga sampai enam bulan. Sesampainya di Turki visa tersebut tidak diperpanjang. Tetapi mahasiswa asing diwajibkan memiliki “Ikamet” (sejenis KTP) agar dapat tinggal di Turki. Mahasiswa asing yang memiliki ikamet pelajar tidak diperbolehkan untuk bekerja mencari uang, meskipun sampingan. Jadi kerjaannya hanyalah belajar dan belajar.


Sebelum ini ada beberapa beasiswa belajar ke Turki selain beasiswa pemerintah Turki sendiri. Sebab, beasiswa pemerintah Turki baru dibuka sejak tahun 2007 lalu. Beasiswa lainnya adalah beasiswa dari sekolah Turki Indonesia di bawah naungan Pasiad Indonesia, serta organisasi masa (ormas) Islam di Turki. Jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Turki mencapai 150-an orang lebih. Mereka terbagi atas beasiswa pemerintah Turki, beasiswa Pasiad, beasiswa ormas Islam Turki dan biaya sendiri.


Saya bukanlah alumnus Gontor pertama yang melanjutkan studi di Turki. Pelopor lulusan Gontor tercatat nama Prof Dr HM Amin Abdullah, yang kini menjabat Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Amin Abdullah, menamatkan studi master dan doktornya di Turki bersama rekannya Prof Dr Komaruddin Hidayat yang juga kini menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Seangkatan saya, alumnus Gontor yang mendapat beasiswa pemerintah Turki untuk melanjutkan studi S2 adalah Christian Kuswibowo (alumnus tahun 2001). Christian mengambil jurusan Manajemen Bisnis di Universitas Hacetepe, di Ankara. Christian menamatkan studi S1 di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, Jawa Barat. Selain kami berdua, terdapat nama Gusty Ayuman Mukasafah (alumnus tahun 2007) yang mendapat kesempatan melanjutkan studi S1 di Turki dari Pasiad Indonesia. Ia kini belajar Islamic Studies atau Dirasah Islamiyah di Universtas Selcuk, Kota Konya, Turki. Ya, ke Turki kami hendak mengaji.


Biaya hidup di Turki relatif tinggi dibanding Indonesia. Sekadar ukuran, transportasi jauh-dekat untuk sekali perjalanan sebesar 1,5 Lira (1 Lira = Rp. 7.000). Selain transportasi makanan dan kebutuhan sehari-hari pun hampir lebih tinggi harganya dibanding Negara kita. Dengan tingginya biaya hidup diTurki, mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa menyiasatinya dengan menggunakan dana tersebut untuk hal-hal yang dibutuhkan saja.


Bahkan tidak sedikit dari kami melaksanakan puasa sunah. Mendapat pahala sekaligus bisa berhemat. Di sisi lain, Turki disebut-sebut sebagai negara sekular yang memiliki arena pemisahan antara kewajiban agama dan negara. Di negara Kemalis Turki ini, tentara terus menerus menjalankan politik “secular fundamentalis”, sehingga banyak aspek-aspek sosial yang berbau agama tidak bisa dijalankan oleh rakyat, meski hal-hal yang sama bisa mereka nikmati di negara-negara secular Barat.


Ilmu komunikasi
Universitas Ankara didirikan oleh Ataturk yang bertujuan menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang dijunjung tinggi. Universitas Ankara termasuk universitas yang sangat bergengsi dengan 15 Fakultas, 7 Pascasarjana, 12 sekolah, dan 25 pusat penelitian. Saat ini terdapat 3.720 staf akademik yang berkualifikasi tinggi. Universitas ini telah menjadi orangtua untuk beberapa universitas yang mencapai pendidikan berkualitas.


Universitas melakukan riset berkualitas tinggi dan menawarkan pendidikan dan pelatihan dalam setiap bidang ilmiah termasuk Kedokteran, Kedokteran Hewan, Kedokteran Gigi, Farmasi, Sains, dan Pertanian, dan dalam hamper semua bidang ilmu sosial. Selain itu, universitas juga menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu untuk puluhan ribu orang melalui klinik kesehatan dan rumah sakit, dengan kapasitas tempat tidur lebih dari 2500.



Kajian media dan komunikasi juga tidak ketinggalan. Fakultas Ilmu Komunikasi ini didirikan sebagai Sekolah Jurnalistik dan Penyiaran pada 1965, yang bekerjasama antara UNESCO dan Asosiasi Wartawan. Bidang ini telah dianggap sebagai sumber yang memenuhi syarat jurnalis dan produsen. Mengenai peningkatan besar di media massa di Turki, sekolah telah direstrukturisasi sebagai fakultas pada tahun 1992. Di Fakultas Ilmu Komunikasi, saat ini terdapat 983 siswa dan sekitar 150 lulusan setiap tahun. Staf akademik memiliki 61 yang memiliki kajian penelitian yang kemudian memiliki kepentingan dari media.

Aya Sofia, Saksi Kejayaan Islam

Oleh: Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Ankara University, Turki)

Kaligrafi dan hiasan yang terukir di dinding Aya Sofia menjadi saksi dan potret kerukunan beragama.

