Kang Deden

Tidak ada awal, akhir ataupun pertengahan, sebab yang ada hanyalah perjalanan.

Kang Deden

Orang besar ialah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kang Deden

Berlarilah mengejar impian. Disana terdapat indahnya kehidupan.

Kang Deden

Berjalanlah, engkau akan mendapatkan banyak pelajaran.

Kang Deden

Tenangkan hatimu, karena itu sumber kebahagiaan.

Minggu, 06 Februari 2011

Denyut Keislaman di Oxford

(Dimuat di Republika, Ahad, 6/2/2011)


Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Pusat Kajian Islam Oxford memberikan pembelajaran akan titik temu antara dunia Islam dan Barat.




Oxford, Inggris terkenal dengan universitasnya yang bergengsi. Mahasiswa dari berbagai negara di dunia menimba ilmu pada universitas tertua di negeri Ratu Elizabeth itu. Universitas terkemuka itu terletak di ujung Kota Oxford.


Tak susah mencari kampus yang memiliki banyak gedung tua itu karena dekat dengan Terminal Oxford. Yang menarik, di Oxford terdapat Pusat Kajian Islam Oxford atau Oxford Centre for Islamic Studies.


Saat berkunjung ke Inggris beberapa waktu lalu, saya bersama rekan-rekan sempat berkunjung ke Oxford. Dengan arahan mahasiswa Indonesia di Oxford, kami menggunakan bus dari London dan tiba di Oxford sore hari. Perjalanan yang memakan waktu dua jam itu kami gunakan untuk menikmati pemandangan di sepanjang jalan dengan hamparan rumput hijaunya.


Saat tiba di Oxford, kami langsung mencari penginapan untuk bermalam. Saat pencarian penginapan itu, kami melihat gedung Pusat Kajian Islam Oxford. Kami berpikir bahwa di pusat pengkajian Islam biasanya terdapat masjid atau paling tidak mushala.


Ternyata dugaan kami benar. Di lantai dua gedung Pusat Kajian Islam Oxford terdapat masjid, dan kami pun langsung melaksanakan shalat Ashar. Letak masjid itu di Pusat Studi Islam Oxford, dan Terminal Oxford tersebut sekitar 500 meter.


Usai shalat Ashar, kami berkenalan dengan warga Pakistan yang sedang melakukan riset selama tiga bulan di Oxford. Juga kami berkenalan dengan petugas dan staf administrasi Pusat Kajian Islam Oxford yang berasal dari Turki dan Inggris. Dari merekalah kami mengetahui tentang kegiatan di pusat pengkajian Islam, di antaranya pengajaran bahasa Arab dan pengkajian keislaman lainnya.


Tidak lama kemudian, kami bertemu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi S3 di Universitas Oxford, yaitu Rahmat Wibowo. Rahmat yang juga dosen di Universitas Indonesia itu memperkenalkan kami pada masyarakat dan mahasiswa Indonesia lainnya yang sedang belajar di Oxford. Juga kami diperkenalkan dengan Oman Fathurrahman yang sedang melakukan riset di Pusat Studi Islam Oxford.


Suasana hangat masyarakat dan mahasiwa Indonesia yang menerima kami di Kota Oxford membuat kami sangat senang. Wilayah Oxford terbilang wilayah ramah lingkungan, sebab para mahasiswa dan dosen, bahkan profesor di Universitas Oxford kebanyakan menggunakan sepeda menuju kampusnya.


Pusat Kajian Islam Oxford


Pusat Kajian Islam Oxford adalah pusat independen dari Universitas Oxford yang didirikan pada 1985. Tujuannya untuk mendorong studi ilmiah Islam dan dunia keislaman. The Prince of Wales merupakan pelindung pusat kajian tersebut. Hal ini diatur oleh dewan pembina yang terdiri dari para cendekiawan dan negarawan dari berbagai belahan dunia bersama wakil-wakil dari Universitas Oxford.


The Prince of Wales mengatakan, Pusat Kajian Islam Oxford telah melakukan banyak hal untuk mempromosikan dan meningkatkan pemahaman tentang dunia Islam. Misi itu telah sangat penting dalam dunia yang semakin saling bergantung. "Hubungan antara Islam dan Barat saat ini lebih penting daripada sebelumnya," ungkap Pangeran Charles.


Pusat kajian memberikan titik pertemuan bagi dunia Barat dan Islam. Di Oxford memberikan kontribusi untuk studi multidisiplin dan lintas disiplin dari dunia Islam. Selain itu, Pusat Kajian Islam Oxford perannya diperkuat oleh jaringan internasional yang mengembangkan kontak akademik.


Pusat Kajian Islam Oxford memberikan pembelajaran akan titik temu antara dunia Islam dan Barat. Pusat Kajian Islam Oxford berkomitmen untuk kemajuan keunggulan akademik dalam pengajaran, penelitian, dan publikasi. Kegiatan //outreach mempertahankan dialog dan mempromosikan saling pengertian di tingkat nasional dan internasional. Pusat kajian ini juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa asing.


Para pengajar di pusat kajian itu adalah dosen Universitas Oxford dari berbagai bidang studi. Selain mengajar, para dosen juga melakukan pengawasan dan pemeriksaan akademik bagi mahasiswa sarjana, master, dan program doktor di pusat kajian tersebut.


Pusat kajian juga melakukan dan mendukung penelitian lanjutan, baik secara langsung maupun yang bekerja sama dengan para ulama dan institusi akademik. Di antaranya adalah Proyek Atlas. Proyek ini merupakan proyek penelitian besar internasional yang peduli dengan akar intelektual peradaban Muslim dan gerakan sosial di dunia Islam.


Selain penelitian, pusat kajian juga menerbitkan jurnal-jurnal studi Islam. Jurnal Studi Islam diterbitkan tiga kali dalam setahun untuk pusat kajian oleh Oxford University Press. Ini adalah publikasi multidisiplin mencakup semua aspek Islam dan dunia Islam di bidang studi sejarah, geografi, ilmu politik, ekonomi, antropologi, sosiologi, hukum, sastra, agama, filsafat, hubungan internasional, isu lingkungan dan pembangunan, serta pertanyaan etika yang berhubungan dengan penelitian ilmiah.


Hal itu bertujuan untuk mendorong interaksi antara akademisi dari beragam tradisi pembelajaran dan untuk mengaktifkan difusi-pertukaran dan diskusi tentang penelitian dan refleksi.


Kajian Islam Masyarakat Indonesia


Masyarakat dan mahasiswa Indonesia setiap bulannya melakukan silaturahim. Acara silaturahim bulanan ini diisi dengan pengkajian keislaman oleh para mahasiswa. Koordinator pengkajian bulanan, Rahmat Wibowo, mengatakan, acara pengkajian itu dilakukan agar tali silaturahim antara masyarakat dan mahasiswa Indonesia tidak terputus, khususnya di Kota Oxford.


Menurut Rahmat, pengisi atau pengkaji kajian keislaman bulanan itu adalah mahasiswa sendiri. Para mahasiswa Indonesia di Oxford menjadi pengkaji secara bergantian. Menurutnya, dia juga dibantu oleh Oman Fathurahman yang mendapatkan beasiswa untuk melakukan riset di Oxford Centre for Islamic Studies.


Oman merupakan dosen di Univeritas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang sangat paham tentang keislaman. Rahmat menambahkan, pengkajian keislaman dilakukan agar masyarakat Indonesia yang beragama Islam masih bisa mendapatkan siraman rohani.


"Terkhusus bagi warga Indonesia yang sudah menetap lama di Oxford," ungkapnya. Menurut dia, suasana di Oxford sangat tidak kondusif untuk melakukan ibadah seperti halnya di Indonesia.


Namun dari data yang dihimpun, selain masjid yang berada di Pusat Kajian Islam Oxford, masih ada tiga masjid lainnya di Kota Oxford, yaitu Masjid Bangladesh yang terletak di 57 Cowley Road, Oxford OX4 1HR; Masjid Madinah yang berada di 2 Stanley Road (Off the Iffley Road), Oxford OX4 1QY; dan Masjid Pusat Oxford atau Oxford Central Mosque, yang terletak di Manzil Way, Cowley, Oxford OX4 1DJ. ed: heri ruslan


Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/153/128652/Denyut_Keisalaman_di_Oxford

Minggu, 26 Desember 2010

Al-Azhar, Masjid Pendiri Universitas Tertua di Dunia

(Dimuat di Republika, Ahad, 26 Des 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat*


Mesir merupakan negara yang banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka di dunia. Negara di daratan utara Afrika itu dikenal dengan "Negeri Kinanah" yang berarti 'anak panah' yang siap disebar di penjuru dunia. Anak panah yang berarti para ulama itu dilahirkan dari salah satu universitas tertua di dunia, yaitu Universitas Al-Azhar.


Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Kairo, Mesir, saya menyempatkan untuk berkunjung ke salah satu masjid tertua di negeri para nabi itu. Masjid Al-Azhar berada di pusat Kota Kairo yang berdekatan dengan pasar yang sangat asri. Angin sepoi berembus saat saya tiba di ruangan terbuka masjid itu. Meski musim panas, di masjid itu terasa dingin karena lantai masjid berbahan marmer.


