Jumat, 15 November 2013
Mencinta dan Dicinta
Ada kalanya
Pilihan terbaik
Adalah mencinta
Bukan dicinta
Mencinta itu
Urusanku
Dicinta itu
Urusanmu
Sebab mencinta adalah
Memberi cinta
Dan dicinta
Diberi cinta
Contohlah Tuhan
Yang maha Pemurah
Ia memberi cinta
Tanpa memintanya
Hanya makhluk bodoh
Yang tak cinta pada Tuhannya
Ankara, 5 Agustus 2013
Langit Menanda
Langit itu indah dipandang
Disana bersemayam pasangan
Matahari dan bulan
Dilengkapi galaksi bebintangan
Awan hanyalah perias cuaca
Agar manusia biasa
Melihatnya tak bosan
Dengan pola rutinitas harian
Ohya, perbintangan berguna
Untuk mengarahkan jalan
Agar tak menyesat
Di tengah hamparan samudera
Matahari sejak dulu menjadi
Penanda pergantian hari
Meski waktu sinar tak selalu sama
Di tempat berbeda
Bahkan rembulan dijadikan penanda
Bagi orang yang berpuasa
Untuk menikmati kemenangan
Usai peperangan lahir batin
Rembulan pun penanda umat
Muhammad rayakan kejayaan
Idul fitri nan suci setelah
Menahan hawa nafsu sebulan
Indahnya pergantian bulan matahari
Selalu dibarengi dengan ingat Ilahi
Dirikan sholat pada maghrib
Isya shubuh dhuhur dan ashr
Belajarlah pada langit
Penanda yang meninggi
Ia ajarkan cinta hakiki
Penaung bumi dan galaksi
Ia rela meski suatu
Ketika terhalang awan
Meski halilintar menambah
Hiasan wajahnya
Meski bulan meredupkan
cahaya langit malam
Dan mentari cerahkan
Di kala siang
Para malaikat suci
Bersemayan di langit
Yang miliki tujuh lapis
Dan sesekali turun ke bumi
Catat dan jaga insan
Yang bersujud sepertiga malam
Untuk sabar dan syukur atas nikmat
Karunia pada Tuhan pencipta alam
Di bawah langit Ankara, 16 Juli 2012
Hidup adalah Penantian
Tuhan selalu menepati janji
Bahwa hidup adalah
Tentang tanggungjawab
Dan semua akan dipertanyakan
Hidup soal penantian
Semua makhluk menanti
Kematiannya
Tak ada yang bisa mengelaknya
Menanti adalah sebuah
Kesabaran
Sabar itu menanti
Tak ada yang salah dalam
Penantian
Yang salah adalah
Yang tak tahan dengan penantian
Tuhan perintahkan makhlukNya
Untuk menanti takdirnya masingmasing
Dan juara hidup
Adalah yang sabar dalam penantian
Sebab Tuhan terkadang
Menguji seseorang dalam kesusahan
Dalam kekosongan waktu
Dan tidak ada yang sia sia
Sebab penantian adalah
Kesabaran
Maka ia adalah kebaikan
Dan Tuhan akan selalu
Menjawab kebaikan dengan kebaikan
Di dunia dan akhirat
Ankara bada isya
09 Juni 2013
Gudang Rindu
Tanyalah rindu pada orang-orang yang tak pernah bisa mudik
Bagaimana rasanya rindu
Jawabannya segudang rindu yang ia simpan rapat rapat
Dan dikunci dengan gembok
Yang kapan kapan saatnya pulang
Gudang itu terbawa pulang
Dan semuanya akan merasakan rindu yang tak pernah habis
Ia persiapkan gudang itu
Agar rasa cinta tak pernah usai
Jika rasa cinta akan pergia
Hanya dengan mengingat gembok gudang saja ia akan enyahkan
Rasa untuk tidak mencinta itu
Ia sadar, menyimpan rindu dalam gudang itu tidaklah baik
Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa
Pekerjaan yang sangat sulit, pikirnya
Karena menyimpan rindu setitik saja sangat menyengsarakan
Maka agar rindu tak hilang, agar rasa cinta abadi
