Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Selasa, 16 Juli 2013

Berpuasa di Ujung Timur Eropa


Oleh Soraya Bunga Larasati (Dimuat di Media Indonesia, Senin, 15 Juli 2013)


Waktu imsyakiyah di Ankara sekitar pukul 03.26, sedangkan waktu berbuka puasa pukul 20.30.

BERKESEMPATAN menuntut ilmu di Turki membuat Deden Mauli Drajat, 30, harus meninggalkan keluarga dan pekerjaannya sebagai wartawan.

Deden telah melalui tiga Ramadan di negara paling timur Eropa tersebut.
Turki ialah negara dengan empat musim, yakni musim panas (Juni-Agustus), musim gugur (SeptemberNovember), musim dingin (Desember-Februari), dan musim semi (Maret-Mei). “Saya kena puasa di musim panas yang siangnya lama.“

Karena itu, sebelum bulan suci, ia selalu berusaha menjalani puasa sunah untuk membiasakan diri tidak makan dan minum lebih dari 17 jam. “Nambah tiga sampai empat jam ketimbang waktu berpuasa di Indonesia.“

Waktu imsyakiyah di Ankara sekitar pukul 03.26, di sisi lain waktu berbuka puasa pukul 20.30. “'Bonusnya lagi', selain puasanya lama, musim panas di Turki suhunya bisa ekstrem mencapai 45 derajat celsius. Padahal, di Jakarta kita biasanya kena panas 30 derajat saja sudah ngeluh macam-macam.“

Meski mayoritas penduduk di Turki beragama Islam, terkait agama, sistem negara Republik Turki ialah sekuler. Tidak ada larangan beroperasi bagi restoran dan orang makan atau minum di luar rumah pada Ramadan.

Buka puasa bersama Menurut Deden, yang unik ialah setiap tahun dalam satu hari Ramadan, Pemerintah Kota Ankara menyelenggarakan buka puasa bersama. “Dua tahun lalu terpusat di Genclik Park alias Taman Pemuda. Tahun lalu di Masjid Haji Bayram, salah satu masjid tertua di Ankara.“

Untuk Ramadan tahun ini, ia belum tahu di mana pusat acara buka puasa bersama akan digelar. Pada acara itu disediakan menu buka puasa gratis. Selain itu, ada berbagai pameran, seperti buku dan penjual aksesori.

Namun, tahun ini ada sembilan titik tempat berbuka puasa bersama gratis yang disediakan pemerintah Kota Ankara, yakni di Masjid Haji Bayram, Genclik Park alias Taman Pemuda, Guven Park, Kecioren, Pasar Sincan, Stasiun Metro OSTIM, Abidin Pasa Makro Market, Siteler Girisi Ust Gecit Ayagi, dan Terminal Bus ASTI.

Karena gratis, banyak orang yang mengantre.
“Mayoritas mahasiswa yang bulanannya terbatas seperti saya, sisanya orang biasa, ada juga para pekerja. Ada yang membawa keluarga.“

Mereka mengantre bisa menghabiskan satu bahkan dua jam sebelum berbuka.
Ada satu makanan khas Turki yang menurut Deden paling ia sukai. “Namanya iskender. Makanan ini berupa irisan roti ditutup dengan irisan daging kebab, disiram dengan saus tomat. Di pinggirnya diberi yogurt. Rasanya ‘maknyus’,” ujarnya.

Yang menarik, menurut Deden, di Turki tidak pernah ada perbedaan penetapan waktu berpuasa ataupun Idul Fitri seperti di Indonesia.

“Awal puasa dan Idul Fitri serempak di seluruh Turki. Masyarakat di sini menerima keputusan pemerintah, yaitu Kementerian Agama Republik Turki, yang menentukan kalender Hijriah di sini.”

Mahasiswa di fakultas pascasarjana Universitas Ankara yang sudah memasuki tahap akhir itu mengaku amat menikmati pengalaman berpuasa di Turki meski berat dijalani karena waktu berpuasa yang lebih panjang dibandingkan di Tanah Air. Namun, ia mengaku lebih berbahagia menjalankan ibadah Ramadan di Indonesia. “Tak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah,“ ujar Deden menandaskan. 

(H-1) soraya @mediaindonesia.com

Senin, 08 Juli 2013

Sunyi



Sepi menuntut untuk berani
Sunyi ajarkan bertahan diri
Diam bukan berarti tak mengerti

Menutup bukan berarti tak tahu
Membuka hanya untuk menerka
Melihat kadang terkena muslihat

Gerak adalah puncak diam
Benci itu puncak cinta
Air mata puncak segala rasa


Ankara, 7.7.2013

Rabu, 03 Juli 2013

Pernikahan di Turki



"Menikahlah karena itu anjuran agama"

Kali ini saya pingin bercerita tentang pernikahan di Turki. Kalau pernikahan di Indonesia sudah tidak asing lagi bagi saya. Di Indonesia mungkin hanya berbeda adat saja, tapi umumnya sama. Prosesi akad nikah kemudian dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Seperti halnya tahun lalu saya hadir di pernikahan sahabat saya, Fernan Rahadi di Jogjakarta.

Pekan lalu, teman saya, Muhammad Nasir Rofiq, dari Adana datang ke Ankara. Tujuan Bang Nasir, sapaan saya untuknya, dua agenda besar. Pertama menghadiri wisuda kelulusan penerima beasiswa Pemerintah Turki dan kedua menghadiri pernikahan temannya. Bang Nasir yang baru saja lulus S3-nya ini datang bersama istrinya ke Ankara.

Hanefi Kansiz menikah dengan Esra di sebuah gedung terbuka milik TCDD, semacam PT KAI di Indonesia. Tenda-tenda sudah dipasang saat kami datang ke pesta pernikahan. Saya, Bang Nasir dan istrinya, dijemput Emrah dan adiknya di stasiun Akkopru dekat Ankamall, kemudian kami meluncur ke tempat resepsi pernikahan.

Sebelum pesta pernikahan dimulai.

Kami datang lebih awal, untuk menghargai Yasin, nama kecil Hanefi. Jadwal pernikahannya pukul 19.30 dan kami datang pukul 19.00 sore. Matahari masih menampakkan dirinya di ujung barat. Musim panas ini maghrib tiba pukul 20.30. Tetamu mulai berdatangan dan mengisi kursi yang telah disediakan. Para tamu wanita berpakaian pesta sementara para lelaki berpakaian rapi necis.

Keluarga Emrah datang dengan lengkap. Kami berkenalan satu dan lainnya. Teman-teman Emra dan Yasin pun tiba dan mengisi meja kami. Kami berbincang kesana kemari sampai acara dimulai.

