Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Sabtu, 25 Oktober 2025

Pada Sunset Aku Bertanya, Pada Kopi Aku Menepi



Pada sunset aku bertanya,

tentang arti yang tertinggal di balik cahaya,

mengapa senja selalu terasa sama—

indah, tapi menyimpan luka yang tak terbaca.


Pada kopi aku menepi,

menyusuri pahit yang justru menenangkan hati,

setiap teguk seolah berkata lirih,

“tak semua yang hangat harus dimiliki.”


Langit berwarna jingga,

menggantungkan rasa di tepi dada,

aku menatap, tanpa kata,

membiarkan waktu menua bersama rindu yang tak sempat tiba.


Pada sunset aku bertanya,

pada kopi aku menepi,

mungkin begitulah cara semesta berbicara—

tentang pergi, tentang berhenti,

dan tentang hati yang pelan-pelan mengerti.


Lombok senja 25 Oktober 2025

Pada Sunsetland Aku Berpuisi



Pada sunsetland aku berpuisi,

menanti yang tak pasti,

merindu yang menggebu,

pada bayang yang kian semu.


Senja menua di pelukan laut,

angin membawa namamu yang rapuh,

di antara jingga yang perlahan layu,

ada hatiku yang masih menunggu.


Kupetik sisa cahaya sore,

kutitip pada ombak yang berlari,

jika rinduku sampai padamu,

biarlah malam tahu — aku tak lagi sendiri.


Namun bila sunyi tetap menjelma,

biar puisiku menjadi doa,

tentang cinta yang tak sempat pulang,

namun abadi di langit senja.


Lombok, 25 Oktober 2025 Senja

Sabtu, 11 Oktober 2025

Hanya untuk Dikenang



Biarkan saja,

ia datang di mimpi berkali-kali.

Mungkin itu hanya cara semesta

mengajarkan: yang pergi tak selalu hilang,

tapi juga tak selalu harus dicari.


Kadang kenangan datang bukan untuk tinggal,

hanya mampir, mengetuk sebentar,

lalu pergi tanpa pamit—

seperti angin yang tak bisa kita tahan,

tapi selalu menyisakan sejuk di dada.


Aku tak lagi menafsir apa-apa.

Cukup tersenyum,

karena kini aku tahu,

beberapa hal memang ditakdirkan

hanya untuk dikenang.