Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Rabu, 29 Oktober 2014

Satu-Satunya Media yang Konsisten, Pengamat: TVRI Harus Perbaiki Kemasannya



KBRN, Jakarta: Pengamat Media dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Deden Mauli Darajat menilai hanya ada satu media penyiaran televisi yang tetap konsisten memberikan pendidikan atau edukasi kepada generus bangsa di tanah air. Dikatakan oleh Deden, Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan saluran televisi yang masih setia membimbing dan memberi pendidikan secara luas kepada penonton. 

"Menurut saya hanya TVRI satu-satunya media penyiaran yang konsisten terhadap tayangan-tayangan yang diberikan. Masih ada pendidikannya, Kebudayaannya, Kesenian, Berita Nasionalnya, dan itu semua menurut saya sangat mendidik," kata Deden saat dialog "Peran Media Televisi bagi Kecerdasan Bangsa" di Radio Republik Indonesia, Selasa (26/8/2014). 

Namun, disayangkan kata Deden, tayangan di TVRI tidak banyak yang menonton, khususnya para muda mudi Indonesia. Menurut Deden kemasan TVRI yang kurang menarik menjadikan tayangan- tayangan TVRI terabaikan begitu saja. 

Deden pun menyarankan, TVRI harus merubah kemasan penyiarannya dengan mengikuti perkembangan zaman, namun tetap tidak menghilangkan konten konten positif yang telah di miliki TVRI.

"Kemasan itu nomor satu, baru setelah itu konten. Mau diisi apa tayangannya nanti. Tapi TVRI harus merubah kemasannya dulu misal dengan merubah kemasan menjadi modern. Itu saran saya," tutur Deden. (LS/AKS)

Sumber: klik

Pengamat Media: Media Massa Terbelah Jelang Pilpres, Masyarakat Diminta Semakin Cerdas



KBRN, Jakarta: Pengamat Media Deden Mauli Darajat menyayangkan keberpihakan beberapa media di tanah air tidak berimbang menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli mendatang. Deden mengamati ada media yang mendukung salah satu capres dan ada media lainnya mendukung capres yang lain dengan terang-terangan. 

Dalam wawancara bersama Radio Republik Indonesia, Selasa (3/6/2014), Deden mengatakan, mendekati pilpres, kedudukan media sebagai informasi publik yang netral, kini telah berubah menjadi keberpihakan yang tidak seimbang. 

“Dalam Pilpres ini nampaknya media massa sudah terbelah, ada kedudukan media satu ke capres satunya, itu kental sekali, terlihat sekali. Seharusnya media itu netral karena sebagai informasi publik jangan malah dijadikan ajang kampanye salah satu capres secara terus-terusan,” ujar Deden, yang baru saja memberikan pendapatnya di Turki tentang pemilihan presiden beberapa hari lalu. Deden menghimbau masyarakat semakin cerdas dalam mengikuti pesta demokrasi 9 Juli nanti. 

“Saya yakin masyarakat telah mengetahui betul, pemilik modal di media telah mendukung capres mana saja. Semoga saja masyarakat dapat cerdas dalam mengikuti pemilihan presiden nanti, dan semoga saja media di tanah air dapat menjadi milik publik, kepentingan publik, dan dapat memerdekakan kebebasan pers yang ada,” cetusnya. (LS/AKS)

Sumber berita: klik

Selasa, 07 Oktober 2014

Khutbah Idul Adha; Membudayakan Kurban



Membudayakan Kurban
Khutbah Idul Adha 1435 H/2014 M
 MASJID ALWASILAH
Oleh H. Deden Mauli Darajat


اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً،
 لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ 
اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

Ma’ashiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillâhi Rabbi al-âlamîn, segala puji marilah kita panjatkan ke hadhirat Allah Swt, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada sayyidu al-anbiyâ wa al-mursalîn, Rasulullah Muhammad Saw, beserta keluarga, para shahabatnya, dan seluruh umatnya yang senantiasa menaati risalahnya, serta berjuang tak kenal lelah untuk menerapkan dan menyebarluaskannya ke seluruh pelosok dunia hingga akhir zaman.

Jemaah Shalat Ied Rahimakumullah

4.000 tahun silam, di sebuah gurun, seorang ayah menginginkan kehadiran seorang anak yang shaleh. Maka ia berdoa kepada Allah SWT di setiap waktu. Doa itu pun kemudian dikabulkan oleh Allah. Maka lahirlah seorang anak yang sabar dan penyantun. Anak itu menjadi anak yang shaleh yang dapat membanggakan kedua orang tuanya.

