Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Senin, 14 November 2011

Menikmati Lontong di Bin Dawood Mekkah



(Catatan Perjalanan Haji Bagian-2)


Oleh Deden Mauli Darajat




Ini bukan di Indonesia. Ini di Arab Saudi. Tapi suasana pagi di sini serasa di Jakarta atau di kota lainnya di nusantara. Para pedagang di sekitar perempatan Mall Bin Dawood ini menyediakan makanan khas Indonesia, antara lain, lontong gado-gado, bakso, dan yang lainnya.


Sewaktu kembali dari mabit di mina untuk jumrah, saya berjalan menuju hotel plaza dimana saya tinggal bersama rombongan haji Turki, saya melintasi Mall Bin Dawood. Saat itu saya mampir dan memesan satu porsi  gado-gado lontong untuk sarapan pagi, meski sebenarnya di hotel sudah disediakan sarapan, tapi sarapan khas Turki.


Bukannya tidak bisa makan makanan Turki, tapi kalau ada masakan Indonesia saya gak bisa nolak, hehe.  Alasan aja sih. Yang pasti pagi itu saya kaget sekaligus senang. Kaget karena di Ankara, Turki, tempat saya bersekolah tak ada pasar semacam ini. Senang karena masih bisa mencicipi gado-gado lontong di pagi yang sejuk itu.


Rupanya tidak cuma satu warung emperan saja yang menjual masakan Indonesia ini. Tapi masih ada sejumlah warung yang sama. Ada yang hanya menjual bakso dengan pop mie, atau bakso saja. Laiknya pasar kaget, di pasar Bin Dawood ini juga dijual berbagai barang, mulai dari tasbih, baju gamis, buah-buahan dan lain sebagainya.


Mekkah di musim haji memang padat. Kota suci ini didatangi para jemaah haji dari penjuru mata angin. Dengan satu tujuan, melaksanakan rukun Islam yang kelima, yaitu haji. Namun, masyarakat Indonesia pada musim haji bukan hanya berasal dari para jemaah haji, namun juga para mukimin atau yang menetap di Mekkah dan kota lainnya di Arab Saudi sebagai tenaga pekerja atau TKI.


Para tenaga kerja Indonesia (TKI) inilah yang menjual berbagai makanan Indonesia di Arab Saudi. Mereka mengadu nasib di negeri para nabi ini. Diantara yang saya temui ada yang mengaku baru 3 bulan, ada yg sudah 3 tahun, hingga 6 tahun. Kebanyakan yang saya temui mereka belum pernah pulang kampus selama bekerja di Jazirah Arab ini.


Saipuddin, misalnya, yang sudah 2 tahun di Mekkah, tidak ingin pulang kampung sebelum 'menghasilkan' tabungan yang memadai. "Minimal pulkam bisa beli mobil. Malu nanti, jauh-jauh ke sini gak ada hasil," ungkapnya. Saepuddin yang asal sunda itu tidak sendiri, ia bersama istrinya ke arab saudi dengan tujuan yang sama, mencari rejeki di negeri orang.


Selain dagangan masakan Indonesia yang dijual di pasar pagi, sebenarnya masih terdapat restoran atau rumah makan yang menjual masakan Indonesia. Pangsa pasarnya jelas, orang Indonesia, Malaysia dan negara-negara asia lainnya.


Jadi, bagi anda yang ingin ke Mekkah atau Madinah dan hanya bisa makan masakan Indonesia tak perlu khawatir karena hampir di tiap kota di Arab Saudi terdapat penjual masakan Indonesia yang memang tidak ada di Turki. hehe.


(bersambung)

Minggu, 13 November 2011

Titik Cinta dan Rindu

*Catatan Perjalanan Haji Bagian-1

Oleh Deden Mauli Darajat


(Sebelumnya ijinkan saya menuliskan sebuah catatan perjalanan haji, yang dimulai dengan catatan singkat, entah apa namanya, puisi atau bukan. Selamat menikmati pembaca yang budiman)


Pencarian cinta tak usah dipaksa
Saat rindu tak bertemu
Sinar mentari di bayang-bayang menara
Masjid yang diharamkan
Untuk kita berbuat segala maksiat

Aku duduk termenung
Melihat berbagai pigmen
Yang melekat pada jasad manusia
Tak ada kesamaan dalam luar
Tapi kuyakin semua sama dalam hati
Menuju ridha Ilahi

Sebab, di titik ini tak ada cinta 
Melebihi cinta-Nya
Tak juga menemukan rindu
Karena disinilah rindu ini tercipta
Saat cinta dan rindu menyatu di titik ini
Tak ada lagi cinta dan rindu yang dicari

Titik dimana semua nyata
Titik dimana berputarnya waktu
Titik di tengah-tengah titik
Titik dimana semua Muslim merindukan 
Untuk memalingkan wajah kepadanya
Titik dimana semua utusan Tuhan diturunkan
Dan semua kebaikan bersatu di titik ini

Aku terpana dan tak terasa
Mata mengalirkan airnya
Air mata cinta dan rindu ini
Pecah saat melihat titik
Titik dimana kepala lebih rendah
Daripada bujur manusia

Titik dimana Ia menciptakan
Langit dan bumi karena cintaNya
Titik dimana dienyahkannya sesembahan
Yang bukan ditujukan kepadaNya

Titik dimana Ibrahim mengikhlaskan
Ismail menjadi kurban untuk disembelih
Titik dimana semua keikhlasan kehambaan 
Ditujukan hanya kepadaNya
Titik cinta dan rindu

(Ditulis pada sebuah sore di hamparan Masjidilharam, Ahad, 10 Oktober 2011) 

Kamis, 06 Oktober 2011

Idul Adha Sarana Mendekatkan Diri pada Allah SWT dan Sesama Manusia



(Disampaikan pada Kajian Ibu-ibu Darma Wanita Persatuan KBRI Ankara, Turki, Rabu, 5 Oktober 2011)

Oleh Deden Mauli Darajat


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan berbagai nikmatNya kepada kita yang tak pernah dapat kita hitung. Shalawat serta salam kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mencerahkan manusia dari berbagai macam kejahiliyahan.

Beberapa waktu lalu saya dapat sms dari Mbak Bintari untuk mengisi pengajian atau lebih suka saya sebut kajian, karena kita sama-sama mengkaji tentang keislaman bersama ibu-ibu DWP KBRI Ankara. Dalam pesan itu pula saya diharapkan dapat menyampaikan tentang Idul Adha. Baiklah.

Suatu hari di sebuah kota di Turki diadakan sebuah pesta besar dan sang tuan rumah mengundang Nasruddin Hoja. Hoja datang dengan pakaian seadanya. Kedatangannya tidak begitu ditanggapi oleh tuan rumah dan para tamu undangan lainnya, sebab ia menggunakan pakaian a la kadarnya.

Ia pun kemudian kembali ke rumahnya dan mengganti pakaiannya dengan yang mewah. Kedatangannya kembali ke pesta itu disambut hangat dan disajikan untuknya makanan yang lezat nan nikmat. Dengan halus Hoja itu mengatakan sembari menyindir yang hadir di sana, “Wahai baju yang mewah, makanlah makanan yang lezat ini,” ujarnya.

Dalam kisah ini Nasruddin ingin mengatakan pada kita bahwa, manusia pada hakikatnya hanya melihat dari apa yang dikenakan. Tapi tidak melihat siapa sesungguhnya orang itu. Hal ini senada dengan Hadits Nabi Muhammad SAW yang bersabda, Sesunguhnya Allah tidak melihat dari bentuk kalian, dari kepemilikan kalian, tetapi Allah hanya melihat kepada hati kalian.
photo: nkfu.com

Baiklah mari kita bahas tentang Idul Adha. Idul secara bahasa artinya kembali, sementara Adha adalah binatang yang dikurbankan. Atau sering juga kita menyebutnya sebagai Idul Kurban. Kurban sendiri artinya secara bahasa adalah dekat. Dengan kata lain idul Adha maupun idul kurban adalah sarana untuk manusia agar dapat mendekatkan kembali kepada Sang Khaliq.

Sejarah Idul Adha adalah sejarah yang berkaitan dengan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kisah tentang pengorbanan orang tua (Nabi Ibrahim) yang berani menyembelih anaknya (Nabi Ismail) dapat kita baca dalam surat Ash-Shaffat [37] ayat 100-111.

Singkat kisah dalam ayat-ayat di atas adalah, suatu ketika Nabi Ibrahim bermimpi bahwa ia menyembelih anaknya. Awalnya Ibrahim ragu akan mimpi itu, namun setelah beberapa kemudian ia mimpi hal yang sama, maka ia yakin bahwa mimpi itu adalah perintah langsung dari Allah SWT.