Pasangan kekasih Hanefi dan Esra berjalan di pinggir kolam renang dari sebuah ruangan kecil menuju panggung pelaminan. Petasan air mancur mengiringi perjalanan mereka yang bersejarah itu. Langkah mereka santai, tidak seperti langkah-langkah orang-orang di Kizilay, pusat kota Ankara, yang begitu cepat. Langkah yang penuh penghayatan. Senyum di bibir mereka pun tidak pernah hilang.

Berdansa dan menari bagian dari pesta pernikahan di Turki.

Setiba di depan panggung pelaminan, kedua sejoli ini berdansa. Kamera video dan photo mengiringi arah dansa mereka. Petasan air mancur dinyalakan di sekitar pedansa. Usai berdansa kedua mempelai duduk manis di singgasana pelaminan.

Penghulu dari pemerintah daerah setempat maju ke pelaminan dan menggunakan jubah penghulu. Semacam jubah imam masjid di Turki. Kemudian si penghulu memanggil para wali dan para saksi untuk maju ke panggung pelaminan. Dan si penghulu bertanya pada mempelai wanita apakah ia ikhlas untuk menikah dengan pasangannya, Esra menjawab dengan yakin, “ya.”

Kemudian penghulu bertanya pada para wali dan para saksi, apakah ia berkenan dan menganggap sah pernikahan dua mempelai ini. Mereka semuanya menjawab “ya.” Ada yang menambahkan dari salah satu wali itu bahwa dirinya senang dengan pernikahan ini. Esra tak henti-hentinya tersenyum dalam pelaksanaan akad nikah ini.

Akad nikah yang dipandu oleh penghulu.

Lalu penghulu menandatangani buku nikah, yang juga ditandatangani oleh kedua mempelai. Buku nikah ukurannya lebih besar dari pada buku nikah di Indonesai. Ukuran buku nikah di Turki ini sebesar buku tulis sedang (A5) di Indonesia. Sebab buku nikah di Indonesia ukurannya sebesar ukuran paspor.

Ada yang ganjil dalam proses akad nikah yang saya lihat dan saya pelajari dalam ilmu fikih. Di Indonesia cara akad nikah sesuai dengan aturan agama Islam. Dimana si wali menyatakan bahwa ia menikahkan putrinya, dan sang mempelai lelaki menerima pernikahan itu. Inilah ijab kabul yang disyariatkan agama.

Lalu saya bertanya pada Emrah tentang pernikahan di Turki. Emrah menerangkan kalau di Turki ada dua macam pernikahan, pertama pernikahan secara negara, kedua pernikahan secara agama. Orang yang menikah  secara negara maka ia sudah resmi menikah dan tercatat dalam data negara. Jika ia ingin menikah lagi secara agama juga boleh.

Sebelum pamit kami berphoto dengan keluarga Emrah.

Tetapi, papar Emrah, jika seseorang hanya menikah secara agama, maka ia tidak sah secara konstitusi atau secara aturan negara. Nikahnya dianggap tidak sah secara negara. Menurutnya banyak juga teman-temannya yang melaksanakan keduanya, tapi tidak sedikit juga yang hanya menikah secara agama. Itu menurut kepercayaan masing-masing saja. Dan inilah aturan negara Turki yang sekuler, yang memisahkan antara negara dan agama.

Untuk makanan, mungkin ini lebih simpel dibanding pernikahan di Indonesia. Resepsi pernikahan di Turki ini, kita cukup duduk saja. Kita semacam makan di sebuah restoran yang sudah dipesankan menunya. Semua orang menunya sama. Dibuka dengan makanan salad, kemudian makanan kecil, makanan besar yaitu nasi dan nugget ayam. Ditutup dengan buah-buahan.

Usai acara akad nikah kedua mempelai kembali berdansa. Para tamu pun ikut berdansa dengan pasangannya masing-masing. Usai berdansa yang santai dilanjut dengan menari khas Turki. Hampir sajian resepsi pernikahan ini diisi dengan dansa dan tarian. Mungkin ini penanda sebagai kebahagiaan. Orang-orang bergantian turun ke depan panggung untuk berdansan atau menari.

Bang Nasir, Hanefi, Esra dan Shofia (istri Bang Nasir).

Kami tidak membawa hadiah apa pun untuk kedua mempelai. Sebab saya dan Bang Nasir tidak pernah datang ke pernikahan orang Turki sebelumnya. Saya hanya pernah melihat pesta pernikahan tetangga kami dari jendela rumah kami. Saya hanya menyediakan amplop saja, jika orang-orang di sini memberikan hadiah berupa uang dalam amplop.

Ternyata budaya berbeda. Di akhir acara, setelah pemotongan tumpeng pernikahan, kedua mempelai dikalungi selendang kecil oleh kedua orang tua mereka. Para tamu yang hadir mengantre untuk memberi ucapan selamat dan menempelkan sebuah emas kecil yang dipasangkan di selendang kedua mempelai.

Bang Nasir mengatakan kepada saya, bahwa para tamu membawa bingkisan kecil. Rupanya bingkisan kecil itu berisi emas, yang mungkin beratnya sekitar 0,5, satu, dua atau tiga gram dan diberikan kepada kedua mempelai. Mempelai wanita menyiapkan tas kecil untuk menerima hadiah itu, jika hadiah itu tidak bisa disematkan pada selendangnya.

Orangtua mempelai memberi hadiah.

Dekorasi dalam perayaan pernikahan ini sangat sederhana, tidak semewah acara pernikahan di Indonesia. Tidak ada dekorasi di belakang layar panggung pelaminan. Juga tidak ada tulisan "Mohon doa restu" atau "Selamat menempuh hidup baru". Di panggung hanya ada bunga-bunga yang bertulisan ucapan selamat dari para tamu dan sebuah alat musik sejenis orkes tunggal, piano dan sebuah laptop sebagai alat pemutar musik.

Karena waktu sudah malam pukul 22.00 kami undur pamit kepada kedua mempelai, meski acara secara resmi belum juga ditutup. Kata Emrah, acara seperti ini bisa selesai pukul 23.00 atau bahkan lebih. Sebelum pamit Bang Nasir dan istrinya meminta diphoto bersama kedua mempelai. Klik, photo pun jadi. Tapi sayang saya tidak bisa photo bersama mempelai karena waktu yang mepet.

Dan benar pernikahan adalah sebauh anjuran agama. Sebuah ibadah yang menyenangkan. Bukan hanya untuk kedua mempelai tapi juga untuk kedua keluarga, bahkan untuk semua orang yang mengenalnya. Bahwa lembaran hidup baru dimulai. Selamat ya, Hanefi dan Esra!