Ia buatkan gudang rindu di dasar hati yang paling
Agar tak ada orang yang dapat menembusnya
Karena kedalamannya terlalu banyak rintangan untuk menembusnya
Sang perindu dengan jutaan rindu yang disimpan dalam gudang itu
Laiknya lautan tenang
Padahal lautan tenang bukan berarti tak memiliki gejolak
Dalam satu waktu lautan teang itu bisa berubah dengan ombak dan gelombang yang dahsyat sedahsat sunami
Ankara, 14 Agustus 2013
Senin, 04 November 2013
Hujan Ini Bukan Untukmu
![]() |
| Sumber photo dari sini: setiahandaya.com |
hujan ini bukan untukmu
hujan hadir menghapus
jejak luka yang pernah ada
hujan ini bukan untukmu
hujan kabarkan langit
yang ingin mengikis rindu
hujan ini bukan untukmu
hujan adalah bentuk
kasih sayang awan
hujan ini bukan untukmu
hujan menari di ladang Pak Hari
menyegarkan padi-padi
hujan ini bukan untukmu
hujan membersihkan muka
para pencari rejeki di kota tua
hujan ini bukan untukmu
hujan hadir membasahi
hati yang gersang karena iri dengki
hujan ini bukan untukmu
hujan menghujam jiwa
menyadarkan akan realitas
hujan ini bukan untukmu
hujan menyelinap dalam dahan
menyuburkan pohon untuk berbuah
hujan ini bukan untukmu
hujan berubah menjadi raksasa
saat manusia lupa akan tugasnya
hujan ini bukan untukmu
hujan diciptakan bahwa
menjadi penghibur usai kemarau
hujan ini bukun untukmu
hujan hadir melahirkan
pelangi di hatimu
Ankara, 4 Nopember 2013
Senin, 28 Oktober 2013
Cinta Berguguran di Istanbul
(Sebuah Cerita Pendek)
Faisal
menyeruput teh pahit panas di kantin depan kampus Universitas Istanbul. Ia
ditemani kedua sahabatnya, Abdul dan Nazgol. Di halaman luas depan kampus itu
dipenuhi dengan burung merpati yang bergerombol memakan potongan-potongan roti.
Faisal dan sahabatnya berbincang sembari menikmati pemandangan itu, usai jam
belajar.
Sudah
satu bulan ia tinggal di luar negeri. Keberadaannya di Istanbul untuk belajar
bahasa dan budaya Turki selama satu tahun. Faisal menerima beasiswa dari
pemerintah Turki. Awalnya, Faisal enggan untuk mengambil beasiswa ini.
Alasannya di tahun itu ia harus menyelesaikan skripsinya. Namun beasiswa ini
pun sayang jika tak diambil, pikirnya. Atas bimbingan dosen dan restu orangtuanya,
ia akhirnya berangkat ke Turki pada Oktober 2007.
Di
Turki ia tinggal di asrama mahasiswa Universitas Istanbul. Di kampus tertua di
Turki ini ia bertemu dengan sahabat barunya, Abdul yang berasal Malaysia dan
Nazgol dari Iran.
Hampir
setiap hari Faisal sembahyang di Masjid Sultan Ahmet atau yang dikenal dengan
Masjid Biru oleh orang Eropa. Sebab jarak antara asrama dan Masjid Biru hanya sekitar
tiga kilometer. Ia merasakan kemegahan masjid tua peninggalan kejayaan
Kesultanan Turki Usmani ini.
Masjid
Biru tak pernah sepi oleh para pengunjung. Baik Muslim maupun non Muslim. Bagi
non Muslim yang masuk ke masjid ini mesti mengenakan jilbab yang dipinjami oleh
pengurus masjid setempat. Bahkan Presiden Amerika Barrack Obama pun pernah
berziarah ke masjid ini.
Suatu
hari di musim dingin di bulan Desember, Faisal bertemu dengan orang Indonesia
bernama Ibrahim. Ibrahim sudah lama tinggal di Istanbul bersama keluarganya.
