Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Minggu, 18 Mei 2014

Turki Berduka Cita



Oleh Deden Mauli Darajat 
(Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, -- Beberapa hari terakhir, halaman Facebook dan Twitter saya dipenuhi kabar tentang bencana ledakan tambang batu bara di Soma, Provinsi Manisa, Turki. Beberapa teman saya yang warga Turki maupun Indonesia yang tinggal di Turki memasang foto profilnya dengan warna hitam, atau dengan gambar pita hitam, yang menandakan sedang berkabung. Pemerintah setempat mengumumkan tiga hari berkabung dan mengibarkan bendera setengah tiang.

Kejadian ini bermula ketika sebuah ledakan dan kebakaran di sebuah tambang batu bara di Turki bagian barat. Data yang dirilis koran Hurriyet Jumat (16/5) pagi, sedikitnya 284 pekerja tambang tewas akibat bencana ledakan dan kebakaran. 

Presiden Abdullah Gul mengatakan Turki sedang dihadapkan dengan bencana besar. Abdullah Gul mengungkapkan hal itu setelah mengunjungi tambang di kota barat Soma yang telah terjadi ledakan yang menghasilkan api yang masih belum padam sejak 13 Mei 2014.

Sementara itu Menteri Energi Taner Yildiz mengatakan bahwa meskipun api kecil, itu masih berlanjut sejak ledakan mematikan pada unit distribusi daya tiga hari yang lalu. Menurut Yildiz, tingkat karbon monoksida dalam tambang mengalami penurunan, yang mungkin menjadi tanda bahwa api sekarang lebih kecil, meskipun tidak benar-benar padam. 

Presiden Gul mengunjungi tempat kecelakaan dan bersumpah bahwa langkah-langkah untuk mencegah bencana serupa akan diambil. “Sayangnya kami kehilangan besar. Kami harus menunjukkan solidaritas besar untuk membalut luka-luka,” kata Gul yang bersumpah akan memperbaiki nasib buruh.

Sementara itu di lokasi kejadian terdapat orang-orang yang berdemonstrasi terhadap Presiden. “Pak Presiden, sakit kita sangat besar, tolong bantu kami,” suara pendemo ketika Gul berbicara. Gul juga menghadapi protes karena ia memeriksa tambang dengan kerabat penambang untuk menyerukan mengakhiri penggunaan pekerja kontrak.

Langkah-langkah keamanan yang luar biasa diambil sebelum kunjungan Gul ke Soma. Ketegangan telah dipasang sehari sebelumnya ketika Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan menjadi sasaran protes.

Perdana menteri Recep Tayyib Erdogan menyatakan di lokasi kecelakaan di Provinsi Manisa, Turki Barat, tempat 120 orang lagi masih terjebak di bawah tanah, ia berikrar upaya pertolongan akan dilanjutkan dan pemerintah akan menyelidiki kecelakaan tersebut secara menyeluruh.

Janji itu disampaikan Erdogan di tengah protes anti-pemerintah di Istanbul, Ankara, Izmir, Antalya dan kota besar lain sehubungan dengan kecelakaan tambang paling akhir itu. Para demonstran menuntut pengunduran diri Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang memerintah.

Lebih dari 500 orang berkumpul di luar Markas Soma Holding di Istanbul sekitar Rabu sore. Di Ibu Kota Turki, Ankara, polisi anti-huru-hara menembakkan gas air mata dan menyemprotkan air ke arah ratusan mahasiswa yang melancarkan protes dan berusaha berpawai ke Kementerian Energi. Sementara itu Serikat Pekerja mengumumkan pemogokan umum di seluruh negeri tersebut pada Kamis.

Masih dalam bulan Mei yang dikenal dengan hari buruh internasional, nasib buruh dari hari ke hari tidak pernah berubah. Para buruh seakan tidak ada pilihan lain untuk mencari pekerjaan yang lebih baik sebelum adanya peraturan yang lebih menguntungkan para buruh. Turki pun berduka cita dengan kehilangan ratusan warganya akibat bencana ini.

Salah satu teman saya, Omer Faruk memasang foto profilnya dengan sebuah foto seorang pekerja dengan wajah tercoreng warna hitam pekat dengan sebuah tulisan, “Ini bukan wajah yang hitam, ini hitam batu bara yang menempel di wajah. Beginilah cara kami mencari uang untuk membeli roti.” 

Redaktur: Fernan Rahadi
Telah dimuat di sini

Senin, 12 Mei 2014

Habibie dan Erbakan



Oleh Deden Mauli Darajat 
(Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, -- Judul ini terinspirasi dari buku Habibie dan Ainun. Namun tulisan ini bukan berbicara tentang hal itu. Tulisan ini bericara tentang dua kepala negara yang bersahabat sejak lama. Sebab berbicara tentang hubungan Indonesia dan Turki dalam konteks kekinian tidak bisa melewatkan aktor sejarah kedua pemimpin kedua negara tersebut yaitu Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie dan Prof. Dr. Necmettin Erbakan.

Kedua tokoh ini memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memimpin negaranya masing-masing dalam waktu singkat. Sama-sama pernah mengenyam pendidikan di Aachen, Jerman, serta sama-sama berprofesi sebagai ilmuwan yang handal.

Suatu ketika di tahun 2011 saat menjadi mahasiswa di Ankara, saya diminta oleh kantor Atase Pertahanan RI dan KBRI Ankara untuk mendampingi dan membantu Presiden RI ketiga itu selama berada di Ankara. Habibie yang berusia lebih dari 70 tahun lebih itu masih terlihat bersemangat. Meskipun demikian, ia selalu bercerita tentang Ainun, istrinya yang setia mendampinginya baru saja meninggal. 

Ketika Duta Besar RI mengundang Eyang Habibie (panggilan Habibie) ke wisma KBRI untuk berbincang bersama masyarakat Indonesia, ia bercerita tentang hubungannya dengan Erbakan, Perdana Menteri Republik Turki tahun 1996-1997. Momentum yang paling mendekatkan antara Habibie dan Erbakan adalah  ketika Habibie diminta menjadi saksi pernikahan putra Erbakan. Saat pertemuan di wisma KBRI itu hadir pula putra Erbakan bersama istrinya. 

Sepulang dari Aachen Jerman, Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi pada masa Presiden Soeharto selama 20 tahun, hingga akhirnya ia dipercaya menjadi wakil presiden pada 1997. Setelah reformasi bergulir pada 1998, Habibie diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia ketiga dari tahun 1998 sampai 1999. 

Sementara itu sepulang dari Aachen, Jerman, Erbakan selain menjadi akademisi ia juga terpilih terpilih menjadi anggota parlemen Turki mewakili Konya pada tahun 1969. Ia menjadi Perdana Menteri Republik Turki pada tahun 1996 sampai 1997. Kesempatan yang singkat itu disebabkan pihak militer Turki menekan Erbakan untuk mundur karena melanggar konstitusi Turki yakni melanggar pemisahan agama dan negara.

Erbakan mendirikan organisasi Milli Gorus yang menganut ideologi politik Islam. Ia memberi penguatan pada nilai-nilai Islam dan menekan pengaruh negatif dari dunia barat serta mendukung lebih dekat negara-negara Muslim. Ideologi yang diusung Erbakan menyebabkan konflik yang sangat mendasar pada kaum elite di Turki yang memiliki ideologi sekulerisme yang memisahkan agama dan negara.

Dengan ideologi Milli Gorus, Erbakan mendirikan dan memimpin beberapa partai politik Islam terkemuka di Turki dari tahun 1960-an hingga tahun 2010-an, yaitu Partai Nasional Order (MNP), Partai Keselamatan Nasional (MSP), Partai Kesejahteraan (RP), Partai Kebajikan (FP), dan Partai Kebahagiaan (SP). 

Partai Kebajikan (FP) didirikan pada tanggal 20 Juli 2001.Kemudian partai ini dilarang oleh Mahkamah Konstitusi. Sementara itu sayap reformis partai ini membentuk Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Turki Abdullah Gul merupakan murid dan menjadi kepercayaan Erbakan saat menjadi Perdana menteri Turki.