Setelah berkunjung ke pasar yang dekat masjid, akhirnya saya dan beberapa rekan melaksanakan shalat Maghrib dan Isya sembari istirahat dan menikmati Masjid Al-Azhar pada malam hari. Lampu penerang dari menara menambah indahnya masjid itu pada malam hari. Pantulan cahaya di atas lantai marmer itu menambah kesyahduan dalam beribadah.


Beberapa orang yang selesai melaksanakan shalat Maghrib dan menunggu Isya, tampak asyik merebahkan diri di atas lantai masjid itu. Begitu juga sebagian lainnya membaca ayat suci Alquran. Di antara jamaah itu, terdapat mahasiswa asal Indonesia yang khusyuk membaca Alquran. Saat azan Isya berkumandang, sejumlah orang masuk ke dalam masjid dan ikut shalat berjamaah.


Masjid Al-Azhar dibangun pada 24 Jumadil Awal 359H/970 M. Masjid itu merupakan gabungan dari semua gaya dan pengaruh yang telah melewati Mesir, dengan sebagian besarnya telah direnovasi oleh Abdarrahman Khesheda. Masjid itu memiliki lima menara yang di dalamnya terdapat balkon kecil dan kolom berukir.


Masjid pendiri Universitas Al-Azhar itu memiliki enam pintu masuk, dengan pintu masuk utama menjadi Bab el-Muzayini (gerbang tukang cukur) pada abad ke-18, di mana siswa pernah dicukur di sana. Gerbang ini mengarah ke sebuah halaman kecil dan kemudian ke Madrasah Aqbaughawiya di sebelah kiri, yang dibangun pada 1340 M dan berfungsi sebagai perpustakaan. Di sebelah kanan terdapat Madrasah Taybarsiya yang dibangun pada 1310 M dan memiliki mihrab yang sangat halus.


Dalam perjalanan waktu yang panjang, Al-Azhar yang berdiri kokoh mulai dipadati oleh para penuntut ilmu dari berbagai pelosok dunia. Seiring dengan waktu, Al-Azhar, selain mempertahankan metode klasiknya dalam sistem pengajaran dalam bentuk talaqi, juga mengikuti metode modern berupa pembentukan universitas.


Universitas Al-Azhar merupakan lembaga ilmiah keagamaan terbesar di dunia. Universitas itu diresmikan oleh Khalifah Al-Muiz Li Dinillah-khalifah kedua Dinasti Fatimiah-ditandai dengan shalat Jumat di dalamnya pada 1 Ramadhan 361H/972M.


Al-Azhar adalah universitas tertua kedua di dunia setelah Universitas Al-Qairawain, Fes, Maroko, yang didirikan pada 245 H/859M. Al-Azhar didirikan dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Di bawah kepemimpinan Al-Qadhi Abu Hanifah bin Muhammad Al-Qairawaini, Al-Azhar mengajarkan ilmu keagamaan, bahasa, qiraat, mantiq dan falak.


Kebudayaan Eropa tampaknya berpengaruh, baik pada pengayaan keilmuan yang dikaji maupun sistem pendidikannya. Pada masa Muhammad Ali Al-Kabir, sistem pengajaran di Al-Azhar mulai dibenahi. Mahasiswa bebas memilih pelajaran dan guru sesuai minat. Setelah merasa mampu menguasai pelajaran, setiap mahasiswa akan diuji di hadapan gurunya secara lisan. Jika dinyatakan lulus, diberi ijazah untuk mengajarkan ilmu tersebut.


Pada akhir abad ke-19, Universitas Al-Azhar baru menerapkan sistem modern di kampus negeri Nabi Musa itu. Pada 1961, Al-Azhar mulai membuka fakultas-fakultas umum di samping fakultas keagamaan yang meliputi kedokteran, farmasi, tarbiyah, teknik, administrasi, bahasa dan terjemah, pertanian, dan sains.


Kini, Al-Azhar yang bercirikan wasathiyyah (moderat), memiliki cabang di sebagian besar Provinsi Mesir dan beberapa negara di Afrika yang mencapai 62 fakultas.


*penulis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki.


dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/0/125921/OKI_Negara_Islam_Harus_Perkuat_Media

Jumat, 17 Desember 2010

Singgah ke Gua Kesabaran Nabi Ayyub

(Dimuat di Republika, Jumat, 17 Des 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Kesabaran lekat pada diri Nabi Ayyub. Berbekal sifat ini ia mampu melewati ujian yang menerpanya. Semua harta benda miliknya habis tak bersisa. Anggota keluarganya meninggal satu per satu. Penyakit yang tak kunjung sembuh juga membekap dirinya. Namun, ia tegar dan ikhlas menghadapi itu semua.


Belum lama ini, saya bersama sejumlah rekan mengunjungi gua kesabaran Nabi Ayyub yang berlokasi di Urfa, Turki. Gua ini berada di bawah tanah yang dikelilingi bangunan seluas 5x5 meter. Untuk memasukinya, seseorang harus turun melalui tangga yang hanya cukup untuk satu orang.


Gua itu sendiri mempunyai luas 5x4 meter persegi dengan tinggi sekitar satu hingga dua meter. Karena tak begitu luas, pengungung tak bisa berlama-lama berada di dalam gua tersebut. Sebab, banyak pengunjung lain yang juga ingin masuk ke dalam gua kesabaran itu.


Sekitar 15 meter dari gua kesabaran, ada sebuah sumur sebagai sumber air yang digunakan Nabi Ayyub untuk menyembuhkan penyakitnya. Sumur yang ditutup rapat itu hanya dapat dilihat dari lubang kecil yang berada di atas sumur. Di area gua juga terdapat masjid cukup besar.


Pengunjung gua biasanya menyempatkan singgah ke masjid dan menunaikan shalat di sana. Cukup banyak wisatawan lokal maupun luar negeri yang menyambangi gua kesabaran yang pernah dihuni Nabi Ayyub itu. Mereka berpose dan mengabadikan tempat bersejarah itu dengan kamera yang mereka bawa.


Sejumlah warga sekitar memanfaatkan kunjungan para wisatawan untuk menjaring rezeki. Mereka mendirikan toko dan warung. Sementara itu, di samping gua terdapat lapangan luas yang biasa digunakan warga untuk berolahraga. Terkadang, lapangan digunakan untuk tempat penyembelihan kurban saat Idul Adha.


Dalam kehidupannya, Nabi Ayyub merupakan hamba Allah yang dikaruniai dengan harta benda berlimpah dan keluarga sakinah. Gelimang harta tak membuat dia lupa untuk menunaikan ibadah dan berzikir kepada Allah. Ia menunaikan itu semua sebagai ungkapan syukur atas segala karunia yang Allah berikan.


Melihat keteguhan iman dan rasa syukur Nabi Ayyub yang berlimpah, iblis merasa panas hati dan dongkol. Sang iblis tak rela melihat itu semua. Maka pergilah ia mendatangi Ayyub untuk menguji sebesar apa imannya kepada Allah. Sebelumnya, iblis menghadap Allah meminta izin melakukan godaan terhadap Ayyub. Allah mengizinkannya.


Lalu, iblis mengumpulkan kekuatan, mencoba merusak keimanan Ayyub agar berpaling dari Allah. Mereka menempuh cara dengan memusnahkan harta kekayaan Ayyub hingga membuatnya menjadi seorang yang miskin. Harta yang semula terkumpul di tangannya, lenyap sudah.


Cobaan lainnya menghantam Ayyub. Keluarga dan anak-anaknya meninggal dunia. Penyakit kulit juga menempel di tubuhnya. Hanya istrinya yang setia mendampinginya. Namun, dengan bisikan iblis akhirnya sang istri pun meninggalkannya. Ia berjanji akan memukul istrinya dengan 100 kali cambukan karena istrinya sudah tergoda imannya.


Akhirnya, Ayyub sendirian. Ia bermunajat kepada Allah dengan sepenuh harap rahmat dan kasih sayang-Nya. Ia berdoa, "Wahai Tuhanku, aku telah diganggu setan dengan kepayahan, kesusahan, serta siksaan. Engkaulah wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang". (QS Shad [38]: 41).


Allah menerima doa Ayyub yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman. Ia diminta untuk menghantam tanah. Dari situ air memancar dan digunakan untuk membasuh penyakit yang ia derita. Tak lama kemudian, penyakit kulit yang melekat di badannya sirna.


Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/125334/Singgah_ke_Gua_Kesabaran_Nabi_Ayyub

Menengok Tempat Pembakaran Nabi Ibrahim AS

(Dimuat di Republika, Jumat, 26 Nopember 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat *


Nabi Ibrahim AS merupakan rasul atau utusan Allah yang diberikan banyak mukjizat. Salah satunya, Ibrahim AS tak mempan dibakar api yang ganas. Bapak monoteisme itu sempat dibakar dalam api yang menyala-nya setelah menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh ayah dan kaumnya.


Namun, Nabi Ibrahim tak takut menghadapi hukuman dari kaumnya itu. Lalu, Allah SWT menyelamatkannya dari panasnya api yang menyala-nyala. "Kami berfirman, 'hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim'." (QS Al-Anbiyaa [21]: 69)


Konon, Nabi Ibrahim AS dibakar di wilayah Urfa, Turki. Saat liburan Idul Adha 1431 H, saya bersama beberapa rekan mengunjungi tempat pembakaran ayah dari Nabi Ismail itu. Untuk menuju tempat pembakaran yang berada di bagian selatan Turki itu, kami berangkat dari Ankara menggunakan bus antarkota selama 12 jam perjalanan.