Suatu malam sang ayah bermimpi menyembelih anak kesayangannya. Si ayah itu bertanya tentang mimpi itu kepada anaknya. Dan sang anak menjawab, wahai ayahku, lakukanlah perintah menyembelih itu, insya Allah kita adalah termasuk ke dalam orang-orang yang shaleh dan patuh.

Maka di suatu pagi sang ayah sudah siap dengan di tangan sebelah kanan sebuah golok tajam dan di tangan sebelah kiri leher anaknya yang sangat ia cintai. Ia membaca bismillah, maka disembelihlah anak itu. Namun sebelum golok itu sampai di leher anaknya, anak kesayangan itu diganti dengan sebuah kambing yang besar.

Inilah awal cerita dari perayaan kurban. Sang ayah adalah Nabi Ibrahim dan sang anak adalah Nabi Ismail. Kecintaan Ibrahim kepada Ismail, anaknya, tidak melebihi cintanya kepada Allah. Nabi Ibrahim lebih mencintai Allah ketimbang manusia, bahkan anaknya sendiri yang ia cintai yang lama ia dambakan kehadirannya.

Hadirin jamaah shalat Ied yang dirahmati Allah

Banyak pesan yang terkandung di dalam cerita yang tertulis dalam surat Ashshafaat (37) ayat 100-111 tersebut di atas. Bahwa berkurban adalah perintah Allah kepada umat Islam. Ini merupakan cobaan yang paling dahsyat. Yaitu dengan merelakan berkurban anaknya demi keutuhan keimanan kepada Allah semata. Demi hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena keimanan seseorang pasti diuji oleh Allah SWT.

Sebab Allah berfirman dalam surat Alankabut ayat 2:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَ هُمْ لا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Allahuakbar 3x  walillahilhamd..

Sejarah berkurban sebenarnya sudah dilakukan sejak Nabi Adam yang tertulis dalam Alquran dalam surat Almaidah ayat 27:

وَ اتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبا قُرْباناً فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِما وَ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قالَ إِنَّما يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقينَ

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, lalu diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.

Sebab Habil memberikan kurban yang terbaik, seekor domba yang besar dan bagus, sementara Qabil berkurban dengan domba yang kurus ditambah dengan perasaan dengki. Dan Allah hanya menerima kurban yang biak-baik, yaitu dalam kisah ini adalah kurbannya Habil.

Baginda Nabi Besar Muhammad SAW memberikan tauladan dan contoh yang nyata yaitu berkurban dengan 100 ekor unta yang besar-besar dan bagus-bagus. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa;

“Sampai di tengah lembah Muhassir, dipercepatnya untanya melalui jalan tengah yang langsung menembus ke Jumratul Kubra. Sampai di Jumrah yang dekat dengan sebatang pohon, beliau melempar dengan tujuh buah batu kerikil sambil membaca takbir pada setiap lemparan. Kemudian beliau terus ke tempat penyembelihan kurban. Di sana beliau menyembelih 63 hewan kurban dengan tangannya dan sisanya diserahkannya kepada Ali untuk menyembelihnya, dan Rasulullah menyertakannya dalam kurbannya tersebut, Kemudian beliau suruh ambil dari setiap hewan kurban itu sepotong kecil, lalu disuruhnya masak dan kemudian beliau makan dagingnya serta beliau minum kuahnya.. (HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkurban badanah (unta) yang disembelih berjumlah 100 unta, beliau melakukannya (memotong) sendiri 63 dan 'Ali sisanya. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh agar untuk setiap satu badanah untuk beberapa orang lalu dimasukkan ke dalam ke periuk lalu mereka berdua meminum kuahnya. (HR. Ahmad)

Jamaah shalat ied yang dimuliakan Allah

Berkurban pada hakikatnya adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah. Sarana untuk melakukan yang terbaik untuk Allah. Karena kita diciptakan di dunia ini hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah, berkurban adalah salah satu jalan terbaik. Dan sesungguhnya Allah tidak menerima daging dan darah hewan kurban itu tetapi Allah menerima takwa dari si pekurban.