Hagia Sophia yang biasa disebut Aya Sofia merupakan museum yang sangat artistik dan bersejarah di kota Istanbul, Turki. Dengan kubah besar yang menjulang tinggi berbentuk bangunan masjid dan empat buah menara mengelilinginya, Aya Sofia sungguh begitu megah dan indah.

Dari pantai Istanbul, bangunan megah itu begitu tampak jelas. Musium Aya Sofia berhadapan dengan Masjid Sultan Ahmet atau yang biasa dikenal dengan Masjid Biru. Yang menarik, interior Aya Sofia dihiasi berbagai jenis ornamen yang begitu menawan.

Tulisan kaligrafi asma Allah SWT, Rasululullah SAW bersama keempat khulafaurrasyidin, dan dua cucu Rasulullah, Hasan dan Husain bin Ali sejajar dengan lukisan bunda Maria dan Isa Almasih serta lukisan dan hiasan gereja lainnya. Kaligrafi dan hiasan yang terukir di dinding Aya Sofia seakan menjadi saksi dan potret kerukunan beragama.

Setiap harinya, ratusan hingga ribuan orang mengunjungi museum yang sangat bersejarah dalam sejarah peradaban manusia itu, khususnya kehidupan beragama. Mereka berdatangan dari penjuru dunia untuk menyaksikan sejarah nenek moyang manusia. Hampir semua pengunjung yang datang ke tempat itu membawa kamera untuk mengabadikan gambar yang berlatarbelakang musium Aya Sofia. Bahkan, tak sedikit pula yang merekam dengan kamera video.

Museum Aya Sofia terdiri dari dua lantai. Di lantai satu bagian depan tampak tempat imam dilengkapi dengan mimbar yang cukup tinggi. Di atas tempat imam itulah tulisan kaligrafi Asma Allah dan Rasulullah mengapit gambar bunda Maria yang sedang memangku Nabi Isa. Kaligrafi-kaligrafi Islami itu berwarna kuning keemasan mengikuti warna corak hiasan awal bangunan museum yang awalnya berfungsi sebagai gereja.

Di lantai dua, terdapat tempat-tempat para kaisar Byzantium beribadah. Namun, lantai dua museum itu tidak seluas lantai satu. Awalnya, museum Aya Sofia merupakan gereja yang dibangun pada 532-537 M, zaman Kekaisaran Byzantium. Saat itu Turki masih bernama Konstantiopel. Hagia Sophia merupakan gereja termegah umat Kristen Ortodoks Timur.

Pada 1453 M, kekaisaran Byzantium jatuh ke tangan Kesultanan Turki Usmani. Sejak saat itulah semua yang berada di Konstantinopel menjadi milik Kekhalifan Turki Usmani, termasuk gereja Hagia Sophia. Adalah Sultan Muhammad II yang juga dikenal dengan Sultan Muhammad al-Fatih yang berjasa menaklukan kekaisaran Byzantium.

Dengan kegigihan Sultan al-Fatih bersama pasukannya yang tangguh, Kekaisaran Bizantium yang dikenal sebagai yang terkuat di wilayah Asia dan Eropa itu, akhirnya berhasil ditaklukkan. Bahkan, Rasulullah SAW bersabda bahwa suatu ketika kerajaan Konstantinopel akan ditaklukkan, pemimpin yang dapat menaklukkan itu adalah sebaik-baiknya pemimpin dan tentara yang dapat menakukan adalah sebaik-baiknya tentara. Kaligrafi hadis Rasulullah itu dipajang di bagian pintu keluar museum itu.

Di zaman Turki Usmani, fungsi Aya Sofia berganti dari gereja menjadi masjid. Seusai menaklukan kerajaan Byzantium, Sultan al-Fatih melakukan sujud syukur di gereja tersebut. Di waktu sore setelah penaklukan, dimulailah shalat Ashar perdana di Masjid Aya Sofia. Dan pada Jumat pertama, gereja itu langsung digunakan untuk shalat Jumat bagi umat Islam di Konstantinopel.

Hebatnya, Sultan al-Fatih tidak menghancurkan bangunan yang berdiri sejak seribuan tahun itu. Bahkan saat menjadi masjid, hiasan gereja tidak dimusnahkannya, hanya sebagian saja hiasan gereja yang diganti dengan kalighrafi dan hiasan Islami. Renovasi besar-besaran juga dilakukan agar tak terkena gempa di awal abad ke-14 M.

Pasalnya, gempa sering terjadi di kawasan itu. Keistimewaan bangunan ini terletak pada bentuk kubahnya yang besar dan tinggi. Ukuran tengahnya sekitar 30 meter dengan tinggi sekitar 54 meter. Interiornya dihiasi mosaik dan fresko, tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni, dan dindingnya dihiasi ukiran.

Saat berubah menjadi masjid, Aya Sofia itu dilengkapi dengan empat menara. Awalnya, Aya Sofia hanyalah gedung dengan kubah yang besar. Berbagai modifikasi terhadap bangunan dilakukan agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan masjid. Pada masa Mehmed II (1444-1446 dan 1451-1481) dibuat menara di bagian selatan.