Kami tiba di Urfa pukul 07.00 waktu setempat. Pagi itu, rupanya para peziarah sudah banyak yang berdatangan. Maklum, di Turki sedang musim liburan. Berbeda dengan di Indonesia, liburan Idul Adha di Turki lebih panjang ketimbang liburan Idul Fitri.


Di tempat pembakaran itu, terdapat kolam ikan yang cukup luas. Kolam itu berisi ikan berwarna hitam doveyang seperti ikan gabus. Hanya ada satu jenis ikan dalam kolam itu dengan berbagai ukuran, mulai dari kecil hingga besar.


Masyarakat setempat mengatakan bahwa ikan-ikan yang berada di kawasan pembakaran Nabi Ibrahim itu tidak boleh dimakan. Tidak tahu mengapa ikan itu tidak boleh dimakan. Setelah kami berkeliling, kolam itu rupanya mengalir ke berbagai selokan di sekitar tempat itu. Selokan yang jernih itu dihiasi dengan sejumlah ikan hitam itu.


Sekitar 100 meter dari tempat pembakaran terdapat tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Di samping tempat kelahiran itu telah berdiri dua masjid, yaitu Masjid Maulid Halil yang didirikan pada 1808 M dan Masjid Maulid Halil Baru yang didirikan pada 1980 M.


Para pengunjung melantunkan zikir dan doa saat mereka berkunjung ke tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Para wisatawan yang mengenakan peci haji dan perempuan-perempuan yang berkerudung hitam menyempatkan untuk shalat di masjid tersebut.


Dari tempat kelahiran itu kami beranjak ke bukit di belakang masjid. Bukit itu adalah tempat Nabi Ibrahim dilempar dari atas bukit ke tempat pembakaran dengan api yang telah menyala. Di bukit itu terdapat dua tiang besar dan bekas bangunan tua yang sudah runtuh, tetapi dirawat dan dijadikan museum oleh pemerintah setempat.


Untuk memasuki museum itu, para pengunjung harus membayar sebesar 3 lira Turki atau sekitar Rp 18 ribu (1 lira sama dengan Rp 6.000). Nabi Ibrahim adalah putra Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh AS.


Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama Namrud bin Kan'aan.


Pada masa itu, Babylon termasuk kerajaan yang makmur dan rakyat hidup senang. Akan tetapi, kebutuhan rohani mereka masih berada di tingkat Jahiliyah. Mereka menyembah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.


Raja Namrud bin Kan'aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak. Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya, lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung.


Mulai beranjak dewasa, Ibrahim sudah mulai berdakwah kepada masyarakatnya untuk meninggalkan kebiasaan menyembah berhala. Yang pertama, ia mengajak ayahnya ke jalan yang diridai Allah. Namun, ayahnya murka dan mengusir Ibrahim. Meski demikian, Ibrahim tak pernah berhenti untuk berdakwah di kalangan kaum musyrik.


Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka berada di luar kota. Nabi Ibrahim pun diajak, teatpi ia berpura-pura sakit dan diizinkanlah untuk tinggal di rumah.


Saat kota itu kosong, Nabi Ibrahim menghancurkan sejumlah patung dengan menggunakan kapak. Cuma satu patung yang besar yang ia tidak hancurkan. Dan, pada patung besar itulah kapak Ibrahim diletakkan. Alangkah kaget dan murkanya masyarakat saat datang ke kotanya saat melihat patung sesembahannya telah hancur. Mereka sadar yang menghancurkan itu adalah Ibrahim.


Akhirnya, Nabi Ibrahim diadili di pengadilan yang dihadiri semua masyarakat setempat. Di sinilah Ibrahim berdakwah secara terang-terangan. Nabi Ibrahim pun dihukum dan dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Masyarakat sekitar bergotong royong mengumpulkan kayu bakar.


Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim dilempar dari atas sebuah gedung di atas bukit yang tinggi ke dalam tumpukan kayu yang menyala. Ajaibnya, usai api itu berhenti menyala, keluarlah Nabi Ibrahim dari pembakaran itu dengan tidak terluka sedikit pun.


*penulis: mahasiswa pascasarjana universitas Ankara, Turki

Sabtu, 06 November 2010

Menengok Masjid Pusat London

(Dimuat di Republika, Jumat, 5 Nopember 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat*


Masjid Pusat London dilengkapi dengan perpustakaan yang berada di lantai dua.


Inggris bukanlah negara yang penduduknya mayoritas Muslim. Agak susah memang mencari masjid di negara Barat ini. Namun, tak sedikit wanita yang mengenakan kerudung atau jilbab berada di jalan-jalan Kota London. Dan, banyak juga orang-orang berpakaian dalam berbagai tipe di Ibu Kota Negeri Ratu Elizabeth itu.


Saat menghadiri simposium internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (SI PPI Dunia 2010) di London, Inggris, saya bersama rekan lainnya menyempatkan untuk berkunjung ke Masjid Pusat London. Sekitar 45 menit untuk menuju masjid itu dari kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London. Saat kami datang ke masjid yang terletak di daerah Westminster, London itu, ribuan jamaah datang untuk melaksanakan shalat Jumat. Para jamaah yang tidak dapat melaksanakan shalat di dalam, menggelar tikar di halaman masjid.


Usai shalat Jumat, orang-orang yang berjubah dari kawasan Timur Tengah berbincang dalam bahasa Arab. Selain itu, ada juga yang berbincang menggunakan bahasa Perancis, mereka berasal dari kawasan Afrika. Tak sedikit pula jamaah yang datang dari Bangladesh, Pakistan, dan India.


Masjid itu bukan sekadar masjid. Masjid Pusat London dilengkapi dengan perpustakaan yang berada di lantai dua, juga dilengkapi dengan kantin yang menyediakan makanan halal. Sebab, agak susah juga untuk mencari makanan halal di London. Selain itu, juga terdapat toko buku di lantai dasar masjid. Toko buku itu banyak menjual buku-buku Islam yang berbahasa Inggris. Masjid yang menampung lima ribuan jamaah itu disebut juga Islamic Cultural Centre atau Pusat Kebudayaan Islam.


Masjid ini didirikan pada 1977, yang dirancang oleh arsitek Sir Frederick Gibberd. Masjid ini memiliki kubah emas terkemuka. Ruang utama dapat menampung lebih dari lima ribu jamaah.


Masjid ini bergabung dengan Pusat Kebudayaan Islam yang secara resmi dibuka oleh Raja George VI pada 1944. Peresmian ini sebagai hadiah tanpa syarat kepada komunitas Muslim Inggris, termasuk tanah untuk pembangunan tersebut juga disumbangkan oleh George VI sebagai imbalan untuk sebuah situs di Kairo untuk Katedral Anglikan.


Pada awal 1900, banyak upaya yang dilakukan untuk membangun masjid di London, salah satunya yang dilakukan Lord Headley. Proyek ini didanai oleh Nizam dari Hyderabad. Kemudian, Lord Lloyd dari Dolobran (1879-1941), sekretaris dari negara untuk koloni, dan mantan presiden British Council bekerja sama dengan Komite Masjid yang terdiri dari berbagai tokoh Muslim dan duta besar di London juga mengupayakan pembangunan masjid.


Pada 1940, Pemerintah Inggris diyakinkan untuk menyajikan sebuah situs untuk sebuah masjid di London bagi komunitas Muslim Inggris dengan dana sebesar 100 ribu pounds. Tujuannya adalah untuk mengaktifkan kegiatan keislaman di Inggris yang dapat dilakukan dengan membangun masjid dan Islamic Cultural Centre. Sehingga, umat Islam di Inggris dapat melakukan urusan yang berkaitan dengan keagamaannya. Hadiah ini juga dimaksudkan sebagai penghormatan kepada ribuan tentara Muslim India yang mati membela Kerajaan Inggris.


Pada 1944, Komite Masjid, terdiri dari berbagai diplomat terkemuka Muslim dan warga Muslim di Inggris, menerima hadiah berupa The Islamic Cultural Centre yang meliputi Masjid Pusat London, didirikan dan resmi dibuka pada November oleh Raja George VI. Pada 1969, dibuka kompetisi internasional yang diselenggarakan untuk desain bangunan Masjid Pusat London. Lebih dari seratus desain diserahkan, baik dari pelamar Muslim maupun non-Muslim.


Akhirnya, dipilihlah disain arsitek Frederick Gibberd dari Inggris. Desain utama kompleks bangunan masjid dapat dibagi menjadi dua elemen, yakni sebuah bangunan utama yang terdiri dari dua ruang ibadah dan sayap, tiga lantai termasuk pintu masuk, perpustakaan, ruang baca, kantor administrasi dan menara.


Sebanyak dua juta pounds dana disumbangkan untuk pembangunan Islamic Cultural Centre oleh Raja Faisal Bin Abdul Aziz Al-Saud dari Saudi Arabia.


Bantuan lebih lanjut diberikan oleh penguasa Syekh Zayed bin Sultan Al Nahyan dari Abu Dhabi dan Presiden Uni Emirat Arab. Pada 1974, pekerjaan konstruksi dimulai. Pada Juli 1977, pekerjaan telah selesai dengan total biaya sebesar 6,5 juta pounds.


