Setiap Jumat malam, pukul sembilan lewat sedikit, ponsel Bagas bergetar oleh pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
"Nek, hari ini aku dimarahi atasan lagi. Tapi aku ingat kata Nenek, orang yang marah itu sebenarnya sedang capek. Jadi aku bikinkan dia kopi. Besok aku cerita lagi ya."
Pesan pertama datang tiga bulan setelah Bagas membeli kartu perdana baru di konter pinggir jalan. Ia sempat mengira itu penipuan. Tapi tidak ada tautan, tidak ada permintaan pulsa, tidak ada "Ma, ini nomor baruku." Hanya cerita. Kadang panjang, kadang cuma satu kalimat.
"Nek, aku coba masak sayur asem resep Nenek. Rasanya aneh. Kurang apa ya?"
"Nek, hujan. Aku kangen dengar Nenek ngomel soal jemuran."
"Nek, hari ini setahun Nenek pergi."
Pesan terakhir itu yang membuat Bagas berhenti menghapus. Ia duduk lama di tepi kasur kosnya, memandangi layar. Nomor ini dulu milik seseorang yang sudah tiada, dan ada seorang cucu di luar sana yang masih menulis kepadanya, seperti menaruh surat di kotak pos yang tak pernah dibuka.
Bagas tidak membalas. Rasanya tidak pantas. Membalas berarti merusak sesuatu yang rapuh: keyakinan kecil bahwa di ujung sana masih ada yang mendengarkan. Jadi ia hanya membaca. Setiap Jumat.
Lambat laun ia mengenal si pengirim tanpa pernah tahu namanya. Perempuan itu bekerja di kantor yang atasannya galak. Ia tidak pandai masak tapi keras kepala mencoba. Ia takut kucing tapi tetap memberi makan kucing liar di depan kontrakannya. Ia menyebut dirinya "cucu yang paling bandel", dan dari cara ia menulis, Bagas yakin neneknya diam-diam menyukai kebandelan itu.
Bagas mulai menunggu Jumat.
Ia sadar itu aneh. Ia laki-laki dua puluh sembilan tahun yang hidupnya berjalan datar: kerja di bengkel servis elektronik, pulang, makan nasi bungkus, tidur. Teman-temannya sudah menikah satu per satu. Ibunya di kampung sudah berhenti bertanya kapan, dan diamnya justru lebih berat daripada pertanyaan. Lalu datang suara asing ini, yang bukan untuknya, tapi entah bagaimana terasa paling dekat dengannya.
Suatu Jumat, pesan itu tidak datang.
Jumat berikutnya juga tidak.
Bagas gelisah dengan cara yang membuatnya malu sendiri. Ia membuka ulang percakapan, menggulir ke atas, membaca lagi cerita tentang sayur asem dan kucing liar. Pada Jumat ketiga, ketika layar tetap diam, ia akhirnya mengetik sesuatu. Menghapusnya. Mengetik lagi.
"Maaf, saya bukan nenek Mbak. Nomor ini sekarang milik saya. Saya tidak pernah membalas karena tidak mau mengganggu. Tapi sudah tiga minggu Mbak tidak menulis, dan saya cuma ingin tahu Mbak baik-baik saja."
Ia menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran, lalu melempar ponselnya ke bantal seperti benda panas.
Balasan datang empat jam kemudian, hampir tengah malam.
"Ya Allah. Jadi selama ini ada yang baca?"
Lalu, beberapa menit kemudian:
"Aku malu sekali. Tapi… terima kasih sudah tidak memblokir. Aku kena tifus, baru pulang dari rumah sakit. Nggak sempat nulis."
Lalu:
"Kamu baca semuanya? Termasuk yang soal sayur asem?"
Bagas tertawa sendirian di kamar kosnya, suara yang sudah lama tidak ia dengar dari dirinya sendiri. "Termasuk yang soal sayur asem. Menurut saya kurang asam jawa."
"Nenekku juga bilang begitu!"
Namanya Sekar. Ia tinggal di kota yang sama, hanya beda tiga kecamatan. Mereka bertukar pesan setiap malam, bukan lagi hanya Jumat. Sekar bercerita tentang neneknya, perempuan yang berjualan jamu gendong sampai usia tujuh puluh dan selalu bilang bahwa jodoh itu seperti kunyit: kadang tersembunyi di dalam tanah, baru kelihatan warnanya kalau sudah dikupas.
"Jadi kamu percaya jodoh?" tanya Bagas suatu malam.
"Dulu nggak. Sekarang aku nggak tahu. Aku menulis ke orang yang sudah meninggal, dan yang baca malah orang asing yang diam-diam nungguin setiap Jumat. Kalau itu bukan jodoh, namanya apa?"
Bagas tidak menjawab malam itu. Ia menjawab dua bulan kemudian, di warung pecel dekat stasiun, tempat mereka akhirnya bertemu untuk pertama kali. Sekar ternyata lebih pendek dari yang ia bayangkan, dan tertawanya lebih keras.
Setahun setelah itu, pada hari pernikahan mereka, Sekar menyuruh Bagas mengeluarkan ponsel. Ia mengetik ke nomor yang kini ada di saku suaminya sendiri:
"Nek, aku sudah menikah. Orangnya baik. Nenek pasti suka, dia bisa betulin radio."
Ponsel Bagas bergetar. Ia membaca pesan itu, lalu memandang istrinya.
"Mau dibalas?" tanyanya.
Sekar menggeleng sambil tersenyum, matanya basah.
"Nggak usah. Nenek sudah menjawab. Dari dulu."




0 komentar:
Posting Komentar