Selim II (1566-1574) membangun dua menara dan mengubah bagian bangunan bercirikan gereja. Termasuk mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit. Ratusan tahun kemudian, tepatnya pada 1937, pemimpin Turki Modern, Mustafa Kemal Ataturk mengubah fungsi masjid itu menjadi museum.

Hiasan-hiasan gereja yang tidak tampak saat menjadi masjid kembali ditampakkan. Karena menjadi museum, maka untuk masuk ke dalam bangunan Aya Sofia setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar 20 Turki Lira (TL) atau setara dengan Rp 140 ribu dengan kurs 1 TL sama dengan Rp. 7 ribu.

Beberapa waktu yang lalu, saat penulis mengunjunginya, beberapa orang pekerja sedang memperbaiki dan merenovasi gedung museum itu. Hal ini dilakukan untuk menyambut pusat kebudayaan Eropa yang berpusat di Istanbul pada 2010. Meski dalam perbaikan, museum itu masih dibuka untuk para pengunjung.

Ed: heri ruslan

dapat juga dibaca di:
http://koran.republika.co.id/koran/52/100774/Aya_Sofia_Saksi_Kejayaan_Islam

Masjid Sultan Ahmet, Tak Pernah Sepi Pengunjung

(Republika, 17 Desember 2009)
oleh: Deden Mauli Darajat, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara , Turki

Masjid itu memang begitu indah dan megah, sehingga menarik penunjung dari berbagai negara di dunia.

Masjid Sultan Ahmet yang lebih dikenal dengan Masjid Biru tak pernah sepi oleh pengunjung. Masjid yang sangat masyhur ini ke seantero dunia itu tak hanya digunakan untuk beribadah oleh umat Muslim, namun juga menjadi salas satu obyek kunjungan wisata sejarah para wisatawan. Masjid yang berdiri megah di kota Istanbul, Turki itu, setiap hari dikunjungi ratusan hingga ribuan wisatawan dari berbagai negara di dunia.

Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, para pengunjung yang memasukinya mengabadikan setiap sudut di Masjid Biru. Betapa tidak. Masjid itu memang begitu indah dan megah. Hiasan yang berada di dalam masjid itu begitu indah. Kaligrafi Arab yang bertuliskan asma Allah SWT, Nabi Muhammad SAW serta para Khulafaurrasyidin dipadu dengan ornament-ornamen islami menghiasi sekeliling interior masjid itu.

Para pengungjung wanita yang non-Muslimah diberikan kain kerudung untuk digunakan saat memasuki masjid itu. Yang menarik dari Masjid Sultan Ahmet, pengurus masjid bekerja sama dengan pemerintah kota Istanbul menyediakan kantong plastik untuk digunakan menyimpan sandal atau sepatunya. Sandal dan sepatu yang dimasukan ke dalam plastik kemudian dibawa ke dalam masjid tersebut.

Setelah digunakan, kain kerudung yang digunakan para pengunjung wanita non-Muslimah harus dikembalikan kepada pengurus masjid, plastik yang telah digunakan juga dikembalikan ke tempat penyimpanan yang telah disediakan di depan pintu keluar.

Saat azan berkumandang dan waktu shalat tiba, para pengunjung Masjid Sultan Ahmet dipersilahkan untuk keluar masjid itu. Namun bagi pengunjung Muslim bisa melaksanakan shalat fardu itu. Selain itu, para pengunjung yang akan berkunjung dan memasusuki masjid yang berada di bibir pantai itu harus menunggu beberapa waktu hingga shalat berjamaah usai.

Selain sebagai tempat kunjungan yang tak pernah sepi, masjid itu pun selalu penuh oleh kaum Muslimin yang menunaikan shalat. Sebelum atau sesudah melaksanakan shalat fardu, hampir semua jamaah melaksanakan shalat sunat.

Masjid Sultan Ahmet yang terletak di Istanbul merupakan ibukota Kesultanan Utsmaniyah sejak 1453 sampai 1923 M. Ibukota Turki berpindah ke Ankara sejak 13 Oktober 1923 M. Masjid ini dikenal dengan juga dengan nama Masjid Biru karena di masa lalu interiornya berwarna biru.

Masjid ini dibangun antara 1609 dan 1616 M atas perintah Sultan Ahmed I, yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Ia dimakamkan di halaman masjid. Masjid ini terletak di kawasan tertua di Istanbul. Sebelum 1453 M, kawasan itu merupakan pusat Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Bizantium.

Letak masjid itu berdekatan dengan situs kuno Hippodrome, serta berdekatan juga dengan apa yang dulunya bernama Gereja Kristen Kebijaksanaan Suci (Hagia Sophia) yang sekarang dirubah fungsinya menjadi museum.

Masjid itu juga dekat dengan Istana Topkapi, tempat kediaman para Sultan Utsmaniyah sampai 1853 dan tidak jauh dari pantai Bosporus. Dilihat dari laut, kubah dan menaranya mendominasi cakrawala kota Istanbul.