Ibrahim pun kemudian mengisahkan mimpinya kepada istrinya dan anaknya Ismail. Ismail pun menjawab dengan penuh keyakinan, “Jika itu perintah Allah maka mari kita lakukan, Ayah,” ujarnya. Keesokan harinya Ismail berangkat ke tempat yang sudah ditentukan.

Saat penyembelihan akan dilakukan dengan sangat cepat Ismail digantikan dengan binatang kurban yang bagus, sehat, putih dan bersih. Dan selamatlah Ismail dari penyembelihan. Maka pada saat itu para malaikat bertakbir kemudian Ibrahim pun meneruskannya dengan tahlil dan tahmid. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Lailahaillalah, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilhamdu.

Konon kabar binatang kurban yang menggantikan Nabi Ismail adalah binatang kurban yang digunakan oleh Habil puteranya Nabi Adam AS. Pada saat itu Nabi Adam meminta kedua anaknya untuk berkurban. Habil berkurban dengan hewan yang terbaik sementara Qabil dengan hewan yang seadanya. Selain itu Habil berkurban karena Allah semata sementara Qabil karena ingin mengalahkan saudaranya. Maka Allah menerima kurban yang diberikan oleh Habil.

Sejak zaman baheula sejarah berkurban sudah banyak diperaktekkan. Di Mesir kuno, misalnya, setiap tahun diadakan kontes kecantikan dan yang menjadi juaranya ditenggelamkan ke dalam sungai Nil sebagai sesaji untuk para dewa.

Di Mesotopamia (Irak) yang dijadikan sesaji adalah bayi. Di Aztek, pemuka agama yang dijadikan sesaji untuk para dewa. Jadi, digantikannya Nabi Ismail dengan hewan kurban adalah revolusi peradaban manusia pada saat itu.

Yang menarik dari kisah Nabi Ibrahim adalah ia tidak memiliki putera hingga usia 99 tahun. Suatu ketika sebelum memiliki anak, Ibrahim pernah berkurban karena Allah SWT dengan menyembelih 1000 domba, 300 sapi dan 100 ekor unta. Semua orang kaget termasuk para malaikat.

Ibrahim menjawab keheranan orang-orang itu, bahwa yang ia kurbankan dengan ribuan hewan itu tidaklah seberapa, bahkan jika memiliki anak lelaki maka ia juga akan mengurbankannya. Maka setelah 99 tahun ia tidak memiliki anak, lahirlah puteranya dan diberikan nama Ismail yang artinya, Allah telah Mendengar doa nabi Ibrahim. Maka ketika mimpi menyembelih anaknya, Ibrahim tanpa ragu melakukannya tentu dengan seizin Ismail.

Ayat yang mengisahkan tentang Ibrahim dan anaknya Ismail menggambarkan kejujuran kedua Nabi itu dalam melaksanakan ibadah kurban, indikatornya adalah: 

Pertama, Al-Istijabah alfauriyah yaitu kesigapan dalam melaksanakan perintah Allah SWT, meski ia harus menyembelih anak tercintanya. Ini juga terlihat dari perintah memalui mimpi yang langsung ia laksanakan.

Kedua, Shidqu al-Istislam, yakni kejujuran dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Dalam hal ini Ibrahim tak ragu untuk menyembelih anaknya Ismail. Inilah hakikat kehambaan yang dipancarkan oleh Ibrahim dan Ismail.

Ayat lainnya yang memerintahkan untuk berkurban adalah surat Al-Kautsar [108] ayat 1-3. Yang artinya, sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Dari ayat ini kita dapat memahami bahwa Allah sudah memberikan begitu banyak nikmat. Maka dengan banyak nikmat yang kita rasakan itu, tidak ada alasan lagi untuk kita untuk tidak beribadah sholat dan berkurban. Bahkan, jika pohon dijadikan sebagai pena dan lautan sebagai tintanya maka tidak akan cukup kita menuliskan akan nikmat Allah di dunia ini.

Secara khusus Allah berfirman dalam surat Ar-Rahman [55], yakni Allah mengingatkan hamba-Nya, dengan ayat “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan.” Dalam surat Ar-Rahman ini Allah mengulangi ayat ini sebanyak 31 kali dari 78 ayat yang ada. Pertanyaannya adalah masihkah kita mengkufuri nikmat Allah yang tak terhingga ini? Semoga tidak.

Idul Adha memiliki tiga makna, yaitu: 

1. Ketakwaan manusia atas perintah Allah SWT. Kurban merupakan simbol penyerahan diri manusia secara utuh. Sekalipun dalam bentuk pengurbanan seorang anak yang dicintai ayahnya. 
2. Makna sosial. Artinya bahwa sebagai manusia yang diberikan banyak kenikmatan maka kita harus berbagi terhadap sesama manusia. 
3. Makna ketiga adalah apa yang dikurbankan adalah symbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, menikam sesama rekan, dll dll.

Selain mendekatkan diri pada Allah SWT, berkurban juga adalah sarana kita untuk mendekatkan diri pada manusia. Hablumminallah wa hablumminannas. Dalam berkurban setidaknya orang yang tidak mampu untuk makan daging dapat memakannya di hari raya Idul Kurban.

Begitupun dengan hewan yang disembelih. Hewan memiliki nafsu tetapi tak memiliki akal. Maka yang dilakukan hewan adalah menghancurkan hewan lainnya yang lebih lemah darinya. Saling menikam. Sifat-sifat hewani inilah yang sebenarnya kita sembelih saat kita berkurban.

Mengapa berkurban harus kita lakukan setiap tahun. Karena Allah Maha Mengetahui bahwa manusia adalah tempatnya lupa dan khilaf. Untuk itu Idul Fitri dengan puasa Ramadhannya juga Idul Kurban dengan semangat berkurbannya sangat penting sebagai sarana kita mendekatkan diri pada Allah SWT sekaligus mendekatkan diri pada sesama manusia.

Hikmah dari Idul Adha adalah, Allah SWT menjadi muara awal dan akhir kehidupan. Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah di dunia ini dan akan kembali kepadaNya. Maka berkurban adalah penyerahan diri manusia sebagai hamba yang bergantung pada Tuhannya.

Ibadah kurban juga dilakukan oleh Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW setiap Idul Adha membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk dan berbulu putih bersih. Setelah mengimami dan berkhutbah Nabi melasanakan sendiri prosesi penyembelihan kurban itu.

Saat hewan kurban pertama disembelih Nabi berdoa, Ya Allah terimalah ini dari Muhammad dan ummat Muhammad. Ketika hewan kurban kedua disembelih maka Nabi berdoa, Ya Allah terimalah ini dari umaku yang tidak mampu berkurban. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, At Turmudzi)

Pada hakikatnya dalam ibadah kurban ini Allah tidak menerima darah dan daging kurban melainkan ketakwaan dan kerikhlasannya dalam beribadah kepada Allah. Hal ini dapat kita baca dalam surat Al-Hajj [22] ayat 37. Jadi, yang diterima dari beribadah kurban adalah keikhlasannya.

Sebuah hadits sebagai penutup dari kajian ini adalah, Nabi SAW bersabda, segala perbuatan tergantung pada niatnya, dan manusia akan dinilai dari apa yang ia niatkan. Artinya bahwa semua ibadah yang kita lakukan harus dilandasi dengan niat yang baik dan karena Allah SWT semata. Karena Allah tidak melihat dari apa yang kita kenakan atau dari apa yang kita miliki tetapi Allah melihat dari hati kita. Wallahu ‘alam bish-shawab.

Bila ada kesahalan kata atau tulisan ini mohon dimaafkan, karena kekurangan itu datang dari diri saya pribadi, namun kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT.

Billahittaufik wal hidayah
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sabtu, 17 September 2011

“Siapa tahu ketularan.”


Ah, kali ini mau cerita aja. Gak lebih.  Siapa sih yang gak kenal sama eyang yang sangat fenomenal ini. Lahir di Pare-pare , Sulawesi Selatan, 75 tahun lalu ini masih semangat berdiskusi meski waktu menunukan 23.50 malam waktu Ankara. 

Tak lama beberapa waktu lalu ia juga berpidato di depan ratusan mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir dan di Aachen, Jerman. Meski di dua tempat itu saya tidak bisa menghadirinya. Biasa terkendala doku. Dan saya masih berharap bisa bertemu beliau kapan dan dimana saja. Siapa sih beliau ini?

Ya, betul, beliau adalah Prof. Dr-Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden Republik Indonesia yang ke-3. Saya termasuk orang yang kebetulan dan bisa dibilang beruntung bisa bertemu eyang Habibie di wisma KBRI Ankara, kemarin malam (15/9/2011).

Saat bulan puasa lalu saya sempat menghabiskan buku yang berjudul Ainun dan Habibie dalam waktu tidak lebih dari dua hari. Bagus ceritanya. Dan beliau pun bercerita tentang Ainun, istrinya, pada ramah tamah malam itu. Cintanya tak pernah habis. Ia mengungkapkan sebelum tidur ia bertahlil untuk istrinya agar bisa bertemu di alam mimpi.