Erbakan saat menjabat sebagai Perdana Menteri Turki berkomunikasi dengan Habibie untuk meningkatkan kapasitas negara-negara Muslim. Ia berpendapat negara-negara Muslim harus bersatu dan bergerak menjadi negara-negara yang kuat. Saat itulah kedua tokoh sepakat untuk mendirikan organisasi bernama Developing 8 tau D-8, yaitu sebuah organisasi untuk kerjasama pembangunan bidang ekonomi antara negara-negara: Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan dan Turki.

Pembentukan D-8 itu diumumkan secara resmi melalui Deklarasi Istanbul yang dihadiri oleh Kepala Negara/Pemerintah negara-negara Muslim pada tanggal 15 Juni 1997. Tujuan Organisasi Kerjasama Ekonomi D-8 adalah untuk meningkatkan posisi negara-negara anggota dalam ekonomi global, diversifikasi dan menciptakan peluang konsultasi baru dalam hubungan perdagangan, meningkatkan partisipasi di tingkat pengambilan keputusan internasional, dan meningkatkan standar hidup.

*Sumber tulisan: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/14/05/09/n5a84v-habibie-dan-erbakan

Minggu, 04 Mei 2014

Antara Ankara dan Jakarta



Oleh Deden Mauli Darajat 
(Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, -- Ankara merupakan ibu kota Turki sejak perubahan Kesultanan Turki Usmani menjadi Republik pada tahun 1923. Sebelumnya ibu kota Kesultanan Turki Usmani berada di Istanbul, kota yang secara geografis termasuk dalam benua Eropa. Ibu kota Ankara merupakan kota pemerintahan dan politik dengan penduduk sekitar lima hingga enam juta penduduk.

Adalah Mustafa Kemal Ataturk, presiden pertama Republik Turki yang memindahkan ibu kota Turki berada di bagian tengah Turki. Alasan pemindahan ini disebabkan, pertama, kota Ankara yang tandus, berbukit, dan tidak terlalu dipadati oleh penduduk membuat mudah dilakukan penataan kota secara apik. Jika kita berkunjung ke Ankara, kita dengan mudah menghafal jalan-jalan utama. 

Kedua, secara geografis letak Ankara yang berada di bagian tengah Turki yang sulit dijangkau dan ditaklukkan oleh musuh-musuh Turki di awal abad ke-20 oleh penjajah dari berbagai negara di Eropa.  Jika Istanbul dipertahankan menjadi ibukota yang berada di barat laut Turki atau berada di ujung kiri, maka musuh mudah untuk menaklukkannya. Jika Istanbul sudah ditaklukkan musuh, maka seluruh Turki sudah dipastikan direbut penjajah.

Sejak itulah ada pemisahan antara kota pemerintahan serta kota bisnis dan budaya di Turki. Ankara dipilih sebagai kota pemerintahan sementara Istanbul sebagai kota bisnis dan budaya. Pada tahun 2010, Istanbul terpilih sebagai ibu kota budaya Eropa. Istanbul saat ini penduduknya mencapai 16 hingga 20 juta penduduk. Ini menjadikan Istanbul lebih padat dari Ankara tiga sampai empat kali lipat.

Hal yang berbeda dijumpai di ibu kota Indonesia yaitu Jakarta yang sudah menjadi pusat perdagangan dan pertemuan antara berbagai etnis sejak abad ke-16 yang lalu dan hingga kini tetap menjadi pusat pemerintahan. Sebagai ibukota, Jakarta memiliki daya tarik tersendiri bagi sejumlah orang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib yang menyebabkan Jakarta begitu padat mencapai belasan juta penduduk. 

Kepadatan penduduk dan transportasi publik yang belum memadai membuat lalu lintas Jakarta selalu macet. Inilah yang membedakan Ankara dan Jakarta. Sebenarnya tidak sedikit warga Ankara yang memiliki kendaraan pribadi, tetapi mereka lebih memilih menggunakan transportasi publik tinimbang kendaraan pribadi. Ini karena efektivitas waktu dan efisiensi dana. Harga BBM yang tinggi di Turki (harga bensin sekitar 25 ribu rupiah per liter) menjadi penyebab orang-orang memilih menggunakan transportasi publik di Ankara. 

Satu lagi yang membedakan Jakarta dan Ankara. Di Ankara, hanya sedikit yang menggunakan sepeda motor. Bahkan nyaris tidak ada motor ketika musim dingin. Sepeda motor banyak digunakan oleh restoran atau warung makan yang menyediakan jasa antar makanan. Sedikitnya warga Ankara yang menggunakan sepeda motor dan lebih banyak orang yang memilih untuk menggunakan transportasi publik menjadikan Ankara tidak macet. 

Meskipun misalnya terjadi kemacetan di beberapa titik, maka kemacetan itu tidak begitu panjang dan tidak memakan waktu yang lama. Ditunjang lagi dengan adanya kereta bawah tanah. Hingga saat ini pemerintah kota Ankara masih membuat jalur baru untuk transportasi kereta bawah tanah untuk beberapa tujuan, salah satunya adalah akses menuju bandara Esenboga yang terletak di ujung Ankara. 

Dari waktu ke waktu Ankara juga berubah. Orang-orang dari berbagai daerah mulai banyak yang datang ke Ankara untuk bekerja atau mengadu nasib. Saya pernah berbincang dengan seorang pedagang di pasar Cebeci di Ankara. Ia berasal dari Samsun, kota bagian utara Turki. Ditanya mengapa datang ke Ankara, ia menjawab bahwa Ankara adalah ibukota dan dapat menjadi tumpuan hidup dalam mencari rezeki yang halal. 

Meski demikian ada hal menarik yang membedakan antara Jakarta dan Ankara bagi Said Inan (32 tahun), warga Turki yang berkunjung ke Jakarta. Pertama, Jakarta hanya memeiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim tidak hujan, sementara di Ankara ada empat musim, musim dingin, semi, panas dan gugur. 

Kedua, menurut Said, Jakarta adalah surga bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa. “Ada diskon,” kata Said pada saya beberapa waktu lalu. Sebab, puasa di Turki pada musim panas dimulai dengan imsak sekitar pukul tiga. Sementara buka puasa bisa mencapai pukul 20 hingga pukul 21. Artinya puasa di musim panas bisa mencapai 17 jam. Sementara di Jakarta hanya sekitar 13 jam saja.

Telah dimuat di Republika Online pada Jumat, 02 Mei 2014, 06:32 WIB klik disini

Membaca Kemenangan AKP di Turki



Oleh Deden Mauli Darajat 
(Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, -- Partai Keadilan dan Pembangunan atau Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP) memenangkan pemilihan umum kepala daerah se-Turki pada 30 Maret 2014 lalu dengan perolehan suara sebesar 45,5 persen. Hasil pemilu lokal ini cukup mengejutkan karena dalam setahun terakhir Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan dan partainya AKP diserang berbagai kelompok dan partai oposisi terkait berbagai kebijakan.

Sebelum pemilu lokal berlangsung, terdapat beberapa isu yang ingin melemahkan petahana pada tahun politik di Turki ini. Pertama isu skandal korupsi yang melibatkan anak-anak dari tiga menteri dalam pemerintahan Erdogan, yang mengakibatkan ketiga menteri itu mundur dari jabatannya. Selain itu tersebar juga rekaman suara yang kontennya tentang pembicaraan Erdogan dan Hilal Erdogan yang membahas penyimpanan uang dengan jumlah besar.

Kedua, kebijakan penutupan lembaga bimbingan belajar. Lembaga bimbel ini ditutup, karena menurut Erdogan hanya sebagai kesiasiaan karena sudah ada sekolah negeri yang formal, sementara bimbel nonformal. Lembaga bimbel ini milik gerakan hizmet yang didirikan oleh ulama besar Fethullah Gulen. Kebijakan ini mendorong pihak Gulen dan gerakan hizmet berang dan melakukan kritik keras terhadap Erdogan dan AKP.

Perang kritik antara Erdogan dan Gulen terjadi di media massa. Gulen yang biasanya enggan diwawancara, khusus soal ini ‘turun gunung’ dan mau diwawancara oleh media untuk membela gerakan hizmet. Padahal pada pemilu sebelumnya gerakan hizmet adalah pendukung AKP.