Masjid itu dikenal dengan nama Masjid Biru karena warna cat interiornya didominasi warna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli masjid, maka cat tersebut dihilangkan. Sekarang, interior masjid ini tidak terlihat berwarna biru.

Saat mendirikan masjid itu, arsitek Masjid Sultan Ahmed, Sedefhar Mehmet Aga, diberi mandat untuk tidak perlu berhemat biaya dalam penciptaan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini.

Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 x 51 meter. Masjid ini diarahkan sedemikian rupa, sehingga orang yang melakukan shalat menghadap ke Makkah, dengan mihrab berada di depan.
http://republika.co.id/koran/0/96645/Masjid_Sultan_Ahmet_tak_Pernah_Sepi_Pengunjung

Maulana Jalaluddin Rumi, Pusara Pecinta Cinta yang Terjaga

(Telah dimuat di Republika, Jumat, 09/04/2010)
Oleh: Deden Mauli Darajat, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki
Sejumlah wisatawan melafalkan zikir saat melihat pusara Maulana Jalaluddin Rumi.

Seorang kawan yang kuliah di Universitas Ankara, Turki, mengajak saya berlibur ke rumahnya di kota Konya, Turki, beberapa waktu lalu. Tawaran itu tidak saya sia-siakan. Kami pun berangkat ke kota itu menggunakan bus antarkota. Memasuki kota Konya, hampir semua hiasan kota itu berlambang atau bergambar penari sema atau seorang sufi yang sedak duduk berzikir.

Ya, tarian sema merupakan tarian yang diajarkan oleh seorang sufi yang terkenal, Maulana Jalaluddin Rumi. Kota Konya memang tidaklah besar, luasnya sekitar seperempat luas DKI Jakarta. Kami berangkat dari Ankara sore hari dan sampi di Konya, malam hari. Perjalanan menuju kota itu hanya memakan waktu tiga setengah jam.

Malam itu, kami beristirahat. Keesokan harinya kami memutuskan untuk mengelilingi kota tua itu dengan berjalan kaki. Hampir di setiap sudut kota Konya terdapat masjid. Cukup mudah untuk mengetahui bentuk masjid, sebab rata-rata bentuk masjid di Konya ataupun di Turki bentuknya sama, yaitu bangunan yang beratap kubah dan dilengkapi dengan menara.

Oglun Selehattin, nama kawan saya itu. Ia membawa saya ke sejumlah masjid di kota itu. Di akhir perjalanan, saya pun menuju bangunan yang berbentuk masjid. Rupanya, bangunan masjid ini bukanlah tempat untuk beribadah shalat berjamaah atau pengajian. Namun, bangunan itu sudah dialihfungsikan menjadi museum Maulana Jalaluddin Rumi beserta para pengikutnya.

Di dalam museum itu terdapat pusara yang paling besar dan berbeda, di sanalah tempat peristirahatan terakhir sang pecinta cinta yang masih terjaga dengan apik. Selain pusara Maulana Jalaluddin Rumi, dalam museum itu juga terdapat sejumlah pusara para pengikutnya dan juga terdapat pusara para raja yang berkuasa di zaman tersebut.

Museum itu juga dilengkapi dengan karya-karya yang ditulis oleh Maulana Jalaluddin Rumi. Serta terdapat juga jubah, sorban, peci, dan pakaian yang dulu dikenakan oleh Maulana Jalaluddin Rumi. Tak ketinggalan, konon janggut Nabi Muhammad pun berada di museum tersebut. Saat memasuki museum itu aroma wangi parfum tercium memenuhi ruangan.

Di dalam kompleks museum itu juga terdapat satu bangunan lainnya yang di dalamnya terdapat patung-patung yang menggambarkan kehidupan para pengikut ajaran Maulana Jalaluddin Rumi. Pengunjung yang datang ke museum itu bukan hanya berdatangan dari Turki, melainkan dari berbagai Negara, seperti Jepang, Korea dan negara lainnya.

Sejumlah wisatawan tampak melafalkan zikir saat melihat pusara Maulana Jalaluddin Rumi. Hal ini terlihat dari mulut mereka melafalkan asma Allah dan tangan yang diangkat, seperti halnya orang berdoa. Sayangnya, para pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar di dalam museum tersebut. Namun, di luar museum para pengunjung itu mengambil gambar dan mengabadikannya dalam rekaman video.

Malam hari, kami menyaksikan pertunjukkan penari sema di gedung kebudayaan Maulana Jalaluddin Rumi yang letaknya tidak jauh dari museum itu. Sesampainya di gedung itu, kami disambut oleh penerima tamu yang berjaga di depan gedung kebudayaan Rumi.

Gedung itu sangat luas dan megah. Sebab, di dalam gedung itu dilengkapi dengan gedung teater yang dapat menampung ribuan orang. Mula-mula ratusan orang berdatangan, namun beberapa menit sebelum pertunjukan, hampir semua tempat duduk di gedung teater itu dipenuhi para penonton.

