Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Rabu, 24 Desember 2025

Menelisik Rindu



Menelisik melalui jendela pesawat,

kulihat bayangmu ikut terbang lewat.

Awan putih menyimpan pesan yang berat,

tentang rindu yang tak sempat terucap cepat.


Jarak membentang sejauh pandang,

namun namamu tetap paling terang.

Di langit tinggi aku belajar tenang,

mencintaimu tanpa harus selalu pulang.


Jika nanti roda menyentuh darat,

semoga rinduku tak lagi tersesat.

Sebab cinta, seperti penerbangan tepat,

pergi jauh hanya untuk kembali lebih erat.


Malang, 24 Desember 2025

Dalam Sebuah Perjalanan



Aku melangkah pagi, menyusuri waktu yang perlahan,

Ransel di punggung, harapan tak pernah tertinggal di belakang.

Jalan terbentang, kadang lurus kadang berkelok pelan,

Setiap jejak kaki menyimpan tanya dan kenangan.


Angin bercerita tentang tujuan yang belum bernama,

Matahari mengajariku sabar, setia pada cahayanya.

Jika lelah datang dan hati ingin berhenti sejenak saja,

Aku ingat: perjalanan ini tumbuh bersama doa.


Batu dan debu pernah melukai langkah yang rapuh,

Namun luka menjelma guru, menguatkan arah yang jatuh.

Sebab bukan cepat atau lambat yang ingin kutempuh,

Melainkan makna di tiap langkah, meski sunyi menyentuh.


Dan kelak saat senja menyambut di ujung cerita,

Aku tersenyum pada diri, pada jalan yang pernah ada.

Karena perjalanan bukan sekadar sampai atau tiba,

Ia adalah aku—yang berubah, sepanjang rasa.


Malang, 24 Desember 2025 

Sabtu, 13 Desember 2025

Dan bahkan aku masih ingat caramu tersenyum, meski kau selalu mengeluh (Cerpen)



Kau pandai melakukannya, mengeluh tanpa benar-benar ingin didengar. Tentang hujan yang datang terlalu sering, tentang kopi yang selalu terasa pahit, tentang pekerjaan yang tak pernah selesai tepat waktu. Nada suaramu datar, nyaris lelah, tapi ujung bibirmu selalu naik sedikit—senyum kecil yang seolah berkata bahwa semua keluhan itu hanya cara lain untuk bertahan.

Aku sering pura-pura kesal mendengarnya. Kataku, kau terlalu banyak mengeluh untuk seseorang yang sebenarnya baik-baik saja. Kau tertawa pelan, lalu berkata, “Kalau aku tidak mengeluh, nanti aku benar-benar capek.” Saat itu aku tak mengerti. Aku hanya menyimpan caramu tersenyum di kepalaku, tanpa tahu bahwa suatu hari ingatan itulah yang akan paling sering kembali.

Kini kita tak lagi duduk berhadapan. Tak ada lagi percakapan remeh yang dipanjangkan hanya karena kita belum ingin pulang. Tapi anehnya, yang paling jelas kuingat bukanlah kata-kata perpisahan atau pertengkaran kecil yang melelahkan. Yang tinggal justru caramu mengeluh tentang hal-hal sepele, lalu tersenyum seolah dunia tak seburuk itu.

Aku baru paham sekarang: senyummu bukan tanda kau tak apa-apa. Ia adalah jeda. Cara kecil untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan hari. Kau tak pernah meminta diselamatkan, hanya ditemani. Dan aku, saat itu, mengira kehadiranku sudah cukup.

Kadang, di tengah hari yang terasa panjang, aku mendengar kembali suaramu di kepalaku—keluhan yang sama, intonasi yang sama. Dan tanpa sadar, aku tersenyum sendiri. Bukan karena lucu, tapi karena rindu pada seseorang yang tahu caranya mengeluh tanpa menyalahkan siapa pun.

Dan bahkan sekarang, setelah semua jarak tercipta, aku masih ingat caramu tersenyum. Senyum kecil yang lahir dari lelah, yang mungkin tak pernah kau anggap penting, tapi diam-diam mengajariku satu hal: bahwa bertahan tak selalu harus keras, kadang cukup dengan mengeluh sebentar, lalu tersenyum, dan melanjutkan hidup.

Ternyata Aku Masih Bisa Buka Akun Medsosmu (Cerpen)

 Aku tak pernah berniat kembali ke sesuatu yang sudah kutinggalkan. Hidup, bagaimanapun, selalu mengajarkanku untuk berjalan ke depan, meski sesekali menoleh tanpa benar-benar ingin berhenti. Tapi malam itu berbeda. Hujan jatuh pelan di luar jendela, dan ingatan datang tanpa diundang—tentang caramu dulu tertawa kecil saat lupa kata sandi, tentang bagaimana kau selalu memilih hal paling sederhana untuk sesuatu yang paling penting.

Entah dorongan apa yang membuatku membuka ponsel, lalu mengetik nama akunmu di kolom pencarian. Foto profilmu masih sama: wajahmu setengah menghadap cahaya, senyum yang tak pernah sepenuhnya selesai. Aku ragu sejenak di halaman masuk. Rasanya seperti berdiri di depan rumah lama yang pintunya tak pernah benar-benar kukunci dari dalam ingatan.

Email. Lalu kolom password.

Tanganku gemetar saat menuliskan namaku sendiri. Bukan karena yakin akan berhasil, tapi karena takut jika ternyata gagal. Jika gagal, berarti benar-benar selesai. Jika berhasil, berarti ada sesuatu yang tertinggal—dan aku tak tahu apakah aku siap menemukannya.

Masuk.