Ibrahim ditugaskan pimpinannya untuk mengurus perusahaan telekomunikasi di
Istanbul. Ibrahim mengundang Faisal untuk berkunjung ke apartemennya.
Di
akhir pekan, Faisal datang ke apartemen Ibrahim yang berada di bilangan Taksim.
Rupanya di rumah Ibrahim sudah banyak tamu yang datang. Setiap akhir pekan
rumah Ibrahim selalu ramai oleh orang Indonesia. Tak ada acara khusus pada
pertemuan itu. Namun, di benak Ibrahim, ia ingin ada sesuatu yang berharga. Ia
ingin ada pengajian.
Faisal
bercerita tentang asal-usulnya menerima beasiswa itu. Ia mengambil jurusan
bahasa Arab di suatu kampus negeri di Jakarta. Ia menerima beasiswa itu tanpa
sengaja. Faisal diam-diam mengajukannya karena ia suka bahasa asing. Dan
akhirnya pengajuan beasiswanya diterima dan berangkatlah ke Turki. Selain Arab,
Faisal juga mahir berbahasa Inggris. Sebab ia lulusan sebuah pesantren modern
di Jawa Timur.
"Karena
alumni pesantren, maukah Mas Faisal membagi ilmu agamanya kepada kami di setiap
akhir pekan?" tanya Ibrahim memotong cerita Faisal.
Sejenak
Faisal terdiam untuk mencari jawaban yang tepat. "Sebenarnya saya tidak
begitu menguasai ilmu agama," jawab Faisal singkat.
"Tak
usah begitu dalam pembahasan tentang agamanya, cukup yang dasar dan keseharian
saja," kata Ibrahim. Faisal mengangguk dan Ibrahim tersenyum senang.
Kesibukan
Faisal di Istanbul bertambah. Selain belajar bahasa dan budaya Turki, di akhir
pekan ia mengisi kajian Islam di rumah Ibrahim. Warga Negara Indonesia yang di
Istanbul selalu datang di setiap akhir pekan untuk mendengar dan berdiskusi
tentang kajian Islam.
Awalnya
Faisal biasa saja saat mengisi kajian itu. Namun kemudian ada yang mengganjal
di hatinya saat menyajikan kajian itu. Sebab di barisan belakang selalu ada
tatapan yang begitu tajam. Tatapan kagum dari seorang perempuan muda. Perempuan
itu selalu tersenyum saat mata Faisal tertuju padanya.
Perempuan
itu bernama Sinta. Sinta adalah anak pertama Ibrahim yang kuliah di Universitas
Marmara di Istanbul. Sinta mengagumi Faisal karena begitu luas pengetahuannya.
Ibrahim sebenarnya tahu tentang kesukaan Sinta pada Faisal. Bagi Ibrahim itu
wajar. Melihat umur Sinta yang masih muda, Ibrahim tak ambil pusing.
"Ka
Faisal, jangan bosen, ya, mengisi kajian," ucap Sinta saat Faisal hendak
kembali ke Asrama. "Insya Allah," kata Faisal singkat sembari
tersenyum.
Di
dalam tramway menuju asrama, Faisal masih terngiang wajah dan ucapan Sinta.
Seakan ada hal baru yang mengusik hati dan pikirannya. Faisal bersikeras untuk
mengusir pikiran itu. Namun ia tak mampu. Bahkan semakin kuat menghilangkannya,
semakin jelas wajah dan ungkapan kata-katanya. Dalam beberapa kesempatan
kajian, hati dan pikiran itu masih bergejolak. Sebab tatapan Sinta begitu kuat.
*****
Nazgol
sudah menunggu Abdul dan Faisal di pintu gerbang kampus. Sore itu mereka ingin
berkunjung ke toko buku yang khusus menjual buku berbahasa Inggris di sekitar
Masjid Biru. Nazgol membeli buku tentang Iran dan Timur Tengah. Sementara Abdul
membeli buku sejarah Turki Modern dan Faisal membeli buku sejarah Kesultanan
Turki Usmani.