12 tahun yang lalu, saat saya menempuh studi di Pondok Modern Darussalam Gontor, Eyang Habibie yang waktu itu menjabat Presiden datang dan berpidato di hadapan ribuan santri. Saya bercerita tentang itu kepadanya. Saya juga bilang kalau kami hanya bisa melihat dan mendengar saja. “Dunia ini memang sempit,” ungkapnya kepada kami. 

Karena sesi waktu itu sesi luang maka saya meminta untuk berpoto dengannya. Sebelum berpoto saya mengatakan, “Siapa tahu..” tiba-tiba saya kehabisan kata-kata dan Eyang Habibie meneruskannya, “Siapa tahu ketularan. Kalau Tuhan sudah menuliskan apapun akan terjadi,” ungkapnya yang membuatku kaget, tersipu dan bangga.

Saya bertambah kaget saat kami akan berpisah, kami bersalaman dan bercipika-cipiki. 

Ankara, Jumat, 16 September 2011.

Sabtu, 10 September 2011

Surat dari Ankara

(Dimuat/dibaca di Radio PPI Dunia pada acara Bahasa Jiwa, Sabtu 10 September 2011)


Oleh: Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki/Dewan Penasehat, Perhimpunan Pelajar Indonesia [PPI] Turki )


Tiba-tiba penyiar Radio PPI Dunia, Mas Susanto yang murah senyum itu mengirim pesan di Facebook agar saya menulis satu artikel yang akan dibaca di acara “Bahasa Jiwa” di radio online milik mahasiswa Indonesia di luar negeri ini. Tentu saja saya tidak bisa menolaknya meski tak tahu apa yang harus saya sampaikan dalam tulisan ini, karena saya juga bukanlah siapa-siapa.


Alkisah, seorang pengemis datang ke rumah Nasruddin Hoja untuk meminta sumbangan. Si pengemis mengetuk pintu rumah dan keluarlah Nasruddin lalu lama terdiam. Melihat aksi Nasruddin yang terdiam si pengemis itu lalu memperjelas kedatangannya bahwa ia meminta sumbangan untuk dirinya agar dapat bertahan hidup.


Bukannya memberikan sumbangan, malahan Nasruddin Hoja mengajak si pengemis untuk naik atap rumahnya. Setelah keduanya naik atap rumah itu, Nasruddin meminta si pengemis untuk menengadahkan tangannya laiknya orang meminta atau berdoa. Lalu Nasruddin berujar kepada si pengemis, “Kalau anda meminta sesuatu mintalah kepada Tuhan Sang Maha Pemberi,” ujarnya singkat dan kemudian turun meninggalkan si pengemis yang terheren-heran.


Nasruddin bukanlah pelit dalam memberi, meski ia pun tak kaya. Nasruddin yang dimakamkan di kota Aksehir, Konya, Turki itu mengajarkan kita agar dalam hidup dan menjalani kehidupan janganlah kita meminta-minta kepada sesama manusia yang juga banyak kekurangan. Tapi, mintalah sesuatu kepada Tuhan yang Maha Pengasih.


Ulama sufi yang kondang dengan leluconnya ini juga mengajak kita agar hidup ini tidak hanya meminta-minta tapi juga berusaha sekuat tenaga tanpa lelah. Usaha merupakan modal utama dalam meraih sesuatu yang kita impikan dan angan-angankan.


Seperti halnya anak kecil yang sedang belajar berjalan. Ia tak pernah patah semangat walaupun ia merasakan bagaimana sakitnya jatuh. Dan bukan hanya sekali jatuh namun berkali-kali jatuh hingga tak terhitung berapa kali ia jatuh. Namun, setelah berkali-kali jatuh itu ia pun tak lelah untuk bangkit dan belajar berjalan lagi hingga ia bisa berjalan dengan lancar.


Atau seperti halnya ulat bulu yang berubah menjadi kepompong yang sangat menjijikan dan kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah dipandang mata. Perubahan dari ulat menjadi kepompong lalu kupu-kupu tidak terjadi secara instant tapi ada usaha yang kuat di dalamnya. Sang kepompong harus kuat berpuasa secara konsisten agar dapat meraih impiannya menjadi kupu-kupu.


Hidup kita pun begitu, tak ada impian atau harapan kita yang dapat kita raih tanpa usaha yang maksimal. Tak ada juga impian yang diraih hanya dengan berpangku tangan atau bermalas-malasan. Selalu ada harga yang mesti kita bayar untuk meraih impian dan harapan kita.


Artinya bahwa, sebuah kesuksesan akan dapat diraih dengan usaha yang kuat. Dan akhirnya selalu ada jawaban dari apa yang kita usahakan. Ada kata mutiara mengatakan bahwa, dimana ada keinginan di sana ada jalan, bisa saya tambahkan, dimana ada keinginan dan usaha yang kuat di sana ada jalan yang lebih besar.


Kyai saya di Ponorogo, Jawa Timur, pernah mengatakan, kesuksesan itu milik orang yang berpikir keras, berusaha keras dan berdoa keras. Bisa dipahami bahwa dalam meraih impian dan tujuan hidup yang mulia kita harus berpikir bagaimana cara yang terbaik dan cerdas untuk melangkah dan meraih impian itu. Jadi, tidak hanya asal-asalan saja kita dalam melangkah untuk meraih impian.


Kedua, seperti yang diulas di atas, kita juga mesti bekerja keras tanpa lelah dan tanpa menyerah. Karena kegagalan itu adalah ketika kita berhenti dalam sebuah perjuangan meraih impian. Setelah berpikir keras dan berusaha keras, kita pun jangan lupa menyertakan Tuhan dalam usaha kita agar kita tidak sombong.


Maka berdoa keras adalah usaha terakhir yang mesti juga kita lakukan dengan konsisten, tidak hanya sekali dua kali saja kita berdoa. Namun, kita mesti berdoa setiap hari setiap waktu. Karena terkadang Tuhan menguji terhadap doa kita, apakah serius atau main main. Berdoa keras juga agar kita bisa bersyukur dengan apa yang kita dapatkan dan agar kita bersabar dengan apa yang luput dari kita. *wallahu ‘alam bishshawab*


Salam hangat, Ankara, 4 September 2011
Deden Mauli Darajat

Sabtu, 30 Juli 2011

Masjid Haji Bayram Pusat Ramadhan di Turki

(Dimuat di Republika, 30 Juli 2011)


Oleh Deden Mauli Darajat
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Di sekitar masjid digelar panggung musik yang bernapaskan Islami


Turki merupakan negara dengan mayoritas penduduknya Muslim. Meski demikian, tidak ada yang spesial dalam menyambut Ramadhan di Turki, seperti layaknya di Indonesia. Poster-poster di jalanan atau iklan-iklan untuk menyambut Ramadhan di televisi Turki jarang kami temui. Walaupun begitu, sebagian masyarakat Turki telah mempersiapkan diri untuk menyambut bulan yang mulia ini.


Seperti yang diungkapkan Ali Perdahci (22), mahasiswa Universitas Erciyes, Kayseri, Turki, bahwa ia mempersiapkan bulan Ramadhan dengan kesungguhan. Beberapa pekan sebelum Ramadhan, Ali menambah porsi membaca Alquran dan kitab-kitab Islam. Selain itu, ia juga mengurangi waktu tidur pada malam hari untuk beribadah mendekatkan diri pada Allah SWT. “Saya dan kawan-kawan berdiskusi tentang keislaman pada malam hari,” ungkap Ali.


Mahasiswa jurusan ekonomi ini menyatakan, sebelum Ramadhan tiba, banyak pengusaha atau dermawan yang menyiapkan paket sembako untuk orang-orang yang tidak mampu. Paket sembako Ramadhan itu dibagikan di supermarket. Caranya, warga yang kurang mampu dapat memperlihatkan kartu tanda penduduk kepada petugas di supermarket. “Paket itu juga diberikan kepada para mahasiswa,” ujarnya.


Hal senada juga disampaikan Mufid (46), seorang pengemudi taksi di Ankara. Mufid menyambut gembira datangnya bulan suci ini. Meski puasa bulan Ramadhan bertepatan dengan musim panas, ia tetap akan berpuasa. Ramadhan pada musim panas itu lebih panjang waktunya dibandingkan dengan musim dingin. Azan Subuh berkumandang pukul 04.00, sementara azan Maghrib berkumandang pada pukul 20.20 waktu setempat.


Bahkan, musim panas di Turki dapat mencapai mak si mal 45 derajat Celsius. Saat ditanya, bagaimana dengan panas yang menyengat dan waktu yang panjang, Mufid menyatakan, ia tetap kukuh akan berpuasa. “Puasa Ramadhan merupakan perintah agama yang sudah mutlak,” ungkapnya.