Selasa, 02 Juli 2013

Bersegera dalam Berbuat Kebaikan



(Disampaikan pada pengajian Ibu-Ibu Alhikmah di Ankara, Rabu, 26 Juni 2013)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebaik-baik makhluk-Nya. Shalawat dan salam kita berikan kepada Nabi Muhammad SAW, sebab cahayanya menerangi alam kegelapan. Kali ini kita akan membahas tentang “Bersegera dalam berbuat kebaikan.”

Banyak ayat Alquran yang menyebutkan setelah kata orang-orang yang beriman, kemudian dilanjutkan dengan kata-kata dan orang-orang yang berbuat kabaikan, amilusshalihat. Maka berbuat kebaikan adalah sebuah keutamaan dalam Islam.

Apa sebenarnya definisi kebaikan? Semua hal yang diperintahkan oleh Allah adalah kebaikan. Juga semua hal yang dilarang oleh Allah adalah kebaikan. Rukun Iman dan Rukun Islam adalah kebaikan. Tersenyum adalah kebaikan, karena dapat membahagiakan orang lain. Maka ada empat hal yang harus kita perhatikan dalam berbuat kebaikan ini.

Pertama adalah niat. Kebaikan yang kita lakukan harus dilandaskan pada niat karena Allah semata. Hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan, sesungguhnya semua perbuatan tergantung dengan niatnya. Artinya, semua perbuatan baik yang dilandaskan pada niat bukan karena Allah maka akan sia-sia dan mungkin bisa disebut perbuatan buruk.

Banyak perbuatan yang sebenarnya bisa menjadi ibadah, tetapi karena salah niat maka menjadi kebutuhan nafsu saja. Misalnya, makan tidak membaca bismillah, maka makannya hanya akan mengenyangkan perut saja dan akhirnya tidak berkah. Tetapi niat  baik juga harus dilaksanakan dan diuji kesungguhannya.

Suatu ketika Rasulullah SAW berkunjung ke rumah Abu Bakar Shidiq. Di saat perbincangan, datang seorang Arab Badui dan langsung mencela Abu Bakar. Abu Bakar bergeming. Sabar. Dan ia tersenyum dengan celaan itu. Rasulullah pun memberikan senyuman terbaiknya kepada Abu Bakar.

Merasa tidak berhasil, si Arab Badui ini menambah celaannya dengan kata-kata yang lebih kotor. Namun, Abu Bakar tetap sabar dan Nabi memberikan senyuman terbaiknya lagi. Si Arab Badui tak habis sampai di sana, ia menambah celaan dan hinaannya kepada Abu Bakar.

Abu Bakar pun kemudian tak sanggup lagi mendengarnya dan ia membalas celaan dan hinaan itu. Rasulullah kemudian pulang ke rumahnya tanpa pamit dan tanpa salam kepada Abu Bakar. Abu Bakar kemudian mengejar Nabi ke rumahnya. Kemudian Abu Bakar mengatakan:

“Wahai Rasulullah, mohon jelaskan dan maafkan kesalahanku. Jangan biarkan aku dalam kebingungan.” Rasulullah lalu menjawab, “Sewaktu orang Arab Badui itu datang lalu mencelamu dan kamu tidak mnanggapinya, aku tersenyum karena banyak malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah.”

Beliau melanjutkan, “Begitu pun yang ke-dua kali ketika ia terus menghinamu dan kamu tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya di sisimu. Oleh sebab itu, aku semakin tersenyum. Namun, ketika yang ke-tiga kali ia menghinamu dan kamu menanggapinya serta kamu membalas makiannya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu, dan hadirlah iblis di sisimu untuk semakin memanasimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepada kamu.”

Yang kedua adalah, cara atau metode dalam berbuat kebaikan. Berbuat kebaikan tidak cukup sampai di niat saja. Harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Niat berbuat baik tetapi dengan cara yang tidak baik juga sebuah masalah. Maka dalam berbuat kebaikan kita harus memikirkan juga cara yang baik, agar sampai pada tujuan dan tidak menyinggung siapa pun.

Misalnya, niat di awal adalah bersedekah karena Allah. Tiba-tiba di tengah jalan kita terpikir untuk memamerkan sedekah kita kepada banyak orang. Atau kita terpikir agar orang yang kita sedekahi berterima kasih dan menyebut nama kita kepada orang-orang. Atau setelah kita bersedekah kita menyakiti hati yang disedekahi. Cara inilah yang salah. 

Dalam Alquran surat An-Nahl ayat 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dari ayat di atas kita bisa pahami bahwa dalam berbuat dan mengajak kebaikan kita harus memperhatikan cara. Cara yang pertama adalah dengan hikmah dan kebijaksanaan. Cara kedua adalah dengan ilmu dan pelajaran yang baik. Cara ketiga adalah jika kita berdebat maka bantahlah dengan cara yang baik.

Jika kita berbuat baik dengan niat baik dan cara yang baik, maka serahkan semuanya kepada Allah, karena Allah lah yang menilai diri kita. Meski, ada saja orang yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan, maka kita harus ikhlas. Ikhlas ini yang dinilai Allah. Seperti halnya nilai berkurban sapi atau kambing pada lebaran haji, yang sampai kepada Allah bukanlah dagingnya tetapi takwanya.

Ketiga adalah kepada siapa kita berbuat baik. Ada sebuah hadits menyebutkan, suatu ketika ada seseorang kepada Rasulullah SAW, kepada siapa saya harus berbuat baik, Rasulullah menjawab, kepada ibumu. Kemudian orang itu nanya kembali kepada siapa selanjutnya berbuat baik, kepada ibumu. Begitu juga jawaban yang ketiganya. Baru jawaban yang keempat dari pertanyaan yang sama berbuat baiklah kepada bapakmu. Kemudian kepada kerabatmu.

Dari hadits ini kita mengerti bahwa berbuat baik yang pertama kali adalah kepada ibu kita, kemudian bapak kita. Selanjutkan kepada karib kerabat. Jika sudah punya anak dan istri/suami maka inilah yang harus diutamakan. Kemudian kepada kakak-adik. Saudara terdekat. Jika semuanya sudah, maka kita bisa memberikan kebaikan kepada orang fakir miskin dan delapan golongan yang dapat menerima zakat.

Sebuah hadits menyebutkan, “Barangsiapa diperlakukan baik (oleh orang), hendaknya ia membalasnya. Apabila ia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, hendaknya ia memujinya. Jika ia memujinya, maka ia telah berterima kasih kepadanya; namun jika menyembunyikannya, berarti ia telah mengingkarinya…” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 157)

Hadits ini menerangkan, jika kita diperlakukan baik oleh orang lain maka kita wajib membalasnya dengan kebaikan lagi. Bisa juga kita membalasnya dengan memujinya. Dalam riwayat lain, kita bisa membalasnya dengan mendoakannya, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik. Namun jika kita tidak membalasnya sama sekali maka kita mengingkari kebaikan itu.