*penulis adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara, Turki. Ed; heri ruslan

Kemegahan Istana Topkapi, Bukti Sejarah Penaklukan Konstantinopel

Oleh: Deden Mauli Darajat


(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Tiba-tiba Dekan saya mengirim pesan pendek di jejaring social beberapa waktu lalu. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Arief Subhan, itu mengatakan dalam pesannya bahwa salah satu rekan dari UIN Jakarta, yaitu Dr. Jajat Burhanudin Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta akan berangkat ke Istanbul, Turki, untuk mengikuti seminar internasional yang membahas tentang dunia keislaman.


Dengan persiapan yang seadanya saya langsung berangkat ke Istanbul. Yang diutus dari Indonesia ada dua orang yaitu Dr. Jajat Burhanuddin dan Dr Abdul Mukti, Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilitations (CDCC). Agenda di akhir acara pertemuan tokoh muslim di Istanbul adalah mengunjungi istana Topkapi, yaitu istana kesultanan Turki Usmani.


Istana Topkapi yang berdiri sejak lima ratusan tahun lalu masih kokoh berdiri di pusat kota Istanbul, Turki. Istana para sultan pada kesultanan Turki Usmani itu berada di titik strategis dengan dikelilingi tiga perairan yaitu, Selat Bosphorus, Tanjung Tanduk Emas (Golden Horn), dan Laut Marmara. Lokasi istana tersebut letaknya tidak jauh dari Masjid Sultan Ahmet atau yang biasa disebut Masjid Biru dan Musium Hagia Sofia atau Aya Sofia.


Adalah sultan Muhammad II atau sultan Muhammad Alfatih yang membangun Istana seluas 700 meter persegi pada tahun 1453 Masehi. Istana yang dikelilingi tembok pertahanan sepanjang 5 kilometer itu ditempati oleh 24 sultan yang memimpin kesultanan Turki Usmani.


Istana Topkapi merupakan tempat kediaman sultan-sultan Turki selama tiga abad hingga 1839 M. Setelah Sultan Mahmud II meninggal, penguasa yang menggantikannya lebih memilih tinggal dalam beberapa istana gaya Eropa, seperti Istana Dolmabahce dan Ciragan yang dibangun di tepi Sungai Bosphorus.


Ketika memasuki istana Topkapi, kami para pengunjung disuguhi taman yang luas dan indah. Taman itu juga dipenuhi oleh pepohonan yang sudah berumur ratusan tahun dan rimbun. Beberapa bangunan yang berada di dalam komplek istana Topkapi dihiasi dengan taman-taman yang indah menawan dan air mancur. Pintu dan jendela bangunan-bangunan di lingkungan istana itu menghadap ke halaman yang merupakan taman istana untuk menciptakan suasana yang terbuka dan menyediakan udara dingin selama musim panas.


Di kawasan istana tersebut terdapat asrama, taman, perpustakaan, sekolah, masjid dan pengadilan. Istana itu juga digunakan bukan hanya untuk tempat tinggal, namun juga digunakan untuk kantor administrasi dan kantor penerima tamu agung dari berbagai kerajaan. Istana itu juga dilengkapi dengan gedung yang diperuntukan untuk keluarga sultan. Para arsitek yang merancang bangunan itu harus memastikan bahwa di dalam istana, sultan dan keluarganya dapat menikmati privasi dan kebijaksanaan.


Istana ini sempat masuk dalam situs cagar budaya UNESCO PBB pada tahun 1985. Istana yang memiliki ribuan kamar dan ruang ini kini di bawah pengelolaan Departemen Budaya dan Pariwisata pemerintah Republika Turki dan dijaga oleh tentara militer Turki.


Saat ini, istana Topkapi dijadikan musium dan untuk memasukinya setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar 20 Turki Lira (TL) atau setara dengan Rp. 140 ribu dengan kurs 1 TL sama dengan Rp. 7 ribu.


Peninggalan Sejarah Islam


Di dalam komplek istana Topkapi para pengunjung dapat melihat barang-barang peninggalan sejarah, khususnya sejarah Islam. Para pengunjung seperti dibawa ke zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Sebab, sepanjang dan selama para pengunjung melihat barang-barang bersejarah itu mereka disuguhkan dengan lantunan tilawah Alquran. Konon, dulu lantunan ayat suci Alquran itu dilantunkan tanpa henti selama 24 jam nonstop dan terus menerus lebih dari 407 tahun sejak tahun 1517 hingga 1924.


Di istana tersebut, kita dapat melihat benda-benda yang terkait Rasulullah SAW yang juga dihiasi dengan kalighrafi yang sangat cantik. Juga ada cetakan tapak kakinya di batu yang patah dan disambung kawat. Ada pula dua pedang dan panah milik nabi akhir zaman tersebut. Terdapat pula wadah yang berisi jenggot Rasulullah. Selain itu, pedang para sahabat juga dipajang di museum tersebut, di antaranya pedang Abu Bakar Ashshiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, dan Zubair bin Awwam.


Selain benda-benda itu, di istana tersebut juga terdapat pedang, mantel, gigi (Nabi Muhammad SAW yang tanggal pada Perang Uhud), bakiak, bendera, cambuk, segenggam janggut, sajadah, tongkat, busur panah, sabuk, stempel dan berbagai benda lainnya. Masih di lingkungan Istana, juga ada peninggalan berharga, benda-benda yang pernah dipakai Nabi Muhammad SAW. Berbagai peninggalan itu ditempatkan di dalam suatu ruang khusus yang terpisah dari Istana Topkapi. Ruangan itu bernama Paviliun Relikui Suci.


Hebatnya, di istana tersebut juga terdapat cetakan telapak kaki kanan Nabi Muhammad SAW. Telapak kaki kanan itu tercetak saat peristiwa Mi’raj. Sedangkan telapak kaki kirinya kini tersimpan di Masjidil Aqsa, Jerusalem. Terdapat pula beberapa surat buatan Nabi Muhammad SAW yang ditujukan kepada Muqawqis (pemimpin Kaum Kopts) dan Musaylimah Alkadzdzab (si Pembohong). Surat untuk Muqawqis ditulis di daun kurma dan ditemukan di Mesir pada tahun 1850.


Peninggalan bersejarah lainnya adalah manuskrip Alqur’an pertama yang ditulis di atas lembaran kulit binatang. Itu terjadi sebelum Alqur’an disatukan menjadi sebuah kitab utuh. Salah satu yang tersimpan di Topkapi ialah Surat Alqadar. Selain itu, masih banyak peninggalan lainnya dari para tokoh yang berjasa dalam perkembangan Islam.


*(Telah Dimuat di Republika, tanggal tak terdeteksi)

Menengok Makam Mustafa Kemal Ataturk

(Dimuat di Majalah JONG Indonesia No. 5 - Januari 2011 - Tahun II, Majalah PPI Belanda)

Oleh: Deden Mauli Darajat

Pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk sangat diistimewakan di negerinya. Ini nampak dari makamnya yang megah dan dijaga puluhan tentara dan petugas. Hampir semua wisatawan/wati yang mengunjungi Ankara menyempatkan diri melihat makam Ataturk karena mereka dapat mengunjungi museum dan taman asri yang luas di sekitar makam itu.

Saat berkunjung ke Turki Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyempatkan diri berziarah ke makam Ataturk dan memberikan karangan bunga di depan makamnya. Pun, para menteri kabinet Indonesia bersatu II seperti Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menpora Andi Alfian Mallarangeng, Menlu Marty Natalegawa dan menteri-menteri lainnya serta para juru bicara presiden ikut mengunjungi makam tersebut.

Entah sudah berapa kali saya mengunjungi makam itu mendampingi tamu-tamu dari Indonesia termasuk para menteri dan juru bicara presiden. Terakhir kali saya mendampingi M. Alfan Alfian, mahasiswa S3 UGM Yogyakarta, yang sedang melakukan riset tentang “Militer dan Politik di Turki”. Saat kunjungan saya yang terakhir itu, foto Presiden SBY serta pesan dan kesan darinya dan ketua DPR RI Marzuki Ali masih terpajang di makam Ataturk.

“Anitkabir” sebutan untuk makam Ataturk yang terletak di ibukota Turki, Ankara. Anitkabir adalah makam pemimpin “Perang Kemerdekaan Turki”, pendiri dan presiden pertama Republik Turki. Anitkabir itu dirancang oleh arsitek Prof Emin Onat dan Asisten Prof Orhan Arda, yang telah menyisihkan 48 arsitek lainnya dari beberapa negara dalam sebuah kompetisi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Turki pada tahun 1941 untuk “makam monumental” Atatürk. Di Anitkabir ini juga tempat peristirahatan terakhir Ismet İnönü, Presiden kedua Republik Turki setelah ia meninggal pada tahun 1973. Makam Ismet İnönü berhadapan dengan makam Atatürk yang berada di lapangan upacara.

Pembangunan Anitkabir terjadi pada tahun 1940-1950. Periode ini merupakan tahun “Gerakan Arsitektur Kedua” di Turki. Gerakan ini terjadi karena pembangunan Anitkabir dilengkapi dengan monumen batu, ornamen dan arsitektur dari zaman Seljuk dan Kesultanan Usmani. Sebagai contoh adalah atap menara yang mengikuti gaya ornamen kerajaan Seljuk di Konya, Turki. Lokasi yang dipilih untuk Anıtkabir dikenal sebagai “Rasattepe”, yang pada saat kompetisi arsitektur untuk Anitkabir merupakan lokasi central di Ankara yang dapat dilihat dari semua penjuru kota.