Ketiga, protes Gezi Park sejak 28 Mei 2013. Kebijakan pemerintah Turki untuk menata kota Istanbul memunculkan protes keras dari berbagai kelompok yang memang tidak pernah setuju dengan kepemimpinan AKP. Protes dengan demonstrasi yang bersifat masif ini berlangsung di berbagai kota besar di Turki yang mengakibatkan jatuhnya korban baik dari demonstran maupun dari pihak kepolisian. Demonstrasi Gezi Park ini masih berlangsung beberapa pekan sebelum pemilu lokal.

Keempat, pemblokiran media sosial. Sepekan sebelum pemilu lokal serentak di Turki, pemerintah Turki memblokir dua media sosial yaitu Twitter dan Youtube. Penutupan ini terkait dengan tersiar dan tersebarnya rekaman suara skandal korupsi yang melibatkan Erdogan dan anaknya. Selain juga tersebarnya rekaman kebijakan luar negeri Turki terhadap Suriah. Pemblokiran ini berefek pada protes masyarakat Turki dan dunia yang menyebut pemerintahan Erdogan sebagai pemerintahan bercorak otoritarian.

Keempat isu ini tidak dapat menghentikan laju AKP yang memenangkan pemilu lokal serentak di Turki. Sebab keempat isu ini tidak berpengaruh terhadap pilihan warga Turki yang masih mempercayai Erdogan dan partainya. Isu-isu di atas itu faktanya hanya beredar pada kelas menengah dan bersifat elitis. Sementara pemilih tersebar di pelbagai daerah dari kelas bawah, menengah dan elite dan pemilih kelas bawah berjumlah lebih banyak ketimbang kelas menengah dan elite.

Kemenangan AKP ini disebabkan bebeberapa hal. Pertama adalah ketidakpercayaan masyarakat Turki terhadap partai oposisi baik Partai Rakyat Republik atau Cumhuriyet Halk Partisi (CHP) maupun Partai Gerakan Nasionalis atau Milliyet Hareket Partisi (MHP). Hasil pemilu lokal Turki 2014 menyebutkan CHP memperoleh suara sebanyak 27,8 persen sementara MHP mendapat suara sebesar 15,2 persen. CHP adalah partai yang memerintah Turki sebelum AKP selama hampir 80 tahun. Selama CHP memimpin Turki tidak ada perubahan yang signifikan. 

Kedua, kebijakan AKP selama memimpin Turki berpihak kepada kesejahteraan masyarakat Turki. Selama lebih dari satu dekade memimpin Turki, perubahan dapat dirasakan. Ketika CHP memimpin Turki pendapatan perkapita hanya sebesar 3.000 dolar AS, sementara sejak AKP memimpin pada 2002 sampai saat ini meningkat pesat menjadi 11.000 dolar AS. 

Pertumbuhan ekonomi Turki rata-rata pertahun mencapai di atas 6 persen lebih. Dengan begitu peningkatan ekonomi ini berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat Turki. Beberapa pemilih mengungkapkan keinginannya agar adanya stabilitas ekonomi dan politik.

Ketiga, kultur Islam melekat pada AKP. Meskipun Turki negara yang menganut ideologi sekulerisme, namun mayoritas penduduknya adalah Muslim. Masyarakat Turki rindu akan kultur Islam yang memang sudah melekat sejak beberapa abad lalu ketika kerajaan Seljuk dan Kesultanan Turki Usmani menjadi penguasa di semenanjung Anatolia. 

Hal ini terlihat dari hasil referendum perubahan konstitusi pada 2010 lalu yang menghasilkan 58 persen rakyat Turki menginginkan perubahan. Dengan begitu, larangan penggunaan kerudung di tempat publik dicabut.

Kemenangan AKP pada pemilu lokal ini akan berdampak dan membuat Erdogan dan partainya lebih percaya diri dalam menghadapi pemilihan Presiden Republik Turki pada Agustus 2014 dan pemilu legislatif pada Juni 2015 mendatang.

Telah dimuat di Republika Online pada Senin, 07 April 2014, 12:37 WIB. klik disini

Panggilan Cinta dari Konya



Oleh Deden Mauli Darajat (Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, -- Suatu hari teman saya, Selahattin, mengundang ke rumahnya di Konya, Turki bagian tengah. Ia merupakan teman seasrama di Cebeci. Ia mempromosikan bahwa Konya adalah kota yang damai, berbeda dengan Ankara kota yang ramai. Saya pun menanggapi tawaran itu dengan menjadwalkan untuk berkunjung ke Konya ketika liburan tiba.

Setibanya di Konya, Selahattin mengajak keliling kota kerajaan Seljuk itu. Kami berkunjung ke beberapa museum dan sejumlah masjid kuno yang masih terawat dengan apik. Kami juga menengok makam ulama dan sufi besar asal Konya, Maulana Jalaluddin Rumi. Malamnya, Selahattin dan kakaknya mengajak untuk menonton tarian sufi bernama Sema. Tarian Sema ini adalah tarian yang diciptakan oleh pengikut ajaran Rumi.

Saat penari melakukan tarian Sema itu, tangan kanan direntangkan dan telapak tangan menadah ke atas. Sedangkan tangan kiri direntangkan dan telapak tangan menghadap bawah. Adapun badan penari berputar mengikuti irama yang didendangkan.
Makna tangan kanan menadah adalah menerima rezeki dari sang pencipta, Allah SWT. Sementara makna tangan kiri menghadap bawah adalah membagikan rezeki kepada sesama. Dengan kata lain, saat menerima kita harus juga sekaligus memberi. Inilah nilai cinta yang ditebar oleh Rumi kepada masyarakat luas.

Meski Republik Turki berdiri pada tahun 1923 dan menjadikan sekulerisme sebagai ideologi negara, dimana seluruh simbol yang berkonotasi agama dihapuskan, namun hingga saat ini tetap saja nilai-nilai luhur budaya Islam masih terjaga. Ini karena sejarah mencatat bahwa ada dua kerajaan besar Islam yang berdiri di semenanjung Anatolia ini, yaitu Kerajaan Seljuk dan Kesultanan Turki Usmani. Para raja dan sultan membudayakan budaya Islam pada masyarakat Turki saat itu.

Nilai budaya Islam yang masih melekat pada masyarakat Turki saat ini adalah penerapan sabda Nabi Muhammad yaitu bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya. Bermanfaat bagi yang lainnya adalah dasar dari sebuah cinta. Dengan cinta seseorang lebih mengedepankan memberi ketimbang meminta. Dengan cinta yang kuat dalam diri seseorang ia tidak mengharap pemberian orang lain tetapi ia berpikir bagaimana ia bisa memberi sebanyak mungkin kepada sesamanya.

Suatu hari sepulang dari kampus menuju apartemen dengan menggunakan kereta bawah tanah 'Metro', saya melihat dua orang yang sedang berdebat. Yang satu pelajar sekolah dasar, yang satu mahasiswa. Dalam percakapan itu si mahasiswa ingin memberi uang kepada pelajar SD sebagai pengganti kartu 'Ego' (kartu yang digunakan untuk penggunaan transportasi publik). Namun, si pelajar SD menolak karena ia merasa tidak meminjamkan kartu Ego itu melainkan memberikannya. Meski si mahasiswa memaksa agar si pelajar SD menerima namun ia tetap menolaknya dengan keras. 

Saya terkejut dan melakukan perenungan selama perjalanan sore itu. Bagaimana bisa seorang anak kecil yang masih duduk di bangku SD dapat menolak pemberian uang. Bagaimana bisa dua orang pelajar dan mahasiswa berdebat dan berebut untuk berbuat kebaikan. Darimana anak-anak sekolah mendapatkan nilai-nilai keikhlasan dan nilai kemandirian itu.