Pengalaman saya tahun lalu, meski mayoritas warga Turki adalah Muslim, saat Ramadhan lalu, rumah makan masih banyak yang menyediakan makanan pada siang hari. Pasalnya, tidak ada larangan secara resmi untuk menutup rumah makan selama Ramadhan di Turki. Di jalan-jalan di Ankara masih bisa ditemukan orang yang makan pada bulan Ramadhan.


Meski begitu, Wali Kota Ankara Melih Gokcek sudah menyiapkan 26 titik tenda buka puasa gratis di kota ini yang diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa. Ke-26 titik ini tersebar di penjuru Ankara, seperti Terminal Asti, Stasiun Metro, dan Genclik Park atau Taman Pemuda. Paket buka puasa itu terdiri atas empat macam makan malam. Tenda-tenda itu kini sudah mulai didirikan.


Terpusat di masjid
Tahun ini, Pemerintah Ibu Kota Ankara memusatkan kegiatan Ramadhan di Masjid Haji Bayram. Tahun lalu, Taman Pemuda atau Genclik Park dijadikan pusat kegiatan Ramadhan. Masjid Haji Bayram maupun Taman Genclik Park masih dalam satu wilayah, yaitu Ulus. Jarak antara keduanya hanya sekitar satu kilometer.


Masjid Haji Bayram yang didirikan pada 1427 M/831H diresmikan pembaruannya oleh Perdana Menteri Turki Recep Tayip Erdogan pada 14 Februari 2011, bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Halaman masjid yang luas itu sudah dibangun stan-stan yang akan menjual buku-buku dan barang lainnya.


Selain itu, di sekitar masjid juga ada didirikan panggung yang akan diisi oleh para musisi, seperti Sami Yusuf, Ahmet Ozan, serta pelantun musikmusik sufi selama 25 hari di bulan Ramadhan. Bukan hanya itu, di area pusat Ramadhan itu juga dilengkapi dengan berbagai hiburan untuk anak-anak. Sementara itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ankara juga telah menyiapkan beragam acara memeriahkan Ramadhan tahun ini untuk masyarakat Indonesia yang akan dilaksanakan di wisma KBRI. Acara seperti ini merupakan program baru di KBRI Ankara.


Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki Nahari Agustini mengatakan, setiap Sabtu, selama Ramadhan, KBRI akan mengadakan buka bersama, pengajian, dan Tarawih di wisma KBRI.
ed: khoirul azwar


Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/99/140084/Masjid_Haji_Bayram_Pusat_Ramadhan_di_Turki

Jumat, 03 Juni 2011

Geliat Masyarakat Ekonomi Syariah di Inggris

(Dimuat di Republika, Ahad, 29 Mei 2011)

Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

MES INGGRIS RAYA MERUPAKAN CABANG DARI MASYARAKAT EKONOMI SYARIAH YANG BERBASIS DI JAKARTA.

Inggris bukanlah negara Muslim. Namun, negeri Ratu Elizabeth itu tercatat sebagai negara yang paling maju dalam hal ekonomi syariah. Terdapat beberapa kampus yang membuka bidang khusus ekonomi syariah, salah satunya Universitas Durham.

Tak heran jika mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di negeri itu terus berupaya mengkaji dan mempelajari ekonomi syariah. Sejumlah kegiatan ilmiah terkait keilmuan ekonomi syariah terus digalakkan di bebrapa wilayah, seperti London dan Durham. Para ahli ekonomi syariah dari beberapa universitas di Inggris pun didatangkan untuk menjadi pembicara dalam seminar maupun pelatihan.

Saat berkunjung ke Inggris beberapa waktu lalu, saya bertemu dan berbincang bersama pendiri Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) cabang Inggris, Rifki Ismal. Menurut dia, awal berdirinya MES Inggris atau MES UK berawal dari ide Direktur PT Bank Muamalat Indonesia, Farouk Abdullah Alwyni, yang menghubungi Hylmun Izhar, mahasiswa pascasarjana Universitas Durham.

“Kemudian, Mas Hylmun menghubungi saya untuk sama-sama merancang kelahiran MES UK,” ujar Rifki yang juga ketua MES UK periode awal hingga 2010. Setelah rancangan MES UK dibuat, papar Rifki, pihaknya kemudian mencari mahasiswa yang bersedia untuk menjadi pengurus harian.

Sejak terpenuhi semua unsur keorganisasian, MES UK yang merupakan cabang internasional dari MES di Indonesia melakukan perkenalan organisasi baru di dataran Britania Raya kepada masyarakat Indonesia di Inggris dengan menyelenggarakan seminar ekonomi syariah. “Kami hadirkan profesor dari universitas sebagai pembicara,” ujar Rifki yang juga bekerja di Bank Indonesia.

Sebagai negara yang paling maju dalam bidang ekonomi syariah di dataran Eropa, perguruan tinggi di Inggris pun berlomba membuka studi ekonomi syariah, seperti Universitas Durham. Pada 2010, mahasiswa Indonesia yang belajar ekonomi syariah di Universitas Durham tercatat sebanyak delapan orang, enam di antaranya mahasiswa doktoral dan dua lainnya mahasiswa master.

“Bahkan, Inggris memiliki undangundang khusus tentang ekonomi syariah,” papar Rifki. Pada awal 2011, MES UK melakukan pergantian pengurus karena Rifki Ismal telah menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Durham. Tampuk kepengurusan MES UK periode 2011-2013 pun diemban oleh Rahmatina Awaliah Kasri.

“Saya akan meneruskan kegiatan yang sudah dilakukan pengurus sebelumnya,” ujar Rahmatina. Selain melanjutkan program yang ditetapkan pengurus sebelumnya, papar Rahma, pihaknya juga akan melakukan kerja sama dengan organisasi lainnya, seperti Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya atau Kibar.

Menurut dia, MES UK juga akan terus menyosialisasikan ekonomi syariah kepada warga Indonesia di Inggris dan mengupdate informasi tentang perkembangan dan pendidikan ekonomi syariah. Beberapa waktu lalu, MES UK mengadakan pelatihan ekonomi syariah dengan mendatangkan dosen dari Universitas di Inggris. Mereka adalah Dr Ugi Suharto dan Prof Habib Ahmed.

Dr Ugi merupakan dosen Markliefd Institute of Higher Education, dan Prof Habib adalah guru besar ekonomi syariah di Universitas Durham. Rifki menambahkan, MES UK didirikan untuk melakukan sharing informasi tentang bank syariah di UK, memberikan gambaran perkembangan ekonomi syariah di Inggris, serta memberi masukan positif untuk perkembangan ekonomi syariah di Indonesia, dan juga merupakan pintu kerja sama antara Indonesia dan Inggris di bidang ekonomi syariah.

Sejatinya, MES UK merupakan cabang dari Masyarakat Ekonomi Syariah yang berbasis di Jakarta. MES didirikan pada 1 Muharram 1422 Hijriah yang bertepatan pada 26 Maret 2011 M. Pada awalnya, MES didirikan hanya untuk Jakarta, tanpa mempunyai rencana untuk mengembangkan ke daerah-daerah.

Dalam perkembangannya, kehadiran MES mampu menarik berbagai kalangan lainnya di daerah untuk melaksanakan kegiatan serupa. Pada saat itu, disepakati untuk menggunakan nama MES dengan menambahkan nama daerah di belakangnya. Selain MES di berbagai daerah di Indonesia, MES juga memiliki cabang di beberapa negara lain, seperi Inggris (MES UK), MES Arab Saudi, dan MES Malaysia.

Sebagai organisasi kemasyarakatan, MES bertekad untuk menjadi wadah yang diakui sebagai acuan dan diikuti sebagai teladan bagi usaha percepatan pengembang an dan penerapan sistem ekonomi dan etika usaha yang sesuai dengan syariah Islam di Indonesia. Karenanya, MES bersifat independen dan tidak terafiliasi dengan salah satu partai politik. ed: heri ruslan.


Studi Ekonomi Islam di Universitas Durham

Durham telah menjadi pusat penelitian ekonomi Islam selama lebih dari 25 tahun. Pusat penelitian ini bernama Program Ekonomi Islam Durham atau DIFP yang berada di bawah naungan Institut Timur Tengah dan Studi Islam Universitas Durham.

Institut adalah bagian dari sekolah pemerintah dan urusan internasional. Dengan adanya program ini, akan memperkuat disiplin keilmuan tentang pemerintahan dan regulasi yang berhubungan dengan ekonomi syariah di Universitas Durham.

Program pascasarjana yang ditawarkan di Program Ekonomi Islam ini, antara lain, perbankan syariah, keuangan, manajemen, dan ekonomi. Universitas Durham telah menghasilkan sejumlah sarjana yang kini bekerja di perbankan syariah dan sektor keuangan, serta memberikan kontribusi dalam pengajaran ekonomi dan keuangan Islam di seluruh dunia.