Usai
membeli buku mereka minum cay atau teh khas Turki di sebuah kafe yang menghadap
ke selat bosporus. Mereka bercerita tentang kegiatan masing-masing. Nazgol
bercerita tentang saudaranya dari Teheran yang berkunjung ke Istanbul. Nazgol
dengan bangga memperaktekkan bahasa Turkinya saat ia menemani suadaranya saat
berwisata keliling Turki.
Abdul
bercerita tentang keluarganya yang baru saja pindah apartemen. Dan Faisal
bercerita tentang kesibukannya mengisi kajian untuk masyarakat Indonesia di
setiap akhir pekan. Nazgol terlebih dahulu meninggalkan kedua sahabatnya karena
harus mengantar saudaranya ke bandara
karena akan kembali ke Teheran.
Di
akhir perbincangan Abdul mengundang Faisal ke apartemen barunya. "Kami
hendak melakukan tasyakuran," ujar Abdul. Faisal menganggung dan
mengatakan, “Insya Allah saya akan datang,” ujarnya.
Faisal
berkunjung ke rumah Abdul. Faisal diterima oleh Syed Hasyim, ayah Abdul. Di
rumahnya sudah berkumpul satu keluarga. Syed Hasyim, Abdul, Fatimah, ibu Abdul,
dan Nadwa adik Abdul. Dalam jamuan makan malam itu Syed Hasyim banyak bertanya
tentang Indonesia khususnya Jakarta, sebab ia pernah bertugas di Jakarta selama
dua tahun menjelang Reformasi 1998.
Sebelum
Faisal beranjak pamit, Syed Hasyim mengatakan sesuatu yang membuat Faisal membisu.
“Saya banyak mendengar tentangmu dari Abdul, wahai Faisal, maukah kamu menikahi
Nadwa?” Tanya Syed Hasyim di hadapan keluarganya termasuk Nadwa.
Sebelum
Faisal menjawab, ia diam dan berpikir keras untuk menjawabnya. Dan sebelum
Faisal menjawab, Syed Hasyim menambahkan, “Tak perlu tergesa-gesa untuk
menjawabnya.” Dengan tenang Faisal menjawab singkat, “Saya akan
mempertimbangkannya.” Ia pun pamit kepada keluarga Abdul dengan pertanyaan yang
masih menggantung dalam benaknya.
*****
Musim
panas tiba di bulan Juni. Faisal, Abdul, Nazgol dan teman-teman sekelasnya
mengantre masuk kapal feri. Kapal itu akan membawa penumpangnya mengelilingi
selat Bosporus, selat yang membelah benua Asia dan Eropa. Faisal mengajak
Nazgol naik ke lantai paling atas. Sebab di sana mereka bisa melihat keindahan
Bosporus.
Kapal
pun berjalan dan Faisal mulai bercerita pada Nazgol ihwal permintaan Syed
Hasyim padanya. Faisal juga bercerita tentang Sinta yang menawan. Faisal
meminta pendapat Nazgol tentang apa yang harus ia lakukan. Nazgol mengatakan
sebaiknya Faisal menghubungi orangtuanya dan meminta pendapat mereka.
“Orangtua
kita lebih tahu tentang kita,” kata Nazgol.
Ungkapan
Nazgol dan tatapannya begitu dalam menghujam hati Faisal. Ia baru tersadar, bahwa
sebenarnya Nazgol pun diam-diam perhatian terhadapnya. Sebab, beberapa waktu
lalu, tanpa diminta, biasanya Nazgol menawarkan diri untuk membantu Faisal. Apa
saja. Terkadang SMS atau telepon berdering dari Nazgol menanyakan kabar dan
lainnya. “Ah, semakin runyam saja hati ini,” ungkap Faisal dalam hati.
Faisal
menelepon Husna, ibunya di Rangkasbitung. Ia bercerita tentang tawaran dari
Syed Hasyim. Tentang keluarga yang harmonis itu. Tanpa disangka, ibunya menolak
akan tawaran itu. Sebab, Husna menginginkan anaknya menikah di Indonesia.
