Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Selasa, 03 September 2013

Logika Bisnis Sepakbola



Saya cukup senang dengan dimulainya pertandingan Liga Sepakbola Eropa di pertengahan bulan Agustus. Sebab pada musim panas yang tanpa adanya perhelatan sebakbola itu hampir mirip dengan makanan tanpa garam. Hambar. Tapi selalu ada yang mengejutkan di awal-awal liga. 

Kali ini yang lebih menyentak hati dan pikiran adalah tentang berita beberapa menit menjelang penutupan bursa transfer pemain sepakbola. Betapa tidak, sebagai fans Real Madrid, meski klub asal Spanyol ini mendapatkan pemain-pemain hebat, tapi juga melepaskan pemain yang sudah menyumbangkan banyak gol dan asisnya.

Lihatlah data ini: pemain baru yang baru saja dibeli Madrid adalah Gareth Bale, yang cukup alot dalam negoisasi antara Spurs dan Madrid, ada juga Isco, yang dalam tiga pertandingan awal sudah menyumbang 3 gol. Madrid juga mendatangkan Carvajal, Illarra, Casemiro dan Jese.

Dengan datangnya pemain baru, konsekuensi logisnya adalah harus ada yang keluar. Walaupun yang keluar dari Madrid juga bukan main-main bagusnya. Penyerang utama Higuain di awal masa transfer sudah memilih klub Napoli, selain nama Callejon dan Albiol. Essien kembali ke Chelsea bersama Mourinho. 

Ada juga Adan, Carvalho, Cheryshev. Bahkan, Kaka langsung pergi ke Milan setelah Madrid secara resmi dapatkan Bale. Yang paling akhir dan menyedihkan bagi fans Madrid adalah hengkangnya Ozil ke Arsenal. Ternyata ada satu lagi, Coentrao dipinjamkan ke MU di menit akhir bursa transfer pemain sepakbola.

Nyesek sih, banyak pemain bagus yang hilang. Tapi bagi fans klub lain yang kedatangan mantan pemain Madrid sangat senang. Banget. Hahaha. Saksikan saja bagaimana antusiasnya pelatih dan fans Arsenal kedatangan Mesut Ozil. Juga AC Milan yang pemain terbaiknya kembali ke rumahnya. Atau Napoli disebut-sebut sebagai klub yang cukup disegani setelah mendatangkan 3 mantan pemain Madrid.

Logika yang digunakan dalam pembelian dan penjualan adalah seratus persen bisnis. Membeli pemain yang terbaik agar dapat menyumbangkan sebuah piala. Dan itu dapat menutup harga pembelian pemain itu. 

Bahkan, logika ini juga akhirnya tidak menyertakan perasaan, dengan alasan profesionalitas. Padahal bahasa yang secara tidak halus adalah mengatakan, pemain yang dijual itu tidak bisa lagi memuaskan sang pemilik klub yang haus kemenangan dan haus keuntungan yang sebanyak-banyaknya.

Pembelian dan penjualan pemain bola ini sebenarnya kalau boleh kita menyebutnya sebagai perbudakan pada zaman modern. Dulu budak dibeli dan dijual untuk menjadi budak atau pembantu di zaman jahiliyah. Sekarang, pemain boleh dijual dan dibeli untuk memperebutkan sebuah juara dan keuntungan besar bagi klub. Sama saja kan? Hehe.

Tapi ada satu hal yang sangat kontradiktif ketika kedatangan dan kepergian pemain. Saat perkenalan Bale di Santiago Bernabeu, misalnya, perhelatan akbar terjadi di stadiun di ibukota Spanyol itu. Hiperbola media dalam pemberitaan kedatangan itu begitu kentara. Bahkan streaming sudah disiarkan satu jam sebelum acara perkenalan itu sudah disiarkan melalui Real Madrid TV dan Youtube. Ratusan ribu orang menyaksikan acara itu.

Sementara di tempat lain, di saat melepaskan pemainnya Madrid hanya menulis sebuah rilis berita melalui website resminya. Padahal ketika mendatangkan pemain itu hampir sama dengan kedatangan Bale di Madrid. Sebut saja Kaka yang dulu didatangkan Madrid dari AC Milan. Saat dijual tidak ada hingar binger kepergiannya dari Madrid.

Jika dianalisa, kepergian Ozil ke Arsenal tentu disebabkan ia tidak lagi diprioritaskan dalam sekuat utama. Menumpuknya gelandang di skuat Madrid menjadi alasan utama hengkangnya pemain asal Jerman berdarah Turki itu. Ia tidak mau nasibnya seperti Kaka, yang dulu masih bertahan meski sudah sering dicadangkan. Sebab tugas pokok pemain adalah bermain sepakbola bukan menjadi pemain cadangan atau pengganti.

Para fans klub sepakbola tidak bisa berbuat apa-apa ketika pemain kesayangannya merumput di klub lain. Dan ada beberapa tipe fans klub sepakbola. Ada yang menyukai karena klubnya bagus. Ada yang mencintai karena pemainnya bagus. Ada juga yang hanya ikut-ikutan suka klub saat klub itu juara. 

Dan akhirnya para fans klub sepakbola harus sadar bahwa sepakbola adalah bisnis jumbo abad modern. Dalam sebuah klub dapat menghasilkan jutaan bahkan milyaran euro. Mulai penjualan karcis, jersey, sampai pernak-pernik klub lainnya. Juga tak kalah penting adalah hadiah utama jika menjadi juara liga domestik, piala raja dan liga champions. 

Di luar itu semua, saya sebagai penikmat permainan sepakbola Real Madrid hanya menjadikan itu sebagai hiburan di akhir pekan. Ya, akhir pekan tanpa bola hanya seperti makanan tanpa garam, hambar.