Untuk menonton pertunjukan tari sema itu, para penonton tidak dipungut biaya alias gratis. Pertunjukan tarian sema rutin diselenggarakan pada Sabtu malam oleh pengurus gedung kebudayaan Rumi dibawah naungan kementrian kebudayaan Turki dan pemerintah kota Konya.

Para penari sema memulai tarianya dengan memanjatkan doa dan shalawat kepada nabi, kemudian mereka berputar-putar sesuai dengan iringan lagu yang dimainkan oleh sejumlah pemain yang juga menggunakan kostum penari. Puluhan putaran mereka lakukan, namun semuanya tetap beraturan dan tidak ada yang mabuk.

Sejatinya Maulana Jalaluddin Rumi bernama lengkap Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau sering pula disebut dengan namaRumi. Ia adalah seorangpenyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm.

Kumpulan puisi Rumi yang terkenal berjudul al-Matsnawi al-Maknawi. Karya ini, konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.

"Kemari... Kemarilah... Datanglah..Bukan seorang Kristen, Yahudi atau Muslim... Bukan pula seorang Hindu,Sufi atau Zen... Saya bukan siapapun, bukan dari Barat atau Timur. Saya hanya dimiliki oleh mereka yang mencintai, yang melihat dua adalah satu.. satu tarikan napas manusia."

Serasa Artis di Taman Kota

Oleh: Deden Mauli Darajat
Musim semi tiba, semuanya berubah. Pakaian tebal yang biasa dikenakan, kini tak lagi menghiasi orang-orang yang berkeliaran di Ankara. Suhu sekitar 20 sampai 5 derajat selsius suhu menjadi rutinitas harian. Akhir pecan lalu, beberapa rekan mahasiswa Indonesia mengajak saya untuk jalan-jalan ke taman kota di Ankara. Dengan menggunakan bus umum kami meluncur ke taman ‘Harika Park’ di ujung Ankara.
Setiba di taman kota itu, mata orang-orang lokal (baca: Turki) tertuju pada kami. Dari kejauhan samar-samar kami mendengar, ‘how are you’, ada juga ‘Japonlar nasilsiniz (orang-orang Jepang apa kabar)’ dan banyak lagi kata-kata yang samar. Yang tidak dimengerti, orang-orang lokal itu menyangka kami dari Jepang atau pun Cina. Lucu.
Ketertarikan orang-orang lokal tidak hanya saat kami memasuki gerbang hingga tenda besar yang berada di tengah taman kota itu, saat kami bermain game pun mereka –anak remaja lokal- masih menggoda kami dengan bahasa yang sulit kami pahami. Sebab, bahasa mereka itu menggunakan bahasa Jepang a-la mereka. “Hong balihong bohong,” begitulah kira-kira kata mereka.
Menariknya, di taman Kota itu dilengkapi tenda besar dengan beberapa paket kursi dan meja laiknya di sebuah kafe alam. Selain itu, taman itu juga dilangkapi dengan pemanggangan daging ataupun ikan. Banyak keluarga orang lokal yang membawa bahan-bahan masakan ke taman itu dan dimasak di tempat itu. Kami pun tak ketinggalan, dengan patungan kami membeli beberapa potong ayam yang siap dibakar.
Selain Harika Park, di ibu kota Turki ini, masih banyak taman-taman kota yang indah. Taman-taman kota itu dilengkapi dengan tempat bermain untuk anak-anak, tempat berolahraga untuk orang-rang dewasa dan pemandangan indah yang mengelilinginya. Hampir semua taman kota dilengkapi dengan kolam air yang dilengkapi dengan air mancur.
Seusai main game, kami makan-makan ayam bakar dengan roti. Melihat rombongan kami yang lumayan banyak dan orang luar negeri bagi orang lokal, tetangga meja sebelah kami memberikan sebagian makanannya kepada kami. Baik sekali mereka.
Tiba-tiba, insiden kecil terjadi. Orang-orang lokal lagi-lagi melihat kami dan menggerubungi kami. Selain melihat mereka juga merekam kami dengan kamera video. Betapa tidak, salah seorang rekan kami Christiab Kuswibowo saya marahi dan hampir terjadi perkelahian.
Saya marah karena salah seorang dari kami, Nuzzela Softy, diganggu sama Christian. Di ujung kemarahan, saya guyur dia dengan air minum bersoda. Beberapa rekan saya pun mengguyurnya dengan air dan beberapa sisa makanan seraya menyanyikan lagu ‘happy birthday to you’ dan memberinya kue tar ulang tahun. Sebuah skenario sukses kami laksanakan.
Usai ‘mengerjai’ kawan yang ulang tahun, seorang warga lokal menghampiri saya dan bertanya mengapa kalian melakukan itu kepada orang yang berulang tahun. Saya menjawab sambil tersenyum –karena belum selesai menertawai insiden itu-, begitulah kami merayakan ulang tahun untuk rekan kami dan itu sebuah kado untuknya. Seorang rekan berbisik kepada saya, kita seperti artis saja yah. deden_md@yahoo.com

10 Kota Tertua di Dunia

(Sumber: Koran Fesbuk)
Jika anda senang dengan petualangan, palagi jika anda tertarik mengenai budaya yang berbeda dari yang sering anda temui, tentunya tidak salah jika anda mulai mengunjungi dan mengalami hidup di kota paling tua di dunia dan merasakan tempat berkembangnya budaya di beberapa milenium lalu. Kali ini KF hadirkan 10 tempat yang dinyatakan sebagai kota tertua yang masih berdiri dan hidup dalam dunia modern.