Dalam hadits lain disebutkan, pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, Rasulullah SAW keluar menuju lapangan untuk melaksanakan shalat. Setelahnya beliau berkhutbah dan ketika melewati para wanita beliau bersabda: “Wahai sekalian wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (meminta ampun) karena sungguh diperlihatkan kepadaku mayoritas kalian adalah penghuni neraka.”

Berkata salah seorang wanita yang cerdas: “Apa sebabnya kami menjadi mayoritas penghuni neraka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya namun dapat menundukkan lelaki yang memiliki akal yang sempurna daripada kalian.”

Wanita itu bertanya lagi: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang akal dan kurang agama?“. “Adapun kurangnya akal wanita ditunjukkan dengan persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki. Sementara kurangnya agama wanita ditunjukkan dengan ia tidak mengerjakan shalat dan meninggalkan puasa di bulan Ramadhan selama beberapa malam (yakni saat ditimpa haidh).” (HR. Al-Bukhari no. 304 dan Muslim no. 79)

Keempat adalah, sampai kapan kita berbuat baik? Allah berfirman dalam Alquran, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan berbagai macam kebaikan, dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami dengan disertai rasa harap dan cemas. Dan mereka pun senantiasa khusyu’ dalam beribadah kepada Kami.” (QS. Al Anbiyaa’ [21] : 90).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat tersebut, bahwa para nabi dan orang-orang salih itu besegera dalam melakukan amal pendekatan diri kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/273. cet al-Maktabah at-Taufiqiyah).

Jika hari ini kita mampu berbuat kebaikan maka segeralah melaksanakannya. Jangan sampai kita tunda-tunda. Karena kita tidak tahu sampai kapan kita mampu berbuat kebaikan. Atau kita tidak tahu kapan ajal kita akan datang kepada kita. Maka jangan sampai kita lalai dengan waktu yang ada. Sebab kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Begitu juga kejahatan akan dibalas dengan kejahatan. Namun balasan kebaikan bisa berkali lipat, bisa dibalas dengan satu kebaikan, bisa 10 kebaikan bahkan bisa sampai 700 kebaikan. Tergantung Allah yang Maha Baik.

Dan kajian kita kali ini kita tutup dengan satu ayat terakhir dalam surat Alhijr. Dan beribadahlah kepada Robbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).” (QS. Alhijr: 99). Jelas bahwa perintah berbuat kebaikan adalah kewajiban kita sebagai hamba Allah sampai datang kepada kita sebuah kematian. Wallahu ‘alam.

Sabtu, 29 Juni 2013

Musuh Bayangan Diri




Aku berdiri di atas kaki sendiri
Aku berlari mengejar bayangan diri
Aku melawan nafsu diri sendiri
Aku terhenyak dengan kesombonganku sendiri

Diri ini adalah segalanya
Setiapnya akan binasa
Jika tak mampu kelola
Ego dan nafsu hewan dalam dada

Ankara, 29 Juni 2013

Kamis, 30 Mei 2013

Simposium PPI Eropa Amerika 2013 Hasilkan Draf Istanbul

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) kawasan Eropa dan Amerika menghasilkan "Draft Istanbul" pasca simposium yang berlangsung pada tanggal 17-19 Mei 2013 di kampus Universitas Fatih, Istanbul, Turki. Acara simposium ini dihadiri oleh Azwar Abubakar (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia), Edfian Noerdin (Dirut PT.Yudhistira), Prof. Richardus Eko Indrajit (Staf Khusus Menpora), dan Asmoro Hadiyanto (Direktur Dompet Dhuafa Indonesia).

PPI yang hadir dalam simposium PPI Eropa Amerika yakni, PPI United Kingdom, PPI Spanyol, PPI Austria, PPI Swedia, PPI Serbia, PPI Portugal, PPI Perancis. Selain itu, juga dihadiri oleh PPI lainnya yang di luar PPI Eropa Amerika, yaitu PPI Libanon dan PPI Oman.

Ketua Pelaksana Simposium PPI Eropa Amerika Firdaus Guritno menerangkan, hari pertama pelaksanaan simposium ini membahas tentang permasalahan kebangsaan, yang dibahas khusus oleh para delegasi dari PPI Eropa Amerika. Sementara hari kedua, berupa kuliah umum kebangsaan tentang "Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan Ekonomi Indonesia Sebagai Modal Menjadi Bangsa yang Besar". Di hari ketiga, panitia dan delegasi mengadakan napak tilas sejarah Istanbul.

"Istanbul merupakan tempat bersejarah. 560 tahun lalu di bulan Mei, Sultan Fatih menaklukkan Konstantinopel dan mengubah namanya menjadi Istanbul. Banyak sejarah yang terukir pada bulan Mei," ujar Ketua Pengarah Simposium PPI Eropa Amerika Deden Mauli Darajat.

105 tahun yang lalu, papar Deden, para pelajar Indonesia mendirikan Boedi Oetomo yang tanggal lahirnya kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Reformasi 15 tahun yang lalu pun juga terjadi di bulan Mei. Begitu halnya dengan simposium kali ini yang digelar pada Mei 2013, dan ini sebuah rangkaian sejarah

Berdasarkan rencana awal, hari pertama Simposium ini disusun dengan skema roadmap di mana ini merupakan rangkaian acara berupa dialog yang dibentuk berdasarkan komisi-komisi yang terbagi menjadi tiga komisi; Komisi Demokrasi dan Kepemimpinan, Komisi Sains dan Teknologi, serta Komisi Ekonomi dan Kewirausahaan.

Di hari kedua, Teleconference dengan pembicara Bj Habibie (Presiden RI ke-3) dibatalkan karena beberapa alasan teknis. Begitu pula dengan KMRT Roy Suryo (Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia), yang pada akhirnya mengirimkan staf khususnya untuk menjadi pembicara dan mengirimkan pesan kepada seluruh delegasi dengan pesan bangsa yaitu "youth, nation and technology".

Di akhir acara, para delegasi PPI Eropa Amerika membacakan hasil Simposium yang dirangkum dalam "Draft Istanbul". Ketua PPI Turki Yaumil Fadli Suhairi selaku tuan rumah, menjadi pembaca Draft Istanbul yang berbunyi:

Berkat rahmat  Tuhan Yang Maha Esa, kami perwakilan PPI Kawasan Eropa dan Amerika, berkumpul di Istanbul, Turki untuk menyumbangkan pemikiran dan peranan bagi bangsa Indonesia.