Jumat, 09 Agustus 2013

Khutbah Idul Fitri 1434 H di Wisma KBRI Ankara


Oleh Deden Mauli Darajat

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلله اَكْبَرْ اَلله ُاَكْبَرْ اَلله ُاَكْبَرْ اَلله ُاَكْبَرْ اَلله ُاَكْبَرْ اَلله ُاَكْبَرْ اَلله ُاَكْبَرْ اَلله ُاَكْبَرْ اَلله ُاَكْبَرْ
لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ، اَللهُ اَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَعَبْدَهُ وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الْاَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَلَانَعْبُدُ اِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنِ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
نَحْمَدُالله حَقَّ حَمْدَهْ، وَنَشْكُرُهُ حَقَّ شُكْرَهْ
اَلْحَمْدِلِلَّهِ الَّذِىْ جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيْدًا وَسَعَادَةً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَخَتَمَ بِهِ شَهْرُ رَمَضَانَ الْمُبَارَكَ الَّذِيْ كُتِبَ فِيْهِ الصِّيَامُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَأُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُداً لِلْمُتَّقِيْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِى سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
اَمَّابَعْدُ: فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ  وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْتُم مُسْلِمُوْنَ.
قاَلَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَاهَدَا كُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.
Allahu Akbar 3 X Walillahil Hamd
Ma’asyiral Muslimin Rahima kumullah.
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah kita panjatkan bahwa pada pagi hari yang cerah ini kita dapat berkumpul untuk melaksanakan Shalat Ied di Wisma KBRI Ankara ini. Ketika adzan maghrib kemarin berkumandang maka berakhirlah bulan Ramadhan yang agung itu. Bulan dimana diwajibkannya berpuasa bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Dan kita wajib bersyukur bahwa kita telah diberi kemampuan oleh Allah untuk beribadah puasa Ramadhan di musim panas dengan durasi sekitar 17 jam itu.

Banyak ibadah special yang dapat dilakukan pada bulan yang Ramadhan. Bahkan empat dari lima Rukun Islam kita laksanakan dalam bulan Ramadhan, mulai shahadat, shalat, puasa dan zakat. Hanya ibadah haji saja yang tidak bisa kita laksanakan di bulan Ramadhan, karena ibadah haji ini memiliki waktu yang khusus yaitu di bulan Dzulhijjah.
Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah
Untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan kita diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah. Zakat fitrah dapat dilaksanakan sejak awal bulan Ramadhan hingga pagi menjelang Shalat Ied. Sebab Rasulullah SAW, bersabda, bahwa jika zakat dibayarkan sebelum Shalat Ied itu berarti zakat fitrah sementara zakat yang dibayarkan sesudah Shalat Ied berarti itu adalah shadaqah biasa.
Zakat secara bahasa berarti mensucikan. Secara maknawi, zakat berarti mensucikan jiwa kita dari perbuatan keji dan munkar. Secara syariat Zakat merupakan jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya menurut ketentuan yang telah ditetapkan. Jadi, semua umat Muslim wajib membayar zakat fitrah mulai dari balita hingga lansia.
Allahu Akbar 3 X Walillahil Hamd
Jemaah shalat id yang berbahagia
Setelah kita berjuang melawan nafsu kita dari makan, minum dan syahwat selama bulan Ramadhan serta telah menunaikan zakat fitrah, maka Allah memberikan hari kemenangan yang dapat kita rayakan, juga untuk saudara-saudara kita umat Muslim di seluruh dunia. Bahkan untuk perayaan Idul Fitri ini Allah melarang umat Muslim untuk berpuasa pada tanggal satu Syawwal.
Secara bahasa Idul berarti kembali. Sementara Fitri berarti makan, membangun dan mendirikan. Jadi secara bahasa Idul Fitri berarti kembali makan sesudah berpuasa. Hadits Rasulullah SAW menyebutkan bahwa terdapat dua kesenangan bagi orang yang berpuasa yaitu pertama saat fitri atau iftar (berbuka puasa dan atau lebaran) kesenangan kedua adalah ketika bertemu dengan Allah SWT.
 للصائم فرحتان يفرحهما : إذا أفطر فرح ، وإذا لقي ربـه فرح بصومه . رواه البخاري
Secara maknawi, Idul Fitri berarti kembalinya umat Muslim yang sudah melaksanakan kewajiban berpuasa Ramadhan selama satu bulan penuh dan juga melaksanakan kewajiban berzakat fitrah maka ia kembali suci. Kembali fitrah. Seperti halnya orang yang baru lahir kembali.

Jika dalam bulan Ramadan kita diperintahkan berpuasa dan dijanjikan pengampunan dan pembebasan dari siksaan api neraka, maka hari ini, Allah memerintahkan hamba-Nya agar bertakbir mengagungkan kebesaranNya, serta bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan.
Kemenangan yang diraih itu tidak akan tercapai kecuali dengan pertolongan Allah. Maka sudah sewajarnya hambaNya memperbanyakkan zikir, takbir, tahmid dan tasbih kepada Tuhannya serta bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.
Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 185 yang artinya : “Dan agar kamu membesarkan Allah atas apa-apa yang telah Dia beri petunjuk kepadamu, dan agar kamu bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan.”
لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Pada hari ini marilah kita saling memaafkan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Setelah kita meminta maaf dan meminta ampunan pada Allah, kita pun diperintahkan oleh Allah untuk saling memaafkan. Sebab meminta maaf dan memberi maaf dapat menenangkan dan mendamaikan hati kita. Dan juga memaafkan lebih dekat kepada takwa. Allah berfirman dalam surat Albaqarah ayat 237:
وَ أَنْ تَعْفُوْا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
Yang artinya: “dan pemaafanmu itu lebih dekat kepada takwa” QS AlBaqarah 237