Saya pun akhirnya mendapatkan jawabannya. Nilai-nilai luhur ini didapatkan dari kelompok sosial terkecil yaitu keluarga. Keluargalah yang mendidik anak-anaknya untuk tetap memegang teguh prinsip-prinsip budaya luhur yang dianut oleh kakek moyang mereka. Akar-akar budaya yang bercorak Islam ini tidak bisa diserabut oleh sistem sekulerisme yang dianut oleh negara Republik Turki. Sekulerisme memang mengubah wajah penampilan masyarakat Turki, tetapi tidak mengubah karakter budaya Islam yang damai dan menyejahterakan umat.

Yang paling dapat dilihat dan dirasakan saat ini adalah bagaimana Pemerintah Turki dan organisasi masyarakat (ormas) di Turki begitu gencar memberikan beasiswa untuk para pelajar di seluruh dunia. Bahkan, tidak sedikit perorangan baik yang berprofesi sebagai pengusaha ataupun pegawai negeri memberikan uang saku kepada para pelajar asing yang ditemui di masjid atau di pertemuan-pertemuan. Ini semua tidak akan hadir jika tidak ada cinta sudah yang melekat dan menjadi karakter bangsa Turki.

Telah dimuat di Republika Online pada Rabu, 02 April 2014, 13:02 WIB, klik disini

Pemblokiran Twitter dan Pemilu Turki 2014


Oleh Deden Mauli Darajat
(Alumnus Universitas Ankara Turki dan Dosen Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Media sosial saat ini memang menjadi sebuah alat untuk mengawasi proses politik di negara-negara demokrasi. Pemblokiran twitter yang dilakukan oleh Perdana Menteri Republik Turki, Recep Tayip Erdogan menjadikannya semacam memakan buah simalakama bagi dirinya dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpinnya menjelang pemilihan umum kepala daerah yang serentak dilakukan pada 30 Maret 2014 mendatang.

Skandal Korupsi

Pada 17 Desember 2013 lalu sebuah kabar mengejutkan tentang skandal korupsi yang melibatkan orang-orang di pemerintahan Turki yang dipimpin Erdogan. Terdapat tiga anak menteri yang tertangkap dalam operasi korupsi tersebut yaitu Menteri Ekonomi, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Lingkungan Hidup dan Perencanaan Kota, ketiga menteri itu akhirnya mundur dari jabatannya.

Yang lebih menghebohkan adalah adanya suara rekaman antara Erdogan dan anaknya, Bilal Erdogan, tentang penyimpanan sejumlah uang beberapa saat sebelum operasi korupsi. Rekaman tersebut disebar di media sosial, seperti twitter, facebook dan youtube. Erdogan terlihat marah besar dengan adanya rekaman suara dan penyebarannya dalam media sosial.

Kita belum bisa memastikan apakah Erdogan dan orang-orang di sekelilingnya itu terlibat dalam skandal korupsi, karena memang belum terbukti dalam pengadilan. Peribahasa Turki mengungkapkan ‘masa, kasa, nisa’ yang bermakna meja, kasir, wanita, atau dalam bahasa kita biasa disebut, tahta, harta , wanita. Erdogan sudah memimpin Turki dengan jabatannya sebagai Perdana Menteri sejak tahun 2003. Teman saya yang warga Turki, Selim, mengatakan, bisa saja Erdogan silau dengan kekuasaan yang akhirnya ia terjerembab dalam kubangan korupsi.

Bagai memakan buah simalakama, di satu sisi pemblokiran twitter dimaksudkan untuk dapat mengurangi atau menghentikan penyebaran rekaman suara Erdogan dan anaknya di media sosial. Ini merujuk kepada fenomena ‘Arab Spring,’ dimana informasi untuk melakukan aksi melalui media sosial terutama twitter dapat cepat menyebar. Erdogan enggan dirinya atau partainya kalah dalam pemilu 30 Maret 2014 mendatang disebabkan informasi negatif tentang dirinya dan partainya yang menyeruak dalam media sosial. Meski begitu informasi tentang korupsi ini tetap saja tidak bisa dibendung.

Di sisi lain, pemblokiran twitter memiliki efek yang cukup kuat yaitu protes yang dilakukan oleh warga Turki dan warga internasional. Media sosial merupakan media yang dapat dimanfaatkan oleh warga dunia untuk melakukan komunikasi yang dapat diakses tanpa hambatan geografis. Penggunaan media sosial di dalam sebuah negara tergantung dengan sistem pers di negara tersebut.

Republik Islam Iran, misalnya, sistem pers di negara tersebut adalah sistem pers otoritarian, dimana pers dan media diatur sedemikian rupa dan dikontrol oleh pemerintah.  Sistem ini menjadikan warga Iran tidak bebas dalam menyuarakan pendapatnya melalui media massa dan media sosial di negaranya. Dengan sistem pers otoritarian, pemerintah Iran menutup akses terhadap media sosial bagi warganya.

Dengan pemblokiran twitter ini, Turki mendapat kecaman dari dunia internasional. Dilihat dari empat sistem pers, yaitu sistem pers otoritarian, sistem pers komunis, sistem pers libertarian dan sistem pers tanggungjawab sosial, Turki sepertinya hendak menuju sistem pers otoritarian dimana pers dan media sosial dikontrol oleh pemerintah. Apapun alasan pemblokiran twitter sulit untuk diterima. Sebab, penggunaan media sosial adalah hak warga untuk menyuarakan pendapatnya.


Pemilu 81 kepala daerah di Turki yang akan berlangsung 30 Maret 2014 dan diikuti oleh 27 partai politik mendatang ini menjadi momentum kita untuk membaca peta politik Turki masa mendatang. Pertanyaannya adalah dengan adanya skandal korupsi dan pemblokiran twitter ini masih bisakah partai AKP memenangkan pemilu 2014 mendatang dengan melihat ke belakang bahwa pada 2011 AKP memenangkan pemilu legilatif dengan 49 persen suara, atau malah partai oposisi yang akan mengambil-alih kekuasaan? 

Senin, 24 Maret 2014

Jangan Pakai Peci di Turki


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Deden Mauli Darajat 
(Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

Hari pertama saya di Turki pada Oktober 2009 dibuka dengan shalat shubuh berjamaah di apartemen bersama warga asing lain dan warga Turki. Saya memakai peci haji saat shalat itu. 

Usai shalat kami sarapan bersama, dengan menu Turki yang sangat berbeda dengan menu masakan Indonesia. Usai sarapan yang asing itu, saya keluar menuju pelataran apartemen untuk melihat pemandangan sekitar.

Saya masih menggunakan peci saat duduk di pelataran apartemen. Tiba-tiba teman saya yang warga Turki itu mengatakan bahwa jangan menggunakan peci jika di luar apartemen. “Ini bisa bermasalah,” ungkap Cezmi pada saya. Saya pun kemudian melepas peci yang saya pakai. Sejumlah pertanyaan menyeruak dalam pikiran saya tentang peci ini.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa Cezmi sampai melarang penggunaan peci di Turki sementara negaranya berpenduduk mayoritas muslim. Cezmi saat ditanya itu hanya menjawab bahwa ada pengawasan dari pihak berwenang akan penggunaan peci dan hal-hal yang berkaitan dengan simbol agama.

Seperti yang penah saya tulis pada catatan sebelumnya bahwa Turki berubah pandangan ideologi sejak tahun 1923 dari Islam menjadi sekuler, bahkan Andi Mallarangeng menyebutnya dengan extreme secularism. Perubahan ideologi ini mengubah budaya kehidupan masyarakat Turki, misalnya pemakaian jubah menjadi jas berdasi, peci berubah menjadi topi.

Ketakutan Cezmi ini beralasan. Pasalnya jilbab saja saat itu dilarang masuk kampus. Itu berarti peci juga dilarang digunakan di ruang publik. 

Tapi mengapa di sekitaran rumah ia juga seakan takut menggunakan peci, dimana saya yang menggunakan peci itu juga bukan warga Turki. Saya mencoba menjawab bahwa, apartemen yang saya tumpangi saat itu khawatir dicurigai sebagai apartemen milik orang yang berideologi Islam.