1. Menerapkan praktik demokrasi dan kepemimpinan yang bertanggung jawab untuk menciptakan bangsa yang lebih maju, berintegritas, dan bermartabat.

2. Meningkatkan peran bangsa Indonesia di dalam pergaulan internasional melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sumber daya manusia yang berkualitas untuk mencerdaskan dan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.

3. Mempersiapkan Indonesia menuju kemandirian ekonomi bangsa yang bersaing dan berdayaguna secara global.

4. Dengan itikad baik, siap mendukung dan mewujudkan kemajuan bangsa Indonesia melalui roadmap PPI kawasan Eropa dan Amerika sebagaimana terlampir.


Istanbul, 18 Mei 2013. Atas nama PPI Eropa Amerika.


Agus Mulyana
Redaktur : Miftahul Falah

Sambutan Ketua SC Simposium PPI Eropa Amerika 2013



Oleh Deden Mauli Darajat

Selamat datang di Istanbul, sebuah kota yang maha padat sejarah. Bulan Mei adalah juga bulan sejarah. Pada 29 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih (Sultan  Mehmet II) menaklukkan kota Konstantinopel dan mengubah namanya menjadi kota Istanbul. Sultan Mehmet II dikenal sebagai sebaik-baiknya pemimpin di masanya, dan pasukannya adalah sebaik-baik  pasukan. Siapapun raja di dunia ini pada waktu itu ingin menaklukkan atau merebut kota Konstantinopel ini. Bahkan Napoleon Bonaparte pernah berujar, seandainya dunia ini adalah satu negara maka Istanbul adalah ibukotanya dan aku tidak keberatan untuk memimpin dunia.

Di kota yang hebat inilah, kita para pelajar Indonesia berkumpul hari ini. Sejarah pergerakan pelajar dan pemuda Indonesia dimulai saat Boedi Oetomo berdiri pada 20 Mei 1908 di Jakarta. Boedi Oetomo merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern yang dibangun oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. 

Selain pergerakan di dalam negeri pelajar Indonesia di luar negeri juga membentuk organisasi bernama Perhimpunan Indonesia. Salah seorang proklamator bernama Mohammad Hatta adalah salah satu motor penggeraknya. Hingga saat ini PPI Belanda merupakan PPI tertua di belahan dunia.

Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan para pelajar, mahasiswa, pemuda dan pejuang yang tidak mengenal lelah dan tidak gentar dengan ancaman dari para penjajah. Soekarno dan Hatta adalah pejuang yang merasakan berbagai macam intimidasi dari pihak asing. Namun, mereka tetap berjuang demi kedaulatan Bangsa Indonesia. Setelah perjuangan kemerdekaan, para pelajar dan pemuda tetap menjadi penggerak perubahan di Indonesia.

Sejarah pergerakan mahasiswa selanjutnya adalah terjadi pada 21 Mei 1998 yaitu reformasi. Reformasi ini menumbangkan rezim otoriter pimpinan Soeharto. Reformasi ini menjadi titik balik perubahan sistem politik dari otoriter menjadi demokrasi. Selain itu, efek dari reformasi adalah adanya  kebebasan pers dan kebebasan berpendapat yang telah lama dibungkam. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai Negara Demokrasi terbesar setelah Amerika.

Perubahan bangsa tidak bisa dilepaskan dari pergerakan pelajar dan pemuda baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Simposium PPI Eropa Amerika ini, yang mengambil tema  “Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan Ekonomi Indonesia Sebagai Modal Menjadi Bangsa yang Besar” selain sebagai sejarah yang kita ukir pada 17-19 Mei 2013 ini, juga sebagai pergerakan pelajar dan pemuda Indonesia yang berada di Eropa dan Amerika. PPI hadir untuk Indonesia. Impian kita adalah Indonesia maju dan menjadi bangsa yang besar.

Minggu, 26 Mei 2013

Instrumen dan Akustik

Gambar dari sini: yogyakartacity.olx.co.id
Saya selalu menikmati lagu yang dibawakan dengan akustik atau biola atau piano. Dulu pas  latihan drama teater di sekolah, kami latihan selalu diiringi dengan instrumen Kitaro. Meresap. Penuh penghayatan.

Tapi sebenarnya beberapa hari ini orang-orang di sekitar saya lagi keranjingan lagunya P!nk yang judulnya, Just Give Me a Reason. Awalnya sih saya iseng nemu lagu ini, terus saya putar di telepon seluler dan teman saya tanya lagu apa yang diputar.

Kemudian mereka mengunduh lagu itu dari internet. Dan berputarlah lagu itu di telepon seluler mereka. Ini menjadi semacam lagu kebangsaan di Gema Ilmiah Ankara, karena mereka hafal lirik lagu ini. Dan teman saya sampai mendengar lagu ini dengan berbagai macam cover-nya di Youtube.

Semalam, saya ditunjukin sesuatu dari Youtube. Rupanya Novita X Factor menyanyikan ini lagu di final. Dan kami langsung bernyanyi dengan gitar lalu direkam di laptop. Begitulah memang pengaruh musik. Cepat menyebar. 

Kamis, 23 Mei 2013

Adalar



Burung terbang berkejaran
Ombak beriak menghempas karang
Kapal bersandar pada dermaga
Ah Adalar sungguh indah nian

Adalar Istanbul, 6 Mei 2013

Mencatat, Belajar Akurat



Pas kecil dulu saya sering disuruh ibu untuk membeli sesuatu ke warung. Apa saja yang diminta saya turuti sebisa saya. Kadang telur, kerupuk, makanan, bahan makanan dan semacamnya.

Saya tidak ingat tentang keadilan pendelegasian untuk membeli sesuatu itu kepada kakak-kakak saya juga atau tidak. Yang saya ingat saya selalu semangat untuk berbelanja meski tidak diberi upah.

Saking semangatnya, ibu saya yang waktu itu menyuruh saya membeli bihun dua bungkus, eh saya salah membelinya. Saya bilang sama pedagangnya kalah saya mau beli soun.

Dan dua bungkus soun sudah ada di tangan, kemudian saya berikan pada ibu saya. Hampir saja saya keluar rumah untuk kembali bermain bersama kawan-kawan, ibu saya memanggil saya. "Apa yang kamu beli?" tanya ibu.

"Soun," jawab saya. "Kan, ibu bilang, ibu butuhnya bihun," tandas ibu. Kemudian saya balik lagi membawa itu soun. Dan si penjaga warung senyam-senyum. Pasalnya, sebelum saya membeli dia bertanya dulu pada saya. "Bihun apa soun," tanya dia, saya jawab "Soun."