Dengan didirikannya program DIFP, Universitas Durham terus berbenah dan memajukan untuk mencari posisi sebagai pusat terkemuka untuk penelitian pascasarjana di bidang ekonomi dan keuangan Islam, serta memperluas kegiatannya ke dalam dunia profesional. DIFP saat ini dipimpin oleh Profesor Rodney Wilson dan Dr Mehmet Asutay.

DIFP Universitas Durham memiliki ruangan audio visual yang bisa digunakan untuk seminar online jarak jauh secara langsung. Dalam sebuah seminar ekonomi syariah, papar Rifki, Universitas Durham bekerja sama dengan beberapa universitas di sejumlah negara, seperti Pakistan, Jepang, Malaysia, Libanon, Iran, Kuwait, dan Indonesia.

Karena seminar online, pembicaranya pun berasal dari Jeddah, Arab Saudi, yang membahas khusus soal syariah, sementara pembicara lainnya dari beberapa negara lainnya. Meski demikian, program seminar online ini memiliki kendala, di antaranya kendala perbedaan waktu, misalnya, Inggris dan Indonesia karena kedua negara itu memiliki selisih waktu sekitar enam jam.

Universitas Durham didirikan pada 1837 oleh Royal Charter dengan didasari oleh undang-undang parlemen Inggris pada 1832. Universitas ini juga merupakan salah satu perguruan tinggi pertama yang terbuka di Inggris selama lebih dari 600 tahun dan diklaim sebagai universitas tertua ketiga di Inggris setelah Universitas Oxford dan Universitas Cambridge.

Universitas Durham memiliki fakultas dan sekolah sebanyak 24 fakultas, di antaranya adalah Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Pendidikan dan sejumlah sekolah, seperti sekolah Budaya dan Bahasa Modern serta sekolah pemerintahan dan urusan internasional. Program Ekonomi Islam sendiri di bawah naungan sekolah pemerintah an dan urusan internasional.

Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/153/136038/Geliat_Masyarakat_Ekonomi_Syariah_di_Inggris

Selasa, 03 Mei 2011

Menengok Makam Imam Khomeini

(Dimuat di Republika, Ahad, 1 Mei 2011)

Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

Iran merupakan salah satu negara Republik Islam di Dunia. Penamaan negera Republik Islam Iran ini tidak bisa dipisahkan dari Revolusi Islam pada tahun 1979 M silam. Gerakan revolusi Islam di Iran dimotori oleh sang ulama bernama Imam Khomeini. Untuk mengenangnya, nama bandara internasional di Teheran, ibukota Iran juga dinamakan Bandara Internasional Imam Khomeini. Bahkan, juga terdapat Universitas Internasional Imam Khomeini.

Saat berkunjung ke Iran beberapa waktu lalu, saya menyempatkan untuk berziarah ke makam pendiri Republik Islam itu. Makam yang terletak di ibukota Iran itu ramai dipenuhi pengunjung. Maklum saat kami berkunjung ke sana, pengurus makam sedang mempersiapkan hari ulang tahun Revolusi Islam yang ke-32. Makam Imam Khomeini itu terletak di tengah masjid. Kami pum melaksakan shalat ashar di masjid yang masih dalam tahap penyelesaian pembangunannya.

Kami menggunakan kereta bawah tanah atau metro untuk sampai di makam Imam Khomeini. Dari stasiun Haram E-Motahar kami masih jalan kaki lagi, karena area pemakaman tersebut begitu luas. Di area makam itu terdapat toko-toko yang menjual berbagai macam barang-barang. Selain itu di sana juga terdapat taman yang luas, namun masih kurang dengan pepohonan.

Pemakaman Imam Khomeini yang juga biasa disebut E-Bahest Zahra atau Pemakaman Zahra terletak di selatan Teheran. Pembangunan komplek pemakaman dimulai pada tahun 1989 setelah kematian Khomeini pada tanggal 3 Juni pada tahun itu. Saat ini komplek pemakaman masih dalam pembangunan, namun jika selesai nanti akan menjadi pusat kompleks pemekaman terbesar di Iran yang luasnya lebih dari lima ribu hektar atau sekitar 20 kilometer persegi. Pemerintah Iran telah menghabiskan dana sebesar dua milyar dolar Amerika untuk pembangunan ini.

Pada komplek pemakaman juga terdapat perumahan, pusat wisata budaya, pusat studi Islam, pusat pembelanjaan dan tempat parkir untuk 20 ribuan mobil. Situs ini adalah tempat bagi pengikut Khomeini. Hal ini digunakan secara simbolis oleh tokoh-tokoh pemerintah dan juga pada saat kesempatan dikunjungi oleh pejabat asing. Cucu khomeini bertugas merawat makam ini. di pemakaman ini juga terdapat makam putra kedua Imam Khomeini yakni Ahmad Khomeini.

Makam Khomeini terletak dalam sebuah masjid yang memiliki kubah besar yang dilapisi emas. Di bawah kubah emas itulah tepatnya letak makam pendiri Republik itu. Masjid itu juga dilengkapi dengan empat menara. Di sekitar masjid terdapat empat gedung plaza persegi panjang yang mengelilingi makam Khomeini.

Kubah diatas makam itu didukung oleh delapan besar marmer kolom dengan lingkaran sarkofagus, yang bersama-sama dengan kolom kecil lainnya mendukung frame langit-langit ruang, langit-langit ini juga diselingi oleh clerestories. Permukaan lantai dan diinding terbuat dari marmer putih yang dipoles dan lantainya ditutupi dengan karpet halus.

Revolusi Islam

Imam Khomeini yang juga disebut Sayyid Ayatollah Ruhollah Khomeini lahir di Khomein, Provinsi Markazi, 24 September 1902 dan meninggal dunia di Tehran, Iran, pada tanggal 3 Juni 1989 pada umur 86 tahun. Dia adalah tokoh Revolusi Iran dan merupakan Pemimpin Agung Iran pertama. Khomeini belajar teologi di Arak dan kemudian dilanjutkannya di kota suci Qom, dimana akhirnya ia menetap di sana dan mulai membangun dasar politik untuk melawan keluarga kerajaan Iran, khususnya Shah Mohammed Reza Pahlavi.

Pertama kali Khomeini terjun ke politik ketika pada tahun 1962 saat pemerintahan Shah berhasil mendapatkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang mencurahkan beberapa kekuasaan pada dewan provinsi dan kota. Sejumlah pengikut Islam keberatan pada perwakilan yang baru dipilih dan tak diwajibkan bersumpah pada al-Qur'an namun pada tiap teks suci yang dipilihnya. Khomeini menggunakan kemarahan ini dan mengatur pemogokan di seluruh negara yang menimbulkan penolakan pada RUU itu.

Khomeini menggunakan posisi yang kuat ini untuk menyampaikan khotbah di Sekolah Faiziyveh dengan mendakwa negara berkolusi dengan Israel dan mencoba "mendiskreditkan al-Qur-an." Ia pun kemudian ditangkap polisi rahasia Iran. Penangkapannya yang tak terelakkan oleh polisi rahasia Iran memancing kerusuhan besar-besaran dan reaksi kekerasan yang biasa oleh pihak keamanan yang mengakibatkan kematian ribuan orang.

Khomeini terus susah selama tahun-tahun berikutnya. Pada peringatan pertama kerusuhan, pasukan Shah bergerak ke kota Qom, menahan Imam sebelum mengirimnya ke pembuangan di Turki. Ia tinggal untuk beberapa waktu sebelum pindah ke Irak di mana melanjutkan pergolakan untuk jatuhnya rezim Shah. Pada 1978 pemerintahan Shah meminta Irak untuk mengusirnya dari Najaf, lalu ia menuju Paris selama sementara profilnya berkembang sebagai refleksi langsung kejatuhan Shah.

Peringatan di Persepolis mulai mengundang banyak orang dan menyusul rangkaian kekacauan keluarga Shah meninggalkan negeri pada Februari 1979, memuluskan langkah untuk kembalinya Khomeini dan 'Permulaan Revolusi Islamnya'. Disambut ratusan ribu rakyatnya di bandara dan ribuan lebih lanjut yang berjajar sepanjang jalan kembali ke Teheran.

Revolusi Iran yang juga disebut Revolusi Islam merupakan revolusi yang mengubah Iran dari Monarki di bawah Shah menuju Republik Islam yang dipimpin Imam Khomeini. Pada 1978 telah berlangsung demonstari besar menentang kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlevi. Pada Januari 1979 setelah diasingkan, Khomeini kembali ke Teheran dan disambut oleh jutaan rakyat Iran yang menghendaki revolusi.