Allahu Akbar 3 X Walillahil Hamd
Jemaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah
Saat Idul Fitri ini kita diperbolehkan untuk bersenang-senang. Sebab ada dua hari yang diberikan Allah kepada umat Muslim untuk bersenang-senang yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Apa arti dari senang-senang itu? Arti dari senang-senang di sini adalah saat lebaran kita dilarang untuk melaksanakan ibadah puasa dan diperbolehkan untuk menikmati hidangan-hidangan.
Bahkan kesenangan ini bukan hanya milik orang kaya, namun juga milik orang fakir miskin. Dengan apa mereka bisa merasakan kesenangan? Pada Idul Fitri fakir miskin bisa senang karena mereka menerima zakat fitrah. Karenya zakat fitrah diwajibkan dibayarkan sebelum Shalat Ied agar kaum papa dapat menikmati zakat fitrah itu. Sementara pada Idul Adha mereka mendapatkan daging kurban.

Allahu Akbar 3 X Walillahil Hamd
Kaum Muslimin wal Muslimat Yang Berbahagia.
Hari Raya Idul Fitri mencerminkan tiga sikap yang mesti kita miliki. Pertama, mempertahankan nilai-nilai kesucian yang diraih umat Islam pada hari Fitri. Berlalunya momentum puasa Ramadhan hendaknya tidak dijadikan sebagai kembalinya manusia kepada kebiasaan dan perilaku yang jauh dari perintah Allah atau malah dekat dengan segala larangan-Nya. Inilah dia hari bagi umat Islam melaksanakan konsep Idul Fitri yang dimaksudkan kembali kepada fitrah.
Dengan tibanya Idul Fitri, kita seolah-olah kembali baru dengan hati dan jiwa yang bersih. Keadaan yang kembali baru seperti halnya sehelai kain putih, bersih dan suci dari segala kotoran. Inilah keberhasilan dan kegembiraan bagi mereka yang berjuang mendapatkan keridhaan Allah. Fitrah tersebut harus dipelihara. Kesuciannya jangan dicemari. Harus dijadikan sebagai dorongan untuk meneruskan perjuangan dalam melaksanakan ibadah dan meraih pahala yang lebih besar pada bulan-bulan selanjutnya.
Kedua, berharap bahwa Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu dan meminta kepadaNya untuk selalu dibimbing agar dijauhkan dari perbuatan dosa pada kemudian hari. Allah akan mengampuni segala dosa kaum Muslim yang pada bulan Ramadhan melaksanakan ibadah puasa  secara bersungguh-sungguh dengan berniat hanya untuk Allah SWT semata.
Ketiga, hendaknya melakukan evaluasi diri bahwa ibadah puasa kita sudah sesuai dengan apa yang diharapkan Allah SWT. Jangan sampai kita seperti yang disabdakan Nabi SAW, "Banyak sekali orang yang berpuasa, yang puasanya sekadar menahan lapar dan dahaga."

ورواه باللفظ الثاني: الطبراني في «المعجم الكبي  "كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطس"  
Allahu Akbar 3 X Walillahil Hamd
Jemaah shalat id yang berbahagia
Apa hikmah yang bisa kita ambil selama bulan Ramadhan yang penuh dengan ibadah dan ditutup dengan berlebaran? Hikmahnya antara lain, adalah, pertama, Hikmah Ketauhidan dan Keimanan. Dengan berpuasa kita sadar bahwa hanya Allah yang memberikan kekuatan kepada kita untuk berpuasa atau beribadah lainnya. Bayangkan jika kita diberikan sakit oleh Allah, maka kita tidak akan bisa berpuasa.
Kedua, Hikmah Ketakwaan. Orang berpuasa seperti firman Allah dalam surat Albaqarah (2) ayat 183, bertujuan agar kita menjadi manusia takwa. Jadi kalau kita belajar di sekolah berakhir dengan wisuda kelulusan, maka ibadah puasa Ramadhan pun harus berakhir dengan dengan wisuda ketakwaan.

Ketiga adalah Hikmah Fitrah atau hikmah kembali kepada kesucian. Mengapa demikian, karena dengan ibadah puasa dan menunaikan zakat fitrah yang bisa menyucikan kita dari perbuatan keji dan munkar itu maka kita kembali kepada kesucian yang hakiki. Fitrah ini bisa didapat jika kita melaksanakan semua kewajiban dan sunah Rasulullah di bulan suci hanya karena Allah semata.
Keempat adalah Hikmah Ukhuwah atau persaudaraan. Jika Ramadhan tiba, maka kita biasa melaksanakan buka puasa bersama, baik dengan keluarga, teman lama yang tidak pernah bertemu, atau dengan siapa saja saat berbuka puasa bersama di tempat umum. Dari sini hadir  silaturrahim antar sesama manusia. Dan silaturrahim pangkal ukhuwah atau persaudaraan.
Ukhuwah dengan makna yang lebih dalam adalah, dimana kita dapat berbagi kebahagiaan kepada orang-orang yang kurang mampu. Berbagi hidangan berbuka puasa. Berbagi hidangan lebaran.
Sebab di daratan Afrika sana ada orang-orang yang berpuasa tetapi mereka tidak mengenal berbuka, karena tidak memiliki makanan yang akan disantap. Juga ribuan saudara kita di Syuriah, misalnya, yang berlebaran di tenda-tenda. Dan masih banyak lagi orang-orang yang tidak seberuntung kita.
Inilah hikmah ibadah di bulan suci dan Idul Fitri. Semangat memberi dan berbagi harus kita tunjukan kepada siapa saja yang tidak mampu. Karena dalam rezeki kita yang diberikan oleh Allah SWT ada rezeki orang lain yang harus kita tunaikan.