Kesadaran berkurban harus kita tanam sejak dini. Jika tahun ini kita mampu untuk berkurban dengan satu ekor kambing, maka sebaiknya kita berkurban, karena waktu berkuban adalah empat hari, yaitu, dimulai hari ahad ini hingga rabu lusa, dar tanggal 10 sampai dengan 13 dzulhijjah 1435 H, atau tanggal 5 sampai dengan 8 oktober 2014.

Jika kita tidak mampu berkurban pada tahun ini, setidaknya kita berniat berkurban dan berdoa kepada Allah agar di tahun-tahun selanjutnya Allah memberikan kita rejeki untuk berkurban. Dengan niat berkurban itu kita bisa menyisihkan uang kita setiap bulannya untuk berkurban pada Idul Adha mendatang. Mari kita budayakan untuk berkurban, karena berkurban selain sarana mendekatkan diri kepada Allah juga mendekatkan kita kepada persaudaraan sesama muslim.

Hasbunal-Lâh wa ni’mal wakil nikmal maula wa ni’kman nashiir, laa haula wala quuwata illa billah. Aquulu qauli hadza wa astaghfirullahal azhiim lii walakum!


الخطبة الثانية:

 اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
أَشْهَدُ ألاَّ إِلَهَ إِلاًّ الله وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَه وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا (رَبَيَانَا) صِغَارًا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ 
اَللَّهُمَّ  اجْعَلْنا واجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ
تقبل الله منّا ومنكم
كلّ عام وانتم بخير

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sabtu, 02 Agustus 2014

Reuni SD Setelah 18 Tahun

 

Lebaran ini spesial bagi saya. Setelah empat kali berlebaran Idul Fitri di negeri orang, kali ini saya bisa merasakan kembali berkumpul dengan keluarga tercinta. Hari tadi ada lagi kebahagiaan, ketika kami alumni SDN Muara Ciujung Barat II Komplek Multatuli Rangkasbitung berkumpul di Ruko Zamzam Center Mandala.

Dulu kami masuk SD tahun 1990-1991 dan lulus tahun 1996. Kami benar-benar berpisah setelah acara perpisahan di Pantai Carita Labuan. Hanya beberapa teman dekat yang masih berkomunikasi dan bertemu ketika saya mendapat jatah liburan pulang kampung. Pasalnya usai lulus SD saya melanjutkan sekolah ke Gontor Jawa Timur.

Lulus Gontor saya lanjut lagi sekolah ke UIN Jakarta dan kemudian bekerja di Republika sebagai jurnalis. Baru setahun bekerja di Republika, saya mendapat beasiswa S2 di Universitas Ankara Turki. Desember tahun 2013 lalu saya pulang ke tanah air setelah menyelesaikan studi saya di sana.



Jadi hampir 18 tahun saya tinggal di luar Rangkasbitung. Selama itu pula saya jarang bertemu dengan teman-teman SD. Teman-teman SD ini menjadi cerminan sejarah masa lalu yang tidak bisa dienyahkan. Kepingan kenangan mencoba disatukan kembali ketika pertemuan dengan beberapa teman itu.

Dari pertemuan itu, ada beberapa teman yang tidak berubah dan mudah dikenali, tapi ada juga yang berubah dan susah dikenali sebelum ia menyebutkan namanya. Baru kemudian setelah disebutkan namanya itu memori masa lalu dan fisik saat ini menjadi sinkron. 

Reuni ini sebenarnya bermula ketika ada seseorang mengundang pin BB saya, namanya Nikita Mey Mey. Ini jelas bukan nama asli teman saya. Rupanya nama itu adalah nama anak teman saya. Saya pun berinteraksi dengannya di sela kesibukan saya menulis artikel. Karena interaksi itu saya akhirnya membuat Grup BBM SD.



Dari perbincangan di grup BBM itu tercetuslah ide reuni. Awalnya terpikir untuk mengadakan reuni sembari buka puasa bersama, tapi ini tidak terlaksana, selain sibuk beberapa teman juga masih di luar kota. Dua hari lalu seorang teman yang bekerja di Bandung datang ke rumah dan kami berbincang dari sore hingga malam. Satu teman lagi ikut bergabung setelah tugasnya selesai di rumah sakit.

Kami bersepakat untuk mengadakan reuni perdana pada Sabtu 2 Agustus 2014. Beberapa teman antusian dan menghubungi sejumlah teman yang lainnya. Dari sekitar 27 teman sekelas ketika kelas enam, hanya 10 orang yang datang ke acara reuni. Meski tidak sampai setengahnya tapi kami bersyukur bahwa kami bisa berkumpul kembali.