Di saat bersamaan angkatan bersenjata Iran menyatakan pihaknya netral setelah gerilyawan dan pemberontak mengalahkan pasukan militer itu. Angkaran bersenjata Iran sebelumnya sangat loyal terhadap Shah Reza Pahlevi. Revolusi pun tak terelakkan lagi pada Februari 1979 yang mengakibatkan diasingkannya Reza Pahlevi ke Mesir hingga ia meninggal dan dimakamkan di Kairo.

Tidak seperti Revolusi di beberapa negara, yang terjadi karena pemberontakan petani, krisis moneter, atau pun ketidakpuasan militer, revolusi di Iran disebabkan gerakan keislaman yang dibimbing oleh seorang ulama besar yang berumur 80 tahun yang telah diusir dari Qom (kota suci di Iran) oleh sang penguasa Shah pada saat itu.

Shah Reza Pahlevi yang saat itu memimpin Iran dikenal boros dan korupsi terhadap kekayaan negara. Kebijakan ekonominya yang tidak menentu mengakibatkan inflasi tinggi. Selain itu, Reza Pahlevi juga dikenal dekat Amerika Serikat. Kedekatannya dengan pihak barat itu terlihat dari kebijakannya dalam melakukan westernisasi dan sekulerisasi di negeri Persia itu. Bangsa Iran yang mayoritas muslim menganggap Reza Pahlevi sebagai boneka Amerika Serikat.

32 tahun setelah revolusi di Iran pemerintahannya menerapkan hukum sesuai syariah Islam. Sampai saat ini di Iran tidak terdapat Kedutaan Besar Amerika Serikat. Dalam perjalanan kami selama di Iran, di berbagai tempat di Iran kami selalu menjumpai para perempuan menggunakan kerudung. Kebijakan penggunaan kerudung ini tidak hanya berlaku untuk warga Iran yang beragama Islam, melainkan juga bagi warga Iran yang non muslim. Bahkan, para turis perempuan yang berkunjung dari belahan dunia lainnya juga diwajibkan mengenakan kerudung.

Selain mengenakan kerudung, para wanita di Iran juga kebanyakan mengenakan pakaian serba hitam. Hal ini guna mengurangi kejahatan terhadap perempuan. Yang paling menarik adalah, saat kami menggunakan alat transportasi di Iran, baik bus maupun kereta bawah tanah atau metro. Bus kota di Iran dibagi menjadi dua bagian, bagian depan untuk penumpang laki-laki sementara bagian belakang untuk perempuan.

Meski demikian, perempuan masih bisa menggunakan tempat di bagian depan yang digunakan laki-laki yang telah menikah atau beristri, sementara penumpang laki-laki hanya diperbolehkan di bagian depan saja. Begitu juga kereta bawah tanah, pihak pengelola metro memberikan gerbong khusus perempuan yang tidak boleh digunakan penumpang laki-laki. Sementara bagi perempuan yang memiliki suami diperbolehkan menggunakan gerbong untuk penumpang laki-laki.

Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/153/134213/MENENGOK_Makam_Imam_Khomeini

Jumat, 11 Februari 2011

CINTA SENJA

Oleh Deden Mauli Darajat
(Ditulis saat perjalanan kembali ke Ankara, Turki [Iran, Selasa, 8 Februari 2011])


Senja merah kekuningan
Di balik bukit itu manis sekali
Ia tersenyum pada kami
Yang sedang dalam perjalanan

Bukit-bikut yang separuhnya
Masih tertutup salju itu
Selalu mendampingi
Perjalanan kami

Ah, senja yang manis
Mengapa aku terpaut dengan mu
Dalam senja engkau hadirkan
Perpisahan dan pertemuan

Bahkan,
Tuhan pun menghargai masa itu
Dengan menentukan maghrib
Pada insan untuk bersujud kepada-Nya

Dalam senja kau ajari kami
Akan keihklasan meninggalkan matahari
Untuk digantikan bulan
Ajaran itu sering kami tak pahami

Karena sebenarnya engkau hadir tiap hari
Dan selalu tak dihiraukan
Padahal alam adalah
Petunjuk agar kami terus belajar

Senja, aku cinta padamu..

(Sesekali nulis catatan seperti puisi ini bolehkan..)

Minggu, 06 Februari 2011

Denyut Keislaman di Oxford

(Dimuat di Republika, Ahad, 6/2/2011)


Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Pusat Kajian Islam Oxford memberikan pembelajaran akan titik temu antara dunia Islam dan Barat.




Oxford, Inggris terkenal dengan universitasnya yang bergengsi. Mahasiswa dari berbagai negara di dunia menimba ilmu pada universitas tertua di negeri Ratu Elizabeth itu. Universitas terkemuka itu terletak di ujung Kota Oxford.


Tak susah mencari kampus yang memiliki banyak gedung tua itu karena dekat dengan Terminal Oxford. Yang menarik, di Oxford terdapat Pusat Kajian Islam Oxford atau Oxford Centre for Islamic Studies.


Saat berkunjung ke Inggris beberapa waktu lalu, saya bersama rekan-rekan sempat berkunjung ke Oxford. Dengan arahan mahasiswa Indonesia di Oxford, kami menggunakan bus dari London dan tiba di Oxford sore hari. Perjalanan yang memakan waktu dua jam itu kami gunakan untuk menikmati pemandangan di sepanjang jalan dengan hamparan rumput hijaunya.


Saat tiba di Oxford, kami langsung mencari penginapan untuk bermalam. Saat pencarian penginapan itu, kami melihat gedung Pusat Kajian Islam Oxford. Kami berpikir bahwa di pusat pengkajian Islam biasanya terdapat masjid atau paling tidak mushala.


Ternyata dugaan kami benar. Di lantai dua gedung Pusat Kajian Islam Oxford terdapat masjid, dan kami pun langsung melaksanakan shalat Ashar. Letak masjid itu di Pusat Studi Islam Oxford, dan Terminal Oxford tersebut sekitar 500 meter.


Usai shalat Ashar, kami berkenalan dengan warga Pakistan yang sedang melakukan riset selama tiga bulan di Oxford. Juga kami berkenalan dengan petugas dan staf administrasi Pusat Kajian Islam Oxford yang berasal dari Turki dan Inggris. Dari merekalah kami mengetahui tentang kegiatan di pusat pengkajian Islam, di antaranya pengajaran bahasa Arab dan pengkajian keislaman lainnya.


Tidak lama kemudian, kami bertemu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi S3 di Universitas Oxford, yaitu Rahmat Wibowo. Rahmat yang juga dosen di Universitas Indonesia itu memperkenalkan kami pada masyarakat dan mahasiswa Indonesia lainnya yang sedang belajar di Oxford. Juga kami diperkenalkan dengan Oman Fathurrahman yang sedang melakukan riset di Pusat Studi Islam Oxford.


Suasana hangat masyarakat dan mahasiwa Indonesia yang menerima kami di Kota Oxford membuat kami sangat senang. Wilayah Oxford terbilang wilayah ramah lingkungan, sebab para mahasiswa dan dosen, bahkan profesor di Universitas Oxford kebanyakan menggunakan sepeda menuju kampusnya.


Pusat Kajian Islam Oxford


Pusat Kajian Islam Oxford adalah pusat independen dari Universitas Oxford yang didirikan pada 1985. Tujuannya untuk mendorong studi ilmiah Islam dan dunia keislaman. The Prince of Wales merupakan pelindung pusat kajian tersebut. Hal ini diatur oleh dewan pembina yang terdiri dari para cendekiawan dan negarawan dari berbagai belahan dunia bersama wakil-wakil dari Universitas Oxford.


The Prince of Wales mengatakan, Pusat Kajian Islam Oxford telah melakukan banyak hal untuk mempromosikan dan meningkatkan pemahaman tentang dunia Islam. Misi itu telah sangat penting dalam dunia yang semakin saling bergantung. "Hubungan antara Islam dan Barat saat ini lebih penting daripada sebelumnya," ungkap Pangeran Charles.


Pusat kajian memberikan titik pertemuan bagi dunia Barat dan Islam. Di Oxford memberikan kontribusi untuk studi multidisiplin dan lintas disiplin dari dunia Islam. Selain itu, Pusat Kajian Islam Oxford perannya diperkuat oleh jaringan internasional yang mengembangkan kontak akademik.


Pusat Kajian Islam Oxford memberikan pembelajaran akan titik temu antara dunia Islam dan Barat. Pusat Kajian Islam Oxford berkomitmen untuk kemajuan keunggulan akademik dalam pengajaran, penelitian, dan publikasi. Kegiatan //outreach mempertahankan dialog dan mempromosikan saling pengertian di tingkat nasional dan internasional. Pusat kajian ini juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa asing.


Para pengajar di pusat kajian itu adalah dosen Universitas Oxford dari berbagai bidang studi. Selain mengajar, para dosen juga melakukan pengawasan dan pemeriksaan akademik bagi mahasiswa sarjana, master, dan program doktor di pusat kajian tersebut.