Selang
kemudian Faisal bercerita kepada Rani, kakaknya, tentang semua yang terjadi di
Istanbul. Dalam benak Faisal, ia ingin memiliki keputusan sebelum pulang ke
Indonesia, entah itu menikah dengan Nadwa, atau Sinta, mungkin juga Nazgol.
Dengan
halus Rani berbicara kepada ibunya agar ia mengikhlaskan Faisal menikah dengan
pilihan yang ada. Bahwa pernikahan adalah perintah sunah ajaran Nabi Muhammad.
“Jika saatnya tiba, tidak ada yang bisa menghalanginya. Sebab nikah juga
termasuk takdir Tuhan,” kata Rani dengan suara rendah kepada ibunya.
Setiap
malam Husna melaksanakan tahajud dan istikharah untuk anaknya. Di akhir musim
panas di bulan Agustus, Husna menelepon Faisal tentang pertanyaan yang ia
ajukan.
“Nak, hidup ini milikmu. Ibu ikhlas atas pilihan kamu. Jika menikah
adalah pilihanmu saat ini, tentukanlah,” kata Husna di ujung telepon.
Mendengar
jawaban dan suara ibunya, tak terasa air mata Faisal menetes di pipinya. Ia
bersyukur akhirnya ibunya mengikhlaskannya untuk menikah.
*****
Musim
gugur tiba di bulan September. Usai keluar kelas ia berangkat menuju tempat
favoritnya yaitu Ortakoy menggunakan tramway. Di dalam tramway ia melihat
pemandangan Istanbul yang dihiasi dengan orang-orang yang memancing ikan di
atas jembatan selat Bosporus. Di pinggir selat itu berdiri sejumlah masjid dengan
menara yang begitu kokoh, dan dihiasi dengan burung-burang camar yang terbang
rendah di atas permukaan air.
Sepanjang
jalan, daun-daun pohon yang menguning kecoklatan berguguran tertiup angin.
Trotoar-trotoar jalan dipenuhi dedaunan yang berjatuhan. Ia begitu menikmati
suasana sejuk ini. Ia duduk di sebuah kafe di Ortakoy yang menghadap selat
Bosporus. Ia menyeruput teh panas tanpa gula sembari berpikir dalam benaknya.
Seperti
halnya daun yang mesti jatuh di musim gugur, ia pun harus menjatuhkan
pilihannya. Meski, dalam pilihan itu ada orang lain yang gugur. Setelah melalui
proses panjang dalam batin dan diskusinya dengan Tuhan melalui shalat
istikharah, Faisal menentukan pilihannya. Ia memilih yang sudah jelas meminta
dirinya untuk menikah. Ya, Faisal memilih menikah dengan Nadwa.
*****
Selesai
Merdeka!
Saya menulis ini di depan bendera merah putih yang berkibar di wisma KBRI Ankara. Pagi ini jam 7 sebelum upacara.
Saya duduk di tangga, sementara mentari beranjak meninggi. Angin sepoi mengibarkan bendera yang tangguh itu.
Suasana masih sepi. Kicauan burung, cecicitan binatang, menghibur pagi yang ceria ini.
Aku ingin Indonesia selalu berjaya layaknya bendera yang berkibar karena tiupan angin.
Indonesia harus berjaya dan menjadi banga besar dengan gelombang pergerakan ekonomi, sosial dan politik yang positif.
Indonesia harus menjadi kebanggaan bangsanya karena keunggulannya. Indonesia harus menjadi wadah untuk memupuk kesadaran kemanusiaan.
Indonesia juga harus menjadi rumah untuk ketuhanan yang maha esa. Keadilan sosial juga persatuan Indonesia.
Tidak mustahil, suatu ketika Indonesia menjadi buah bibir karena keagungan persuadaraan, keluhuran budi pekerti, serta kemajuan teknologi dan kesalehan spiritual dan sosial.
Di sini, saya menulis dari Ankara, untuk Indonesia. Dirgahayu HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68. Merdeka!