Saya mencatat dari yang hadir itu ada yang bekerja di rumah sakit di Rangkasbitung, tapi ia kemudian mendapat tugas setelah lebaran di Jakarta Pusat, ada juga yang bekerja di Bank BNI Bandung, ada yang bekerja di KAU, dan yang jauh adalah yang bekerja di Merauke Papua. Yang tidak hadir ada yang bekerja sebagi polisi, dan lain sebagainya.



Sebagian ada yang tidak hadir karena ia tidak mudik pada tahun ini dan menetap di Sumatera, ada juga yang tidak tahu akan adanya acara ini. Kami semua berharap acara ini adalah awal jalinan silaturahim. Yang nantinya bisa dilaksanakan setiap tahun dengan mengunjungi guru-guru kami.

Bereuni adalah cara terbaik untuk kita mengenal siapa sebenarnya diri kita, dari mana kita pernah belajar dan dengan siapa kita tumbuh. Ketika kita mengenal itu kita akan sadar akan kekurangan kita, kita mengenal diri kita sebagai orang yang tidak tahu kemudian tahu. Dan yang menyenangkan adalah ketika kita bercerita masa kecil kita dengan lepas, seakan kita ingin kembali ke masa lalu.

Kamis, 31 Juli 2014

Mengucapkan Selamat Idul Fitri Lebih Awal


Mengapa saya mengucapkan selamat Idul Fitri lebih awal, itu mungkin pertanyaan beberapa teman saya ketika mereka menerima pesan pendek melalui bbm, whatsapp, dan sms. Sebenarnya pengennya sih saya mengucapkan secara langsung kepada semua teman saya itu dengan bertemu secara fisik. Namun nyatanya itu mustahil, karena mereka tersebar di berbagai kota dan negara.

Akhirnya, saya berusaha untuk menyapa dan mengucapkan selamat kepada teman-teman saya yang ada dalam daftar teman, baik di bbm, wa maupun sms dengan menyebutkan namanya. Rasanya kurang etis ketika saya mengirim satu pesan untuk semua dengan menggunakan fitur BC yang ada di bbm. Saya coba menggunakan logika, jika saya yang menerima pesan selamat Idul Fitri dengan BC saya juga sedikit enggan untuk membacanya. Bahkan saya jarang membaca pesan bbm yang dikirim melalui jalur BC di ponsel saya.

Saya terinspirasi dari salah satu twit yang menyebutkan bahwa salah satu pengguna twitter menerima pesan selamat Idul Fitri dari bosnya atau atasannya dengan menuliskan nama dan menyapanya langsung. Beberapa senior saya juga begitu, menyapa dengan menyebut nama saya, dengan pesan yang simpel namun langsung to the point. Ini sebenarnya tidak mudah, karena membutuhkan waktu yang lumayan untuk menyapa ratusan orang yang ada di daftar teman.

Adanya gawai atau gadget yang memberikan kemudahan untuk berkirim ucapan bukan berarti tanpa etika. Perlu adanya kepekaan. Ketika kita tidak bisa bertemu secara langsung, setidaknya kita sudah mencoba menghubunginya secara pribadi dengan menyebutkan nama dan menyapanya, meski melalui pesan pendek.

Maka pada akhirnya saya memilih mengucapkan selamat idul fitri lebih awal, ini bukan karena saya berlebaran terlebih dahulu melainkan saya ingin menyapa dan mengucapkan terlebih dahulu. Karena pas hari H nya saya pasti sibuk dengan berkumpul bersama keluarga dan bersilaturahim ke tetangga, berkungjung ke rumah saudara dan berziarah ke makam. Dan ponsel saya di hari Idul Fitri lebih banyak menganggurnya. Lagi pula tidak rugi juga jika sehari tanpa gawai, bahkan akan lebih terasa nikmat.

Terakhir, untuk pembaca yang baik hati, saya ucapkan terimakasih dan semoga belum terlambat untuk saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H, mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna waminkum. Kullu sanah wa antum bikhair.