Saat itu saya tidak terlalu peduli apa itu soun dan apa itu bihun. Yang penting warna sama dan bentuknya mirip. Eh, rupanya salah. Apa perbedaan mendasar antara soun dan bihun. Soun itu lebih besar dan lebih lembek ketimbang bihun jika sudah dimatangkan.

Ah, itu hanya pelajaran keakuratan tentang sesuatu yang saya kadang tidak peduli terhadapnya.

Agar tidak terulang lagi, terpaksa ibu saya mencatat apa-apa saja yang akan dibeli. Gunanya agar saya tidak salah membeli dan tidak lupa tentunya. Sampai saat ini saya masih belajar mencatat, karena kapasitas ingatan tidak selalu akurat.

Senin, 13 Mei 2013

Jadilah Turis dan Nikmati Istanbul



Sembari mempersiapkan Simposium PPI Eropa Amerika di Istanbul, akhir pekan lalu saya dan teman baik saya, Ahmad Faris (Mahasiswa S3 HI Universitas Ankara) menikmati kota dua benua itu. Saya dan Faris sebenarnya berbeda tujuan berangkat ke Istanbul. Bang Faris, sebutan saya untuknya, dating ke Istanbul untuk mengisi ceramah pada cukuran Selim, anak dari Kak Anita dan Bang Arhami. Sementara saya, itu tadi untuk persiapan symposium.

Kami berangkat bersama dari Ankara. Dalam perjalanan itu Faris bertanya pada saya, mau jadi turis atau backpacker di Istanbul? Saya jawab kita bagusnya jadi turis saja. Bisa menikmati Istanbul. Memang baru kali ini saya menjadi turis di Istanbul. Biasanya menjadi pelajar. Artinya datang ke Istanbul menginap di rumah pelajar Indonesia di Istanbul. Atau kalau menginap di hotel, itu berarti sedang menemani tamu dari Indonesia. 

Sebelum acara cukuran Selim, kami mencari hotel di sekitar Gulhane, satu stasiun setelah Masjid Biru atau Sultan Ahmet Camii. Setelah bertanya dan mengecek beberapa hotel, kami menemukan hotel Hurriyet di ujung jalan. Kami memesan satu kamar berdua seharga 110 TL. Ini setelah nego harga yang awalnya 130 TL permalam. Harga ini termasuk kahvalti atau sarapan pagi.

Usai acara cukuran Selim, saya menuju kantor KJRI untuk rapat dengan panitia symposium, sementara Faris balik ke hotel dan tidur. Pas tengah malam saya kembali ke hotel, di kamar tidak ada Faris. Saya baru saja merebahkan badan dan whatsapp di hape saya berbunyi dan pesan masuk, dimana posisi? Lalu saya telepon dan menemui Faris yang sedang asik makan tengah malam di sebuah kafe di pojok Istanbul.

“Ini yang menarik menjadi turis, kita bisa menikmati kuliner tengah malam,” ujar Faris. Wajar saja dia makan tengah malam, sebab tidur di hotel hamper lebih dari 6 jam. Sementara saya makan setelah rapat di kantor KJRI Istanbul. Saya mencicipi masakan ikan bakar dan saladnya. Kemudian kami pindah ke kafe lain untuk menikmati teh.

Sebenarnya ini bukan pertama kali bagi saya berkuliner dan jalan-jalan di pusat kota Istanbul pada tengah malam. Dulu, saya menemani Mas Alfan Alfian selama penelitian di Turki. Kami berangkat maghrib sekitar pukul 19.00 dari Ankara dan tiba di Istanbul pukul 01.00 dini hari. Sebelum mencari hotel kami cicipi kuliner dan menyeruput kopi Turki. Maklum, Mas Alfan ini pecinta berat kopi, meski bukan perokok.

Menikmati pusat kota Istanbul pada tengah malam berbeda dengan Istanbul di siang hari yang padat oleh pengunjung lokal maupun mancanegara. Saya lebih suka duduk di tengah taman yang memisahkan antara Masjid Biru dan Aya Sofia. Aya Sofia ini dulunya gereja dan setelah penaklukan Konstantinopel berubah fungsi menjadi masjid. Lalu di masa Republik Turki berubah lagi menjadi museum. Konon ada kabar akhir bulan Mei ini akan dibuka lagi menjadi masjid.

Air mancur di tengah taman dan cahaya malam yang menghiasi taman dan gedung-gedung bersejarah itu membuat syahdu malam di musim semi. Ada beberapa turis yang menggeret koper. Mungkin mereka sedang mencari penginapan yang murah. Atau mungkin juga mereka ingin pindah penginapan. Atau mungkin mereka ingin berangkat menuju bandara, kembali ke negaranya masing-masing.

Usai sarapan di Hotel Hurriyet, kami berankak ke dermaga Kabatas. Tak begitu jauh dari tempat penginapan kami. Kami tiba di dermaga lambat 10 menit. Jadwal kapal menuju Adalar selanjutnya pukul 12 siang sementara waktu itu pukul 11. Kami mampir dulu ke kafe di samping dermaga. Kami pesan teh Turki dan sutlac, semacam bubur sumsum yang terbuat dari susu dan beras putih. Hari Senin itu kami bermaksud mengunjungi Adalar atau Princes Island Istanbul.

Tiket kapal menuju Adalah seharga 3,5 TL. Ini angkutan yang negeri. Kalau yang swasta sekitar 5 atau 6 TL. Kami duduk di lantai paling atas, lantai 3. Angin laut menampar muka kami. Tapi Selat Bosporus, mungkin, menjadi selat terindah yang dimiliki Turki dan dunia. Selat ini juga yang diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan besar zaman dulu. Karena pelabuhan Bosporus ini menjadi penghubung tiga benua sekaligus, Asia, Afrika dan Eropa.

Di samping kami duduk dua turis wanita asal Jerman, terlihat dari buku lonely planet berbahasa Jerman. Yang satu sibuk membaca sejarah Adalar satunya lagi sibuk mengutak-atik gawai yang dipersiapkan untuk memotret perjalanan. Di saat perjalanan itu, Baim mengirimkan pesan tentang poster simposium PPI Eropa Amerika agar kami periksa. Seakan-akan ia tak rela kami menyempatkan liburan. Hehe.

Setelah kami kedinginan di lantai 3 kapal, kami turun ke lantai dua, ruangan tertutup dari angina laut. Usai kapal yang kami tumpangi merapat ke beberapa dermaga akhirnya ia tambatkan badannya ke dermaga Adalar. Perjalanan dari Kabatas menuju Adalah sekitar 1 jam 45 menit. Cukup lama juga dalam perjalanan itu.