Ankara, 17 Agustus 2013
Ada Apa Dengan Rindu
Pernahkah engkau rindu
Akan rindu yang telanjur
Pada sebuah embun
Yang singkat menjadi penyejuk
Adakah rindu hadir
Dalam hati dan pikir
Rindu yang bergelora dalam hati
Yang berimara dalam sanubari
Rindu datang pada waktunya
Rindu tak pernah musnah
Rindu menyelinap dalam dada
Rindu hinggap di setiap nada
Ada apa dengan rindu
Yang bernyanyi merdu
Menari dalam kalbu
Berirama mendayu
Siang malam berganti
Bulan dan mentari menyinari
Pikiran dan hati
Yang terpenjara sunyi
Siapa yang kuasa
Hilangkan rindu dalam dada
Ia tak pernah punya rasa
Yang selalu bergelora
Ankara, 28 Oktober 2013
Selasa, 15 Oktober 2013
Lebaran Menyenangkan
Sungguh, saya selalu senang jika berlebaran. Entah itu
jika dirayakan di kampung halaman atau di perantauan. Bukan pula karena baju
baru, sebab ada pengharapan baru yang selalu disajikan dalam berlebaran. Bahwa saling
memberi, berkurban, berbagi, memaafkan dan air muka yang berserilah yang
menghapus segala rasa menjadi kebahagiaan.
Tadi pagi saya shalat Ied di masjid dekat rumah yang
saya tumpangi. Usai shalat saya ikut berbaris untuk bersalaman dengan imam dan
para jemaah. Dari semua jamaah shalat Ied itu hanya saya yang orang asing. Tetapi
senyum tulus dari saudara-saudara muslim Turki itu menghangatkan pagi yang
dingin.
Dan saya teringat pertama kali merayakan Idul Kurban
di perantauan. Sejak lulus SD tahun 1996 saya merantau dari Rangkasbitung ke
Ponorogo untuk menuntut ilmu. Sejak saat itu sampai sekarang, perayaan Idul
Adha kebanyakan saya rayakan di perantauan. Hanya sesekali saja dirayakan di
kampung halaman ketika saya kuliah di Jakarta.
Di Gontor dulu, kami para santri sangat senang jika
lebaran kurban tiba. Sebab tiga hari berturut-turut menu makanan di dapur umum
adalah daging kurban. Kami menyebutnya dengan, yaumul malhamah, hari-hari
berdaging. Macam-macam menu daging yang disajikan, mulai dari gulai, sate hingga semur
daging. Bahkan kami hampir merasa bosan dengan menu itu.
Saat merantau ke Jakarta saya ingin merasakan aroma berlebaran di ibukota. Tahun 2003 saya dan beberapa teman melaksanakan shalat Ied
di Masjid Istiqlal. Kami berangkat dari Pondok Pinang, sehabis shalat Isya. Kemudian
menikmati malam takbiran di kota macet itu. Kami juga menikmati malam takbiran
di Tugu Monas sebelum beranjak ke Masjid Istiqlal.
Sampai masjid Istiqlal tengah malam. Rupanya sudah
banyak orang yang berada di dalam masjid itu. Ada yang shalat, membaca Alquran,
bahkan ada juga yang tertidur. Kami berempat waktu itu menghabiskan pagi menjelang
subuh dengan mengobrol sembari merebahkan badan di atas sajadah.
Tiba-tiba, sekitar pukul dua pagi, petugas masjid
membangunkan kami yang tertidur, kemudian menyuruh kami keluar dari masjid. Bahkan
orang yang sedang membaca Alquran pun diperintahkan untuk keluar dari masjid. Sebab,
menurut marbot masjid, bahwa masjid Istiqlal akan dibersihkan untuk shalat Ied.
Adzan Subuh berkumandang. Kami pun mengambil air
wudhu. Pintu masuk masjid Istiqlal dilengkapi dengan pintu X-Ray dan petugas
keamanan. Ini dilakukan karena Presiden RI juga akan melangsungkan Shalat Ied di masjid
terbesar di Asia Tenggara itu. Saya rasa, shalat di Istiqlal lebih lama
tinimbang shalat Ied di tempat lain yang pernah saya rasakan.