Minggu, 27 Juli 2014

Khutbah Idul Fitri 1435 H di Masjid Alwasilah Rangkasbitung



                    اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ 
لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ، اَللهُ اَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَعَبْدَهُ وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الْاَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَلَانَعْبُدُ اِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنِ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
نَحْمَدُالله حَقَّ حَمْدَهْ، وَنَشْكُرُهُ حَقَّ شُكْرَهْ
اَلْحَمْدِلِلَّهِ الَّذِىْ جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيْدًا وَسَعَادَةً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَخَتَمَ بِهِ شَهْرُ رَمَضَانَ الْمُبَارَكَ الَّذِيْ كُتِبَ فِيْهِ الصِّيَامُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَأُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُداً لِلْمُتَّقِيْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِى سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
اَمَّابَعْدُ: فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ  وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْتُم مُسْلِمُوْنَ.
قاَلَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَاهَدَا كُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.

Alhamdulillah, segala pujian hanya untuk Allah Yang Maha Besar. Dengan kebesaranNya, Allah mengumpulkan kita pada pagi ini di Masjid Alwasilah, dan kewajiban kita adalah bersyukur atas karunia Islam, iman dan ihsan yang dianugerahkan Allah kepada kita.

Jemaah Shalat Id yang dirahmati Allah
Kita sudah melaksanakan puasa wajib selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Tujuan puasa Ramadhan dalam surat Albaqarah ayat 183 adalah agar kita menjadi manusia yang bertakwa.

Bertakwa, dalam Tafsir Almisbah bermakna menghindar. Yaitu menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah swt.
Dalam surat Albaqarah ayat 3-5, disebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa. Pertama adalah percaya kepada yang gaib, yaitu termasuk juga percaya kepada Allah yang secara kasat mata tidak terlihat alias gaib. Ciri takwa yang kedua adalah melaksanakan shalat secara bersinambung dan sempurna, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Ciri orang takwa yang ketiga adalah menafkahkan sebagian rezeki yang Allah anugerahkan, yaitu baik harta maupun selainnya, baik bersifat wajib maupun sunah. Ciri orang takwa yang keempat adalah orang yang beriman kepada yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yakni Alquran dengan jalan membenarkan semua kandungannya dan meyakini bahwa yang menurunkannya adalah Allah swt.
Ciri orang yang bertakwa yang kelima adalah orang yang percaya kepada akhirat. Bagi orang-orang yang memenuhi kelima ciri orang yang bertakwa di atas adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah dan  mereka adalah orang-orang yang beruntung.
Rasulullah saw selalu mengajak kaum muslimin untuk selalu bertakwa kepada Allah kapan pun dan dimana pun ia berada.
 قَالَ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، "اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ"  - رواه الترمذي
Rasulullah SAW bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada. Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan , niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulihah manusia dengan akhak terpuji.’ (HR. Turmudzi).

Jemaah Shalat Id, Rahimakumullah..
                Betapa beruntungnya orang yang bertakwa, karena Allah telah menjanjikan kebaikan-kebaikan untuk orang yang bertakwa. Allah telah menjanjikan berbagai  macam keistimewaan atau balasan atas mereka, di antaranya: pertama, bagi siapa saja yang bertaqwa kepada Allah, maka akan dibukakan baginya jalan keluar ketika menghadapi pelbagai persoalan hidupnya. (QS Ath-Thalaq: 2).
Kedua, memperoleh rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS At-Thalaq:3). Ketiga, dimudahkan segala urusannya (QS Al-Thalaq:4). Keempat, diampuni segala dosa dan kesalahannya, dan bahkan Allah akan melipatgandakan pahala baginya (QS Al-Thalaq: 5).
Kelima, orang yang bertaqwa tidak akan pernah merasa takut, mengeluh, was-was  dan sedih hati (QS Yunus: 62-63). Keenam, mereka yang bertaqwa akan memperoleh berita gembira (al-busyra), baik di dunia maupun di akhirat (QS Yunus: 64).
Momentum beribadah yang lebih banyak kita lakukan di bulan Ramadhan jangan sampai terhenti ketika datang Idul Fitri. Sebaliknya kita seyogiyanya selalu beribadah yang terbaik dari hari ke hari, dari masa ke masa. Sebab orang yang bertakwa tidak hanya terpaku kepada momentum seperti bulan Ramadhan, tapi ia selalu beribadah kepada Allah di sepanjang waktu, baik di saat lapang maupun di saat sempit.
Allah mewajibkan kita untuk selalu beribadah kepadaNya hingga akhir hayat. Dalam surat Alhijr ayat 99, Allah berfirman yang artinya “Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu al-yakin.” Alyakin dalam ayat ini bermakna kematian.