10. Lisbon, Portugal (2000 SM ?)
Kota yang didirikan di perbukitan rendah di sebelah utara Sungai Tagus, pesona Lisbon ini berkaitan erat dengan masa lalu. Lisbon pertama kali didirikan oleh bangsa Iberia. Setelah berdiri ber abad-abad lamanya, Lisbon sekarang adalah kota paling hidup di Eropa. Istana-istana kuno yang di restorasi, gereja-gereja tua nan indah dan berbagai bangunan Art Nouveau adalah bagian paling indah yang membentuk wajah budaya kota ini.
Museum seperti Calouste Gulbenkian Museum, National Coach Museum, dan Carmo Archaeological Museum menyimpan berbagai barang kenangan indah tentang kehidupan masa lalu kota ini.
Bairro Alto, pusat kehidupan malam kota ini juga penuh dengan berbagai restoran, bar dan club seru bagi anda. Campo de Santa Clara juga membuka berbagai kesempatan bagi anda untuk membeli berbagai kenangan indah pengingat perjalanan Anda.

9. Luxor, Mesir (Sebelum 2160 SM)
Luxor, yang dulu dikenal sebagai kota Thebe, adalah kota indah yang dipersembahkan bagi Dewa Amon Ra, dan semenjak turisme dikenal di dunia, kota ini sudah ramai dikunjungi turis, banyak turis di jaman Romawi dan Yunani mengunjungi kota ini. Luxor adalah kota paling populer di Mesir.
Kota ini berawal dari monumen-monumen Luxor, Karnak, Hatshepsut dan Ramses III. Tidak aneh jika kota ini sering disebut sebagai musium udara terbuka terbesar di dunia. Kota ini sebenarnya terbagi tiga bagian, Luxor yang berada di sisi timur Sungai Nil, kota Karnak dan Thebe yang berada di sisi barat sungai Nil, berseberangan dengan Luxor, dan sekarang tergabung menjadi satu.

8. Asyut, Mesir (sebelum 2160 SM)
Kota ini terletak 375 km di selatan Kairo. Kota ini adalah kota terbesar di Mesir Atas dan adalah kota pertama yang didirikan di zaman Firaun. Sekarang kota ini adalah kota paling penting sebagai pusat pertanian dan juga kota tempat universitas terbesar ketiga di MEsir.

7. Xi'an China, (2205 SM ?)
Dengan sejarah panjang yang terbentang sampai 30 abad lamanya, kota ini adalah salah satu kota paling penting dalam sejarah China. Kota ini adalah salah satu dari Empat Ibukota Kuno Paling Agung di Cina. Kota ini banyak sekali dinikmati dan memiliki tempat yang sama dalam sejarah dengan kota-kota Athena, Kairo dan Roma.
Berbagai relik kuno dan berbagai situs budaya penting menempatkan kota ini sebagai Museum Sejarah Alami. Museum Teracota yang berada di kota ini juga dianggap sebagai "Keajaiban Dunia ke Delapan". Jika anda ingin mengalami China, kota ini adalah salah satu kota yang harus dituju.

6. Giza, Mesir (sebelum 2568 B.C.)
Napoleon Bonaparte memberikan pidatonya kepada para prajuritnya sebelum pertempuran Giza pada 1798, katanya "Di atas piramid-piramid itu, empat abad lamanya sejarah tidak bergeser." Orang mungkin tidak percaya bahwa Giza sebenarnya adalah kota mandiri yang terpisah dengan Kairo, tapi karena perkembangan Kairo yang cepat, Giza seakan ditelan oleh Kairo.
Di kota ini, Anda akan menemukan Piramid-piramid Giza, dengan Sphinx yang setia menjaga. Dataran Giza akan diubah menjadi Grand Museum of Egypt, yang akan diselesaikan pada 2012.

5. Konya, Turki (2600 SM ?)
Kota ini diapit oleh dua laut, Laut Tengah dan Laut Hitam, dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Kota yang di dirikan di atas padang rumput Anatolia ini adalah salah satu kota yang paling menarik di Turki.
Salah satu museum paling populer di kota ini adalah Green Mausoleum of Mevlana Celaleddin Rumi, makam penyair Turki terkemuka. Berbagai musium indah menanti kunjungan anda di kota ini, antara lain adalah Chaeological Museum, Koyunoglu Museum dan Ethnographical Museum.