Pusat kajian juga melakukan dan mendukung penelitian lanjutan, baik secara langsung maupun yang bekerja sama dengan para ulama dan institusi akademik. Di antaranya adalah Proyek Atlas. Proyek ini merupakan proyek penelitian besar internasional yang peduli dengan akar intelektual peradaban Muslim dan gerakan sosial di dunia Islam.


Selain penelitian, pusat kajian juga menerbitkan jurnal-jurnal studi Islam. Jurnal Studi Islam diterbitkan tiga kali dalam setahun untuk pusat kajian oleh Oxford University Press. Ini adalah publikasi multidisiplin mencakup semua aspek Islam dan dunia Islam di bidang studi sejarah, geografi, ilmu politik, ekonomi, antropologi, sosiologi, hukum, sastra, agama, filsafat, hubungan internasional, isu lingkungan dan pembangunan, serta pertanyaan etika yang berhubungan dengan penelitian ilmiah.


Hal itu bertujuan untuk mendorong interaksi antara akademisi dari beragam tradisi pembelajaran dan untuk mengaktifkan difusi-pertukaran dan diskusi tentang penelitian dan refleksi.


Kajian Islam Masyarakat Indonesia


Masyarakat dan mahasiswa Indonesia setiap bulannya melakukan silaturahim. Acara silaturahim bulanan ini diisi dengan pengkajian keislaman oleh para mahasiswa. Koordinator pengkajian bulanan, Rahmat Wibowo, mengatakan, acara pengkajian itu dilakukan agar tali silaturahim antara masyarakat dan mahasiswa Indonesia tidak terputus, khususnya di Kota Oxford.


Menurut Rahmat, pengisi atau pengkaji kajian keislaman bulanan itu adalah mahasiswa sendiri. Para mahasiswa Indonesia di Oxford menjadi pengkaji secara bergantian. Menurutnya, dia juga dibantu oleh Oman Fathurahman yang mendapatkan beasiswa untuk melakukan riset di Oxford Centre for Islamic Studies.


Oman merupakan dosen di Univeritas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang sangat paham tentang keislaman. Rahmat menambahkan, pengkajian keislaman dilakukan agar masyarakat Indonesia yang beragama Islam masih bisa mendapatkan siraman rohani.


"Terkhusus bagi warga Indonesia yang sudah menetap lama di Oxford," ungkapnya. Menurut dia, suasana di Oxford sangat tidak kondusif untuk melakukan ibadah seperti halnya di Indonesia.


Namun dari data yang dihimpun, selain masjid yang berada di Pusat Kajian Islam Oxford, masih ada tiga masjid lainnya di Kota Oxford, yaitu Masjid Bangladesh yang terletak di 57 Cowley Road, Oxford OX4 1HR; Masjid Madinah yang berada di 2 Stanley Road (Off the Iffley Road), Oxford OX4 1QY; dan Masjid Pusat Oxford atau Oxford Central Mosque, yang terletak di Manzil Way, Cowley, Oxford OX4 1DJ. ed: heri ruslan


Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/153/128652/Denyut_Keisalaman_di_Oxford

Minggu, 26 Desember 2010

Al-Azhar, Masjid Pendiri Universitas Tertua di Dunia

(Dimuat di Republika, Ahad, 26 Des 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat*


Mesir merupakan negara yang banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka di dunia. Negara di daratan utara Afrika itu dikenal dengan "Negeri Kinanah" yang berarti 'anak panah' yang siap disebar di penjuru dunia. Anak panah yang berarti para ulama itu dilahirkan dari salah satu universitas tertua di dunia, yaitu Universitas Al-Azhar.


Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Kairo, Mesir, saya menyempatkan untuk berkunjung ke salah satu masjid tertua di negeri para nabi itu. Masjid Al-Azhar berada di pusat Kota Kairo yang berdekatan dengan pasar yang sangat asri. Angin sepoi berembus saat saya tiba di ruangan terbuka masjid itu. Meski musim panas, di masjid itu terasa dingin karena lantai masjid berbahan marmer.


Setelah berkunjung ke pasar yang dekat masjid, akhirnya saya dan beberapa rekan melaksanakan shalat Maghrib dan Isya sembari istirahat dan menikmati Masjid Al-Azhar pada malam hari. Lampu penerang dari menara menambah indahnya masjid itu pada malam hari. Pantulan cahaya di atas lantai marmer itu menambah kesyahduan dalam beribadah.


Beberapa orang yang selesai melaksanakan shalat Maghrib dan menunggu Isya, tampak asyik merebahkan diri di atas lantai masjid itu. Begitu juga sebagian lainnya membaca ayat suci Alquran. Di antara jamaah itu, terdapat mahasiswa asal Indonesia yang khusyuk membaca Alquran. Saat azan Isya berkumandang, sejumlah orang masuk ke dalam masjid dan ikut shalat berjamaah.


Masjid Al-Azhar dibangun pada 24 Jumadil Awal 359H/970 M. Masjid itu merupakan gabungan dari semua gaya dan pengaruh yang telah melewati Mesir, dengan sebagian besarnya telah direnovasi oleh Abdarrahman Khesheda. Masjid itu memiliki lima menara yang di dalamnya terdapat balkon kecil dan kolom berukir.


Masjid pendiri Universitas Al-Azhar itu memiliki enam pintu masuk, dengan pintu masuk utama menjadi Bab el-Muzayini (gerbang tukang cukur) pada abad ke-18, di mana siswa pernah dicukur di sana. Gerbang ini mengarah ke sebuah halaman kecil dan kemudian ke Madrasah Aqbaughawiya di sebelah kiri, yang dibangun pada 1340 M dan berfungsi sebagai perpustakaan. Di sebelah kanan terdapat Madrasah Taybarsiya yang dibangun pada 1310 M dan memiliki mihrab yang sangat halus.


Dalam perjalanan waktu yang panjang, Al-Azhar yang berdiri kokoh mulai dipadati oleh para penuntut ilmu dari berbagai pelosok dunia. Seiring dengan waktu, Al-Azhar, selain mempertahankan metode klasiknya dalam sistem pengajaran dalam bentuk talaqi, juga mengikuti metode modern berupa pembentukan universitas.


Universitas Al-Azhar merupakan lembaga ilmiah keagamaan terbesar di dunia. Universitas itu diresmikan oleh Khalifah Al-Muiz Li Dinillah-khalifah kedua Dinasti Fatimiah-ditandai dengan shalat Jumat di dalamnya pada 1 Ramadhan 361H/972M.


Al-Azhar adalah universitas tertua kedua di dunia setelah Universitas Al-Qairawain, Fes, Maroko, yang didirikan pada 245 H/859M. Al-Azhar didirikan dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Di bawah kepemimpinan Al-Qadhi Abu Hanifah bin Muhammad Al-Qairawaini, Al-Azhar mengajarkan ilmu keagamaan, bahasa, qiraat, mantiq dan falak.


Kebudayaan Eropa tampaknya berpengaruh, baik pada pengayaan keilmuan yang dikaji maupun sistem pendidikannya. Pada masa Muhammad Ali Al-Kabir, sistem pengajaran di Al-Azhar mulai dibenahi. Mahasiswa bebas memilih pelajaran dan guru sesuai minat. Setelah merasa mampu menguasai pelajaran, setiap mahasiswa akan diuji di hadapan gurunya secara lisan. Jika dinyatakan lulus, diberi ijazah untuk mengajarkan ilmu tersebut.


Pada akhir abad ke-19, Universitas Al-Azhar baru menerapkan sistem modern di kampus negeri Nabi Musa itu. Pada 1961, Al-Azhar mulai membuka fakultas-fakultas umum di samping fakultas keagamaan yang meliputi kedokteran, farmasi, tarbiyah, teknik, administrasi, bahasa dan terjemah, pertanian, dan sains.


Kini, Al-Azhar yang bercirikan wasathiyyah (moderat), memiliki cabang di sebagian besar Provinsi Mesir dan beberapa negara di Afrika yang mencapai 62 fakultas.


*penulis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki.


dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/0/125921/OKI_Negara_Islam_Harus_Perkuat_Media

Jumat, 17 Desember 2010

Singgah ke Gua Kesabaran Nabi Ayyub

(Dimuat di Republika, Jumat, 17 Des 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Kesabaran lekat pada diri Nabi Ayyub. Berbekal sifat ini ia mampu melewati ujian yang menerpanya. Semua harta benda miliknya habis tak bersisa. Anggota keluarganya meninggal satu per satu. Penyakit yang tak kunjung sembuh juga membekap dirinya. Namun, ia tegar dan ikhlas menghadapi itu semua.


Belum lama ini, saya bersama sejumlah rekan mengunjungi gua kesabaran Nabi Ayyub yang berlokasi di Urfa, Turki. Gua ini berada di bawah tanah yang dikelilingi bangunan seluas 5x5 meter. Untuk memasukinya, seseorang harus turun melalui tangga yang hanya cukup untuk satu orang.