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي هذَا الْعِيْدِ السَّعِيْدِ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، فَمَنْ أَطَاعَهُ فَهُوَ سَعِيْدٌ وَمَنْ أَعْرَضَ وَتَوَلَّى عَنْهُ فَهُوَ فِي الضَّلاَلِ الْبَعِيْدِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
 ***
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ اَلله اَكْبَرْ 
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ،. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ. إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
تقبل الله منا ومنكم صالح الاعمال كل عام وانتم بخير

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Minggu, 29 Juni 2014

Puasa di Negeri Orang



Tepat setahun lalu saya berbuka bersama di hari pertama puasa Ramadhan di Masjid Haji Bayram di Ankara Turki bersama teman-teman seperjuangan. Hari ini saya berbuka puasa perdana Ramadhan di rumah di Rangkasbitung bersama keluarga tercinta. Bagi yang tidak pernah merasakan rasa berbuka bersama bukan dengan keluarga tercinta, tidak pernah merasakan bagaimana bahagianya saat berbuka bersama keluarga.

Saat itu , saat saya berada di negeri antah berantah dan merasakan berbuka puasa dengan rekan setanah air, saya sebenarnya agak sedih. Meski hal ini sudah beberapa kali saya rasakan. Pertama kali adalah saat sekolah di Gontor pas kelas lima mau naik kelas enam yang diwajibkan mukim. Kemudian saat bekerja di Republika dimana saya ditugaskan meliput lebaran.

Namun saya langsung menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah kita sendiri yang menciptakannya. Meski tanpa kebersamaan keluarga, saya masih bisa bahagia dengan kebersamaan bersama teman seperjuangan. Yang paling malang adalah ketika kita hanya sendiri tanpa keluarga dan tanpa teman. Dan inilah masa-masa perjuangan yang harus dihadapi. Tanpa itu semua kita tidak akan menghargai bagaimana sebuah kebersamaan.

Dan ada kalimat yang kita selalu ucapakan pada bulan puasa tahun lalu, yaitu “Bahagia itu bukan dengan apa kita berbuka puasa, bahagia itu adalah dengan siapa kita berbuka puasa, meski hanya dengan air putih, roti dan sop dari sebuah masjid yang memberikan hidangan berbuka puasa”.

Amin Abdullah, Rektor UIN Yogyakarta mengungkapkan kepada mahasiswa Indonesia di Istanbul, Budy Sugandi, bahwa ia tidak pernah pulang selama belajar di Turki bersama Komaruddin Hidayat. Mereka berdua merasakan bagaimana pahitnya kehidupan selama belajar di Ankara. Beberapa tahun kemudian keduanya menjadi rektor, Komaruddin memimpin UIN Jakarta selama dua periode sama halnya dengan Amin Abdullah yang memimpin UIN Yogya selama dua periode.

Kepada saya, Pak Komaruddin mengatakan, saat adanya himpitan kehidupan bersekolah di Turki, banyak orang yang tidak mengetahui tentang hal itu. Bahkan saking susahnya saat kuliah di Turki beliau sempat bertanya pada dirinya sendiri apakah sebaiknya pulang saja, namun hal itu diurungkannya. Karena menurutnya nilai kepercayaan masyarakat akan runtuh terhadapnya saat ia menyatakan mundur dan menyerah. Ia tetap berjuang hingga lulus dari METU Ankara.

Puasa pada hakikatnya adalah ujian ketaatan. Taat kepada rambu-rambu yang telah ditentukan. Tanpa ada yang mengawasi secara fisik. Ini adalah ibadah hati. Maka ini juga dapat disebut dengan ujian kesabaran dan kesyukuran. Keduanya memang tidak terlihat namun sangat terasa. Tujuan utama puasa adalah membentuk manusia takwa. Selamat berpuasa, kawan, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.

Minggu, 18 Mei 2014

Turki Berduka Cita



Oleh Deden Mauli Darajat 
(Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, -- Beberapa hari terakhir, halaman Facebook dan Twitter saya dipenuhi kabar tentang bencana ledakan tambang batu bara di Soma, Provinsi Manisa, Turki. Beberapa teman saya yang warga Turki maupun Indonesia yang tinggal di Turki memasang foto profilnya dengan warna hitam, atau dengan gambar pita hitam, yang menandakan sedang berkabung. Pemerintah setempat mengumumkan tiga hari berkabung dan mengibarkan bendera setengah tiang.