Allahu Akbar 3 X Walillahil Hamd
Jemaah shalat id yang dirahmati Allah
Lantas bagaimana jika Ramadhan telah pergi, apa yang dapat kita lakukan? Allah SWT memberi nikmat lainnya yaitu dengan puasa enam hari di bulan Syawwal. Sabda Rasulullah SAW, barang siapa yang melaksanakan puasa bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti puasa selama satu tahun.
Ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan harus kita lanjutkan di sebelas bulan berikutnya. Agar kita tetap istiqamah di jalan Allah. Ibadah wajib seperti shalat lima waktu dan shalat sunah lainnya harus kita istiqamahkan. Begitu juga sedekah yang kita lakukan harus diteruskan. Berbuat baik kepada siapapun, dimana pun dan kapan pun.

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي هذَا الْعِيْدِ السَّعِيْدِ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، فَمَنْ أَطَاعَهُ فَهُوَ سَعِيْدٌ وَمَنْ أَعْرَضَ وَتَوَلَّى عَنْهُ فَهُوَ فِي الضَّلاَلِ الْبَعِيْدِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
***
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ،. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ. إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

تقبل الله منا ومنكم صالح الاعمال كل عام وانتم بخير

Rabu, 31 Juli 2013

Penikmat Rindu



Aku tahu aku sedang merindu
Tapi tak mengapa
Disebabkan rindu itu
Terkadang juga nikmat

Yang menyedihkan dari rindu
Adalah siapa yang kita rindukan
Tidak merindukan kita
Pun sebaliknya

Tapi itu bukan masalah
Sebab rindu hadir dari hati
Untuk dinikmati
Bukan untuk ditangisi

Rindu lahir dari cinta
Wahai cinta lihatlah
Kau hadirkan rindu
Diantara para pecinta

Mereka yang dilanda rindu
Menikmati siksaan rasa
Yang hanya bisa dirasakan
Para perindu yang tak saling bertemu

Banyak kata-kata lahir
Dari para pecinta
Yang merindukan rindu
Yang mencari arti hidup

Sebab hidup tak bermakna
Tanpa hadirnya cinta
Dan tak akan merasakan indahnya 
Rindu jika tak merasakan cinta

Ankara, 29 Juli 2013 

Minggu, 28 Juli 2013

Adakah yang Abadi?


Ingin kusampaikan padamu
Mungkin kau sudah lupa
Atau kau ingat tapi
Kau sengaja lupakan

Sebab kau terlalu sibuk
Dengan urusan duniamu
Karena kau jua terlena
Dengan semua yang kau miliki

Kau terlalu berpikir keras
Bagaimana menaklukkan dunia
Padahal itu sama saja dengan mencari
Pangkal dunia yang tak berujung

Hidup ini seharusnya
Kau bawa dengan santai
Dan tak usah terlalu
Sebab yang berlalu akan berlalu

Kenikmatan hidup kadangkala
Terletak saat kita
Menerima apa adanya
Hidup yang sementara ini

Ohya, ini yang ingin
Aku sampaikan padamu
Bahwa hidup ini sementara
Dan tak ada yang abadi

Yang abadi hanyalah
Tuhan yang menciptakan
Dunia dan seisinya
Termasuk aku dan kamu

Jadi tak usahlah
Terlalu serius, terlalu gembira
Terlalu sedih, terlalu galau
Ini semua hanya sementara

Hidup hanya sebentar saja
Seperti naik bus
Dari satu halte
Dan turun di halte lain

Pemandangan di tengah jalan
Adalah hiasan kehidupan
Orang-orang dalam bus
Merupakan sahabat hidupmu

Jangan kau sangkal lagi
Mungkin kau berpikir
Hidup ini akan abadi
Kawan, kau salah besar

Jangan kau puja tahta harta
Wanita dan keluargamu
Semua itu hanya titipan dari
Tuhan yang mahabaik

Suatu saat semua akan pulang
Ya, pulang ke kampung halaman
Kembali ke sedia kala
Laiknya kita dilahirkan

Kawan, manusia akan dilihat
Bukan saat dia dilahirkan
Melainkan saat ajal datang
Dan bagaimana ia meninggal


Ankara, 27 Juli 2013

Minggu, 21 Juli 2013

Gagal Umroh



Dalam mobil yang akan mengangkut panitia simposium PPI Eropa Amerika dari kantor KJRI Istanbul menuju tempat penginapan panitia, beberapa waktu silam, ada sepasang suami istri yang sudah tua ikut dalam rombongan kami. Saya pikir kedua orangtua ini adalah salah satu sanak keluarga dari diplomat atau staf KJRI Istanbul. Karena mereka tinggal di kantor KJRI untuk beberapa hari, dan staf KJRI melayani mereka dengan baik.

Kantor KJRI Istanbul saat itu memang super sibuk. Selain menyiapkan tempat untuk para delegasi simposium dari PPI berbagai negara di Eropa dan Amerika, para staf KJRI juga tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Menerima tamu dari Indonesia, salah satunya. Kalau pun bukan dari keluarga KJRI, saya masih berpikir kedua ibu bapak ini masih ada hubungannya dengan KJRI.

Tetapi ada yang janggal, kedua orang ini hanya berbincang di antara mereka saja. Maksudnya, mereka jarang berkomunikasi dengan yang lain. Kecuali ketika mereka mau masuk ke dalam mobil yang akan kami kendarai. Mereka berdua dengan muka manis mengucapkan terimakasih kepada Konjen RI, Pak Suri, dengan senyum termanisnya.

Akhirnya, insting wawancara dan untuk menghilangkan keraguan yang ada dalam pikiran saya, saya membuka pembicaraan dengan kedua orangtua ini. Saya perkenalkan diri saya sebelum saya bertanya siapa beliau, mengapa mereka ada di Istanbul dan untuk apa? dan sebagainya. Jangan dikira ini wawancara serius, ini lebih kepada ngobrol biasa saja.