Terik matahari siang itu membuat mata silau, beruntung saya bawa kacamata hitam. Karena panas dan lapar, kami pun mencari restoran di pinggir pantai.  Meski matahari begitu panas, tapi turis anyak berkeliaran di pulau yang dipenuhi dengan gedung-gedung tua itu. Kemudian saya teringat 6 tahun yang lalu berkunjung ke Lombok, pulau seribu masjid. Pantai di Lombok sebenarnya lebih bersh ketimbang di Bali.

Pantai di Adalar juga bersih, rapi dan terawat. Saya memesan cumi bakar dan Faris memesan ikan bakar yang dilengkapi dengan saus. Tak ada nasi di paket makanan kali ini. Kami hanya disuguhi beberapa irisan roti. Saya lapar dan saya habiskan roti itu. Sebelum roti habis, Faris langsung menyerobot sisa roti. Ia berpikir kalau tidak diamankan ia tak akan kebagian roti. Sementara makan ikan saja tidak cukup mengenyangkan.

Karena masih lapar dan ikan masih ada di piring, saya memanggil pelayan untuk memberikan roti tambahan buat kami. Ia menyuguhkan makanan dengan baik dan ramah. Meski sudah minum air bersoda, kami tetap memesan teh hangat Turki. Usai makan, kami bayar makan itu. Tak dinyana, roti tambahan yang biasanya di berbagai restoran biasanya gratis, di Adalar ini dikenakan biaya sebanyak 5 TL. Tidak sampai di sana, servisnya pun kena biaya sebesar 6 TL. Pantas saja si pelayan itu ramah, dibayar, bisik saya pada Faris.

Dan petualangan dimulai. Pukul 16.00 matahari sudah mulai bersahabat dan kami pun menyewa sepeda untuk keliling Adalar. Untuk menyewa sepeda, sejamnya 5 TL, namun jika seharian dikenakan 15 TL. Kami menawar harga, menyewa untuk tiga jam bayar sebesar 10 TL perorang persepeda. Sepeda yang saya kendarai sangat ringan dan saya mudah mengayuhnya.

Saya teringat pertengahan tahun 2009 lalu, ketika saya ditugaskan redaktur saya untuk meliput di Kepulauan Seribu. Liputan itu atas undangan Marine Buddies WWF dalam rangka membersihkan laut dari sampah semacam plastik, sandal, dan lainnya di Pulau Pari. Ini termasuk peliputan yang paling mengasikan. Meski liputan selama 3 hari, tapi ini bukan liputan lebih pada hiburan.

Pantai di Pulau Pari sangat bersih hijau kebiruan. Berbeda dengan semenanjung Jakarta Utara, hitam pekat. Setelah menjauh dari Jakarta, lambat laun warna air laut berubah kepucatan, dari hitam menjadi abu-abu, dan lama kelamaan menjadi biru dan bersih dari limbah. Ini berbeda dengan selat Bosphorus, dimana air lautnya sama saja mau di dermaga maupun di tengah laut, yaitu biru.


Di Pulau Pari itu tim Marine Buddies WWF melakukan sosialisasi kepada masyarakat bagaimana merawat pantai. Saya juga ikut dalam menanam pohon bakau atau mangrove. Juga mencoba menanam dan memanen budidaya rumput laut di pantai Pulau Pari yang landai. Sayang saya tak bisa menyelam. Karena menyelam harus memiliki pelatihan khusus sebelumnya.

Kami mengayuh sepeda mengelilingi pulau Adalar. Rumah-rumah hunian di Adalar sudah sangat tua. Ada yang umurnya seratus tahun bahkan ada juga yang melebihi 500 tahun. Jalan yang kami telusuri itu menanjak, hanya sesekali saya menurun. Di tengah-tengah pulau itu terdapat bebukitan yang dipenuhi dengan pohon. Banyak turis yang beristirahat dan bercengkrama dengan sahabat dan pasangannya.

Tak sedikit juga yang membawa bekal makanan untuk dinikmati di pulau yang terkenal dengan harga makanan yang mahal itu. Di pulau ini tidak diperkenankan kendaraan bermotor. Hanya ada mobil ambulan dan mobil kebersihan. Selain itu hanya sepeda dan sepeda. Hutan di tengah lautan itu sejuk tanpa polusi udara.


Minjem kamera untuk diphoto di Pulau Pari
Di tengah pulau Adalar itu ada taman makam umat kristiani. Kuburan-kuburan itu di atasnya terdapat salib-salib. Menurut cerita cewek-cewek Yunani yang berbincang-bicang tentang asal usul pulau Adalar. Mereka mengatakan kalau pulau itu awalnya milik Yunani namun kemudian direbut sama Turki usai pasukan Turki Usmani menaklukkan Istanbul. Di pulau Adalar ini selain masjid ada juga gereja tua.

Dari sudut ekonomi pariwisata, pulau ini sangat subur dalam bidang tourism. Hamper setiap hari ramai dikunjungi pelancong. Seakan sadar dengan kepariwisataan ini, pemerintah setempat selalu membersihkan jalan dan mempercantik pulau ini hari demi hari. Penjagaan ini terlihat dengan mata bahwa jalan yang kita lalui bersih, seakan daun tidak jatuh di atas jalan itu. Padahal pohon-pohon rindang memenuhi pulau itu.

Manusia memang pada akhirnya harus memikirkan manusia selanjutnya. Bahwa bumi ini bukan hanya miliknya tapi juga milik anak cucunya. Kebaikan yang ditinggalkan manusia masa lalu akan dikenang sejarah, apalagi jika sejarah itu nyata seperti yang bisa kita lihat di Istanbul. Maka, menjadi turis dan menikmati alam adalah salah satu lembar kebahagiaan hidup.

Sabtu, 11 Mei 2013

Saat Senggang Dengarlah Radio


Pagi tadi. Ya, pagi tadi saya diwawancara sama Radio Repubik Indonesia (RRI) Pro3 FM. Hampir satu jam wawancara melalui telepon seluler yang membahas tentang Simposium PPI Eropa Amerika yang akan diadakan di Istanbul, Turki. Secara umum wawancara membahas acara yang akan berlangsung pada 17-19 Mei 2013 di kampus Universitas Fatih itu.

Wawancara itu berlangsung mulai pukul 08.00 WIB, yang berarti saya yang berada di Ankara pukul 04.00 pagi. Adzan subuh pun belum berkumandang. Pekan lalu juga sama, saya diwawancara oleh Radio PPI Dunia, ini waktunya agak bersahabat, sore pukul 17.00 waktu Turki. Dan yang mewawancarai saya itu teman sendiri yang sedang belajar di Kayseri, Turki.