4. Zurich, Switzerland (3000 SM ?)
Sebagai kota terbesar di Swiss dan sekaligus kita tertua di Eropa, Zurich pertama kali didirikan di zaman Romawi dengan nama Turicum. Jejak masa lalu ini dapat ditemukan di berbagai tempat di Kota Tua Zurich. Jalanan sempit yang dipenuhi dengan kafe, toko barang antik dan butik. Bahnhofstrasse, adalah salah satu jalanan yang dipenuhi toko-toko paling indah di Eropa.
Grossmünster dan Fraumünster adalah dua gereja tua yang penuh dengan interior indah. Swiss National Museum atau Kunsthaus, juga adalah salah satu musium paling terkenal di dunia. Anda pasti akan tahu betapa kota ini menawarkan semua hal terbaik dalam kehidupan anda di dunia.

3. Kirkuk, Irak (3000 SM ?)
Dengan berbagai bekas arkeologi yang berusia lebih dari 50 abad, Kirkuk adalah kota paling penting bagi orang Kurdi. Kota ini sekaligus menjadi pusat industri minyak Irak. Mungkin memang bukan tujuan yang paling banyak mendapat perhatian turis, tapi Kirkuk berdiri di bekas pusat kebudayaan kuno Asiria.
Kota ini pernah menjadi tempat pertempuran tiga Kekaisaran besar: Asiria, Babilonia dan Media, yang saling bergantian mengambil alih kuasa atas kota ini. Di kota ini terdapat makam Nabi Daniel (Kristen) dan Pasar Al Qaysareyah. Qal’at Jarmo dan Yorgan Tepe yang berada di pinggiran kota ini akan memberikan anda pengalaman hidup di masa lalu.

2. Yerusalem, Israel (3000 SM ?)
Kota suci bagi tiga agama terbesar dunia, Islam, Nasrani, dan Yahudi, kota ini adalah tempat di mana nilai kuno digabungkan dengan berbagai budaya baru yang membawa suasana metropolis baru.
Kota ini terbagi menjadi tiga bagian: Yerusalem Barat, bagian yang paling cepat berkembang dan menjadi pusat perdagangan. Yerusalem Timur, yang menjadi tempat permukiman populasi Arab, dan Kota Tua, dengan pemandangan yang luar biasa indah.

1. Gaziantep, Turki (3650 SM ?)
Kota yang dulunya dikenal dengan nama Antep yang sekarang menjadi ibukota provisi yang sama dengan namanya, Giazantep ini adalah kota tertua yang masih tegak berdiri. Kota ini memiliki sejarah sejauh zaman orang Het (Hittite). Kota ini terus menerus di tinggali semenjak zaman Paleolithic, dan tumbuh besar bersama dengan kekaisaran Ottoman.
Giazantep adalah kota yang ramah, dan seru dengan berbagai masjid, madrasah, penginapan bahkan pemandian yang berasal dari beberapa abad lalu. Rumah rumah tua dari batu selalu memiliki taman dan pohon anggur yang menghiasi, sehingga setiap anda menoleh, anda akan mendapat pemandangan terindah di dunia.