Bapak itu bercerita pada saya, kalau beberapa hari sebelumnya ia bersama rombongan jemaah umroh datang ke Istanbul dari Indonesia. Umroh plus jalan-jalan ke Istanbul. Dalam beberapa tahun terakhir ini memang banyak agen travel umroh di Indonesia yang menyediakan tambahan jalan-jalan, salah satunya ke ibukota kesultanan Utsmani, Istanbul.

Yang aneh dalam perjalanan umroh yang diikuti bapak dan ibu ini adalah, jalan-jalan dulu sebelum ibadah umroh. Bukan umroh dulu baru jalan-jalan. Rombongan jemaah umroh ini menikmati kota dua benua ini sebelum mereka terbang ke Mekkah dan Madinah. Di saat bapak ini melaksanakan shalat di masjid biru alias Masjid Sultan Ahmet, ada kejadian yang tidak diinginkan.

Ketika bapak ini makan di restoran depan masjid biru dan akan membayar makanan, cerita sang ibu, tas yang di kalungkannya sudah menghilang. Entah terjatuh dimana atau hilang dicopet orang. Padahal, ungkap ibu yang pensiun dari departemen keuangan ini, si bapak selalu teliti dengan barang bawaannya. “Baru kali ini bapak kehilangan barangnya,” tutur ibu itu sedih.

Sepasang kekasih yang sudah menikah selama 40 tahunan itu langsung mengecek tempat yang pernah mereka lalui hari itu. Namun, setelah berkeliling hasilnya nahas. Mereka tak menemukan tas mungil yang berisi paspor dan sejumlah uang tersebut. Mereka berdua kemudian lepas dari rombongan yang melanjutkan safari keliling Istanbul.

Untuk menenangkan pikiran, mereka kembali ke hotel. Mereka juga berpikir sang suami tak bisa jalan-jalan keluar hotel karena tak memiliki paspor sekaligus visa. Si pembina travel yang bertugas langsung menghubungi kedutaan atau konsulat jenderal Republik Indonesia terdekat untuk melaporkan salah satu anggotanya yang kehilangan paspor. Dihubungi demikian, Konjen RI di Istanbul langsung mengarahakan mereka untuk melaporkan diri dan tinggal di kantor KJRI hingga semua urusan selesai.

Mobil yang akan membawa kami ke tempat penginapan panitia itu mampir sejenak ke bandara untuk mengantar bapak yang kehilangan paspor beserta istrinya. Kami pun mengantar mereka sampai ke gerbang Bandara Internasional Ataturk. KJRI membantu membuatkan paspor pengganti dan membuat surat keterangan bahwa yang bersangkutan kehilangan paspor di Istanbul.

Satu hal yang paling membuat mereka sedih. Karena paspor hilang, mereka tak bisa berangkat ke Arab Saudi untuk beribadah umroh. Padahal inti perjalanan mereka adalah untuk berziarah ke tanah suci Masjidil haram untuk berumroh. Sementara ke Istanbul hanyalah perjalanan tambahan. Walapun ada kesedihan lainnya, yaitu sejumlah uang mereka juga hilang yang tersimpan di dalam tas mungil yang hilang itu.

Satu yang saya banggakan dari istri yang sudah menemani suaminya empat dekade itu. Ibu itu sebenarnya bisa saja berangkat umroh tanpa suaminya. Karena paspor dan visa sang ibu itu masih ada dan berlaku. Tapi ia mengaku tak mau berangkat sendiri. “Saya memilih untuk tidak berangkat dan menemani bapak,” ujarnya.

Di kala suami sedih, papar ibu itu, dirinya tidak mau meninggalkannya. Sebab, susah dan senang harus ditanggung bersama. “Bapak selalu ada di samping saya. Saya pun harus begitu,” kata ibu yang memiliki tiga anak lelaki dan enam orang cucu.

Sang ibu berkisah, sebenarnya mereka sudah pernah melaksanakan umroh beberapa kali, bahkan ibadah haji pun sudah pernah dilakukannya beberapa tahun silam. Keinginan mereka saat itu adalah berumroh dan melaksanakan jalan-jalan tambahan. Dan daftarlah mereka untuk berumroh plus jalan-jalan ke Istanbul. “Sebab Istanbul salah satu kota tujuan wisata yang bagus,” ujarnya.

Tapi, Allah punya rencana lain. Bapak dan Ibu itu kembali ke tanah air tanpa mampir ke Arab Saudi.

Mendengar itu saya hanya diam menelan air ludah, dan mencoba untuk membesarkan hati mereka. “Allah punya rencana lain untuk bapak dan ibu,” kata saya. “Dan selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian,” tambah saya.

Saya jadi teringat sebuah kalam Ilahi dalam Quran surat Alhadid (57) ayat 22 dan 23, yang artinya: Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhulmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Dan sabar memang terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, sabar dalam melaksanakan perintah Allah. Kedua, sabar dalam menjauhi larangan Allah. Ketiga, sabar dalam menerima qada dan qadar. Kejadian yang menimpa sepasang suami istri ini adalah termasuk dalam sabar yang ketiga.

Kadang kala, secara mendadak kita menerima sesuatu yang tidak kita inginkan. Maka hal yang paling penting dan utama yang harus kita lakukan adalah menyerahkan semuanya kepada Allah. Karena semua ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Dan yang dapat menenangkan hati di kala gundah dan galau adalah menerima semua qada dan qadar yang telah dituliskan Allah itu dengan ikhlas.

Rabu, 17 Juli 2013

Cobaan Berpuasa di Turki



(Dimuat di Republika, Rabu 17 Juli 2013)

Oleh Deden Mauli Darajat

Tidak ada larangan untuk menutup restoran atau kafe.