Meski demikian, orang-orang yang menggunakan peci di Turki bisa ditemui di jalan-jalan. Namun yang menggunakan peci itu adalah orang-orang tua yang lanjut usia dan orang yang pernah melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Makkah.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di Turki banyak apartemen yang disewa oleh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam. Apartemen itu diisi oleh kader-kader ormas Islam yang setiap harinya mengaji dan mengkaji buku Islam, terkhusus karangan ulama besar Turki, Badiuzzaman Said Nursi, dengan buku yang terkenalnya Risalah Nur. Apartemen-apartemen ini menjadi semacam gerakan bawah tanah penyebar ideologi Islam di Turki.

Said Nursi lahir pada  tahun 1878 dan meninggal pada tahun 1960. Ia menjadi saksi sejarah bagaimana Kesultanan Turki Usmani berubah menjadi Republik Turki. Ia diasingkan oleh penguasa Turki saat itu, Mustafa Kemal Ataturk. Namun Said Nursi tetap berakwah menyebarkan nilai-nilai keislaman yang sudah mulai dilunturkan oleh penguasa di negeri semenanjung Anatolia itu.

Paradoks

Ada hal yang menarik dalam melihat Turki saat ini. Turki seperti terbagi dalam dua hal yang berseberangan. Meski menganut ideologi sekuler yang memisahkan negara dan agama, pemerintah Turki saat ini memiliki Kementerian Agama yang mengurus tentang haji dan imam khatib di masjid-masjid seluruh Turki.

Kementerian Agama Turki juga mengatur tentang khutbah-khutbah di masjid-masjid seluruh Turki. ada semacam penyeragaman dalam konten khutbah. Imam dan khatib di Turki adalah pegawai negeri sipil yang diseleksi oleh kementerian Agama. Di setiap masjid selalu ada imam dan khatib minimal satu orang. Jika masjid besar, semisal di Masjid Kocatepe Ankara, imam masjid mencapai tujuh orang.

Di lain sisi, pemerintah Turki juga memiliki departemen khusus bernama Milli Piyango, departemen yang mengurus tentang lotere nasional. Hampir di setiap keramaian kota, stand-stand kecil pemutar lotere dapat ditemui, baik di kota besar maupun kecil. Depertemen lotere ini menyumbang besar pada liga sepak bola Turki.

Jika hari besar, Milli Piyango ini menyediakan hadiah besar hingga ratusan juta rupiah. Selain lotere, Milli Piyango juga menyediakan tebak skor pertandingan bola dengan hadiah dari yang paling kecil 10 Turkish Lira atau senilai 10 ribu rupiah.

Di satu sisi, masjid-masjid dipenuhi para jemaah di bulan Ramadhan. Atau orang-orang berduyun-duyun datang ke masjid dalam acara peringatan hari besar Islam. Di sisi lain, kafe-kafe yang menyediakan minuman keras beralkohol juga dipenuhi oleh orang-orang. Bahkan ini terjadi di bulan Ramadhan. Yang lebih parahnya adalah ketika bulan Ramadhan kafe-kafe masih buka di siang hari dan ada saja orang yang makan dengan bebas di sana.

Redaktur : Fernan Rahadi
Sumber berita: klik

Kader Komunis Turki Belajar Bahasa Spanyol



REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Deden Mauli Darajat (Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

Peralihan dari Kesultanan Turki Usmani menjadi Republik Turki pada 1923 mengubah paham ideologi di semenanjung Anatolia. Turki pasca Perang Dunia I menjadi negara sekuler yang memisahkan antara negara dan agama, yang sebelumnya hampir lima abad berideologi Islam.

Adalah Safak, teman sekamar saya di asrama Cebeci di Ankara yang menempuh program studi (prodi) bahasa dan sastra Spanyol di Universitas Ankara. Saya bertanya kepada Safak, mengapa dirinya memilih jurusan bahasa Spanyol. Dalam bayangan saya, orang yang belajar bahasa Spanyol bertujuan ingin berkunjung ke Spanyol, bekerja di Spanyol, atau bekerja pada hal-hal yang ada kaitannya dengan Spanyol.

Di luar dugaan saya, Safak menjawab bahwa dia memilih prodi bahasa dan sastra Spanyol karena ingin berkunjung ke Kuba, bukan untuk bisa pergi ke Spanyol. Menurut Safak, Kuba adalah negara yang berideologi komunis. Dia bermimpi suatu ketika bisa belajar tentang komunis selama minimal setahun di Kuba. Karena mimpi itulah ia berusaha keras untuk dapat bisa berbahasa Spanyol, yang merupakan bahasa yang banyak digunakan di Kuba.

Safak mengaku sebagai kader Partai Komunis Turki (TKP). Suatu ketika saya diajak ke kantor TKP di Kizilay, pusat kota Ankara. Karena keingintahuan yang kuat, satu waktu saya menerima ajakannya untuk berkunjung ke kantor TKP. 

Setiap akhir pekan, papar Safak, di kantor TKP di Ankara selalu diadakan diskusi tentang komunis. Pembibitan kader partai di Turki, kata dia, memang dijaring sejak bangku SMA. Ada juga yang melakukan pengkaderan partai di Turki dimulai saat seseorang menjadi mahasiswa di Universitas. Para kader setingkat mahasiswa menjadi mentor bagi kader di tingkat siswa SMA.

Safak merupakan salah satu contoh bagaimana sistem pengkaderan partai di Turki dijalankan. Bagi para mahasiswa Turki yang tertarik dengan partai politik, mereka dapat langsung bergabung dengan partai itu. Bahkan di kamar saya di asrama, selain Safak ada juga ketua mahasiswa Partai Pergerakan Nasionalis (MHP), bernama Ibrahim, tapi teman-temannya memanggil dia dengan ‘Reis’ yang bermakna ketua atau pemimpin.

Para mahasiswa di asrama cebeci ataupun luar asrama yang menyebut dirinya sebagai kader atau partisan partai MHP sangat menghormati Reis. Pernah suatu kali Reis mengajak saya untuk ikut dalam kegiatan partainya. 

Ketika kapal Mavi Marmara milik Turki diserang oleh Israel dan menyebabkan sembilan warga Turki meninggal dunia pada 22 Mei 2010 lalu, para mahasiswa kader MHP berkumpul di suatu tempat untuk melakukan aksi protes kepada Israel. Reis mengajak saya ikut dalam aksi itu. Saya tertarik juga untuk mengetahui bagaimana aksi para mahasiswa, apa saja persiapan aksi tersebut. 

Saya bersama Reis datang ke sebuah apartemen di bilangan Dikimevi. Salah satu apartemen itu adalah kantor cabang Partai MHP. Dalam rapat itu Reis memberikan arahan kepada rekan-rekannya tentang bagaimana aksi atau demonstrasi yang akan dilakukan. Wibawa Reis begitu tinggi. Hal ini terlihat ketika tidak ada seorang pun yang berbicara selain Reis. Semua orang mendengarkannya dengan khusyuk.

Partai MHP adalah partai gerakan nasionalis. Meski berideologi nasionalis partai MHP juga sedikit religius dalam kegiatan yang dilakukan oleh kader setingkat mahasiswa yang dipimpin Reis. Setiap malam Jumat para kader MHP di asrama berkumpul di mushalla asrama untuk mengaji surat Yasin, yang dilanjutkan kemudian dengan diskusi. Pihak asrama Cebeci waktu itu tidak melarang akan kegiatan ini. 

Berlakunya ideologi sekuler di Turki, yang disebut oleh Andi Mallarangeng sebagai negara extreme seculerism, membuka paham ideologi apapun boleh masuk ke dalam negara tersebut. Meski begitu, konstitusi Turki tetap melarang ideologi Islam sebagai asas sebuah partai politik. Hal ini disebabkan dalam pemahaman ideologi sekuler agama harus terpisah dari negara. 

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang merupakan pemenang Pemilu Turki tahun 2011 adalah partai yang didukung oleh masyarakat yang berideologi Islam. Namun demikian, petinggi Partai AKP mengaku bahwa partainya adalah partai nasionalis sekuleris bukan partai yang berideologi Islam. Hal ini menurut mereka sesuai dengan konstitusi Turki. Partai AKP pada pemilu 2011 mendapat suara terbanyak sebesar 49,95 persen suara. 