Pembangunan Anıtkabir memakan waktu sembilan tahun dan berlangsung empat tahap. Pada tanggal 9 Oktober 1944 upacara peletakan batu pertama dimulai. Tahap pertama, yang terdiri dari penggalian persiapan dan pembangunan tembok penahan dari Jalan Lions, dimulai pada tanggal 9 Oktober 1944 dan selesai tahun 1945. Tahap kedua dimulai pada tanggal 29 September 1945, dan selesai pada tanggal 8 Agustus 1950. Tahap ketiga adalah pembangunan jalan menuju makam, jalan Singa, dan tanah seremonial. Tahap terakhir diselesaikan pada tanggal 1 September 1953.

Jarak antara bangunan pertama yang berada di dalam Anitkabir menuju makam adalah sekitar 262 meter (860 kaki) yang dihiasi dengan dua belas pasang singa. Sementara itu plaza upacara terletak di ujung jalan. Area ini panjangnya 129 meter (423 kaki) dan lebarnya 84 meter (276 kaki) yang dapat menampung 15.000 orang. Sebelum memasuki bangunan Anitkabir kita akan melewati taman yang asri dan luas. Taman yang mengelilingi monumen ini disebut “Taman Perdamaian” yang berisi sekitar 50.000 pohon hias dan 104 macam bunga – sumbangan dari sekitar 25 negara.

Mustafa Kemal Atatürk lahir di Selânik (sekarang Thessaloniki) pada tanggal 12 Maret 1881 dan meninggal di Istana Dolmabahçe, Istanbul, Turki, pada tanggal 10 November 1938 dalam usia 57 tahun. Hingga 1934 namanya adalah Ghazi Mustafa Kemal Pasha, seorang perwira militer dan negarawan Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki.

Mustafa Kemal membuktikan dirinya sebagai komandan militer yang sukses dan bertugas sebagai komandan divisi dalam Pertempuran Gallipoli. Setelah kekalahan Kekaisaran Usmani di tangan tentara Sekutu yang berencana memecah negara itu, Mustafa Kemal memimpin gerakan nasional Turki dalam apa yang kemudian menjadi Perang Kemerdekaan Turki. Kampanye militernya yang sukses menghasilkan kemerdekaan negara ini dan terbentuknya Republik Turki.

Sebagai presiden pertama negara ini, Mustafa Kemal memperkenalkan serangkaian pembaruan yang luas dan berusaha menciptakan sebuah negara modern yang sekuler dan demokratis. Walhasil, menurut Hukum Nama Keluarga, Majelis Agung Turki memberi gelar “Atatürk” yang berarti “Bapak Bangsa Turki” pada tanggal 24 November 1934 kepada Mustafa Kemal.

Berdirinya Negara Republik Turki dapat dilihat dari Anitkabir ini. Para pendiri republik paham akan sejarah yang mesti dipelajari oleh rakyatnya. Meski sampai saat ini kontoversi akan berdirinya republik Turki masih tampak dari berbagai kalangan di dunia Islam karena dianggap telah menghilangkan Kesultanan Turki Usmani. Bagi anda yang menyempatkan mampir ke Turki, tidak ada salahnya untuk menengok Anitkabir ini.

Mengenang Said Nursi

(Dimuat di Republika, Jumat (15/10/2010))


Oleh Deden Mauli Darajat*


Selama hidupnya Badiuzzaman Said Nursi - ulama terkemuka asal Turki mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, hingga wafat pada 1960. Setengah abad kemudian, para murid dan pengikutnya mengadakan Simposium Internasional IX Badiuzzaman di Istanbul, Turki. Puluhan ribu orang dari seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia datang menghadiri acara tersebut.


Simposium yang mengusung tema ''Ilmu, Iman, dan Akhlak'' itu diadakan di sebuah hotel mewah di kawasan Istanbul. Acara itu digelar untuk memperkenalkan pemikiran dan pola dakwah yang dilakukan oleh pemikir Islam asal Turki itu.


Ketua panitia simposium, Prof Faris Kaya, mengatakan, simposium itu dilaksanakan untuk memperkenalkan pemikiran dakwah Said Nursi kepada masyarakat internasional. Sebab, menurut Kaya, pemikiran dan gerakan dakwah Said Nursi sangat relevan untuk diterapkan saat ini dengan tujuan untuk tercapainya kedamaian di dunia ini atau dengan bahasa lainnya adalah rahmatan lil'alamin.


Kaya menambahkan, pihaknya menerima 245 makalah dari ilmuwan berbagai negara di dunia, 210 diantaranya adalah ilmuwan yang baru pertama kali mengirimkan makalahnya. "Dari 245 ilmuwan yang mengirimkan makalahnya hanya 105 ilmuwan yang diterima," paparnya.


Beberapa negara yang mengikuti acara tersebut di antaranya, Indonesia, Maroko, Australia, Malaysia, Mesir, Filipina, Yaman, Yordania, Libanon, Aljazair, Chad, Sudan, Niger, Jerman, Italia, Bosnia-Herzegovina, Afrika Selatan, Bulgaria, Suriah, Inggris, Amerika Serikat dan Kanada. Dari Indonesia sebanyak tujuh ilmuwan telah mengirimkan makalahnya dan hanya dua yang diterima.


Kedua ilmuwan asal Indonesia yang menjadi pembicara pada simposium tersebut adalah Prof Andi Faisal Bakti dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dr.Asror Yusuf dari STAIN Kediri, Jawa Timur. Andi Faisal dalam makalahnya, mengatakan, pola dakwah Said Nursi adalah dari perubahan diri sendiri kemudian mengajak lingkungannya untuk berubah ke arah yang lebih baik yang diridhai Allah SWT. ''Memberikan teladan kepada orang-orang adalah pola dakwah yang paling efektif, dan inilah yang dilakukan Said Nursi," kata Andi.


Simposium Internasional Badiuzzaman pertama kali dilaksanakan pada 1991. Kini, acara itu digelar secara rutin setiap tiga tahun sekali. Pembukaan simposium IX digelar di Stadion Sinan Ardim, Istanbul, dihadiri lebih dari 250 tokoh Muslim dunia dari 40 negara, termasuk beberapa tokoh terkemuka Turki, semisal; Bulent Aricn, mantan ketua parlemen Turki yang kini wakil perdana menteri, serta Husein Celik, anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Husein Celik mengatakan dalam sambutannya, sepanjang hidupnya Said Nursi merupakan tokoh yang menentang rasisme dan diskriminasi.


Said Nursi adalah ulama terkemuka dari Turki. Ia dikenal sebagai salah seorang pemikir Islam yang paling cemerlang di zaman modern. Secara konsisten, Said Nursi memperjuangkan gagasannya yang menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis di dunia modern. Said Nursi juga dikenal sebagai seorang teolog bervisi kokoh yang berupaya menyatukan dunia Islam yang telah retak.


Selama hidupnya, Said Nursi telah melahirkan sejumlah karya penting, salah satunya adalah Risale-i Nuratau Risalah Nur, sebuah tafsir Alquran setebal lebih dari enam ribu halaman. Bagi rakyat Turki, ia tak hanya sekadar ulama dan pemikir agung.


Said Nursi juga merupakan pahlawan bagi umat Islam di negara yang dulunya sempat menjadi adidaya dunia lewat Kekhalifahan Turki Usmani. Selain sempat memimpin pasukan untuk melawan invasi Rusia, secara gencar Said Nursi juga melakukan perlawanan atas sistem sekuler yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk.


Sang ulama dan pemikir agung ini terlahir pada era kemunduran Dinasti Turki Usmani. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Mirza dan ibunya bernama Nuriye atau Nura. Keluarga itu tinggal bersama masyarakat Kurdistan. Said Nursi lahir pada tahun 1876 M./1293 H., di sebuah kampung bernama Nurs yang terletak di bagian tenggara Turki. Kata Nursi di akhir namanya dinisbahkan kepada kampung kelahirannya tersebut. Ia meninggal pada tanggal 23 Maret 1960.


penulis: Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki, ed; heri ruslan


Juga dapat diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/121089/Mengenang_Said_Nursi

Minggu, 03 Oktober 2010

Menengok Masjid Pendiri Mazhab Syafii

(Dimuat di Republika, Jumat, 24 September 2010)


Oleh: Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


''Menjelajahlah, niscaya kamu akan mendapatkan pengganti dari yang kamu cintai. Dan bersungguh-sungguhlah, karena hanya dengan kesungguhan semuanya akan tercapai dan dapat menikmatinya…'' (Imam Syafii)


Mesir tersohor dengan para ulamanya dalam pelbagai ranah kajian keilmuannya. Di antara ulama yang terkenal adalah Imam Syafii. Pendiri mazhab Syafii ini terkenal di kalangan sarjana keislaman dan para santri di pelosok Nusantara. Sebab para santri mempelajari keilmuannya. Bahkan, di beberapa pesantren modern di Indonesia, kata mutiara dari Imam Syafii begitu melekat di benak para santri.


Saat berkunjung ke Mesir untuk menghadiri Simposium Internasional Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), saya sempat berkunjung ke Masjid Imam Syafii. Masjid yang berada di ibu kota Mesir, Kairo itu, berdekatan dengan makam-makam para ulama terkemuka.