ANKARA -- Tidak ada yang istimewa dalam menyambut puasa Ramadhan di Turki. Meski penduduk negara bekas Kesultanan Ustmani mayoritas Muslim, suasana Ra madhan dan bulan lainnya sama saja. Bahkan, restoran dan kafe-kafe masih buka pada bulan puasa ini.

Tidak ada peraturan yang mewajibkan restoran tutup pada bulan puasa. Dari anak muda sampai dengan tua, tanpa rasa malu minum ataupun makan di kafe pinggir jalan. Di pagi hari, mereka tetap menikmati sarapan dan segelas air teh hangat.

Walaupun demikian, Pemerintah Kota Ankara tahun ini menyediakan buka puasa gratis di sembilan titik utama di ibu kota Turki. Kesembilan titik itu adalah Masjid Haji Bayram, Genclik Park alias Taman Pemuda, Guven Park, Kecioren, Pasar Sincan, Stasiun Metro OSTIM, Abidin Pasa Makro Market, Siteler Girisi Ust Gecit Ayagi, dan Terminal Bus ASTI.

Puasa pada musim panas di Turki ini lebih dari 17 jam. waktu imsak di Ankara, misalnya, pukul 03.26 dan buka puasa pukul 20.30. Cuaca terik pada musim panas juga merupakan ujian lainnya selain durasi yang panjang.

Ini memang bukan kali pertama cuaca cukup terik. Tahun lalu, suhu udara sempat mencapai 45 derajat Celsius. Puasa lebih ringan jika dilakukan pada musim dingin. Dengan waktu berpuasa hanya 10 jam. Tapi, siklusnya ini bisa berlangung lama, 15 sampai 20 tahun.

Di hari ketiga puasa, semaraknya sua sana berbuka tampak di Masjid Ha ji. Buka puasa disediakan langsung oleh Wali Kota Ankara Melih Gokcek. Setibanya di pelataran salah satu masjid tertua di Ankara itu, para pengunjung sudah memenuhi masjid.

Ada beberapa pengunjung yang se ngaja datang bersama keluarga dan membawa makanan pembukaan. Mereka membawa karpet dan menggelar di taman masjid. Di halaman masjid yang terletak di Ulus ini sudah disediakan tenda besar untuk berbuka bersama. Satu jam setengah sebelum berbuka antrean sudah mengular belasan meter.

Sementara, makanan dibagikan setengah jam sebelum berbuka. Menu buka puasa di tempat ini ada empat macam, nasi, sup, lauk pauk, dan salad, ditambah dua buah kurma dan sebotol air minum. Sebenarnya, tidak ada makanan khusus Ramadhan. Menu buka puasa di pusat Ramadhan pun sama saja dengan menu makanan di kantin kampus atau kantin asrama.

Yang menarik dari berpuasa di sini adalah undangan buka puasa bersama di wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara atau diundang buka puasa oleh warga negara Indonesia di rumahnya.
Undangan seperti ini hukumnya wajib datang bagi para pelajar. Selain untuk silaturahim, juga untuk menyantap masakan In donesia. Biasanya, disedikan takjil kolak atau es buah.

Godaan terbesar dalam menjalan kan ibadah puasa Ramadhan di Turki adalah masih banyak warga setempat yang tidak berpuasa. Restoran yang menjajakan makanan ma sih dikunjungi oleh para konsumen. Ini disebabkan sistem negera Republik Turki yang sekuler. Artinya, aturan negara/pemerintah harus dipisah dengan aturan agama. Bahwa, soal ibadah adalah masalah pribadi dan negara tidak berhak mencampurinya.

Meski begitu, pada malam hari masjid-masjid penuh oleh jamaah shalat Tarawih. Puncaknya terjadi pada malam 27 Ramadhan. Masjid membeludak hingga pelataran, bahkan jika letak masjid di samping jalan, juga akan penuh oleh jamaah sha lat Tarawih. Sebagian besar warga setempat percaya bahwa malam 27 Ramadhan adalam malam Lai - latul Qadar, malam seribu bulan.


(mahasiswa indonesia studi S-2 di universitas ankara, turki, ed:teguh firmansyah)

Selasa, 16 Juli 2013

Berpuasa di Ujung Timur Eropa


Oleh Soraya Bunga Larasati (Dimuat di Media Indonesia, Senin, 15 Juli 2013)


Waktu imsyakiyah di Ankara sekitar pukul 03.26, sedangkan waktu berbuka puasa pukul 20.30.

BERKESEMPATAN menuntut ilmu di Turki membuat Deden Mauli Drajat, 30, harus meninggalkan keluarga dan pekerjaannya sebagai wartawan.

Deden telah melalui tiga Ramadan di negara paling timur Eropa tersebut.
Turki ialah negara dengan empat musim, yakni musim panas (Juni-Agustus), musim gugur (SeptemberNovember), musim dingin (Desember-Februari), dan musim semi (Maret-Mei). “Saya kena puasa di musim panas yang siangnya lama.“

Karena itu, sebelum bulan suci, ia selalu berusaha menjalani puasa sunah untuk membiasakan diri tidak makan dan minum lebih dari 17 jam. “Nambah tiga sampai empat jam ketimbang waktu berpuasa di Indonesia.“

Waktu imsyakiyah di Ankara sekitar pukul 03.26, di sisi lain waktu berbuka puasa pukul 20.30. “'Bonusnya lagi', selain puasanya lama, musim panas di Turki suhunya bisa ekstrem mencapai 45 derajat celsius. Padahal, di Jakarta kita biasanya kena panas 30 derajat saja sudah ngeluh macam-macam.“

Meski mayoritas penduduk di Turki beragama Islam, terkait agama, sistem negara Republik Turki ialah sekuler. Tidak ada larangan beroperasi bagi restoran dan orang makan atau minum di luar rumah pada Ramadan.