Sementara  itu Partai MHP pada pemilu 2011 mendapat suara terbanyak ketiga dengan perolehan suara sebanyak 12,98 persen. Sedangkan di urutan kedua ada Partai Rakyat Republik (CHP) yang mendapat suara sebesar 25,94 persen. Pemilu Turki pada 2011 itu diikuti oleh 24 partai politik dan menempatkan Partai Komunis Turki (TKP), yang Safak merupakan salah satu kadernya, mendapatkan peringkat ke-12 dengan perolehan suara sebesar 0,14 persen.

Redaktur : Fernan Rahadi
Sumber berita: klik

Jilbab Dilarang Masuk Kampus Turki



REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Deden Mauli Darajat (Alumnus Universitas Ankara Turki, Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

Setibanya saya di Turki pada akhir 2009 lalu, saya sangat ingin mengunjungi kampus Universitas Ankara, dimana saya akan belajar. Namun keinginan itu tidak langsung terwujud karena saya harus menyelesaikan masalah administrasi untuk tinggal di asrama mahasiswa di bilangan Cebeci. Setelah selesai masalah asrama, saya juga harus menyelesaikan administrasi untuk kursus bahasa Turki selama setahun.

Setelah semua urusan beres dengan bantuan teman saya, Furqan Aulia, yang sudah dua tahun tinggal di Ankara, akhirnya saya bisa berkunjung ke kampus Universitas Ankara. Karena mayoritas warga Turki di Ankara berbahasa Turki, saya pun mengajak Furqan, karena selain sudah fasih berbahasa Turki ia juga adalah mahasiswa S2 Fakultas Teknik Universitas Ankara.

Setibanya di depan kampus, saya tercengang ketika berada di depan pintu gerbang Universitas Ankara di Tandogan. Pasalnya, sekelompok mahasiswi berkerudung berkumpul di sebelah kanan pojok pintu gerbang kampus. 

Saya perhatikan mereka dan bertanya-tanya dalam hati mengapa mereka berkumpul di sana dan ada apa gerangan. Selidik punya selidik rupanya mereka sedang melepas jilbab mereka sebelum memasuki kampus Universitas Ankara. Sebagiannya lagi sedang menggunakan jilbab untuk keluar kampus. 

Sebenarnya larangan jilbab masuk kampus ini tidak berlaku bagi Fakultas Teologi Islam di seluruh universitas di Turki. Hanya di fakultas ini saja jilbab boleh masuk. Di fakultas lainnya tetap tidak boleh. 

Menurut pengamatan saya, ada beberapa tipikal orang ‘berjilbab’ masuk kampus. Pertama, mereka menggunakan wig atau rambut palsu yang dapat menutupi jilbabnya. Kedua menggunakan topi agar rambutnya bisa tertutup dan tidak terlihat. Ketiga, melepas jilbabnya secara utuh namun pakaian tetap tertutup rapat hingga ujung kaki.

Perubahan keadaan dari Kesultanan Turki Usmani menjadi Republik Turki sejak tahun 1923 memang begitu dahsyat. Presiden pertama Turki Mustafa Kemal Ataturk melarang semua yang bersangkutan dengan atribut keagaaman di ruang publik milik pemerintah seperti kampus, kantor pemerintahan dan parlemen. 

Ataturk juga mengubah bahasa Turki yang dahulu menggunakan abjad Arab kini menjadi abjad latin. Ia sendiri yang langsung mengajarkan bahasa Turki beserta gramatikalnya kepada sejumlah siswa di seantero Turki. Peci dan jubah ala Arab juga dihilangkan dan diganti menjadi topi dan jas berdasi. 

Perubahan ini tergambar dari film yang saya tonton di bioskop Turki berjudul Hur Adam. Dalam film tersebut juga digambarkan bagaimana ulama masyhur di zaman Ataturk, Said Nursi dilarang untuk berdakwah. 

Perubahan Konstitusi

Hampir setahun saya menetap di Turki, pada tanggal 12 September 2010, negara berpenduduk 70 juta itu mengadakan referendum. Dalam referendum itu warga Turki memilih untuk mencoblos ‘ya’ atau ‘tidak’ untuk perubahan Konstitusi Turki. Hasilnya, dimenangkan oleh ‘ya’ untuk perubahan konstitusi yang mendapatkan hasil 57,88 persen suara.

Tidak lama setelah referendum, di akhir tahun 2010, Dewan Pendidikan Tinggi (YOK) mengeluarkan surat edaran yang berisi pencabutan larangan jilbab masuk universitas. Sejak saat itu mahasiswi tidak lagi berkumpul di pojok pintu gerbang kampus untuk melepas atau mengenakan jilbabnya. Beberapa teman saya yang tadinya tidak berani berjilbab akhirnya mengenakan jilbab ke kampus.

Meski sudah diberlakukan jilbab boleh masuk kampus, beberapa mahasiswi Indonesia yang kuliah di Middle East Technical University (METU) yang mengenakan jilbab masih mengenakan wig untuk menutupi jilbabnya. Mereka beralasan, beberapa dosen mereka masih tidak menerima akan penghapusan larangan jilbab masuk kampus. “Daripada nanti bermasalah, mending pakai wig,” ujar Annisa Ike Rossmila asal Magelang.

Saya jadi teringat kata-kata yang diucapkan Andi Mallarangeng dalam sebuah diskusi ketika ia menjabat sebagai Menpora yang berkunjung ke Ankara Turki bersama rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Juni 2010. Andi Mallarangeng saat itu mengatakan bahwa Turki adalah negara extreme secularism.

Redaktur : Fernan Rahadi

Sumber:klik

Minggu, 16 Maret 2014

Selamat Jalan Sahabat

Dari kanan, saya, Wahab (mengangkat dua jari), Andi, Mumu dan Muin, pada saat syukuran sebuah acara BEM di tahun 2007, dan yang mengabil gambarnya adalah Moko.

Saya dikejutkan dengan BBM dan BC yang masuk bertubi-tubi kemarin pagi. Kebiasaan saya mematikan hape sebelum tidur dan menghidupkannya lagi setelah bangun tidur, membuat pagi itu hati dan pikiran terlibat syok dan seakan tidak percaya.

Penyebabnya adalah kabar tentang meninggalnya sahabat saya, Ahmad Fathul Wahab, Jumat malam 14 Maret 2014. Dan kabar kematiannya setelah ia mengalami kecelekaan lalu lintas di Pondok Ranji-Ciputat yang terjadi di malam itu.

Sejak saya kembali ke Indonesia akhir tahun 2013 lalu, saya belum berjumpa dengannya. Terakhir kali berkomunikasi dengannya adalah ketika 2012 di bulan April. Saat itu saya sedang melalukan riset untuk tesis saya

Kami mantan aktivis BEM Fidkom berkumpul di rumah Andi di daerah Pondok Gede, hanya Wahab yang tak hadir. Kami menelepon Wahab mengabarkan tentang pertemuan itu. Kami ingin berkumpul bersama waktu itu, sayang Wahab sibuk dengan pekerjaannya. Sementara waktu saya singkat di Jakarta karena harus kembali ke Ankara Turki.

Ia pada 2004 memperkenalkan dirinya kepada saya dengan panggilan Wahab. Wahab satu angkatan bersama saya di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta. Cuma kami berbeda jurusan, saya di Komunikasi Penyiaran Islam dan ia di konsentrasi Jurnalistik, angkatan pertama.

Kami aktif bersama di beberapa organisasi, terlebih di HMI Komfakda. Kami terlibat berdiskusi, berdebat, hingga tertawa bersama-sama. Puncak kedekatan kami adalah ketika saya menjadi Sekjen BEM Fidkom, ia berada di Divisi Komunikasi dan Informasi.

Hampir setiap kegiatan Wahab selalu aktif. Pernah kami mengadakan acara BEM Fidkom bekerja sama dengan Masjid Banten di Serang lama. Wahab, Andi, Muin, Moko  dan saya beberapa kali bulak-balik Ciputat-Serang untuk mempersiapakan acara itu. Saya sempat diajak mampir ke rumahnya di Serang yang berdekatan dengan Tangerang, usai kami mengadakan acara di Banten itu.