Karena waktu itu musim panas mencapai 40 derajat selsius, saya berangkat ke masjid itu sore hari. Di halaman masjid, saya melihat banyak orang yang berjualan makanan dan barang-barang dagangan lainnya. Rupanya, beberapa hari itu ada acara besar keagamaan yang akan diadakan di masjid tersebut.


Saya pun menyempatkan shalat Ashar berjamaah di masjid yang kaya akan sejarah itu. Makam Imam Syafii terletak di sebelah kanan bagian dalam masjid. Makam sang imam terjaga rapi. Banyak di antara para peziarah berdoa dan melafalkan zikir di sekitar makam.


Saya juga melihat beberapa maha siswa Indonesia yang sedang membaca Alquran di dekat makam Imam Syafii. Di samping makam itu terdapat catatan riwayat hidup Imam Syafii yang ditulis dalam bahasa Arab yang dibingkai besar dan dipajang di dinding masjid.


Para peziarah itu berdatangan dari berbagai daerah di Mesir dan juga mancanegara, baik laki-laki maupun perempuan. Ada yang sekadar berziarah, ada juga yang dibarengi dengan shalat berjamaah, bahkan ada juga yang sembari membaca Alquran dan mendoakan ulama Fikih terkemuka itu.


Selain itu, ada rombongan jamaah pengajian yang sengaja membawa kitab untuk mengaji bersama di dalam masjid. Selain itu, juga terdapat jamaah yang beriktikaf di dalam masjid tersebut. Di bagian luar masjid itu terdapat tempat berwudlu yang dilengkapi dengan air siap minum. Yang unik dari masjid ini adalah lambang yang terletak di atas kubah masjid.


Biasanya masjid di Indonesia lambangnya adalah bulan dan bintang, sementara di Mesir lambangnya kebanyakan hanya bulan sabit yang melingkar, sementara lambang di masjid Imam Syafii ini berbentuk perahu yang dilengkapi atasnya dengan bulan sabit. Saya tak tahu apa arti lambang tersebut, yang pasti lambang inilah yang membedakan masjid Imam Syafii dan masjid lainnya di Mesir.


Sejatinya nama Imam Syafii adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris Alsyafii atau Muhammad bin Idris asy Syafii. Ia lahir di Gaza, Palestina tahun 150 Hijriyah atau 767 M dan meninggal di Fusthat, Mesir tahun 204 H / 819 M. Imam Syafii adalah seorang mufti besar Islam dan juga pendiri Mazhab Syafii. Imam Syafii juga tergolong kerabat dari Rasulullah SAW, ia termasuk dalam Bani Muthalib, yaitu keturunan dari al-Muthalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Nabi Muhammad SAW.


Setelah ayah Imam Syafii meninggal dua tahun setelah kelahirannya, sang ibu membawanya ke Makkah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafii cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra.


Sampai-sampai Al-Ashma'i berkata, "Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris." Imam Syafii adalah imam bahasa Arab. Saat usia 20 tahun, Imam Syafii hijrah ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, yakni Imam Malik.


Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada muridmurid Imam Hanafi di sana. Imam Syafii merupakan orang yang gemar belajar dari berbagai guru di kawasan Timur Tengah. Ia pun banyak menulis kitab. Salah satu karangannya berjudul "Ar Risalah", buku pertama tentang usul fikih dan kitab "Al Umm" yang berisi mazhab fikihnya yang baru. Imam Syafii adalah seorang mujtahid mutlak, imam fikih, ahli hadis, dan usul. Ia mampu memadukan fikih ahli Irak dan fikih ahli Hijaz.


Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi'i, "Beliau adalah orang yang paling fakih dalam Alquran dan As-Sunnah." "Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di 'leher' Syafii."


Thasy Kubri menggambarkan Imam Syafii di Miftahus Sa'adah dengan ungkapan seperti ini, "Ia adalah Ulama ahli fikih, usul, hadis, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafii memiliki sifat amanah (dipercaya), 'adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara', takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi." Imam Syafii adalah sosok ulama terpandang yang cinta akan ilmu pengetahuan.

Jumat, 10 September 2010

Berlebaran di Negeri Orang

(Dimuat di Detik.com, Jumat 10/9/2010)


Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara)




Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…


Takbir menggema di dalam masjid Hasan Tanik Cankaya Ankara, Turki. Tepat pukul 07.00 Waktu Turki kami melaksanakan shalat Ied di masjid dekat rumah kami itu, Kamis (9/9/2010). Saat kami datang 15 menit sebelum dimulai shalat rupanya jamaah sudah memenuhi ruangan masjid. Sejumlah orang pun sudah menggelar tikar di halaman masjid.


Untungnya masih ada shaf kosong di bagian tengah dan saya pun duduk di sana. Sebisa mungkin saya khusuk mengalunkan takbir yang rasanya sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Berbeda karena di sekeliling saya adalah orang-orang Turki. Rasanya ingin shalat Ied berjamaah bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halaman.


Usai shalat kami bersalaman bersama imam masjid yang merupakan imam tetap di masjid itu. Pemerintah Turki sudah menetapkan satu imam dan wakilnya di setiap masjid. Dan imam shalat Ied itu adalah imam kami juga saat shalat tarawih. Selain menjadi imam, ia pun menjadi khatib pada shalat Ied. Juga menjadi imam dan khatib di setiap shalat Jumat.


Imam masjid merupakan petugas yang ditunjuk pemerintah dan digaji setiap bulannya. Hanya sesekali saja imam itu diganti oleh wakilnya. Pemerintah Turki juga sudah menetapkan Idul Fitri jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan hingga tahun 2015 mendatang pun sudah ditetapkan kapan dilaksanakan Idul Fitri dan Idul Adha. Tak ada perbedaan pendapat soal lebaran di negeri ini.


Saat keluar masjid, ada beberapa orang yang membagikan manisan di depan pintu masjid. Manisan itu dibagikan kepada jamaah yang sudah melaksanakan shalat Ied. Saya pun mencicipi manisan itu. Di luar masjid teman kami yang juga warga Indonesia sudah menunggu, sebagian besar adalah mahasiswa sebagian lainnya staf KBRI Ankara dan warga Indonesia yang menetap di Turki.


Kami saling bersalaman dan berpelukan satu sam lain. Hangat sekali. Sesekali bersenda gurau. Sebenarnya orang-oang Indonesia yang kami temui usai shalat itu adalah orang-orang yang juga sering kami temui saat buka puasa bersama pada bulan Ramadhan lalu.


Dalam perjalanan menuju rumah, suasana di sekeliling komplek kami sangat sepi. Mungkin mereka sedang bercengkrama dengan keluarganya masing-masing. Kami pun berlima yang menempati rumah tak mau kalah. Bahkan beberapa hari sebelum lebaran kami sudah menyiapkan masakan Indonesia. Ini dilakukan agar kami masih merasakan berlebaran di Indonesia. Memang tak banyak yang kami buat, hanya membuat lontong dan opor ayam. Namun, cukuplah untuk sedikit merasakan.


Ada yang menarik yang disampaikan penceramah sebelum shalat Ied dimulai. Ia mengatakan, kita harus bersyukur masih bisa melaksanakan dan merayakan lebaran Idul Fitri dibanding saudara-saudara muslim lainnya yang tidak bisa merayakannya seperti umat Muslim di Pakistan yang dilanda musibah. Rasanya saya malu saat saya harus sedih karena tidak bisa berlebaran bersama keluarga, karena ternyata masih banyak orang-orang yang belum bisa berlebaran.


Pembaca yang budiman, akhirnya, dari lubuk hati yang terdalam, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriyah, Allahummaj’alna minal ‘aidin wal faizin, Taqabbalallahu minna waminkum, Kullu ‘am wa antum bi khair. Mohon maaf lahir dan batin.


Ankara, Turki, Kamis 9 September 2010/1 Syawwal 1431 H


Dapat juga diakses di: http://ramadan.detik.com/read/2010/09/10/093654/1438709/631/berlebaran-di-negeri-orang

Senin, 23 Agustus 2010

Ramadhan Terpusat di Taman Pemuda Turki

(Dimuat di Republika, Senin, 23 Agustus 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Tausiah Ramadhan disajikan melalui layar raksasa yang juga disiarkan langsung oleh Beyaz TV.


Ibu kota Turki, Ankara, dikenal banyak memiliki taman kota yang indah dan menawan. Tidak sulit mencari taman di Ankara sebab hampir di setiap sudut kota terdapat taman. Taman itu tertata rapi dilengkapi air mancur yang menghiasi. Tak ketinggalan bunga-bunga warna-warni bertebaran di sekitar taman kota. Bahkan, ada juga alat-alat olahraga gymnastic yang bisa digunakan warga sekitar.


Salah satu taman yang sangat ramai selama bulan Ramadhan 1431 H adalah Genclik Park atau Taman Pemuda. Taman yang terletak di daerah Ulus ini, oleh pemerintah Provinsi Ankara, ditetapkan menjadi pusat kegiatan Ramadhan tahun ini.


Genclik Park disulap menjadi arena pameran. Di tengah taman itu, terdapat dua panggung. Panggung pertama untuk tausiah Ramadhan menjelang berbuka dan panggung kedua untuk pementasan musik pada malam hari.


Tausiah Ramadhan tiap sore itu disiarkan live oleh Beyaz TV. Bahkan, di depan pintu masuk Genclik Park, siaran langsung itu bisa dinikmati melalui layar lebar.