Buka puasa bersama Menurut Deden, yang unik ialah setiap tahun dalam satu hari Ramadan, Pemerintah Kota Ankara menyelenggarakan buka puasa bersama. “Dua tahun lalu terpusat di Genclik Park alias Taman Pemuda. Tahun lalu di Masjid Haji Bayram, salah satu masjid tertua di Ankara.“

Untuk Ramadan tahun ini, ia belum tahu di mana pusat acara buka puasa bersama akan digelar. Pada acara itu disediakan menu buka puasa gratis. Selain itu, ada berbagai pameran, seperti buku dan penjual aksesori.

Namun, tahun ini ada sembilan titik tempat berbuka puasa bersama gratis yang disediakan pemerintah Kota Ankara, yakni di Masjid Haji Bayram, Genclik Park alias Taman Pemuda, Guven Park, Kecioren, Pasar Sincan, Stasiun Metro OSTIM, Abidin Pasa Makro Market, Siteler Girisi Ust Gecit Ayagi, dan Terminal Bus ASTI.

Karena gratis, banyak orang yang mengantre.
“Mayoritas mahasiswa yang bulanannya terbatas seperti saya, sisanya orang biasa, ada juga para pekerja. Ada yang membawa keluarga.“

Mereka mengantre bisa menghabiskan satu bahkan dua jam sebelum berbuka.
Ada satu makanan khas Turki yang menurut Deden paling ia sukai. “Namanya iskender. Makanan ini berupa irisan roti ditutup dengan irisan daging kebab, disiram dengan saus tomat. Di pinggirnya diberi yogurt. Rasanya ‘maknyus’,” ujarnya.

Yang menarik, menurut Deden, di Turki tidak pernah ada perbedaan penetapan waktu berpuasa ataupun Idul Fitri seperti di Indonesia.

“Awal puasa dan Idul Fitri serempak di seluruh Turki. Masyarakat di sini menerima keputusan pemerintah, yaitu Kementerian Agama Republik Turki, yang menentukan kalender Hijriah di sini.”

Mahasiswa di fakultas pascasarjana Universitas Ankara yang sudah memasuki tahap akhir itu mengaku amat menikmati pengalaman berpuasa di Turki meski berat dijalani karena waktu berpuasa yang lebih panjang dibandingkan di Tanah Air. Namun, ia mengaku lebih berbahagia menjalankan ibadah Ramadan di Indonesia. “Tak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah,“ ujar Deden menandaskan. 

(H-1) soraya @mediaindonesia.com

Senin, 08 Juli 2013

Sunyi



Sepi menuntut untuk berani
Sunyi ajarkan bertahan diri
Diam bukan berarti tak mengerti

Menutup bukan berarti tak tahu
Membuka hanya untuk menerka
Melihat kadang terkena muslihat

Gerak adalah puncak diam
Benci itu puncak cinta
Air mata puncak segala rasa


Ankara, 7.7.2013

Rabu, 03 Juli 2013

Pernikahan di Turki



"Menikahlah karena itu anjuran agama"

Kali ini saya pingin bercerita tentang pernikahan di Turki. Kalau pernikahan di Indonesia sudah tidak asing lagi bagi saya. Di Indonesia mungkin hanya berbeda adat saja, tapi umumnya sama. Prosesi akad nikah kemudian dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Seperti halnya tahun lalu saya hadir di pernikahan sahabat saya, Fernan Rahadi di Jogjakarta.

Pekan lalu, teman saya, Muhammad Nasir Rofiq, dari Adana datang ke Ankara. Tujuan Bang Nasir, sapaan saya untuknya, dua agenda besar. Pertama menghadiri wisuda kelulusan penerima beasiswa Pemerintah Turki dan kedua menghadiri pernikahan temannya. Bang Nasir yang baru saja lulus S3-nya ini datang bersama istrinya ke Ankara.

Hanefi Kansiz menikah dengan Esra di sebuah gedung terbuka milik TCDD, semacam PT KAI di Indonesia. Tenda-tenda sudah dipasang saat kami datang ke pesta pernikahan. Saya, Bang Nasir dan istrinya, dijemput Emrah dan adiknya di stasiun Akkopru dekat Ankamall, kemudian kami meluncur ke tempat resepsi pernikahan.

Sebelum pesta pernikahan dimulai.

Kami datang lebih awal, untuk menghargai Yasin, nama kecil Hanefi. Jadwal pernikahannya pukul 19.30 dan kami datang pukul 19.00 sore. Matahari masih menampakkan dirinya di ujung barat. Musim panas ini maghrib tiba pukul 20.30. Tetamu mulai berdatangan dan mengisi kursi yang telah disediakan. Para tamu wanita berpakaian pesta sementara para lelaki berpakaian rapi necis.

Keluarga Emrah datang dengan lengkap. Kami berkenalan satu dan lainnya. Teman-teman Emra dan Yasin pun tiba dan mengisi meja kami. Kami berbincang kesana kemari sampai acara dimulai.

Pasangan kekasih Hanefi dan Esra berjalan di pinggir kolam renang dari sebuah ruangan kecil menuju panggung pelaminan. Petasan air mancur mengiringi perjalanan mereka yang bersejarah itu. Langkah mereka santai, tidak seperti langkah-langkah orang-orang di Kizilay, pusat kota Ankara, yang begitu cepat. Langkah yang penuh penghayatan. Senyum di bibir mereka pun tidak pernah hilang.

Berdansa dan menari bagian dari pesta pernikahan di Turki.

Setiba di depan panggung pelaminan, kedua sejoli ini berdansa. Kamera video dan photo mengiringi arah dansa mereka. Petasan air mancur dinyalakan di sekitar pedansa. Usai berdansa kedua mempelai duduk manis di singgasana pelaminan.