Kejadian ini bermula ketika sebuah ledakan dan kebakaran di sebuah tambang batu bara di Turki bagian barat. Data yang dirilis koran Hurriyet Jumat (16/5) pagi, sedikitnya 284 pekerja tambang tewas akibat bencana ledakan dan kebakaran. 

Presiden Abdullah Gul mengatakan Turki sedang dihadapkan dengan bencana besar. Abdullah Gul mengungkapkan hal itu setelah mengunjungi tambang di kota barat Soma yang telah terjadi ledakan yang menghasilkan api yang masih belum padam sejak 13 Mei 2014.

Sementara itu Menteri Energi Taner Yildiz mengatakan bahwa meskipun api kecil, itu masih berlanjut sejak ledakan mematikan pada unit distribusi daya tiga hari yang lalu. Menurut Yildiz, tingkat karbon monoksida dalam tambang mengalami penurunan, yang mungkin menjadi tanda bahwa api sekarang lebih kecil, meskipun tidak benar-benar padam. 

Presiden Gul mengunjungi tempat kecelakaan dan bersumpah bahwa langkah-langkah untuk mencegah bencana serupa akan diambil. “Sayangnya kami kehilangan besar. Kami harus menunjukkan solidaritas besar untuk membalut luka-luka,” kata Gul yang bersumpah akan memperbaiki nasib buruh.

Sementara itu di lokasi kejadian terdapat orang-orang yang berdemonstrasi terhadap Presiden. “Pak Presiden, sakit kita sangat besar, tolong bantu kami,” suara pendemo ketika Gul berbicara. Gul juga menghadapi protes karena ia memeriksa tambang dengan kerabat penambang untuk menyerukan mengakhiri penggunaan pekerja kontrak.

Langkah-langkah keamanan yang luar biasa diambil sebelum kunjungan Gul ke Soma. Ketegangan telah dipasang sehari sebelumnya ketika Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan menjadi sasaran protes.

Perdana menteri Recep Tayyib Erdogan menyatakan di lokasi kecelakaan di Provinsi Manisa, Turki Barat, tempat 120 orang lagi masih terjebak di bawah tanah, ia berikrar upaya pertolongan akan dilanjutkan dan pemerintah akan menyelidiki kecelakaan tersebut secara menyeluruh.

Janji itu disampaikan Erdogan di tengah protes anti-pemerintah di Istanbul, Ankara, Izmir, Antalya dan kota besar lain sehubungan dengan kecelakaan tambang paling akhir itu. Para demonstran menuntut pengunduran diri Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang memerintah.

Lebih dari 500 orang berkumpul di luar Markas Soma Holding di Istanbul sekitar Rabu sore. Di Ibu Kota Turki, Ankara, polisi anti-huru-hara menembakkan gas air mata dan menyemprotkan air ke arah ratusan mahasiswa yang melancarkan protes dan berusaha berpawai ke Kementerian Energi. Sementara itu Serikat Pekerja mengumumkan pemogokan umum di seluruh negeri tersebut pada Kamis.

Masih dalam bulan Mei yang dikenal dengan hari buruh internasional, nasib buruh dari hari ke hari tidak pernah berubah. Para buruh seakan tidak ada pilihan lain untuk mencari pekerjaan yang lebih baik sebelum adanya peraturan yang lebih menguntungkan para buruh. Turki pun berduka cita dengan kehilangan ratusan warganya akibat bencana ini.

Salah satu teman saya, Omer Faruk memasang foto profilnya dengan sebuah foto seorang pekerja dengan wajah tercoreng warna hitam pekat dengan sebuah tulisan, “Ini bukan wajah yang hitam, ini hitam batu bara yang menempel di wajah. Beginilah cara kami mencari uang untuk membeli roti.” 

Redaktur: Fernan Rahadi
Telah dimuat di sini

Senin, 12 Mei 2014

Habibie dan Erbakan



Oleh Deden Mauli Darajat 
(Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, -- Judul ini terinspirasi dari buku Habibie dan Ainun. Namun tulisan ini bukan berbicara tentang hal itu. Tulisan ini bericara tentang dua kepala negara yang bersahabat sejak lama. Sebab berbicara tentang hubungan Indonesia dan Turki dalam konteks kekinian tidak bisa melewatkan aktor sejarah kedua pemimpin kedua negara tersebut yaitu Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie dan Prof. Dr. Necmettin Erbakan.