Entah berapa kali kita begadang bersama untuk diskusi dan mempersiapkan acara BEM. Ia yang mahir mendisain poster selalu bekerja dengan baik. Bahkan di kepengurusan kami BEM Fidkom membuat kalender khusus 2007 yang didisain oleh Wahab.

Yang paling berkesan adalah ketika kami berbincang di suatu sore di sekretariat BEM Fidkom. Saya sedang merebahkan badan di atas karpet dan ia datang ikut rebahan. Ia bertanya pada saya apakah saya tertarik untuk menjadi ketua umum (ketum) HMI Komfakda, saya bilang tidak. Saya hanya ingin menyelesaikan studi saya dengan cepat, dan tidak lagi tertarik dengan menjabat di organisasi intra maupun ekstra kampus.

Wahab menyatakan, jika saya maju untuk menjadi ketum HMI Komfakda, ia akan mendukung sepenuhnya dan semacam menjadi semacam ketua timses. Ia merasa cukup menjadi Sekum saja jika saya jadi Ketumnya. Tapi jika saya tidak maju ia akan maju sendirian dengan meminta dukungan saya. Saya dukung waktu itu. Namun ia gagal menjadi ketum HMI Komfakda.

Usai saya lulus dari UIN Jakarta pada Maret 2008, saya sudah jarang bertemu dengan teman-teman se-almamater. Apalagi sejak menjadi wartawan di Republika yang menyita waktu. Hanya sesekali saja menyambangi kampus dan tempat kumpul teman-teman di Ciputat. Terlebih ketika saya berangkat ke Turki, hanya melalui dunia maya kami bersapa.

Semasih saya belajar di Turki ia menikah dengan teman seangkatan kami di jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) bernama Dewi Novita Sari. Mereka dikarunia oleh Allah seorang putri yang baru lahir. Dewi harus kuat, insyaAllah Allah memberi kekuatan dan ketabahan untuk Dewi dan putrinya.

Dan ini doa saya untuk Wahab, Allahumma ighfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu. Ya Allah maafkanlah dosa-dosanya, terimalah semua amal baiknya, luaskanlah kuburnya, dan masukkanlah ia ke dalam surgaMu, serta semoga istri dan anaknya diberi ketabahan olehMu ya Allah. Amin ya Rabbaalamin.

Akhirnya adalah yang paling dekat memang kematian. Sesiapa pun dari kita akan menemukan itu kematian. Selamat jalan, sahabat. Semoga engkau tenang disana.

Rabu, 12 Februari 2014

Pulpen, Sikat Gigi dan Sandal



Tiga barang ini sangat berguna bagi para pelajar yang berasrama. Dulu ketika saya belajar di Gontor, saya punya banyak pulpen. Bahkan, saya membeli satu  lusin pulpen di Rangkasbitung sebelum berangkat ke Gontor. Satu lusin pulpen itu digunakan untuk satu semester.

Seharusnya selusin pulpen itu tidak habis digunakan untuk satu semester. Tetapi permasalahannya tidak sesimpel itu. Pulpen habis bukan hanya digunakan untuk menulis. Yang paling tragis adalah pulpen itu ketinggalan atau hilang atau dijadikan pengaduk minuman.

Menurut survey kecil-kecilan yang saya lakukan ketika menjadi ketua koperasi pelajar di Gontor, saya melihat ada beberapa hal yang paling dicari para santri. Yang pertama adalah pulpen, kedua sikat gigi dan ketiga sandal. Bahkan di koperasi satu pekan saja biasanya terjual hingga tiga karung sandal jepit.

Entah berapa sikat gigi yang saya punya ketika menjadi pelajar di Gontor. Apalagi ketika menjadi santri lama. Kebutuhan pokok untuk mandi adalah sikat gigi, odol dan sabun, sesekali sampo. Ada fungsi yang lebih dari sikat gigi yaitu berfungsi sebagai alat antre santri untuk mandi. Jadi cukup menyimpan sikat gigi yang dikaitkan ke pintu kamar mandi itu menjadi alat untuk mengantre.

Ini tidak begitu berlaku bagi santri baru. Biasanya santri baru menggunakan alat untuk mengantre dengan menyimpan gayung di depan pintu kamar mandi yang berjejeran. Menjadi santri lama adalah menjadi santri yang simpel. Jika tidak punya pasta gigi cukup membawa sikat gigi dan meminta odol ke santri lain di sekitaran kamar mandi.

Fungsi lain dari sikat gigi di pesantren adalah sebagai alat untuk menabuh gendang ketika perlombaan folksong antar asrama. Bisa juga itu sikat gigi digunakan untuk mengaduk kopi atau mie instan disebabkan ketidakadaan atau kelangkaan sendok. Penggunaan sikat gigi sebagai alat pengaduk minuman dan makanan itu tetap saja tidak berpengaruh pada kesehatan kami para santri. Bahkan semuanya terasa nikmat.

Lain lagi dengan sandal. Sandal adalah barang yang sangat berharga bagi para santri. Entah berapa banyak saya membeli sandal ketika menjadi santri di Gontor. Sebab sandal ini mudah hilang atau terpakai orang. Untuk menyiasati untuk tidak kehilangan sandal ketika kami beribadah di masjid adalah dengan menggembok sandal kami. Ajaibnya terkadang harga gembok lebih mahal dari harga sandal sendiri.

Ini sangat berbeda ketika saya menjadi pelajar pascasarjana di Ankara Turki. Selama saya kuliah di Turki saya hanya punya satu sandal. Dan sandal itu hanya digunakan selama di dalam asrama atau di apartemen. Selebihnya saya menggunakan sepatu. Pergi kemana saja menggunakan sepatu.

Karena di Turki cuacanya lebih banyak dinginnya tinimbang panas, hanya tiga bulan saya musim panas. Musim semi dan musim gugur bagi saya masih terasa dingin. Menurut teman saya orang Turki, penyakit datang dari bawah kaki yang tidak tertutup. Makanya banyak orang Turki pakai sepatu walau di musim panas.

Di atas semua itu, pulpen, sikat gigi dan sandal adalah salah satu syarat, menurut Imam Syafii, yang harus dipenuhi oleh pelajar. Syarat mendapatkan ilmu itu ada enam, kata Imam Syafii, pertama, dzaka’ (kecerdasan), hirs (kemauan keras), ijtihad (sungguh-sungguh), dirham (harta), suhbah asatid (bimbingan guru) dan tul alzaman (masa yang panjang). Ketiga barang yang disebut di atas itu termasuk dalam harta atau dirham.

sumber photo: abrussiana.wordpress.com

Senin, 20 Januari 2014

Hujan Tak Pernah Meminta Ijin



Hujan tak pernah meminta ijin
Untuk membasahi bumi
Bahkan hingga daratan dipenuhi air

Hujan pun tak pernah pamit
Saat dirinya ingin menyudahi
Kegiatan menebar air pada bumi

Rangkasbitung, 20 Januari 2014

Senin, 06 Januari 2014

Senyum Penumpang Kereta



Di hari terakhir 2013 saya harus berjuang dengan penumpang lain agar bisa masuk ke dalam kereta api dari Jakarta menuju Rangkasbitung. Sore itu stasiun Kebayoran Lama sudah penuh oleh para penumpang. Sebab awal tahun 2014 adalah hari libur, jadi banyak orang yang ingin berlibur di kampungnya.

Seorang perempuan, yang mungkin mahasiswi, dengan gesit masuk pintu gerbong kereta mendahului saya. Ia tak lagi canggung berdempetan dan memaksa orang untuk maju agar para penumpang lain di belakangnya bisa masuk juga. Setelah tidak bisa lagi bergerak, si perempuan itu memanggil temannya. “Ayo masuk lagi, jangan deket pintu,” teriaknya pada dua temannya yang berdiri di mulut pintu.

Dua temannya menjawab, bahwa mereka sudah berusaha dan tidak lagi bisa bergerak lebih ke dalam. Kereta api kemudian bergerak lambat lalu berlari meninggalkan Jakarta. Saya berdiri dikelilingi oleh para penumpang lain. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, mahasiswa, dan anak kecil di sekeliling saya. Tak ada dialog dalam kereta itu. Hanya suara mesin kereta dan gesekan roda dengan rel kereta api yang berirama di telinga.