Penghulu dari pemerintah daerah setempat maju ke pelaminan dan menggunakan jubah penghulu. Semacam jubah imam masjid di Turki. Kemudian si penghulu memanggil para wali dan para saksi untuk maju ke panggung pelaminan. Dan si penghulu bertanya pada mempelai wanita apakah ia ikhlas untuk menikah dengan pasangannya, Esra menjawab dengan yakin, “ya.”

Kemudian penghulu bertanya pada para wali dan para saksi, apakah ia berkenan dan menganggap sah pernikahan dua mempelai ini. Mereka semuanya menjawab “ya.” Ada yang menambahkan dari salah satu wali itu bahwa dirinya senang dengan pernikahan ini. Esra tak henti-hentinya tersenyum dalam pelaksanaan akad nikah ini.

Akad nikah yang dipandu oleh penghulu.

Lalu penghulu menandatangani buku nikah, yang juga ditandatangani oleh kedua mempelai. Buku nikah ukurannya lebih besar dari pada buku nikah di Indonesai. Ukuran buku nikah di Turki ini sebesar buku tulis sedang (A5) di Indonesia. Sebab buku nikah di Indonesia ukurannya sebesar ukuran paspor.

Ada yang ganjil dalam proses akad nikah yang saya lihat dan saya pelajari dalam ilmu fikih. Di Indonesia cara akad nikah sesuai dengan aturan agama Islam. Dimana si wali menyatakan bahwa ia menikahkan putrinya, dan sang mempelai lelaki menerima pernikahan itu. Inilah ijab kabul yang disyariatkan agama.

Lalu saya bertanya pada Emrah tentang pernikahan di Turki. Emrah menerangkan kalau di Turki ada dua macam pernikahan, pertama pernikahan secara negara, kedua pernikahan secara agama. Orang yang menikah  secara negara maka ia sudah resmi menikah dan tercatat dalam data negara. Jika ia ingin menikah lagi secara agama juga boleh.

Sebelum pamit kami berphoto dengan keluarga Emrah.

Tetapi, papar Emrah, jika seseorang hanya menikah secara agama, maka ia tidak sah secara konstitusi atau secara aturan negara. Nikahnya dianggap tidak sah secara negara. Menurutnya banyak juga teman-temannya yang melaksanakan keduanya, tapi tidak sedikit juga yang hanya menikah secara agama. Itu menurut kepercayaan masing-masing saja. Dan inilah aturan negara Turki yang sekuler, yang memisahkan antara negara dan agama.

Untuk makanan, mungkin ini lebih simpel dibanding pernikahan di Indonesia. Resepsi pernikahan di Turki ini, kita cukup duduk saja. Kita semacam makan di sebuah restoran yang sudah dipesankan menunya. Semua orang menunya sama. Dibuka dengan makanan salad, kemudian makanan kecil, makanan besar yaitu nasi dan nugget ayam. Ditutup dengan buah-buahan.

Usai acara akad nikah kedua mempelai kembali berdansa. Para tamu pun ikut berdansa dengan pasangannya masing-masing. Usai berdansa yang santai dilanjut dengan menari khas Turki. Hampir sajian resepsi pernikahan ini diisi dengan dansa dan tarian. Mungkin ini penanda sebagai kebahagiaan. Orang-orang bergantian turun ke depan panggung untuk berdansan atau menari.

Bang Nasir, Hanefi, Esra dan Shofia (istri Bang Nasir).

Kami tidak membawa hadiah apa pun untuk kedua mempelai. Sebab saya dan Bang Nasir tidak pernah datang ke pernikahan orang Turki sebelumnya. Saya hanya pernah melihat pesta pernikahan tetangga kami dari jendela rumah kami. Saya hanya menyediakan amplop saja, jika orang-orang di sini memberikan hadiah berupa uang dalam amplop.

Ternyata budaya berbeda. Di akhir acara, setelah pemotongan tumpeng pernikahan, kedua mempelai dikalungi selendang kecil oleh kedua orang tua mereka. Para tamu yang hadir mengantre untuk memberi ucapan selamat dan menempelkan sebuah emas kecil yang dipasangkan di selendang kedua mempelai.

Bang Nasir mengatakan kepada saya, bahwa para tamu membawa bingkisan kecil. Rupanya bingkisan kecil itu berisi emas, yang mungkin beratnya sekitar 0,5, satu, dua atau tiga gram dan diberikan kepada kedua mempelai. Mempelai wanita menyiapkan tas kecil untuk menerima hadiah itu, jika hadiah itu tidak bisa disematkan pada selendangnya.

Orangtua mempelai memberi hadiah.

Dekorasi dalam perayaan pernikahan ini sangat sederhana, tidak semewah acara pernikahan di Indonesia. Tidak ada dekorasi di belakang layar panggung pelaminan. Juga tidak ada tulisan "Mohon doa restu" atau "Selamat menempuh hidup baru". Di panggung hanya ada bunga-bunga yang bertulisan ucapan selamat dari para tamu dan sebuah alat musik sejenis orkes tunggal, piano dan sebuah laptop sebagai alat pemutar musik.

Karena waktu sudah malam pukul 22.00 kami undur pamit kepada kedua mempelai, meski acara secara resmi belum juga ditutup. Kata Emrah, acara seperti ini bisa selesai pukul 23.00 atau bahkan lebih. Sebelum pamit Bang Nasir dan istrinya meminta diphoto bersama kedua mempelai. Klik, photo pun jadi. Tapi sayang saya tidak bisa photo bersama mempelai karena waktu yang mepet.

Dan benar pernikahan adalah sebauh anjuran agama. Sebuah ibadah yang menyenangkan. Bukan hanya untuk kedua mempelai tapi juga untuk kedua keluarga, bahkan untuk semua orang yang mengenalnya. Bahwa lembaran hidup baru dimulai. Selamat ya, Hanefi dan Esra!