Kedua tokoh ini memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memimpin negaranya masing-masing dalam waktu singkat. Sama-sama pernah mengenyam pendidikan di Aachen, Jerman, serta sama-sama berprofesi sebagai ilmuwan yang handal.

Suatu ketika di tahun 2011 saat menjadi mahasiswa di Ankara, saya diminta oleh kantor Atase Pertahanan RI dan KBRI Ankara untuk mendampingi dan membantu Presiden RI ketiga itu selama berada di Ankara. Habibie yang berusia lebih dari 70 tahun lebih itu masih terlihat bersemangat. Meskipun demikian, ia selalu bercerita tentang Ainun, istrinya yang setia mendampinginya baru saja meninggal. 

Ketika Duta Besar RI mengundang Eyang Habibie (panggilan Habibie) ke wisma KBRI untuk berbincang bersama masyarakat Indonesia, ia bercerita tentang hubungannya dengan Erbakan, Perdana Menteri Republik Turki tahun 1996-1997. Momentum yang paling mendekatkan antara Habibie dan Erbakan adalah  ketika Habibie diminta menjadi saksi pernikahan putra Erbakan. Saat pertemuan di wisma KBRI itu hadir pula putra Erbakan bersama istrinya. 

Sepulang dari Aachen Jerman, Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi pada masa Presiden Soeharto selama 20 tahun, hingga akhirnya ia dipercaya menjadi wakil presiden pada 1997. Setelah reformasi bergulir pada 1998, Habibie diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia ketiga dari tahun 1998 sampai 1999. 

Sementara itu sepulang dari Aachen, Jerman, Erbakan selain menjadi akademisi ia juga terpilih terpilih menjadi anggota parlemen Turki mewakili Konya pada tahun 1969. Ia menjadi Perdana Menteri Republik Turki pada tahun 1996 sampai 1997. Kesempatan yang singkat itu disebabkan pihak militer Turki menekan Erbakan untuk mundur karena melanggar konstitusi Turki yakni melanggar pemisahan agama dan negara.

Erbakan mendirikan organisasi Milli Gorus yang menganut ideologi politik Islam. Ia memberi penguatan pada nilai-nilai Islam dan menekan pengaruh negatif dari dunia barat serta mendukung lebih dekat negara-negara Muslim. Ideologi yang diusung Erbakan menyebabkan konflik yang sangat mendasar pada kaum elite di Turki yang memiliki ideologi sekulerisme yang memisahkan agama dan negara.

Dengan ideologi Milli Gorus, Erbakan mendirikan dan memimpin beberapa partai politik Islam terkemuka di Turki dari tahun 1960-an hingga tahun 2010-an, yaitu Partai Nasional Order (MNP), Partai Keselamatan Nasional (MSP), Partai Kesejahteraan (RP), Partai Kebajikan (FP), dan Partai Kebahagiaan (SP). 

Partai Kebajikan (FP) didirikan pada tanggal 20 Juli 2001.Kemudian partai ini dilarang oleh Mahkamah Konstitusi. Sementara itu sayap reformis partai ini membentuk Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Turki Abdullah Gul merupakan murid dan menjadi kepercayaan Erbakan saat menjadi Perdana menteri Turki.

Erbakan saat menjabat sebagai Perdana Menteri Turki berkomunikasi dengan Habibie untuk meningkatkan kapasitas negara-negara Muslim. Ia berpendapat negara-negara Muslim harus bersatu dan bergerak menjadi negara-negara yang kuat. Saat itulah kedua tokoh sepakat untuk mendirikan organisasi bernama Developing 8 tau D-8, yaitu sebuah organisasi untuk kerjasama pembangunan bidang ekonomi antara negara-negara: Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan dan Turki.

Pembentukan D-8 itu diumumkan secara resmi melalui Deklarasi Istanbul yang dihadiri oleh Kepala Negara/Pemerintah negara-negara Muslim pada tanggal 15 Juni 1997. Tujuan Organisasi Kerjasama Ekonomi D-8 adalah untuk meningkatkan posisi negara-negara anggota dalam ekonomi global, diversifikasi dan menciptakan peluang konsultasi baru dalam hubungan perdagangan, meningkatkan partisipasi di tingkat pengambilan keputusan internasional, dan meningkatkan standar hidup.

*Sumber tulisan: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/14/05/09/n5a84v-habibie-dan-erbakan