Kereta yang kami tumpangi ini adalah kereta ekonomi langsam, tujuan Jakarta Rangkasbitung. Kereta ini berhenti di setiap stasiun pemberhentian. Ketika sampai di stasiun Pondok Ranji, ada sedikit penumpang yang turun, tapi yang masuk lebih banyak. Dan terjadilah dialog antar penumpang.

“Bapak masuk dong, saya jauh nih turunnya di Maja,” kata seorang wanita di mulut pintu karena tak kunjung bisa masuk lebih ke dalam. Si bapak yang ditanya itu, dengan senyum, “Saya mah deket, Bu, turunnya cuma di Rangkasbitung,” ujar si bapak.

Saya tersenyum dengan jawaban si bapak, sebab Rangkasbitung adalah stasiun pemberhentian terakhir sementara Maja dua stasiun sebelum Rangkasbitung. Saya melihat sekitar dan penumpang lain pun tersenyum karena ulah percakapan itu.

Ada saja memang ulah di dalam kereta. Para penumpang sadar, mereka semua sama. Sama-sama merasakan susah. Sama-sama mudah emosi. Sama-sama gerah. Tetapi dalam budaya kita, lebih baik menertawakan kesusahan, agar ia tidak lagi terlihat susah. Agar kita dapat menertawakan kesusahan. Ketimbang sudah susah bertambah susah.

Ini berbeda dengan budaya di Turki. Suatu ketika saya naik bus di Ankara yang lumayan padat. Seorang lelaki berusia di atas 60- an, dipersilahkan untuk duduk oleh seorang pemuda. “Wahai kakek duduklah di tempat ini,” pinta pemuda. Bukannya senang, si kakek malah marah dan berkata. “Wahai anak muda, saya ini bukan kakek-kakek, saya ini masih bapak-bapak dan kuat,” ujarnya mendumel.

Tidak hanya sekali saya melihat orang Turki yang mudah tersulut emosi. Pernah juga, usai pulang dari kampus, ada ibu-ibu sedang memarahi penumpang lain. Bahkan sampai saya turun dari bus itu, ia masih juga marah dan berkata-kata kasar. Padahal saat itu saya masih pening dengan ujian di kelas. Entahlah, mengapa mereka seperti itu.

Inilah perbedaan orang Indonesia dan orang luar Indonesia. Jadi ada benarnya, tingkat kebahagiaan orang Indonesia, menurut sebuah riset, termasuk dalam warga yang paling bahagia di dunia. Kita sedih saja dibuat senang, apalagi kalau senang.

Kembali ke soal kereta. Di setiap stasiun pemberhentian para penumpang selalu ramai yang ingin naik keretas. Sementara yang turun dari kereta hanya sedikit. Bahkan hingga stasiun terakhir kereta api ini tetap penuh oleh penumpang. Ini mungkin disebabkan banyaknya penumpang tidak sebanding dengan banyaknya armada kereta yang mengangkut para penumpang.

Sebenarnya gampang saja untuk mengatasi ini. Pemerintah seharusnya menambah armada kereta api dan menambah jadwal kereta api tujuan Jakarta Rangkasbitung dan sebaliknya. Soal dana pemerintah lebih tahu. Tentang budaya penumpang, semisal menjaga kebersihan dan yang lainnya, masyarakat kita sebenarnya mau saja diarahkan jika untuk kebaikan bersama.

Memang dalam beberapa tahun terakhir ini sudah banyak perubahan mengenai perkeretaapian Indonesia. Kereta dua lajur dari Jakarta menuju Maja sudah terlaksana, tinggal dua stasiun lagi hingga Rangkasbitung. Namun, perubahan ini belum begitu terasa oleh kita yang sering menggunakan kereta dalam perjalanan.

Langit sudah gelap ketika kereta akan tiba di stasiun Rangkasbitung. Dan saya masih berdiri di dalam kereta dari Jakarta dua jam lebih. Penumpang kereta api masih banyak dan posisi saya tidak bergerak yaitu berdiri di sambungan dua gerbong dekat pintu kereta.

Seorang wanita di hadapan saya mengatakan, “Kalau setiap sore kereta api penuh kayak gini, gimana rasanya yah. Untung saya tidak pulang ke Rangkas setiap sore.” Saya mengomentarinya dengan becanda, “Kereta penuh ini karena ada mbak, coba kalau mbak gak naik kereta, pasti sepi, hehe.” Kemudian kami pun terseyum.

Jumat, 03 Januari 2014

Cerita dari Carita



Hari kedua di tahun 2014 ini saya bangun agak telat. Ini karena tidurnya pun sangat telat. Padahal hari sebelumnya sudah berjanji akan bersilaturahim ke rumah bibi alias uwa yang akan kedatangan anak-anak dan cucu-cucunya. Bangun pukul 10 saya ingatkan saudara kembar saya untuk menghubungi saudara sepupu kami. Rupanya mereka, sekeluarga besar, sudah jalan ke pantai Carita di Labuan, Banten.

Saya bergegas sarapan dan mandi. Begitupun Dadan, saudara kembar saya. Pukul 11.30 kami meluncur dengan sepeda motor menuju Pantai Carita. Kami mengecek di Google Maps jarak dan waktu tempuh antara rumah kami di Rangkasbitung dan Pantai Carita di Labuan, yang memakan waktu dua setengah jam sampai tiga jam.

Ternyata Google bisa salah juga. Kami tiba di Carita pukul 13.00. Satu setengah jam perjalanan dengan kecepatan tidak lebih dari 80 KM/jam. Aa Nana, saudara sepupu kami sudah menunggu di gerbang Pantai Carita Pasir Putih. Setelah memarkirkan motor, kami langsung ke pantai. Semua sudah berkumpul di sana.

Keponakan saya sudah banyak rupanya. Hahaha. Dan yang saya sadari bahwa, mereka, keponakan saya itu, cepat sekali pertumbuhannya. Dulu selulus dari Gontor tahun 2002 saya berkunjung ke Malang, kediaman kakak sepupu kami, Teh Lilis. Saat itu Igo, anak pertama Teh Lilis, masih kecil. Saat ini ia sudah kelas 3 SMK di Malang. Dan terlihat sangat dewasa dan sayang kepada kedua adiknya.

Kunjungan Teh Lilis ke Banten adalah untuk bersilaturahim, berkumpul bersama ibu, kakak, adik dan keponakan-keponakannya. Tentu juga untuk menghibur keponakannya setelah ayah mereka meninggal dunia pada lebaran lalu. Saat kabar duka cita itu saya masih berada di Ankara. Ikut sedih, kakak sepupu kami meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri, tiga orang putra putrid an dua cucu.

Tapi saya tidak melihat kesedihan mereka saat di Carita. Teh Neneng, kakak sepupu kami, yang ditinggalkan suami yang meninggal beberapa bulan lalu begitu tegar dan tabah. Mungkin ia belajar dari ibunya yang juga penyabar dan penyayang anak-anak dan keponakan-keponakannya, termasuk saya. Ibunya Teh Neneng juga ditinggalkan suaminya ketika anak ketiganya lahir di dunia di tahun 70-an awal.

Cerita dari Carita ini membuat saya sangat sadar bahwa keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah sumber kebahagiaan. Keluarga adalah penghangat hati di saat kelu. Keluarga semacam obat bagi penyakit apapun. Keluarga adalah kunci kesuksesan. Keluarga adalah ribuan tangan yang menarik untuk tetap berdiri di saat kaki dan nasib sedang tidak bersahabat.

Teh Lilis datang dari Malang bersama ketiga anaknya, sementara suaminya tidak ikut. Ia datang hanya beberapa hari saja. Sampai liburan sekolah usai. Esok minggu ia akan kembali ke Malang, padahal Rabu kemarin baru saja tiba di Tangerang lalu ke Rangkasbitung dan jalan-jalan ke Carita. Waktu yang singkat itu digunakan untuk pelipur lara dan penguat hati. Sebab, terkadang, bukan berapa lama kita berkumpul, tapi sedekat apa perkumpulan itu walau dalam waktu yang singkat.