Gua itu sendiri mempunyai luas 5x4 meter persegi dengan tinggi sekitar satu hingga dua meter. Karena tak begitu luas, pengungung tak bisa berlama-lama berada di dalam gua tersebut. Sebab, banyak pengunjung lain yang juga ingin masuk ke dalam gua kesabaran itu.


Sekitar 15 meter dari gua kesabaran, ada sebuah sumur sebagai sumber air yang digunakan Nabi Ayyub untuk menyembuhkan penyakitnya. Sumur yang ditutup rapat itu hanya dapat dilihat dari lubang kecil yang berada di atas sumur. Di area gua juga terdapat masjid cukup besar.


Pengunjung gua biasanya menyempatkan singgah ke masjid dan menunaikan shalat di sana. Cukup banyak wisatawan lokal maupun luar negeri yang menyambangi gua kesabaran yang pernah dihuni Nabi Ayyub itu. Mereka berpose dan mengabadikan tempat bersejarah itu dengan kamera yang mereka bawa.


Sejumlah warga sekitar memanfaatkan kunjungan para wisatawan untuk menjaring rezeki. Mereka mendirikan toko dan warung. Sementara itu, di samping gua terdapat lapangan luas yang biasa digunakan warga untuk berolahraga. Terkadang, lapangan digunakan untuk tempat penyembelihan kurban saat Idul Adha.


Dalam kehidupannya, Nabi Ayyub merupakan hamba Allah yang dikaruniai dengan harta benda berlimpah dan keluarga sakinah. Gelimang harta tak membuat dia lupa untuk menunaikan ibadah dan berzikir kepada Allah. Ia menunaikan itu semua sebagai ungkapan syukur atas segala karunia yang Allah berikan.


Melihat keteguhan iman dan rasa syukur Nabi Ayyub yang berlimpah, iblis merasa panas hati dan dongkol. Sang iblis tak rela melihat itu semua. Maka pergilah ia mendatangi Ayyub untuk menguji sebesar apa imannya kepada Allah. Sebelumnya, iblis menghadap Allah meminta izin melakukan godaan terhadap Ayyub. Allah mengizinkannya.


Lalu, iblis mengumpulkan kekuatan, mencoba merusak keimanan Ayyub agar berpaling dari Allah. Mereka menempuh cara dengan memusnahkan harta kekayaan Ayyub hingga membuatnya menjadi seorang yang miskin. Harta yang semula terkumpul di tangannya, lenyap sudah.


Cobaan lainnya menghantam Ayyub. Keluarga dan anak-anaknya meninggal dunia. Penyakit kulit juga menempel di tubuhnya. Hanya istrinya yang setia mendampinginya. Namun, dengan bisikan iblis akhirnya sang istri pun meninggalkannya. Ia berjanji akan memukul istrinya dengan 100 kali cambukan karena istrinya sudah tergoda imannya.


Akhirnya, Ayyub sendirian. Ia bermunajat kepada Allah dengan sepenuh harap rahmat dan kasih sayang-Nya. Ia berdoa, "Wahai Tuhanku, aku telah diganggu setan dengan kepayahan, kesusahan, serta siksaan. Engkaulah wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang". (QS Shad [38]: 41).


Allah menerima doa Ayyub yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman. Ia diminta untuk menghantam tanah. Dari situ air memancar dan digunakan untuk membasuh penyakit yang ia derita. Tak lama kemudian, penyakit kulit yang melekat di badannya sirna.


Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/125334/Singgah_ke_Gua_Kesabaran_Nabi_Ayyub

Menengok Tempat Pembakaran Nabi Ibrahim AS

(Dimuat di Republika, Jumat, 26 Nopember 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat *


Nabi Ibrahim AS merupakan rasul atau utusan Allah yang diberikan banyak mukjizat. Salah satunya, Ibrahim AS tak mempan dibakar api yang ganas. Bapak monoteisme itu sempat dibakar dalam api yang menyala-nya setelah menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh ayah dan kaumnya.


Namun, Nabi Ibrahim tak takut menghadapi hukuman dari kaumnya itu. Lalu, Allah SWT menyelamatkannya dari panasnya api yang menyala-nyala. "Kami berfirman, 'hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim'." (QS Al-Anbiyaa [21]: 69)


Konon, Nabi Ibrahim AS dibakar di wilayah Urfa, Turki. Saat liburan Idul Adha 1431 H, saya bersama beberapa rekan mengunjungi tempat pembakaran ayah dari Nabi Ismail itu. Untuk menuju tempat pembakaran yang berada di bagian selatan Turki itu, kami berangkat dari Ankara menggunakan bus antarkota selama 12 jam perjalanan.


Kami tiba di Urfa pukul 07.00 waktu setempat. Pagi itu, rupanya para peziarah sudah banyak yang berdatangan. Maklum, di Turki sedang musim liburan. Berbeda dengan di Indonesia, liburan Idul Adha di Turki lebih panjang ketimbang liburan Idul Fitri.


Di tempat pembakaran itu, terdapat kolam ikan yang cukup luas. Kolam itu berisi ikan berwarna hitam doveyang seperti ikan gabus. Hanya ada satu jenis ikan dalam kolam itu dengan berbagai ukuran, mulai dari kecil hingga besar.


Masyarakat setempat mengatakan bahwa ikan-ikan yang berada di kawasan pembakaran Nabi Ibrahim itu tidak boleh dimakan. Tidak tahu mengapa ikan itu tidak boleh dimakan. Setelah kami berkeliling, kolam itu rupanya mengalir ke berbagai selokan di sekitar tempat itu. Selokan yang jernih itu dihiasi dengan sejumlah ikan hitam itu.


Sekitar 100 meter dari tempat pembakaran terdapat tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Di samping tempat kelahiran itu telah berdiri dua masjid, yaitu Masjid Maulid Halil yang didirikan pada 1808 M dan Masjid Maulid Halil Baru yang didirikan pada 1980 M.


Para pengunjung melantunkan zikir dan doa saat mereka berkunjung ke tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Para wisatawan yang mengenakan peci haji dan perempuan-perempuan yang berkerudung hitam menyempatkan untuk shalat di masjid tersebut.


Dari tempat kelahiran itu kami beranjak ke bukit di belakang masjid. Bukit itu adalah tempat Nabi Ibrahim dilempar dari atas bukit ke tempat pembakaran dengan api yang telah menyala. Di bukit itu terdapat dua tiang besar dan bekas bangunan tua yang sudah runtuh, tetapi dirawat dan dijadikan museum oleh pemerintah setempat.


Untuk memasuki museum itu, para pengunjung harus membayar sebesar 3 lira Turki atau sekitar Rp 18 ribu (1 lira sama dengan Rp 6.000). Nabi Ibrahim adalah putra Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh AS.


Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama Namrud bin Kan'aan.


Pada masa itu, Babylon termasuk kerajaan yang makmur dan rakyat hidup senang. Akan tetapi, kebutuhan rohani mereka masih berada di tingkat Jahiliyah. Mereka menyembah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.


Raja Namrud bin Kan'aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak. Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya, lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung.


Mulai beranjak dewasa, Ibrahim sudah mulai berdakwah kepada masyarakatnya untuk meninggalkan kebiasaan menyembah berhala. Yang pertama, ia mengajak ayahnya ke jalan yang diridai Allah. Namun, ayahnya murka dan mengusir Ibrahim. Meski demikian, Ibrahim tak pernah berhenti untuk berdakwah di kalangan kaum musyrik.


Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka berada di luar kota. Nabi Ibrahim pun diajak, teatpi ia berpura-pura sakit dan diizinkanlah untuk tinggal di rumah.


Saat kota itu kosong, Nabi Ibrahim menghancurkan sejumlah patung dengan menggunakan kapak. Cuma satu patung yang besar yang ia tidak hancurkan. Dan, pada patung besar itulah kapak Ibrahim diletakkan. Alangkah kaget dan murkanya masyarakat saat datang ke kotanya saat melihat patung sesembahannya telah hancur. Mereka sadar yang menghancurkan itu adalah Ibrahim.


Akhirnya, Nabi Ibrahim diadili di pengadilan yang dihadiri semua masyarakat setempat. Di sinilah Ibrahim berdakwah secara terang-terangan. Nabi Ibrahim pun dihukum dan dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Masyarakat sekitar bergotong royong mengumpulkan kayu bakar.


Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim dilempar dari atas sebuah gedung di atas bukit yang tinggi ke dalam tumpukan kayu yang menyala. Ajaibnya, usai api itu berhenti menyala, keluarlah Nabi Ibrahim dari pembakaran itu dengan tidak terluka sedikit pun.


*penulis: mahasiswa pascasarjana universitas Ankara, Turki