Ini tulisan tentang radio. Saya tidak begitu asing dengan radio. Dulu pertama kali saya berhubungan dengan penyiaran radio ketika mengabdi alias mengajar di Gontor, Ponorogo tahun 2002/2003. Nama radionya adalah Suara Gontor FM disingkat menjadi Suargo 102,9 FM. Meski saya ditugaskan di Photocopy Asia saya sering bertandang ke stasiun radio itu. Saat tulisan ini saya sedang mendengar siaran Suargo FM melalui internet.

Teman saya yang biasa mengudara mengajak saya untuk duet bareng. Tentu saya senang dan langsung menerima ajakan itu. Terkadang pernah juga saya mengudara sendiri menyapa pendengar di Ponorogo dan sekitarnya. Asiknya siaran radio itu ada timbalbalik langsung. Semisal ada yang menelepon dan mengirim sms untuk pesan lagu atau diskusi sebuah tema.

Sebab ketika kita siaran di sebuah stasiun, kita hanya dihadapkan dengan sebuah layar komputer dan alat-alat pemutar musik. Artinya kita harus membangun imajinasi menyapa orang tanpa melihat orang yang kita sapa. Maka ketika ada pesan masuk untuk memesan lagu atau mendiskusikan tema yang kita berikan itu sebuah hal yang sangat menyenangkan. Bahwa kita siaran tidak sendiri dan ada pendengarnya.

Rasa grogi saat siaran pasti ada. Tapi kalau sudah biasa groginya tinggal sedikit. Apalagi jika kita siarannya berdua. Selalu ada yang renyah untuk disampaikan kepada pendengar. Celotehan yang tak dikira sebelumnya membuat hangat sebuah siaran. Efek setelah siaran adalah nama kita sebagai penyiar tidak asing di telinga pendengar radio kita. Apalagi kalau si pendengar itu selalu menyetel radio kita.

Siaran di RDK FM
Mungkin hal ini juga yang menguatkan saya memilih jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di tahun pertama kuliah pada tahun 2004 di Ciputat saya dan teman-teman berinisiatif untuk mendirikan radio komunitas. Sebelum mendirikan radio kampus, kami mengunjungi beberapa stasiun radio di Jakarta dan sekitarnya.

Dan kami pun membuat proposal pendirian radio kepada Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Konumikasi UIN Jakarta. Dekan pun senang dan berdirilah Radio Dakwah dan Komunikasi disingkat menjadi RDK FM. Radio ini hanya mengudara di sekitaran Ciputat. Setelah mendirikan kami pun menjadi penyiar di radio tersebut.

Awalnya RDK FM hanya disiarkan di kantin Fidkom UIN Jakarta sebelum memiliki pemancar sendiri. Kami memasang speaker di sudut kantin yang kabelnya tersambung sampai ke lantai 7, dimana stasiun RDK FM berada. Lama kelamaan, kami punye pemancar sendiri. Dan stasiun RDK FM di setap semesternya dijadikan tempat ujian praktikum siaran radio.

Tema yang kami angkat saat siaran bermacam-macam. Mulai dari yang serius membahas perpolitikan nasional hingga yang ringan-ringan soal kuliner dan jalan-jalan. Tetapi yang paling digemari pendengar adalah tentang hubungan antarpribadi. Galau dan penanggulangannya, curhat, dsb. Kami tiba-tiba berpura-pura sebagai psikolog atau dokter cinta. Hahaha.

Selasa, 07 Mei 2013

Simposium PPI Eropa Amerika di Istanbul



RMOL. Dalam hitungan hari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Eropa dan Amerika akan mengadakan simposium di Istanbul, Turki. Simposium itu digelar selama tiga hari pada 17-19 Mei 2013 dengan tema 'Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan Ekonomi Indonesia Sebagai Modal Menjadi Bangsa yang Besar'.

Kegiatan akbar ini merupakan bagian dari program kerja PPI Turki periode 2013-2014 yang dipimpin oleh Yaumil Fadli Suhairi. Simposium ini akan dihadiri oleh beberapa perwakilan pelajar dari Indonesia yang sedang menimba ilmu di negara-negara kawasan Eropa Amerika seperti Jerman, Prancis, Inggris, Rusia,Ceko,Swedia, Portugal, Kanada dan Amerika.

Ketua Panitia Pengarah (Steering committee) Deden Mauli Darajat menyebutkan, bahwa berdasarkan perkembangan, kegiatan yang akan digelar langsung selama tiga hari ini akan disusun dengan skema Road Map. 

Road Map di hari pertama yaitu rangkaian acara berupa dialog yang dibentuk berdasarkan komisi-komisi, dan nantinya akan terbagi menjadi 3 komisi antara lain komisi Kepemimpinan dan Demokrasi, Komisi Sains dan Teknologi, serta Komisi Ekonomi dan Kewirausahaan. 

"Komisi ini sendiri dibentuk berdasarkan gabungan perwakilan para pelajar Indonesia yang datang dari berbagai negara di kawasan Eropa dan Amerika. Hasil dari dialog ini akan ditutup dengan pengesahan Piagam Istanbul yang sebelumnya akan dirumuskan dalam rapat paripurna dan diserahkan sebagai rekomendasi untuk Indonesia," ujar Deden seperti dalam rilis yang diterima redaksi, (Jumat, 3/5).

Selanjutnya di hari kedua ungkap Deden, akan dilaksanakan seminar bertemakan 'Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan dengan pemeteri Menteri Pendayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia, Azwar Abubakar dan Menteri Pemuda dan Olahraga, KMRT Roy Suryo.

"Acara seminar ini terbuka untuk umum dan akan dihadiri kurang lebih 200 peserta dari berbagai elemen masyarakat Turki," ungkapnya. 

Setelah beres dengan agenda di dua hari pertama, Operating Committee Firdaus Guritno akan mengajak para peserta simposium menjelajahi tempat-tempat wisata dan bersejarah di wilayah Istanbul seperti Museum Hagia Sophia, Museum Dolmabahçe, Topkapı Sarayı yang dikemas dalam kegiatanfield trip. 

Acara akbar kali ini juga didukung oleh pihak KBRI dan KJRI Turki serta pihak konsulat kehormatan di beberapa wilayah Turki. Untuk media partner sendiri, Panitia simposium PPI Eropa Amerika ini juga bekerjasama dengan pihak Radio PPI Dunia, yaitu radio streaming online para pelajar Indonesia yang berada di luar negeri. 

Yaumil Fadli Suhairi, selaku Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki mengharapkan agar Simposium yang akan berlangsung di pertengahan Mei 2013 ini bisa menjadi sebuah sumbangsih nyata para pelajar Indonesia di Turki untuk perkembangan iptek, kewirausahaan juga politik khususnya di bidang reformasi di Indonesia nantinya. [rsn]