Anak Harapan Bangsa


Oleh: Deden Mauli Darajat

Saking istimewanya, hari anak di Turki menjadi hari nasional dan menjadi hari libur. Setiap tahunnya tanggal 23 April Pemerintah Turki merayakan hari anak. Perayaan ini merupakan sebuah ungkapan bahwa anak merupakan aset masa depan sebuah bangsa. Perayaan itu juga terlihat dari gedung-gedung sekolah yang dihias, khususnya sekolah dasar (SD) dan taman Kanak-kanak (TK) di beberapa wilayah di Turki.
Sabtu malam, 24 April 2010, puncak perayaan hari anak diselenggarakan di pusat ibu kota Ankara, di Taman Air Mancur Guven Park, Kizilay (seperti halnya Bundaran HI di Jakarta). Sore hari pukul 18.00 waktu setempat, masyarakat Turki mulai anak-anak, remaja, dewasa, bapak-bapak dan ibu-ibu hingga kakek-kakek dan nenek-nenek berduyun-duyun ke Kizilay untuk menyaksikan perayaan itu. Tak ketinggalan, beberapa mahasiswa asing, termasuk kami juga terlihat di sana.
Jalan utama ke arah pusat Kizilay pun sudah ditutup oleh polisi lalu lintas sejak sore hari. Tampak ratusan polisi lalu lintas dan petugas Satpol PP Turki, berkeliaran di Kizilay. Mereka diturunkan khusus untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para penonton. Dua ekor kuda pun digunakan untuk mengawasi hal yang tidak diinginkan. Namun, kami sempat bertanya-tanya saat saat petugas menyisir kami agar menepi ke tepi jalan yang malah bertambah jauh dari panggung perayaan atau sekitar 80 meter dari panggung rakyat itu.
Keheranan kami pun terjawab, saat petugas mempersilakan para penonton untuk masuk ke area pertunjukan. Namun sebelumnya para petugas Satpol PP memeriksa satu persatu para penonton yang masuk ke area pertunjukan. Sepertinya mereka tidak ingin kecolongan akan kejahatan atau kekacauan saat pertunjukan.
Belasan pelajar SMP dan SMA menari tarian khas Turki di panggung pertunjukan itu. Para penari sangat enerjik, senyum mereka berkembang saat beraksi. Tarian itu menggambarkan tarian pembawa kuda yang enerjik. Hemat saya, tarian itu ditujukan untuk para anak-anak dan remaja yang harus selalu enerjik dan bersemangat dalam menghadapi hidup yang penuh tantangan ini.
Tarian selesai dan disambung dengan nyanyian dari penyanyi terkenal di Turki, Ferhat Gocer . Tak tanggung-tanggung sekitar 10 lagu ia nyanyikan. Ajaibnya, semua nyanyian itu ditirukan dan dinyanyikan bersama-sama oleh para penonton dari anak-anak hingga bapak-bapak. Muka mereka sangat ceria. Ada yang menggendong anaknya di atas pundak orangtuanya agar anaknya dapat melihat pertunjukan itu. Ada juga sekelompok remaja yang membuat grup sendiri dan berjoget riang gembira.
Tidak habis sampai di sana, pawai hari anak juga menghiasi acara perayaan tahunan itu. Pawai itu dilakukan di tengah jalan yang membelah penonton. Jalan yang membelah itu sengaja dikosongkan (tentunya dijaga oleh petugas) untuk pertunjukan pawai hari anak. Berbagai jenis boneka besar, tokoh-tokoh kartun, dan alat-alat hiburan anak-anak dipertunjukan saat perayaan hari anak itu. Persis seperti pawai 17 Agustus di Kota saya, di Rangkasbitung-Banten. Yang menarik adalah di akhir pawai itu sebuah truk gandengan membagi-bagikan bola sepak dan bola basket kepada penonton.
Sebenarnya di Indonesia pun ada hari anak, tepatnya tanggal 23 Juli. Namun, hari anak di Indonesia tidak diliburkan seperti di sini. Dalam tulisan ini saya tidak ingin membedakan perayaan tentang hari anak. Sebab, di setiap Negara memiliki kekhasannya masing-masing. Bahkan, saking pentingnya anak, Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan bahwa tanggal 20 November, adalah hari anak-anak sedunia. Organisasi anak di bawah PBB, yaitu UNICEF untuk pertama kali menyelenggarakan peringatan hari anak sedunia pada bulan Oktober tahun 1953.
Hampir setahun lalu, saya sempat liputan di Komnas Perlindungan Anak di Jakarta. Di sana saya sempat mewawancarai anak yang putus sekolah dan mereka terpaksa bekerja demi membantu orangtuanya yang tidak mampu. Sebagian cuplikan laporan saya waktu itu di Republika, Jumat, 12 Juni 2009:
“Maryati (13 tahun) terpaksa berhenti sekolahnya saat ia menginjak kelas 3 Sekolah Dasar. Ia terpaksa bekerja untuk membantu kehidupan keluarganya. Bapaknya yang sebagai kuli bangunan dan ibunya yang bekerja sebagai penjual ikan asin, tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.
Maryati bekerja sebagai pengelem sepatu pada perusahan konveksi di kawasan Tanah Merah, Clincing Utara, Jakarta Utara. Ia mengaku di tempat ia bekerja tidak ada jendelanya. “Ruangan itu tertutup rapat,” kata dia. Padahal, ungkapnya, bau lem itu sangat menyengat hidung.
Jam kerja dari pagi sampai sore itu ia jalani dengan upah sebesar Rp. 200 ribu perbulan. Jika dirinya mengambil lembur, ia mendapat upah Rp 2 ribu perjam. “Saya bekerja dari hari Senin dampai Sabtu,” ungkapnya yang didampingi Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi.”
Mungkin sebenarnya masih banyak nasib seperti Maryati yang belum terungkap. Yang pasti anak-anak di bawah umur yang terpaksa bekerja atau pun menjadi anak jalanan sebagai pengamen, peminta-minta, asongan atau pun topeng monyet adalah pekerjaan terburuk dan rentan akan kejahatan. Anak-anak itu telah hilang masa kanak-kanaknya, yang seharusnya mendapatkan belaian kasihsayang dari kedua orangtuanya.
Ketua dan Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi dan Arist Merdeka Sirait, waktu itu, menyampaikan gugatan kepada pemerintah untuk bertindak tegas dalam mengakhiri bentuk-bentuk terburuk untuk anak. “Semua anak-anak di bawah usia 18 tahun harus mendapat perlindungan dari bentuk-bentuk terburuk pekerjaan anak,” kata Arist Merdeka Sirait waktu itu.
Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat Indonesia secara umum untuk memperhatikan anak-anak Indonesia yang merupakan harapan bangsa kita. Kalau dulu pemuda adalah pejuang bangsa, semestinya saat ini calon pemuda yang akan menjadi pejuang bangsa benar-benar diperhatikan demi kemajuan bangsa yang jaya dan membanggakan di mata dunia.
deden_md@yahoo.com