Banyak warga sekitar yang datang ke Genclik Park untuk berbuka puasa. Ada juga warga yang membawa sanak keluarganya sambil membawa makanan dan minuman untuk berbuka. Di belakang tenda-tenda pameran, para warga itu menggelar tikar dan menyantap santapan buka puasa.


Bagi yang tidak membawa makanan buka puasa, panitia acara menyediakan tenda besar untuk berbuka puasa gratis. Tenda besar yang dapat menampung lima ratusan orang itu disponsori oleh Gubernur Ankara, Melih Gokcek.


Tahun ini merupakan tahun pertama saya melaksanakan ibadah puasa di Turki sebagai mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara. Ramadhan tahun ini, bertepatan dengan musim panas, artinya puasa pada musim panas lebih lama dibanding musim-musim lainnya.


Kali ini, buka puasa di Turki sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Sebelum berbuka puasa, saya menghabiskan waktu mengunjungi stan di arena Genclik Park. Di sana, terdapat puluhan stan penjual aksesori, sepatu, kaus, buku, dan lain-lain. Di sekitar taman itu pun, disediakan masjid untuk shalat.


Yang menarik, di samping Genclik Park, terdapat juga Taman Luna Park. Taman ini merupakan taman wisata permainan, seperti Ancol atau Dunia Fantasi di Jakarta.


Selain perayaan Ramadhan di Genclik Park, ada pusat perbelanjaan Mal Panora. Pihak pengelola mal itu memeriahkan bulan puasa dengan menampilkan tarian Sema setiap hari Jumat dan Sabtu. Tarian Sema yang merupakan tarian sufi Maulana Jalaluddin Rumi ini ditampilkan satu jam menjelang buka puasa selama bulan Ramadhan.


Sejatinya, Maulana Jalaluddin Rumi bernama lengkap Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau sering disebut dengan Rumi. Ia adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada 6 Rabiul Awal 604 Hijriyah atau 30 September 1207 Masehi. Untuk mengenangnya, Pemerintah Turki membangun pusat kebudayaan Maulana Jalaluddin Rumi di Konya, Turki.


Selain menjalani Ramadhan, tahun ini juga kali pertama saya merayakan kemerdekaan ke-65 Republik Indonesia di Turki. Perayaan kemerdekaan RI di Wisma Kedutaan Besar Republika Indonesia (KBRI) Ankara, beberapa hari lalu, dihadiri masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Turki.


Biasanya, setelah upacara, pihak KBRI menyediakan makanan khas Indonesia yang jarang kami temui di Turki. Namun, hari itu kami menundanya hingga berbuka puasa.


Panitia dari KBRI dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki membuat acara kerohanian sebelum berbuka puasa. Sehabis Zuhur, ruang serbaguna disulap menjadi masjid. Para pelajar pun membaca Alquran sambil ngabuburit.


Menjalani Ramadhan di negeri orang kerap menimbulkan kerinduan dengan rumah dan orang tua. Namun, kebersamaan dengan orang Indonesia lainnya di Turki cukup bisa menghibur hati dan kerinduan saya kepada keluarga di Indonesia.


Kebahagiaan yang tak terkira bagi kami, warga Indonesia, karena dapat saling bersilaturahim. Terlebih lagi, kami dapat menikmati hidangan buka puasa dengan makanan khas Indonesia yang jarang kami temui. ed: andi nur aminah


Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/99/117786/Ramadhan_Terpusat_di_Taman_Pemuda_Turki

Minggu, 22 Agustus 2010

Israel Ubah Politik Turki

(Dimuat di Majalah Gontor, Edisi Juli 2010)


Oleh: Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)


Senin pagi di akhir Mei 2010, ratusan aktivis kemanusiaan Freedom Flotilla yang meng- gunakan kapal Mavi Marmara yang berangkat dari Turki menuju Gaza, Palestina diserang tentara khusus Israel di perairan internasional. Akibatnya aktivis dan sejumlah jurnalis yang ikut dalam pelayaran itu menjadi korban kebrutalan tentara Zionis. Sadisnya lagi, penyerangan itu dilakukan dari udara dan laut oleh pasukan katak tentara khusus Israel.


Awak kapal yang sejatinya ingin membantu orang-orang di Gaza yang tak bersenjata itu ditembak tanpa ampun. Tak ada perlawanan dari para aktivis itu. Bahkan bendera putih telah berkibar sebelum sampai di Gaza. Namun, pasukan khusus tentara Israel tetap menghabisi mereka dengan dalih mereka diserang dari kapal Mavi Marmara. Awalnya hanya granat kejut, bom asap, dan peluru karet. Namun, kemudian peluru betulan keluar juga dari senapan mereka. Puluhan orang terluka, dan sejumlah lainnya terbunuh dalam tragedi itu. Setelah penyerangan yang membabi buta itu geladak kapal bersimpah darah.


Di antara aktivis yang berada di kapal Mavi Marmara itu terdapat 12 warga negara Indonesia (WNI). Beruntung, ke-12 WNI itu selamat dari kematian. Salah satu rombongan dari Indonesia adalah jurnalis TV-One, Muhammad Yasin. Saya mengenal Yasin sejak bertugas bersama di wilayah Jakarta Timur. Saat mengetahui kabar bahwa Yasin termasuk dalam rombongan kemanusiaan itu saya mengkhawatirkan keadaannya dan keadaan WNI lainnya. Alhamdulillah, semua WNI selamat dari kebrutalan Israel itu.


Sehari sebelum pulang ke Indonesia, saya sempat melakukan pembicaraan melalui fasilitas jejaring sosial. Yasin mengatakan dirinya baik-baik saja, meski beberapa hari saat penyerangan itu, ia dan sejumlah relawan kema- nusiaan lainnya tidak bisa tidur. “Alhamdulillah saya bertambah baik,” katanya. Kedatangan Yasin pun disambut meriah di Indonesia. Rekan-rekan jurnalis lainnya yang berkumpul di Jakarta Timur menyambutnya dengan hangat.


Tragedi Mavi Marmara yang mene- waskan sembilan warga negara Turki telah mengubah peta hubungan baik antara Turki dan Israel. Turki menarik duta besarnya dan menuntut Israel minta maaf dan segera mengakhiri blokade atas Gaza. Turki marah besar atas kebrutalan tentara Israel yang menembaki para relawan kemanusiaan yang akan masuk Gaza. Turki merasa dikhianati Israel. Karenanya Turki menurunkan status hubungan dengan Israel, khususnya di bidang ekonomi dan pertahanan.Wakil Perdana Menteri Tukri Bulent Arinc mengungkapkan, semua kesepakatan dengan Israel tengah dievaluasi. ”Kami serius dalam masalah ini. Kerjasama baru tidak akan dimulai dan hubungan dengan Israel dikurangi,”katanya.


Akibat dari serangan brutal itu, ber- bagai aksi demontrasi anti Israel pun terjadi di berbagai daerah di belahan dunia, seperti halnya di Istambul dan Ankara, Turki. Di Ankara, puluhan mahasiswa turun ke jalan melakukan aksi mengutuk kekerasan dan ke- brutalan Israel. Para pendemo sore itu bergerak dari Dikimevi menuju Kizilay, pusat keramaian Ankara.
Meski hanya puluhan orang, namun teriakan ganyang Israel dan teriakan takbir dan tahlil yang dikumandangkan menarik perhatian banyak orang. Puluhan orang melihat aksi itu dari jejeran bangunan apartemen di se- panjang jalan menuju Kizilay.


Masih di pekan yang sama, ratusan mahasiswa dan warga Turki turun ke jalan yang berujung di depan kedutaan Israel di Ankara. Para demonstran itu membawa bendera Palestina dan Turki. Mereka mengecam kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel di perairan internasional itu.


Selain demontrasi yang dilakukan banyak pihak di berbagai daerah dan belahan dunia, banyak juga pihak yang mengecam kebrutalan Israel. Di antaranya disuarakan oleh Aliansi Per- himpunan Pelajar Indonesia di Luar Negeri atau PPI Dunia. Ketua Dewan Formatur PPI Dunia, M Fadlillah Fauzulhaq, menyatakan pihaknya mengecam pemblokadean Israel dan Mesir terhadap jalur Gaza sejak 2007 yang telah melanggar Hak-Hak Dasar Umum Kemanusiaan (Universal Declaration of Human Rights) yang tertera dalam United Nations Charter.


Selain itu, kata Fadlillah, pihaknya juga mengecam penyerangan Israel terhadap kapal Mavi Marmara yang telah menimbulkan korban luka dan korban jiwa pada 31 Mei 2010. Pe- nyerangan di laut bebas ini merupa- kan pelanggaran terhadap Pasal 87, 88, 89 dan 90 UNCLOS (United Nations Conventions on the Law of The Sea).


PPI Dunia, lanjut Fadlillah, me- nuntut Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk meminta pertanggung- jawaban Israel dalam kasus tersebut dan melakukan penyelidikan dan pengadilan terhadap semua pihak yang terkait berdasarkan hukum in- ternasional. Selain itu, tambahnya, pihaknya juga meminta kepada semua negara di dunia untuk menekan Israel dalam memenuhi resolusi PBB (Resolusi S-9/1 tentang Perang Gaza) demi terbentuknya perdamaian di Timur Tengah dan Dunia.