Berbeda dengan di Turki, waktu shalat Ied di sini
selalu berbeda-beda, menyesuaikan musim dan jam berapa terbitnya matahari. Tadi pagi, shalat
Ied di Ankara dilaksanakan pada pukul 07.39. Sementara shalat Ied Fitri pada
pukul sekitar pukul 06.30.
Pada tahun ini juga shalat Ied Fitri berbeda dengan
beberapa waktu sebelumnya. Masyarakat dan pelajar Indonesia melaksanakan shalat Ied Fitri
di Wisma KBRI Ankara. Lapangan tenis disulap menjadi hamparan karpet dan
sajadah.
Namun untuk shalat Ied Kurban, KBRI tidak lagi
melakukannya, karena banyak dari staf KBRI yang merayakan liburan dan cuti,
bahkan ada yang mudik ke kampung halaman. Apalagi liburan lebaran haji di Turki
lebih lama ketimbang liburan lebaran Syawwal yang digunakan untuk jalan-jalan.
Dari semua itu yang paling berkesan pada perayaan
lebaran Kurban yaitu saat saya berada di Mekkah untuk berhaji. Tidak ada shalat
Ied di sana. Sebab di hari yang sama para jemaah haji melaksanakan jumrah dan
kembali ke Makkah untuk melaksanakan tahallul dan thawaf.
Saat lebaran inilah kita dihalalkan untuk
bersenang-senang dan berbagi kesenangan. Bahkan bisa dikatakan bahwa orang fakir
miskin pun tidak boleh untuk tidak senang. Semuanya harus senang. Maka berkurban
adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan sesama manusia.
Di akhir tulisan ini, dari hati yang paling dalam saya ingin mengucapkan,
Selamat Hari Raya Idul Kurban. Taqabbalallu minna wa minkum, wa kullu sanah wa
antum bikhair, amin ya Rabbal ‘alamin.
Senin, 14 Oktober 2013
Filosofi Baduy
![]() |
| Sumber photo: sukubaduy.wordpress.com |
Lojor teu beunang dipotong
Pondok teu beunang disambung
Gunung teu beunang dilebur…
Lebak teu beunang dirakrak
Buyut teu beunang dirobah
Larangan aya di darat di cai
Gunung aya maungan,
lebak aya badakan
Lembur aya kokolotan,
leuwi aya buayaan
Kudu teguh kudu patuh
Kudu cageur kudu bageur
Kudu pinter kudu beneur
Kudu Jalingeur kudu cingeur
Manuk hirup ku jangjangna
Lauk hirup ku asangna
Jelema hirup ku akalna
Otak, taktak, jeung ceplak
Mun teu bisa unyeum-unyeum
kudu bisa unyam anyam
Saluhureun pi bapaeun
Sapantaran pi batureun
Sahandapeun pi anakeun
Neangan elmu ti bincurang
Tapi ti papada urang
Lembu kungkung, kuda cangcang
Kebo kaluhan, jelema ikrab, ijab lisan
Jelema teu beunang dipeuncit diarah
dagingna
tapi ucapan atawa lisanna
sumber tulisan:
http://ima99ine.wordpress.com/2010/11/17/filosofi-baduy/
Jumat, 11 Oktober 2013
Hidayah untuk Siapa Saja
Saya yakin bahwa
hidayah datang kepada orang yang dikehendaki Allah SWT. Hidayah atau petunjuk
itu terkadang datangnya pun tak terduga. Meski selalu ada tahapan-tahapan untuk
jalan mendapatkan hidayah ini.
Alkisah, seorang
ibu yang akhirnya mengenakan kerudung dalam kesehariannya. Saya mengenal ibu
ini sejak tinggal di Turki dan kini menetap di Jakarta. Awalnya, ibu ini,
seperti wanita-wanita yang tak berkerudung mengenakan pakaian yang tidak
menutup kepalanya. Namun si ibu ini selalu semangat kalau untuk belajar Islam.
Pengajian atau
kajian Islam ibu-ibu di Ankara salah satu pencetusnya adalah ibu ini. Bahkan untuk
pengajian rutin ibu-ibu Ankara tiap hari Rabu pertama kali diadakan di
rumahnya. Suatu Rabu ibu ini mengenakan kerudung tertutup rapi, saya melihatnya
pangling. Siapa gerangan orang ini, pikir saya, cantik dengan berkerudung.