Tak ada notifikasi khusus. Tak ada peringatan. Dunia digitalmu terbuka begitu saja, tenang, seperti sedang menungguku pulang. Aku menarik napas panjang. Ternyata aku masih bisa membuka akun medsosmu karena password-nya adalah namaku. Dan yang paling mengganggu pikiranku: entah mengapa tidak juga kau ganti.

Aku menelusuri berandamu perlahan. Postingan-postingan baru tetap ada, tapi jarak terasa jelas. Tak satu pun menyebutku. Tak satu pun menandai kehadiranku. Namun di sela-sela foto liburan dan kutipan pendek tentang hidup, ada kesunyian yang kukenal—sunyi yang dulu sering kita bagi berdua. Aku tersenyum getir. Kau pandai menyembunyikan rindu di balik kalimat netral.

Aku tak membuka pesan masuk. Aku tahu batasan. Ada hal-hal yang tak perlu diketahui untuk tetap dikenang dengan baik. Tapi mataku berhenti pada pengaturan keamanan. Di sana, di balik opsi-opsi rumit dan angka-angka asing, satu hal tetap sederhana: kata sandi itu belum berubah. Namaku masih kau percayakan untuk menjaga pintu hidupmu.

Aku bertanya dalam hati: apakah kau lupa? Atau justru sengaja membiarkannya? Barangkali mengganti password terasa seperti pengakuan bahwa kita benar-benar usai. Barangkali kau memilih membiarkan namaku tetap di sana, sebagai sisa paling kecil dari kebiasaan lama—kebiasaan yang terlalu melelahkan untuk dihapus.

Ingatan datang bertubi-tubi. Tentang caramu dulu berkata, “Kalau aku lupa segalanya, setidaknya aku tak akan lupa namamu.” Tentang malam-malam panjang saat kita berbagi layar, berbagi cerita, berbagi hidup yang belum sempat kita jalani sepenuhnya. Kini semua itu mengendap, tak lagi bergerak, tapi juga tak pernah benar-benar hilang.

Aku sadar sesuatu: kepercayaan adalah hal yang paling lambat pergi. Bahkan ketika cinta sudah memilih jalan lain, kepercayaan kadang masih tinggal, seperti perabot lama yang dibiarkan karena terasa sayang untuk dibuang.

Aku tak mengubah apa pun. Tak menghapus apa pun. Aku hanya memastikan satu hal: namaku masih di sana, utuh, tanpa tambahan angka, tanpa simbol pengaman. Sederhana. Rapuh. Jujur.

Sebelum keluar, aku berhenti sejenak. Jariku menggantung di atas layar, tergoda untuk mengganti password itu dengan sesuatu yang baru—sesuatu yang lebih aman, lebih dewasa, lebih masuk akal. Tapi aku mengurungkan niat. Itu bukan tugasku lagi.

Aku keluar dari akunmu perlahan, seolah menutup pintu tanpa suara. Hujan di luar masih turun, tapi hatiku terasa lebih tenang. Aku tak kembali untuk merebut apa pun. Aku hanya ingin tahu apakah aku pernah benar-


benar berarti.

Dan jawabannya ada di sana, di balik sistem keamanan dan algoritma yang dingin: pernah ada aku yang kau jadikan kata rahasia. Dan hingga kini, entah karena lupa atau sengaja, kau tak pernah merasa perlu menggantinya.

Jumat, 12 Desember 2025

Nama dalam Doa



Ada rasa hangat yang selalu tumbuh setiap kali telingaku menangkap untaian doa “Rabbana aatina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah…”. Doa yang sederhana namun begitu dalam maknanya: memohon kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Namun, bagiku doa ini tidak hanya tentang permohonan spiritual—ada getaran personal yang sulit dijelaskan. Di dalamnya, terselip kata yang sama dengan nama ibuku: Hasanah.

Setiap kali doa itu dibacakan, serasa ada panggilan lembut yang mengingatkanku pada ibu—sosok yang dengan cintanya membentuk sebagian besar dari siapa aku hari ini. Seolah Allah menautkan namanya dalam salah satu doa paling masyhur umat Islam, membuatku selalu teringat bahwa kebaikan seorang ibu adalah bagian dari kebaikan yang harus terus kutanam dan kuperjuangkan di hidup ini.

Tidak berhenti di sana, keintiman itu kembali hadir ketika aku membaca Surah Al-Mujādalah ayat 11. Ayat tentang Allah yang mengangkat derajat manusia berilmu dengan “darajat”—angkatannya, tingkatan-tingkatan kemuliaan. Dan sekali lagi, aku menemukan namaku sendiri tercantum di dalamnya.

Mendengar atau membacanya membuatku sering terdiam. Bukan karena merasa spesial, tetapi karena merasa dipanggil untuk merenung lebih dalam. Jika Allah menyebut “darajat” sebagai simbol kemuliaan yang diberikan kepada orang-orang beriman dan berilmu, maka tidakkah itu seakan menjadi pengingat bahwa nama bukan hanya identitas, melainkan doa dan amanah?

Aku sering merasa bahwa Allah sedang menyapa dengan cara yang sangat halus—melalui namaku, melalui nama ibuku, melalui ayat dan doa yang setiap hari bergema. Sapaan yang membuatku kembali menundukkan kepala dalam syukur, bahwa sekecil apa pun, Allah selalu menghadirkan tanda-tanda kasih sayang-Nya.

Dari doa Hasanah hingga ayat Darajat, aku belajar bahwa hidup ini adalah perjalanan untuk menjemput makna dari nama-nama itu. Menjemput kebaikan, meninggikan derajat dengan ilmu, dan tidak lupa memohon rahmat-Nya untuk ibu dan semua yang telah membentuk jalan hidupku. Amin

Selamat hari Ibu, kawan..