Tak Pernah ke Gaza


“Al-Quds milik kami,”dan“Gaza di hati kami.” Dua kalimat itu tertera pada sorban orang-orang Palestina yang sedang mempresentasikan tentang negaranya di gedung pusat bahasa Uni- versitas Ankara, yang dalam bahasa aslinya “Al-Quds lana, wa Gazzah fi qulubina”. Tak seperti biasanya, saat menyaksikan pemaparan tentang Palestina, para penonton yang biasanya berisik, kali ini tidak ada suara sedikit pun. Mereka terdiam. Sebagian air mata mereka berlinang, ada juga yang menangis tersedu sedan.


Betapa tidak, pasalnya para penyaji itu menampilkan video tentang perang, tentang perjuangan orang-orang Pales- tina yang tak pernah menyerah meski dijajah Israel, tentang anak-anak yang tak berdosa yang menjadi korban kebiadaban Israel. Dalam video itu tergambar sejumlah anak yang terkena senjata pasukan Israel. Ada yang matanya hilang dan darah mengucur dari matanya seperti air mata yang mengalir saat menangis, dan ada pula anak yang diimpus di salah satu tempat penanganan darurat.


Di sesi lainnya, seorang warga Pa- lestina, diseret oleh tiga tentara Israel yang dilengkapi dengan senjata. Tidak sedikit perempuan-perempuan tua me- nangis melihat kekejaman tentara Israel seraya memeluk anaknya yang sudah tak bernyawa. Di tengah pertunjukan itu, seorang kawan lelaki asal Palestina yang sedang memaparkan negaranya, Samer Mhanna, meneteskan air mata. Dia tidak tega melihat negaranya diporakporandakan Israel.


Biasanya, pemaparan suatu negara dilengkapi dengan pengenalan budaya, bahasa, makanan, maupun ragam kesenian dari negara itu. Mahasiswa asal Indonesia,misalnya, menampilkan budaya, bahasa yang ratusan jenisnya, tarian Saman dari Aceh, serta beberapa musik pop Indonesia. Namun, mahasiswa asal Palesti- na tidak menampilkan budaya, makanan, maupun tarian, apalagi nyanyian musik pop. Mereka hanya memperkenalkan sejarah. “Kami tak tahu bagaimana harus menampilkan kebudayaan atau apapun yang negara lain tampilkan, kami hanya menyaji- kan keadaan yang sesungguhnya sedang terjadi di negeri kami,” kata Muayad Qasim, salah seorang dokter asal Palestina yang melanjutkan studinya dengan beasiswa pemerintah Turki di Ankara.


Dari empat video yang ditampilkan, salah satunya adalah video pidato tentang pendirian negara Palestina yang dikumandangkan oleh Yasser Arafat. Terpancar dari mata kelima orang Palestina yeng memaparkan negaranya sebuah pengharapan akan terulangnya kedaulatan yang utuh negara Palestina. Mereka masih mendambakan negara yang utuh yang tak ada gejolak apapun di negeri para nabi itu.


Muayad mengatakan, kehidupan yang digambarkan dalam video itu merupakan gambaran kehidupan bangsa Palestina sehari-hari. Sewaktu dia mengenyam sekolah menengah di wilayah Nablus, Palestina, cerita Muayad, tank tentara Israel mengelilingi sekolahnya dan tank itu berdiam diri di depan sekolahnya. Ia dan teman-teman sekelasnya sudah biasa melihat pemandangan itu. Aktivitas belajar mengajar tetap berjalan, meski dentuman keras keluar dari tank itu.


“Kehidupan di Palestina tetap berjalan seperti biasa meski bangun- an-bangunan, baik sekolah maupun perkantoran runtuh,” kata Muayad. Saat ditanya bagaimana ia bekerja sebagai dokter gigi di Palestina, Muayad menyatakan, dirinya bekerja seperti biasa, masuk pagi dan pulang kerja di sore hari. Baginya tak ada bedanya bekerja di manapun, yang membedakan hanyalah situasi. Keadaan seperti itu masih berjalan hingga saat ini.


Ketika dimintai komentar tentang tragedi Mavi Marmara, Samer menga- takan, ia tak bisa berkomentar apa- apa. Dia hanya bisa berdoa agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada orang-orang Palestina dan orang- orang yang memberi bantuan untuk bangsanya. Di akhir perbincangan saya dengan kedua rekan asal Palestina itu, mereka mengatakan, “Selama hidup di Palestina, kami tak pernah menginjak tanah Gazza, meski kami mencintainya,” tandas Muayad yang diamini Samer.

Jumat, 20 Agustus 2010

Menengok Masjid Pertama di Afrika

(Dimuat di Republika, Jumat, 20 Agustus 2010)


Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)




Masjid Amru Bin Ash adalah masjid pertama yang berdiri di benua Afrika.






Mesir merupakan negeri yang penuh dengan bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Masjid Amru Bin Ash. Inilah masjid pertama berdiri di benua Afrika. Rumah Allah itu didirikan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga penakluk negeri Mesir, Amru Bin Ash.




Masjid yang berdiri di kota Kairo itu dibangun pada tahun 641 M/21 H. Ketika saya berkunjung ke Negeri Kinanah, beberapa waktu lalu, untuk menghadiri Workshop Internasional dan Sosialisasi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Kairo, sahabat saya, Mahir Mohamad Soleh, mahasiswa Universitas Al-Azhar, mengajak mengunjungi masjid tertua di Mesir yang juga tertua di benua Afrika itu.




Di Masjid Amru bin Ash, saya sempat melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Namun, shaf (barisan-red) shalat berjamaah itu tidak dilakukan di shaf yang paling depan, melainkan di shaf belakang. Menurut Mahir, hal ini dilakukan jika jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah sedikit, namun jika membludak maka shalat berjamaah biasa dilakukan mulai dari shaf yang paling depan.




Sebelum shalat kami mengambil wudlu. Tempat wudlu di masjid itu sangat menarik, karena dibagi menjadi dua. Tempat pertama diperuntukkan bagi yang menggunakan sandal, sementara yang menggunakan sepatu bisa melepasnya dan tanpa alas kaki langsung mengambil wudlu di tempat yang disediakan.




Usai shalat, saya merebahkan diri di atas lantai masjid yang terhampar karpet merah. Angin sepoi-sepoi menyapa kami. Di antara jamaah shalat Ashar pun ada yang terlelap tidur. Meski musim panas, udara di dalam masjid itu tidak terasa panas. Bagian tengah masjid itu tidak beratap dan lantai marmernya pun tidak diberi karpet.




Di tengah-tengah bagian masjid yang terbuka itu, tersedia air siap minum. Di bagian depan masjid ada sekelompok orang yang sedang berdiskusi. Saya tak tahu apa yang mereka diskusikan. Tiang-tiang masjid yang tertata rapi membuat masjid itu jadi bernilai seni tinggi. Masjid itu sempat menjadi tempat syuting filmKetika Cinta Bertasbih yang diadopsi dari novel yang sama karya Habiburrahman El-Shirazy.




Mahir mengatakan, saat hari-hari besar umat Islam dan bulan puasa, masjid itu selalu penuh, bahkan hingga di luar masjid. Selain itu, masjid ini juga oleh mahasiswa Universitas Al-Azhar digunakan untuk belajar dan menghafal Alquran. Sayangnya, saat saya di sana tidak melihat mahasiswa yang sedang belajar, sebab mereka sedang menikmati liburan musim panas sesudah bersusah payah menghadapi ujian kenaikan tingkat.




Masjid itu pertama kali dibangun pada tahun 21 Hijriah/641 Masehi. Banyak para sahabat dan tabi`in yang ikut serta dalam membangun mesjid ini, sehingga sampai delapan puluh sahabat menentukan arah Qiblat, diantaranya; Zubair Bin Awam, al-Miqdad, Ubadah Bin Shamat, Abu Darda, dan yang lainnya. Masjid itu berbentuk memanjang, dengan panjang 28,9 meter, dan lebar sisinya 17,4 meter, dindingnya terbuat dari batu bata, atapnya terbuat dari pelepah pohon kurma, dan ting-tiangnya dari batang pohon kurma dan memiliki enam pintu.




Masjid ini telah berulang kali direnovasi dan diperluas. Di antaranya, pada tahun 53 Hijriyah ( 672 M ) Pangeran Maslamah Bin Mukhllad al-Anshori telah memperluas masjid, kemudian diperluas oleh Pangeran Abdul Aziz Bin Marwan (Gubernur Mesir ketika itu ) tahun 79 Hijriyah ( 698 M ).




Pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik Bin Marwan, masjid itu di perbesar oleh Abdul Malik Bin Thahir. Kini, panjang Mesjid Amru mencapai120 meter, dan lebarnya 100 meter. Masjid itu juga pernah diperbaiki oleh Sultan Shalahuddin al-Ayubi pada tahun 568 H/1172 M. Masjid Amru begitu banyak mendapat perhatian dari kalangan pemerintah, dari masa pemerintahan Khulafau Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ayubiyyah, Dinasti Mamalik, sampai Dinasti Usmaniyah.




Masjid Amru Bin Ash bukan hanya tempat untuk shalat, tetapi juga menjadi pusat pendidikan Islam pertama di benua Afrika. Imam Syafii juga pernah mengajar di masjid itu. Hal itu menunjukan bahwa masjid Amru bin Ash telah menelurkan sarjana-sajana Muslim yang andal.


Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki, ed; heri ruslan




Bisa juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/117630/Menengok_Masjid_Pertama_di_Afrika