Kami mengenal Bu
Tam, panggilan saya untuk ibu ini, adalah orang yang baik budi pekertinya. Saya
sudah menganggapnya sebagi guru saya. Saya merasa mendapatkan pelajaran jika
berdiskusi dengannya. Ia jarang bicara yang tidak bermanfaat. Ia selalu
mengucapkan minta tolong dan terimakasih jika membutuhkan bantuan saya.
Saya pernah
mendengar bahwa Bu Tam, sejak di Turki memang sudah berniat untuk mengenakan
kerudung. Tetapi sampai ia meninggalkan Turki, karena berakhirnya tugas sang
suami, belum juga mengenakan kerudung. Hingga suatu hari saya mendapat kabar
bahwa si ibu sudah paten mengenakan kerudung. Alhamdulillah.
Lihatlah cara Allah
dalam memberi hidayah dalam kisah ini. Ada tahapan-tahapan. Seperti keinginan
kuat dalam mempelajari Islam. Sempat suatu hari ia bertanya pada saya tentang sebuah
Tafsir yang bagus yang ingin ia pelajari sebelum kembali ke Jakarta. Keinginan kuat
dalam hati, doa yang terpatri tiap hari, keluarga yang meridhai, hingga
akhirnya Allah memberikah hidayah kepadanya.
Banyak kisah
tentang hidayah ini. Seperti seorang pembunuh yang sudah membunuh 99 orang lalu
menghadap rahib. Namun rahib mengatakan Tuhan tidak akan mengampuni dosanya,
lalu si pembunuh ini menuntaskan membunuh orang menjadi 100 nyawa. Dan ia
kemudian tetap mencari petunjuk bagaimana mendapatkan ampunan dan taubatnya. Allah
pun mengampuninya.
Atau kisah
seorang pelacur yang memberi air minum seekor anjing yang kehausan. Sang pelacur
dengan susah payah mengambil air di dalam sumur dan memberikannya kepada
anjing. Allah mengampuni segala dosanya. Meski manusia sekitarnya tetap
mengecap dirinya sebagai pelacur laknat.
Inilah hidayah
yang diberikan, bahkan kepada orang yang dianggap oleh manusia sebagai orang
terhina, namun Allah Yang Maha Pengasih mengangkat derajat orang ini karena
keinginan kuat dalam dirinya untuk memperbaiki hidupnya.
Hidayah bisa
datang kepada siapa saja yang dikehendaki. Hanya kekuatan hati seseorang dan
Kemahabaikan Allah yang bisa mengantarkan seseorang mendapatkan hidayah. Dan jika
Allah sudah menginginkan sesuatu, maka alam semesta dan manusia terkuat pun tak
akan dapat menghalanginya.
Dalam setiap
rakaat shalat kita diwajibkan membaca surat Alfatihah. Dalam dua ayat terakhir
disebutkan, “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Kita dapat mengambil hikmah dalam surat Alfatihah ini
bahwa, kita selalu diperintahkan untuk selalu meminta hidayah kepada Allah. Sebuah
jalan yang lurus. Hingga akhirnya kita termasuk golongan orang-orang yang
diberi nikmat, bahkan sampai nanti di akhirat.
Dulu saya pernah berpikir bahwa kepastian di dunia ini
adalah ketidakpastian. Namun sekarang sedikit berubah. Bahwa tidak ada
kepastian di dunia ini kecuali kematian. Yap, kematian adalah satu-satunya yang
pasti datang kepada makhluk yang bernyawa.
Benar kata kyai saya, Kyai Hasan, bahwa saat ini
orang-orang banyak berpikir dan berbuat bagaimana cara hidup yang baik tapi
lupa bagaimana cara mati yang baik. Artinya bagaimana cara mendapatkan husnul
khatimah, kematian yang baik.
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberi
hidayah oleh Allah dan menjadi husnul khatimah, Amin ya Rabbal’alamin.
Langganan:
Postingan (Atom)













